Entri Populer

Rabu, 05 November 2014

The Power Of Deadline
Sudah berhari-hari aku ingin menulis tentang ini. Namun baru malam ini tarian jemariku di atas keyboard berkesampatan untuk menulisnya. Judul tulisanku ini mungkin sudah pasaran, dalam arti sudah banyak yang mendengar istilah itu, the power of deadline. Ada bahasa yang lebih familiar lagi yaitu the power of kepepet.
Berbicara tentang deadline, aku yakin kita pernah mengalami yang namanya dikejar deadline. Misalkan, ketika kita masih SMP atau SMA ada guru yang memberikan PR yang harus dikumpulkan tanggal sekian jam sekian. Ini yang namanya deadline. Begitupun halnya dengan mahasiswa. Deadline bagi mereka adalah tanggal yang ditentukan oleh dosen bagi mereka untuk mengumpulkan makalah dan tugas-tugas lainnya.
Oke, kembali ke judul. Kebanyakan di antara kita beranggapan bahwa inspirasi akan bermunculan saat kita sudah didekat deadline. Misalkan besok pagi deadline, malam ini lembur. Padahal ada masa tenggang satu minggu untuk mengerjakan. Nah, apakah pernyataan the power of deadline itu benar? Apakah deadline itu benar-benar memiliki power? Menurutku tidak sepenuhnya. Sebenarnya, power itu muncul ketika kita fokus. Inspirasi itu muncul ketika kita fokus. Ketika kita merasa deadline sudah dekat, kita tidak lagi memikirkan yang lain. Yang ada di hati dan pikiran kita adalah menyelesaikan apa yang ada. Inilah sebenarnya letak power. Bukan pada deadline-nya. Walaupun deadline masih jauh, apabila kita mau memfokuskan pikiran, Insyaallah selesai. Jadi, ada baiknya kita selalu merasa dekat dengan deadline agar tugas apapun itu cepat selesai.

Trenggalek, 2 Oktober 2014


Perjalanan
Perjalanan kurang lebih 3 jam dari Kamulan ke Nguluh, Siki, Dongko dalam rangka menghadiri walimatul Ursi Ukhtuna Miftakhul Khumaidah bersama Romo Kyai Ma'sum dan beberapa santri PP Sirojut Tholibin Plosokandang Tulungagung menghadirkan banyak kata dalam benakku yang ingin segera kutuliskan. Aku menganalogikan perjalanan itu sebagai perjalanan hidup. Mulai dari Kamulan sampai Karangan, jalan itu mulus. Ibaratnya, itu adalah saat-saat kita bahagia. Kemudian, mulai Suruh sampai Dongko, jalanan menanjak akan tetapi aspal masih sehat wal afiat. Ibaratnya, itu adalah ujian kecil dalam kehidupan yang meskipun tidak terlalu beresiko akan tetapi tetap memerlukan kewaspadaan. Sedangkan klimaksnya, dari Pasar Dongko menuju ke tempat walimah, begitu banyak tanjakan dan tikungan tajam sedangkan kondisi aspal La yamutu wa La yahya. Butuh kelihaian dari seorang pengemudi untuk melalui jalan ini. Ibaratnya ini adalah cobaan terberat dalam hidup yang apabila sedikit saja kita terlena, maka hilanglah keimanan. Butuh kelihaian hati dan pikiran untuk menghadapi cobaan yang berat. Kita harus senantiasa husnudhon pada Irodah-Nya seberat apapun cobaan itu bagi kita. Anak sekolah tidak akn naik kelas tanpa melalui ujian. Begitu juga, kualitas iman kita tidak akan naik tanpa kita lulus menghadapi ujian-Nya. Nah, saat memasuki desa Siki dan sampai di tempat walimah, perasaan takut, tegang dan lelah saat perjalanan terhapuskan oleh kebahagiaan saat menyaksikan sang mempelai bersanding di singgasana cinta. Ibaratnya, apabila kita berhasil menghadapi ujian dari-Nya dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa, Fa Insyaallah, surgalah balasannya.
Ya, itulah perjalanan hidup yang tidak mungkin hanya lurus saja. Tak mungkin dalam hidup ini kita hanya bahagia. Mengapa? Ini dunia, bukan surga. Juga tak mungkin dalam hidup ini kita hanya menderita. Mengapa? Ini dunia, bukan neraka. Kebahagiaan dan kesedihan akan datang silih berganti. Ini keadilan Sang Pencipta. Dari pengamen sampai presiden, semua pasti pernah tersenyum dan pernah menangis. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba-Nya menyikapi. Saat bahagia kita bersyukur, saat bersedih kita bersabar. Tetaplah husnudhon pada-Nya.
#Ushikum wa nafsi...

Alhamdulillah, kata demi kata yang sejak tadi tersirat kini dapat tersurat. Syukron Ukhty Miftakhul Khumaidah, perjalananku ke rumah anti menghadirkan inspirasi untuk tulisan ini.
Baarakallah lakuma wa baaraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fi Khoir


Kamulan, 23 Okt 2014

Selasa, 04 November 2014

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.
Trenggalek, 6 Oktober 2014


Jangan takut, sayang....
Kalau kita tak pernah jatuh, kita tak pernah bangkit...
Senyumlah, sayang...
Senyummu adalah kekuatan yang tak semua orang memiliki kala ia terluka 
Bersyukurlah, sayang...
karena rasa syukur itu akan menjelma menjadi kebahagiaan yang tiada tara 
Hujan itu, sayang....
Hujan itu bukan di sana, tapi di sini.... di hati ini...
Menarilah, sayang...
Menarilah di bawah hujan, sesungguhnya ia hanya mengikuti titah Ilahi Robbi 
Sakit itu, sayang...
Sakitnya memang di sini, namun ada cinta yang lebih besar kan mengobati...
Bahagia itu, sayang...
hanya milik yang bersyukur... hanya milik yang husnudhon...
Bahagia itu, sayang... milik yang ikhlas....
Bismillah.... belajar menjadi wanita yang hatinya sekuat baja, setegar karang yang tak bergeming dihempas badai...
Karena sandaran terkuatnya tak lain adalah Sang Maha Cinta 
Hammasah, sayang...