Apa persamaan
menunggu dosen dengan menunggu jodoh? Sama-sama menguji kesabaran. Suatu ketika
kita (mahasiswa) pasti pernah menunggu dosen untuk kepentingan tertentu. Mungkin
untuk konsultasi, mungkin untuk meminta tanda tangan. Nah, kemungkinan yang
kedua ini barangkali membutuhkan kesabaran ekstra, hingga Kajur TMT IAIN TA
pernah mengatakan bahwa bagi seorang dosen membahagiakan mahasiswa itu sangat
mudah. Cukup dengan segera memberinya tanda tangan setelah diminta itu saja, si
mahasiswa sudah bahagia. Apalagi kalau yang ditandatangani adalah formulir
pengajuan judul, lembar revisi, lembar persetujuan, lembar pengesahan skripsi,
dan sebagainya. Pernyataan Bapak Kajur TMT ini pun sudah ditashih oleh Bapak
Kajur PBA (serius amat?).
Mengapa? Untuk menunggu
kehadiran sang dosen, mahasiswa harus merelakan beberapa kesempatannya untuk
beraktivitas. Kadang ia harus duduk manis di gazebo yang mejanya terlalu maju
atau kursinya terlalu mundur, kadang ia harus duduk di atas motor yang belum
ada 5 menit saja sudah mendengar teriakan peluit dari Pak Satpam (diusir alusan),
kadang juga ia harus lesehan (ngelesot) di depan kantor, sementara dosen
yang dihubungi belum merespon untuk memberi kepastian harus ditunggu sampai jam
berapa. Ditelepon tidak diangkat, SMS tidak dibalas. Ngenes itu sudah
menunggu dari pagi sampai sore ternyata dosen yang ditunggu tidak ada di kampus
maupun di kediamannya. Padahal ada perlu apa? Namung tanda tangan thog ae wes.
Eits ... Stop
bahas yang asin dan asam, sekarang bahas yang manis yach ...! Di sisi lain ada
hikmahnya menunggu dosen meskipun lama, menjenuhkan, dan bahkan terkadang
mengecewakan. Apa dong? Ada banyak pelajaran dalam menunggu, di antaranya:
1.
Sabar
Seseorang tidak bisa dikatakan
sebagai penyabar kalau kesabarannya tidak diuji. Nah, salah satu cara menguji
kesabaran adalah menunggu. Bagaimana sikap mahasiswa saat menunggu dosennya? Mengeluh?
Menggerutu? Marah-marah? Cemberut? Atau tetap tenang? Nah, coba lihat teman
Anda yang sedang menunggu dosennya, galau atau ceriakah dia.
2. Husnudhon
Telepon dosen tidak diangkat?
SMS tidak dibalas? Apa yang Anda pikirkan? (Ah, kayak mas Efbi aja
pertanyaannya) kondisi seperti ini membuat sebagian mahasiswa berpikir negatif,
“Oh, Pak Dosen, kenapa nggak mau sih terima telepon?” dan sebagian lagi
berpikir positif, “Ah, mungkin beliau sedang sangat sibuk, atau mungkin sedang
tidak pegang HP.”
3. Teman baru
Saat menunggu dosen di kampus,
tentu kita tidak pernah sendiri. Pasti ada beberapa mahasiswa yang tengah seliweran,
ada yang sedang mengerjakan tugas di gazebo, atau bahkan ada yang sedang
merasakan hal yang sama dengan kita (menunggu dosen juga). Nah, sambil nunggu
nggak ada salahnya kan nimbrung, kenalan, basa-basi, sekedar tanya-tanya A sampai
Z, lumayan bisa mengurangi kejenuhan.
4. Inspirasi tak terduga
Tentu selama menunggu kehadiran
dosen, pikiran kita tidak pernah diam. Kadang dalam situasi ini muncullah
inspirasi tak terduga yang bertebaran. Mungkin berupa kata, kalimat, atau
ungkapan-ungkapan lainnya. Wah, lumayan, yang kayak gini bisa jadi puisi,
cerpen, artikel, atau apalah-apalah. So, siapkan media untuk mencatat ide-ide yang
bertebaran itu. Sayang lho, kalau nggak dicatat kadang menghilang tanpa jejak. Kalau
bisa dimanfaatkan kenapa tidak?
5. Indah pada waktunya
Saat-saat yang paling
membahagiakan setelah penantian panjang adalah saat kehadiran dosen yang Anda
tunggu. Tentu berbeda rasanya apabila sekali Anda datang langsung bertemu dosen,
sama halnya dengan perasaan Anda saat sarapan pagi jika dibandingkan dengan
berbuka puasa.
Bagaimana? Sudah tahu hikmahnya menunggu dosen? Bagi
yang mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar J
Kamulan, 14-01-2015