نعمة الخيرية
Gadis anggun itu bernama Aisyah. Dia mahasiswi semester lima jurusan pendidikan Bahasa Arab di IAIN
Tulungagung. Setiap pagi ia kuliah, sorenya memberi bimbingan belajar ekstra
untuk adik kelasnya yang semester satu dan tiga. Kabarnya, dia sedang dekat
dengan Rafi, ketua HMJ PBA baru yang seangkatan dengannya.
Suatu
hari saat ia selesai memberikan bimbingan belajar, hujan turun begitu deras.
Aisyah tidak membawa payung dan ia terbiasa berjalan kaki dari pesantren ke
kampus maupun sebaliknya. Hatinya risau bukan karena terlambat pulang akan
tetapi merasa kehilangan rutinitasnya di pesantren yaitu mengikuti kajian kitab
kuning bersama sang Kyai. Rafi yang kebetulan baru selesai mengurus surat-surat
pelantikan di markas HMJ PBA menghampiri gadis yang tampak risau itu.
“Takut
terlambat mengaji?” sapa Rafi.
Aisyah
mengangguk. “Tafsir Jalalain, surat Ar Rahman.” Ucapnya kemudian.
“Coba
kalau nggak ada takzir, aku mau nganter kamu.”
“Buang
jauh-jauh pikiran itu, Rafi. Aku nggak suka.”
Rafi
tersenyum. “Meski nggak ada pengurus yang tahu? Daripada kamu kehilangan surat
Ar Rahman.”
Aisyah
tahu ia sedang digoda. Segera ia berpaling dan mencari kelas lain untuk menanti
hujan reda. Rafi mengikutinya. Rupanya
gadis itu sedang tidak bisa diajak bercanda. Ia pun minta maaf berkali-kali
akan tetapi Aisyah tidak menjawab.
“Aisyah...
aku tahu siapa kamu. Aku kenal kamu sejak sebelum kuliah. Aku cuma bercanda.
Afwan.”
“Kamu
jadikan syari’at sebagai bahan candaan, Rafi. Pergilah!” usir gadis itu dengan
mata berkaca-kaca. Jauh di lubuk hati, ia sangat kecewa. Sebenarnya ia telah
lama memendam rasa pada sang ketua HMJ karena sosoknya yang sederhana, disiplin
dan bertanggung jawab. Dia sangat berbeda dengan yang lain. Ketika ada tugas
misalnya, Rafi selalu selesai mengerjakan tugasnya sebelum batas waktu
pengumpulan tiba. Hal inilah yang jarang dimiliki oleh mahasiswa lain.
“Aisyah,
kamu menangis?” tanya Rafi terkejut melihat mata gadis itu.
Aisyah
mengarahkan telunjuk kanan ke bibirnya. “Sssst.... Pergilah!” pintanya dengan
suara lirih.
***
Semalaman
Rafi tidak bisa tidur. Ia terus teringat pada sepasang mata jernih yang
dibuatnya menangis. Hatinya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan Aisyah?
Mengapa ia menangis hanya karena candaan itu? Apa yang dimaksud syari’at sebagai
candaan dalam ucapannya tadi?
Esoknya
ia berangkat pagi sekali. Ia bermaksud mendahului kedatangan Aisyah yang
biasanya datang pertama. Akan tetapi penantiannya sia-sia. Gadis itu tak
kunjung datang hingga perkuliahan dimulai. Ia baru tahu gadis itu sakit saat
Wina menyerahkan surat izin pada dosen.
“Ya
Allah... dia pasti menerjang hujan.” Tebak Rafi dalam hati. Ia kenal betul
siapa Aisyah. Fisiknya memang tidak sekuat yang lain. Dia tidak boleh terkena hujan.
“Win,
Aisyah di mana?” tanya Rafi segera saat dosen yang mengajar telah keluar kelas.
“Di
klinik pesantren. Rawat inap.” Jawab Wina. “Kemarin dia nekat hujan-hujanan.
Nyampe pesantren dia pingsan. Nggak tau kenapa dia senekat itu. Mungkin ada
yang membuatnya marah. Tapi, bukan kamu kan Raf?”
“Win,
kita bicara di luar, ya?” ajak Rafi.
Di
gazebo depan Kopma (koperasi mahasiswa) Rafi bercerita. Ekspresi Wina pun
tampak marah, geram padanya.
“Kamu
sebenarnya sayang nggak sih sama Aisyah? Kamu belum kenal Aisyah?” Wina geram.
“Raf, Aisyah itu nggak bisa kamu samakan denganku. Kalau sama aku, mau bercanda
apa aja terserah kamu. Tapi sama Aisyah, jangan pernah kamu bercanda tentang
hukum agama. Dia orientasinya
imam, bukan pacar. Apa pantas seseorang yang akan dijadikan imam menjadikan
syari’at sebagai candaan?”
“Jadi,
dia....”
“Iya.
Dia sayang sama kamu, Raf. Tapi dia nggak mau pacaran.”
Rafi
sangat bahagia mendengar pernyataan Wina. Akan tetapi ia juga takut apabila
tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan Aisyah. Menyesal rasanya telah
melukai hati gadis idamanya. Andai waktu bisa terulang kembali, ia tidak akan
mengucapkan kalimat yang membuat mata gadis itu berkaca-kaca kemudian menerjang
hujan yang kini membuatnya tergeletak tak berdaya.
“Mas
Rafi, dipanggil ustadz Hari di kajur.”
Kata Afandi memberi tahu.
“Wina, aku ke kajur dulu, ya."
Pamit Rafi.
“Sekalian aku mau balik, nemenin
Aisyah.” Balas Wina.
“Sampaikan permintaan maafku, ya.”
***
Wina terkejut karena saat dia masuk
ke klinik pesantren, ia tak melihat Aisyah di sana. Namun akhirnya ia tersenyum
lega karena perawat mengatakan bahwa Aisyah telah kembali ke asrama. Segera
Wina menuju ke kamar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja. Ternyata sahabatnya
sedang melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan merdunya di kamar sunyi yang
penghuninya masih beraktivitas di kampus itu.
Mengetahui Wina telah datang, Aisyah
mengakhiri bacaannya dengan mengecup kitab suci yang selalu menemaninya
sepanjang hari. Ia pun menyunggingkan senyum manisnya pada Wina. Meski demikian
ia tak dapat menutupi bibir tipisnya yang masih tampak pucat.
“Nggak usah kuatir gitu ah
wajahnya!” kata Aisyah.
“Siapa yang kuatir? Aku biasa kok.”
Balas Wina tersenyum. “Eh, dapat salam dari Rafi.”
Sinar wajah Aisyah langsung berubah
saat mendengar nama itu. entah mengapa kekecewaan gadis itu begitu dalam. Dia
benar-benar tidak rela dengan candaan Rafi kemarin sore. Tapi, ada apakah
sebenarnya di balik kekecewaan itu?
“Syah, aku pengen dengerin cerita
kamu. Kenapa kemarin kamu sampe nekat hujan-hujanan? Kamu marah sama Rafi? Dia
salah apa?”
Handphone Aisyah bernyanyi. Ia
keluar kamar sejenak untuk menerima telepon. Tentu saja hal ini membuat Wina
semakin penasaran. Tidak biasanya Aisyah harus keluar kalau hanya menerima
telepon. Siapa gerangan yang meneleponnya?
Beberapa menit kemudian Aisyah
kembali ke kamar. Ia menatap sahabatnya dengan lembut kemudian menundukkan
kepala. “Nggak lama lagi,” ucapnya pelan.
“Apa yang nggak lama lagi, Aisyah?”
Tanya Wina.
“Aku akan jadi pengantin.” Jawab sahabatnya
singkat yang kemudian disusul dengan tetesan air mata.
“Apa…? Dengan siapa?”
“Preman.”
“Masyaallah, Aisyah… kamu serius?
Siapa yang kamu maksud preman itu?”
Aisyah tidak mampu bercerita. Ia
hanya terus menangis dalam pelukan sahabatnya. Wina pun tak berani memaksa
mengingat kondisi Aisyah yang belum cukup fit. Tak lama kemudian Zahra, Ana dan
Riska, teman sekamar mereka yang berbeda jurusan telah pulang dari kampus.
“Aisyah, aku cari di klinik nggak
ada. Syukurlah kalo udah baikan.” Kata Riska.
“Win, Aisyah kenapa?” Tanya Zahra.
“Sssst…. Udah, sebaiknya kita jangan
banyak tanya dulu biar Aisyah tenang. Sepertinya dia punya beban yang sangat
berat.” Ujar Ana.
***
Esoknya, untuk kedua kali Rafi
berangkat awal. Kali ini ia berhasil mendahului Aisyah. Di gedung UPB lantai
tiga dekat tangga Rafi mencoba mengajaknya berbicara. Berbekal dengan apa yang
disampaikan Wina kemarin, ia bermaksud mengutarakan isi hatinya pada Aisyah
setelah minta maaf atas candaannya kemarin.
“Aku ingin mengenal kamu lebih jauh,
Aisyah. Izinkan aku menjagamu.”
“Maaf, Raf. Aku nggak bisa.”
“Kenapa? Ada nama lain di hatimu?”
Aisyah menggeleng. Apapun pertanyaan
yang dilontarkan Rafi, ia tak menjawab. Gadis itu terus bungkam, diam seribu
bahasa.
“Aisyah, aku akan terus menunggu
sampai kamu berbicara dan sampai aku bisa menerima alasan kamu.” Paksa Rafi
lembut.
“Rafi, plis… aku mau presentasi.
Tolong jangan usik pikiranku.”
“Oke, selepas kuliah kita lanjutkan.”
Rafi memang keras kalau sudah memiliki kemauan.
Pada akhirnya, Aisyah yang semula
bungkam pun mau berbicara. Sejak kecil ia diasuh oleh pamannya yang berwatak
cukup keras namun memiliki jiwa religi yang kuat. Pamannya ingin menikahkan
Aisyah dengan Roy, anak sahabatnya yang pernah nyantri selama 3 tahun di
Lirboyo Kediri akan tetapi setelah keluar dari pesantren, ia terjebak dalam
dunia gelap karena salah pergaulan. Ia adalah seorang preman yang berjanji mau
insyaf apabila diizinkan menikah dengan Aisyah. Dia tidak memaksa untuk
menikahi Aisyah. Hanya saja, jika bukan Aisyah yang menikah dengannya, ia akan
tetap menjadi preman dan tidak mau insyaf.
“Kamu mau menikah dengannya?” Tanya
Rafi.
“Maafkan aku, Rafi. Kemarin kamu
udah mematahkan harapanku. Paman udah memutuskan, Roy akan menikahiku bulan
depan.”
“Apa maksud kamu, Syah? Jujur, aku
belum paham dimana letak kesalahanku kemarin.”
“Aku hanya diberi waktu sehari.
Hanya kemarin. Paman memberiku kesempatan apakah ada pria yang kupandang bisa
menjadi imamku. Tapi candaan kamu kemarin benar-benar tidak menghargaiku, Raf.
Aku benar-benar kecewa meski sebenarnya aku udah maafin kamu. Ku anggap kemarin
nihil dan aku memutuskan untuk mengikuti kemauan paman yang membesarkanku. Aku
berharap, pernikahan ini akan membawa Roy ke jalan yang benar. Kalau dia belum
bisa menjadi imamku yang baik, biarlah aku yang berusaha membimbingnya.”
“Aisyah… apa yang bisa kulakukan
untuk menebus kesalahanku? Aku sangat tidak rela kamu menikah dengan Roy. Aku
nggak rela dia menyakiti hati kamu. Beri aku kesempatan, Aisyah.”
“Maaf, sebaiknya fokuskan fikiran
kamu untuk HMJ PBA. Minggu depan kamu dilantik, dan ketua HMJ tidak boleh
berstatus menikah. Masa bakti kamu satu tahun, Raf, dan aku menikah bulan depan.
