Entri Populer

Sabtu, 16 Juli 2016

Setetes Embun Cinta



Setetes Embun Cinta
By Ni’matul Khoiriyyah

Qothrunnada namanya, ketua kelasku, PBA 2 C, Si Manis pecinta warna ungu dan pink yang selalu gelisah bila ada yang mendahuluinya mengumpulkan tugas ke dosen. Ia terlihat manja namun cekatan. Setiap tiba jam pergantian mata kuliah ia segera berlari ke kantor untuk menjemput dosen yang akan mengajar. Mungkin dulu pernah nyantri di pesantren salaf, pikirku. Takdhimnya pada dosen layak diacungi jempol. Seperti namanya, Qothrunnada memang laksana tetesan embun yang selalu jernih dan menyejukkan.
Tanpa sadar, aku telah memperhatikannya diam-diam. Ia sangat menghargai waktu. Kalau tidak percaya, coba saja buat janji untuk bertemu dengannya. Jangan lupa pasang CCTV. Bisa kupastikan, Nada akan hadir sekitar dua puluh menit sebelum waktu yang kaujanjikan dengannya. Kalau berjanji akan bertemu dengannya jam delapan, jangan coba-coba berangkat dari rumah jam delapan, jangan! Kamu akan malu sendiri, karena jauh sebelum jam delapan dia sudah tiba.
Tak hanya itu, dia juga lihai dalam merampungkan tugasnya. Wanita bergolongan darah A biasanya memang sangat rapi dalam mengatur jadualnya. Kapan ia akan bekerja, kapan ia akan bersantai. Bahkan sempat aku mengintip jadwal harian yang terselip dalam buku agendanya. Mungkin tidak sengaja terbawa ke kampus. Dari pukul 03.00 dini hari sampai pukul 23.00 semua jadualnya tercatat rapi.
Semakin lama aku semakin mengaguminya hingga akhirnya aku melakukan istikharah dan aku merasa yakin, inilah bidadari yang selama ini kucari. Sudah ada di dekatku selama ini. Satu kelas dalam perkuliahanku strata satu.  Wanita seperti Nada lah yang kuharapkan menjadi ibu dari anak-anak sholehku kelak, Insyaallah.
“Ketua kelas, tolong catatkan untuk saya nama teman-teman yang datang terlambat di perkuliahan saya hari ini,” pesan Pak Rahman sebelum meninggalkan kelas. “Kalau sudah, langsung bawa ke ruangan saya.”
“Baik, Ustad,” jawab Nada singkat.
Semua keluar setelah Pak Rahman meninggalkan lokal perkuliahan. Hanya ada Nada yang masih merekap nama-nama mahasiswa yang terlambat, dan aku yang ingin sejenak berbicara dengannya. Aku sudah yakin dengan pilihanku, dan aku yakin ini saatnya aku mengatakan yang sejujurnya.
“Nada,” sapaku. “Boleh aku minta waktu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan.”
“Nanti ya, setelah kuserahkan kertas ini ke Ustad Rahman,” ujarnya sambil menunjukkan rekapan yang dipesan dosen.
“Sebentar saja, Nada. Nggak sampai lima menit kok.”
“Maaf, Faruq, tadi ustad pesan ‘kalau sudah, langsung bawa ke ruangan saya’, iya kan?”
“Baiklah. Maaf. Aku tunggu di gazebo, ya. Temui aku setelah dari kantor.”
***
“Lama, ya? Maaf, tadi ada yang ustad bicarakan soal teman-teman,” ujar Nada setelah kembali dari kantor. Ia duduk di depanku, berbatasan dengan meja bundar. Sepoi angin menghembus jilbab lebarnya yang sedikit berkibar.
“Kamu mau bicara apa, Faruq?” tanyanya kemudian.
Haruskah aku berbasa-basi atau langsung? Gadis ini membuatku sedikit gugup.
“Faruq, ada apa?”
“Emm ... begini, Nada, maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, apakah saat ini kamu dalam pinangan ikhwan?” tanyaku memberanikan diri meski hatiku berdebar kencang dan darahku mengalir deras.
Nada tersenyum dan menggeleng pelan. “Kamu ada calon untukku?” pertanyaan Nada seperti menampar jiwaku. Bagaimana aku mengatakan kalau aku calonnya.
“Nada, bolehkah aku mengkhitbahmu? Aku siap menemui orang tuamu,” tanyaku dengan penuh harap.
Gadis itu merapikan ranselnya, tersenyum, berdiri lalu berkata, “Faruq, belajar dulu aja,” jawabnya lalu pergi.
Aku cukup tercengang dengan jawaban tegasnya. Hati wanita tidak mudah ditebak. Belajar dulu? Dia menolakku secara halus, atau menerimaku? Aku harus menanti atau beranjak? Dia mengikatku atau tidak sama sekali?
Ponselku berdering. “Ruq, datang ke MAN sekarang ya! Ditunggu Waka kurikulum,” SMS dari Huda.
Alhamdulillah, aku mendapat jam tambahan mengajar Bahasa Arab di MAN dan menjadi pembimbing ekstrakurikuler Masrohiyah.[1] Lalu  bagaimana dengan tafsiranku atas jawaban Nada? Ah, baiklah. Kalau memang dia mengatakan ‘belajar dulu’, mungkin seharusnya aku dan dia merampungkan kuliah dulu. Cinta adalah perjuangan, bukan? Jika ini memang belum saatnya kutemui orang tua Nada, biar kuperjuangkan cintaku dalam diam terlebih dahulu. Aku sudah yakin memilihnya, tugasku adalah menghalalkan perasaan ini bila tiba saatnya. Nada milik Allah, dan dititipkan pada orang tuanya. Kalau aku menginginkan Nada, aku harus minta izin pada Allah dan meyakinkan orang tua Nada bahwa aku mampu bertanggungjawab sepenuhnya atas puteri mereka. Bismillah, ridhoilah cintaku padanya.
Hari demi hari berlalu. Semakin besar keyakinanku. Ia gadis yang mulia dan berilmu. Ia pandai menjaga kemuliaan dirinya. Ia masih sendiri hingga sekarang. Iya. Tak terasa kami sudah di penghujung semester delapan. Sudah lulus dalam sidang skripsi dan tinggal menanti wisuda. Mungkin ini saatnya aku bicara lagi dengannya.
“Nada, sekarang kita tinggal menanti wisuda. Sudah bolehkah aku mengkhitbahmu?” tanyaku padanya setelah mengumpulkan revisi skripsi gelombang satu di ruang administrasi.
“Kalau kamu memang serius dan niatmu sudah benar, silakan temui orang tuaku, Mas Faruq,” jawabnya lalu beranjak ke parkiran.
Mas? Dia menyapaku ‘mas’? subhanallah, semoga dan semoga niat baikku diterima dengan baik oleh keluarganya. Baiklah, Nada, aku akan datang menemui orang tuamu.
***
Suasana asri masih kurasakan saat memasuki lingkungan sekitar rumah Nada. Di sinilah gadis manis sholihah itu bercengkerama dengan ayah ibu yang menghebatkannya. Sungguh luar biasa orang tuanya. Dalam tanggung jawab dan penjagaan merekalah aku bisa bertemu dengan Nada yang cantiknya lahir batin.
Kuketuk pintu beriring ucapan salam. Keluarlah seorang ibu yang kupastikan ia adalah ibu Nada. Kukecup tangannya dan aku dipersilakan masuk. Kuawali dengan perkenalan singkat dan sejenak basa-basi sambil menanti ayah Nada keluar. Namun rupanya ayah Nada belum berkenan menemuiku, hingga akhirnya kuutarakan niatku untuk meminang Nada di hadapan ibunya.
Aku pun segera pulang setelah menyampaikan tujuanku dan menitipkan salam takdhim untuk ayah Nada. Hatiku sudah cukup lega meski belum kuperoleh jawaban pasti. Aku tak memiliki cukup waktu untuk meladeni rasa penasaranku karena harus mempersiapkan anak-anak kelas XI yang akan menampilkan masrohiyah di acara purnawiyata kelas XII.
Esoknya bakda subuh, kuterima SMS dari Nada. “Mas Faruq, temui aku di belakang rektorat jam 9.”
Syukurlah hari ini aku ke MAN setelah Dhuhur, jadi aku bisa menemui Nada terlebih dahulu. Sengaja aku datang setengah sembilan, karena aku yakin sepuluh menit lagi Nada pasti sudah sampai.
“Kamu sudah lama, Mas?” sapanya saat melihatku. “Maaf kalau aku terlambat.”
“Tidak, Nada. Kita janjian jam sembilan kan? Kamu tidak terlambat sama sekali. Sengaja aku datang lebih awal. Katakan, apa jawaban orang tuamu.”
Dengan ekspresi wajah yang sedikit kuatir ia ceritakan semuanya. Malam sebelum Faruq datang, ibu Nada bermimpi buruk. Dalam bayangannya, Faruq adalah awan hitam yang begitu gelap dan tebal. Mimpi itu membuat orang tua Nada kuatir bahwa itu adalah pertanda buruk. Mereka tidak bisa menerima pinanganku.
“Jadi, ayah dan ibumu belum bisa menerimaku?”
Nada mengangguk. “Maafkan aku, Mas.”
Sejenak kuhela nafas. “Nada, aku minta maaf kalau harus mengatakan ini. Mimpi buruk itu belum tentu dari Allah. Bisa jadi itu bawaan dari pikiran negatif. Mungkin dari awal ibumu tidak senang denganku hingga akhirnya perasaan itu terbawa ke dalam mimpi dan berwujud mimpi buruk. Itu belum tentu isyarat dari Allah, Nada. Alasan penolakan itu tidak syar’i. Insyaallah, aku akan melamarmu dua minggu lagi.”
***
Waktu yang kujanjikan telah tiba. Aku datang untuk kedua kalinya ke rumah Nada. Masih seperti kali pertama. Ayahnya tetap tidak berkenan menemuiku dan aku hanya bisa menyampaikan pinanganku lewat ibunya.
Esoknya, Nada menemuiku dan menyampaikan jawaban dari orang tuanya. Sebuah masjid yang berdiri kokoh di samping rumah Nada menjadi alasan. Mereka menganggapku tergabung dalam aliran A, sedangkan mereka B. Tidak mungkin aku bisa menjadi imam di masjid mereka bila kami berbeda aliran karena dalam beberapa hal tata cara shalatnya berbeda. Itu anggapan mereka. Padahal, sebenarnya sama. Aku juga B seperti mereka dengan tata cara shalat yang sama.
“Nada, aku semakin tidak mengerti saja dengan maksud orang tuamu. Tuhan kita sama kan? Nabi kita sama kan? Rukun Islam dan Iman kita sama kan? Lalu apa yang salah, Nada? Apakah Rasulullah dulu dari aliran A? Apakah Khadijah dari aliran B? Fatimah? Ali? Nada, kita masih seiman. Aku tidak bisa menerima alasan itu. Insyaallah, Dua minggu lagi aku akan meminangmu untuk yang ketiga.”
***
Begitu cepatnya waktu berlalu. Ini saatnya aku meminang Nada untuk yang ketiga kalinya. Semoga aku berhasil. Bantu aku, Ya Robb! Aku yakin dia yang terbaik untukku.
Tidak kusangka, kali ini aku tetap hanya berhadapan dengan ibu Nada. Lagi-lagi kusampaikan maksud kedatanganku dengan tanpa keraguan sedikitpun.  Seperlunya saja, aku segera pulang setelah tujuanku tersampaikan.
Dua hari kemudian Nada menemuiku, masih di tempat yang sama, belakang rektorat. Namun kali ini kulihat raut wajahnya begitu muram. Ia ceritakan padaku kemarahan ayahnya. Belum lama, sahabat sekaligus tetangga Nada dinikahi oleh seorang pria dari Jawa Barat. Hanya tiga hari menjalani kehidupan sebagai pengantin baru, sang suami langsung meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Karena aku pun orang Jawa Barat, aku dilarang menikahi Nada karena mereka kuatir hal yang sama akan terjadi pada Nada.
“Subhanallah, Nada, boleh aku bertanya padamu?”
Gadis itu hanya terdiam dan tertunduk lesu seolah kehilangan harapan terbesarnya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya sampai seperti ini. Sungguh andaikan halal, aku ingin memeluknya dan mengatakan kepadanya bahwa aku tak pernah pergi darinya.
“Nada, tolong kamu jawab pertanyaanku. Apa kamu yakin padaku?” tanyaku pelan.
Ia mengangguk pelan.
“Alhamdulillah,” ucapku bangga padanya. “Nada, aku sudah yakin dengan pilihanku, dan pilihanku hanya satu yaitu kamu. Tiga kali aku meminangmu, tiga kali aku tidak ditemui oleh ayahmu, dan tiga kali mereka menolakku. Tapi aku tetap yakin, Nada. Kamulah wanita terbaik yang Allah karuniakan padaku, yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Nada, jika alasan penolakan orangtuamu itu syar’i, aku pasti mundur. Tapi aku melihat, penolakan mereka tidak syar’i, bukan lillah, tapi karena ego mereka masing-masing. Mereka tidak melihat keseriusan dan ketulusan kita. Hati mereka belum terbuka untuk melihat kesungguhan kita.”
Aku terdiam sejenak. Kulihat butiran air jernih terjatuh dari sudut mata Nada.
“Nada, kamu serius denganku? Jawablah, kamu mau hubungan kita berakhir atau dilanjutkan?” tanyaku sekali lagi.
Ia menyeka air matanya lalu menjawab, “Dilanjutkan, Mas.” Sejenak ia menatapku lalu menunduk kembali.
“Baiklah Nada, kalau kamu memang mau hubungan kita dilanjut, ayo kita berjuang bersama-sama. Kalau ucapanku dan ucapanmu belum bisa mengetuk hati mereka, biar Allah yang menyampaikan niat baik kita pada orang tuamu. Nada, selama empat puluh hari ke depan, kita istiqomahkan qiyamullail, dhuha, dan puasa sunnah. Semoga dengan jalan ini Allah bukakan hati mereka. Kamu bersedia?”
“Aku bersedia, Mas.”
***
Aku berpisah dengan Nada sejak itu, tanpa komunikasi sama sekali. Namun di hari ke dua puluh tujuh, tiba-tiba Nada datang menemuiku di serambi masjid kampus. Raut wajahnya tampak bahagia. Aku berharap ia mebawa sepoi angin surga.
“Mas, kamu diminta menemui ayah,” ucapnya.
“Ayah, Nada?” tanyaku tidak percaya.
“Iya, Mas. Bisa kan? Besok sore, ya. Tapi tidak di rumah yang Tulungagung. Besok kami di Kediri. Dan pesan Ayah, aku tidak boleh memberitahu alamat kami. Mas yang harus cari tahu sendiri. Ayah tunggu jam 4 sore.”
Ada apa gerangan ayah Nada mengundangku di Kediri. Semoga ini pertanda baik, Ya Robb. Namun aku tetap siap andaikan kali ini ayah Nada akan memarahiku habis-habisan karena tiga kali melamar putrinya.
“Wan, kamu tahu rumah Nada yang di Kediri?” tanyaku pada Iwan saat akan mengambil air wudhu untuk shalat Dhuhur.
“Kalau tidak salah, sekecamatan dengan rumah Fadil. Kamu tahu rumah Fadil kan? Datanglah ke sana dan minta dia mengantarkanmu. Insyaallah dia tahu rumah Nada,” kata Iwan. “Kamu mau melamarnya lagi? Kuakui, kamu luar biasa, Faruq. Aku salut dengan kegigihan dan keyakinanmu. Berkali-kali ditolak dan kamu sama sekali tidak beranjak sedikitpun dari Nada. Perjuangan cintamu patut diteladani.” Iwan menyuguhkan kedua jempolnya padaku.
“Aku memang sudah tiga kali. Tapi entah kali ini. Ayahnya yang mengundangku.”
“Semoga berhasil, Ruq.”
***
Tanpa kuduga ban motorku bocor. Ini sudah Dhuhur. Kalau harus menunggu selesai menambal, sudah pasti aku terlambat. Ayah Nada pasti kecewa. Motor siapa yang harus kupinjam saat ini?
“Kamu belum berangkat, Ruq?” sapa Iwan yang kebetulan lewat depan kontrakanku.
“Ban depanku bocor, Wan.”
“Kamu bawa aja motorku. Biar aku yang urus motormu. Aku sedang menganggur. Cepat berangkatlah ke rumah Fadil.”
Iwan memang sahabat terbaikku. Pasti Allah yang menggerakkannya untuk datang tepat di saat aku membutuhkan. Setelah kuucap terima kasih dan kutinggali beberapa lembar rupiah, aku meluncur ke Kediri dengan motor Iwan. Pukul dua siang aku telah sampai di rumah Fadil. Kuceritakan singkat kisah perjuanganku dengan Nada sebelum aku minta bantuannya untuk menunjukkan alamatnya.
“Kamu sudah makan, Ruq?” tanya Fadil. “Kita makan dulu, ya. Istriku baru aja masak sayur asem. Setelah ini baru aku antar kamu ke sana. Hei, mau melamar harus punya power. Kalau perlu, kamu mandi dulu juga boleh. Harus membuat kesan yang meyakinkan calon mertua, hehe.”
Kuikuti semua saran Fadil yang sudah lebih senior dariku. Dia sudah setahun berumah tangga, sedangkan aku masih berjuang untuk membangun rumah tangga. Pukul tiga sore mendadak hujan  turun dengan derasnya. Aku sungkan dengan Fadil. Tidak mungkin aku mengajaknya menerjang hujan sederas ini. Namun Fadil tidak mau hanya memberikan alamat Nada. Dia ingin menemaniku menemui ayah Nada.
Baiklah, dengan bismillah kami menerjang hujan. Kami sempat panik ketika melalui jalan yang tergenang air motor kami mogok hingga tiga kali. Ujian cinta dari-Nya sungguh luar biasa. Tapi syukurlah, kami tiba di rumah Nada pada pukul empat kurang lima menit.
Setelah sejenak merapikan diri kami pun mengucap salam dan mengetuk pintu. Kali ini Nada yang membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Ibu Nada menyajikan teh hangat, kemudian Ayah Nada keluar menemui kami di ruang tamu.
“Mana yang namanya Faruq?” tanya ayah Nada.
“Saya, Pak,” jawabku.
“Kamu serius dengan anak saya?”
“Saya serius dengan puteri Bapak. Dan saya siap bertanggung jawab lahir batin kepadanya.”
“Baiklah, kamu saya terima,” ujar ayah Nada sambil menepuk sebelah bahuku beriring senyum ramahnya.
“Alhamdulillah ...,” ucapku dan Fadil bersamaan.
“Saya ingin membicarakan tanggal akad nikah kalian, tapi tidak hanya denganmu, Faruq. Ajaklah orang tuamu silaturrahim ke sini.”
“Terima kasih, Pak. Saya akan sampaikan kabar bahagia ini untuk orang tua saya di Ciamis.”
Alhamdulillah, perjuangan dan kesabaran yang kujalani bersama Nada berbuah manis pada akhirnya. Aku diijinkan untuk mempersunting seorang bidadari yang kecantikannya berpendar dari hati.
Thomas Alva Edison hampir menyerah ketika ia sudah mendekati keberhasilan namun akhirnya ia terus berjuang dan berhasil. Aku pun sudah diambang kegagalan andaikan di penolakan yang ketiga Nada mengatakan ‘berhenti’. Alhamdulillah, terima kasih untuk pintu hati yang Engkau bukakan bagi kami, Ya Robb. Sujud syukur pada-Mu, kupanjatkan selalu. Jadikanlah aku dan bidadariku, hamba yang taat pada-Mu.
