Entri Populer

Selasa, 03 Maret 2015

Memory Idul Fitri di Gajah Putih


            Nina, nama yang terdengar di telingaku ketika orang-orang memanggilku. Sejak lulus dari SMP, aku mulai tinggal jauh dari orang tua karena berdomisili di pesantren hingga aku lulus dari Madrasah Aliyah. Kemudian kulanjutkan studiku ke PTAIN dan aku tinggal di asrama selama satu tahun atau dua semester. Mulai semester tiga aku kembali berdomisili di pesantren yang berbeda dengan yang kutempati saat masih aliyah.
            Tinggal di pesantren membuatku kehilangan momen-momen indah yang biasanya kujalani bersama sang pahlawan hidupku, abi dan bunda. Momen seperti ulang tahun, baik itu ulang tahunku ataupun ulang tahun pahlawanku sudah sering kujalani tanpa kebersamaan karena aku di pesantren dan mereka di rumah.
            Ya. Mesksipun sudah bertahun-tahun aku berada di pesantren akan tetapi belum pernah aku tak berjumpa dengan orang tuaku lebih dari dua minggu kecuali saat abi dan bunda menunaikan ibadah haji. Saat aku masih duduk di bangku Aliyah, jarak Trenggalek-Blitar tak menghalangi langkah abi dan bunda untuk menengok putri tercintanya dua minggu sekali, selama tiga tahun. Saat kuliah, aku memang tak lagi disambang. Akan tetapi aku yang pulang dua minggu sekali dari pesantren karena jarak Trenggalek-Tulungagung bisa ditempuh dalam tiga puluh menit. Selain itu, aturan pesantren yang berbicara. Untuk pelajar Aliyah, hanya boleh pulang sebulan sekali akan tetapi boleh disambang dua minggu sekali. Sedangkan untuk mahasiswi, boleh pulang dua minggu sekali dan tidak ada aturan khusus untuk penyambangan.
            Semester enam ini aku mengikuti program baru dari kampus IAIN Tulungagung yaitu PPL dan KKN terpadu di luar negeri, tepatnya di negara Thailand bagian selatan. Banyak sekali ujian yang kuhadapi sebelum aku berangkat menjalankan tugasku di negeri seberang. Mulai dari sulitnya melobi dosen terkait tugas akhir perkuliahan karena aku berangkat di pertengahan semester enam, jadwal pembekalan yang berbenturan dengan jadwal mengaji di pondok pesantren, banyaknya tugas yang harus kukerjakan dengan deadline yang singkat, dan yang paling ekstrim adalah ucapan seseorang yang kucintai dan mencintaiku di hari terakhir aku kuliah. Dia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa dilanjutkan karena ketiadaan restu dari pihak orang tuanya.
            “Dik, jangan nangis ya!” Pintanya.
            Hati siapa yang tak lara, wanita mana yang air matanya tak berlinang ketika di hari-hari terakhirnya berada di Indonesia dia harus mendengar kabar yang menyakitkan tentang hubungannya padahal ia sangat berharap cinta itu bisa sampai ke pelaminan? Itu yang kurasakan dan kualami di detik-detik jelang kepergianku ke Thailand. Aku terluka di tengah kesibukanku. Aku terjatuh di tengah padatnya aktivitasku. Bahkan laptopku pun ikut rewel seolah mengerti bahwa pemiliknya sedang galau. Aku benar-benar stress saat itu. Di saat hatiku tengah terluka, engsel laptopku patah dan teknisi yang bisa menservis sedang keluar kota. Ditambah, baterai laptopku yang daya hidupnya bergantung pada carger.
