Bila
Cinta Tak Senada Dengan Irodah-Nya
Pada
pembahasan sebelumnya saya nyatakan bahwa cinta harus memiliki. Namun apakah
pernyataan “harus” ini berarti sudah pasti kita bisa memiliki orang yang kita
cinta? Tentu tidak. Kadang cinta berbenturan dengan restu orang tua, cinta tak
sejalan dengan cita-cita atau yang paling fatal adalah kehadiran orang ketiga.
Perjalanan cinta sudah pasti tak
selalu mulus. Seorang teladan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib saja ketika
mencintai putri Rasulullah harus berkali-kali mengurungkan niatnya untuk
melamar sang putri karena Sayyidah Fatimah telah dilamar oleh Abu Bakar ra,
kemudian Umar ra. Perjalanan cinta merupakan bagian dari perjalanan hidup yang
kadang berliku dan menanjak, ada kerikil dan batu, ada traffict light,
ada rambu-rambu sama ketika kita berlalu lintas.
Nah, bagaimana ketika cinta kita
pada seorang insan ternyata berbenturan dengan restu orang tua? Pelajari dulu
apa alasan orang tua menolak pilihan kita. Jika alasannya masih berkecimpung
pada tema harta, tahta dan rupa, saya rasa itu tidak syar’i. Tambahkan saja
porsi kegigihan Anda untuk mengambil hati orang tua. Jangan sekali-kali ada
keinginan untuk menikah tanpa restu. Memang yang menjalani pernikahan adalah
anda, tapi sekali-kali jangan abaikan restu ayah dan ibu. Saya bukan tipe orang
yang percaya karma tapi saya yakin “Faman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran
yarahu.” Tapi jangan samakan hal ini dengan hukum karma. Saya juga percaya
“Birru aba’akum tabirrukum abna’ukum”, jika kita berbakti pada orang tua maka
kelak anak-anak kita akan berbakti kepada kita.
Sekeras-keras hati seseorang,
walaupun sedikit pasti masih ada kelembutannya. Lihatlah, sekeras-kerasnya
Fir’aun, dia menyayangi Musa kecil. Apalagi orang tua kita bukan Fir’aun,
mengapa tak mau gigih mengambil hatinya?
Jika saya katakan “orang tua
pasti ingin yang terbaik untuk anaknya”, mungkin ada yang menyanggah “ada orang
tua yang menginginkan kebahagiaannya sendiri”. Maka saya ganti dengan redaksi,
“orang tua yang takut kepada Allah pasti ingin memberikan yang terbaik untuk
anaknya.” Nah, jika sudah begini sekali lagi pelajari apa yang membuat orang
tua Anda menolak pilihan Anda. Jika alasannya tidak syar’i, Anda berhak
memperjuangkan pilihan Anda. Tapi jika orang tua Anda ternyata lebih mengenali
siapa orang yang Anda pilih dan orang tua tahu bahwa pilihan Anda akhlaqnya
na’udzubillah, hanya baik saat bersama Anda, maka Anda harus dengan legowo
merelakan pilihan Anda untuk keluar dari hati suci Anda.
Ingat,
cinta boleh buta asalkan tidak buta agama. Apa maksudnya? Cinta boleh tak
memandang harta, tahta dan rupa tapi jangan sampai cinta tak memandang agama.
Cinta tanpa agama akan binasa. Bukan rumah tangga sakinah yang diraih tapi
malah rumah tangga yaumul qiyamah bila cinta Anda tak mengenal agama. Untuk
wanita, pilih calon imam yang sekiranya bisa membimbing Anda. Paling tidak, dia
mampu mengimami Anda shalat. Bagi pria, pilih wanita yang sekiranya mampu
menjadi makmum terbaik Anda, mampu menjaga harga diri dan kehormatannya ketika
Anda harus pergi.
Nah,
bagaimana jika Anda tetap gagal memperjuangkan cinta Anda di hadapan orang tua
sedangkan alasannya tidak syar’i? Sekali lagi saya tegaskan “Jangan sekali-kali
ada keinginan untuk menikah tanpa restu.” Bisa jadi orang tua Anda punya
firasat tidak baik mengenai pilihan Anda. So... move on, relakan si dia,
putuskan secara baik-baik, beri dia pengertian. Barangkali si dia memang bukan
jodoh Anda. Anda harus yakin bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk
Anda, tinggal menunggu saat pertemuan.