Terima kasih, Robb ... untuk setetes embun cinta-Mu J


Kamulan, 17 Juli 2016




[1] Drama berbahasa Arab

Senin, 11 Juli 2016

Dahan Cintaku pada Ana (Part 2)



            Tiada kusangka nikmat-Nya hari ini untukku begitu besar. Segalanya tak terduga. Aku tak pernah membayangkan, gadis yang selalu diceritakan oleh Ustad Fahri kini akan menjadi istriku. Aisya Balqis Fahria, baru pertama kali ini aku menyebut nama lengkapnya. Si manis berjilbab hijau pupus, anggun, santun nan berwibawa. Ya Allah, nikmat-Mu yang mana lagi yang akan kudustakan? Engkau telah menghadiakan untukku seorang bidadari bermata jeli yang sangat kucintai dan akan kujaga sampai mati. Ridhoilah kami untuk bersatu, Ya Rabb.
            “Fatih, sepulang dari rumah Ustad Fahri kamu terlihat sangat bersemangat. Ada apa sebenarnya? Pasti ada yang lebih dari sekedar judul skripsi yang diACC. Kamu tidak ingin bercerita denganku?” tanya Zein sambil menyiapkan kecap, saos dan sambal di meja saji.
            Zein adalah  sahabat setiaku, teman berjuangku dalam mendirikan warung soto sederhana ini. Dari warung inilah, kami bisa melunasi biaya kuliah. Kami sama-sama dibesarkan di panti asuhan. Kami telah bersama sejak kecil hingga tidak layak bagiku merahasiakan apapun darinya.
            “Kamu ingat gadis yang selalu diceritakan ustad Fahri?”
            “Iya. Lalu?”
            “Ternyata, gadis itu adalah putri beliau sendiri.”
             Zein langsung menghentikan langkahnya yang hendak mengambil sendok. “Jadi, kamu di sana lama sekali itu karena …,”
            “Iya, Zein. Gadis itu bernama Balqis. Dia menghampiriku ketika sebuah dahan mangga tiba-tiba terhempas dari pohon dan nyaris menimpaku.”
            “Lalu?” tanya Zein bersemangat.
            “Mas, bungkuskan soto ayam tujuh ya!” suara seorang konsumen yang ternyata sudah datang pada jam sedini ini.
            Terpaksa kuakhiri sementara ceritaku pada Zein yang termakan penasaran. “Iya, Mbak, silakan duduk!” sahutku.
            “Dengan nasi terpisah atau tanpa nasi, Mbak?” tanya Zein.
            “Tanpa nasi.”
            Pukul 22.30 seperti biasa aku dan Zein menutup warung lalu pulang ke kontrakan untuk beristirahat. Rupanya, Zein masih penasaran dengan kelanjutan ceritaku. Usai berjamaah Isya, kami melanjutkan obrolan yang terputus.
            Kuceritakan perkenalanku dengan Balqis dan saat-saat Ustad Fahri mengutarakan maksudnya untuk memilihku sebagai pendamping putrinya. Sayang, Zein terlalu menikmati ceritaku hingga ia pun tertidur sebelum aku selesai bercerita. Hh ..., seolah ceritaku menjadi dongeng pengantar tidurnya.
            Dalam hening malam yang beriring rintik hujan kusujudkan mukaku sebagai ungkapan syukurku pada-Nya. Satu juz lagi. Mudahkan aku, Ya Rabb, ijinkan aku menikahinya untuk menjalankan sunnah Rasul-Mu yang mulia. Aku mencintainya.
            Kuambil segera mushafku dan kudekap erat sebelum kubaca. Aku sadar, mahar yang akan kuberikan pada Balqis berupa 30 juz hafalan al-Qur’an bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya hafalannya saja, melainkan aku pun harus bertanggung jawab atas ayat-ayat yang kulantunkan. Aku bertanggung jawab untuk menjadi imam bagi Balqis dengan berlandasan al-Qur’an dan sunnah. Ya Allah, tanggung jawab atas sebuah akad pernikahan begitu besar adanya. Mampukanlah hamba-Mu ini untuk menjadi imam yang baik bagi istriku kelak, agar kami senantiasa Engkau satukan hingga ke jannah-Mu.
            “Fatih, semalam kamu cerita apa?” tanya Zein ketika kami baru sampai di kampus. “Maaf, aku tertidur.”
            “Aku akan menikah. Doakan, ya!”
            “Menikah? Dengan Balqis? Kamu akan jadi menantu Ustad Fahri?”
            “Insya Allah.”
            Zein memelukku. “Aku bahagia mendengarnya. Semoga lancar dan berkah.”
“Aamiin, makasih, Zein. Semoga kamu juga segera bertemu jodohmu.”
“Lalu, siapa temanku meracik soto ayam?”
“Hehe, rekrut saja karyawan baru.”
Hari ini agendaku dan Zein adalah konsultasi bab dua ke Ustad Amin. Kami sudah membuat janji untuk bertemu di kantor beliau pada pukul 09.30. Namun pada jam yang sudah dijanjikan ternyata kantor fakultas Tarbiyah tutup. Kulihat ada  sebuah note kecil di pintu. Kubaca note itu.
“MAAF, SEDANG TAKZIAH KE RUMAH Dr. FAHRI MUSTOFA DI PERUMAHAN PUSPA ASRI”
            Ya Allah, persendianku seolah patah semua. Yang kutahu, Ustad Fahri hanya tinggal berdua dengan putrinya di perumahan itu. Sedangkan istri dan putra beliau tinggal di kota lain. Jika tertulis takziah ke rumah Ustad Fahri di perumahan Puspa Asri, maka itu artinya yang meninggal adalah ....
            “Tidak, Ya Allah ... Tidak!” bisikku gelisah dengan air mata yang tiba-tiba keluar.
            “Fatih, tenangkan dirimu. Itu belum tentu Balqis. Mungkin lebih baik kita ke sana,” ujar Zein yang berusaha menenangkanku.
            Seorang satpam kebetulan lewat dan Zein menghentikannya. “Maaf, Pak, siapa keluarga Pak Fahri yang meninggal?”
            “Kalau saya tidak salah dengar, anaknya, Mas. Kepalanya tertimpa dahan pohon saat ingin menolong anak tetangganya yang bermain petak umpet di bawah pohon itu. Baru tadi pagi kejadiannya. Dia kehilangan banyak darah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.” jawab satpam itu.
            Aku terduduk di kursi tunggu yang tersedia di depan kantor fakultas. Sungguh, tubuhku seolah tak bertulang rasanya. Aku tak sanggup menopang tubuhku sendiri. Ini seperti hantaman asteroid yang menghancurkan dan meluluhlantahkan hatiku. Apa maksud dari semua ini, Ya Allah?
            “Mbak Balqis itu cantik lho, belum nikah pula. Kabarnya mau penelitian untuk skripsi di Kairo. Nggak nyangka dia meninggal secepat ini,” ujar mahasiswi yang lewat sambil berbincang dengan rekannya.
            “Iya, kasihan sekali ustad Fahri, pasti sangat terpukul,” kata kawan bicaranya.
            Hatiku benar-benar hancur bahkan aku tak tahu di mana puing kepingan hati ini. Bidadari itu telah pulang pada Penciptanya di saat aku belum sempat mengucap akad untuk menghalalkannya. Aku belum sempat mendampingi penelitiannya. Aku belum sempat mengimami shalatnya walaupun satu kali.
            “Balqis sudah pergi, Zein. Calon istriku telah meninggal,” ucapku berturut-turut.
            Zein merangkulku dan membangkitkanku. “Aku turut berduka atas kejadian ini. Tabahkan hatimu. Allah punya kehendak yang lebih baik di balik semua ini. Percayalah! Ayo, kita ke rumah Ustad Fahri sekarang. Setidaknya, kalau kamu tidak berkesempatan untuk menjadi imam shalat bagi Balqis, kamu masih berkesempatan untuk menshalatkan jenazahnya.”
            Ucapan Zein semakin menusuk hatiku. Ya Allah, kenapa aku hanya berkesempatan untuk ini? Menshalatkan jenazah calon istriku? Sanggupkah aku, Ya Rabb?
            Zein menarik lenganku pelan dan aku mengikutinya berjalan ke parkiran. Ia bergegas membawaku ke Perumahan Puspa Asri, kediaman Ustad Fahri. Setibanya kami di sana, jenazah baru usai dikafani kemudian dimasukkan ke dalam keranda. Inilah waktu untuk menshalatkannya.
            Aku tak peduli pada dosen-dosen yang bertakziah. Yang kutemui pertama adalah Ustad Fahri. Aku menangis di pelukan Ustad Fahri yang tidak sempat mengabariku tentang kepergian putrinya. Baru kemarin, gadis yang terbalut kafan suci ini menyeduhkan secangkir teh untukku. Tiada kusangka sama sekali, senyumnya kemarin adalah senyum terakhirnya yang dapat kulihat. Sapaannya padaku adalah sapaan terakhir yang kudengar. Tatapan teduhnya kini tak kudapati lagi.
            “Imami kami untuk menshalatkannya, Nak!” pinta Ustad Fahri yang tampak menahan kepedihan mendalam.
            “Apakah saya sanggup berada di hadapan jenazah calon istri saya, Ustad?” tanyaku.
            “Tidak ada kesempatan lain selain saat ini, Fatih. Imamilah kami!”
            Di hadapan keranda Balqis, Ya Allah ... aku mohon pada-Mu, ijinkan dia berada di taman surga-Mu untuk menantikanku. Aku mencintainya dan ia mencintaiku, Ya Rabb .... jika tak sempat bersatu di dunia fana ini, satukanlah kami di surga-Mu yang abadi.
            Fa ya amali wa ya sakani
Wa ya unsi wa mulhimati
Yathibu al-‘isyu
Mahma dlaqat al-ayyamu in thibti
Dahan cinta yang mempertemukan kita kemarin
Tlah pisahkan kita hari ini
Kemarin ia jumpakanku denganmu
Hari ini ia jumpakanmu dengan Rabbuna
Balqis, Cintaku, hari ini aku menshalatkanmu meski air mata ini terus membanjiri
Tahukah engkau, sesungguhnya aku ingin tatkala salam ini kuucap, kaulah yang mengecup punggung tanganku
Namun hari ini, aku hanya mampu menatap kerandamu
Oh, Balqis ... Jelitaku, jadilah bidadariku
Di surga-Nya yang abadi
Ketahuilah Balqisku ...

 Muhammad Fatih-mu ingin segera mendampingimu

Dahan Cintaku pada Ana



            “Seeeees ... Bruk!” sebuah dahan pohon tiba-tiba jatuh tepat satu meter di sampingku yang sedang berkelana mencari rumah seorang dosen di sebuah komplek perumahan. Alhamdulillah, dahan yang berdiameter kurang lebih 10 cm dengan panjang hampir 2 m itu tidak menimpaku. Padahal aku hanya berjalan kaki dan
Rupanya, suara jatuhnya dahan pohon mangga ini mengundang perhatian beberapa orang untuk keluar rumah demi memastikan suara apa yang jatuh. Namun setelah mereka tahu bahwa itu hanya suara dahan pohon yang patah, mereka kembali masuk ke rumah masing-masing. Tapi ada satu yang berbeda, seorang gadis manis berjilbab hijau pupus menghampiriku. “Mas tidak apa-apa? Mas tidak tertimpa dahan pohon ini kan?” sapanya ramah dengan ekspresi cukup kuatir.
“Terima kasih, Mbak, saya tidak apa-apa,” jawabku tenang.
“Kalau boleh tahu, Mas mau kemana? Kok berjalan kaki?”
“Tadi motor saya dibawa teman ke warnet, dia ngeprint tugas kuliahnya. Saya sedang mencari rumah Ustad Fahri, dosen saya.”
Gadis itu lalu tersenyum dengan manisnya. “Ustad Fahri dosen Bahasa Arab, Mas? Mari saya antar. Itu rumah beliau yang berpagar hijau muda,” ucapnya sambil menunjuk ke arah kanan, lima rumah dari depan rumah yang dahan mangganya jatuh.
“Senada dengan warna jilbab Mbak,” cetusku dan ia tersipu.
“Mas beruntung, tidak sampai tertimpa dahan pohon itu. Ukurannya cukup besar untuk membuat seseorang amnesia.”
“Hehe, dan saya beruntung karena dahan pohon itu mempertemukan saya dengan Mbak,” kuhentikan ucapanku. “Eh ..., maaf, maksudku, karena pohon itu Mbak keluar dan mengantar saya ke rumah dosen yang saya cari. Hm ..., boleh tahu siapa nama Mbak?”
“Aisya Balqis Fahria, panggil saja Balqis,” jawabnya. “Mas?”
“Muhammad Fatih, panggil saja Fatih,” ucapku. “Jadi, Mbak ini putrinya Ustad Fahri?”
Ia mengangguk pelan. Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah berpagar hijau. Ia membuka pagar kemudian mempersilakanku duduk di teras sementara ia memanggil ayahnya. Begitu ayahnya mengizinkan, Balqis mempersilakanku masuk ke ruang tamu.
“Tunggu sebentar ya, Mas, Ayah masih menulis. Mungkin sebentar lagi selesai.”
Balqis masuk dan aku menunggu dosenku keluar. Jadi ini, gadis yang sering Ustad Fahri ceritakan saat mengajar di kampus. Benar-benar seperti Ana Althafun Nisa. Ia lembut, sangat santun dan ... cantik. Pasti ia pun semahir ayahnya yang begitu lihai dan luwes saat mengajar Bahasa Arab.
Tak lama kemudian Balqis kembali dengan dua cangkir teh. “Silakan diminum, Mas. Ayah belum keluar juga?”
Aku tersenyum sambil menggeleng perlahan. Saat itu Ustad Fahri keluar. Aku menghampiri beliau dan mencium tangan mulianya. Balqis kemudian masuk ke dalam. Aku pun segera menjalankan misiku untuk mengajukan judul skripsi temanku yang sedang PPL di Pattani Thailand. Maklum, Ustad Fahri tidak suka konsultasi online, sehingga beliau meminta Rozi, temanku, untuk mengirim semua berkasnya padaku untuk kucetak dan kukonsultasikan pada Ustad Fahri, dosen pembimbingnya. Sementara aku sendiri tengah menyusun bab dua dari skripsiku di bawah bimbingan dosen lain.
“Judul yang menarik. Suruh Rozi untuk segera menyusun proposal. Katakan, judulnya sudah saya ACC.”
“Alhamdulillah, syukron, Ustadz.”
“Isyrob ya Akh, hadza al-syayu min binti al malihah,”[1] canda beliau. “Kamu sudah berkenalan dengannya?”
“Sudah, Ustad.”
“Dia juga sedang mulai menyusun skripsinya. Dua bulan lagi dia akan penelitian di Kairo.”
“Subhanallah, berapa lama Ustad?”
“Mungkin sekitar dua bulan juga.”
Aku semakin dibuat terkesima oleh gadis ini. Ia benar-benar seperti jelmaan Ana Althafun Nisa. Tapi apakah aku mampu menjadi Abdullah Khairul Azam yang dicintainya?
“Fatih,” sapa Pak Fahri.
“Iya, Ustad,” jawabku.
“Hafalanmu sudah selesai?”
Aku terkejut bukan main. Bagaimana bisa Ustad Fahri tahu kalau aku sedang menghafal Kalam Ilahi.
“Jawab jujur, Fahri.”
“Kurang satu juz lagi, Ustad.”
“Kamu sudah ada calon?” tanya beliau tiba-tiba.
“Maksud Ustad calon apa?”
Ustad Fahri tersenyum menepuk bahu kiriku. “Fatih, sebelum ini saya membicarakan apa, maka dhomir yang saya ucapkan pasti kembalinya pada yang terdekat, atau sebelumnya lagi.”
“Calon Balqis?” tanyaku sedikit gugup. “E ... calon istri?”
“Iya, calon istri.”
            Hatiku berdegup kencang. Pertanyaan ini jauh lebih mengejutkan daripada melihat pohon yang runtuh tiba-tiba tanpa angin dan tanpa hujan.
            “Belum, Ustad,” jawabku.
            “Kamu bersedia menikah dengan Balqis dan mendampinginya penelitian di Kairo? Saya butuh seseorang yang saya percaya untuk mendampinginya di sana. Dan saya tahu kamu mahasiswa saya yang paling amanah. Setiap semester saya melihat perkembangan kamu dan saya yakin, kamu lelaki yang pantas untuk putri saya. Saya ingin kamu tidak hanya mendampinginya penelitian, tapi juga menjadi imam untuk putriku, selamanya.”
            “Tapi, Ustad, apakah Mbak Balqis bersedia menikah dengan saya? Saya ini bukan siapa-siapa, Ustad. Kalau dibandingkan dengan Mbak Balqis, saya tidak ada apa-apanya. Saya hanya orang biasa, besar di panti asuhan dan sekarang sedang belajar sambil berjualan soto ayam di dekat asrama mahasiswa sepulang kuliah. Terus terang, saya malu, Ustad, saya merasa tidak pantas mendampingi putri Ustad, mohon maaf.”
            Ustad Fahri masuk sejenak dan kembali dengan membawa sebuah buku karya Kang Abik, ‘Ketika Cintaku Bertasbih’. “Kamu pernah membaca buku ini?” tanya beliau.
            “Pernah, Ustad.”
            “Apakah Furqon yang bisa membahagiakan Ana?”
            “Bukan, Ustad.”
            “Lalu siapa?”
            “Azam.”
            “Kamulah Azam itu. Azam dalam buku ini berjualan tempe, kemudian berjualan bakso, dan Azam di hadapanku berjualan soto ayam. Apakah salah kalau Ana mendapat kesakinahannya dari Azam? Dan apakah salah kalau Balqis menjadi istrimu? Fatih, kamu sudah memiliki nama orang hebat, Muhammad Fatih, penakluk Konstantinopel, dan kamu sudah menaklukkan hati putriku ketika aku menceritakan padanya tentangmu. Hari ini kau datang tanpa perjanjian dan tanpa kuundang. Itu artinya jodoh putriku telah tiba.”
            Lidahku terasa tak mampu untuk menjawab lagi. Aku tidak tahu mengapa dosenku yang satu ini bisa menyamakanku dengan Azam. Azam yang sangat mendalam pemahaman agamanya, sedangkan aku tidak sehebat itu. Azam yang jelas dari keluarga baik-baik meski sederhana, sedangkan aku tak tahu diriku ini anak siapa. Lalu, Sultan Muhammad Fatih? Jelas aku tidak ada apa-apanya dibanding Sang Penakluk itu. Allah, kuserahkan pada-Mu segala urusanku.
            “Balqis, kemarilah, Nak!” panggil Ustad.
            Gadis itu dengan aura kemuliaannya keluar menghampiri ayahnya. Ustad Fahri tepat di antara aku dan Balqis. Hatiku semakin tak karuan. Pikiranku seolah melayang ke Kairo sebelum waktunya.
            “Nak, lingkungan perumahan kita ini sepi. Kamu tentu sudah mendengar semua percakapan kami berdua. Katakan, Nak, apakah kamu bersedia menjadi istri Fatih yang sederhana ini?”
            Balqis hanya terdiam, namun ia tersenyum dengan raut yang sangat bahagia. Kemudian ia mengangguk pelan.
            “Alhamdulillah, kau lihat sendiri, Fatih?”
            “Alhamdulillah, Ya Allah.” Kusapukan kedua telapak tanganku ke muka. “Saya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Hadza min fadhli Robbi. Syukron, Ustad, syukron Mbak Balqis. Tapi, mahar apakah yang pantas saya berikan untuk Mbak Balqis, Ustad?”
            “Sempurnakan hafalanmu, dan itu akan menjadi mahar istimewa bagi putriku,” jawab Ustad Fahri. “Kamu sanggup?”
            “Insya Allah. Doakan saya, Ustad.”



[1] Minumlah, teh ini buatan putriku yang manis