Entri Populer

Jumat, 27 Februari 2015

Keutamaan Ta’dhim pada Guru (versi 2)


                Masih bersama cerita dari abah Hasan, kali ini kisah tentang Syaikh Ihsan bin Dahlan, Jampes. Beliau merupakan salah satu santri dari Syaikh Kholil Bangkalan Madura. Alkisah pada suatu hari, Syaikh Dahlan, romo dari Syaikh Ihsan mengutusnya untuk berguru/nyantri ke Madura, kepada Syaikh Kholil. Karena rasa baktinya pada orang tua, Syaikh Ihsan pun mentaati perintah sang ayah.
                Berangkatlah Syaikh Ihsan menuju ke Madura, menemui Syaikh Kholil. Tiba di kediaman sang guru, Syaikh Ihsan menyampaikan maksudnya untuk tholabul ilmi, berguru pada Syaikh Kholil. Namun apa reaksi sang guru? Syaikh Kholil justru mengutus Syaikh Ihsan mengambil kurungan ayam yang (maaf) banyak kotorannya kemudian meminta Syaikh Ihsan masuk ke dalam kurungan itu.
                Dengan penuh ta’dhim, Syaikh Ihsan mentaati titah sang guru tanpa banyak tanya. Syaikh Ihsan terus menanti, kapan mengaji, kapan belajar, mengapa sang guru tak kunjung menyuruhnya keluar? Sempat beliau berfikir, apakah aku ini seperti ayam sehingga harus dikurung seperti ini. Akan tetapi, sedikitpun beliau tak ingin memprotes pada sang guru. Akhirnya, pada hari ke tujuh, Syaikh Kholil mengeluarkan Syaikh Ihsan dari kurungan ayam itu. Syaikh Ihsan pun senang. Akan tetapi apa yang terjadi? Ternyata Syaikh Kholil mengutusnya untuk pulang ke Jampes. Lho, bagaimana ini? Bingunglah Syaikh Ihsan karena tidak disuruh belajar, tidak disuruh mengaji, hanya dikurung selama tujuh hari kemudian disuruh pulang. Apa kata abahnya bila tiba di Jampes nanti?
                Mula-mula Syaikh Ihsan menolak, dan minta diberi kesempatan belajar bersama sang guru. Akan tetapi Syaikh Kholil tetap mengutusnya kembali ke Jampes dan Syaikh Ihsan tak dapat menolak lagi demi ta’dhimnya pada sang guru. Bismillah, niat ingsun ngabekti marang guru. Pulanglah Syaikh Ihsan ke Jampes.
                Subhanallah, kuasa Allah tak tertandingi oleh apapun. Dengan izin-Nya, Syaikh Ihsan yang ta’dhim pada Syaikh Kholil berhasil mendirikan pesantren dan mengarang banyak kitab kuning. Bahkan salah satu kitab beliau menjadi kitab ajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir yaitu Kitab Sirojut Tholibin. Subhanallah… Maha Kuasa Allah yang telah mengatur segalanya begitu indah.
                Saudaraku, apabila kita lihat fenomena saat ini betapa banyak siswa yang menyepelekan gurunya. Jangankan ta’dhim, taat saja tidak. Diberi PR tidak mau mengerjakan, datang ke sekolah sering terlambat, berbicara sendiri saat guru menyampaikan materi, bahkan terkadang sengaja memancing emosi guru. Masyaallah, mau jadi apa anak bangsa ini?
                Mungkin mereka bisa menjadi pemimpin dengan intelektual mereka. Akan tetapi tanpa keindahan spiritual semua akan hancur. Banyak orang yang pandai akalnya kemudian menjadi pemimpin, akan tetapi spiritualnya hampa, dulunya ia mungkin pernah menyakiti hati gurunya. Maka sudah pasti ia tidak mendapat keberkahan ilmu. Apabila ilmu itu tidak mendapat keberkahan, maka ilmu itu akan menghancurkan. Kalau ia menjadi pemimpin, bisa jadi ia memanfaatkan jabatannya untuk bermain curang, korupsi, menindas kaum lemah, dan sebagainya. Na’udzubillah…
                Ada lagi, ilmu yang tidak berkah tidak mendatangkan kebahagiaan. Bisa jadi dengan tingginya ilmu, seseorang bisa mendapatkan apa yang ia mau. Mau mobil, rumah mewah, hiburan, apa saja bisa diperoleh. Akan tetapi ia tak bahagia karena hatinya tak kunjung mendapatkan ketenangan. Melihat tetangga beli mobil baru, dia ingin. Melihat tetangga berlibur ke Paris, dia ingin. Tidak ada puasnya sebab ia kehilangan keberkahan ilmu. Pada akhirnya bukan kebahagiaan yang diperoleh tetapi penderitaan. Batinnya menderita karena ketidakpuasan itu, Na’udzubillah…
                Saudaraku… marilah kita ta’dhim kepada guru karena ketaatan kita kepada Allah. Saya terkesan akan sebuah ungkapan yang disampaikan oleh salah satu dosen saya, Ustadz Nuryani Iskandar, “Lau La Al Murobbi, Ma ‘aroftu Robbi.” (Jikalau tiada guru, maka aku tidak mengenal Tuhanku). Dan ucapan Sayyidina Ali ra. “Ana ‘Abdu Man ‘allamani Harfan” (Aku adalah sahaya bagi orang yang mengajarku walau satu huruf saja). Semoga Allah berikan kita ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah, membawa kita pada keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al Fatihah…
                 
