Perjalanan
Perjalanan
kurang lebih 3 jam dari Kamulan ke Nguluh, Siki, Dongko dalam rangka menghadiri
walimatul Ursi Ukhtuna Miftakhul Khumaidah bersama Romo Kyai Ma'sum dan
beberapa santri PP Sirojut Tholibin Plosokandang Tulungagung menghadirkan
banyak kata dalam benakku yang ingin segera kutuliskan. Aku menganalogikan
perjalanan itu sebagai perjalanan hidup. Mulai dari Kamulan sampai Karangan,
jalan itu mulus. Ibaratnya, itu adalah saat-saat kita bahagia. Kemudian, mulai
Suruh sampai Dongko, jalanan menanjak akan tetapi aspal masih sehat wal afiat.
Ibaratnya, itu adalah ujian kecil dalam kehidupan yang meskipun tidak terlalu
beresiko akan tetapi tetap memerlukan kewaspadaan. Sedangkan klimaksnya, dari
Pasar Dongko menuju ke tempat walimah, begitu banyak tanjakan dan tikungan
tajam sedangkan kondisi aspal La yamutu wa La yahya. Butuh kelihaian dari
seorang pengemudi untuk melalui jalan ini. Ibaratnya ini adalah cobaan terberat
dalam hidup yang apabila sedikit saja kita terlena, maka hilanglah keimanan.
Butuh kelihaian hati dan pikiran untuk menghadapi cobaan yang berat. Kita harus
senantiasa husnudhon pada Irodah-Nya seberat apapun cobaan itu bagi kita. Anak
sekolah tidak akn naik kelas tanpa melalui ujian. Begitu juga, kualitas iman
kita tidak akan naik tanpa kita lulus menghadapi ujian-Nya. Nah, saat memasuki
desa Siki dan sampai di tempat walimah, perasaan takut, tegang dan lelah saat
perjalanan terhapuskan oleh kebahagiaan saat menyaksikan sang mempelai
bersanding di singgasana cinta. Ibaratnya, apabila kita berhasil menghadapi
ujian dari-Nya dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa, Fa Insyaallah,
surgalah balasannya.
Ya, itulah
perjalanan hidup yang tidak mungkin hanya lurus saja. Tak mungkin dalam hidup
ini kita hanya bahagia. Mengapa? Ini dunia, bukan surga. Juga tak mungkin dalam
hidup ini kita hanya menderita. Mengapa? Ini dunia, bukan neraka. Kebahagiaan
dan kesedihan akan datang silih berganti. Ini keadilan Sang Pencipta. Dari
pengamen sampai presiden, semua pasti pernah tersenyum dan pernah menangis. Tinggal
bagaimana kita sebagai hamba-Nya menyikapi. Saat bahagia kita bersyukur, saat
bersedih kita bersabar. Tetaplah husnudhon pada-Nya.
#Ushikum wa nafsi...
Alhamdulillah,
kata demi kata yang sejak tadi tersirat kini dapat tersurat. Syukron Ukhty
Miftakhul Khumaidah, perjalananku ke rumah anti menghadirkan inspirasi untuk
tulisan ini.
Baarakallah lakuma wa baaraka
'alaikuma wa jama'a bainakuma fi Khoir
Kamulan, 23 Okt 2014

Good Mbak.Nina Kayla
BalasHapus