Entri Populer

Jumat, 20 Februari 2015

Catatan Hari Ini

Ahsin Dhonnaka Tafroh

By Ni’matul Khoiriyyah
Aku mencoba-coba membuat mahfudhot barangkali rangkaian kata itu benar adanya. Jika diterjemahkan arti mahfudhot di atas adalah, “Perbaikilah prasangkamu, maka kamu akan bahagia”. Mahfudhot ini sengaja kubuat berdasarkan pengalaman dari hari ke hari, peristiwa demi peristiwa yang kemudian membuatku menarik sebuah kesimpulan bahwa terkadang hidup kita ini lebih banyak prasangkanya daripada faktanya.
Mengapa demikian? Sebab indera kita tidak bisa menangkap apa yang sifatnya jauh. Ketika saya berada di kampus misalnya, kampus itu sendiri memiliki banyak tempat yang tidak mungkin terjangkau oleh indera saya dalam waktu yang sama. Ketika saya berada di depan kantor jurusan, saya tidak tahu bagaimana suasana di rektorat. Ketika saya berada di perpustakaan, saya tidak tahu bagaimana suasana di UPB, dan sebagainya. Tentu saja hal ini menjadi pengecualian dari adanya pemberitahuan dari pihak lain, entah berupa pesan singkat, pesan suara atau mungkin CCTV.
Sedikit memberikan ulasan, suatu hari ada seorang dosen yang membimbing skripsi satu mahasiswa. Kesibukan sang dosen membuat si mahasiswa tidak membuat jadwal rutin untuk meminta bimbingan sang dosen. Suatu hari ketika sang dosen memiliki waktu luang, dosen itu mengirim pesan singkat pada mahasiswanya untuk hadir di ruang lab computer pada pukul 10.00 WIB. Mahasiswa itu tidak menjawab pesan singkat dosennya dan sang dosen baru saja mendapat balasan SMS keesokan harinya.
Di sisi lain, mahasiswa yang terlambat merespon dosennya itu sangat merasa bersalah karena banyak hal; pertama, tidak langsung membalas SMS dosen, kedua, sikapnya yang tidak membalas SMS dosen di hari yang sama menunjukkan bahwa ia tidak respek pada dosen yang telah meluangkan waktunya, ketiga, membalas SMS dosen di hari berikutnya tidak semestinya dilakukan karena sepantasnya ia menelepon atau menghadap langsung pada sang dosen, keempat, bisa jadi setelah kejadian kemarin sang dosen akan lebih sulit meluangkan waktu untuk mahasiswa tersebut. Kelima, bisa jadi sang dosen marah dan kecewa.
Setelah membalas SMS sang dosen, mahasiswa itu menanti balasan namun tak kunjung ada. Ia semakin merasa bersalah dan merasa malu sekaligus ragu untuk memasuki ruang dosennya. Tiga langkah ke depan, lima langkah ke belakang. Hanya itu gerakan kakinya berulang-ulang. Namun kemudian ia memantapkan diri memasuki ruang dosen pembimbing skripsinya.
Apa yang terjadi? Belum sampai lisan mahasiswa itu mengucap salam, sang dosen telah menyambutnya dengan senyuman ramah yang membuat mahasiswa itu semakin malu. Ia pun kemudian mengucap salam dan sang dosen menjawab salamnya kemudian mempersilakan duduk. Sang dosen memang tidak berbasa-basi di awal karena langsung menanyakan perkembangan skripsi mahasiswanya yang saat itu telah menyelesaikan bab dua. Mahasiswa itu penasaran, kenapa sang dosen tidak membicarakan tentang kemarin. Bukankah sang dosen telah lama menunggunya di ruang itu sedangkan si mahasiswa tak kunjung datang juga tak memberikan kabar.
Karena terus dihantui perasaan bersalah, usai bimbingan ia langsung berbicara. “Ustadz, afwan, kemarin ana tidak membalas SMS Antum karena HP ana, ana letakkan di meja akhi.”
Sang dosen kembali tersenyum. “La ba’sa. Saya tahu kalau anti tidak membalas itu berarti anti sedang sibuk. La ba’sa.”
Subhanallah... Lihatlah raut ketenangan sang dosen. Ini merupakan buah dari prasangka baiknya. Sedikit saja sang dosen berprasangka buruk pada mahasiswanya, ia tidak akan seramah itu. Namun faktanya senyum ramah tak pernah lebur dari wajah mulianya. Senyum itulah yang justru mendidik mahasiswanya untuk lebih berusaha menghargai waktu kesempatan yang diberikan sang dosen untuk membimbingnya. Senyum itu pula yang mendidik mahasiswanya bahwa prasangka yang baik itu menenangkan dan memperbaiki suasana. Senyum itulah yang mendidik kepribadian mahasiswanya agar menjadi pribadi yang tulus mencintai dan dicintai karena keanggunan budinya.
Sebagai manusia biasa, tidak dapat saya pungkiri bahwa prasangka sering menyapa. Prasangka hadir ketika kita tidak mengetahui fakta. Ada kalanya prasangka itu baik, ada kalanya prasangka itu buruk. Alangkah baiknya jika prasangka baik selalu menghiasi hari-hari setiap manusia. Tidak akan ada kejahatan jika hati manusia dipenuhi insting-insting positif. Kita mungkin tidak bisa merubah keadaan yang buruk namun kita bisa merubah cara pandang kita terhadap keadaan itu.
Ada kisah lain dari seorang Kyai dan sopirnya. Suatu ketika sang Kyai mendapat undangan ceramah, katakanlah di kota A pada pukul 08.00 WIB. Jarak antara kediaman kyai dan lokasi ceramah bila ditempuh dengan mobil membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sang kyai dan sopirnya berangkat tepat pada pukul 05.00 dengan prediksi akan sampai di lokasi tepat pukul 08.00 atau paling lambat 08.15 karena di pagi hari kondisi lalu lintas masih cukup sepi. Akan tetapi di tengah perjalanan si sopir sakit perut sehingga berkali-kali ia harus berhenti di SPBU untuk mencari toilet dalam rangka memenuhi hajatnya. Bahkan hingga pukul 08.00 pun sang kyai dan sopirnya baru menempuh dua pertiga perjalanan untuk bisa sampai di lokasi. Panitia mulai risau dan menelepon sang kyai untuk memastikan apakah jadi hadir atau tidak karena waktunya sudah tiba. Sang kyai pun marah pada sopirnya karena kondisinya yang sakit perut membuat mereka terlambat.
Setelah si sopir menuntaskan hajatnya, perjalanan berlanjut namun wajah sang Kyai masih menampakkan kekecewaan dan kemarahannya. Si sopir pun diselimuti perasaan bersalah meski sebenarnya tidak bisa disalahkan. Siapa juga yang meminta sakit perut pada jam tugas. Beberapa kilometer perjalanan, sang kyai dan sopirnya melihat di tepi jalan sebuah sedan yang ringsek karena bertabrakan dengan truk gandeng, kejadian itu tepat satu jam yang lalu. Seluruh penumpang dalam sedan meninggal dunia sedangkan sopir truk yang dinyatakan mengantuk itu diamankan oleh kepolisian setempat.
Sang kyai langsung memeluk sopirnya dengan mata berkaca-kaca dan meminta maaf. Keterlambatan satu jam karena si sopir sakit perut itu tenyata membawa berkah. Apabila si sopir tidak sakit perut, bisa jadi yang menjadi korban kecelakaan adalah sedan yang membawa sang kyai itu.
Subhanallah, inilah hikmahnya. Terkadang kita tergesa-gesa untuk marah dan berprasangka buruk atas suatu peristiwa. Padahal hikmah selalu ada di balik peristiwa itu. Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman dan ia harus mencari dan menemukannya.
Ahsin dhonnaka tafroh, masihkah kita ragu? Inilah saatnya memperbaiki prasangka kita dan mencari hikmah di balik peristiwa demi peristiwa yang kita hadapi. Semoga catatan ini menginspirasi Anda. Bismillah, kita bisa.
Kamulan, 21-02-2015



Kamis, 19 Februari 2015

Marah dan Masa Lalu

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.

Prasangka

Prasangka timbul sebagai akibat dari ketidakjelasan suatu hal. Misalnya, kita mengirim SMS kepada teman namun ia tak segera atau bahkan tidak membalasnya sama sekali. Tentu hal ini akan mengundang prasangka dalam hati kita. Mulai dari prasangka baik seperti kita menyadari ada kemungkinan teman kita sedang dalam kesibukan sehingga tidak sempat membalas, atau mungkin tidak ada pulsa atau kehabisan baterai. Bisa jadi kita berprasangka buruk seperti kita menyangka bahwa teman kita tidak senang menerima SMS kita sehingga malas membalasnya.