Ahsin Dhonnaka
Tafroh
By Ni’matul
Khoiriyyah
Aku
mencoba-coba membuat mahfudhot barangkali rangkaian kata itu benar adanya. Jika
diterjemahkan arti mahfudhot di atas adalah, “Perbaikilah prasangkamu, maka
kamu akan bahagia”. Mahfudhot ini sengaja kubuat berdasarkan pengalaman dari
hari ke hari, peristiwa demi peristiwa yang kemudian membuatku menarik sebuah
kesimpulan bahwa terkadang hidup kita ini lebih banyak prasangkanya daripada
faktanya.
Mengapa
demikian? Sebab indera kita tidak bisa menangkap apa yang sifatnya jauh. Ketika
saya berada di kampus misalnya, kampus itu sendiri memiliki banyak tempat yang
tidak mungkin terjangkau oleh indera saya dalam waktu yang sama. Ketika saya
berada di depan kantor jurusan, saya tidak tahu bagaimana suasana di rektorat.
Ketika saya berada di perpustakaan, saya tidak tahu bagaimana suasana di UPB,
dan sebagainya. Tentu saja hal ini menjadi pengecualian dari adanya
pemberitahuan dari pihak lain, entah berupa pesan singkat, pesan suara atau
mungkin CCTV.
Sedikit
memberikan ulasan, suatu hari ada seorang dosen yang membimbing skripsi satu
mahasiswa. Kesibukan sang dosen membuat si mahasiswa tidak membuat jadwal rutin
untuk meminta bimbingan sang dosen. Suatu hari ketika sang dosen memiliki waktu
luang, dosen itu mengirim pesan singkat pada mahasiswanya untuk hadir di ruang
lab computer pada pukul 10.00 WIB. Mahasiswa itu tidak menjawab pesan singkat
dosennya dan sang dosen baru saja mendapat balasan SMS keesokan harinya.
Di sisi
lain, mahasiswa yang terlambat merespon dosennya itu sangat merasa bersalah
karena banyak hal; pertama, tidak langsung membalas SMS dosen, kedua, sikapnya
yang tidak membalas SMS dosen di hari yang sama menunjukkan bahwa ia tidak
respek pada dosen yang telah meluangkan waktunya, ketiga, membalas SMS dosen di
hari berikutnya tidak semestinya dilakukan karena sepantasnya ia menelepon atau
menghadap langsung pada sang dosen, keempat, bisa jadi setelah kejadian kemarin
sang dosen akan lebih sulit meluangkan waktu untuk mahasiswa tersebut. Kelima,
bisa jadi sang dosen marah dan kecewa.
Setelah
membalas SMS sang dosen, mahasiswa itu menanti balasan namun tak kunjung ada.
Ia semakin merasa bersalah dan merasa malu sekaligus ragu untuk memasuki ruang
dosennya. Tiga langkah ke depan, lima langkah ke belakang. Hanya itu gerakan
kakinya berulang-ulang. Namun kemudian ia memantapkan diri memasuki ruang dosen
pembimbing skripsinya.
Apa yang
terjadi? Belum sampai lisan mahasiswa itu mengucap salam, sang dosen telah
menyambutnya dengan senyuman ramah yang membuat mahasiswa itu semakin malu. Ia
pun kemudian mengucap salam dan sang dosen menjawab salamnya kemudian
mempersilakan duduk. Sang dosen memang tidak berbasa-basi di awal karena
langsung menanyakan perkembangan skripsi mahasiswanya yang saat itu telah
menyelesaikan bab dua. Mahasiswa itu penasaran, kenapa sang dosen tidak
membicarakan tentang kemarin. Bukankah sang dosen telah lama menunggunya di
ruang itu sedangkan si mahasiswa tak kunjung datang juga tak memberikan kabar.
Karena
terus dihantui perasaan bersalah, usai bimbingan ia langsung berbicara.
“Ustadz, afwan, kemarin ana tidak membalas SMS Antum karena HP ana, ana
letakkan di meja akhi.”
Sang
dosen kembali tersenyum. “La ba’sa. Saya tahu kalau anti tidak membalas itu
berarti anti sedang sibuk. La ba’sa.”
Subhanallah...
Lihatlah raut ketenangan sang dosen. Ini merupakan buah dari prasangka baiknya.
Sedikit saja sang dosen berprasangka buruk pada mahasiswanya, ia tidak akan
seramah itu. Namun faktanya senyum ramah tak pernah lebur dari wajah mulianya.
Senyum itulah yang justru mendidik mahasiswanya untuk lebih berusaha menghargai
waktu kesempatan yang diberikan sang dosen untuk membimbingnya. Senyum itu pula
yang mendidik mahasiswanya bahwa prasangka yang baik itu menenangkan dan
memperbaiki suasana. Senyum itulah yang mendidik kepribadian mahasiswanya agar
menjadi pribadi yang tulus mencintai dan dicintai karena keanggunan budinya.
Sebagai
manusia biasa, tidak dapat saya pungkiri bahwa prasangka sering menyapa.
Prasangka hadir ketika kita tidak mengetahui fakta. Ada kalanya prasangka itu
baik, ada kalanya prasangka itu buruk. Alangkah baiknya jika prasangka baik
selalu menghiasi hari-hari setiap manusia. Tidak akan ada kejahatan jika hati
manusia dipenuhi insting-insting positif. Kita mungkin tidak bisa merubah
keadaan yang buruk namun kita bisa merubah cara pandang kita terhadap keadaan
itu.
Ada
kisah lain dari seorang Kyai dan sopirnya. Suatu ketika sang Kyai mendapat
undangan ceramah, katakanlah di kota A pada pukul 08.00 WIB. Jarak antara
kediaman kyai dan lokasi ceramah bila ditempuh dengan mobil membutuhkan waktu
sekitar 3 jam. Sang kyai dan sopirnya berangkat tepat pada pukul 05.00 dengan
prediksi akan sampai di lokasi tepat pukul 08.00 atau paling lambat 08.15
karena di pagi hari kondisi lalu lintas masih cukup sepi. Akan tetapi di tengah
perjalanan si sopir sakit perut sehingga berkali-kali ia harus berhenti di SPBU
untuk mencari toilet dalam rangka memenuhi hajatnya. Bahkan hingga pukul 08.00
pun sang kyai dan sopirnya baru menempuh dua pertiga perjalanan untuk bisa
sampai di lokasi. Panitia mulai risau dan menelepon sang kyai untuk memastikan
apakah jadi hadir atau tidak karena waktunya sudah tiba. Sang kyai pun marah
pada sopirnya karena kondisinya yang sakit perut membuat mereka terlambat.
Setelah
si sopir menuntaskan hajatnya, perjalanan berlanjut namun wajah sang Kyai masih
menampakkan kekecewaan dan kemarahannya. Si sopir pun diselimuti perasaan
bersalah meski sebenarnya tidak bisa disalahkan. Siapa juga yang meminta sakit
perut pada jam tugas. Beberapa kilometer perjalanan, sang kyai dan sopirnya
melihat di tepi jalan sebuah sedan yang ringsek karena bertabrakan dengan truk
gandeng, kejadian itu tepat satu jam yang lalu. Seluruh penumpang dalam sedan
meninggal dunia sedangkan sopir truk yang dinyatakan mengantuk itu diamankan
oleh kepolisian setempat.
Sang
kyai langsung memeluk sopirnya dengan mata berkaca-kaca dan meminta maaf. Keterlambatan
satu jam karena si sopir sakit perut itu tenyata membawa berkah. Apabila si
sopir tidak sakit perut, bisa jadi yang menjadi korban kecelakaan adalah sedan
yang membawa sang kyai itu.
Subhanallah,
inilah hikmahnya. Terkadang kita tergesa-gesa untuk marah dan berprasangka
buruk atas suatu peristiwa. Padahal hikmah selalu ada di balik peristiwa itu.
Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman dan ia harus mencari dan
menemukannya.
Ahsin
dhonnaka tafroh, masihkah kita ragu? Inilah saatnya memperbaiki prasangka kita
dan mencari hikmah di balik peristiwa demi peristiwa yang kita hadapi. Semoga
catatan ini menginspirasi Anda. Bismillah, kita bisa.
Kamulan,
21-02-2015