By Ni’matul Khoiriyyah
Yala, Janub Thailand

Keutamaan Ta’dhim pada Guru (versi 1)

oleh Ni'matul Khoiriyyah
                Saya senang dengan cerita ini, sebuah cerita yang saya dapatkan dari Abah Hasan (Aby) tentang keutamaan adab murid terhadap guru. Alkisah, Syaikhuna Kholil Bangkalan Madura adalah putra Syaikh Abdul Lathif. Syaikh Abdul Lathif merupakan seorang nelayan di pulau garam, Madura. Nah, setiap kali Syaikh Abdul Lathif mendapatkan hasil laut, ikan-ikan itu dibagi menjadi tiga bagian dan yang dua pertiga diberikan kepada sang guru, sedangkan sepertiganya beliau gunakan sendiri. Mengapa? Tabarukan, beliau berharap kelak putranya akan menjadi ulama besar sebagaimana gurunya.
                Tahun demi tahu berlalu dan impian Syaikh Abdul Lathif terwujud. Syaikhuna Kholil benar-benar menjadi ulama besar. Qila, beliaulah yang membawa bait-bait nadhom Alfiyah ke Indonesia dan menghafalkannya dalam gua Hira hanya dalam satu malam. Subhanallah… beliau pula yang menjadi guru besar para ulama di Jawa seperti beliau KH. Hasyim Asy’ari, Syaikh Ihsan bin Dahlan dan masih banyak ulama lain yang berguru pada Syaikh Kholil Bangkalan Madura.
                Untuk itulah, belajar dari sejarah mari kita tingkatkan ta’dhim kita kepada guru-guru pembimbing jiwa kita selagi beliau-beliau masih hidup. Apabila beliau telah kembali ke haribaan Sang Pencipta, doa tuluslah yang hendaknya senantiasa kita khususkan untuk beliau. Nafa’anallah bi ‘ulumihi fiddaroini. Al Faatihah…

                

Ana Hunaka (Part 3)

by Ni'matul Khoiriyyah
Terburu-buru untuk marah, itu kesan yang kurasakan setelah semua terjadi. Suatu hari mudir dan keluarganya mengajakku dan kak Ayu berkunjung ke Ma’had Tarbiyatul Wathon di Melayu Bangkok, Yala. Ada acara tasyakuran di sana dan usai kenduri, aku dan kak Ayu bermaksud istirahat sejenak di rumah yang ditempati oleh Desy dan Qilma. Kami sudah berpamitan pada babo Ding (mudir) dan babo Hasan bahwa kami hanya istirahat sejenak. Saat itu babo Hasan dengan senyum ramahnya memintaku dan kak Ayu untuk menginap di ma’hadnya saja karena beberapa hari lagi kami akan kembali ke Indonesia. Babo Ding mengiyakan. Aku tak tahu itu nada bercanda atau serius, yang jelas aku sudah menjelaskan bahwa aku dan kak Ayu hanya istirahat sebentar untuk Shalat Dhuhur dan sejenak berlatih karena aku dan MC ditugaskan sebagai MC dalam acara perpisahan nanti.
            Sayang sungguh sayang ternyata aku dan kak Ayu ditinggalkan di Tarbiyatul Wathon oleh keluarga babo Ding dan aku baru mengetahuinya ketika kak Ayu menelepon kak Asma yang mengatakan bahwa mereka dalam perjalanan pulang. Aku cukup kecewa bahkan aku marah meski tanpa ekspresi. Kekecewaan dan kemarahan itu karena putra mudirku tidak berkenan menjemputku dan kak Ayu untuk kembali ke Al Khairiyah dengan alasan malas dan mengantuk. Faktor lain yang membuatku marah, hari itu aku sudah kehilangan jam mengajar di kelas 9 dan esok hari pun aku mempunyai jadwal di kelas yang sama. Parahnya, aku sudah pasti kehilangan jam untuk observasi di kelas 9 sebagai pengumpulan data penelitian untuk skripsiku.
            Aku gelisah. Tidak ada yang menjemput dan juga tidak mungkin aku minta diantar sementara keluarga babo Hasan sedang sibuk dengan acara jamuannya. Pun apabila acara itu telah selesai tentu beliau sudah lelah. Qilma dan Desy berupaya mencarikan solusi dan mereka teringat bahwa babo Sya’roni, adik babo Hasan berjanji mengajak mereka keluar sore nanti. Barangkali sambil jalan-jalan, babo Sya’roni berkenan mengantarku dan kak Ayu pulang.
            Aku merasa cukup lega saat itu dan tidak perlu khawatir akan kehilangan jam observasi. Beberapa saat kemudian kak Asma menelepon dan ia seolah marah padaku karena aku yang membawa kunci kamar kami. Merasa dimarahi, aku pun marah karena dia meninggalkanku pulang bersama keluarga babo Ding. Aku juga tahu betapa galaunya ustadzah yang satu ini karena semua seragam mengajar dan kitab-kitabnya ada di kamar. ID card guru pun ada di kamar sehingga tanpa itu dia tidak bisa check in. Jadilah aku dan kak Asma saling menyalahkan.
            Sore tiba. Qilma dan Desy mengajakku dan kak Ayu ke kediaman babo Sya’roni. Saat aku dan kak Ayu sampai di teras, beliau menyapa dengan pertanyaan lucu. Bagaimana bisa babo Ding mengajak kami kemari lalu lupa membawa kami pulang. Setelah bertegur sapa, babo mengeluarkan mobilnya dari garasi. Mama masuk kemudian kami mengikutinya.
            Yala diguyur hujan sore itu. Cuaca cukup mendukung untuk menghangatkan suasana dalam mobil. Keharmonisan pun tercipta sepanjang perjalanan indah itu. Dalam perjalanan, babo menawarkanku dan kak Ayu untuk menginap di Tarbiyatul Wathon dan besok kami akan diantar pulang ke Lammai. Aku berusaha menolak sehalus mungkin dengan alasan ada jam mengajar besok di sekolah. Kak Ayu pun demikian. Alasan lain, kunci kamar kak Asma ada di tanganku. Namun sepertinya alasanku dan kak Ayu tidak cukup kuat untuk menolak tawaran babo Sya’roni. Kenyamanan dan kehangatan keluarga itu membuatku dan kak Ayu akhirnya bersedia menerima tawaran Babo untuk menginap di Melayu Bangkok.
Kami saling berbagi cerita hingga akhirnya Babo Sya’roni memarkir mobilnya di depan Kedai Arab. Kedai ini menyajikan aneka makanan timur tengah dan di sinilah kami dinner. Aku merasa babo dan mama begitu memanjakanku dan teman-teman bahkan beliau memperlalkukan kami seperti anak sendiri. Kami diberi kebebasan memilih menu apapun. Bahkan kami boleh saling mencicipi hidangan yang ada di meja makan walaupun itu pesanan babo dan mama.
Sekali lagi babo menguatkan tawarannya untuk menginap karena beliau tahu “iya” yang kuucapkan tadi masih bernada ragu. Untuk menghapuskan keraguan itu babo menelepon babo Ding di Lammai untuk memintakan izin bagi kami yang akan menginap di Tarbiyatul Wathon, sekaligus memintakan maaf pada kak Asma karena kuncinya dibawa Ni’mah.
Babo adalah sosok kyai yang bersahaja, berwibawa namun lihai menghangatkan suasana. Meski malu-malu namun kami menyesuaikan diri dan akrab dengan keluarga mudir ini. Ba’da maghrib, kami beranjak dari kedai Arab. Kukira ini adalah perjalanan pulang namun ternyata babo membawa kami ke Bandar Yala. Turun dari mobil, kak Ayu berbisik padaku bukankah ini tempat yang pernah kami datangi kemarin lusa bersama kak Asma dan Achan?
Hm... ternyata agenda dinner belum usai. Babo dan mama mengajak kami mencari menu penutup. Satu persatu kami ditanyai mau es krim atau bubur (istilah untuk kolak di Thailand Selatan). Mama mau bubur, sedangkan aku, kak Ayu, Qilma dan Desy malu-malu menjawab dengan jujur. Kami hanya mengatakan “ikut saja”.
Babo tetap meminta kami untuk memilih tanpa malu-malu. “Malam ini malam Desy, malam ini malam Qilma, malam ini malam Ayu, malam ini malam Ni’mah.” Akhirnya tetap dengan malu-malu kami mengatakan memilih es krim. Babo dan mama tersenyum ramah penuh kasih sayang. Kami pun diajak masuk ke sebuah kedai es krim.
Lagi-lagi kami diberikan kebebasan untuk memilih menu. Sambil menunggu pesanan datang, kami berbagi cerita layaknya keluarga. Bahkan babo sempat berbicara padaku dengan bahasa Arab tentang perjuangan Fathoni Darussalam yang dijajah oleh bangsa Siam. Dari sini aku tahu bahwa sebenarnya aliran-aliran Islam di Thailand Selatan memang banyak. Ada Wahabi, ada Syiah, dan ada banyak lainnya akan tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan soal ibadah. Mereka bersatu sebagai sesama Muslim untuk berjuang agar terbebas dari diskriminasi pemerintah dan penjajahan bangsa Siam. Satu aliran tidak merasa lebih baik dari aliran lain, juga tidak mencela aliran lain. Yang mereka pegang erat adalah mereka sama-sama kaum muslimin.
Pesanan tiba. Kami pun menikmati es krim pesanan masing-masing. Seperti yang kami lakukan di kedai Arab sebelumnya, kami saling mencicipi es krim pesanan yang lain. Aku mencicipi es krim mama, babo mencicipi es krimku, mama mencicipi es krim kak Ayu, dan seterusnya.
Aku terharu. Mungkin aku tidak pernah merasakan disambang oleh dosen selama 4 bulan PPL dan KKN. Akan tetapi aku merasa selalu bersama keluargaku bahkan di setiap bagian dari kegiatanku. Aku juga yakin ini adalah buah dari doa-doa orang tuaku, guru-guru dan dosenku juga teman-temanku karena doa mampu merengkuh apa yang tak terjangkau oleh fisik.
Tibalah waktu pulang dan ini saatnya beristirahat. Aku masih berpikir pukul berapa besok aku dan kak Ayu akan diantar pulang ke Lammai sedangkan aku punya jadwal mengajar pada jam pertama dan jadwal observasi pada jam kedua. Ini adalah hari Minggu terakhirku karena hari Rabu aku akan kembali ke Indonesia.
Pagi tiba. Belum ada kepastian apakah babo Hasan atau babo Sya’roni yang akan mengantar pulang, juga belum ada kepastian pukul berapa kami diantar pulang. Babo Sya’roni kemudian menghubungi kami dan beliaulah yang akan mengantar pulang. Aku dan kak Ayu bersiap-siap. Aku sudah sangat bersemangat pagi itu, berharap tidak kehilangan jam mengajar dan observasi juga berpamitan dengan murid kelas 9/2 Phattana Islam Wittaya School. Walakin, mama (istri babo Hasan) meminta kami breakfast terlebih dahulu di kediamannya sebelum kami kembali ke Lammai. Sadar bahwa pagi itu mungkin terakhir kali aku di Tarbiyatul Wathan, aku dan kak Ayu tak punya alasan untuk menolak. Kami pun ke kediaman babo Hasan terlebih dahulu meski babo Sya’roni telah menunggu untuk mengantar kami pulang.
Usai makan, aku dan kak Ayu berpamitan dengan babo Hasan dan mama. “Sampai jumpa di hari Rabu,” itu kata babo Hasan. Aku dan kak Ayu bergegas menuju mobil babo Sya’roni. Kami juga mengajak Desy saat itu.
Dalam perjalanan aku melihat keharmonisan babo Sya’roni dengan putranya yang diantar ke sekolah. Turun dari mobil, putranya tidak hanya mencium tangan akan tetapi juga bercipika-cipiki dengan ayahnya. Subhanallah, luar biasa.
Baik, inilah saatnya kami pulang. Dalam perjalanan, aku baru tahu kalau ini sebuah pengorbanan. Ternyata, babo Sya’roni juga ada jadwal mengajar pada jam pertama dan sebenarnya babo Hasanlah yang tidak ada jadwal mengajar pagi. babo rela mengantarku dan kak Ayu pulang meski harus kehilangan jam mengajarnya.
Tiba di Lammai, aku dan kak Ayu berpamitan dan berterima kasih pada babo Sya’roni. Setelah mobil babo keluar dari area Al Khairiyah, aku bergegas ke kamar dan langsung bersiap-siap mengajar. Saat itu pukul 08.35 sedangkan jam pertama berakhir pada pukul 08.45. kupercepat langkahku ke kelas walaupun terlambat akan tetapi sisa waktu ini sangatlah berharga karena ini hari terakhirku mengajar kelas 9.
Rasanya aku menyesal karena terburu-buru marah saat ditinggal pulang babo Ding. Aku tidak pernah tahu kalau aku akan mendapatkan pelajaran seberharga dan seindah ini. Subhanallah... andai aku lebih bisa mengendalikan emosiku, kini kusadari bahwa marahku tak berarti. Terima kasih untuk keluarga besar di Yala yang telah mengajariku cinta dan pengorbanan yang sesungguhnya.

Catatan Nostalgia 27 Peb 2015

Ana Hunaka (Part 2)


Lammai yang damai, pernah kedatangan tamu tak diundang berupa sebuah bom yang bersembunyi dalam sepeda motor sekitar beberapa ratus meter dari ma’had Al-Khairiyah pada tahun 2013. Kejadian itu menggemparkan penduduk dan tentunya mahasiswa Indonesia yang PPL di sana. Aku pun merasakan kekhawatiran saat mendegar cerita itu. Alhamdulillah saat aku bertugas sejak bulan Mei sampai dengan September 2014 situasi aman terkendali. Memang ada beberapa kasus pengeboman di Betong dan Patani akan tetapi semua itu tidak sampai mencelakai kami mahasiswa indonesia yang bertugas di sana.
4 bulan di Lammai Yala mengukirkan kenangan yang tak terlupakan. Pahit-manis kehidupan bersama para santri dengan aneka karakter dan kebiasaan mewarnai hari-hariku. Sebagai mahasiswi yang PPL di Phattana Islam Wittaya School, tentu interaksiku dengan mereka tidak cukup hanya di sekolah sejak pagi hingga sore. Di asrama pun kekeluargaan semakin terasa.
Aku dan partnerku, kak Ayu dari UNMUH Jember bekerjasama dengan ustadzah yang biasa kusapa kak Asma untuk membimbing para santri di asrama. Tugas inilah yang membuatku bernostalgia dengan kenanganku di PP Al Kamal Kunir saat bertanggung jawab sebagai pengurus bagian pendidikan. Tugasku kurang lebih sama di antaranya membangunkan para santri di waktu subuh. Namun aku merasa canggung ketika ustadzah mengajariku menggunakan rotan untuk menggedor pintu kamar santri. “Ah, memegang rotan saja rasanya aku tak pantas. Di Al Kamal saja aku lebih suka mengetuk pintu kamar santri dengan tanganku, kenapa di negeri orang aku harus menggunakan rotan?” Pikirku.
Tiga bulan pertama aku masih manual menggunakan tanganku untuk mengetuk pintu mereka namun pada satu bulan terakhir aku mencoba menggenggam rotan di tanganku sambil berbisik dalam hati, “Aku pantas nggak, kalo pegang ini?”
Setengah terpaksa aku melakukannya. Akan tetapi waktu serasa mengejar sehingga bagiku mereka harus lebih cepat bangun. Jika menggunakan ketukan tanganku di pintu mereka aku membutuhkan waktu satu hingga dua menit perkamarnya, dengan rotan bisa lebih cepat membangunkan mereka.
Musholla Al Khairiyah di asrama babo Ding adalah tempat berkumpulnya para santri untuk kegiatan sholat berjamaah, kajian kitab kuning, membaca Al-Qur’an dan tempat mereka menerima mau’idhoh dan motivasi dari para murobbi. Musholla yang berada di lantai dua ini merupakan bangunan dari kayu. Sedangkan di bawah musholla ada gudang yang bersebelahan dengan kamar yang kutempati bersama kak Asma dan kak Ayu.
Suatu hari, kurang dari sepuluh hari jelang kepulanganku ke tanah air aku merasa kehilangan mood. Hari itu aku tidak mendampingi santri berjamaah di musholla. Entahlah, perasaanku sangat tidak nyaman dan aku tidak ingin ke musholla. Aku pun marah pada diriku sendiri atas ketidaknyamanan perasaan itu. Kenapa aku tidak mau berjamaah dengan para santri di atas dan memilih sholat munfaridah di kamar. Kenapa aku merasa enggan mendampingi mereka sedangkan waktuku di negeri itu tidak lama lagi.
Aku pun sholat munfaridah di kamar dan para santri berjamaah di musholla. Malam ini aku tidak ada jadwal untuk mengisi acara santri ba’da maghrib dan putri mudirlah yang memberikan mau’idhoh dan motivasi. Aku tetap di kamar sambil on line dari notebook-ku. Di saat aku sedang serius dengan layar notebook, aku dikejutkan dengan suara hantaman keras disusul dengan teriakan para santri. Aku terkejut, ketakutan dan kebingungan. Pikiranku sudah kemana-mana saat itu. Adakah serangan dari luar karena negeri itu sedang dilanda kudeta. Atau...
Aku mondar-mandir berjalan ke timur dan ke barat dengan perasaan yang sangat gelisah. Teriakan santri di atas semakin histeris. Aku baru sadar kalau aku harus keluar dari kamar setelah kak Ayu berujar, “Ayo, Dek... Keluar.”
Aku dan kak Ayu berhambur keluar lewat pintu belakang dan apa yang terjadi? Allahu Akbar... Musholla telah runtuh. Beberapa santri terperosok dan jatuh ke lantai satu. Ada yang pigsan, ada yang luka hingga berdarah, ada yang lebam. Shock aku melihatnya. Segera pertolongan diberikan pada santri yang pingsan dan terluka. Beberapa orang masuk ke gudang yang kotor dan berdebu untuk menyelamatkan para santri yang jatuh ke sana kemudian dibawa ke kediaman mudir untuk diobati.
Salah satu santri berceletuk ringan, “Mujur akak tak naik. Kalo akak naik, kak tak boleh kelik indo.” (Untungnya Kakak tidak naik ke musholla. Kalau Kakak naik, Kakak tidak bisa pulang ke Indonesia)
Ya Allah, aku merinding seketika mendengar celetuk gadis kecil berusia belasan tahun itu. Inikah jawaban-Nya? Inikah mengapa aku enggan mendampingi mereka malam ini? Inikah cara Yang Maha Kuasa menyelamatkanku?
Wallahu a’lam... namun penuturan demi penuturan dari santri membuktikan betapa besar kuasa Sang Khaliq. Aku tak cukup bernyali untuk mengintip ke gudang, namun para santri mengatakan ada besi tajam di gudang itu dan ada sebuah sepeda motor. Kuasa-Nya yang membuat para santri yang jatuh tidak terkena besi tajam itu, pun tidak terkena motor.
Fakta lain adalah, runtuhnya musholla ke gudang bukan ke kamarku. Aku tidak bisa membayangkan jika musholla itu runtuh ke kamarku yang juga ada di bawahnya, mungkin saat ini aku tak berada di sini. Allahu Akbar...


                                                                                                        by Ni'matul Khoiriyyah