            Alhamdulillah, waktu demi waktu berlalu dan satu persatu tugas kuliahku selesai dengan penuh perjuangan. Berjuang di tengah luka yang tersiram air jeruk nipis. Laptopku pun demikian. Mas teknisi bisa mengerti keadaanku sehingga ia mendahulukan servis laptopku daripada yang lain. Ia pun rela kesana-kemari demi mencarikan baterai yang cocok dengan laptopku. Kini tinggal hatiku yang harus kutata. Perlahan tapi pasti, aku mulai berdamai dengan mas Ari, si dia yang melukaiku. Bahkan pagi sebelum aku berangkat pada malamnya, kusempatkan diri untuk ke kampus berpamitan dengan ayah (sapaanku pada salah satu dosen yang sudah kuanggap ayah sendiri) dan teman-teman sekelas yang tentunya ada dia yang kupamiti secara VIP. Aku pun pada akhirnya berangkat dengan tenang untuk menjalankan tugasku ke negeri gajah putih.
            Aku di antar oleh abi, bunda dan adik sampai ke kampus IAIN Tulungagung. Tengah malam aku dilepas oleh wakil rektor dan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat). Usai pelepasan, kupeluk erat bunda, abi kemudian adik yang sangat kusayang. “Kita akan berpisah agak lama,” batinku.
            Salah satu dosen memberikan komando untuk segera naik bus kampus yang akan membawaku dan 19 temanku ke Juanda airport. Kutatap lembut mata dua pahlawanku lalu kuucapkan salam. Sambil berjalan menuju bus, kulambaikan tangan pada mereka.
***
            29 Juni 2014, Ramadhan karim telah tiba. Kuikuti aktivitas pertama di bulan suci ini yaitu shalat tarawih. Kesan pertama, aku langsung teringat tanah suci meski aku belum pernah ke sana. Mengapa? Shalat tarawih di sini dua puluh rakaat dengan bacaan surat seperti di masjidil haram, surat panjang dan bacaan yang tartil. Dua puluh rakaat plus witir berlangsung mulai pukul 20.00 sampai pukul 22.00.
            Inilah pertama kalinya aku shalat tarawih di malam pertama Ramadhan tanpa abi dan bunda. Sahur pertamaku pun demikian. Meski bertahun-tahun aku nyantri, akan tetapi pesantren selalu memberi kesempatan tarawih, sahur dan buka puasa pertama dengan keluarga di rumah. Terasa sangat berbeda tahun ini. Aku baru sadar, aku berada di negeri orang.
            17 Juli 2014, sejak pagi aku dan kawan-kawan didampingi oleh badan alumni Internasional Thailand selatan mengurus perpanjangan visa di Kota Bharu, Malaysia. Banyak sekali rintangan yang menyapa sejak kami masuk ke Malaysia. Kudeta yang terjadi di negeri beribu kota Bangkok ini benar-benar merubah segalanya. Tapi dari sini kami belajar mengasah kesabaran yang berbuah manis pada akhirnya.
            Malam, kami telah kembali ke Thailand dan bermalam di rumah ustadz Hafiz. Usai buka bersama kami bersantai sejenak. Saat itu Ustadz Kafa-yang sejak pagi mendampingi kami-membelahkan beberapa buah durian untuk kami para mahasiswa Indonesia. Setiap kali durian itu habis, beliau bertanya, “Mau lagi?”
            Ah, hatiku langsung sampai ke Kamulan[1] walaupun ragaku di Thailand. Aku langsung teringat abi. Biasanya aku selalu bermanja pada abi saat dibukakan durian. Ucapan “Mau lagi?”  yang diucapkan oleh ustadz Kafa, nadanya sama persis dengan nada tanya abi. Abi, aku rindu.
            Berhari-hari dan berminggu-minggu aku menahan rindu yang kian menggunung. Kabar pulang lebih awal 10 hari yaitu 10 September yang seharusnya 20 September cukup mengguncangkan hatiku. Aku bahagia karena akan segera berjumpa dengan orang-orang tercinta. Tapi di balik itu aku juga bingung karena dosenku telah menanyakan skripsi yang datanya harus dari sekolah tempatku PPL. Bagaimana ini? Saat ini sekolah libur dan baru masuk bulan agustus nanti. Itupun terpotong untuk UTS, sukkan warna[2], dan libur seminggu. Jika kuhitung, hari aktifnya hanya seminggu. Belum lagi kalau badan alumni mengadakan acara untuk mahasiswa. September pun kuhitung aktif seminggu. Total dua minggu. Skripsi macam apa ini?
            27 Juli 2014, kegalauan itu kutepis perlahan-lahan. Aku ingin memikirkan yang bisa kupikirkan, mengerjakan yang bisa kukerjakan. Tugasku hanya berusaha, berencana sebaik mungkin. Hasil itu di luar kuasaku.
 Ah, tak terasa hari ini adalah hari lahirku yang ke dua puluh satu. Oh, sepinya. Tak ada kue tart, tak ada kado, tak ada senyuman abi dan bunda di depan mataku. Aku sendirian di Ramadhan hari ke dua puluh sembilan.
Pukul 08.00 saat kuaktifkan Samsung Galaxi Star pemberian abi, aku mendapatkan kejutan istimewa dalam WhatsApp-ku. Ada video kiriman dari abi yang isinya ucapan selamat ulang tahun juga pesan singkat berisi doa dari keluarga untukku. Allah... andai bisa kukecup tangan mereka. Ternyata tidak cukup sampai di sini, satu persatu teman-teman PPL dan KKN di Thailand juga mengirim pesan ucapan dan doa untukku. Sungguh bahagianya diriku.
Petang jelang berbuka puasa, terdengar klakson mobil. Kubuka jendela kamarku. Terlihat sebuah mobil putih terparkir di depan. Itu kan mobil ustadz Kafa, pikirku. Aku keluar. Saat aku berdiri di depan mobil beliau, kaca mobil turun dan seorang wanita yang tak lain adalah istri ustadz Kafa memberikan sebuah kue tart dengan lilin angka 21 di atasnya.
            “Happy Birthday, Nina” ucap ustadz Kafa bersamaan dengan sang istri.
            Aku terharu, sungguh terharu. Tak pernah kuduga hal ini sebelumnya. Kupeluk istri ustadz lalu kuterima tart berwarna pink berpadu coklat itu. tiba-tiba ada sepasang tangan yang menyekap mataku dari belakang. Dia menuntunku ke sebuah ruangan yang telah dihiasi kertas warna-warni, bunga dan balon. Indah, indah nian dengan semerbak harumnya bunga alami yang bermekaran.  Telah tertata rapi di meja beberapa piring kecil dan sebuah kue besar dengan lilin di tengahnya. Lampu dipadamkan sesaat untuk membaca doa buka puasa bersama-sama kemudian aku memajatkan doa untuk ulang tahunku yang ke 21.
            Aku rindu padamu, Bunda… wanita yang dua puluh satu tahun yang lalu memperjuangkanku untuk terlahir ke dunia ini. Bunda, aku bahagia karena di sini aku memiliki keluarga yang sangat baik padaku. Bunda, Abi… aku selalu memiliki kalian di manapun aku berada.
            29 Juli 2014, kali ini air mata tiada mampu terbendung lagi. lantunan takbir Idul Fitri yang menggema memenuhi relung hati. Ya Allah… benarkah Idul fitri ini tak ada tangan bunda abi untuk kukecup? Di mana pelukan hangat dan lembut dari dua pahlawan hidupku itu Ya Robb? Aku rindu…

إYala, Thailand,  Ni’matul Khoiriyyah
           



[1] Salah satu desa di Kabupaten Trenggalek, sekitar 1 km dari perbatasan Tulungagung-Trenggalek Jawa Timur
[2] Acara tahunan di sekolah-sekolah Thailand semacam PORSENI 

Biar Kukikis Keras Hatimu


نعمة الخيرية
            Gadis anggun itu bernama Aisyah. Dia mahasiswi semester lima  jurusan pendidikan Bahasa Arab di IAIN Tulungagung. Setiap pagi ia kuliah, sorenya memberi bimbingan belajar ekstra untuk adik kelasnya yang semester satu dan tiga. Kabarnya, dia sedang dekat dengan Rafi, ketua HMJ PBA baru yang seangkatan dengannya.
