Entri Populer

Sabtu, 22 Februari 2014

Apa Yang Perlu Ada Dalam Cinta?


Apa Yang Perlu Ada Dalam Cinta?
Ni'matul Khoiriyyah
Saya belum menikah tapi setidaknya saya pernah mencintai seseorang yang mencintai saya. Dalam tulisan ini saya akan menguraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencintai seseorang. Ketika dua insan telah terungkap isi hatinya, A mencintai B, B mencintai A dan keduanya telah mengetahui maka selayaknya keduanya saling menjaga hati, ucapan, sikap dan perbuatan masing-masing untuk menjaga cinta yang ada dalam hati mereka.
Jika orang mengatakan cinta bermula dari mata turun ke hati, tidak dengan saya. Saya tidak pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin saya tipe orang yang sulit jatuh cinta dan tidak terlalu peka terhadap perasaan orang yang diam-diam memperhatikan saya. Maaf, menurut saya cinta yang dari mata bersifat sementara karena itu berarti cinta berawal dari keindahan yang bersifat lahiriyah. Saya ibaratkan ketika saya nonton film, pemerannya kebanyakan memang jamil wa jamilah. Bahkan terkadang pemeran antagonis lebih jamil daripada yang protagonis. Namun keindahan perilaku tokoh protagonis akan membuatnya terlihat lebih jamil/ah. Sementara yang antagonis setampan atau secantik apapun, perilaku jahatnya akan membuat saya malas menatapnya atau bahkan saya merasa jengkel walau secara lahiriah dia jamil/ah. Jika orang menganggap cinta berawal dari pandangan atau tatapan mata, saya menganggap cinta berawal dari kepercayaan. Saya tidak bisa mencintai seseorang tanpa terlebih dahulu saya mempercayainya. Tentu orang yang saya cintai harus terlebih dahulu menjadi orang yang jujur dan saya tenang ketika mempercayakan sesuatu kepadanya seperti masalah pribadi.
Kepercayaan tidak cukup untuk mengundang datangnya cinta. Tidak semua orang yang saya percaya lalu saya cintai. Dia perlu telaten ketika berhadapan dengan saya yang terkadang rewel, egois, manja, dan ingin menang sendiri. Dia tidak harus mengalah pada saya tapi setidaknya mampu mengurangi kerewelan saya tanpa membuat saya marah. Intinya, yang kedua setelah kepercayaan adalah ketelatenan.
Apakah berhenti di situ? Tidak. Yang ketiga adalah tidak mudah marah atau bahkan tidak bisa marah. Saya tipe orang yang lebih suka diam ketika marah daripada harus mengomel, berkata kasar, membentak-bentak, membanting barang, dan sebagainya. Untuk mempertahankan cinta perlu adanya kesabaran dari kedua pihak. Jika terpaksa ada kekesalan atau kemarahan dari salah satu pihak maka pihak yang lain harus bisa menetralkan suasana. Jika aku menjadi api, kamulah yang harus menjadi air.  Ini syarat yang mutlak ada dalam cinta menurut saya. Bayangkan jika satu jadi api satu jadi minyak tanah, akan seperti apa jadinya? Cinta akan cepat hancur bila begitu.
Keempat, kenyamanan. Hal ini yang paling sulit saya uraikan karena urusannya dengan hati yang terdalam, cieee... sering saya merasa nyaman namun tak mampu menyebutkan dimana letak kenyamanan dan apa yang membuat nyaman.
Ku suka kamu apa adanya, senatural mungkin aku lebih suka, kata sebuah lagu. Mungkin ini juga kata saya. Apa adanya seperti apa? Dia tidak hanya ramah kepada saya tapi juga ramah kepada siapapun. Hanya saja, porsi keramahannya lebih besar ketika berhadapan kepada saya. Lalu bagaimana lagi? Maaf, seandainya saya jadi laki-laki saya lebih suka wanita yang senang menggunakan miliknya sendiri ketika berhadapan dengan saya. Miliknya sendiri, apa itu? Seperti pakaian, jilbab, accesoris dan sebagainya. Hal ini karena saya sering mengetahui banyak teman-teman yang ketika akan berjumpa dengan mahbubnya bingung sendiri mau berpakaian apa, berjilbab yang bagaimana, bros yang mana, tas yang mana, sepatu yang mana, bahkan mereka tak mau menggunakan miliknya sendiri dan lebih suka meminjam milik temannya. Apa ini yang dinamakan apa adanya?
Taat beragama, yang ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Ingat, cinta harus disandarkan pada pemilik cinta, Allah SWT. Bagaimana bisa seorang muslim yang baik bisa jatuh cinta pada muslimah yang shalatnya tidak penuh (tanpa sebab haid). Bagaimana bisa seorang muslimah yang baik bisa jatuh cinta pada muslim yang surat Al Fatihah saja tidak hafal, shalat sering telat, Isya ketiduran, Subuh kesiangan, Dhuhur sibuk, Ashar malas, Maghrib kelelahan. Bukankah pria adalah sosok imam yang akan jadi panutan bagi istrinya kelak. Jika sang imam tak taat beragama, mau dibawa kemana biduk rumah tangganya kelak?
Nah, wanitanya pun harus kuat iman. An nisau imadul bilad. Bila wanita rusak moralnya, pria pun bisa jadi terjerumus. Mengapa? Di balik kesuksesan seorang pria ada wanita yang hebat di belakangnya. Lihat Nabi Nuh dan Nabi Luth, dakwah mereka tersendat bisa jadi karena istrinya tidak shalihah. Lihat Nabi Muhammad SAW, sang Nabi akhir zaman yang sukses menjalankan misi dakwahnya. Siapa wanita di belakang beliau? Ada Khadijah al Kubro, ada  Aisyah ra, yang mana mereka adalah wanita-wanita penghuni jannah. Subhanallah, betapa besar pengaruh wanita terhadap kehidupan suaminya.
Uraian di atas merupakan beberapa hal yang menjadi penyebab saya mencintai seseorang. Selanjutnya saya uraikan beberapa hal yang perlu ada untuk mempertahankan cinta. Cinta berawal karena kepercayaan dan bertahan karena kesetiaan. Setia adalah kekuatan besar dalam suatu jalinan kasih. Tanpa ada kesetiaan, cinta akan pupus bahkan permusuhan akan timbul, baik di antara kedua pihak atau bahkan  banyak pihak yang akan terlibat.
Apa yang saya sebutkan di atas sebagai penyebab datangnya cinta juga perlu ada dalam mempertahankan cinta. Kepercayaan, ketelatenan, kenyamanan, apa adanya dan ketaatan dalam beragama harus tetap ada dan porsinya tak boleh berkurang. Ingat, banyak orang gagal berumahtangga karena faktor intern, bukan faktor ekstern. Faktornya dari kedua belah pihak itu sendiri. Mereka tak mampu mempertahankan apa yang membuat mereka dulu jatuh cinta.
Memang itulah manusia. Biasanya bersemangat empat lima saat berjuang meraih mimpi. Namun ketika impian itu telah diraih, semangat itu perlahan meredup lama-kelamaan padam sehingga hilanglah apa yang telah diraihnya itu. Barulah muncul penyesalan tingkat tinggi, galau kuadrat wa akhowatuha.
Bukankah semestinya kita mempertahankan apa yang kita miliki? Bukankah kita mendapatkannya tidak secara cuma-cuma tapi dengan perjuangan? Lalu kenapa begitu mudah membiarkannya lepas hanya karena sikap kita yang berubah?
Dalam cinta perlu ada Taaruf (saling mengenal), Tafahum(saling memahami), Tasyawur (saling berdiskusi), Taawun (salih bantu) dan Taafuw (saling memaafkan). Lima hal ini tidak boleh ditinggalkan utamanya bagi yang berumahtangga.
Taaruf, sudah semestinya pasangan itu saling mengenal satu sama lain. Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak peduli. Tak peduli maka tak cinta. Tak cinta maka tak setia. Tak setia maka rusaklah rumah tangga.
Tafahum, bila pasangan sudah saling mengenal maka lahirlah saling memahami. Inilah aku dengan kelebihan dan kekuranganku. Inilah kamu dengan kelebihan dan kekuranganmu. Kita telah dipersatukan dalam pernikahan, kekuranganku akan kau lengkapi dengan kelebihanmu, kekuranganmu akan kulengkapi dengan kelebihanku. Aku tak sempurna dan kau tak sempurna tapi kita diciptakan berpasangan untuk saling menyempurnakan.So sweet kan kalo bisa begitu?
Tasyawur, penting sekali hal ini dalam menjaga kehangatan suatu hubungan. Dengan mengajak pasangan kita bermusyawarah, dia akan merasa dipercaya, dihargai dan dicintai. So... jangan tergesa-gesa mengambil langkah sebelum mendiskusikan dengan pasangan. Tapi ingat, jaga ego masing-masing dalam berdiskusi. Pakai logika dan perasaan, jangan terlalu pakai otot, bahaya.
Taawun, harus. Pasangan yang baik akan saling membantu ketika sibuk. Tak harus menunggu sibuk bahkan. Terkadang ditemani saja sudah senang. Eits... ini untuk yang sudah menikah. Yang belum buat teori aja, tunggu saat praktek tiba, hehe...
Yang kelima, taafuw. Sadari, kalian adalah dua orang yang berbeda yang awalnya tak saling kenal. Lihat saja, saya dengan adik saya saja sudah banyak berbeda apalagi dengan orang lain yang tak ada jalur nasab dengan saya. So, harus dimaklumi bahwa pasangan kita tidak sama dengan kita. Jika dia bersalah, maafkan. Jangan terburu-buru marah. Memaafkan itu mulia. Tak ada kata hina bagi pemaaf. Ingat, cinta selalu punya alasan untuk memaafkan.
Yang tak kalah penting adalah shalat berjamaah. Istri menggelarkan sajadah untuk suami. Suami mengimami dan mengecup kening istrinya usai berdoa. Indah deh. Walaupun berantem, tapi kalo waktunya jamaah tetap jamaah. Ok?
Bila perlu dan tidak keberatan, sebelum tidur bergantian membacakan Ar-Rahman. Insyaallah tambah lengket dan tambah besar porsi cintanya. Sakinah mawaddah wa rahmah mudah diraih asalkan cinta itu disandarkan pada ketaqwaan pada Pencipta cinta.
Oke... tulisan ini bisa jadi teori bagi yang belum nikah dan bisa langung dipraktekkan bagi yang sudah berpasangan halal di mata agama dan negara. Semoga bermanfaat...

Salam cinta
Dik Nina
18 januari 2014