Salam Cinta Abah Tercinta
6 tahun yang lalu tepatnya saat aku masih duduk di bangku Aliyah kelas sepuluh, aku juga menjadi santri di Ponpes Terpadu Al-Kamal Blitar. Sebagai santri baru, aku cukup dekat dengan para ustadz di pesantren itu. Cukup sering aku diikutkan dalam even perlombaan tingkat pesantren. Pertama kalinya aku diikutsertakan dalam MQK (Musabaqoh Qiroatul Kutub).[1] Alhamdulillah, untuk terjun perdana aku berhasil mengibarkan bendera pesantrenku di urutan ketiga. Kemenangan inilah yang membuatku semakin dekat dengan ustadz.
Suatu pagi secara tiba-tiba ustadz Hadziq memanggilku dan 5 santri lain. Aku tidak tahu untuk apa beliau memanggil. Saat aku sampai di depan Idarotul Ma’had[2], mbak Ani Salimah (Almh) menyapaku. Ia mengucapkan selamat karena aku terpilih untuk mengikuti lomba hari ini. “Lomba?” tanyaku. Aku masih bingung, bagaimana bisa ustadz tiba-tiba memanggilku hari ini untuk menyertakanku dalam perlombaan yang juga akan dilaksanakan hari ini. Wah, lomba apa? Di mana? Pukul berapa?
Hari itu hari minggu dan minggu kedua. Biasanya dua minggu sekali aku disambang oleh orangtuaku. Bagaimana ini? Trenggalek-Blitar cukup jauh, bagaimana jika tak berjumpa?
Pukul 07.00 Ustadz Hadziq mengeluarkan mobil pesantren lalu menyuruhku masuk bersama 4 santri yang lain. Aku semakin bingung. Tidak ada pemberitahuan dan pengarahan sebelumnya. Sebenarnya lomba apa ini? Aku dan teman-teman bingung.
Dalam perjalanan, ustadz bertanya. “Ni’mah hari ini disambang?”
“Mungkin iya, Ustadz. Kan sudah dua minggu.” Jawabku.
“Waduh, terlanjur berangkat. Kaifa hadza?[3]”
“Kita mau ke mana, Ustadz?”
“Ke Depag Blitar. Ada musabaqoh. Lihat saja nanti.” Kata Ustadz. “Akalti?”[4]
“Akaltu, Ustadz.... Khubzan faqoth.[5]”
Sesampainya di Depag, parkiran sudah padat. Kami menuju ke masjid. Ternyata lomba Qiroatul Qur’an. Kebanyakan pesertanya seusia ustadz namun ada beberapa yang seusiaku.
“Ni’mah nanti maju, ya!” ucap ustadz.
“Ana, Ustadz? Nggak berani, Ustadz. Kenapa Ustadz nggak bilang dulu kalau qiroat?”
“La ba’sa[6].” Jawab ustadz dengan nada santai. “Amin, Kholif, Munir, Titik, nanti maju!” suruh ustadz.
Teman-teman pun menolak dengan alasan tanpa persiapan. Hingga akhirnya dari Ponpes Al-Kamal diwakili oleh ustadz sendiri, mas Amin dan mbak Kholif karena mereka sudah siap tanpa persiapan. Pukul 14.30 kami meninggalkan Depag.
Hujan turun deras namun ustadz tidak segera membawa kami pulang. Beliau membawa kami jalan-jalan menikmati indahnya hujan deras di kota Blitar. Pukul 16.00 kami baru sampai di pesantren. Setelah mengucapkan terima kasih, aku, Titik dan mbak Kholif kembali ke asrama putri.
Saat masuk kamar, aku dikejutkan dengan sebuah kardus berisi satu pak Biskuat, satu pak Chocolatos, beberapa snack lain, sebungkus nasi dan lauk. Ya Allah, tadi aku disambang?
“Dek, tadi pukul dua ayahmu ke sini. Aku beritahu kalo kamu ikut ustadz ke Blitar dari pagi. Ayahmu nunggu sampai pukul tiga lalu pulang. Padahal hujan deras. Tadi beliau titip semua ini dan salam cinta buat kamu.” Kata salah seorang kakak di kamarku sambil tangannya menunjuk kardus di depanku.
Ya Allah... aku terharu sekali bahkan hampir menangis. Abah tidak berjumpa denganku. Abah sudah menanti lama dan pulang di tengah derasnya hujan. Pasti abah sudah meluangkan waktu di balik kesibukannya. Maafkan aku abahku tercinta.
[1] Lomba membaca kitab kuning
[2] Kantor pesantren
[3] Bagaimana ini
[4] Sudah makan?
[5] Sudah, Ustadz... roti saja.
[6] Tidak apa-apa
