(AIS)
Awal mula aku tidak menyangka pria
yang tinggal serumah denganku ini akan menjadikanku sebagai isterinya. Perawakannya
sederhana namun romantis. Yang bagiku luar biasa darinya adalah kesabarannya
yang bukan hanya tingkat dewa, tapi sudah tingkat sidrotul muntaha.
Aku tipe wanita yang tak peduli dianggap
ketinggalan zaman. Aku nyaman dengan diriku sendiri yang anti pacaran. Tidak ada
kata pacaran dalam catatan harianku. Kalau jatuh cinta mungkin aku hanya
memendam rasa dan tidak dengan menjadikan rasa cintaku sebagai pintu pacaran.
Hampir dua tahun yang lalu aku masih
menyandang status sebagai mahasiswi IAIN Tulungagung semester tujuh. Saat itu
mungkin aku dan Fara, sahabatku yang berstatus wanita single di kelas. Teman-temanku
hampir 80 % berpacaran 15 % menikah sedangkan 5 %-nya aku dan Fara yang belum
menikah, tidak pula berpacaran. Meski demikian aku dan Fara merasa nyaman,
tidak merasa resah dengan status single yang kami sandang hingga wisuda.
Beberapa minggu pasca wisuda,
datanglah Mas Husain melamarku. Ia temanku sejurusan pada waktu kuliah namun
beda kelas. Dia di kelas A dan aku di kelas B. Anehnya, aku yang saat itu tidak
mencintainya sama sekali langsung saja yakin menerima lamarannya. Ah, mungkin
itu pertanda kalau dia jodohku. Bagiku, entah diawali dengan cinta atau tidak,
kalau jodoh pasti klik.
Usai menggelar acara pernikahan, aku
dan Mas Husain mulai berbagi cerita. Ternyata ia sudah lama memperhatikanku. Ia
sudah sejak lama mencintaiku namun rasa cinta itu mendewasakannya hingga ia
berusaha untuk mandiri sedini mungkin sebelum tiba waktunya mempersuntingku. Sungguh,
aku mulai kagum padanya. Ia begitu rapi mengelola rasa cintanya hingga siap
lahir dan batinnya untuk memilikiku tanpa pernah mengungkapkan cinta
sebelumnya.
Untuk pertama kalinya ia bisikkan
pada telinga kananku, “Aku mencintaimu, Dik,” ucapnya malam itu.
Hatiku berdebar, jantungku berdegup
kencang. Ada getar-getar tak wajar saat kudengar bisikan itu. Aku bahkan baru
menyadari kalau ia telah menjadi suamiku. Aku bukan lagi wanita single,
tapi aku adalah Nina Salsabila, istri yang sah dari Husain Ahmad Zaki.
Meski hatiku berdebar mendengar
bisik cintanya, aku belumlah jatuh cinta padanya. Aku juga tak menjawab
ucapannya. Aku hanya membiarkannya menatapku dalam-dalam dengan nasihat
panjangnya yang merupakan didikan pertama yang kuterima darinya sebagai
suamiku.
“Dik, hari ini lafaz kabul telah
kuucapkan. Kamu adalah tanggung jawabku. Kita satu visi sekarang. Aku ingin
kita bekerjasama, aku ingin memudahkan jalanmu ke surga, dan aku ingin kamu
memudahkan jalanku ke surga. Taatlah padaku selagi aku benar, dan tegurlah aku
bila aku salah melangkah. Kamu bersedia menjalankan misi ini denganku?” tanya
Mas Husain.
Aku hanya mengangguk tanpa tersenyum
dan dia mengecup keningku dengan begitu mesra. Ah, entah terbuat dari apa hati
pria ini. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan sikapku yang kurang respek
padanya.
“Kamu akan melepas riasan?”
tanyanya.
Aku mengangguk.
“Apa aku perlu keluar?” ia
tersenyum.
“Maaf, Mas, aku belum terbiasa,”
kataku.
“Baiklah, aku akan keluar selagi
kamu berganti pakaian. Panggil aku kalau sudah selesai.”
Ah, apa-apaan aku ini? Dia suamiku,
kenapa aku harus bersikap seperti ini? Bahkan rasanya aku masih belum rela
melepas jilbab ini dan membiarkannya melihat mahkotaku. Tapi mau bagaimana
lagi? Aku memang belum mencintainya. Aku hanya yakin menikah dengannya, itu
saja.
Hari demi hari berlalu dan aku mulai
terbiasa dengannya. Aku tak lagi canggung melepas jilbabku di hadapannya. Aku mulai
nyaman merias diriku tanpa harus memintanya keluar kamar terlebih dahulu. Sayang,
aku tetap belum jatuh cinta.
Ah, aku ini bagaimana? Aku selalu
dingin walau ia romantis. Senyumku terlalu mahal untuk kuberikan padanya. Hingga
suatu hari saat aku pulang dari sekolah terlalu sore dan ia memintaku segera berwudhu
dan berjamaah dengannya, aku justru marah-marah.
“Mas, kamu nggak ngerti aku capek baru pulang?
Aku mau rebahan sejenak. Tolong, mengertilah!”
“Dik, ini sudah hampir jam lima,”
ujarnya lembut.
“Iya, aku tahu!” bentakku. “Udah,
kamu sholat aja duluan, nggak usah nunggu aku! Aku capek, Mas. Nanti juga aku
sholat.”
Ia terduduk lesu mendengar
teriakanku, sedangkan aku mengabaikannya dan langsung merebahkan badan di kamar
beberapa menit. Suami yang tidak pengertian! Bisanya hanya mengatur, menyuruh
dan menasihati.
Aku tertidur dan ia membangunkanku
saat jelang maghrib. “Dik, kamu sudah sholat Ashar kan?” tanyanya lembut.
Aku terkejut dan segera melihat jam
di dinding, lima menit lagi maghrib. Aku segera bangun dan berlari ke kamar
mandi. Ya Robb, ternyata aku datang bulan. Aku sudah kehilangan waktu Asharku. Aku
telah berbuat dosa.
Aku kembali ke kamar untuk mengambil
handuk, tapi Mas Husain terus menatapku seolah menahan amarahnya. “Kamu belum
shalat Ashar, Dik? Dan sekarang kamu mau mandi sedangkan tiga menit lagi sudah
maghrib?” tanyanya lembut.
Aku segera meraih tangannya dan
kugenggam. “Maafkan aku, Mas, ternyata aku udzur, dan aku ... aku kehilangan
sholat Ashar. Boleh aku mandi sekarang? Aku akan mengqodho sholatku bila aku
sudah suci nanti, Mas.”
Mata suamiku berkaca-kaca. Namun ia
terlihat menegarkan hati untuk menghadapiku. “Dik Nina, apa kamu tidak pernah
merasa betapa besar rasa cintaku padamu?” tanyanya sambil menatapku
dalam-dalam.
“Maafkan aku, Mas.”
“Dik, kamu tahu kenapa aku selalu
mengingatkanmu tentang sholat saat kamu di luar? Kamu tahu kenapa aku selalu
mengajakmu berjamaah saat di rumah? Itu karena cintaku padamu, Dik. Andaikan Allah
berkenan memasukkanku ke surga, satu-satunya wanita yang ingin kugandeng
bersamaku adalah kamu. Andaikan kehidupan dunia ini telah berakhir,
satu-satunya wanita yang ingin kulihat di akhirat nanti adalah kamu. Dan jika
ternyata aku tak pantas menjadi penghuni surga-Nya, maka kamulah yang kuharap
menarik lenganku ke surga. Dik Nina, aku imammu, Sayang. Aku suamimu. Aku bertanggung
jawab atas dirimu. Aku menggenggammu, maka peliharalah sholat sebagai
peganganmu, Istriku. Aku takut Allah mengazabku karena gagal membimbingmu ke
jalan-Nya. Dan aku lebih takut bila Allah murka padamu karena lalai pada
perintah-Nya,” tuturnya.
Aku menundukkan kepala. Tak berani
aku menatap mata Mas Husain yang penuh kasih. Terbuat dari apa hati pria ini? Menakjubkan!
Mengapa sudah sejauh itu pikirannya yang bahkan hal itu tak pernah terlintas di
benakku sebelumnya. Jadi karena ini? Pantas saja, saat aku tidak di rumah ia
selalu mengirim pesan dan menanyakan “sudah sholat?”, padahal aku selalu iri
dengan guru-guru lain yang menerima pesan dari suaminya berupa pertanyaan “sudah
makan?”
“Mas, boleh aku memelukmu?” tanyaku.
Ia mendekapku erat dan untuk pertama
kali aku menangis di pelukannya. Ia membelai rambutku dengan lembutnya seperti
seorang ibu saat menenangkan putrinya yang menangis.
“Mas, aku minta maaf. Aku berjanji
akan selalu patuh padamu,” ujarku.
Ia mengusap air mataku dan
tersenyum. Untuk yang pertama kali juga aku tersenyum padanya sejak ia menjadi
suamiku. Ia mengecup dahiku lalu berkata, “Aku ke masjid dulu, ya, kamu mandi. Oh
ya, persediaan pembalutmu masih cukup, Sayang? Kalau tidak, nanti sepulang dari
masjid akan kubelikan.”
Aku tersenyum lagi. Sungguh selama
ini aku telah mendustakan nikmat-Nya. Betapa beruntungnya aku memiliki Mas
Husain yang begitu sayang padaku. Aku baru sadar, suamiku mumtaz jiddan.
“Mas, mendekatlah padaku, aku ingin
membisikkan sesuatu,” pintaku.
Ia mendekat dan kubisikkan padanya, “Uhibbuka
Ya Zauji al mahbub.”
Ia tersenyum dan rona bahagianya
begitu terlihat. Bagaimana tidak, hampir setahun kehidupan rumah tanggaku
berjalan dengannya dan baru kali ini aku menyatakan cintaku. Aku baru jatuh
cinta padanya setelah sekian lama aku bersamanya.
“Sayangnya istriku belum mandi, jadi
nanti saja kupeluknya. Aku berangkat dulu, Sayang. Assalamu ‘alaikum ....”
“Wa’alaikumus Salam ..., jangan lupa
belikan pembalut ya, Mas.”
“Baik, tapi aku mau hadiahnya
seminggu lagi.” J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar