by Ni'matul Khoiriyyah
Terburu-buru untuk marah, itu
kesan yang kurasakan setelah semua terjadi. Suatu hari mudir dan keluarganya
mengajakku dan kak Ayu berkunjung ke Ma’had Tarbiyatul Wathon di Melayu
Bangkok, Yala. Ada acara tasyakuran di sana dan usai kenduri, aku dan kak Ayu
bermaksud istirahat sejenak di rumah yang ditempati oleh Desy dan Qilma. Kami
sudah berpamitan pada babo Ding (mudir) dan babo Hasan bahwa kami hanya
istirahat sejenak. Saat itu babo Hasan dengan senyum ramahnya memintaku dan kak
Ayu untuk menginap di ma’hadnya saja karena beberapa hari lagi kami akan
kembali ke Indonesia. Babo Ding mengiyakan. Aku tak tahu itu nada bercanda atau
serius, yang jelas aku sudah menjelaskan bahwa aku dan kak Ayu hanya istirahat
sebentar untuk Shalat Dhuhur dan sejenak berlatih karena aku dan MC ditugaskan
sebagai MC dalam acara perpisahan nanti.
Sayang
sungguh sayang ternyata aku dan kak Ayu ditinggalkan di Tarbiyatul Wathon oleh
keluarga babo Ding dan aku baru mengetahuinya ketika kak Ayu menelepon kak Asma
yang mengatakan bahwa mereka dalam perjalanan pulang. Aku cukup kecewa bahkan
aku marah meski tanpa ekspresi. Kekecewaan dan kemarahan itu karena putra
mudirku tidak berkenan menjemputku dan kak Ayu untuk kembali ke Al Khairiyah
dengan alasan malas dan mengantuk. Faktor lain yang membuatku marah, hari itu
aku sudah kehilangan jam mengajar di kelas 9 dan esok hari pun aku mempunyai
jadwal di kelas yang sama. Parahnya, aku sudah pasti kehilangan jam untuk
observasi di kelas 9 sebagai pengumpulan data penelitian untuk skripsiku.
Aku
gelisah. Tidak ada yang menjemput dan juga tidak mungkin aku minta diantar
sementara keluarga babo Hasan sedang sibuk dengan acara jamuannya. Pun apabila
acara itu telah selesai tentu beliau sudah lelah. Qilma dan Desy berupaya
mencarikan solusi dan mereka teringat bahwa babo Sya’roni, adik babo Hasan
berjanji mengajak mereka keluar sore nanti. Barangkali sambil jalan-jalan, babo
Sya’roni berkenan mengantarku dan kak Ayu pulang.
Aku
merasa cukup lega saat itu dan tidak perlu khawatir akan kehilangan jam
observasi. Beberapa saat kemudian kak Asma menelepon dan ia seolah marah padaku
karena aku yang membawa kunci kamar kami. Merasa dimarahi, aku pun marah karena
dia meninggalkanku pulang bersama keluarga babo Ding. Aku juga tahu betapa
galaunya ustadzah yang satu ini karena semua seragam mengajar dan
kitab-kitabnya ada di kamar. ID card guru pun ada di kamar sehingga tanpa itu
dia tidak bisa check in. Jadilah aku dan kak Asma saling menyalahkan.
Sore
tiba. Qilma dan Desy mengajakku dan kak Ayu ke kediaman babo Sya’roni. Saat aku
dan kak Ayu sampai di teras, beliau menyapa dengan pertanyaan lucu. Bagaimana
bisa babo Ding mengajak kami kemari lalu lupa membawa kami pulang. Setelah
bertegur sapa, babo mengeluarkan mobilnya dari garasi. Mama masuk kemudian kami
mengikutinya.
Yala
diguyur hujan sore itu. Cuaca cukup mendukung untuk menghangatkan suasana dalam
mobil. Keharmonisan pun tercipta sepanjang perjalanan indah itu. Dalam
perjalanan, babo menawarkanku dan kak Ayu untuk menginap di Tarbiyatul Wathon
dan besok kami akan diantar pulang ke Lammai. Aku berusaha menolak sehalus
mungkin dengan alasan ada jam mengajar besok di sekolah. Kak Ayu pun demikian.
Alasan lain, kunci kamar kak Asma ada di tanganku. Namun sepertinya alasanku
dan kak Ayu tidak cukup kuat untuk menolak tawaran babo Sya’roni. Kenyamanan
dan kehangatan keluarga itu membuatku dan kak Ayu akhirnya bersedia menerima
tawaran Babo untuk menginap di Melayu Bangkok.
Kami saling berbagi cerita
hingga akhirnya Babo Sya’roni memarkir mobilnya di depan Kedai Arab. Kedai ini
menyajikan aneka makanan timur tengah dan di sinilah kami dinner. Aku merasa
babo dan mama begitu memanjakanku dan teman-teman bahkan beliau memperlalkukan
kami seperti anak sendiri. Kami diberi kebebasan memilih menu apapun. Bahkan
kami boleh saling mencicipi hidangan yang ada di meja makan walaupun itu
pesanan babo dan mama.
Sekali lagi babo menguatkan
tawarannya untuk menginap karena beliau tahu “iya” yang kuucapkan tadi masih
bernada ragu. Untuk menghapuskan keraguan itu babo menelepon babo Ding di
Lammai untuk memintakan izin bagi kami yang akan menginap di Tarbiyatul Wathon,
sekaligus memintakan maaf pada kak Asma karena kuncinya dibawa Ni’mah.
Babo adalah sosok kyai yang
bersahaja, berwibawa namun lihai menghangatkan suasana. Meski malu-malu namun
kami menyesuaikan diri dan akrab dengan keluarga mudir ini. Ba’da maghrib, kami
beranjak dari kedai Arab. Kukira ini adalah perjalanan pulang namun ternyata
babo membawa kami ke Bandar Yala. Turun dari mobil, kak Ayu berbisik padaku
bukankah ini tempat yang pernah kami datangi kemarin lusa bersama kak Asma dan
Achan?
Hm... ternyata agenda dinner
belum usai. Babo dan mama mengajak kami mencari menu penutup. Satu persatu kami
ditanyai mau es krim atau bubur (istilah untuk kolak di Thailand Selatan). Mama
mau bubur, sedangkan aku, kak Ayu, Qilma dan Desy malu-malu menjawab dengan
jujur. Kami hanya mengatakan “ikut saja”.
Babo tetap meminta kami untuk
memilih tanpa malu-malu. “Malam ini malam Desy, malam ini malam Qilma, malam
ini malam Ayu, malam ini malam Ni’mah.” Akhirnya tetap dengan malu-malu kami
mengatakan memilih es krim. Babo dan mama tersenyum ramah penuh kasih sayang.
Kami pun diajak masuk ke sebuah kedai es krim.
Lagi-lagi kami diberikan
kebebasan untuk memilih menu. Sambil menunggu pesanan datang, kami berbagi
cerita layaknya keluarga. Bahkan babo sempat berbicara padaku dengan bahasa
Arab tentang perjuangan Fathoni Darussalam yang dijajah oleh bangsa Siam. Dari
sini aku tahu bahwa sebenarnya aliran-aliran Islam di Thailand Selatan memang
banyak. Ada Wahabi, ada Syiah, dan ada banyak lainnya akan tetapi mereka tidak
pernah mempermasalahkan soal ibadah. Mereka bersatu sebagai sesama Muslim untuk
berjuang agar terbebas dari diskriminasi pemerintah dan penjajahan bangsa Siam.
Satu aliran tidak merasa lebih baik dari aliran lain, juga tidak mencela aliran
lain. Yang mereka pegang erat adalah mereka sama-sama kaum muslimin.
Pesanan tiba. Kami pun menikmati
es krim pesanan masing-masing. Seperti yang kami lakukan di kedai Arab
sebelumnya, kami saling mencicipi es krim pesanan yang lain. Aku mencicipi es
krim mama, babo mencicipi es krimku, mama mencicipi es krim kak Ayu, dan
seterusnya.
Aku terharu. Mungkin aku tidak
pernah merasakan disambang oleh dosen selama 4 bulan PPL dan KKN. Akan tetapi
aku merasa selalu bersama keluargaku bahkan di setiap bagian dari kegiatanku. Aku
juga yakin ini adalah buah dari doa-doa orang tuaku, guru-guru dan dosenku juga
teman-temanku karena doa mampu merengkuh apa yang tak terjangkau oleh fisik.
Tibalah waktu pulang dan ini
saatnya beristirahat. Aku masih berpikir pukul berapa besok aku dan kak Ayu
akan diantar pulang ke Lammai sedangkan aku punya jadwal mengajar pada jam
pertama dan jadwal observasi pada jam kedua. Ini adalah hari Minggu terakhirku
karena hari Rabu aku akan kembali ke Indonesia.
Pagi tiba. Belum ada kepastian
apakah babo Hasan atau babo Sya’roni yang akan mengantar pulang, juga belum ada
kepastian pukul berapa kami diantar pulang. Babo Sya’roni kemudian menghubungi
kami dan beliaulah yang akan mengantar pulang. Aku dan kak Ayu bersiap-siap.
Aku sudah sangat bersemangat pagi itu, berharap tidak kehilangan jam mengajar
dan observasi juga berpamitan dengan murid kelas 9/2 Phattana Islam Wittaya
School. Walakin, mama (istri babo Hasan) meminta kami breakfast terlebih dahulu
di kediamannya sebelum kami kembali ke Lammai. Sadar bahwa pagi itu mungkin
terakhir kali aku di Tarbiyatul Wathan, aku dan kak Ayu tak punya alasan untuk
menolak. Kami pun ke kediaman babo Hasan terlebih dahulu meski babo Sya’roni
telah menunggu untuk mengantar kami pulang.
Usai makan, aku dan kak Ayu
berpamitan dengan babo Hasan dan mama. “Sampai jumpa di hari Rabu,” itu kata
babo Hasan. Aku dan kak Ayu bergegas menuju mobil babo Sya’roni. Kami juga
mengajak Desy saat itu.
Dalam perjalanan aku melihat
keharmonisan babo Sya’roni dengan putranya yang diantar ke sekolah. Turun dari
mobil, putranya tidak hanya mencium tangan akan tetapi juga bercipika-cipiki
dengan ayahnya. Subhanallah, luar biasa.
Baik, inilah saatnya kami
pulang. Dalam perjalanan, aku baru tahu kalau ini sebuah pengorbanan. Ternyata,
babo Sya’roni juga ada jadwal mengajar pada jam pertama dan sebenarnya babo
Hasanlah yang tidak ada jadwal mengajar pagi. babo rela mengantarku dan kak Ayu
pulang meski harus kehilangan jam mengajarnya.
Tiba di Lammai, aku dan kak Ayu
berpamitan dan berterima kasih pada babo Sya’roni. Setelah mobil babo keluar
dari area Al Khairiyah, aku bergegas ke kamar dan langsung bersiap-siap
mengajar. Saat itu pukul 08.35 sedangkan jam pertama berakhir pada pukul 08.45.
kupercepat langkahku ke kelas walaupun terlambat akan tetapi sisa waktu ini
sangatlah berharga karena ini hari terakhirku mengajar kelas 9.
Rasanya aku menyesal karena
terburu-buru marah saat ditinggal pulang babo Ding. Aku tidak pernah tahu kalau
aku akan mendapatkan pelajaran seberharga dan seindah ini. Subhanallah... andai
aku lebih bisa mengendalikan emosiku, kini kusadari bahwa marahku tak berarti.
Terima kasih untuk keluarga besar di Yala yang telah mengajariku cinta dan
pengorbanan yang sesungguhnya.
Catatan Nostalgia 27 Peb 2015