Mohon maaf sebelumnya, jangan terlalu
memelototi judul ini dan jangan terlalu kemana-mana pikiran Anda berkelana ...,
Oke?!
Mengetik
terasa melelahkan apalagi berlembar-lembar, lama, dan naskah yang diketik
merupakan percampuran dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Bisa dipastikan,
sebentar-sebentar harus menekan Alt+Shift lalu merapikan paragraf. Untuk itu,
perlu menciptakan suasana yang kondusif ketika mengetik. Bagi saya, mengetik
cukup nikmat apabila diiringi MP3, baik itu murattal maupun musik. Setidaknya hal
ini bisa sedikit mengurangi kejenuhan.
Adapun koleksi MP3 yang sering
menemaniku mengetik di antaranya “Abatahu-Langitan”, “Ya Ummi-Ahmed Bukhatir”, “Cinta
Terbaik-Cassandra”, “Citra Cinta, Senandung Rindu-Rhoma Irama”, “Tanah Airku”, “Jangan
Jatuh Karena Cinta tapi Bangun Cinta-Setia Furqon Kholid,” “In Aankhon Mein
Thum-OST Jodha Akbar”, “Robbi Kholaq Toha, Ya Robbi bil Mustofa-Ar-Ridwan”, “Hijrah
Cinta-Rossa”, “Serpihan Cinta-UJE”, “Tereliye”, “Mars IAIN TA” dan “لغتي العربية”. Ada satu kesan yang kurasakan hingga membuatku merinding ketika kudengarkan lagu “Jangan
Jatuh Cinta tapi Bangun Cinta” yang dipopulerkan oleh Setia Furqon Kholid,
motivator termuda se-Asia Tenggara.
Segera
aku berhenti mengetik naskah yang dipesan dosenku lalu kutulis catatan ini. Lirik
yang membuatku merinding adalah, “Aku
ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan
saat ijab kabul telah tertunaikan.” Kenapa merinding? Yang
ditekankan dalam lirik itu adalah RASA CINTA yang masih menjadi cinta perawan. Artinya
apa? Menurut pemahamanku, si penyanyi ingin memberikan PERASAAN CINTANYA hanya
kepada pasangan halalnya setelah ijab-kabul.
Perasaan, tentunya ini bukan hal yang mudah. Berbeda dengan
ekspresi, kata, dan semua hal yang bersifat fisik. Anda mungkin bisa membayangkan,
bagaimana memperawankan perasaan cinta agar hanya pasangan halal saja yang
memilikinya setelah ijab Kabul. Mungkin kita bisa menjaga ekspresi, menjaga
kata, menjaga fisik hingga semua itu termiliki oleh yang halal tanpa dimiliki
yang lain sebelumnya. Namun jika harus memberikan perasaan cinta yang masih
baru, bisakah? Bukankah sebelum sampai
ke akad nikah kita pernah merasakan virus pink pada seseorang, kemudian karena
suatu sebab rasa cinta itu beralih pada yang lain, kemudian yang lain lagi,
baru kemudian rasa cinta itu sampai pada seseorang yang menikah dengan kita. Masih
perawankah rasa cinta yang sampai pada pasangan itu? Bukankah sebelumnya kita
pernah merasakan cinta pada yang lain? Artinya, pasangan kita (mungkin) bukan
cinta pertama dan terakhir, ia hanya menempati posisi yang terakhir saja. Mungkin
hanya seribu satu yang menjadikan pasangannya cinta pertama dan terakhir
sekaligus cinta satu-satunya.
Sungguh,
aku merinding ketika mendengar “Aku
ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan
saat ijab kabul telah tertunaikan.” Seolah lirik ini menampar
hatiku. Sudah berapa orang yang aku cintai namun (pada akhirnya) ternyata bukan
untukku. Masya Allah ..., riak-riak sesal pun muncul dan begitu banyak tanda
tanya, mengapa aku mencintai mereka yang bahkan tidak pernah mengucap Qabul di
hadapan waliku? Bukankah seharusnya rasa cinta itu hanya kupersembahkan pada
yang mengucap “Qobiltu”? Aku mungkin bisa menjaga ragaku hanya untuk Sang Imam,
tapi sayang, aku pernah memiliki rasa cinta pada yang lain dan itu artinya,
lirik lagu di atas benar-benar menampar hatiku.
Baik,
yang lalu biarlah berlalu dan kita mulai lembaran baru. Ada sebuah meme yang
bertuliskan “Jangan menikah hanya karena jatuh cinta, namun menikahlah
karena kamu yakin ridho dan surga Allah lebih dekat jika kamu bersamanya.” Lalu,
apakah tidak boleh menikah karena cinta? Boleh, boleh sekali justru itu sangat bagus,
karena apa? Ada ahli ruhaniyah yang mengatakan bahwa pada saat sepasang
zauj-zaujah sedang bercinta akan tetapi si zauj membayangkan mar’ah lain maka
ia dianggap berzina. Na’udzu billah! Dengan demikian cinta itu perlu, tapi lebih
pertimbangkan lagi “Fadhfar bidzatiddin”, agar pernikahan bernilai
ibadah karena Allah menciptakan manusia “Liya’buduun” hanya untuk
beribadah kepada-Nya. Bukankah sangat indah bila sesuatu yang kita sukai
dihitung sebagai ibadah?
Lalu
bagaimana dengan rasa cinta yang masih perawan? Ketika akad nikah telah
tertunaikan maka satu saja yang berhak atas cinta kita, lahir maupun batin,
yaitu pasangan kita. Kita mungkin tidak bisa menjadikannya yang pertama dan
terakhir, tapi dialah yang terakhir, maka tugas kita adalah memperawankan
kembali rasa cinta kita agar dia menjadi satu-satunya, La ghoir. Bismillah, ayo
ndandani ati ...!