            Suatu hari saat ia selesai memberikan bimbingan belajar, hujan turun begitu deras. Aisyah tidak membawa payung dan ia terbiasa berjalan kaki dari pesantren ke kampus maupun sebaliknya. Hatinya risau bukan karena terlambat pulang akan tetapi merasa kehilangan rutinitasnya di pesantren yaitu mengikuti kajian kitab kuning bersama sang Kyai. Rafi yang kebetulan baru selesai mengurus surat-surat pelantikan di markas HMJ PBA menghampiri gadis yang tampak risau itu.
            “Takut terlambat mengaji?” sapa Rafi.
            Aisyah mengangguk. “Tafsir Jalalain, surat Ar Rahman.” Ucapnya kemudian.
            “Coba kalau nggak ada takzir, aku mau nganter kamu.”
            “Buang jauh-jauh pikiran itu, Rafi. Aku nggak suka.”
            Rafi tersenyum. “Meski nggak ada pengurus yang tahu? Daripada kamu kehilangan surat Ar Rahman.”
            Aisyah tahu ia sedang digoda. Segera ia berpaling dan mencari kelas lain untuk menanti hujan reda. Rafi mengikutinya.  Rupanya gadis itu sedang tidak bisa diajak bercanda. Ia pun minta maaf berkali-kali akan tetapi Aisyah tidak menjawab.
            “Aisyah... aku tahu siapa kamu. Aku kenal kamu sejak sebelum kuliah. Aku cuma bercanda. Afwan.”
            “Kamu jadikan syari’at sebagai bahan candaan, Rafi. Pergilah!” usir gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Jauh di lubuk hati, ia sangat kecewa. Sebenarnya ia telah lama memendam rasa pada sang ketua HMJ karena sosoknya yang sederhana, disiplin dan bertanggung jawab. Dia sangat berbeda dengan yang lain. Ketika ada tugas misalnya, Rafi selalu selesai mengerjakan tugasnya sebelum batas waktu pengumpulan tiba. Hal inilah yang jarang dimiliki oleh mahasiswa lain.
            “Aisyah, kamu menangis?” tanya Rafi terkejut melihat mata gadis itu.
            Aisyah mengarahkan telunjuk kanan ke bibirnya. “Sssst.... Pergilah!” pintanya dengan suara lirih.
            ***
            Semalaman Rafi tidak bisa tidur. Ia terus teringat pada sepasang mata jernih yang dibuatnya menangis. Hatinya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan Aisyah? Mengapa ia menangis hanya karena candaan itu? Apa yang dimaksud syari’at sebagai candaan dalam ucapannya tadi?
            Esoknya ia berangkat pagi sekali. Ia bermaksud mendahului kedatangan Aisyah yang biasanya datang pertama. Akan tetapi penantiannya sia-sia. Gadis itu tak kunjung datang hingga perkuliahan dimulai. Ia baru tahu gadis itu sakit saat Wina menyerahkan surat izin pada dosen.
            “Ya Allah... dia pasti menerjang hujan.” Tebak Rafi dalam hati. Ia kenal betul siapa Aisyah. Fisiknya memang tidak sekuat yang lain. Dia tidak boleh terkena hujan.
            “Win, Aisyah di mana?” tanya Rafi segera saat dosen yang mengajar telah keluar kelas.
            “Di klinik pesantren. Rawat inap.” Jawab Wina. “Kemarin dia nekat hujan-hujanan. Nyampe pesantren dia pingsan. Nggak tau kenapa dia senekat itu. Mungkin ada yang membuatnya marah. Tapi, bukan kamu kan Raf?”
            “Win, kita bicara di luar, ya?” ajak Rafi.
            Di gazebo depan Kopma (koperasi mahasiswa) Rafi bercerita. Ekspresi Wina pun tampak marah, geram padanya.
            “Kamu sebenarnya sayang nggak sih sama Aisyah? Kamu belum kenal Aisyah?” Wina geram. “Raf, Aisyah itu nggak bisa kamu samakan denganku. Kalau sama aku, mau bercanda apa aja terserah kamu. Tapi sama Aisyah, jangan pernah kamu bercanda tentang hukum agama.           Dia orientasinya imam, bukan pacar. Apa pantas seseorang yang akan dijadikan imam menjadikan syari’at sebagai candaan?”
            “Jadi, dia....”
            “Iya. Dia sayang sama kamu, Raf. Tapi dia nggak mau pacaran.”
            Rafi sangat bahagia mendengar pernyataan Wina. Akan tetapi ia juga takut apabila tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan Aisyah. Menyesal rasanya telah melukai hati gadis idamanya. Andai waktu bisa terulang kembali, ia tidak akan mengucapkan kalimat yang membuat mata gadis itu berkaca-kaca kemudian menerjang hujan yang kini membuatnya tergeletak tak berdaya.
            “Mas Rafi, dipanggil ustadz Hari di kajur.” Kata Afandi memberi tahu.
            “Wina, aku ke kajur dulu, ya." Pamit Rafi.
            “Sekalian aku mau balik, nemenin Aisyah.” Balas Wina.
            “Sampaikan permintaan maafku, ya.”
***
            Wina terkejut karena saat dia masuk ke klinik pesantren, ia tak melihat Aisyah di sana. Namun akhirnya ia tersenyum lega karena perawat mengatakan bahwa Aisyah telah kembali ke asrama. Segera Wina menuju ke kamar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja. Ternyata sahabatnya sedang melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan merdunya di kamar sunyi yang penghuninya masih beraktivitas di kampus itu.
            Mengetahui Wina telah datang, Aisyah mengakhiri bacaannya dengan mengecup kitab suci yang selalu menemaninya sepanjang hari. Ia pun menyunggingkan senyum manisnya pada Wina. Meski demikian ia tak dapat menutupi bibir tipisnya yang masih tampak pucat.
            “Nggak usah kuatir gitu ah wajahnya!” kata Aisyah.
            “Siapa yang kuatir? Aku biasa kok.” Balas Wina tersenyum. “Eh, dapat salam dari Rafi.”
            Sinar wajah Aisyah langsung berubah saat mendengar nama itu. entah mengapa kekecewaan gadis itu begitu dalam. Dia benar-benar tidak rela dengan candaan Rafi kemarin sore. Tapi, ada apakah sebenarnya di balik kekecewaan itu?
            “Syah, aku pengen dengerin cerita kamu. Kenapa kemarin kamu sampe nekat hujan-hujanan? Kamu marah sama Rafi? Dia salah apa?”
            Handphone Aisyah bernyanyi. Ia keluar kamar sejenak untuk menerima telepon. Tentu saja hal ini membuat Wina semakin penasaran. Tidak biasanya Aisyah harus keluar kalau hanya menerima telepon. Siapa gerangan yang meneleponnya?
            Beberapa menit kemudian Aisyah kembali ke kamar. Ia menatap sahabatnya dengan lembut kemudian menundukkan kepala. “Nggak lama lagi,” ucapnya pelan.
            “Apa yang nggak lama lagi, Aisyah?” Tanya Wina.
            “Aku akan jadi pengantin.” Jawab sahabatnya singkat yang kemudian disusul dengan tetesan air mata.
            “Apa…? Dengan siapa?”
            “Preman.”
            “Masyaallah, Aisyah… kamu serius? Siapa yang kamu maksud preman itu?”
            Aisyah tidak mampu bercerita. Ia hanya terus menangis dalam pelukan sahabatnya. Wina pun tak berani memaksa mengingat kondisi Aisyah yang belum cukup fit. Tak lama kemudian Zahra, Ana dan Riska, teman sekamar mereka yang berbeda jurusan telah pulang dari kampus.
            “Aisyah, aku cari di klinik nggak ada. Syukurlah kalo udah baikan.” Kata Riska.
            “Win, Aisyah kenapa?” Tanya Zahra.
            “Sssst…. Udah, sebaiknya kita jangan banyak tanya dulu biar Aisyah tenang. Sepertinya dia punya beban yang sangat berat.” Ujar Ana.
            ***
            Esoknya, untuk kedua kali Rafi berangkat awal. Kali ini ia berhasil mendahului Aisyah. Di gedung UPB lantai tiga dekat tangga Rafi mencoba mengajaknya berbicara. Berbekal dengan apa yang disampaikan Wina kemarin, ia bermaksud mengutarakan isi hatinya pada Aisyah setelah minta maaf atas candaannya kemarin.
            “Aku ingin mengenal kamu lebih jauh, Aisyah. Izinkan aku menjagamu.”
            “Maaf, Raf. Aku nggak bisa.”
            “Kenapa? Ada nama lain di hatimu?”
            Aisyah menggeleng. Apapun pertanyaan yang dilontarkan Rafi, ia tak menjawab. Gadis itu terus bungkam, diam seribu bahasa.
            “Aisyah, aku akan terus menunggu sampai kamu berbicara dan sampai aku bisa menerima alasan kamu.” Paksa Rafi lembut.
            “Rafi, plis… aku mau presentasi. Tolong jangan usik pikiranku.”
            “Oke, selepas kuliah kita lanjutkan.” Rafi memang keras kalau sudah memiliki kemauan.
            Pada akhirnya, Aisyah yang semula bungkam pun mau berbicara. Sejak kecil ia diasuh oleh pamannya yang berwatak cukup keras namun memiliki jiwa religi yang kuat. Pamannya ingin menikahkan Aisyah dengan Roy, anak sahabatnya yang pernah nyantri selama 3 tahun di Lirboyo Kediri akan tetapi setelah keluar dari pesantren, ia terjebak dalam dunia gelap karena salah pergaulan. Ia adalah seorang preman yang berjanji mau insyaf apabila diizinkan menikah dengan Aisyah. Dia tidak memaksa untuk menikahi Aisyah. Hanya saja, jika bukan Aisyah yang menikah dengannya, ia akan tetap menjadi preman dan tidak mau insyaf.
            “Kamu mau menikah dengannya?” Tanya Rafi.
            “Maafkan aku, Rafi. Kemarin kamu udah mematahkan harapanku. Paman udah memutuskan, Roy akan menikahiku bulan depan.”
            “Apa maksud kamu, Syah? Jujur, aku belum paham dimana letak kesalahanku kemarin.”
            “Aku hanya diberi waktu sehari. Hanya kemarin. Paman memberiku kesempatan apakah ada pria yang kupandang bisa menjadi imamku. Tapi candaan kamu kemarin benar-benar tidak menghargaiku, Raf. Aku benar-benar kecewa meski sebenarnya aku udah maafin kamu. Ku anggap kemarin nihil dan aku memutuskan untuk mengikuti kemauan paman yang membesarkanku. Aku berharap, pernikahan ini akan membawa Roy ke jalan yang benar. Kalau dia belum bisa menjadi imamku yang baik, biarlah aku yang berusaha membimbingnya.”
            “Aisyah… apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku? Aku sangat tidak rela kamu menikah dengan Roy. Aku nggak rela dia menyakiti hati kamu. Beri aku kesempatan, Aisyah.”
            “Maaf, sebaiknya fokuskan fikiran kamu untuk HMJ PBA. Minggu depan kamu dilantik, dan ketua HMJ tidak boleh berstatus menikah. Masa bakti kamu satu tahun, Raf, dan aku menikah bulan depan. Nggak ada alasan bagiku untuk mengingkari apa yang udah kuputuskan. Manusia itu hina bukan karena menikah dengan orang yang salah, tapi manusia itu hina ketika ucapan dan perbuatannya tak senada. Aku udah memutuskan untuk membangun cinta dengannya. Aku akan belajar mencintainya. Cinta itu yang akan berperan sebagai air yang terus menetes di atas kerasnya batu. Doakan yang terbaik untukku dan Roy. Aku akan doakan yang terbaik pula untuk kamu. Yakinlah, Rafi, tulang rusuk tidak akan tertukar.” Jelas Aisyah sembari menahan butiran mutiara dari matanya.
