Artikel
Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand
Dilihat dari Posisi Duduk
by Ni'matul Khoiriyyah IAIN Tulungagung
BAB I
PENDAHULUAN
Posisi
menentukan prestasi. Sering kita dengar statement ini di lingkungan akademik.
Lebih-lebih jika musim ujian sekolah dan tidak ada ketentuan tempat duduk,
berebutlah siswa untuk memilih duduk di bangku belakang. Hal ini disebabkan
oleh anggapan siswa bahwa bangku belakang adalah posisi paling aman dan nyaman
untuk mencontek. Apalagi jika pengawas dalam kelas sibuk dengan handphone-nya
dan enggan berkeliling.
Rupanya,
posisi duduk merupakan pilihan yang melambangkan karakter seseorang. Apabila
kita mengamati dalam suatu acara misalnya, maka yang mendapat fasilitas VIP dan
duduk di deretan terdepan adalah orang-orang dengan keistimewaan tetentu. Bisa
jadi karena title, jabatan, dan peran sosial.
Bila kita tarik fenomena ini ke dalam kelas,
maka siswa-siswi yang duduk di deretan terdepan adalah siswa-siswi VIP karena
memiliki mental yang berani dan percaya diri. Melalui artikel ini penulis akan
menguraikan tentang karekter siswa-siswi di lokasi KKN-PPL Terpadu yaitu Phattana
Islam Wittaya School Lammai, Yala, Thailand.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tempat
Duduk Siswa
Tempat
duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses
pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal. Tempat
duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus,
tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang,
sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat
belajar dengan tenang.
Bentuk
dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk
dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa
orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya
yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat
dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah
untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya
banyak macam posisi tempat duduk yang bisa digunakan di dalam kelas seperti
berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga.
Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakan dalam kelas dengan
metode belajar ceramah. Untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah
lingkaran atau berhadapan.
Dalam
memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan hal yang tidak boleh
kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya
menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang
guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari
aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting
karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan
suasana yang nyaman bagi para siswa.
Menurut
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono melihat siswa sebagai individu dengan segala
perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas.
Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah[1]:
1.
Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
2.
Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
3.
Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
4.
Persamaan dan perbedaan dalam bakat
5.
Persamaan dan perbedaan dalam sikap
6.
Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
7.
Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
8.
Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
9.
Persamaan dan perbedaan dalam minat
10.
Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
11.
Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
12.
Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
13. Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan
tempo perkembangan
14.
Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.
Penempatan
siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur
tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau
rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti
secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll.
Penataan
tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola
kelas. Pengelolaan kelas sdalah salah satu tugas guru yang tidak
pernah ditinggalkan.[2]Karena pengelolaan kelas yang
efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat
duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif,
dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer bahwa
penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan
dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui bahwa
tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan.
Sesuai
dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya
yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang
kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu
pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku
siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian
pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan
kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.
- Karakter Siswa Phattana Islam
Wittaya School Berdasarkan Tempat Duduk
Karakter
berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk
perilaku anak kemudian disebut dengan istilah karakter.[3]
Menurut Hamzah Uno dalam artikel yang ditulis oleh Ahmad Fauzi, karakteristik
siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari
minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan
awal yang dimiliki.[4]
Dengan mengenal karakteristik siswa,
guru
dapat memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan dalam
memberikan materi baru dan lanjutan. Selain itu guru dapat mengetahui sejauh
mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi.
Saya
telah berada di sekolah yang berada di perbatasan Pattani dan Yala ini selama
hampir empat bulan. Saya yang sedang menjalankan tugas PPL mengajar di enam kelas
dengan rincian empat kelas di tingkat mutawasith dan dua kelas di tingkat
tsanawi.
Dari
pengamatan saya secara langsung, seluruh kelas di sekolah ini menggunakan
formasi berjejer ke belakang untuk tempat duduk siswa karena hampir semua guru
menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar. Tentunya ada siswa
yang duduk di deretan depan, tengah dan belakang sesuai pilihan mereka
masing-masing saat pertama kali masuk kelas di awal semester. Hal ini karena
siswa diberi keluasan atau kebebasan untuk menentukan tempat duduknya.
Melalui
sampel enam kelas yang saya ajar, saya dapat melihat karakter siswa. Siswa yang
duduk di deretan pertama umumnya merupakan siswa yang rajin mengerjakan tugas,
jarang terlambat masuk ke kelas, aktif dan mempunyai rasa percaya diri yang
tinggi. Siswa yang duduk di deretan kedua masih mempunyai tingkat kerajinan
yang sama dan rasa malu yang besar untuk datang terlambat. Hanya saja
perbedannya dengan siswa yang berada di deretan pertama adalah tingkat rasa
percaya diri.
Siswa
yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin
ke belakang semakin rendah dan semakin rendah. Biasanya siswa yang segera
menjawab pertanyaan saya adalah siswa yang berada di deretan terdepan kemudian
satu hingga dua baris di belakangnya. Sedangkan siswa yang berada di deretan
tengah adalah siswa yang biasanya mengikuti arus. Apabila banyak yang
mengatakan A, siswa di deretan tengah mengikuti.
Deretan
belakang dan dua baris di depannya merupakan siswa yang paling membutuhkan
perhatian ekstra. Umumnya mereka sering datang terlambat, tidak segera
mengerjakan tugas dan ikut mengatakan faham ketika teman-teman yang lain
mengatakan faham akan tetapi sebenarnya mereka masih bingung. Mereka juga
kurang memiliki rasa percaya diri. Mereka tidak segera maju ke depan ketika
saya panggil untuk menulis atau membaca.
Mereka
juga senang berkumpul dengan teman-teman yang duduk sebaris. Datang terlambat
bersama-sama, tidak membawa buku pun kompak. Ditambah, hasil ujian mereka ternyata
memang di bawah hasil ujian siswa yang ada di depannya.
Saya
pernah mengawasi ujian tengah semester di awal bulan Agustus lalu. Kebetulan
tidak ada ketentuan untuk siswa dengan nomor absen sekian duduk di bangku mana.
Saat itu saya melihat siswa yang datang pertama justru memilih duduk di depan,
dan mereka adalah siswa yang biasanya saat kegiatan pembelajaran seperti biasa
duduk di depan. Kemudian, siswa yang lain menyusul di belakangnya. Hebatnya,
yang selesai dan keluar dari ruang kelas terlebih dahulu adalah siswa yang
duduk di depan yang tidak sempat menoleh untuk bertanya ataupun memberikan
jawaban pada temannya.
Ternyata,
duduk di depan membutuhkan mental yang kuat dan tidak semua siswa berani.
Ketika saya menanyai satu siswi kelas 7/1 yang duduk di bangku terdepan dan
dekat dengan meja guru, dia mengaku lebih suka duduk di depan karena lebih
cepat faham dengan materi yang disampaikan.[5]
Istimewanya, ia memilih bangku depan atas kemauannya sendiri bukan karena
kehabisan tempat di deretan belakang.
Hal
yang senada juga disampaikan oleh partner PPL saya yang mengajar di kelas 8.
Dia mengakui perbedaan karakter siswa memang dapat dilihat dari posisi
duduknya. [6]
Dengan
demikian, perlu adanya pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa
agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan secara maksimal. Atau jika siswa
terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif
menarik perhatian siswa.
Guru dalam melakukan tugas mengajar
di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan kelas yang
bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar
peserta didik serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut.
Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul
agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang
telah ditentukan dapat tercapai. Pengelolaan kelas akan menjadi sederhana untuk
dilakukan apabila guru memiliki motivasi kerja yang tinggi, dan guru mengetahui
bahwa gaya kepemimpinan situasional akan sangat bermanfaat bagi guru dalam
melakukan tugas mengajarnya.[7]
Keberhasilan pengelolaan kelas
bergantung pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi yang tinggi
akan dapat mengelola kelas dengan baik dan tepat. Mengelola kelas itu sendiri
bukanlah tujuan utama dari setiap guru, akan tetapi apabila guru dapat
mengelola kelas dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar-nya akan berjalan
baik dan peserta didiknya akan berprestasi tinggi. Mengelola kelas merupakan
sarana/alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan belajar
mengajar. Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer
materi pelajaran dengan baik, sehingga peserta didik dapat mengerti dan
menerima materi pelajaran yang diajarkan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Tempat duduk VIP ternyata tidak
hanya untuk tamu undangan dalam suatu acara penting. Tempat duduk VIP juga
berlaku untuk siswa dalam kelas seperti halnya di Phattana Islam
Wittaya School Lammai Yala, Thailand. Dari posisi duduk siswa dapat diperoleh
gambaran karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa
percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin
rendah.
B.
SARAN
Perlu
adanya pengelolaan kelas yang baik termasuk penataan tempat duduk siswa untuk
memaksimalkan proses pembelajaran. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan
posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Muhopilah, Epa, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai
Bentuk Pengelolaan, Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014
pukul 21.46
Rofiq, Aunur, 2009, Pengelolaan Kelas, Malang:
Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan
Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sharing dengan Ayu Sartika Wati,
Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
Sharing dengan Nurul Qomariyah, siswi Phattana Islam Wittaya School kelas
7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
Wiyani, Novan Ardy.
2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
[1] Epa Muhopilah, Penataan
Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 174
[3] Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h. 15
[4] Ahmad Fauzi, Analisis Karakteristik Siswa, dalam blog Guru Indonesia, http://guru-ina.blogspot.com/2012/03/karakteristik-siswa.html diakses pada tanggal 19
September 2014 pukul 20.46

Tidak ada komentar:
Posting Komentar