Nggak ada alasan bagiku untuk mengingkari apa yang udah kuputuskan. Manusia itu
hina bukan karena menikah dengan orang yang salah, tapi manusia itu hina ketika
ucapan dan perbuatannya tak senada. Aku udah memutuskan untuk membangun cinta
dengannya. Aku akan belajar mencintainya. Cinta itu yang akan berperan sebagai
air yang terus menetes di atas kerasnya batu. Doakan yang terbaik untukku dan
Roy. Aku akan doakan yang terbaik pula untuk kamu. Yakinlah, Rafi, tulang rusuk
tidak akan tertukar.” Jelas Aisyah sembari menahan butiran mutiara dari
matanya.
“Baiklah, kalau itu sudah menjadi
keputusanmu, aku hargai dan aku terima. Semoga Roy benar-benar mau berubah.
Kamu wanita yang hebat, Aisyah. Semoga Roy akan menjadi imam yang baik, dengan
dukungan dan cinta kamu.” Ujar Rafi.
“Aamiin Yaa Robb….” Aisyah tersenyum
sebelum kemudian meninggalkan Rafi karena ada jam bimbingan belajar untuk
semester tiga.
Usai memberikan bimbel pada adik
kelasnya, Aisyah menuju ke kajur untuk memberi kabar pada ustadz Hari tentang
rencana pernikahannya. Ustadz yang selama ini melihat kedekatan Aisyah dengan
Rafi itu cukup terkejut dengan kabar yang disampaikan mahasiswi kesayangannya.
Tidak menyangka, paman Aisyah akan menikahkannya dengan santri yang salah
pergaulan. Namun semua kembali pada konsep bahwa kita harus senantiasa positive
thinking dalam segala hal sembari berusaha maksimal dan disertai doa.
Sebagaimana kisah Ibnu Hajar yang luluh saat melihat terkikisnya batu karena
tetesan air yang istiqomah.
“Nduk, kalau itu sudah jadi
keputusanmu, Ustadz hanya bisa membantu dengan dukungan motivasi dan doa.
Tuluskan hatimu dalam membimbingnya. Cinta itu akan bersemi dan tumbuh dengan
subur seiring berjalannya waktu. Sirami cinta itu dengan perhatian dan
kesetiaanmu. Insyaallah, dia akan diluluhkan oleh Allah. Ustadz yakin, jiwa
santrinya masih ada. Siapa tahu kelak dia menjadi sosok besar seperti almarhum
ustadz favoritmu, Uje.” Harap ustadz Hari.
“Aamiin Yaa Robb…. Aisyah mohon
restu, Ustadz.”
“Baarakallah laki wa lahu.
Pandai-pandailah membagi waktu, untuk studimu dan untuk keluarga kecilmu.”
Sebelum berpamitan, Aisyah
mengajukan permohonan izin untuk tidak ikut perkuliahan selama 2 minggu.
Seminggu sebelum akad, dan seminggu setelahnya. “Terima kasih, Ustadz. Assalamu
‘alaikum.”
***
Hari pernikahan itu tiba. Aisyah
belum terlalu mengenal Roy. Ia memang tak pernah dekat dengannya. Ia hanya tahu
Roy nakal. Itupun dari pamannya sendiri. Aisyah tampak tenang sekali hari itu.
Hatinya baru berdebar saat pamannya melafalkanIjab. Hal yang tak terduga, Roy
begitu lancar melafalkan Qabul dalam bahasa Arab yang menghalalkannya duduk
bersanding dengan Aisyah di singgasana pengantin. Usai Ijab Qabul terlafalkan,
Aisyah masih belum percaya kalau ia harus mengecup tangan pria berjas putih di
sampingnya. Ia begitu kaku, namun kini ia telah sah menjadi istri dari pria
yang duduk di sampingnya. Tak ada alasan baginya untuk menolak mengecup
tangannya.
Dengan membisikkan lirih lafal
basmalah, Aisyah mengecup tangan suaminya yang kemudian disusul dengan kecupan
suami Aisyah di keningnya. Rasa haru tiba-tiba muncul. Aisyah meneteskan air
mata saat Roy mengecup lembut keningnya. Dalam hati, Aisyah mengatakan, “Ya
Allah… aku jatuh cinta.”
Suasana berubah menjadi haru saat
hadirin melihat tetesan air mata Aisyah. Paman dan bibi serta mertuanya sangat
bersyukur melihat Aisyah yang setulus hati berkenan mendampingi Roy yang
dikenal sebagai preman itu. Sayang, orang tua Aisyah telah tiada pada hari di
mana Arsy berguncang dengan terlafazkannya Ijab Qabul yang mulia. Kini Rafi
telah rela melepas gadis impiannya sebagaimana Aisyah yang telah rela menerima
Roy.
Pesta telah usai dan kini saatnya
Aisyah berpamitan pada paman dan bibinya untuk tinggal di rumah Roy. “Aisyah
pamit, Paman. Doakan Nduk bisa menjadi istri sholihah.”
“Pasti, Nduk. Paman doakan kamu dan
suamimu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah, keluarga yang saling
mengisi dan saling menguatkan, semoga kalian bahagia.” Paman menepuk pelan bahu
kanan Aisyah kemudian memegang kedua bahu Roy. “Roy, Aisyah sudah menjadi
tanggung jawabmu. Jalankan kewajibanmu sebagai suami dan penuhi haknya sebagai
istrimu.”
***
“Mas Roy….” Sapa Aisyah saat tiba di rumah
barunya.
“Hm…. Mas?” balas Roy takjub.
“Iya. Dinda panggil Mas, boleh?”
“Dinda…?” Roy berpikir sejenak
kemudian mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Iya, Dinda.”
Hari-hari mereka diisi dengan
perkenalan karena pada dasarnya mereka masih sama-sama asing. Aisyah hanya tahu
sedikit tentang Roy dan Roy hanya tahu sedikit tentang Aisyah namun langsung
ingin menikahinya. Benar saja, saat ini keduanya mulai jatuh cinta. Aktivitas
mereka seperti muda-mudi yang sedang pacaran, namun pacaran mereka berstatus
halal.
“Dinda….” Ucap Roy suatu sore di
sova ruang keluarga sambil merangkul Aisyah.
“Iya, Mas….” Jawab Aisyah lembut.
“Dinda tahu, sebenarnya aku ini bukan
orang baik. Bahkan aku berniat untuk terus teledor selepas akad nikah. Tapi….”
“Tapi kenapa, Mas?”
“Pesona kelembutanmu, Dinda,
membuatku luluh tak berdaya. Rasanya aku tak pantas lagi untuk menjadi preman,
sedangkan aku memiliki bidadari seindah kamu. Dinda, maafkan aku yang belum
berani mengimami shalatmu. Aku malu, Dinda. Aku pernah mabuk-mabukan, aku
pernah berjudi, aku pernah berpacaran. Sungguh aku tidak pantas menjadi
suamimu, Dinda.”
Aisyah menatap suaminya dengan
lembut kemudian meletakkan telunjuknya di bibir suaminya. “Sssst…. Mas, nggak
ada manusia yang sempurna selain Rasulullah. Kalau Dinda salah bergaul, Dinda
juga bisa seperti Mas sebelum menikah. Yang penting, sekarang Mas sudah berubah
dan tidak akan kembali seperti dulu lagi. Kalau Mas belum berani mengimami
Dinda, tidak apa-apa. Yang penting, Mas tidak meninggalkan shalat. Pintu taubat
selalu terbuka, selagi nyawa belum sampai kerongkongan. Dinda akan selalu
mendampingi Mas.”
Roy mengecup kening istrinya dengan
penuh cinta. “Beruntungnya aku memilikimu, Dinda. Alangkah bahagianya
anak-anakku memiliki ibu bidadari seindah kamu.” Celetuknya.
“Anak-anak?” kening Aisyah berkerut.
“Iya, Dinda Sayang….”
“Berapa?” Tanya Aisyah.
“Satu lusin.”
“Jangan, Mas!”
“Berapa?”
“Satu kodi, hehe.”
“Yakin?”
“Enggak.”
Demikianlah hari-hari manis mereka.
Perjalanan membangun cinta yang saling mengisi. Luluhlah keras hati Roy melalui
kelembutan hati Aisyah, istrinya. Kini ia benar-benar memenuhi janjinya untuk
insyaf setelah menikah.
Wanita…
Lembutmu adalah kuatmu
Tiada di dunia ini perhiasan yang
lebih indah
Dari pesona seorang wanita shalihah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar