Ana Hunaka
Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand, sebuah sekolah
Islam yang berdiri kokoh di Lammai, desa yang berbatasan langsung dengan
wilayah Patani. Kurang lebih lima bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 21 Mei
2014, Sang Mudir dan putranya menjemputku di Gedung Pusat Pentadbiran Wilayah
Patani setelah serah terima amanat dari perwakilan rektor PTAI Indonesia kepada badan
alumni
internasional Thailand selatan. Suasana haru mulai menyelimuti ketika para
mahasiswa akan dilepas oleh dosen-dosen yang mengantar. Apalagi 20 mahasiswa
dari IAIN Tulungagung termasuk aku akan ditempatkan secara terpisah di beberapa
ma’had yang tersebar dalam 4 wilayah yaitu Patani, Yala, Narathiwat dan
Songkhla. Para dosen berhati mulia itu akan take off kembali ke tanah air usai
menitipkan kami di negeri asing ini.
Sekitar pukul 13.00 seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi
besar menyapaku dan partnerku, kak Ayu Sartika Wati dari UNMUH Jember. Pria itu
tak lain adalah putra sang mudir. Setelah basa-basi sejenak, dia membawa kami
ke area parkir sambil menanti mudir.
Perjalananpun bermula setelah sang mudir berjumpa dengan kami di
area parkir. Dalam waktu kurang lebih satu jam, kami keluar dari Patani menuju ke Yala.
Sepanjang perjalanan kami berkenalan satu sama lain. Jangan menyangka aku sudah
akrab dengan partnerku, karena aku baru tahu namanya setelah acara serah terima
tadi. Mudir dan putranya cukup heran ketika tahu aku dan kak Ayu belum saling
kenal.
Tentang mudirku, beliau bernama Mahyudin
Samae, biasa disapa Babo Ding. Beliau memiliki seorang istri yang biasa kusapa
Mama, dan dikaruniai 7 orang anak. Anak pertamanya adalah pria yang saat itu
mengemudikan mobil, Rusdee Samae namanya. Anak kedua, ibu dari si kecil Azwan,
Rusnee Samae. Anak ketiga, saat itu masih berada di Yordan, wanita anggun dan
lincah yang bercadar, bernama Fadheelah Samae. Anak keempat, saat itu masih
studi di India, ia bernama Fadeel Samae. Anak kelima berada di Indonesia, Arfan
Samae. Anak keenam, siswi kelas 9 di Phattana Islam Wittaya Lammai, bernama
Ruwaida Samae. The Last, si imut Iman yang bersekolah di Phirayanawin Patani.
Oke, tentang tugasku di sekolah. Aku mendapat
amanah untuk mengajar di dua tingkat yaitu Mutawasith (setara dengan SMP) dan
Tsanawi (setara dengan SMA). Di tingkat mutawasith, aku mengajar Bahasa Melayu
dan di tingkat Tsanawi aku mengajar Khithobah dengan perincian 4 kelas untuk
Mutawasith dan 2 kelas untuk Tsanawi dengan alokasi waktu 12 jam mengajar dalam
lima hari. Hari Jum’at adalah hari libur mingguan, sedangkan hari Sabtu adalah
hari cutiku.
Mengajar di tingkat Mutawasith memerlukan
kesabaran ekstra. Tidak jarang aku harus seperti rentenir ketika menagih PR
anak-anak. Terkadang aku pun harus seperti penjaga kantor untuk menunggu mereka
datang padaku membawa sebuah buku berisi pekerjaan mereka dengan password, “Kak
Ni’mah, nak himpun tugas.” Kadang juga aku seperti seseorang yang menanti
kedatangan sang kekasih. Bagaimana tidak, aku sudah stand by di kelas pada
pukul 13.00 sedangkan mereka baru datang pada pukul 13.30, dan tahukah Anda
bahwa pukul 13.45 bel sudah bernyanyi tanda pergantian jam.
Akan tetapi, ada sisi lain yang kontras dengan
hal itu. Memang dalam kelas mereka berulah, akan tetapi di luar kelas, mereka
memiliki kasih sayang yang luar biasa. Senang sekali aku melihat senyum mereka.
Senang sekali aku mendengar dan menjawab sapaan mereka. Senang sekali ketika
mereka mengajakku bermain. Bahkan hujan air mata begitu deras ketika tanpa
terasa waktu semakin berlalu dan tibalah saat perpisahan. Ya Allah, mereka anak
didikku yang kucinta sepenuh hati dan kuingin melihat mereka tumbuh dewasa
dengan karakter yang luar biasa.
Di negeri asing ini banyak kutemukan keluarga
baru. Guru-guru di sekolah yang memiliki solidaritas tinggi, memiliki cinta
kasih yang tulus hingga aku tak pernah merasakan beban yang begitu berat meski
pernah aku merasa tertekan dengan tumpukan tugas yang menggunung. Masyarakat
Yala yang harmonis, guyub rukun dan murah senyum membuatku semakin kerasan di
negeri Gajah Putih ini. Ya. Mudah ternyata jika ingin memiliki keluarga baru di
tempat asing. Cukup dengan komunikasi yang baik dan berupaya menjaga akhlak.
Ramadhan karim 1435 H kujalani di negeri itu.
Subhanallah, tahukah Anda tentang mama? Mama selalu memberiku sebuah tempat di
samping beliau saat shalat tarawih meskipun ada putrinya. Jadi, formasinya
misalkan shof pertama ada 20 kotak, mama di kotak pertama, putri mama di kotak
ketiga dan seterusnya, sedangkan kotak kedua itu khusus untukku walaupun
terkadang putri mama yang lebih awal datang ke masjid. Subhanallah, kecemburuan
pun tak pernah kulihat dari raut wajah putri mama. Mereka begitu baik padaku
bahkan terkadang putri mama yang mempersilahkanku menempati kotak kedua itu.
Tiga dari sejumlah ma’had di wilayah Yala
adalah milik 3 bersaudara, kerabat Babo Ding. Ma’had-ma’had itu adalah
Asasuddin, Tarbiyatul Wathon, dan Al-Khairiyah, nama lain Phattana Islam
Wittaya School. Aku dan kak Ayu cukup sering diajak ke Tarbiyatul Wathon. Di
sana ada rekan kami Qilma, dari STAIN Jember yang saat ini beralih status
menjadi IAIN Jember, dan Dessi dari UNMUH Jember, adik kelas kak Ayu.
To be continued
