Entri Populer

Sabtu, 10 Oktober 2015

Ketika Hati Merindu



Kerinduan
by Ni'matul Khoiriyyah
                Rindu merupakan perasaan ingin mengulang atau ingin merasakan kembali suatu peristiwa yang pernah berlalu bersama orang tertentu dalam suasana tertentu . Tentunya yang dirindukan adalah sesuatu yang indah dan berkesan. Hal ini biasanya diawali dengan rasa sayang karena tidak mungkin merindu tanpa menyayangi. Seorang ibu rindu pada anaknya karena sayang, seorang istri merindukan suaminya karena sayang, seorang murid merindukan gurunya karena sayang, dan sebagainya.
                Ada juga yang merasa tidak menyayangi tapi merasa rindu. Ini bisa terjadi karena intensitas pertemuan yang mula-mula sering kemudian semakin jarang bahkan bisa jadi tidak pernah bertemu lagi. Misalnya, pada usia-usia remaja seringkali terjadi pertengkaran dengan teman. Ada yang hobi menggoda, ada yang hobi mengganggu, ada yang jail, ada yang usil, sehingga yang diganggu merasa kesal dan benci. Namun ketika si pengganggu tidak lagi mengganggu, dia justru merasa rindu. Kok aku nggak diganggu lagi ya? Kok sekarang begini ya? Nah, lho ..., kalau tidak menyayangi kenapa merindu? Karena ada hal yang berkesan meskipun tidak sayang. Sehingga ketika hal itu tiba-tiba menghilang, yang datang adalah kerinduan.
                Kerinduan kadang begitu menyiksa apabila obatnya sulit ditemukan. Bagi alumni, obat rindu adalah reuni, bagi sebuah perpisahan obat rindu adalah pertemuan atau setidaknya komunikasi jarak jauh. Apa yang terjadi jika semua obat rindu itu tidak bisa dikonsumsi? Bukankah batin akan tersiksa? Bukankah air mata enggan bermuara? Bukankah senyum terasa nestapa? Bukankah tawa terasa hampa?
                Ada 2 hal yang bisa menjadi penawar rindu ketika resep utama di atas tidak bisa ditebus; doa dan tulisan.
1.       Doa
Doa merupakan salah satu cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Doa mampu menjangkau apa yang tak terjangkau oleh tempat dan waktu. Ketika kita merindukan seseorang namun tak mampu mengobati kerinduan dengan berkomunikasi langsung dengannya, maka merengkuhnya dalam doa Insya Allah akan menenangkan gejolak rindu yang menggebu. Satu saja syarat yang harus kita penuhi dalam berdoa, “Jangan meragukan kuasa Sang Mujibu al-Da’awaat”. Artinya, dalam berdoa kita harus yakin bahwa doa kita akan terkabul. Kita harus yakin bahwa seindah dan sesempurna apapun rencana maupun impian kita, Sang Khaliq-lah yang Maha tahu dan Maha kuasa untuk menentukan dan memberikan yang terbaik untuk kita. Maka bisikkan pada-Nya, “Robb, aku merindukannya, aku merindukan suasana itu, maka ijinkanlah hamba-Mu ini bersua kembali dengannya, merasakan kembali keindahan itu dengan kuasa dan iradah-Mu. Engkaulah Yang Maha Tahu mana yang terbaik untukku yang dha’if ini. Titip mereka, Ya Robb, Engkaulah Yang mampu menjaga mereka dengan baik dalam naungan-Mu.”
2.       Tulisan
Seseorang bisa mendadak menjadi pujangga ketika hatinya sedang bahagia atau sedang galau dan merindu. Artinya apa? Dalam suasana hati tertentu, seseorang memilki begitu banyak rangkaian kata dan kalimat indah yang apabila dituangkan dalam tulisan, beban hatinya akan berkurang. Begitu banyak inspirasi yang bertebaran ketika kita sedang berbahagia, kata-kata cinta, kalimat-kalimat manis meluncur begitu saja dalam benak kita. Demikian pula sebaliknya ketika sedang galau ataupu merasa rindu, kalimat-kalimat puitis kadang meluncur begitu saja. Sayang, kan, kalau semua itu tiba-tiba hilang dalam sekejap? Mengapa tidak menulisnya walaupun hanya dalam diary? Setidaknya, bila kita sedang berbahagia, itu akan mengabadikan kebahagiaan kita dan mengingatkan kita suatu hari nanti. Kita akan tersenyum ketika membacanya. “Oh, aku pernah melewati masa-masa indah itu.” Dan apabila kita sedang gundah, setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban agar tidak menggunung di hati.

Tidak menutup kemungkinan, penulis catatan ringan ini sedang merasakan kerinduan. Iya, Nina memang sedang merindu. Ketika raga terpisah oleh luasnya samudera, ketika jarak menjadi dinding untuk bersua, ketika waktu menjadi penghalang sementara untuk bertemu, ketika kesempatan itu belum menjadi jembatan, maka doa dan tulisan yang menjadi pelipur lara.
Berawal dari jumpa
Tumbuh menjadi kasih sayang
Terjaga karena setia
Teruji oleh suka duka
Bersemi dengan cinta
Merindu tuk bersua
Denganmu, keluargaku di Patani Thailand



Kamis, 08 Oktober 2015

Kuliah Perdana Program Pascasarjana IAIN Tulungagung Prodi PBA



KULIAH PERDANA
           
Apa yang terlintas dalam hati ketika mendengar “kuliah perdana”? Tentu semua yang baru; teman baru, dosen baru, kelas baru, dan suasana baru. Adaptasi sangat diperlukan dalam hal ini, apalagi kalau habitat kita berbeda dengan sebelumnya.
            Kuliah perdanaku dimulai pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 di lokal 6 Gedung Pascasarjana IAIN Tulungagung, sebuah gedung meliuk-liuk di miniatur padang Sahara -karena panasnya- yang membentang dari barat Ma’had Al-Jamiah sampai sungai kecil yang apabila menyeberanginya beberapa detik saja kita akan sampai di kampus STKIP. Aku masih ingat sekitar 4 tahun yang lalu tepatnya 20 September 2011 aku pun memulai kuliah perdanaku di Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di lokal T31 (yang saat ini menjadi lokal untuk Fakultas Ushuluddin).
Salah satu hal yang sama yaitu dosen yang pertama kali masuk dan mengajar di kelasku pada hari kuliah perdana adalah Bapak Dr. Ngainun Naim, M.HI. Jika empat tahun yang lalu beliau mengampu mata kuliah Metodologi Studi Islam, kali ini beliau mengampu mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. Satu kalimat yang kucetak tebal dari beliau kemarin adalah ‘setiap kesempatan itu istimewa, berdosa kalau kita tidak mensyukuri kesempatan itu’. Sayangnya kadang kesempatan itu lebih terlihat istimewa di mata orang lain, sedangkan yang mendapatkannya merasa biasa saja, seperti ucapan orang, “Kamu beruntung bisa lanjut kuliah,” sedangkan yang mendapat ucapan itu, “Ah, biasa saja.” Hal ini tidak berbeda dengan ungkapan ‘Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang sehat yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit’.
            Panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat kami dalam mengikuti perkuliahan meski posisi kelas kami seolah dekat dengan matahari. Maklum, kelas kami berada di lokal paling barat, sedangkan posisi matahari pada pukul 14.00 sampai terbenam jelas tidak di timur. Jendela a yang sebagian tidak bisa dibuka, ditambah dengan AC yang hanya bersuara tanpa mengeluarkan angin, semakin menghangatkan kelasku. Pepohonan pun hampir tidak ada, seperti yang kutulis di awal ‘miniatur padang Sahara’ berbeda sekali dengan perkuliahan S-1 dulu dengan lokal yang rindang dan sejuk alami. Wah, terasa sekali perjuangannya. Bukankah jika kita menaiki tangga, semakin ke atas semakin berat? Tapi aku yakin, ‘al-ajru bi qodri al-ta’abi’. Bismillah saja, lalu jalani.
            Perkuliahan jam ketiga diampu oleh Ibu Dr. Salamah Nurhidayati, M.Ag dengan mata kuliah Studi Hadits. Satu hal yang sepertinya sangat beliau sesali adalah kosongnya perkuliahan jam pertama kami yang berdurasi antara pukul 14.00 sampai dengan 15.30 WIB. Andaikan beliau tahu perkuliahan jam pertama kami kosong, tentu beliau mau mengajar pada jam itu karena beliau sebenarnya lebih suka mengajar di waktu pagi sampai sore saja. Sayangnya, kami tidak tahu kalau pada akhirnya Bapak Dr. H. Kojin, MA tidak bisa hadir karena awalnya beliau menelepon dan menyampaikan bahwa beliau akan hadir namun terlambat, karena beliau masih dalam perjalanan dari Kediri pada saat beliau menelepon. Setelah kami tunggu sampai pukul 15.30 ternyata beliau belum sampai. Bapak Dr. Susanto, M.Pd juga berharap ada jam kosong untuk diisi agar bisa pulang lebih awal. Maghrib kemarin beliau sudah mencari kami dan bertanya siapa dosen yang akan mengajar di kelas kami ba’da Maghrib, bila kosong beliau siap mengisi.
            Satu hal yang aku takjub, ketepatan waktu kehadiran dosen pengampu mata kuliah sungguh luar biasa. On time banget. Bila dulu saat kuliah S-1 jadual kuliah pukul 08.40 dosen hadir pukul 09.00, kali ini jadual perkuliahan pukul 16.00 dosen hadir pukul 16.05, perkuliahan pukul 18.30 dosen hadir pukul 18.29, dan perkuliahan pukul 20.00 dosen hadir pukul 20.01. Didikan kedisiplinan langsung terasa di hari pertama.
            Kesanku yang lain, ternyata kuliah malam itu tidak menjenuhkan. Sebelumnya aku paling anti dengan kuliah malam apalagi sampai pukul 21.30. Tapi ketika tidak ada pilihan lain akhirnya aku bisa merasakan serunya kuliah malam. Semoga awal yang baik ini akan menjadi proses yang baik dengan happy ending dan barokah.
            Semangat ... Cintai ... dan Maksimalkan ...
            Semoga semangat kita tak pernah padam
            Semoga cinta kita tak pernah sirna
            Semoga kekuatan kita senantiasa pada titik maksimal
Bi barokatil Faatihah ...