Entri Populer

Jumat, 16 Oktober 2015

Cinta Perawan




          Mohon maaf sebelumnya, jangan terlalu memelototi judul ini dan jangan terlalu kemana-mana pikiran Anda berkelana ..., Oke?!
Mengetik terasa melelahkan apalagi berlembar-lembar, lama, dan naskah yang diketik merupakan percampuran dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Bisa dipastikan, sebentar-sebentar harus menekan Alt+Shift lalu merapikan paragraf. Untuk itu, perlu menciptakan suasana yang kondusif ketika mengetik. Bagi saya, mengetik cukup nikmat apabila diiringi MP3, baik itu murattal maupun musik. Setidaknya hal ini bisa sedikit mengurangi kejenuhan.
            Adapun koleksi MP3 yang sering menemaniku mengetik di antaranya “Abatahu-Langitan”, “Ya Ummi-Ahmed Bukhatir”, “Cinta Terbaik-Cassandra”, “Citra Cinta, Senandung Rindu-Rhoma Irama”, “Tanah Airku”, “Jangan Jatuh Karena Cinta tapi Bangun Cinta-Setia Furqon Kholid,” “In Aankhon Mein Thum-OST Jodha Akbar”, “Robbi Kholaq Toha, Ya Robbi bil Mustofa-Ar-Ridwan”, “Hijrah Cinta-Rossa”, “Serpihan Cinta-UJE”, “Tereliye”, “Mars IAIN TA” dan “لغتي العربية”. Ada satu kesan yang kurasakan hingga membuatku merinding ketika kudengarkan lagu “Jangan Jatuh Cinta tapi Bangun Cinta” yang dipopulerkan oleh Setia Furqon Kholid, motivator termuda se-Asia Tenggara.
            Segera aku berhenti mengetik naskah yang dipesan dosenku lalu kutulis catatan ini. Lirik yang membuatku merinding adalah, “Aku ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan saat ijab kabul telah tertunaikan.” Kenapa merinding? Yang ditekankan dalam lirik itu adalah RASA CINTA yang masih menjadi cinta perawan. Artinya apa? Menurut pemahamanku, si penyanyi ingin memberikan PERASAAN CINTANYA hanya kepada pasangan halalnya setelah ijab-kabul.
 Perasaan, tentunya ini bukan hal yang mudah. Berbeda dengan ekspresi, kata, dan semua hal yang bersifat fisik. Anda mungkin bisa membayangkan, bagaimana memperawankan perasaan cinta agar hanya pasangan halal saja yang memilikinya setelah ijab Kabul. Mungkin kita bisa menjaga ekspresi, menjaga kata, menjaga fisik hingga semua itu termiliki oleh yang halal tanpa dimiliki yang lain sebelumnya. Namun jika harus memberikan perasaan cinta yang masih baru, bisakah?  Bukankah sebelum sampai ke akad nikah kita pernah merasakan virus pink pada seseorang, kemudian karena suatu sebab rasa cinta itu beralih pada yang lain, kemudian yang lain lagi, baru kemudian rasa cinta itu sampai pada seseorang yang menikah dengan kita. Masih perawankah rasa cinta yang sampai pada pasangan itu? Bukankah sebelumnya kita pernah merasakan cinta pada yang lain? Artinya, pasangan kita (mungkin) bukan cinta pertama dan terakhir, ia hanya menempati posisi yang terakhir saja. Mungkin hanya seribu satu yang menjadikan pasangannya cinta pertama dan terakhir sekaligus cinta satu-satunya.
Sungguh, aku merinding ketika mendengar Aku ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan saat ijab kabul telah tertunaikan.” Seolah lirik ini menampar hatiku. Sudah berapa orang yang aku cintai namun (pada akhirnya) ternyata bukan untukku. Masya Allah ..., riak-riak sesal pun muncul dan begitu banyak tanda tanya, mengapa aku mencintai mereka yang bahkan tidak pernah mengucap Qabul di hadapan waliku? Bukankah seharusnya rasa cinta itu hanya kupersembahkan pada yang mengucap “Qobiltu”? Aku mungkin bisa menjaga ragaku hanya untuk Sang Imam, tapi sayang, aku pernah memiliki rasa cinta pada yang lain dan itu artinya, lirik lagu di atas benar-benar menampar hatiku.
Baik, yang lalu biarlah berlalu dan kita mulai lembaran baru. Ada sebuah meme yang bertuliskan “Jangan menikah hanya karena jatuh cinta, namun menikahlah karena kamu yakin ridho dan surga Allah lebih dekat jika kamu bersamanya.” Lalu, apakah tidak boleh menikah karena cinta? Boleh, boleh sekali justru itu sangat bagus, karena apa? Ada ahli ruhaniyah yang mengatakan bahwa pada saat sepasang zauj-zaujah sedang bercinta akan tetapi si zauj membayangkan mar’ah lain maka ia dianggap berzina. Na’udzu billah! Dengan demikian cinta itu perlu, tapi lebih pertimbangkan lagi “Fadhfar bidzatiddin”, agar pernikahan bernilai ibadah karena Allah menciptakan manusia “Liya’buduun” hanya untuk beribadah kepada-Nya. Bukankah sangat indah bila sesuatu yang kita sukai dihitung sebagai ibadah?
Lalu bagaimana dengan rasa cinta yang masih perawan? Ketika akad nikah telah tertunaikan maka satu saja yang berhak atas cinta kita, lahir maupun batin, yaitu pasangan kita. Kita mungkin tidak bisa menjadikannya yang pertama dan terakhir, tapi dialah yang terakhir, maka tugas kita adalah memperawankan kembali rasa cinta kita agar dia menjadi satu-satunya, La ghoir. Bismillah, ayo ndandani ati ...!