Entri Populer

Jumat, 04 Desember 2015

Sajadah Cinta





Suara merdu hatinya memanggil
Di atas sajadah cinta
Ditemani butir-butir tasbih
Dihias senandung doa
Diiringi melodi kerinduan
Dia... ikhwan sederhana yang cintanya luar biasa
Dia... tak pernah jenuh membawaku dalam doa
Ia genggam erat hatiku seolah tak ingin melepasnya
Ia bawa serta namaku seolah tak ingin lupakannya
Kepada Sang Maha Cinta ia titipkan sebuah nama
Pemenuh separuh nafas dalam mahabbah rindu
Di atas sajadah cinta ia menabung kerinduan
Harap pinta pada Al Waduud
Bersatu dalam ridho dan cinta-Nya

Tembok Besar Cinta




            Skripsi, satu kata dengan tujuh huruf yang terlihat sederhana. Hanya satu kata namun dengan itulah mahasiswa bisa meraih gelar sarjana. Aku baru menyadari bahwa dalam rentang waktu sekitar empat tahun, skripsilah jihad akbar itu. Untuk bisa mengikuti ujian skripsi, mahasiswa harus menuntaskan SKS-nya yang terdiri dari mata kuliah yang harus ditempuh selama enam semester melalui perkuliahan dalam kelas, dan satu semester lagi untuk PPL dan KKN. Tidak cukup sampai di situ karena mahasiswa masih harus mengikuti ujian komprehensif yang seringkali dianggap momok karena mencakup seluruh mata kuliah yang telah ditempuh.
            Skripsiku kuawali dengan perjuangan berat menepis cinta yang baru saja kandas.
Di tengah luka hati, kutuntaskan laporan PPL dan KKN kemudian kuberanikan diri untuk segera menyusun skripsi. Di jurusan Pendidikan Bahasa Arab, mahasiswa yang berhati sehat pun jarang yang nekad masuk gelombang satu, namun tidak denganku. Aku justru terjun ke medan juang meski hati telah berlumuran darah sebelum bertempur. Keyakinan terbesarku adalah skripsi ini yang akan menjadi pelipur laraku.
            Dua kali cintaku kandas selama kuliah. Cinta pertama meninggalkanku karena ia ingin menikah di saat aku masih semester dua dengan kepolosanku. Ketidaksiapanku membuatnya melepasku dan ia menikah dengan wanita yang lebih siap dariku. Cinta kedua meninggalkanku di saat semestinya ia memperjuangkanku karena ketiadaan restu dari ayahnya. Ah, tidak. Apa yang perlu kusesali selain waktu yang terbuang karena mencintai pria yang tidak mau memperjuangkanku dan bukan karena tidak mampu. Dua kali kandas bahteraku dan kini kubatasi hatiku dengan tembok besar cinta. Aku harus skripsi terlebih dahulu.
            “Arju an takuni faizah ula,”[1] Harap dosenku.
            Aku tahu, dosenku yang satu ini sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri. Tidak boleh jika aku mengecewakan harapan besarnya. Aku harus maju ke gelombang satu dan menghapuskan kalimat buruk bahwa anak PBA tidak pernah berani skripsi gelombang satu. Semoga skripsi ini menjadi tembok besar yang akan melindungiku dari kekejaman masa lalu. Aku akan maju untuk mewujudkan impian dosenku, orang tuaku, dan menyambut cinta sejatiku. Cinta yang akan datang setelah tuntas kuliahku.
            Puji syukurku pada Ilahi, karena-Nya skripsiku telah usai meski dengan berbagai rintangan yang tidak jarang membuatku menangis. Entah karena lelah, entah karena jenuh, entah karena sulit menemui dosen, namun kini aku telah menjilidnya untuk kudaftarkan sidang. Tuhan kembali mengujiku hari ini. Di hari pendaftaran sidang, dosenku tidak bisa dihubungi dan aku bingung. Jika aku tidak bisa mendaftarkan skripsiku hari ini maka aku tidak bisa ikut gelombang satu. Syukurlah beliau hadir setelah beberapa jam kunanti dan aku bisa mendaftar. Seminggu kemudian, kulihat skripsiku masih di meja dosenku dan belum didaftarkan ke fakultas. Ternyata ada keteledoran dari pihak yang dititipi oleh dosenku saat dosenku bertugas ke luar kota. Aku sudah down saat itu karena dosenku menyarankanku untuk masuk gelombang dua saja sebab skripsiku terlambat dibawa ke fakultas dan pihak fakultas sudah menolak.
            “Ustadz, apa tidak bisa diusahakan lagi? Saya mohon, Ustadz....” pintaku.
            Alhamdulillah, dua hari kemudian kulihat dalam situs web Fakultas Tarbiyah namaku terdaftar di fakultas sebagai peserta sidang gelombang 1 dari jurusan PBA. Namun tak cukup sampai di sini ujian hidupku. Di hari H, dosen pengujiku dua kali merubah waktu sidang. Jadwal yang diagendakan pukul 16.00-17.00 mendadak diajukan pada pukul 13.00 sedangkan saat itu posisiku jauh dari kampus dan dosen mengabariku pada pukul 12.55. Saat aku bersiap-siap menuju ke kampus, dosen mengatakan padaku bahwa ujian ditunda 2 hari lagi, namun aku masih harus konfirmasi dengan sekretaris penguji. Oh ternyata, penundaan itu masih tanpa persetujuan sekretaris? Parahnya, sekretaris pengujiku tak dapat kuhubungi dan baru  bisa menerima teleponku pada pukul 16.15. Jika ditunda dua hari lagi beliau tidak bisa memberi kepastian dan kemungkinan esok hari beliau bisa.
            Esoknya aku stand by di kampus sejak lagi. Namun parahnya, hari itu hanya ada penguji utama. Ketua dan sekretaris penguji sama-sama tidak ada. Lagi-lagi aku tidak bisa sidang. Pikiranku mulai berantakan. Aku marah, kecewa dan merasa sangat sakit hati. Apakah karena aku the first and the only one lalu dosen penguji bisa semaunya merubah jadwalku tanpa kepastian? Seperti inikah perlakuan dosen pada satu-satunya mahasiswi PBA yang sudah nekad masuk gelombang 1? Salah apakah diriku yang sudah berusaha memperbaiki imej PBA? Ilahi... rengkuhlah aku.
            Saat di masjid aku hendak mengambil air wudlu, kuterima SMS dari temanku bahwa sekretaris pengujiku sudah hadir. Segera aku menemui beliau dan meminta kepastian kapan sidangku. Beliau minta maaf dan mengatakan bahwa esok hari tidak dapat mengujiku karena bertugas keluar kota. Dengan kemuliaan hati beliau yang juga sebagai pembimbing skripsiku, akhirnya aku mendapat nilai sidang dari beliau hari itu juga. Sedangkan besok aku tetap harus sidang dengan penguji utama dan ketua penguji, tanpa sekretaris. Alhamdulillah... nilaiku kumlaud. Aku juga mendapatkan rangkaian doa indah dari lisan pengujiku yang kuamini sepenuh hati.
            Saat aku turun dari ruang sidang, aku mendapat kejutan. Ternyata sekretaris pengujiku tidak jadi ke luar kota. Beliau ada, namun sengaja membiarkanku berjuang sendiri menghadapi bantaian penguji. Lalu, kejutannya adalah seorang pria yang berdiri di belakang sekretaris pengujiku. Ia perlahan menampakkan dirinya dan berdiri di antara aku dan dosenku.
Dia bukan pria asing bagiku. Ia adalah ustadz yang dulu mengajarku saat aku masih duduk di bangku Aliyah. Ia ustadz yang sangat kuidolakan karena kemuliaan akhlak dan pesonanya. Dengan senyum indahnya ia ucapkan selamat padaku yang masih membawa map penilaian sidang yang akan kuserahkan pada sekretaris penguji. Tanpa kuduga pertanyaan terindah ia lontarkan padaku setelah ucapan selamat itu. “Nina, bersediakah kamu jika aku menjadi imammu?”
            “Subhanallah...,” aku merasa sangat terkesima. Aku menundukkan kepala sejenak kemudian menatap sekretaris pengujiku. Beliau memberi isyarat dengan senyum dan anggukan. Aku pun tersenyum dan kutatap ustadz seraya mengangguk.
            Terdengar suara tepuk tangan yang begitu meriah. Saat aku menoleh ke belakang ternyata banyak dosen juga mahasiswa yang menyaksikan adeganku dengan ustadz yang kucinta. Kemudian, dari belakang sekretaris pengujiku datanglah orang tuaku, orang tuanya dan seorang penghulu. Iya. Hari ini juga, sekarang juga, di depan kantor jurusan PBA akan dilangsungkan akad nikahku. Subhanallah, walhamdulillah...
Ilahi... sungguh agung dan indah anugerah cinta-Mu. Tembok besar cinta yang kudirikan, telah melindungiku dari masa lalu yang menghantui. Kini... telah Engkau datangkan jodohku. Inilah detik-detik menjelang pernikahan yang begitu indah setelah banyak rintangan kulalui. Terima kasih, Ilahi, untuk kekokohan tembok besar cintaku.