Ketika
cinta tak sejalan dengan cita-cita, apa yang harus kita lakukan? Jika masih
bisa menyelaraskan cinta Anda dengan si dia, mengapa tidak? Coba selaraskan.
Apa cita-citanya dan apa cita-cita Anda kemudian pikirkan apakah dua cita-cita
berbeda itu memungkinkan Anda untuk berumahtangga dengannya. Jika sekiranya
memungkinkan, Anda bisa menikah dengannya. Jika tidak memungkinkan, lagi-lagi
Anda harus move on... putuskan dengan baik.
Berbicara
tentang cinta tak sejalan dengan cita-cita, saya rasa ini juga berhubungan
dengan “cinta dan penantian.” Adakalanya pria telah siap tapi wanita belum atau
sebaliknya. Bila salah satu dari kedua belah pihak belum siap, tentu harus ada
yang namanya “penantian”. Banyak orang mengatakan “menunggu itu membosankan”,
“menunggu itu melelahkan”. Bisa jadi. Saya tipe orang yang on time dan tidak
suka menunggu bila dikejar deadline. Contoh riil saja, saya berdomisili di pesantren
Sirojut Tholibin, kurang lebih 700 meter dari IAIN Tulungagung. Ketika ada
perkuliahan jam ketiga yang dimulai pukul 10.20 WIB, pasti saya sudah persiapan
sejak pukul 09.15. Sebelum pukul 10.00 saya sudah siap berangkat. Jarak tempuh dari
pesantren ke kampus dengan jalan santai kurang lebih lima belas menit. Jika
pukul 10.00 teman-teman belum juga keluar kamar, saya seringkali memilih
berangkat sendiri daripada saya harus menanti mereka dan terlambat berjamaah.
Mengapa? Saya lebih suka stand by lebih dahulu sebelum dosen masuk kelas karena
di antara adab murid adalah datang lebih awal dari gurunya.
Apa
hubungannya dengan cinta? Masalah cinta, saya punya target sendiri yang
biasanya saya merevisinya setiap ulang tahun saya. Seperti yang pernah saya
alami sekedar tahadduts binni’mah, saya pernah menjalin asmara dengan
salah seorang dosen muda selama beberapa bulan. Selama itu hubungan kami
baik-baik saja. Tidak pernah ada pertengkaran, perselisihan, kemarahan, semua
berjalan baik. Sikap dewasanya mampu mengimbangi kemanjaan saya. Diskusi pun
menjadi hobi kami. Namun kisah itu harus berakhir singkat bukan karena
pertengkaran atau apapun melainkan hanya karena “penantian”. Dosen saya tidak
sanggup jika harus menanti saya hingga lulus kuliah. Saya pun dengan rela hati
melepasnya karena saya memang tidak pernah meminta beliau untuk menanti. Saya
yakin, “jika jodohku pasti tak keberatan menantiku tanpa kuminta”. Saya pun
santai saat itu. “Jika Anda berkenan menanti, Alhamdulillah, saya pun akan
menjaga hati untuk Anda. Tapi jika Anda tidak berkenan menanti, monggo, saya
persilahkan Anda melangkah dengan yang lain.” Batin saya.
Saya
punya pegangan, “Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil
kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah perjuangan atau pengorbanan.” Jika
saya mencintai seseorang maka saya tidak akan memintanya untuk menanti. Cukup
saya katakan, saya akan siap menikah tahun sekian. Jika dia berkenan menanti,
Alhamdulillah. Jika tidak, fala ba’sa. Cinta itu mengambil kesempatan.
Ketika ada kesempatan menikah tahun sekian, apakah saya ambil kesempatan itu
atau tidak. Jika tidak maka saya harus rela mempersilahkan yang lain untuk
mengambil kesempatan itu. Cinta adalah
perjuangan. Ketika saya mencintai dia, saya harus berjuang bersamanya untuk
bisa bersatu dalam pernikahan. Ketika saya dengan alasan tertentu tidak bisa
memperjuangkan cinta itu maka saya harus mengorbankan. Saya harus merelakannya
dengan yang siap menikah di tahun yang dia inginkan.
