Entri Populer

Sabtu, 03 Oktober 2015

Menunggu Dosen


                Apa persamaan menunggu dosen dengan menunggu jodoh? Sama-sama menguji kesabaran. Suatu ketika kita (mahasiswa) pasti pernah menunggu dosen untuk kepentingan tertentu. Mungkin untuk konsultasi, mungkin untuk meminta tanda tangan. Nah, kemungkinan yang kedua ini barangkali membutuhkan kesabaran ekstra, hingga Kajur TMT IAIN TA pernah mengatakan bahwa bagi seorang dosen membahagiakan mahasiswa itu sangat mudah. Cukup dengan segera memberinya tanda tangan setelah diminta itu saja, si mahasiswa sudah bahagia. Apalagi kalau yang ditandatangani adalah formulir pengajuan judul, lembar revisi, lembar persetujuan, lembar pengesahan skripsi, dan sebagainya. Pernyataan Bapak Kajur TMT ini pun sudah ditashih oleh Bapak Kajur PBA (serius amat?).
                Mengapa? Untuk menunggu kehadiran sang dosen, mahasiswa harus merelakan beberapa kesempatannya untuk beraktivitas. Kadang ia harus duduk manis di gazebo yang mejanya terlalu maju atau kursinya terlalu mundur, kadang ia harus duduk di atas motor yang belum ada 5 menit saja sudah mendengar teriakan peluit dari Pak Satpam (diusir alusan), kadang juga ia harus lesehan (ngelesot) di depan kantor, sementara dosen yang dihubungi belum merespon untuk memberi kepastian harus ditunggu sampai jam berapa. Ditelepon tidak diangkat, SMS tidak dibalas. Ngenes itu sudah menunggu dari pagi sampai sore ternyata dosen yang ditunggu tidak ada di kampus maupun di kediamannya. Padahal ada perlu apa? Namung  tanda tangan thog ae wes.
                Eits ... Stop bahas yang asin dan asam, sekarang bahas yang manis yach ...! Di sisi lain ada hikmahnya menunggu dosen meskipun lama, menjenuhkan, dan bahkan terkadang mengecewakan. Apa dong? Ada banyak pelajaran dalam menunggu, di antaranya:
1.       Sabar
Seseorang tidak bisa dikatakan sebagai penyabar kalau kesabarannya tidak diuji. Nah, salah satu cara menguji kesabaran adalah menunggu. Bagaimana sikap mahasiswa saat menunggu dosennya? Mengeluh? Menggerutu? Marah-marah? Cemberut? Atau tetap tenang? Nah, coba lihat teman Anda yang sedang menunggu dosennya, galau atau ceriakah dia.
2.       Husnudhon
Telepon dosen tidak diangkat? SMS tidak dibalas? Apa yang Anda pikirkan? (Ah, kayak mas Efbi aja pertanyaannya) kondisi seperti ini membuat sebagian mahasiswa berpikir negatif, “Oh, Pak Dosen, kenapa nggak mau sih terima telepon?” dan sebagian lagi berpikir positif, “Ah, mungkin beliau sedang sangat sibuk, atau mungkin sedang tidak pegang HP.”
3.       Teman baru
Saat menunggu dosen di kampus, tentu kita tidak pernah sendiri. Pasti ada beberapa mahasiswa yang tengah seliweran, ada yang sedang mengerjakan tugas di gazebo, atau bahkan ada yang sedang merasakan hal yang sama dengan kita (menunggu dosen juga). Nah, sambil nunggu nggak ada salahnya kan nimbrung, kenalan, basa-basi, sekedar tanya-tanya A sampai Z, lumayan bisa mengurangi kejenuhan.
4.       Inspirasi tak terduga
Tentu selama menunggu kehadiran dosen, pikiran kita tidak pernah diam. Kadang dalam situasi ini muncullah inspirasi tak terduga yang bertebaran. Mungkin berupa kata, kalimat, atau ungkapan-ungkapan lainnya. Wah, lumayan, yang kayak gini bisa jadi puisi, cerpen, artikel, atau apalah-apalah. So, siapkan media untuk mencatat ide-ide yang bertebaran itu. Sayang lho, kalau nggak dicatat kadang menghilang tanpa jejak. Kalau bisa dimanfaatkan kenapa tidak?
5.       Indah pada waktunya
Saat-saat yang paling membahagiakan setelah penantian panjang adalah saat kehadiran dosen yang Anda tunggu. Tentu berbeda rasanya apabila sekali Anda datang langsung bertemu dosen, sama halnya dengan perasaan Anda saat sarapan pagi jika dibandingkan dengan berbuka puasa.

Bagaimana? Sudah tahu hikmahnya menunggu dosen? Bagi yang mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar J
Kamulan, 14-01-2015
               


Rabu, 20 Mei 2015

SKRIPSI YANG PENUH CINTA


(Part 2)
Jumat dini hari, 12 September 2014 dengan dijemput oleh 7 orang dosen, 20 mahasiswa IAIN Tulungagung termasuk aku yang usai menjalankan PPL-KKN Terpadu di Thailand Selatan telah sampai di tanah air tercinta. Kami berangkat tengah malam pada 19 Mei 2014, dan pulang dini hari sehingga tak banyak mahasiswa yang menyaksikan kepergian dan kedatangan kami. Istimewa sekali rasanya. Teman-teman PPL dari kampus lain seperti STAIN Kediri, STAIN Jember (yang sekarang IAIN Jember), UNMUH Jember, dan STAIN Samarinda tidak ada yang sampai dijemput oleh dosen sebanyak dosen IAIN Tulungagung.
Beberapa hari sebelum pulang, perasaan dalam hati berkecamuk. Rasanya bahagia karena kerinduan pada keluarga di tanah air akan segera terobati, namun di sisi lain tumpukan tugas menunggu untuk segera dituntaskan.
Sebagai peserta PPL KKN Thailand gelombang pertama dari IAIN Tulungagung, kami sempat dihujani keraguan khususnya mengenai penelitian untuk menyusun skripsi. Aku bahkan baru melakukan penelitian di akhir-akhir masa PPL-ku. Keraguan itu karena perbedaan versi jawaban dari dosen di mana sebagian mewajibkan dan sebagian mensunnahkan bahkan ada yang memubahkan saja. Yang jelas tidak ada yang memakruhkan dan mengharamkan.
Sekitar pertengahan Ramadhan, usai shalat Tarawih aku menyempatkan diri On Line dari notebook-ku yang terhubung dengan Wifi tetangga ma’had. Saat kubuka akun facebook kuterima pesan pribadi dari dosen pembimbing PPL-KKN yang intinya menanyakan skripsi. Aku cukup kaget saat itu. Sudah tanggal berapa ini? Dalam hitungan hari, sekolah akan libur sampai seminggu setelah hari raya. Setelah itu ada ujian tengah semester selama seminggu, lalu seminggu untuk Sukan Warna[1], dan kuhitung hari efektif hanya 2 minggu sebelum aku kembali ke Indonesia. Belum lagi kalau pihak Badan Alumni Internasional Thailand Selatan akan mengadakan agenda untuk kami. Satu lagi, aku ditunjuk sebagai MC berbahasa Arab dalam acara pelepasan nanti yang aku tidak tahu bagaimana latihannya dengan 2 pasanganku (Satu berbahasa Inggris, satu berbahasa Indonesia) sedangkan ma’had mereka jauh dri ma’hadku.
Malam itu kata “SKRIPSI” cukup menggalaukanku. Setelah kutanya-tanya, sebagian besar teman PPL-ku tidak melakukan penelitian di sini, namun DPL-ku menyarankan dengan penuh harap. Baiklah, “Selagi masih bisa, Ni’mah tidak boleh mengecewakan”, bisik hatiku. Aku pun sejenak merenung, memikirkan apa yang selama ini kurasakan selama tiga bulan di negeri itu, bagaimana gurunya, bagaimana siswanya, bagaimana lingkungannya, hingga kutemukan sebuah judul yang mula-mula kuajukan pada DPL-ku. Beliau menyarankanku untuk mengajukan judul itu ke jurusan PBA.
            Aku berusaha mencari tahu alamat email Kajurku namun karena waktu kian menjepit, aku langsung saja mengajukan judulku berikut rumusan masalahnya pada Sekjur PBA yang nantinya beliau sampaikan pada Kajur. Alhamdulillah, sehari setelah kukirim via email, beliau mengirim jawaban padaku dengan memberikan pilihan redaksi rumusan masalah berdasarkan rumusan masalah yang kususun sebelumnya.
            Setelah chatting via email beberapa kali dan disetujui, akupun meminta ditentukan dosen pembimbing. Aku yang masih semester 6 saat itu belum tahu bahwa syarat mendapatkan dosen pembimbing skripsi (secara resmi) adalah menyelesaikan proposal skripsi, dan dengan PD-nya aku merequest Dospem bermodal judul dan rumusan masalah.
Saat itu memang Dospem skripsi belum ditentukan secara resmi oleh pihak fakultas, namun dengan intensif apabila ada waktu luang, Sekjurku selalu membimbing dan memberikan arahan apa yang harus kulakukan di saat kondisi lapangan kurang kondusif untuk penelitian mengingat banyaknya aktivitas di akhir Ramadhan dan awal bulan Syawal serta UTS dan Sukan Warna yang tentunya menyita kegiatan pembelajaran dalam kelas (selama akhir Juli hingga awal September).
Beberapa waktu sebelumnya sempat kudengar dari Kepala Bidang Pelajaran Agama di sekolah bahwa mahasiswa yang ingin penelitian di sini harus menunjukkan surat izin penelitian dari kampusnya. Segera aku pun meminta tolong pada Sekjur PBA untuk mengirimkan surat izin penelitian untukku. Lagi-lagi aku dengan PD-nya merequest sesuatu yang sebenarnya bukan tugas beliau. Bukankah menurut prosedur yang ada surat izin penelitian baru diberikan setelah seminar proposal? J Aku tak peduli. Melawan prosedur yang telah ditetapkan adalah satu-satunya pilihan karena aku tidak mungkin seminar proposal jarak jauh, bahkan proposal pun aku belum menyusunnya. Bagaimana bisa aku menyusun proposal tanpa ada buku sedangkan buku-buku referensi di Thailand tentu berbahasa Thai. Ah, lupakan sejenak proposal itu. Yang kupikirkan adalah aku harus penelitian dan pulang dengan membawa data-data untuk kususun menjadi karya ilmiah yang suatu hari nanti akan kuperjuangkan dalam sidang skripsi.
Masih dalam suasana serba dikejar deadline, aku dikejutkan dengan pengumuman yang diunggah dalam web FTIK tentang skripsi gelombang 1 semester ganjil. Tidak kusangka, semester 7 sudah dibuka skripsi gelombang 1 sedangkan aku di penghujung semester 6 saat itu. Wah... sudah lama aku memiliki impian untuk bisa skripsi gelombang 1 karena jarang sekali ada anak PBA yang berani untuk skripsi gelombang 1, paling banter gelombang 2 dan umumnya gelombang 3. Tapi, pengumuman hari itu membuatku sedikit down (nggak down banget sih). Bagaimana bisa aku menyelesaikan skripsi dalam waktu sesingkat itu sedangkan saat ini aku baru memiliki judul dan rumusan masalah. Satu-satunya yang bisa kulakukan dalam rangka penelitian adalah wawancara, sedangkan observasi belum memungkinkan. Untuk melihat dokumen-dokumen sekolah pun, rasanya aku belum berkesempatan untuk itu. Belum lagi jika yang kuajak bicara kurang memahami apa maksudku karena perbedaan bahasa.
Lakukan yang bisa kamu lakukan, Nduk.” Iya, bisikan itu modal kerjaku. Sip... aku harus segera bertindak. Ada saatnya aku boleh menggunakan perasaan secara dominan. Ada kalanya logikaku harus lebih dominan dibanding perasaan. Kalau terus mengandalkan perasaan aku hanya akan galau, bingung dan tidak dapat bertindak.



[1]Kegiatan tahunan seperti PORSENI

Rabu, 08 April 2015

Abhimanyu


by Ni'matul Khoiriyyah 
            Senang hatiku, akhirnya tugas PPL dan KKN-ku selesai dan aku bisa kembali ke tanah air bersama Air Asia yang menerbangkanku dari Hat Yai ke Surabaya. PR terbesarku saat ini ada tiga; laporan PPL-KKN di Thailand, ujian komprehensif, dan skripsi. Setelah itu, baru boleh resepsi. Ah, ternyata kuliah S1 tidak lama.
            Rindu sekali rasanya pada tanah air yang kutinggalkan selama empat bulan. Rindu ayah, rindu bunda, rindu IAIN Tulungagung dan... rindu sekali pada si dia. Dia laki-laki kelahiran 1992, hanya terpaut setahun denganku. Saat ini dia sedang menempuh studi semester 1 di pascasarjana. Hebatnya, dia yang skripsinya selesai paling awal di gelombang satu dan hasil ujiannya kumlaude, pujaan para dosen. Aku merasa beruntung memiliki hatinya, sayang belum sah di mata agama dan negara. Kapan pengesahannya?
            Namun satu hal yang kusayangkan. Selama aku menjalin asmara dengannya, dia belum berani datang ke rumah untuk berkenalan dengan ayah-bunda. Alasannya, dia takut aku dimarahi dan itu akan berakibat menjauhkanku darinya. Dia tahu ayah melarangku pacaran sebelum tuntas kuliahku. Jika dia berani mendekatiku dan ayah tahu, ayah akan marah dan menjauhkannya dariku. Tentu dia tak ingin jauh-jauh dariku. Bahkan andaikan dia belum kuliah di pascasarjana, dia tentu akan menyertaiku untuk PPL dan KKN di Thailand karena program itu hanya untuk mahasiswa semester tujuh. Tapi aku bangga padanya. Meski tidak mau jauh-jauh dariku tapi dia sanggup menjalani LDR. Dia bisa dipercaya untuk menjaga hatiku yang jauh di seberang sana.
            ***
            “Nala, sudah sampai mana skripsinya?” Tanya mas Indra.
            “Aku masih mau seminar, Mas. Laporan PPL-KKN baru kemarin kukumpulkan. Pagi tadi aku menyerahkan proposal skripsi.” Jawabku.
            “Bagus, semangat terus, ya. Kamu harus kumlaude. Aku akan datang setelah kamu ujian.”
            “Datang..., maksud Mas Indra ke rumah?”
            Dia mengangguk. Aku bahagia sekali. Tak sabar rasanya ingin segera menyelesaikan skripsiku dan memperjuangkan sejilid tulisan itu dalam sebuah sidang di hadapan dosen penguji. Bukan itu sebenarnya letak ketidaksabaranku, tapi kehadirannya untuk mempersuntingku.
            “Mau kemana sekarang?” tanya Mas Indra yang menemaniku di perpustakaan sejak sejam yang lalu. Bel tanda pengunjung harus keluar sudah berdering.
            “Ke masjid.” Jawabku singkat.
            “Kapan ya, untuk pertama kalinya aku akan mengimami shalat wanita yang kucintai?” Ia menatapku lembut. “Aku ingin wanita itu mengamini setiap doaku. Wanita itu adalah kamu, Nala.”
            “Mas, aku akan berusaha untuk bisa ujian skripsi gelombang satu. Doakan aku segera lulus, Mas. Aku pun ingin segera menjadi makmum setia untukmu.” Kukembalikan buku yang baru kupakai ke rak sesuai kategori. Segera aku dan Mas Indra keluar dari perpustakaan dan berpisah di masjid kampus karena usai Jama’ah Dhuhur aku harus menemui dosen pembimbingku dan Mas Indra masih ada kuliah.
            Penantian ini masih panjang. Menanti bulan April itu artinya masih 4 bulan lagi. Aku tak peduli seberapa lama penantian itu. Selama Mas Indra ada di sisiku, penantian ini tidak akan terasa berat karena rasa takut kehilangan itu tak pernah menghampiri. Tak seorangpun yang tahu aku menjalin ikatan dengan Mas Indra dan aku yakin suatu hari nanti ayah akan merestuiku dengannya.
***
            Empat bulan berlalu dan komunikasiku dengan Mas Indra selalu berjalan dengan baik. Dia selalu ada meskipun tak di depan mata. Memiliki hatinya membuatku tak merasa sendiri. Sayang, tiga hari sebelum aku ujian skripsi ia harus terbang ke Kuala Lumpur untuk menengok keponakannya yang baru lahir. Itu artinya intensitas komunikasiku dengannya sedikit berkurang.
            Hari ini aku akan sidang dan rencananya ia akan terbang kembali dari KLIA ke Juanda. Bismillah, semoga Allah melancarkan sidang skripsiku dan melindungi perjalanan Mas Indra. Sebelum aku memasuki ruang sidang, kuterima Line darinya.
            “Bidadariku, selamat berjuang di sana. Semoga lancar dan lulus dengan predikat kumlaud. Kamu akan menjadi seorang sarjana yang berilmu dan berakhlak. Abhimanyumu akan segera kembali. I Love You until the last of my life.”
            Dia pasti akan terbang sekarang sesuai janjinya tadi malam untuk mengirim pesan sebelum menonaktifkan ponselnya. Aku pun dengan keyakinan dan semangat memasuki ruang sidang di mana ada tiga dosen penguji yang salah satunya adalah dosen pembimbing skripsiku.
            Satu jam berlalu dan aku keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Tiga dosen pengujiku tersenyum puas dengan karya yang telah kuperjuangkan dan kupertahankan di hadapan mereka. Alhamdulillah, aku lulus.
            Aku segera pulang dan memeluk kedua orang tuaku. Rasa bahagia bercampur haru menghapus ketakutanku untuk berbicara jujur tentang keberadaan Mas Indra dalam hatiku. Aku pun dengan tenang menceritakan kisahku dengan Mas Indra yang akan datang hari ini setelah kembali dari Kuala Lumpur.
            Syukurlah, ayah dan ibu tidak tampak kecewa juga tidak marah padaku. Mereka begitu senang saat kuceritakan tentang Mas Indra yang ternyata adalah putra sulung dari sahabat ayah. Artinya penantian panjangku dengan Mas Indra tidak akan sia-sia karena orang tuaku dan orang tuanya pasti merestui.
            Segera kupersiapkan segalanya untuk menyambut kehadiran Mas Indra sore nanti. Lima jam telah berlalu sejak aku pulang kuliah. Aku baru sadar bahwa perjalanan pesawat dari KLIA ke Juanda hanya dalam waktu 2 jam. Mengapa Mas Indra belum mengirim pesan? Bukankah ia sudah mendarat dan mengaktifkan ponselnya kembali?
            Ah, mungkin ia terlalu bersemangat untuk segera pulang dan datang kemari sehingga ia tidak sempat menghubungiku. Mungkin juga ia sedang bersiap-siap menuju kemari hingga tidak sempat mengaktifkan ponselnya. Aku harus tetap tenang.
            ***
            Sudah pukul 19.00 malam. Mas Indra belum memberikan kabar apapun dan tidak membalas chat-ku. Aku gelisah. Aku tahu dia orang yang selalu tepat waktu dan tidak pernah melanggar janji. Aku pun keluar dari kamarku ke ruang tamu dan menghampiri ayah yang sedang mendengarkan berita.
            Innalillah... sebuah pesawat yang take off pukul 08.58 dari Kuala Lumpur ke Surabaya terjatuh di laut Jawa pada pukul 10.50.  Ya Tuhan, bukankah pada pukul 08.55 Mas Indra mengirim pesan via Line padaku. Benarkah pesawat itu yang membawa Mas Indra? Tidak mungkin! Mas Indra pasti menepati janjinya untuk mempersuntingku malam ini. Tidak mungkin! Mas Indra pasti dalam perjalanan menuju kemari.
            “... Abhimanyumu akan segera kembali. I Love You until the last of my life.” Kubaca kembali pesan dalam Line yang dikirimnya tadi pagi. Robb... aku baru sadar, Mas Indra menggunakan diksi “kembali” bukan “datang”. Ia juga sebelumnya tidak pernah memanggilku “Bidadari” dan tak pernah menyebut dirinya “Abhimanyu”. “...until the last of my life,” Mas Indra, apakah kau meninggalkanku? Aku menantimu, Mas.
            Air mata membanjiri pipiku hingga aku terisak. Ayah dan ibu pun bersedih melihatku. Setelah kebahagiaan atas kelulusanku, inikah hadiahku? Aku merasa Tuhan tidak adil padaku dengan mengambil Mas Indra di saat impiannya hampir terwujud.
            “Ting tung....” Suara bel berbunyi.
Aku masih terisak dan tidak mau melepas tangan ayah dan ibu yang kugenggam sejak tadi. Aku yakin di luar sana ada polisi yang akan mengabarkan berita buruk itu. Iya. Seperti dalam beberapa film yang pernah kusaksikan. Ketika kecelakaan menimpa seseorang maka polisi akan datang ke rumah kerabat atau orang terdekat dari korban itu untuk mengabarkannya. Tidak! Aku tidak mau mendengar kabar buruk itu lagi setelah reporter dengan jelas mengatakannya dalam berita.
“Ting tung....” Bel itu semakin bandel dan memaksa untuk dibukakan pintu.
“Ting tung....” Kulepaskan genggaman ayah dan ibu lalu aku beranjak mendekati pintu seraya berteriak. “Pergi.....!” Kupukul pintu itu berkali-kali hingga tanganku panas dan aku tersungkur tak berdaya sambil terus menangis. Ibu memelukku dan ayah membuka pintu.
“Assalamu ‘alaikum, Nala, kamu mengusirku?”
Suara itu... suara itu aku mengenalnya. Kuangkat kepalaku perlahan dan ternyata Mas Indra. Subhanallah, aku seperti bermimpi. Aku hampir saja memeluknya kalau saja tidak kuingat agama masih melarangku.
Ayah Mas Indra berpelukan dengan ayahku dan ibu Mas Indra memelukku setelah mengusap air mataku. Ayah mempersilahkan mereka masuk. Aku masih di pelukan ibu Mas Indra. Isakanku belum berhenti dan Mas Indra tampak sangat bingung melihat keadaanku yang mungkin tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ayah pun menceritakan semuanya. Kebahagiaanku saat dosen penguji menyatakan lulus, penantianku sejak siang hingga malam, sampai tangisku saat mendengar berita jatuhnya pesawat dari Kuala Lumpur di laut Jawa yang kusangka membawa Mas Indra.
            Aku pun tiba-tiba tersenyum saat ayah mengakhiri ceritanya. Kutatap dalam-dalam ibu Mas Indra. “Tante... Mas Indra nakal.” Ucapku yang disusul gelak tawa semuanya.
            “Nala, apa kamu tahu Allah sangat menyayangi kita?” Ujar Mas Indra menatapku lembut. “Abhimanyumu hampir saja terbang bersama pesawaat naas itu, Nala. Tapi kemudian ia sadar bahwa sajadah darimu tertinggal di kamar keponakannya. Ia pun turun dari pesawat yang sudah siap take off dan mencari taxi hanya untuk mengambil sajadah dari wanita pujaannya itu. Orang lain mungkin menganggap ini konyol dan gila. Apa kamu tahu Abhimanyumu harus rela kehilangan barang-barangnya yang sudah masuk bagasi dan kabin pesawat hanya demi sajadah darimu? Nala, aku sempat berpikir untuk merelakan sajadah itu tertinggal di rumah sepupuku, tapi kemudian aku sadar bahwa sajadah itu sangat berharga karena cintamu. Aku harus rela ketinggalan pesawat dan memesan tiket mendadak untuk penerbangan berikutnya dengan konsekuensi terlambat dan membuatmu khawatir seperti ini. Tapi aku akan sangat menyesal bila aku tidak mengambil sajadah yang tertinggal itu karena aku tidak akan bisa menghentikan tangismu jika aku benar-benar terjatuh dan tenggelam bersama pesawaat itu.”
            Gelak tawa yang sebelumnya mengiringi celotehku pun berubah menjadi tetesan air mata haru. Namun Mas Indra dengan tenangnya tersenyum padaku. “Apa benar aku nakal, Nala?”
            Aku justru mengangguk. “Kamu nakal, Mas, tidak mengabariku.”
            “Karena cinta harus menunggu, Nala. Abhimanyu akan selalu memperjuangkan kebenaran hingga akhir hidupnya. Aku pun akan memperjuangkan cintaku. Jangankan dirimu, sajadahmu saja kupertahankan, Nala. I Love You until the last of my life.” Jawab Mas Indra.
            “Dan sekarang Om menunggu lamaranmu untuk Putri Nala yang baru menangis ini, Ksatria Abhimanyu.” Sahut Ayah.
            Subhanallah walhamdulillah... Sungguh indah skenario cinta-Mu, Robb. Engkau tautkan hatiku dan hatinya dengan begitu indah. Restuilah kami, kuatkanlah cinta kami, until the last of my life. Aku mencintaimu, Abhimanyu.



Jumat, 03 April 2015

SKRIPSI YANG PENUH CINTA

                                        
(Part 1)
Bagi seorang Nina, move on merupakan hal yang tidak bisa seinstan mie sedap yang cukup dalam hitungan menit. Perjalanan hari demi hari di kampus mengukirkan sejuta warna di kanvas yang bermerk “hati”. Warna pink dua kali menghampiri. Iya. Pink adalah warna cinta. Goresan warna pertama dari seorang dosen ketika aku masih duduk di semester dua. Goresan warna kedua dari seorang mahasiswa ketika aku duduk di awal semester 6 dan luntur di semester itu pula.
Untuk mencintai dan dicintai ternyata tidak sesulit untuk memiliki dan dimiliki secara sah di mata agama dan negara. Kepercayaan merupakan awal tumbuhnya cinta karena kita tidak mungkin bisa mencintai orang yang tidak bisa kita percaya. Kepercayaan apa? Kepercayaan untuk bisa melengkapi satu sama lain, kepercayaan untuk saling menjaga kehormatan satu sama lain, kepercayaan untuk berusaha saling membahagiakan satu sama lain, dan kepercayaan untuk tidak saling mempermasalahkan kekurangan satu sama lain. Ini lho sebenarnya indah dan mulianya cinta.
“Namun adakala insan tak berdaya saat dusta mampir bertahta...” petikan sebuah lagu ini menandakan bahwa dustalah yang melumpuhkan kekuatan cinta yang pada dasarnya merupakan kepercayaan antara sepasang insan ciptaan Ar-Rahman. Dua orang insan yang saling mencintai tentu memiliki keinginan mulia untuk dipersatukan oleh Sang Maha Cinta. Namun tentu Sang Maha Cinta memberikan proses yang diibaratkan menaiki tangga untuk bisa sampai ke puncak yang dituju. Pada mulanya, ketika masih berada di awal-awal tangga, kekuatan masih besar, semangat masih membara, dan keinginan untuk sampai ke puncak masih menggebu. Semakin ke atas akan semakin terasa lelah atau bahkan ingin menyerah jika tidak memiliki tekad yang kuat. Padahal, ketika mereka menaiki tangga itu bersama-sama setinggi apapun dan sebanyak apapun anak tangga itu, mereka akan merasa sangat bahagia ketika sampai di puncak dan tetap bersama.
Di puncak itulah pintu gerbang cinta suci yang bernama pernikahan. Sayangnya, banyak yang gagal ketika berproses. Tidak berjalan bersama saat menaiki tangga, tidak memiliki semangat yang sama saat menaiki tangga, tidak saling percaya bahwa mereka sanggup menaiki tangga hingga puncak dan ketika sampai di tengah-tengah ada yang memilih turun dan pergi. (Ups.... kok seperti kisah Nina saja yang itu) Ketika Nina bersemangat menaiki tangga meskipun lelah, partner Nina menyerah di tengah-tengah dan memilih turun untuk jalan-jalan dengan yang lain.
Hakikatnya, hal itu tidak berbeda dengan tingkatan ujian yang diberikan oleh Sang Khaliq kepada hamba-Nya. “Laa Yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa”, seseorang tidak diuji melebihi batas kemampuannya sehingga anak SD tidak akan diberi tugas membuat makalah dan anak SMP tidak akan diminta PPL dan KKN, pun anak SMA tidak akan diminta menyusun skripsi dan seseorang tidak akan diminta mengerjakan tesis kecuali mahasiswa tingkat S2.
Mengapa harus menyerah ketika diuji? Bukankah Sang Penguji sudah lebih tahu siapa yang diujinya? Hai... tugas manusia bukan untuk berhasil tapi untuk berproses sebaik dan semaksimal yang ia mampu. Adapun kesuksesan itu bonus dari Sang Penguji ketika yang diuji patut untuk mendapatkannya. Bukankah begitu? Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal coba lagi atau pilih alternatif jalan lain yang lebih baik.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...” petikan lagu ini (mohon maaf) sekali-kali jangan diamalkan karena hanya akan membuat hidup jadi terpuruk dalam lautan luka masa lalu. “Aku tanpamu butiran debu...”  lirik yang ini lebih parah lagi. Sebegitu lemahkah kita tanpa si dia yang belum halal dan mungkin tidak akan pernah halal bagi kita. Hai... dunia lebih luas dari daun kelor. Mengapa harus terpuruk tanpa si dia? Bukankah lebih indah kalau “Aku tanpamu akan lebih baik”.
Jatuh dan terluka lalu merasakan sakit itu wajar. Tapi tidak wajar kalau terus-menerus mengingat perihnya luka itu sehingga menjadikan pribadi kita semakin terpuruk tak berdaya. Lebih buruk lagi kalau setelah putus cinta kemudian bermusuhan dengan sang mantan sampai tujuh turunan. Hai... jangan seperti itu. Boleh putus, tapi tetaplah berdamai dengan masa lalu.
Oke, masuk ke poin skripsi. Satu kata yang terdiri dari 7 huruf dengan 2 huruf vokal ini merupakan tugas akhir mahasiswa strata 1 yang kabarnya merupakan momok. Namun, siapa sangka, tugas akhir inilah yang justru membangkitkan Nina dari luka cinta yang kandas dihantam badai.
Menurut penuturan salah seorang kakak kelasku, cinta itu tidak bisa dihapuskan tapi bisa dialihkan perhatiannya. Berangkat dari sini, aku segera mengalihkan perhatianku yang semula tertuju untuk dia kemudian terfokus pada penulisan karya ilmiah yang merupakan tugas akhirku di kampus IAIN Tulungagung. Benar saja, move on dari dia (mahasiswa penggores warna pink kedua) lebih cepat jika dibandingkan dengan move on dari beliau (dosen penggores warna pink pertama). Singkat kata, tugas akhir ini menyita hampir seluruh perhatianku hingga tidak sempat lagi untuk merasakan perihnya luka kandasnya cinta.
Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing skripsiku. Curahan perhatian, pengorbanan, kasih sayang dan bimbingannya telah membantuku bangkit dari luka. Hari demi hari kukerjakan skripsiku (meski tidak bisa setiap hari). Jarak jauh tak menjadi penghalang bagiku untuk mendapat bimbingannya. Terkadang, aku di kampus saat beliau di luar kota. Pun sebaliknya, saat beliau di kampus aku tidak datang.
Aku jarang -bahkan hampir tidak pernah- membuat perjanjian untuk menemui beliau. Seringkali beliau tidak merespon ketika kukirim pesan singkat. Terkadang juga beliau tak sempat menerima teleponku. Walhasil, aku hanya mengandalkan feeling jika ingin menemui beliau. Seringkali perasaan bahwa beliau ada di kampus itu memang benar dan aku bisa menemui beliau, meski sesekali feeling itu meleset ketika aku menunggu berjam-jam dan ternyata beliau tidak ada.
Sejenak mungkin aku merasa kecewa ketika menunggu lama kemudian tidak berjumpa, namun kembali kusadari bahwa beliau pernah mengirim pesan padaku untuk datang menemui beliau di kampus pada jam sekian namun aku tidak merespon dan tidak datang. Beliau pun tidak marah, justru memberiku semangat yang luar biasa dengan butiran nasihatnya yang selalu merasuk ke dalam jiwa. Beliau juga tidak jarang meluangkan waktunya untukku, tak hanya meluangkan... bahkan mengorbankan. Ketulusan beliau yang merupakan praktik nyata dari formula “Head, Heart and Hand” seringkali menyadarkanku betapa berartinya cinta dan perjuangan seorang guru bagi anak didiknya. Tidak aneh jika aku menganggap dospem skripsiku seperti ayahku sendiri. Iya. Ayah yang tanpa ikatan darah.
Beliau juga salah satu inspirasiku saat berada di Thailand Selatan untuk PPL dan KKN. Sentuhan cinta pun selalu berusaha kuberikan pada peserta didik di Phattana Islam Wittaya School, serewel apapun mereka. Semua orang memiliki potensi kebaikan dalam dirinya namun ia pun berinteraksi dengan lingkungannya yang juga memberikan pengaruh bagi perkembangan dirinya. Seperti aliran Konvergensi yang beranggapan bahwa setiap manusia memiliki pembawaan namun juga mendapat pengaruh lingkungan dalam perkembangannya, aku pun ingin memberikan warna pada kanvas pelajar di sekolah itu.
To be continued....


Selasa, 03 Maret 2015

Memory Idul Fitri di Gajah Putih


            Nina, nama yang terdengar di telingaku ketika orang-orang memanggilku. Sejak lulus dari SMP, aku mulai tinggal jauh dari orang tua karena berdomisili di pesantren hingga aku lulus dari Madrasah Aliyah. Kemudian kulanjutkan studiku ke PTAIN dan aku tinggal di asrama selama satu tahun atau dua semester. Mulai semester tiga aku kembali berdomisili di pesantren yang berbeda dengan yang kutempati saat masih aliyah.
            Tinggal di pesantren membuatku kehilangan momen-momen indah yang biasanya kujalani bersama sang pahlawan hidupku, abi dan bunda. Momen seperti ulang tahun, baik itu ulang tahunku ataupun ulang tahun pahlawanku sudah sering kujalani tanpa kebersamaan karena aku di pesantren dan mereka di rumah.
            Ya. Mesksipun sudah bertahun-tahun aku berada di pesantren akan tetapi belum pernah aku tak berjumpa dengan orang tuaku lebih dari dua minggu kecuali saat abi dan bunda menunaikan ibadah haji. Saat aku masih duduk di bangku Aliyah, jarak Trenggalek-Blitar tak menghalangi langkah abi dan bunda untuk menengok putri tercintanya dua minggu sekali, selama tiga tahun. Saat kuliah, aku memang tak lagi disambang. Akan tetapi aku yang pulang dua minggu sekali dari pesantren karena jarak Trenggalek-Tulungagung bisa ditempuh dalam tiga puluh menit. Selain itu, aturan pesantren yang berbicara. Untuk pelajar Aliyah, hanya boleh pulang sebulan sekali akan tetapi boleh disambang dua minggu sekali. Sedangkan untuk mahasiswi, boleh pulang dua minggu sekali dan tidak ada aturan khusus untuk penyambangan.
            Semester enam ini aku mengikuti program baru dari kampus IAIN Tulungagung yaitu PPL dan KKN terpadu di luar negeri, tepatnya di negara Thailand bagian selatan. Banyak sekali ujian yang kuhadapi sebelum aku berangkat menjalankan tugasku di negeri seberang. Mulai dari sulitnya melobi dosen terkait tugas akhir perkuliahan karena aku berangkat di pertengahan semester enam, jadwal pembekalan yang berbenturan dengan jadwal mengaji di pondok pesantren, banyaknya tugas yang harus kukerjakan dengan deadline yang singkat, dan yang paling ekstrim adalah ucapan seseorang yang kucintai dan mencintaiku di hari terakhir aku kuliah. Dia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa dilanjutkan karena ketiadaan restu dari pihak orang tuanya.
            “Dik, jangan nangis ya!” Pintanya.
            Hati siapa yang tak lara, wanita mana yang air matanya tak berlinang ketika di hari-hari terakhirnya berada di Indonesia dia harus mendengar kabar yang menyakitkan tentang hubungannya padahal ia sangat berharap cinta itu bisa sampai ke pelaminan? Itu yang kurasakan dan kualami di detik-detik jelang kepergianku ke Thailand. Aku terluka di tengah kesibukanku. Aku terjatuh di tengah padatnya aktivitasku. Bahkan laptopku pun ikut rewel seolah mengerti bahwa pemiliknya sedang galau. Aku benar-benar stress saat itu. Di saat hatiku tengah terluka, engsel laptopku patah dan teknisi yang bisa menservis sedang keluar kota. Ditambah, baterai laptopku yang daya hidupnya bergantung pada carger.
            Alhamdulillah, waktu demi waktu berlalu dan satu persatu tugas kuliahku selesai dengan penuh perjuangan. Berjuang di tengah luka yang tersiram air jeruk nipis. Laptopku pun demikian. Mas teknisi bisa mengerti keadaanku sehingga ia mendahulukan servis laptopku daripada yang lain. Ia pun rela kesana-kemari demi mencarikan baterai yang cocok dengan laptopku. Kini tinggal hatiku yang harus kutata. Perlahan tapi pasti, aku mulai berdamai dengan mas Ari, si dia yang melukaiku. Bahkan pagi sebelum aku berangkat pada malamnya, kusempatkan diri untuk ke kampus berpamitan dengan ayah (sapaanku pada salah satu dosen yang sudah kuanggap ayah sendiri) dan teman-teman sekelas yang tentunya ada dia yang kupamiti secara VIP. Aku pun pada akhirnya berangkat dengan tenang untuk menjalankan tugasku ke negeri gajah putih.
            Aku di antar oleh abi, bunda dan adik sampai ke kampus IAIN Tulungagung. Tengah malam aku dilepas oleh wakil rektor dan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat). Usai pelepasan, kupeluk erat bunda, abi kemudian adik yang sangat kusayang. “Kita akan berpisah agak lama,” batinku.
            Salah satu dosen memberikan komando untuk segera naik bus kampus yang akan membawaku dan 19 temanku ke Juanda airport. Kutatap lembut mata dua pahlawanku lalu kuucapkan salam. Sambil berjalan menuju bus, kulambaikan tangan pada mereka.
***
            29 Juni 2014, Ramadhan karim telah tiba. Kuikuti aktivitas pertama di bulan suci ini yaitu shalat tarawih. Kesan pertama, aku langsung teringat tanah suci meski aku belum pernah ke sana. Mengapa? Shalat tarawih di sini dua puluh rakaat dengan bacaan surat seperti di masjidil haram, surat panjang dan bacaan yang tartil. Dua puluh rakaat plus witir berlangsung mulai pukul 20.00 sampai pukul 22.00.
            Inilah pertama kalinya aku shalat tarawih di malam pertama Ramadhan tanpa abi dan bunda. Sahur pertamaku pun demikian. Meski bertahun-tahun aku nyantri, akan tetapi pesantren selalu memberi kesempatan tarawih, sahur dan buka puasa pertama dengan keluarga di rumah. Terasa sangat berbeda tahun ini. Aku baru sadar, aku berada di negeri orang.
            17 Juli 2014, sejak pagi aku dan kawan-kawan didampingi oleh badan alumni Internasional Thailand selatan mengurus perpanjangan visa di Kota Bharu, Malaysia. Banyak sekali rintangan yang menyapa sejak kami masuk ke Malaysia. Kudeta yang terjadi di negeri beribu kota Bangkok ini benar-benar merubah segalanya. Tapi dari sini kami belajar mengasah kesabaran yang berbuah manis pada akhirnya.
            Malam, kami telah kembali ke Thailand dan bermalam di rumah ustadz Hafiz. Usai buka bersama kami bersantai sejenak. Saat itu Ustadz Kafa-yang sejak pagi mendampingi kami-membelahkan beberapa buah durian untuk kami para mahasiswa Indonesia. Setiap kali durian itu habis, beliau bertanya, “Mau lagi?”
            Ah, hatiku langsung sampai ke Kamulan[1] walaupun ragaku di Thailand. Aku langsung teringat abi. Biasanya aku selalu bermanja pada abi saat dibukakan durian. Ucapan “Mau lagi?”  yang diucapkan oleh ustadz Kafa, nadanya sama persis dengan nada tanya abi. Abi, aku rindu.
            Berhari-hari dan berminggu-minggu aku menahan rindu yang kian menggunung. Kabar pulang lebih awal 10 hari yaitu 10 September yang seharusnya 20 September cukup mengguncangkan hatiku. Aku bahagia karena akan segera berjumpa dengan orang-orang tercinta. Tapi di balik itu aku juga bingung karena dosenku telah menanyakan skripsi yang datanya harus dari sekolah tempatku PPL. Bagaimana ini? Saat ini sekolah libur dan baru masuk bulan agustus nanti. Itupun terpotong untuk UTS, sukkan warna[2], dan libur seminggu. Jika kuhitung, hari aktifnya hanya seminggu. Belum lagi kalau badan alumni mengadakan acara untuk mahasiswa. September pun kuhitung aktif seminggu. Total dua minggu. Skripsi macam apa ini?
            27 Juli 2014, kegalauan itu kutepis perlahan-lahan. Aku ingin memikirkan yang bisa kupikirkan, mengerjakan yang bisa kukerjakan. Tugasku hanya berusaha, berencana sebaik mungkin. Hasil itu di luar kuasaku.
 Ah, tak terasa hari ini adalah hari lahirku yang ke dua puluh satu. Oh, sepinya. Tak ada kue tart, tak ada kado, tak ada senyuman abi dan bunda di depan mataku. Aku sendirian di Ramadhan hari ke dua puluh sembilan.
Pukul 08.00 saat kuaktifkan Samsung Galaxi Star pemberian abi, aku mendapatkan kejutan istimewa dalam WhatsApp-ku. Ada video kiriman dari abi yang isinya ucapan selamat ulang tahun juga pesan singkat berisi doa dari keluarga untukku. Allah... andai bisa kukecup tangan mereka. Ternyata tidak cukup sampai di sini, satu persatu teman-teman PPL dan KKN di Thailand juga mengirim pesan ucapan dan doa untukku. Sungguh bahagianya diriku.
Petang jelang berbuka puasa, terdengar klakson mobil. Kubuka jendela kamarku. Terlihat sebuah mobil putih terparkir di depan. Itu kan mobil ustadz Kafa, pikirku. Aku keluar. Saat aku berdiri di depan mobil beliau, kaca mobil turun dan seorang wanita yang tak lain adalah istri ustadz Kafa memberikan sebuah kue tart dengan lilin angka 21 di atasnya.
            “Happy Birthday, Nina” ucap ustadz Kafa bersamaan dengan sang istri.
            Aku terharu, sungguh terharu. Tak pernah kuduga hal ini sebelumnya. Kupeluk istri ustadz lalu kuterima tart berwarna pink berpadu coklat itu. tiba-tiba ada sepasang tangan yang menyekap mataku dari belakang. Dia menuntunku ke sebuah ruangan yang telah dihiasi kertas warna-warni, bunga dan balon. Indah, indah nian dengan semerbak harumnya bunga alami yang bermekaran.  Telah tertata rapi di meja beberapa piring kecil dan sebuah kue besar dengan lilin di tengahnya. Lampu dipadamkan sesaat untuk membaca doa buka puasa bersama-sama kemudian aku memajatkan doa untuk ulang tahunku yang ke 21.
            Aku rindu padamu, Bunda… wanita yang dua puluh satu tahun yang lalu memperjuangkanku untuk terlahir ke dunia ini. Bunda, aku bahagia karena di sini aku memiliki keluarga yang sangat baik padaku. Bunda, Abi… aku selalu memiliki kalian di manapun aku berada.
            29 Juli 2014, kali ini air mata tiada mampu terbendung lagi. lantunan takbir Idul Fitri yang menggema memenuhi relung hati. Ya Allah… benarkah Idul fitri ini tak ada tangan bunda abi untuk kukecup? Di mana pelukan hangat dan lembut dari dua pahlawan hidupku itu Ya Robb? Aku rindu…

إYala, Thailand,  Ni’matul Khoiriyyah
           



[1] Salah satu desa di Kabupaten Trenggalek, sekitar 1 km dari perbatasan Tulungagung-Trenggalek Jawa Timur
[2] Acara tahunan di sekolah-sekolah Thailand semacam PORSENI 

Biar Kukikis Keras Hatimu


نعمة الخيرية
            Gadis anggun itu bernama Aisyah. Dia mahasiswi semester lima  jurusan pendidikan Bahasa Arab di IAIN Tulungagung. Setiap pagi ia kuliah, sorenya memberi bimbingan belajar ekstra untuk adik kelasnya yang semester satu dan tiga. Kabarnya, dia sedang dekat dengan Rafi, ketua HMJ PBA baru yang seangkatan dengannya.
            Suatu hari saat ia selesai memberikan bimbingan belajar, hujan turun begitu deras. Aisyah tidak membawa payung dan ia terbiasa berjalan kaki dari pesantren ke kampus maupun sebaliknya. Hatinya risau bukan karena terlambat pulang akan tetapi merasa kehilangan rutinitasnya di pesantren yaitu mengikuti kajian kitab kuning bersama sang Kyai. Rafi yang kebetulan baru selesai mengurus surat-surat pelantikan di markas HMJ PBA menghampiri gadis yang tampak risau itu.
            “Takut terlambat mengaji?” sapa Rafi.
            Aisyah mengangguk. “Tafsir Jalalain, surat Ar Rahman.” Ucapnya kemudian.
            “Coba kalau nggak ada takzir, aku mau nganter kamu.”
            “Buang jauh-jauh pikiran itu, Rafi. Aku nggak suka.”
            Rafi tersenyum. “Meski nggak ada pengurus yang tahu? Daripada kamu kehilangan surat Ar Rahman.”
            Aisyah tahu ia sedang digoda. Segera ia berpaling dan mencari kelas lain untuk menanti hujan reda. Rafi mengikutinya.  Rupanya gadis itu sedang tidak bisa diajak bercanda. Ia pun minta maaf berkali-kali akan tetapi Aisyah tidak menjawab.
            “Aisyah... aku tahu siapa kamu. Aku kenal kamu sejak sebelum kuliah. Aku cuma bercanda. Afwan.”
            “Kamu jadikan syari’at sebagai bahan candaan, Rafi. Pergilah!” usir gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Jauh di lubuk hati, ia sangat kecewa. Sebenarnya ia telah lama memendam rasa pada sang ketua HMJ karena sosoknya yang sederhana, disiplin dan bertanggung jawab. Dia sangat berbeda dengan yang lain. Ketika ada tugas misalnya, Rafi selalu selesai mengerjakan tugasnya sebelum batas waktu pengumpulan tiba. Hal inilah yang jarang dimiliki oleh mahasiswa lain.
            “Aisyah, kamu menangis?” tanya Rafi terkejut melihat mata gadis itu.
            Aisyah mengarahkan telunjuk kanan ke bibirnya. “Sssst.... Pergilah!” pintanya dengan suara lirih.
            ***
            Semalaman Rafi tidak bisa tidur. Ia terus teringat pada sepasang mata jernih yang dibuatnya menangis. Hatinya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan Aisyah? Mengapa ia menangis hanya karena candaan itu? Apa yang dimaksud syari’at sebagai candaan dalam ucapannya tadi?
            Esoknya ia berangkat pagi sekali. Ia bermaksud mendahului kedatangan Aisyah yang biasanya datang pertama. Akan tetapi penantiannya sia-sia. Gadis itu tak kunjung datang hingga perkuliahan dimulai. Ia baru tahu gadis itu sakit saat Wina menyerahkan surat izin pada dosen.
            “Ya Allah... dia pasti menerjang hujan.” Tebak Rafi dalam hati. Ia kenal betul siapa Aisyah. Fisiknya memang tidak sekuat yang lain. Dia tidak boleh terkena hujan.
            “Win, Aisyah di mana?” tanya Rafi segera saat dosen yang mengajar telah keluar kelas.
            “Di klinik pesantren. Rawat inap.” Jawab Wina. “Kemarin dia nekat hujan-hujanan. Nyampe pesantren dia pingsan. Nggak tau kenapa dia senekat itu. Mungkin ada yang membuatnya marah. Tapi, bukan kamu kan Raf?”
            “Win, kita bicara di luar, ya?” ajak Rafi.
            Di gazebo depan Kopma (koperasi mahasiswa) Rafi bercerita. Ekspresi Wina pun tampak marah, geram padanya.
            “Kamu sebenarnya sayang nggak sih sama Aisyah? Kamu belum kenal Aisyah?” Wina geram. “Raf, Aisyah itu nggak bisa kamu samakan denganku. Kalau sama aku, mau bercanda apa aja terserah kamu. Tapi sama Aisyah, jangan pernah kamu bercanda tentang hukum agama.           Dia orientasinya imam, bukan pacar. Apa pantas seseorang yang akan dijadikan imam menjadikan syari’at sebagai candaan?”
            “Jadi, dia....”
            “Iya. Dia sayang sama kamu, Raf. Tapi dia nggak mau pacaran.”
            Rafi sangat bahagia mendengar pernyataan Wina. Akan tetapi ia juga takut apabila tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan Aisyah. Menyesal rasanya telah melukai hati gadis idamanya. Andai waktu bisa terulang kembali, ia tidak akan mengucapkan kalimat yang membuat mata gadis itu berkaca-kaca kemudian menerjang hujan yang kini membuatnya tergeletak tak berdaya.
            “Mas Rafi, dipanggil ustadz Hari di kajur.” Kata Afandi memberi tahu.
            “Wina, aku ke kajur dulu, ya." Pamit Rafi.
            “Sekalian aku mau balik, nemenin Aisyah.” Balas Wina.
            “Sampaikan permintaan maafku, ya.”
***
            Wina terkejut karena saat dia masuk ke klinik pesantren, ia tak melihat Aisyah di sana. Namun akhirnya ia tersenyum lega karena perawat mengatakan bahwa Aisyah telah kembali ke asrama. Segera Wina menuju ke kamar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja. Ternyata sahabatnya sedang melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan merdunya di kamar sunyi yang penghuninya masih beraktivitas di kampus itu.
            Mengetahui Wina telah datang, Aisyah mengakhiri bacaannya dengan mengecup kitab suci yang selalu menemaninya sepanjang hari. Ia pun menyunggingkan senyum manisnya pada Wina. Meski demikian ia tak dapat menutupi bibir tipisnya yang masih tampak pucat.
            “Nggak usah kuatir gitu ah wajahnya!” kata Aisyah.
            “Siapa yang kuatir? Aku biasa kok.” Balas Wina tersenyum. “Eh, dapat salam dari Rafi.”
            Sinar wajah Aisyah langsung berubah saat mendengar nama itu. entah mengapa kekecewaan gadis itu begitu dalam. Dia benar-benar tidak rela dengan candaan Rafi kemarin sore. Tapi, ada apakah sebenarnya di balik kekecewaan itu?
            “Syah, aku pengen dengerin cerita kamu. Kenapa kemarin kamu sampe nekat hujan-hujanan? Kamu marah sama Rafi? Dia salah apa?”
            Handphone Aisyah bernyanyi. Ia keluar kamar sejenak untuk menerima telepon. Tentu saja hal ini membuat Wina semakin penasaran. Tidak biasanya Aisyah harus keluar kalau hanya menerima telepon. Siapa gerangan yang meneleponnya?
            Beberapa menit kemudian Aisyah kembali ke kamar. Ia menatap sahabatnya dengan lembut kemudian menundukkan kepala. “Nggak lama lagi,” ucapnya pelan.
            “Apa yang nggak lama lagi, Aisyah?” Tanya Wina.
            “Aku akan jadi pengantin.” Jawab sahabatnya singkat yang kemudian disusul dengan tetesan air mata.
            “Apa…? Dengan siapa?”
            “Preman.”
            “Masyaallah, Aisyah… kamu serius? Siapa yang kamu maksud preman itu?”
            Aisyah tidak mampu bercerita. Ia hanya terus menangis dalam pelukan sahabatnya. Wina pun tak berani memaksa mengingat kondisi Aisyah yang belum cukup fit. Tak lama kemudian Zahra, Ana dan Riska, teman sekamar mereka yang berbeda jurusan telah pulang dari kampus.
            “Aisyah, aku cari di klinik nggak ada. Syukurlah kalo udah baikan.” Kata Riska.
            “Win, Aisyah kenapa?” Tanya Zahra.
            “Sssst…. Udah, sebaiknya kita jangan banyak tanya dulu biar Aisyah tenang. Sepertinya dia punya beban yang sangat berat.” Ujar Ana.
            ***
            Esoknya, untuk kedua kali Rafi berangkat awal. Kali ini ia berhasil mendahului Aisyah. Di gedung UPB lantai tiga dekat tangga Rafi mencoba mengajaknya berbicara. Berbekal dengan apa yang disampaikan Wina kemarin, ia bermaksud mengutarakan isi hatinya pada Aisyah setelah minta maaf atas candaannya kemarin.
            “Aku ingin mengenal kamu lebih jauh, Aisyah. Izinkan aku menjagamu.”
            “Maaf, Raf. Aku nggak bisa.”
            “Kenapa? Ada nama lain di hatimu?”
            Aisyah menggeleng. Apapun pertanyaan yang dilontarkan Rafi, ia tak menjawab. Gadis itu terus bungkam, diam seribu bahasa.
            “Aisyah, aku akan terus menunggu sampai kamu berbicara dan sampai aku bisa menerima alasan kamu.” Paksa Rafi lembut.
            “Rafi, plis… aku mau presentasi. Tolong jangan usik pikiranku.”
            “Oke, selepas kuliah kita lanjutkan.” Rafi memang keras kalau sudah memiliki kemauan.
            Pada akhirnya, Aisyah yang semula bungkam pun mau berbicara. Sejak kecil ia diasuh oleh pamannya yang berwatak cukup keras namun memiliki jiwa religi yang kuat. Pamannya ingin menikahkan Aisyah dengan Roy, anak sahabatnya yang pernah nyantri selama 3 tahun di Lirboyo Kediri akan tetapi setelah keluar dari pesantren, ia terjebak dalam dunia gelap karena salah pergaulan. Ia adalah seorang preman yang berjanji mau insyaf apabila diizinkan menikah dengan Aisyah. Dia tidak memaksa untuk menikahi Aisyah. Hanya saja, jika bukan Aisyah yang menikah dengannya, ia akan tetap menjadi preman dan tidak mau insyaf.
            “Kamu mau menikah dengannya?” Tanya Rafi.
            “Maafkan aku, Rafi. Kemarin kamu udah mematahkan harapanku. Paman udah memutuskan, Roy akan menikahiku bulan depan.”
            “Apa maksud kamu, Syah? Jujur, aku belum paham dimana letak kesalahanku kemarin.”
            “Aku hanya diberi waktu sehari. Hanya kemarin. Paman memberiku kesempatan apakah ada pria yang kupandang bisa menjadi imamku. Tapi candaan kamu kemarin benar-benar tidak menghargaiku, Raf. Aku benar-benar kecewa meski sebenarnya aku udah maafin kamu. Ku anggap kemarin nihil dan aku memutuskan untuk mengikuti kemauan paman yang membesarkanku. Aku berharap, pernikahan ini akan membawa Roy ke jalan yang benar. Kalau dia belum bisa menjadi imamku yang baik, biarlah aku yang berusaha membimbingnya.”
            “Aisyah… apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku? Aku sangat tidak rela kamu menikah dengan Roy. Aku nggak rela dia menyakiti hati kamu. Beri aku kesempatan, Aisyah.”
            “Maaf, sebaiknya fokuskan fikiran kamu untuk HMJ PBA. Minggu depan kamu dilantik, dan ketua HMJ tidak boleh berstatus menikah. Masa bakti kamu satu tahun, Raf, dan aku menikah bulan depan. Nggak ada alasan bagiku untuk mengingkari apa yang udah kuputuskan. Manusia itu hina bukan karena menikah dengan orang yang salah, tapi manusia itu hina ketika ucapan dan perbuatannya tak senada. Aku udah memutuskan untuk membangun cinta dengannya. Aku akan belajar mencintainya. Cinta itu yang akan berperan sebagai air yang terus menetes di atas kerasnya batu. Doakan yang terbaik untukku dan Roy. Aku akan doakan yang terbaik pula untuk kamu. Yakinlah, Rafi, tulang rusuk tidak akan tertukar.” Jelas Aisyah sembari menahan butiran mutiara dari matanya.
            “Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku hargai dan aku terima. Semoga Roy benar-benar mau berubah. Kamu wanita yang hebat, Aisyah. Semoga Roy akan menjadi imam yang baik, dengan dukungan dan cinta kamu.” Ujar Rafi.
            “Aamiin Yaa Robb….” Aisyah tersenyum sebelum kemudian meninggalkan Rafi karena ada jam bimbingan belajar untuk semester tiga.
            Usai memberikan bimbel pada adik kelasnya, Aisyah menuju ke kajur untuk memberi kabar pada ustadz Hari tentang rencana pernikahannya. Ustadz yang selama ini melihat kedekatan Aisyah dengan Rafi itu cukup terkejut dengan kabar yang disampaikan mahasiswi kesayangannya. Tidak menyangka, paman Aisyah akan menikahkannya dengan santri yang salah pergaulan. Namun semua kembali pada konsep bahwa kita harus senantiasa positive thinking dalam segala hal sembari berusaha maksimal dan disertai doa. Sebagaimana kisah Ibnu Hajar yang luluh saat melihat terkikisnya batu karena tetesan air yang istiqomah.
            “Nduk, kalau itu sudah jadi keputusanmu, Ustadz hanya bisa membantu dengan dukungan motivasi dan doa. Tuluskan hatimu dalam membimbingnya. Cinta itu akan bersemi dan tumbuh dengan subur seiring berjalannya waktu. Sirami cinta itu dengan perhatian dan kesetiaanmu. Insyaallah, dia akan diluluhkan oleh Allah. Ustadz yakin, jiwa santrinya masih ada. Siapa tahu kelak dia menjadi sosok besar seperti almarhum ustadz favoritmu, Uje.” Harap ustadz Hari.
            “Aamiin Yaa Robb…. Aisyah mohon restu, Ustadz.”
            “Baarakallah laki wa lahu. Pandai-pandailah membagi waktu, untuk studimu dan untuk keluarga kecilmu.”
            Sebelum berpamitan, Aisyah mengajukan permohonan izin untuk tidak ikut perkuliahan selama 2 minggu. Seminggu sebelum akad, dan seminggu setelahnya. “Terima kasih, Ustadz. Assalamu ‘alaikum.”
***
            Hari pernikahan itu tiba. Aisyah belum terlalu mengenal Roy. Ia memang tak pernah dekat dengannya. Ia hanya tahu Roy nakal. Itupun dari pamannya sendiri. Aisyah tampak tenang sekali hari itu. Hatinya baru berdebar saat pamannya melafalkanIjab. Hal yang tak terduga, Roy begitu lancar melafalkan Qabul dalam bahasa Arab yang menghalalkannya duduk bersanding dengan Aisyah di singgasana pengantin. Usai Ijab Qabul terlafalkan, Aisyah masih belum percaya kalau ia harus mengecup tangan pria berjas putih di sampingnya. Ia begitu kaku, namun kini ia telah sah menjadi istri dari pria yang duduk di sampingnya. Tak ada alasan baginya untuk menolak mengecup tangannya.
            Dengan membisikkan lirih lafal basmalah, Aisyah mengecup tangan suaminya yang kemudian disusul dengan kecupan suami Aisyah di keningnya. Rasa haru tiba-tiba muncul. Aisyah meneteskan air mata saat Roy mengecup lembut keningnya. Dalam hati, Aisyah mengatakan, “Ya Allah… aku jatuh cinta.”
            Suasana berubah menjadi haru saat hadirin melihat tetesan air mata Aisyah. Paman dan bibi serta mertuanya sangat bersyukur melihat Aisyah yang setulus hati berkenan mendampingi Roy yang dikenal sebagai preman itu. Sayang, orang tua Aisyah telah tiada pada hari di mana Arsy berguncang dengan terlafazkannya Ijab Qabul yang mulia. Kini Rafi telah rela melepas gadis impiannya sebagaimana Aisyah yang telah rela menerima Roy.
            Pesta telah usai dan kini saatnya Aisyah berpamitan pada paman dan bibinya untuk tinggal di rumah Roy. “Aisyah pamit, Paman. Doakan Nduk bisa menjadi istri sholihah.”
            “Pasti, Nduk. Paman doakan kamu dan suamimu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah, keluarga yang saling mengisi dan saling menguatkan, semoga kalian bahagia.” Paman menepuk pelan bahu kanan Aisyah kemudian memegang kedua bahu Roy. “Roy, Aisyah sudah menjadi tanggung jawabmu. Jalankan kewajibanmu sebagai suami dan penuhi haknya sebagai istrimu.”
***
             “Mas Roy….” Sapa Aisyah saat tiba di rumah barunya.
            “Hm…. Mas?” balas Roy takjub.
            “Iya. Dinda panggil Mas, boleh?”
            “Dinda…?” Roy berpikir sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Iya, Dinda.”
            Hari-hari mereka diisi dengan perkenalan karena pada dasarnya mereka masih sama-sama asing. Aisyah hanya tahu sedikit tentang Roy dan Roy hanya tahu sedikit tentang Aisyah namun langsung ingin menikahinya. Benar saja, saat ini keduanya mulai jatuh cinta. Aktivitas mereka seperti muda-mudi yang sedang pacaran, namun pacaran mereka berstatus halal.
            “Dinda….” Ucap Roy suatu sore di sova ruang keluarga sambil merangkul Aisyah.
            “Iya, Mas….” Jawab Aisyah lembut.
           “Dinda tahu, sebenarnya aku ini bukan orang baik. Bahkan aku berniat untuk terus teledor selepas akad nikah. Tapi….”
            “Tapi kenapa, Mas?”
            “Pesona kelembutanmu, Dinda, membuatku luluh tak berdaya. Rasanya aku tak pantas lagi untuk menjadi preman, sedangkan aku memiliki bidadari seindah kamu. Dinda, maafkan aku yang belum berani mengimami shalatmu. Aku malu, Dinda. Aku pernah mabuk-mabukan, aku pernah berjudi, aku pernah berpacaran. Sungguh aku tidak pantas menjadi suamimu, Dinda.”
            Aisyah menatap suaminya dengan lembut kemudian meletakkan telunjuknya di bibir suaminya. “Sssst…. Mas, nggak ada manusia yang sempurna selain Rasulullah. Kalau Dinda salah bergaul, Dinda juga bisa seperti Mas sebelum menikah. Yang penting, sekarang Mas sudah berubah dan tidak akan kembali seperti dulu lagi. Kalau Mas belum berani mengimami Dinda, tidak apa-apa. Yang penting, Mas tidak meninggalkan shalat. Pintu taubat selalu terbuka, selagi nyawa belum sampai kerongkongan. Dinda akan selalu mendampingi Mas.”
            Roy mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. “Beruntungnya aku memilikimu, Dinda. Alangkah bahagianya anak-anakku memiliki ibu bidadari seindah kamu.” Celetuknya.
            “Anak-anak?” kening Aisyah berkerut.
            “Iya, Dinda Sayang….”
            “Berapa?” Tanya Aisyah.
            “Satu lusin.”
            “Jangan, Mas!”
            “Berapa?”
            “Satu kodi, hehe.”
            “Yakin?”
            “Enggak.”
            Demikianlah hari-hari manis mereka. Perjalanan membangun cinta yang saling mengisi. Luluhlah keras hati Roy melalui kelembutan hati Aisyah, istrinya. Kini ia benar-benar memenuhi janjinya untuk insyaf setelah menikah.
            Wanita…
            Lembutmu adalah kuatmu
            Tiada di dunia ini perhiasan yang lebih indah
            Dari pesona seorang wanita shalihah