            “Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku hargai dan aku terima. Semoga Roy benar-benar mau berubah. Kamu wanita yang hebat, Aisyah. Semoga Roy akan menjadi imam yang baik, dengan dukungan dan cinta kamu.” Ujar Rafi.
            “Aamiin Yaa Robb….” Aisyah tersenyum sebelum kemudian meninggalkan Rafi karena ada jam bimbingan belajar untuk semester tiga.
            Usai memberikan bimbel pada adik kelasnya, Aisyah menuju ke kajur untuk memberi kabar pada ustadz Hari tentang rencana pernikahannya. Ustadz yang selama ini melihat kedekatan Aisyah dengan Rafi itu cukup terkejut dengan kabar yang disampaikan mahasiswi kesayangannya. Tidak menyangka, paman Aisyah akan menikahkannya dengan santri yang salah pergaulan. Namun semua kembali pada konsep bahwa kita harus senantiasa positive thinking dalam segala hal sembari berusaha maksimal dan disertai doa. Sebagaimana kisah Ibnu Hajar yang luluh saat melihat terkikisnya batu karena tetesan air yang istiqomah.
            “Nduk, kalau itu sudah jadi keputusanmu, Ustadz hanya bisa membantu dengan dukungan motivasi dan doa. Tuluskan hatimu dalam membimbingnya. Cinta itu akan bersemi dan tumbuh dengan subur seiring berjalannya waktu. Sirami cinta itu dengan perhatian dan kesetiaanmu. Insyaallah, dia akan diluluhkan oleh Allah. Ustadz yakin, jiwa santrinya masih ada. Siapa tahu kelak dia menjadi sosok besar seperti almarhum ustadz favoritmu, Uje.” Harap ustadz Hari.
            “Aamiin Yaa Robb…. Aisyah mohon restu, Ustadz.”
            “Baarakallah laki wa lahu. Pandai-pandailah membagi waktu, untuk studimu dan untuk keluarga kecilmu.”
            Sebelum berpamitan, Aisyah mengajukan permohonan izin untuk tidak ikut perkuliahan selama 2 minggu. Seminggu sebelum akad, dan seminggu setelahnya. “Terima kasih, Ustadz. Assalamu ‘alaikum.”
***
            Hari pernikahan itu tiba. Aisyah belum terlalu mengenal Roy. Ia memang tak pernah dekat dengannya. Ia hanya tahu Roy nakal. Itupun dari pamannya sendiri. Aisyah tampak tenang sekali hari itu. Hatinya baru berdebar saat pamannya melafalkanIjab. Hal yang tak terduga, Roy begitu lancar melafalkan Qabul dalam bahasa Arab yang menghalalkannya duduk bersanding dengan Aisyah di singgasana pengantin. Usai Ijab Qabul terlafalkan, Aisyah masih belum percaya kalau ia harus mengecup tangan pria berjas putih di sampingnya. Ia begitu kaku, namun kini ia telah sah menjadi istri dari pria yang duduk di sampingnya. Tak ada alasan baginya untuk menolak mengecup tangannya.
            Dengan membisikkan lirih lafal basmalah, Aisyah mengecup tangan suaminya yang kemudian disusul dengan kecupan suami Aisyah di keningnya. Rasa haru tiba-tiba muncul. Aisyah meneteskan air mata saat Roy mengecup lembut keningnya. Dalam hati, Aisyah mengatakan, “Ya Allah… aku jatuh cinta.”
            Suasana berubah menjadi haru saat hadirin melihat tetesan air mata Aisyah. Paman dan bibi serta mertuanya sangat bersyukur melihat Aisyah yang setulus hati berkenan mendampingi Roy yang dikenal sebagai preman itu. Sayang, orang tua Aisyah telah tiada pada hari di mana Arsy berguncang dengan terlafazkannya Ijab Qabul yang mulia. Kini Rafi telah rela melepas gadis impiannya sebagaimana Aisyah yang telah rela menerima Roy.
            Pesta telah usai dan kini saatnya Aisyah berpamitan pada paman dan bibinya untuk tinggal di rumah Roy. “Aisyah pamit, Paman. Doakan Nduk bisa menjadi istri sholihah.”
            “Pasti, Nduk. Paman doakan kamu dan suamimu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah, keluarga yang saling mengisi dan saling menguatkan, semoga kalian bahagia.” Paman menepuk pelan bahu kanan Aisyah kemudian memegang kedua bahu Roy. “Roy, Aisyah sudah menjadi tanggung jawabmu. Jalankan kewajibanmu sebagai suami dan penuhi haknya sebagai istrimu.”
***
             “Mas Roy….” Sapa Aisyah saat tiba di rumah barunya.
            “Hm…. Mas?” balas Roy takjub.
            “Iya. Dinda panggil Mas, boleh?”
            “Dinda…?” Roy berpikir sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Iya, Dinda.”
            Hari-hari mereka diisi dengan perkenalan karena pada dasarnya mereka masih sama-sama asing. Aisyah hanya tahu sedikit tentang Roy dan Roy hanya tahu sedikit tentang Aisyah namun langsung ingin menikahinya. Benar saja, saat ini keduanya mulai jatuh cinta. Aktivitas mereka seperti muda-mudi yang sedang pacaran, namun pacaran mereka berstatus halal.
            “Dinda….” Ucap Roy suatu sore di sova ruang keluarga sambil merangkul Aisyah.
            “Iya, Mas….” Jawab Aisyah lembut.
           “Dinda tahu, sebenarnya aku ini bukan orang baik. Bahkan aku berniat untuk terus teledor selepas akad nikah. Tapi….”
            “Tapi kenapa, Mas?”
            “Pesona kelembutanmu, Dinda, membuatku luluh tak berdaya. Rasanya aku tak pantas lagi untuk menjadi preman, sedangkan aku memiliki bidadari seindah kamu. Dinda, maafkan aku yang belum berani mengimami shalatmu. Aku malu, Dinda. Aku pernah mabuk-mabukan, aku pernah berjudi, aku pernah berpacaran. Sungguh aku tidak pantas menjadi suamimu, Dinda.”
            Aisyah menatap suaminya dengan lembut kemudian meletakkan telunjuknya di bibir suaminya. “Sssst…. Mas, nggak ada manusia yang sempurna selain Rasulullah. Kalau Dinda salah bergaul, Dinda juga bisa seperti Mas sebelum menikah. Yang penting, sekarang Mas sudah berubah dan tidak akan kembali seperti dulu lagi. Kalau Mas belum berani mengimami Dinda, tidak apa-apa. Yang penting, Mas tidak meninggalkan shalat. Pintu taubat selalu terbuka, selagi nyawa belum sampai kerongkongan. Dinda akan selalu mendampingi Mas.”
            Roy mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. “Beruntungnya aku memilikimu, Dinda. Alangkah bahagianya anak-anakku memiliki ibu bidadari seindah kamu.” Celetuknya.
            “Anak-anak?” kening Aisyah berkerut.
            “Iya, Dinda Sayang….”
            “Berapa?” Tanya Aisyah.
            “Satu lusin.”
            “Jangan, Mas!”
            “Berapa?”
            “Satu kodi, hehe.”
            “Yakin?”
            “Enggak.”
            Demikianlah hari-hari manis mereka. Perjalanan membangun cinta yang saling mengisi. Luluhlah keras hati Roy melalui kelembutan hati Aisyah, istrinya. Kini ia benar-benar memenuhi janjinya untuk insyaf setelah menikah.
            Wanita…
            Lembutmu adalah kuatmu
            Tiada di dunia ini perhiasan yang lebih indah
            Dari pesona seorang wanita shalihah