Entri Populer

Sabtu, 03 Oktober 2015

Menunggu Dosen


                Apa persamaan menunggu dosen dengan menunggu jodoh? Sama-sama menguji kesabaran. Suatu ketika kita (mahasiswa) pasti pernah menunggu dosen untuk kepentingan tertentu. Mungkin untuk konsultasi, mungkin untuk meminta tanda tangan. Nah, kemungkinan yang kedua ini barangkali membutuhkan kesabaran ekstra, hingga Kajur TMT IAIN TA pernah mengatakan bahwa bagi seorang dosen membahagiakan mahasiswa itu sangat mudah. Cukup dengan segera memberinya tanda tangan setelah diminta itu saja, si mahasiswa sudah bahagia. Apalagi kalau yang ditandatangani adalah formulir pengajuan judul, lembar revisi, lembar persetujuan, lembar pengesahan skripsi, dan sebagainya. Pernyataan Bapak Kajur TMT ini pun sudah ditashih oleh Bapak Kajur PBA (serius amat?).
                Mengapa? Untuk menunggu kehadiran sang dosen, mahasiswa harus merelakan beberapa kesempatannya untuk beraktivitas. Kadang ia harus duduk manis di gazebo yang mejanya terlalu maju atau kursinya terlalu mundur, kadang ia harus duduk di atas motor yang belum ada 5 menit saja sudah mendengar teriakan peluit dari Pak Satpam (diusir alusan), kadang juga ia harus lesehan (ngelesot) di depan kantor, sementara dosen yang dihubungi belum merespon untuk memberi kepastian harus ditunggu sampai jam berapa. Ditelepon tidak diangkat, SMS tidak dibalas. Ngenes itu sudah menunggu dari pagi sampai sore ternyata dosen yang ditunggu tidak ada di kampus maupun di kediamannya. Padahal ada perlu apa? Namung  tanda tangan thog ae wes.
                Eits ... Stop bahas yang asin dan asam, sekarang bahas yang manis yach ...! Di sisi lain ada hikmahnya menunggu dosen meskipun lama, menjenuhkan, dan bahkan terkadang mengecewakan. Apa dong? Ada banyak pelajaran dalam menunggu, di antaranya:
1.       Sabar
Seseorang tidak bisa dikatakan sebagai penyabar kalau kesabarannya tidak diuji. Nah, salah satu cara menguji kesabaran adalah menunggu. Bagaimana sikap mahasiswa saat menunggu dosennya? Mengeluh? Menggerutu? Marah-marah? Cemberut? Atau tetap tenang? Nah, coba lihat teman Anda yang sedang menunggu dosennya, galau atau ceriakah dia.
2.       Husnudhon
Telepon dosen tidak diangkat? SMS tidak dibalas? Apa yang Anda pikirkan? (Ah, kayak mas Efbi aja pertanyaannya) kondisi seperti ini membuat sebagian mahasiswa berpikir negatif, “Oh, Pak Dosen, kenapa nggak mau sih terima telepon?” dan sebagian lagi berpikir positif, “Ah, mungkin beliau sedang sangat sibuk, atau mungkin sedang tidak pegang HP.”
3.       Teman baru
Saat menunggu dosen di kampus, tentu kita tidak pernah sendiri. Pasti ada beberapa mahasiswa yang tengah seliweran, ada yang sedang mengerjakan tugas di gazebo, atau bahkan ada yang sedang merasakan hal yang sama dengan kita (menunggu dosen juga). Nah, sambil nunggu nggak ada salahnya kan nimbrung, kenalan, basa-basi, sekedar tanya-tanya A sampai Z, lumayan bisa mengurangi kejenuhan.
4.       Inspirasi tak terduga
Tentu selama menunggu kehadiran dosen, pikiran kita tidak pernah diam. Kadang dalam situasi ini muncullah inspirasi tak terduga yang bertebaran. Mungkin berupa kata, kalimat, atau ungkapan-ungkapan lainnya. Wah, lumayan, yang kayak gini bisa jadi puisi, cerpen, artikel, atau apalah-apalah. So, siapkan media untuk mencatat ide-ide yang bertebaran itu. Sayang lho, kalau nggak dicatat kadang menghilang tanpa jejak. Kalau bisa dimanfaatkan kenapa tidak?
5.       Indah pada waktunya
Saat-saat yang paling membahagiakan setelah penantian panjang adalah saat kehadiran dosen yang Anda tunggu. Tentu berbeda rasanya apabila sekali Anda datang langsung bertemu dosen, sama halnya dengan perasaan Anda saat sarapan pagi jika dibandingkan dengan berbuka puasa.

Bagaimana? Sudah tahu hikmahnya menunggu dosen? Bagi yang mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar J
Kamulan, 14-01-2015