Entri Populer

Jumat, 05 Desember 2014

Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand Dilihat dari Posisi Duduk

Artikel
Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand
Dilihat dari Posisi Duduk
by Ni'matul Khoiriyyah IAIN Tulungagung


BAB I
            PENDAHULUAN
           
            Posisi menentukan prestasi. Sering kita dengar statement ini di lingkungan akademik. Lebih-lebih jika musim ujian sekolah dan tidak ada ketentuan tempat duduk, berebutlah siswa untuk memilih duduk di bangku belakang. Hal ini disebabkan oleh anggapan siswa bahwa bangku belakang adalah posisi paling aman dan nyaman untuk mencontek. Apalagi jika pengawas dalam kelas sibuk dengan handphone-nya dan enggan berkeliling.
            Rupanya, posisi duduk merupakan pilihan yang melambangkan karakter seseorang. Apabila kita mengamati dalam suatu acara misalnya, maka yang mendapat fasilitas VIP dan duduk di deretan terdepan adalah orang-orang dengan keistimewaan tetentu. Bisa jadi karena title, jabatan, dan peran sosial.
 Bila kita tarik fenomena ini ke dalam kelas, maka siswa-siswi yang duduk di deretan terdepan adalah siswa-siswi VIP karena memiliki mental yang berani dan percaya diri. Melalui artikel ini penulis akan menguraikan tentang karekter siswa-siswi di lokasi KKN-PPL Terpadu yaitu Phattana Islam Wittaya School Lammai, Yala, Thailand.













BAB II
PEMBAHASAN
A.  Tempat Duduk Siswa
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal. Tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bisa digunakan di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakan dalam kelas dengan metode belajar ceramah. Untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan.
Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah[1]:
                                        1.            Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
                                        2.            Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
                                        3.            Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
                                        4.            Persamaan dan perbedaan dalam bakat
                                        5.            Persamaan dan perbedaan dalam sikap
                                        6.            Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
                                        7.            Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
                                        8.            Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
                                        9.            Persamaan dan perbedaan dalam minat
                                    10.            Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
                                    11.            Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
                                    12.            Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
                                      13.  Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan
                                    14.            Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.

            Penempatan siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll.
            Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas sdalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan.[2]Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer bahwa penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
            Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

  1. Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Berdasarkan Tempat Duduk
            Karakter berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak kemudian disebut dengan istilah karakter.[3] Menurut Hamzah Uno dalam artikel yang ditulis oleh Ahmad Fauzi, karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.[4]
            Dengan mengenal karakteristik siswa, guru dapat memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan dalam memberikan materi baru dan lanjutan. Selain itu guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi.
            Saya telah berada di sekolah yang berada di perbatasan Pattani dan Yala ini selama hampir empat bulan. Saya yang sedang menjalankan tugas PPL mengajar di enam kelas dengan rincian empat kelas di tingkat mutawasith dan dua kelas di tingkat tsanawi.
            Dari pengamatan saya secara langsung, seluruh kelas di sekolah ini menggunakan formasi berjejer ke belakang untuk tempat duduk siswa karena hampir semua guru menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar. Tentunya ada siswa yang duduk di deretan depan, tengah dan belakang sesuai pilihan mereka masing-masing saat pertama kali masuk kelas di awal semester. Hal ini karena siswa diberi keluasan atau kebebasan untuk menentukan tempat duduknya.
            Melalui sampel enam kelas yang saya ajar, saya dapat melihat karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama umumnya merupakan siswa yang rajin mengerjakan tugas, jarang terlambat masuk ke kelas, aktif dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Siswa yang duduk di deretan kedua masih mempunyai tingkat kerajinan yang sama dan rasa malu yang besar untuk datang terlambat. Hanya saja perbedannya dengan siswa yang berada di deretan pertama adalah tingkat rasa percaya diri.
            Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin rendah. Biasanya siswa yang segera menjawab pertanyaan saya adalah siswa yang berada di deretan terdepan kemudian satu hingga dua baris di belakangnya. Sedangkan siswa yang berada di deretan tengah adalah siswa yang biasanya mengikuti arus. Apabila banyak yang mengatakan A, siswa di deretan tengah mengikuti.
            Deretan belakang dan dua baris di depannya merupakan siswa yang paling membutuhkan perhatian ekstra. Umumnya mereka sering datang terlambat, tidak segera mengerjakan tugas dan ikut mengatakan faham ketika teman-teman yang lain mengatakan faham akan tetapi sebenarnya mereka masih bingung. Mereka juga kurang memiliki rasa percaya diri. Mereka tidak segera maju ke depan ketika saya panggil untuk menulis atau membaca.
            Mereka juga senang berkumpul dengan teman-teman yang duduk sebaris. Datang terlambat bersama-sama, tidak membawa buku pun kompak. Ditambah, hasil ujian mereka ternyata memang di bawah hasil ujian siswa yang ada di depannya.
            Saya pernah mengawasi ujian tengah semester di awal bulan Agustus lalu. Kebetulan tidak ada ketentuan untuk siswa dengan nomor absen sekian duduk di bangku mana. Saat itu saya melihat siswa yang datang pertama justru memilih duduk di depan, dan mereka adalah siswa yang biasanya saat kegiatan pembelajaran seperti biasa duduk di depan. Kemudian, siswa yang lain menyusul di belakangnya. Hebatnya, yang selesai dan keluar dari ruang kelas terlebih dahulu adalah siswa yang duduk di depan yang tidak sempat menoleh untuk bertanya ataupun memberikan jawaban pada temannya.
            Ternyata, duduk di depan membutuhkan mental yang kuat dan tidak semua siswa berani. Ketika saya menanyai satu siswi kelas 7/1 yang duduk di bangku terdepan dan dekat dengan meja guru, dia mengaku lebih suka duduk di depan karena lebih cepat faham dengan materi yang disampaikan.[5] Istimewanya, ia memilih bangku depan atas kemauannya sendiri bukan karena kehabisan tempat di deretan belakang.
            Hal yang senada juga disampaikan oleh partner PPL saya yang mengajar di kelas 8. Dia mengakui perbedaan karakter siswa memang dapat dilihat dari posisi duduknya. [6]
            Dengan demikian, perlu adanya pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan secara maksimal. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
Guru dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan kelas yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar peserta didik serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut. Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Pengelolaan kelas akan menjadi sederhana untuk dilakukan apabila guru memiliki motivasi kerja yang tinggi, dan guru mengetahui bahwa gaya kepemimpinan situasional akan sangat bermanfaat bagi guru dalam melakukan tugas mengajarnya.[7]
Keberhasilan pengelolaan kelas bergantung pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi yang tinggi akan dapat mengelola kelas dengan baik dan tepat. Mengelola kelas itu sendiri bukanlah tujuan utama dari setiap guru, akan tetapi apabila guru dapat mengelola kelas dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar-nya akan berjalan baik dan peserta didiknya akan berprestasi tinggi. Mengelola kelas merupakan sarana/alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan belajar mengajar. Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik, sehingga peserta didik dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
                Tempat duduk VIP ternyata tidak hanya untuk tamu undangan dalam suatu acara penting. Tempat duduk VIP juga berlaku untuk siswa  dalam kelas seperti halnya di Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala, Thailand. Dari posisi duduk siswa dapat diperoleh gambaran karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin rendah.
B.     SARAN   
Perlu adanya pengelolaan kelas yang baik termasuk penataan tempat duduk siswa untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
















DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhopilah, Epa, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan, Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46

Rofiq, Aunur, 2009, Pengelolaan Kelas, Malang: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sharing dengan Ayu Sartika Wati, Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
Sharing dengan Nurul Qomariyah, siswi Phattana Islam Wittaya School kelas 7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.




                [1] Epa Muhopilah, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46

[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 174
[3] Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h. 15
                [4] Ahmad Fauzi, Analisis Karakteristik Siswa, dalam blog Guru Indonesia, http://guru-ina.blogspot.com/2012/03/karakteristik-siswa.html diakses pada tanggal 19 September 2014 pukul 20.46
                [5] Sharing dengan Nurul Qomariyah kelas 7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
                [6]Sharing dengan Ayu Sartika Wati, Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
                [7] Aunur Rofiq, Pengelolaan Kelas, (Malang: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial, 2009), hal. 5 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar