Masih bersama cerita dari abah
Hasan, kali ini kisah tentang Syaikh Ihsan bin Dahlan, Jampes. Beliau merupakan
salah satu santri dari Syaikh Kholil Bangkalan Madura. Alkisah pada suatu hari,
Syaikh Dahlan, romo dari Syaikh Ihsan mengutusnya untuk berguru/nyantri ke
Madura, kepada Syaikh Kholil. Karena rasa baktinya pada orang tua, Syaikh Ihsan
pun mentaati perintah sang ayah.
Berangkatlah Syaikh Ihsan menuju
ke Madura, menemui Syaikh Kholil. Tiba di kediaman sang guru, Syaikh Ihsan
menyampaikan maksudnya untuk tholabul ilmi, berguru pada Syaikh Kholil. Namun
apa reaksi sang guru? Syaikh Kholil justru mengutus Syaikh Ihsan mengambil
kurungan ayam yang (maaf) banyak kotorannya kemudian meminta Syaikh Ihsan masuk
ke dalam kurungan itu.
Dengan penuh ta’dhim, Syaikh
Ihsan mentaati titah sang guru tanpa banyak tanya. Syaikh Ihsan terus menanti,
kapan mengaji, kapan belajar, mengapa sang guru tak kunjung menyuruhnya keluar?
Sempat beliau berfikir, apakah aku ini seperti ayam sehingga harus dikurung
seperti ini. Akan tetapi, sedikitpun beliau tak ingin memprotes pada sang guru.
Akhirnya, pada hari ke tujuh, Syaikh Kholil mengeluarkan Syaikh Ihsan dari
kurungan ayam itu. Syaikh Ihsan pun senang. Akan tetapi apa yang terjadi? Ternyata
Syaikh Kholil mengutusnya untuk pulang ke Jampes. Lho, bagaimana ini?
Bingunglah Syaikh Ihsan karena tidak disuruh belajar, tidak disuruh mengaji,
hanya dikurung selama tujuh hari kemudian disuruh pulang. Apa kata abahnya bila
tiba di Jampes nanti?
Mula-mula Syaikh Ihsan menolak,
dan minta diberi kesempatan belajar bersama sang guru. Akan tetapi Syaikh
Kholil tetap mengutusnya kembali ke Jampes dan Syaikh Ihsan tak dapat menolak
lagi demi ta’dhimnya pada sang guru. Bismillah, niat ingsun ngabekti marang
guru. Pulanglah Syaikh Ihsan ke Jampes.
Subhanallah, kuasa Allah tak
tertandingi oleh apapun. Dengan izin-Nya, Syaikh Ihsan yang ta’dhim pada Syaikh
Kholil berhasil mendirikan pesantren dan mengarang banyak kitab kuning. Bahkan
salah satu kitab beliau menjadi kitab ajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir
yaitu Kitab Sirojut Tholibin. Subhanallah… Maha Kuasa Allah yang telah mengatur
segalanya begitu indah.
Saudaraku, apabila kita lihat
fenomena saat ini betapa banyak siswa yang menyepelekan gurunya. Jangankan
ta’dhim, taat saja tidak. Diberi PR tidak mau mengerjakan, datang ke sekolah
sering terlambat, berbicara sendiri saat guru menyampaikan materi, bahkan
terkadang sengaja memancing emosi guru. Masyaallah, mau jadi apa anak bangsa
ini?
Mungkin mereka bisa menjadi
pemimpin dengan intelektual mereka. Akan tetapi tanpa keindahan spiritual semua
akan hancur. Banyak orang yang pandai akalnya kemudian menjadi pemimpin, akan
tetapi spiritualnya hampa, dulunya ia mungkin pernah menyakiti hati gurunya. Maka
sudah pasti ia tidak mendapat keberkahan ilmu. Apabila ilmu itu tidak mendapat
keberkahan, maka ilmu itu akan menghancurkan. Kalau ia menjadi pemimpin, bisa
jadi ia memanfaatkan jabatannya untuk bermain curang, korupsi, menindas kaum
lemah, dan sebagainya. Na’udzubillah…
Ada lagi, ilmu yang tidak berkah
tidak mendatangkan kebahagiaan. Bisa jadi dengan tingginya ilmu, seseorang bisa
mendapatkan apa yang ia mau. Mau mobil, rumah mewah, hiburan, apa saja bisa
diperoleh. Akan tetapi ia tak bahagia karena hatinya tak kunjung mendapatkan
ketenangan. Melihat tetangga beli mobil baru, dia ingin. Melihat tetangga
berlibur ke Paris, dia ingin. Tidak ada puasnya sebab ia kehilangan keberkahan
ilmu. Pada akhirnya bukan kebahagiaan yang diperoleh tetapi penderitaan. Batinnya
menderita karena ketidakpuasan itu, Na’udzubillah…
Saudaraku… marilah kita ta’dhim
kepada guru karena ketaatan kita kepada Allah. Saya terkesan akan sebuah
ungkapan yang disampaikan oleh salah satu dosen saya, Ustadz Nuryani Iskandar,
“Lau La Al Murobbi, Ma ‘aroftu Robbi.” (Jikalau tiada guru, maka aku
tidak mengenal Tuhanku). Dan ucapan Sayyidina Ali ra. “Ana ‘Abdu Man
‘allamani Harfan” (Aku adalah sahaya bagi orang yang mengajarku walau satu
huruf saja). Semoga Allah berikan kita ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah,
membawa kita pada keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al Fatihah…
By
Ni’matul Khoiriyyah
Yala,
Janub Thailand
Tidak ada komentar:
Posting Komentar