Entri Populer

Senin, 03 Februari 2014

Bila Cinta Tak Senada Dengan Irodah-Nya


Bila Cinta Tak Senada Dengan Irodah-Nya
                Pada pembahasan sebelumnya saya nyatakan bahwa cinta harus memiliki. Namun apakah pernyataan “harus” ini berarti sudah pasti kita bisa memiliki orang yang kita cinta? Tentu tidak. Kadang cinta berbenturan dengan restu orang tua, cinta tak sejalan dengan cita-cita atau yang paling fatal adalah kehadiran orang ketiga.
                Perjalanan cinta sudah pasti tak selalu mulus. Seorang teladan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib saja ketika mencintai putri Rasulullah harus berkali-kali mengurungkan niatnya untuk melamar sang putri karena Sayyidah Fatimah telah dilamar oleh Abu Bakar ra, kemudian Umar ra. Perjalanan cinta merupakan bagian dari perjalanan hidup yang kadang berliku dan menanjak, ada kerikil dan batu, ada traffict light, ada rambu-rambu sama ketika kita berlalu lintas.
                Nah, bagaimana ketika cinta kita pada seorang insan ternyata berbenturan dengan restu orang tua? Pelajari dulu apa alasan orang tua menolak pilihan kita. Jika alasannya masih berkecimpung pada tema harta, tahta dan rupa, saya rasa itu tidak syar’i. Tambahkan saja porsi kegigihan Anda untuk mengambil hati orang tua. Jangan sekali-kali ada keinginan untuk menikah tanpa restu. Memang yang menjalani pernikahan adalah anda, tapi sekali-kali jangan abaikan restu ayah dan ibu. Saya bukan tipe orang yang percaya karma tapi saya yakin “Faman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarahu.” Tapi jangan samakan hal ini dengan hukum karma. Saya juga percaya “Birru aba’akum tabirrukum abna’ukum”, jika kita berbakti pada orang tua maka kelak anak-anak kita akan berbakti kepada kita.
                Sekeras-keras hati seseorang, walaupun sedikit pasti masih ada kelembutannya. Lihatlah, sekeras-kerasnya Fir’aun, dia menyayangi Musa kecil. Apalagi orang tua kita bukan Fir’aun, mengapa tak mau gigih mengambil hatinya?
                Jika saya katakan “orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya”, mungkin ada yang menyanggah “ada orang tua yang menginginkan kebahagiaannya sendiri”. Maka saya ganti dengan redaksi, “orang tua yang takut kepada Allah pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.” Nah, jika sudah begini sekali lagi pelajari apa yang membuat orang tua Anda menolak pilihan Anda. Jika alasannya tidak syar’i, Anda berhak memperjuangkan pilihan Anda. Tapi jika orang tua Anda ternyata lebih mengenali siapa orang yang Anda pilih dan orang tua tahu bahwa pilihan Anda akhlaqnya na’udzubillah, hanya baik saat bersama Anda, maka Anda harus dengan legowo merelakan pilihan Anda untuk keluar dari hati suci Anda.
Ingat, cinta boleh buta asalkan tidak buta agama. Apa maksudnya? Cinta boleh tak memandang harta, tahta dan rupa tapi jangan sampai cinta tak memandang agama. Cinta tanpa agama akan binasa. Bukan rumah tangga sakinah yang diraih tapi malah rumah tangga yaumul qiyamah bila cinta Anda tak mengenal agama. Untuk wanita, pilih calon imam yang sekiranya bisa membimbing Anda. Paling tidak, dia mampu mengimami Anda shalat. Bagi pria, pilih wanita yang sekiranya mampu menjadi makmum terbaik Anda, mampu menjaga harga diri dan kehormatannya ketika Anda harus pergi.
Nah, bagaimana jika Anda tetap gagal memperjuangkan cinta Anda di hadapan orang tua sedangkan alasannya tidak syar’i? Sekali lagi saya tegaskan “Jangan sekali-kali ada keinginan untuk menikah tanpa restu.” Bisa jadi orang tua Anda punya firasat tidak baik mengenai pilihan Anda. So... move on, relakan si dia, putuskan secara baik-baik, beri dia pengertian. Barangkali si dia memang bukan jodoh Anda. Anda harus yakin bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk Anda, tinggal menunggu saat pertemuan.
Ketika cinta tak sejalan dengan cita-cita, apa yang harus kita lakukan? Jika masih bisa menyelaraskan cinta Anda dengan si dia, mengapa tidak? Coba selaraskan. Apa cita-citanya dan apa cita-cita Anda kemudian pikirkan apakah dua cita-cita berbeda itu memungkinkan Anda untuk berumahtangga dengannya. Jika sekiranya memungkinkan, Anda bisa menikah dengannya. Jika tidak memungkinkan, lagi-lagi Anda harus move on... putuskan dengan baik.
Berbicara tentang cinta tak sejalan dengan cita-cita, saya rasa ini juga berhubungan dengan “cinta dan penantian.” Adakalanya pria telah siap tapi wanita belum atau sebaliknya. Bila salah satu dari kedua belah pihak belum siap, tentu harus ada yang namanya “penantian”. Banyak orang mengatakan “menunggu itu membosankan”, “menunggu itu melelahkan”. Bisa jadi. Saya tipe orang yang on time dan tidak suka menunggu bila dikejar deadline. Contoh riil saja, saya berdomisili di pesantren Sirojut Tholibin, kurang lebih 700 meter dari IAIN Tulungagung. Ketika ada perkuliahan jam ketiga yang dimulai pukul 10.20 WIB, pasti saya sudah persiapan sejak pukul 09.15. Sebelum pukul 10.00 saya sudah siap berangkat. Jarak tempuh dari pesantren ke kampus dengan jalan santai kurang lebih lima belas menit. Jika pukul 10.00 teman-teman belum juga keluar kamar, saya seringkali memilih berangkat sendiri daripada saya harus menanti mereka dan terlambat berjamaah. Mengapa? Saya lebih suka stand by lebih dahulu sebelum dosen masuk kelas karena di antara adab murid adalah datang lebih awal dari gurunya.
Apa hubungannya dengan cinta? Masalah cinta, saya punya target sendiri yang biasanya saya merevisinya setiap ulang tahun saya. Seperti yang pernah saya alami sekedar tahadduts binni’mah, saya pernah menjalin asmara dengan salah seorang dosen muda selama beberapa bulan. Selama itu hubungan kami baik-baik saja. Tidak pernah ada pertengkaran, perselisihan, kemarahan, semua berjalan baik. Sikap dewasanya mampu mengimbangi kemanjaan saya. Diskusi pun menjadi hobi kami. Namun kisah itu harus berakhir singkat bukan karena pertengkaran atau apapun melainkan hanya karena “penantian”. Dosen saya tidak sanggup jika harus menanti saya hingga lulus kuliah. Saya pun dengan rela hati melepasnya karena saya memang tidak pernah meminta beliau untuk menanti. Saya yakin, “jika jodohku pasti tak keberatan menantiku tanpa kuminta”. Saya pun santai saat itu. “Jika Anda berkenan menanti, Alhamdulillah, saya pun akan menjaga hati untuk Anda. Tapi jika Anda tidak berkenan menanti, monggo, saya persilahkan Anda melangkah dengan yang lain.” Batin saya.
Saya punya pegangan, “Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah perjuangan atau pengorbanan.” Jika saya mencintai seseorang maka saya tidak akan memintanya untuk menanti. Cukup saya katakan, saya akan siap menikah tahun sekian. Jika dia berkenan menanti, Alhamdulillah. Jika tidak, fala ba’sa. Cinta itu mengambil kesempatan. Ketika ada kesempatan menikah tahun sekian, apakah saya ambil kesempatan itu atau tidak. Jika tidak maka saya harus rela mempersilahkan yang lain untuk mengambil kesempatan itu.  Cinta adalah perjuangan. Ketika saya mencintai dia, saya harus berjuang bersamanya untuk bisa bersatu dalam pernikahan. Ketika saya dengan alasan tertentu tidak bisa memperjuangkan cinta itu maka saya harus mengorbankan. Saya harus merelakannya dengan yang siap menikah di tahun yang dia inginkan.
Galau? Pasti. Sedih? Iya. Menangis? Mungkin sekedar beradaptasi dengan suasana baru tanpa perhatiannya. Semua itu wajar kita rasakan saat kita kehilangan orang yang kita cintai. Namun saya punya prinsip, selama saya belum menikah, saya tidak akan mencintai seseorang seratus persen. Mengapa? Karena yang boleh saya cintai seratus persen adalah suami saya nanti.
                Saat kehilangan… Galau boleh asal tidak berlebihan. Menangis, boleh asal tidak mengganggu ketenangan orang. Sedih, boleh asal tidak mengurangi semangat belajar.  Semua itu wajar dirasakan ketika putus cinta. Apalagi saya yang saat itu benar-benar menikmati jalinan asmara walau hanya beberapa bulan. Tentu berat yang saya rasakan. Bagaimana tidak, perpisahan kami hanya karena tidak sabar menjalani penantian. Bukan karena pertengkaran apapun. Saya sempat marah saat itu, tapi hanya melalui tulisan kemarahan itu saya ungkapkan. Saya tak pernah bisa marah di hadapan dosen saya. Saya selalu menganggap keputusan beliau adalah yang terbaik untuk kami. Menangis? Alhamdulillah saya selalu bisa menyembunyikan air mata saya. Tanya saja siapa yang melihat saya menangis saat ditinggal menikah, hehe… pasti tak ada yang melihat.
                Apa hubungan cerita saya dengan restu orang tua? Jelas berhubungan. Dosen saya mengutamakan restu orang tuanya untuk segera menikah di tahun itu. Sedangkan orang tua saya belum mengizinkan saya menikah karena KTP saya saja baru berusia setahun. Yaps… saat itu usia saya masih 18. Masih bau aliyah. So… kami mengutamakan restu orang tua dan ridho Ilahi. Jika jodoh pasti tak kemana, jika kemana-mana berarti bukan jodoh, hehe… walhamdulillah sekarang saya sudah ridho dengan takdir indah itu.
                Nah, bagaimana jika cinta bertemu dengan orang ketiga? Hm… ini baru masalah besar. Dari istilahnya saja sudah berkonotasi tidak baik. Telusuri dulu akar permasalahannya. Sebesar apa pengaruh si orang ketiga itu bagi dua sejoli. Apakah orang yang Anda cintai (sebut saja A) cenderung kepada Anda atau pada si orang ketiga (sebut saja B). jika cenderung kepada Anda, berjuanglah bersama-sama untuk mengatasi si B. caranya? Tunjukkan bahwa cinta Anda lebih baik bila bersatu dengan cinta A. Penting juga menguatkan hati A bahwa dia lebih baik bersatu dengan Anda. Jika Anda dan A sudah sama-sama yakin, hadapi si B dengan kekuatan berdua. Jangan lupa berdoa agar Allah menyadarkan si B untuk mengalah dan move on dari A. kalau A lebih cenderung pada B, hm… mumpung belum menikah, lepaskan saja. Khawatir kalau setelah menikah nakal lagi. Tapi jika Anda strong dan mampu mengambil kembali hati A, monggoterusno. Tapi Anda tetap harus waspada dengan orang ketiga. Dia badai yang setiap saat bisa menerjang bahtera Anda.
                Saat cinta tak senada  dengan Irodah-Nya, kuatkan iman dan taqwa, tambah porsi sujud dan tetaplah melangkah di jalur yang benar. Jangan sampai keadaan ini membuat Anda jauh dari Sang Maha cinta. Jika Anda jauh, mungkin tetap akan ada pengganti tapi dia tidak akan membuat Anda lebih baik. So, dekati terus Sang Maha cinta. Insyaallah, Dia akan hadirkan sosok tebaik untuk mendampingi Anda yang membuat Anda semakin tenang menjalani hari-hari. Semoga cinta kita sejalan dengan Irodah-Nya. Aamiin
                Hadanallah wa iyyakum, barakallah lana wa lakum
By:  Ni’matul Khoiriyyah
Kamulan, 19 Januari 2014

Cinta Harus Memiliki


Cinta Harus Memiliki*
            Tak ada gading yang tak retak. Ungkapan ini menandakan bahwa tiada manusia yang sempurna. Namun kadangkala kita selalu menuntut kesempurnaan. Memang sempurna itu indah namun tiada lagi manusia sempurna setelah Rasulullah SAW.
            Saat kita mencintai kadang kita ingin dicintai apa adanya. Akan tetapi kita tak sadar bahwa kita masih menuntut ini-itu dari orang yang mencintai kita. Apakah layak kita mengharap dicintai apa adanya sementara cinta kita masih bersyarat? Logiskah itu?
             Cinta adalah pengindah segalanya. Cinta selalu melihat sisi keindahan dan dapat menerima kekurangan. Cinta selalu mampu memaafkan. Lihatlah orang yang sedang dilanda cinta pasti hanya tahu yang indah-indah saja dari orang yang dicintainya. Pabila ada sisi kekurangan dalam diri yang dicinta, sang pecinta selalu memaklumi dan memaafkan.
            Mata cinta selalu memuliakan. Love is respect. Cinta itu menghormati. Seseorang yang sederhana akan terkesan istimewa bagi yang mencintainya. Kehadirannya selalu diharapkan. Bila ia pergi selalu dirindukan. Sang pecinta pasti respek kepada yang dicinta. Bila respek itu tak ada maka itu bukan cinta.
            Kita adalah pemuda-pemudi Islam di zaman yang sudah tua. Sejauh yang saya tahu tak ada kaum muda yang tak memiliki ketertarikan kepada lawan jenis karena memang Allah menciptakan manusia dengan bermacam-macam karakter Litaaarafuu agar mereka saling kenal-mengenal dan Allah juga menjadikan mereka berpasang-pasang Azwaajan Litaskunuu ilaiha.  Untuk itu sebagai muslim yang baik apabila rasa cinta menyapa hendaklah perasaan yang fitrah itu dijaga. Love is respect, jika cinta dia maka hormati dia. Jangan sentuh dirinya, jangan ajak dia berduaan, jangan ajari dia berpikiran kotor. Bila telah siap, khithbahlah lalu ikuti sunnah Rasul yang agung, menikahlah.
            Ingatlah, sebelum akad terucap semua keindahannya belum halal kita miliki. Sebelum akad terucap semua ekspresi cinta belum halal dicurahkan. Sebelum akad terucap semua kata-kata manis kita adalah racun bagi keimanan. Hendaklah kita menjaga ucapan, perbuatan dan hati agar cinta tetap suci. Memang cinta adalah fitrah Ilahiyah, namun bila cinta itu tak terkontrol ia akan berbalik menjadi nafsu syaithoniyah yang menjerumuskan kita ke dalam lembah kehinaan.
Kita harus sadar bahwa cinta adalah senjata ampuh syetan untuk melumpuhkan keimanan dan ketaqwaan. Lihat kisah cinta putra-putri manusia pertama di dunia yang berakhir tragis dengan terbunuhnya Habil oleh saudaranya sendiri, Qabil demi Iklima. Lihat kisah di zaman Nabiyullah Yusuf as. Seorang permaisuri raja, Zulaikha, hampir saja merelakan kehormatannya demi cintanya pada Nabi Yusuf as. Lihat kisah cinta yang paling masyhur di dunia, Romeo and Juliet. Apa alasan mereka bunuh diri? Demi cinta. Apakah Islam mengajarkan membunuh ataupun bunuh diri ketika kita tak mampu memiliki orang yang kita cintai? Naudzubillah. Cinta Romeo and Juliet bukan cinta yang fitrah lagi. Cinta mereka telah terkontaminasi oleh nafsu syaithoniyah. Lalu pantaskah kisah yang seperti itu dikagumi dan diagung-agungkan?
Zaman ini sudah semakin tua. Ibarat hari, zaman kita sudah senja. Sebentar lagi malam gelap. Kita harus membentengi diri dan berbekal cahaya agar tidak tersesat. Cahaya keimanan pada Ilahi harus kita raih demi terjaganya kesuciaan cinta. Jangan mencintai orang yang tak punya iman kecuali kita siap menginsyafkan. Inilah saatnya kita Ishlahun nafsi, berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang berakhlaqul karimah. Seburuk-buruknya peringai seseorang, ia tetap menginginkan orang yang baik untuk menjadi pasangan hidupnya.
Lalu bagaimana cinta yang baik itu? Cinta yang baik adalah cinta yang disandarkan pada ridho Sang pencipta cinta itu sendiri, Allah. Bagaimana menyandarkan cinta kepada Allah? Maaf, saya tidak sedang membicarakan cinta sebagai ukhuwah dan cinta kepada tokoh. Ini adalah cinta antara dua insan berlainan jenis, satu dari kaum Adam, satu dari kaum Hawa. Dalam hal ini saya nyatakan  dengan tegas, Cinta harus memiliki dengan cara yang baik, bila cara terbaikmu tak mampu memiliki dia yang kaucinta maka berhentilah mencintainya. Bila ada pernyataan Cinta tak harus memiliki maka itu cinta yang harus dihentikan. Itu hanya cinta yang menguruskan tubuh Anda karena tak doyan makan, atau sebaliknya itu cinta yang membuat Anda obesitas karena selera makan meningkat sangat tinggi sebagai ekspresi stress akibat terluka.
Cinta harus memiliki adalah motivasi positif untuk terus bersemangat memperjuangkan calon pasangan Anda agar dapat bersatu dengan Anda dalam rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Mengapa? Karena setiap mendengar ungkapan Cinta tak harus memiliki logika saya langsung mengatakan Itu cinta yang gagal atau itu cinta yang lemah, kata-kata itu biasanya diucapkan oleh mereka yang patah hati karena putus cinta. Putus cinta itu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah sudah putus tapi masih cinta. Hehe... semestinya kita berusaha memiliki cinta itu dengan cara yang baik. Kita berusaha memperjuangkan, meraih dan memiliki cinta itu dengan cara yang benar menurut  agama dan negara. Bila cara terbaik sudah digunakan, bila perjuangan cinta sudah maksimal, usaha, doa, dan tawakkal sudah dilakukan namun kita tak mampu memiliki, so... inilah saatnya kita berhenti mencintai si dia.
Tuhan terlalu kejam karena tidak mengizinkanku memiliki si dia, katanya. TIDAK. Allah begitu baik dan cinta pada kita. Ingat, cinta tak selalu dicurahkan dengan hal-hal yang manis di mata kita. Bukankah ada seorang ibu yang begitu mencintai anaknya, ia tidak enggan memberikan jamu yang sangat pahit demi kesehatan anaknya? Bukankah ibu yang menyayangi kita harus menyapih kita di usia dua tahun? Apakah itu kejam? TIDAK. Ketika saya amandel dan orang yang mencintai saya melarang saya untuk minum es, mengkonsumsi makanan yang terlalu berminyak dan pedas, lalu itu berarti dia kejam? TIDAk. Justru saya katakan dia kejam ketika membiarkan semua makanan terlarang itu saya konsumsi. Sekali lagi, cinta tak selalu dicurahkan dengan hal yang manis di mata kita. asaa an takrahuu syaian wa yajalallahu fiihi khairan katsiira, asaa an takrohuu syaian wahua khairun lakum.
Ingat, kegagalan dalam memperjuangkan cinta itu bisa jadi teguran Allah bagi kita untuk memperjuangkan cinta yang lain. Berhentilah mencintai saat tak mampu memiliki karena dia bukan hakmu lagi. Ada nasikh ada mansukh, ketika ada ayat nasikh, jangan gunakan ayat yang mansukh, ketika Anda gagal maka percayalah ada kesempatan untuk berhasil di waktu yang lain. Jangan sia-siakan waktu untuk meratapi pintu hati yang telah terkunci untuk Anda dan telah hilang kuncinya.
Cinta harus memiliki dengan cara yang diridhoi oleh-Nya. Jangan ragu untuk berhenti mencintai dia yang tak mampu Anda miliki dengan perjuangan dan cara terbaik Anda. Yang Maha Cinta akan memberikan cinta lain untuk Anda jika Anda selalu sibuk dengan ishlahun nafsi. Pabila cinta itu telah Anda miliki, jagalah amanah itu. Jaga cinta itu agar tetap pada fitrahnya. Jangan sampai cinta yang kita miliki menjadi sarana nafsu syaithoniyah untuk membinasakan kita.
Cinta suci tidak menggalaukan
Galaunya cinta suci karena takut melakukan dosa
Cinta suci selalu mengutamakan iman
Cinta suci selalu mengharap ridho Ilahi

* Nimatul Khoiriyyah_PBA V B_IAINTA
(Kamulan, 17 Januari 2014)