Galau?
Pasti. Sedih? Iya. Menangis? Mungkin sekedar beradaptasi dengan suasana baru
tanpa perhatiannya. Semua itu wajar kita rasakan saat kita kehilangan orang
yang kita cintai. Namun saya punya prinsip, selama saya belum menikah, saya
tidak akan mencintai seseorang seratus persen. Mengapa? Karena yang boleh saya cintai seratus persen adalah suami saya
nanti.
Saat
kehilangan… Galau boleh asal tidak berlebihan. Menangis,
boleh asal tidak mengganggu ketenangan orang. Sedih, boleh asal tidak
mengurangi semangat belajar. Semua itu
wajar dirasakan ketika putus cinta. Apalagi saya yang saat itu benar-benar
menikmati jalinan asmara walau hanya beberapa bulan. Tentu berat yang saya
rasakan. Bagaimana tidak, perpisahan kami hanya karena tidak sabar menjalani
penantian. Bukan karena pertengkaran apapun. Saya sempat marah saat itu, tapi
hanya melalui tulisan kemarahan itu saya ungkapkan. Saya tak pernah bisa marah
di hadapan dosen saya. Saya selalu menganggap keputusan beliau adalah yang
terbaik untuk kami. Menangis? Alhamdulillah saya selalu bisa menyembunyikan air
mata saya. Tanya saja siapa yang melihat saya menangis saat ditinggal menikah,
hehe… pasti tak ada yang melihat.
Apa hubungan cerita saya dengan
restu orang tua? Jelas berhubungan. Dosen saya mengutamakan restu orang tuanya
untuk segera menikah di tahun itu. Sedangkan
orang tua saya belum mengizinkan saya menikah karena KTP
saya saja baru berusia setahun. Yaps… saat itu usia saya masih 18. Masih bau
aliyah. So… kami mengutamakan restu orang tua dan ridho Ilahi. Jika jodoh pasti
tak kemana, jika kemana-mana berarti bukan jodoh, hehe… walhamdulillah sekarang
saya sudah ridho dengan takdir indah itu.
Nah, bagaimana jika cinta
bertemu dengan orang ketiga? Hm… ini baru masalah besar. Dari istilahnya saja
sudah berkonotasi tidak baik. Telusuri dulu akar permasalahannya. Sebesar apa
pengaruh si orang ketiga itu bagi dua sejoli. Apakah orang yang Anda cintai
(sebut saja A) cenderung kepada Anda atau pada si orang ketiga (sebut saja B).
jika cenderung kepada Anda, berjuanglah bersama-sama untuk mengatasi si B.
caranya? Tunjukkan bahwa cinta Anda lebih baik bila bersatu dengan cinta A. Penting juga menguatkan
hati A bahwa dia lebih baik bersatu dengan Anda. Jika Anda dan A sudah sama-sama yakin, hadapi si B
dengan kekuatan berdua. Jangan lupa berdoa agar Allah menyadarkan si B untuk
mengalah dan move on dari A. kalau A lebih cenderung pada B, hm… mumpung
belum menikah, lepaskan saja. Khawatir kalau setelah menikah nakal lagi. Tapi jika Anda strong
dan mampu mengambil kembali hati A, monggo… terusno. Tapi Anda
tetap harus waspada dengan orang ketiga. Dia badai yang setiap saat bisa
menerjang bahtera Anda.
Saat cinta tak senada dengan Irodah-Nya, kuatkan iman dan taqwa,
tambah porsi sujud dan tetaplah melangkah di jalur yang benar. Jangan sampai
keadaan ini membuat Anda jauh dari Sang Maha cinta. Jika Anda jauh, mungkin
tetap akan
ada pengganti tapi dia tidak akan membuat Anda lebih baik. So, dekati terus
Sang Maha cinta. Insyaallah, Dia akan hadirkan sosok tebaik untuk mendampingi
Anda yang membuat Anda semakin tenang menjalani hari-hari. Semoga cinta kita
sejalan dengan Irodah-Nya. Aamiin
Hadanallah wa iyyakum,
barakallah lana wa lakum…
By: Ni’matul Khoiriyyah
Kamulan, 19 Januari
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar