Entri Populer

Jumat, 23 Oktober 2015

Aku Imammu, Sayang



(AIS)

            Awal mula aku tidak menyangka pria yang tinggal serumah denganku ini akan menjadikanku sebagai isterinya. Perawakannya sederhana namun romantis. Yang bagiku luar biasa darinya adalah kesabarannya yang bukan hanya tingkat dewa, tapi sudah tingkat sidrotul muntaha.
            Aku tipe wanita yang tak peduli dianggap ketinggalan zaman. Aku nyaman dengan diriku sendiri yang anti pacaran. Tidak ada kata pacaran dalam catatan harianku. Kalau jatuh cinta mungkin aku hanya memendam rasa dan tidak dengan menjadikan rasa cintaku sebagai pintu pacaran.
            Hampir dua tahun yang lalu aku masih menyandang status sebagai mahasiswi IAIN Tulungagung semester tujuh. Saat itu mungkin aku dan Fara, sahabatku yang berstatus wanita single di kelas. Teman-temanku hampir 80 % berpacaran 15 % menikah sedangkan 5 %-nya aku dan Fara yang belum menikah, tidak pula berpacaran. Meski demikian aku dan Fara merasa nyaman, tidak merasa resah dengan status single yang kami sandang hingga wisuda.
            Beberapa minggu pasca wisuda, datanglah Mas Husain melamarku. Ia temanku sejurusan pada waktu kuliah namun beda kelas. Dia di kelas A dan aku di kelas B. Anehnya, aku yang saat itu tidak mencintainya sama sekali langsung saja yakin menerima lamarannya. Ah, mungkin itu pertanda kalau dia jodohku. Bagiku, entah diawali dengan cinta atau tidak, kalau jodoh pasti klik.
            Usai menggelar acara pernikahan, aku dan Mas Husain mulai berbagi cerita. Ternyata ia sudah lama memperhatikanku. Ia sudah sejak lama mencintaiku namun rasa cinta itu mendewasakannya hingga ia berusaha untuk mandiri sedini mungkin sebelum tiba waktunya mempersuntingku. Sungguh, aku mulai kagum padanya. Ia begitu rapi mengelola rasa cintanya hingga siap lahir dan batinnya untuk memilikiku tanpa pernah mengungkapkan cinta sebelumnya.
            Untuk pertama kalinya ia bisikkan pada telinga kananku, “Aku mencintaimu, Dik,” ucapnya malam itu.
            Hatiku berdebar, jantungku berdegup kencang. Ada getar-getar tak wajar saat kudengar bisikan itu. Aku bahkan baru menyadari kalau ia telah menjadi suamiku. Aku bukan lagi wanita single, tapi aku adalah Nina Salsabila, istri yang sah dari Husain Ahmad Zaki.
            Meski hatiku berdebar mendengar bisik cintanya, aku belumlah jatuh cinta padanya. Aku juga tak menjawab ucapannya. Aku hanya membiarkannya menatapku dalam-dalam dengan nasihat panjangnya yang merupakan didikan pertama yang kuterima darinya sebagai suamiku.
            “Dik, hari ini lafaz kabul telah kuucapkan. Kamu adalah tanggung jawabku. Kita satu visi sekarang. Aku ingin kita bekerjasama, aku ingin memudahkan jalanmu ke surga, dan aku ingin kamu memudahkan jalanku ke surga. Taatlah padaku selagi aku benar, dan tegurlah aku bila aku salah melangkah. Kamu bersedia menjalankan misi ini denganku?” tanya Mas Husain.
            Aku hanya mengangguk tanpa tersenyum dan dia mengecup keningku dengan begitu mesra. Ah, entah terbuat dari apa hati pria ini. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan sikapku yang kurang respek padanya.
            “Kamu akan melepas riasan?” tanyanya.
            Aku mengangguk.
            “Apa aku perlu keluar?” ia tersenyum.
            “Maaf, Mas, aku belum terbiasa,” kataku.
            “Baiklah, aku akan keluar selagi kamu berganti pakaian. Panggil aku kalau sudah selesai.”
            Ah, apa-apaan aku ini? Dia suamiku, kenapa aku harus bersikap seperti ini? Bahkan rasanya aku masih belum rela melepas jilbab ini dan membiarkannya melihat mahkotaku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku memang belum mencintainya. Aku hanya yakin menikah dengannya, itu saja.
            Hari demi hari berlalu dan aku mulai terbiasa dengannya. Aku tak lagi canggung melepas jilbabku di hadapannya. Aku mulai nyaman merias diriku tanpa harus memintanya keluar kamar terlebih dahulu. Sayang, aku tetap belum jatuh cinta.
            Ah, aku ini bagaimana? Aku selalu dingin walau ia romantis. Senyumku terlalu mahal untuk kuberikan padanya. Hingga suatu hari saat aku pulang dari sekolah terlalu sore dan ia memintaku segera berwudhu dan berjamaah dengannya, aku justru marah-marah.
 “Mas, kamu nggak ngerti aku capek baru pulang? Aku mau rebahan sejenak. Tolong, mengertilah!”
            “Dik, ini sudah hampir jam lima,” ujarnya lembut.
            “Iya, aku tahu!” bentakku. “Udah, kamu sholat aja duluan, nggak usah nunggu aku! Aku capek, Mas. Nanti juga aku sholat.”
            Ia terduduk lesu mendengar teriakanku, sedangkan aku mengabaikannya dan langsung merebahkan badan di kamar beberapa menit. Suami yang tidak pengertian! Bisanya hanya mengatur, menyuruh dan menasihati.
            Aku tertidur dan ia membangunkanku saat jelang maghrib. “Dik, kamu sudah sholat Ashar kan?” tanyanya lembut.
            Aku terkejut dan segera melihat jam di dinding, lima menit lagi maghrib. Aku segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Ya Robb, ternyata aku datang bulan. Aku sudah kehilangan waktu Asharku. Aku telah berbuat dosa.
            Aku kembali ke kamar untuk mengambil handuk, tapi Mas Husain terus menatapku seolah menahan amarahnya. “Kamu belum shalat Ashar, Dik? Dan sekarang kamu mau mandi sedangkan tiga menit lagi sudah maghrib?” tanyanya lembut.
            Aku segera meraih tangannya dan kugenggam. “Maafkan aku, Mas, ternyata aku udzur, dan aku ... aku kehilangan sholat Ashar. Boleh aku mandi sekarang? Aku akan mengqodho sholatku bila aku sudah suci nanti, Mas.”
            Mata suamiku berkaca-kaca. Namun ia terlihat menegarkan hati untuk menghadapiku. “Dik Nina, apa kamu tidak pernah merasa betapa besar rasa cintaku padamu?” tanyanya sambil menatapku dalam-dalam.
            “Maafkan aku, Mas.”
            “Dik, kamu tahu kenapa aku selalu mengingatkanmu tentang sholat saat kamu di luar? Kamu tahu kenapa aku selalu mengajakmu berjamaah saat di rumah? Itu karena cintaku padamu, Dik. Andaikan Allah berkenan memasukkanku ke surga, satu-satunya wanita yang ingin kugandeng bersamaku adalah kamu. Andaikan kehidupan dunia ini telah berakhir, satu-satunya wanita yang ingin kulihat di akhirat nanti adalah kamu. Dan jika ternyata aku tak pantas menjadi penghuni surga-Nya, maka kamulah yang kuharap menarik lenganku ke surga. Dik Nina, aku imammu, Sayang. Aku suamimu. Aku bertanggung jawab atas dirimu. Aku menggenggammu, maka peliharalah sholat sebagai peganganmu, Istriku. Aku takut Allah mengazabku karena gagal membimbingmu ke jalan-Nya. Dan aku lebih takut bila Allah murka padamu karena lalai pada perintah-Nya,” tuturnya.
            Aku menundukkan kepala. Tak berani aku menatap mata Mas Husain yang penuh kasih. Terbuat dari apa hati pria ini? Menakjubkan! Mengapa sudah sejauh itu pikirannya yang bahkan hal itu tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Jadi karena ini? Pantas saja, saat aku tidak di rumah ia selalu mengirim pesan dan menanyakan “sudah sholat?”, padahal aku selalu iri dengan guru-guru lain yang menerima pesan dari suaminya berupa pertanyaan “sudah makan?”
            “Mas, boleh aku memelukmu?” tanyaku.
            Ia mendekapku erat dan untuk pertama kali aku menangis di pelukannya. Ia membelai rambutku dengan lembutnya seperti seorang ibu saat menenangkan putrinya yang menangis.
            “Mas, aku minta maaf. Aku berjanji akan selalu patuh padamu,” ujarku.
            Ia mengusap air mataku dan tersenyum. Untuk yang pertama kali juga aku tersenyum padanya sejak ia menjadi suamiku. Ia mengecup dahiku lalu berkata, “Aku ke masjid dulu, ya, kamu mandi. Oh ya, persediaan pembalutmu masih cukup, Sayang? Kalau tidak, nanti sepulang dari masjid akan kubelikan.”
            Aku tersenyum lagi. Sungguh selama ini aku telah mendustakan nikmat-Nya. Betapa beruntungnya aku memiliki Mas Husain yang begitu sayang padaku. Aku baru sadar, suamiku mumtaz jiddan.
            “Mas, mendekatlah padaku, aku ingin membisikkan sesuatu,” pintaku.
            Ia mendekat dan kubisikkan padanya, “Uhibbuka Ya Zauji al mahbub.”
            Ia tersenyum dan rona bahagianya begitu terlihat. Bagaimana tidak, hampir setahun kehidupan rumah tanggaku berjalan dengannya dan baru kali ini aku menyatakan cintaku. Aku baru jatuh cinta padanya setelah sekian lama aku bersamanya.
            “Sayangnya istriku belum mandi, jadi nanti saja kupeluknya. Aku berangkat dulu, Sayang. Assalamu ‘alaikum ....”
            “Wa’alaikumus Salam ..., jangan lupa belikan pembalut ya, Mas.”
            “Baik, tapi aku mau hadiahnya seminggu lagi.” J

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar