Entri Populer

Minggu, 09 November 2014

Ana Hunaka
Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand, sebuah sekolah Islam yang berdiri kokoh di Lammai, desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Patani. Kurang lebih lima bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 21 Mei 2014, Sang Mudir dan putranya menjemputku di Gedung Pusat Pentadbiran Wilayah Patani setelah serah terima amanat dari perwakilan rektor  PTAI Indonesia kepada badan
alumni internasional Thailand selatan. Suasana haru mulai menyelimuti ketika para mahasiswa akan dilepas oleh dosen-dosen yang mengantar. Apalagi 20 mahasiswa dari IAIN Tulungagung termasuk aku akan ditempatkan secara terpisah di beberapa ma’had yang tersebar dalam 4 wilayah yaitu Patani, Yala, Narathiwat dan Songkhla. Para dosen berhati mulia itu akan take off kembali ke tanah air usai menitipkan kami di negeri asing ini.
Sekitar pukul 13.00 seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi besar menyapaku dan partnerku, kak Ayu Sartika Wati dari UNMUH Jember. Pria itu tak lain adalah putra sang mudir. Setelah basa-basi sejenak, dia membawa kami ke area parkir sambil menanti mudir.
Perjalananpun bermula setelah sang mudir berjumpa dengan kami di area parkir. Dalam waktu kurang lebih satu jam, kami keluar dari Patani menuju ke Yala. Sepanjang perjalanan kami berkenalan satu sama lain. Jangan menyangka aku sudah akrab dengan partnerku, karena aku baru tahu namanya setelah acara serah terima tadi. Mudir dan putranya cukup heran ketika tahu aku dan kak Ayu belum saling kenal.
Tentang mudirku, beliau bernama Mahyudin Samae, biasa disapa Babo Ding. Beliau memiliki seorang istri yang biasa kusapa Mama, dan dikaruniai 7 orang anak. Anak pertamanya adalah pria yang saat itu mengemudikan mobil, Rusdee Samae namanya. Anak kedua, ibu dari si kecil Azwan, Rusnee Samae. Anak ketiga, saat itu masih berada di Yordan, wanita anggun dan lincah yang bercadar, bernama Fadheelah Samae. Anak keempat, saat itu masih studi di India, ia bernama Fadeel Samae. Anak kelima berada di Indonesia, Arfan Samae. Anak keenam, siswi kelas 9 di Phattana Islam Wittaya Lammai, bernama Ruwaida Samae. The Last, si imut Iman yang bersekolah di Phirayanawin Patani.
Oke, tentang tugasku di sekolah. Aku mendapat amanah untuk mengajar di dua tingkat yaitu Mutawasith (setara dengan SMP) dan Tsanawi (setara dengan SMA). Di tingkat mutawasith, aku mengajar Bahasa Melayu dan di tingkat Tsanawi aku mengajar Khithobah dengan perincian 4 kelas untuk Mutawasith dan 2 kelas untuk Tsanawi dengan alokasi waktu 12 jam mengajar dalam lima hari. Hari Jum’at adalah hari libur mingguan, sedangkan hari Sabtu adalah hari cutiku.
Mengajar di tingkat Mutawasith memerlukan kesabaran ekstra. Tidak jarang aku harus seperti rentenir ketika menagih PR anak-anak. Terkadang aku pun harus seperti penjaga kantor untuk menunggu mereka datang padaku membawa sebuah buku berisi pekerjaan mereka dengan password, “Kak Ni’mah, nak himpun tugas.” Kadang juga aku seperti seseorang yang menanti kedatangan sang kekasih. Bagaimana tidak, aku sudah stand by di kelas pada pukul 13.00 sedangkan mereka baru datang pada pukul 13.30, dan tahukah Anda bahwa pukul 13.45 bel sudah bernyanyi tanda pergantian jam.
Akan tetapi, ada sisi lain yang kontras dengan hal itu. Memang dalam kelas mereka berulah, akan tetapi di luar kelas, mereka memiliki kasih sayang yang luar biasa. Senang sekali aku melihat senyum mereka. Senang sekali aku mendengar dan menjawab sapaan mereka. Senang sekali ketika mereka mengajakku bermain. Bahkan hujan air mata begitu deras ketika tanpa terasa waktu semakin berlalu dan tibalah saat perpisahan. Ya Allah, mereka anak didikku yang kucinta sepenuh hati dan kuingin melihat mereka tumbuh dewasa dengan karakter yang luar biasa.
Di negeri asing ini banyak kutemukan keluarga baru. Guru-guru di sekolah yang memiliki solidaritas tinggi, memiliki cinta kasih yang tulus hingga aku tak pernah merasakan beban yang begitu berat meski pernah aku merasa tertekan dengan tumpukan tugas yang menggunung. Masyarakat Yala yang harmonis, guyub rukun dan murah senyum membuatku semakin kerasan di negeri Gajah Putih ini. Ya. Mudah ternyata jika ingin memiliki keluarga baru di tempat asing. Cukup dengan komunikasi yang baik dan berupaya menjaga akhlak.
Ramadhan karim 1435 H kujalani di negeri itu. Subhanallah, tahukah Anda tentang mama? Mama selalu memberiku sebuah tempat di samping beliau saat shalat tarawih meskipun ada putrinya. Jadi, formasinya misalkan shof pertama ada 20 kotak, mama di kotak pertama, putri mama di kotak ketiga dan seterusnya, sedangkan kotak kedua itu khusus untukku walaupun terkadang putri mama yang lebih awal datang ke masjid. Subhanallah, kecemburuan pun tak pernah kulihat dari raut wajah putri mama. Mereka begitu baik padaku bahkan terkadang putri mama yang mempersilahkanku menempati kotak kedua itu.
Tiga dari sejumlah ma’had di wilayah Yala adalah milik 3 bersaudara, kerabat Babo Ding. Ma’had-ma’had itu adalah Asasuddin, Tarbiyatul Wathon, dan Al-Khairiyah, nama lain Phattana Islam Wittaya School. Aku dan kak Ayu cukup sering diajak ke Tarbiyatul Wathon. Di sana ada rekan kami Qilma, dari STAIN Jember yang saat ini beralih status menjadi IAIN Jember, dan Dessi dari UNMUH Jember, adik kelas kak Ayu.
To be continued