[1] Saya berharap kamu akan menjadi lulusan terbaik

Kamis, 03 Desember 2015

Hikmah di Balik Keterlambatan



Rabu, 2 Desember 2015, hari itu aku bermaksud mengunjungi perpustakaan kampus untuk menemukan referensi sebagai bahan penyusunan makalahku. Aku ingin berangkat lebih awal agar bisa lebih lama di sana dan memperoleh lebih banyak rujukan. Ternyata kesibukan di pagi hari begitu banyak sehingga aku baru bisa keluar dari rumah pada pukul 08.13.
Aku baru selesai mengenakan flat shoes-ku ketika sebuah bus favoritku berinisial HJ melintas. Bus ber-AC dengan tarif standar dan kru yang cukup ramah merupakan pilihan pertamaku saat ingin terbang ke kampus, baru kalau sudah tertinggal aku ikut bus lain. Rasa sesal cukup meliputiku saat itu. Aku belum menyeberangi jalan raya dan si HJ sudah melintas. Itu artinya aku sudah terlambat sekian detik. Aku pun berandai-andai, andaikan sekian detik yang lalu aku sudah di seberang sana.
Ah, biarlah. Aku pun menyeberang. Tepat saat aku sampai di seberang jalan, sebuah bus kecil berinisial RJ nampak dari selatan. “Bus kecil?” batinku. Bus itu yang akhirnya membawaku. Aku sedikit bertanya-tanya sebenarnya. Biasanya kalau aku sudah tertinggal HJ, aku harus menunggu 10 sekitar 10 menit untuk mendapatkan bus berikutnya (meskipun bukan HJ juga). Tapi, kenapa baru saja HJ melintas, RJ sudah datang? Ada jadwal yang salah kah atau memang keberuntunganku saja yang baru menyeberang langsung bisa duduk.
Seperti biasa kuawali perjalananku dengan lantunan syahadat, asmaul husna, ayat kursi, al Baqarah 284-284-286 kemudian shalawat fatih dalam hati sambil menikmati perjalanan. Tak beberapa lama usai melintasi GOR Lembu Peteng, kulihat si orange HJ rusak di bagian sudut kanan belakangnya, kaca depannya pun pecah. Para penumpang terlihat berdiri di sekitar bus dengan ekspresinya masing-masing. Ada yang terlihat shock, panik, ada yang ekspresinya datar saja. Oh, ternyata baru saja HJ mengalami kecelakaan. Entah bagaimana kronologisnya yang jelas bus itu rusak sekarang. Syukurlah tidak ada korban jiwa, namun tentu menyisakan trauma pada beberapa orang.
Hatiku bergetar. “Ya Allah, aku selalu Kau buat terkesima dengan skenario indah-Mu,” bisik hatiku. Tuhanku Yang Maha Kuasa selalu punya banyak cara untuk menyelamatkanku. Dia tahu aku tidak suka keterlambatan tapi aku dibuat-Nya terlambat untuk bisa selamat. Alhamdulillah, terima kasih telah membuatku terlambat hari ini, Ya Rahman.
Di tengah renunganku Sopir RJ langsung menatapku dan berkata, “Sampean maeng sujune ora melu kui. Wong kacek’e ndak adoh karo iki. Aku arep ngendeki sampean maeng kui nyalip aku. Rodok ugal-ugalan pancene.” (yang nggak paham bahasa Jawa bisa tanya terjemahnya J)
Aku langsung teringat cerita tentang seorang Kyai, sebut saja Kyai A. Suatu hari beliau hendak menghadiri undangan ceramah di suatu tempat. Sayang sungguh sayang, di tengah perjalanan, si sopir yang mengemudikan mobil Kyai A tiba-tiba sakit perut. Sopir pun mencari SPBU terdekat untuk memenuhi hajatnya. Yang namanya sakit perut tentu butuh waktu lama di toilet. Tidak terasa, si sopir sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Kyai A mulai risau dan kesal karena berkali-kali panitia menelepon dan bertanya kenapa belum sampai juga di tempat ceramah padahal jama’ah sudah banyak yang hadir. Kesabaran Kyai A sudah mencapai limit karena terlambat 2 jam. Beliau mengungkapkan kekesalannya pada si sopir yang sebenarnya tidak bersalah karena tidak pernah memesan untuk sakit perut pada jam kerjanya itu.
Hajat si sopir telah tuntas dan ia siap mengemudi untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat ceramah. Sekian kilometer perjalanan berlalu, terlihat sebuah sedan ringsek karena  bertabrakan dengan truk container. Tiga orang penumpang sedan meninggal seketika dan terlihat orang-orang masih berusaha mengeluarkan mereka dari sedan itu.
Seketika, Kyai A meneteskan air mata dan memeluk si sopir. Kalau diperhitungkan, sangat besar kemungkinan sedan Kyai A menjadi korban amukan container yang sopirnya mengantuk itu andaikan sopir Kyai A tidak berhenti lama di SPBU untuk buang hajat.    
Sungguh, indah nian skenario-Nya. Hanya saja kita sebagai manusia seringkali tergesa berburuk sangka, padahal Dia telah menyiapkan segalanya begitu rapi dan indah. Dia punya banyak cara untuk menyelamatkan hamba-Nya, di antaranya dengan keterlambatan kita dari jadwal yang kita rencanakan. Namun, ini bukan berarti kita bisa menyengaja keterlambatan dengan sak karepe dewe, tidak. Selagi bisa, kita tetap harus berusaha untuk on time, andaikan ternyata terlambat, itu sudah di luar kuasa kita.

Hadanallah wa iyyakum, wallahu a’lam