Apa Yang Perlu Ada Dalam Cinta?
Ni'matul Khoiriyyah
Saya belum menikah tapi
setidaknya saya pernah mencintai seseorang yang mencintai saya. Dalam tulisan
ini saya akan menguraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencintai
seseorang. Ketika dua insan telah terungkap isi hatinya, A mencintai B, B mencintai
A dan keduanya telah mengetahui maka selayaknya keduanya saling menjaga hati,
ucapan, sikap dan perbuatan
masing-masing untuk menjaga cinta yang ada dalam hati mereka.
Jika orang mengatakan cinta
bermula dari mata turun ke hati, tidak dengan saya. Saya tidak pernah mengalami
jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin saya tipe orang yang sulit jatuh
cinta dan tidak terlalu peka terhadap perasaan orang yang diam-diam
memperhatikan saya. Maaf, menurut saya cinta yang dari mata bersifat sementara
karena itu berarti cinta berawal dari keindahan yang bersifat lahiriyah. Saya
ibaratkan ketika saya nonton film, pemerannya kebanyakan memang jamil wa
jamilah. Bahkan terkadang pemeran antagonis lebih jamil daripada
yang protagonis. Namun keindahan perilaku tokoh protagonis akan membuatnya
terlihat lebih jamil/ah. Sementara yang antagonis setampan atau secantik
apapun, perilaku jahatnya akan membuat saya malas menatapnya atau bahkan saya
merasa jengkel walau secara lahiriah dia jamil/ah. Jika orang
menganggap cinta berawal dari pandangan atau tatapan mata, saya menganggap
cinta berawal dari kepercayaan. Saya tidak bisa mencintai seseorang tanpa
terlebih dahulu saya mempercayainya. Tentu orang yang saya cintai harus
terlebih dahulu menjadi orang yang jujur dan saya tenang ketika mempercayakan
sesuatu kepadanya seperti masalah pribadi.
Kepercayaan tidak cukup untuk
mengundang datangnya cinta. Tidak semua orang yang saya percaya lalu saya
cintai. Dia perlu telaten ketika berhadapan dengan saya yang terkadang rewel,
egois, manja, dan ingin menang sendiri. Dia tidak harus
mengalah pada saya tapi setidaknya mampu mengurangi kerewelan saya tanpa
membuat saya marah. Intinya, yang kedua setelah kepercayaan adalah ketelatenan.
Apakah berhenti di situ? Tidak.
Yang ketiga adalah tidak mudah marah atau bahkan tidak bisa marah. Saya tipe
orang yang lebih suka diam ketika marah daripada harus mengomel, berkata kasar,
membentak-bentak, membanting barang, dan sebagainya. Untuk mempertahankan cinta
perlu adanya kesabaran dari kedua pihak. Jika terpaksa ada kekesalan atau
kemarahan dari salah satu pihak maka pihak yang lain harus bisa menetralkan
suasana. “Jika aku menjadi api, kamulah yang harus menjadi air.” Ini syarat yang mutlak ada
dalam cinta menurut saya. Bayangkan jika satu jadi api satu jadi minyak tanah,
akan seperti apa jadinya? Cinta akan cepat hancur bila begitu.
Keempat, kenyamanan. Hal ini
yang paling sulit saya uraikan karena urusannya dengan hati yang terdalam,
cieee... sering saya merasa nyaman namun tak mampu menyebutkan dimana letak
kenyamanan dan apa yang membuat nyaman.
“Ku suka kamu apa
adanya, senatural mungkin aku lebih suka”, kata sebuah
lagu.
Mungkin ini juga kata saya. Apa adanya seperti apa? Dia tidak hanya ramah kepada saya
tapi juga ramah kepada siapapun. Hanya saja, porsi keramahannya lebih besar
ketika berhadapan kepada saya. Lalu bagaimana lagi? Maaf, seandainya saya jadi
laki-laki saya lebih suka wanita yang senang menggunakan miliknya sendiri
ketika berhadapan dengan saya. Miliknya sendiri, apa itu? Seperti pakaian,
jilbab, accesoris dan sebagainya. Hal ini karena saya sering mengetahui banyak
teman-teman yang ketika akan berjumpa dengan mahbubnya bingung sendiri
mau berpakaian apa, berjilbab yang bagaimana, bros yang mana, tas yang mana,
sepatu yang mana, bahkan mereka tak mau menggunakan miliknya sendiri dan lebih
suka meminjam milik temannya. Apa ini yang dinamakan apa adanya?
Taat beragama, yang ini
merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Ingat, cinta harus disandarkan
pada pemilik cinta, Allah SWT. Bagaimana bisa seorang muslim yang baik bisa
jatuh cinta pada muslimah yang shalatnya tidak penuh (tanpa sebab haid).
Bagaimana bisa seorang muslimah yang baik bisa jatuh cinta pada muslim yang
surat Al Fatihah saja tidak hafal, shalat sering telat, Isya’ ketiduran, Subuh kesiangan, Dhuhur sibuk,
Ashar malas, Maghrib kelelahan. Bukankah pria adalah sosok imam yang akan jadi
panutan bagi istrinya kelak. Jika sang imam tak taat beragama, mau dibawa
kemana biduk rumah tangganya kelak?
Nah, wanitanya pun harus kuat
iman. An nisau ‘imadul bilad. Bila wanita rusak moralnya,
pria pun bisa jadi terjerumus. Mengapa? Di balik kesuksesan seorang pria ada
wanita yang hebat di belakangnya. Lihat Nabi Nuh dan Nabi Luth, dakwah mereka
tersendat bisa jadi karena istrinya tidak shalihah. Lihat Nabi Muhammad SAW,
sang Nabi akhir zaman yang sukses menjalankan misi dakwahnya. Siapa wanita di
belakang beliau? Ada Khadijah al Kubro, ada
Aisyah ra, yang mana mereka adalah wanita-wanita penghuni jannah.
Subhanallah, betapa besar pengaruh wanita terhadap kehidupan suaminya.
Uraian di atas merupakan
beberapa hal yang menjadi penyebab saya mencintai seseorang. Selanjutnya saya
uraikan beberapa hal yang perlu ada untuk mempertahankan cinta. Cinta berawal
karena kepercayaan dan bertahan karena kesetiaan. Setia adalah kekuatan besar
dalam suatu jalinan kasih. Tanpa ada kesetiaan, cinta akan pupus bahkan
permusuhan akan timbul, baik di antara kedua pihak atau bahkan banyak pihak yang akan terlibat.
Apa yang saya sebutkan di atas
sebagai penyebab datangnya cinta juga perlu ada dalam mempertahankan cinta.
Kepercayaan, ketelatenan, kenyamanan, apa adanya dan ketaatan dalam beragama
harus tetap ada dan porsinya tak boleh berkurang. Ingat, banyak orang gagal
berumahtangga karena faktor intern, bukan faktor
ekstern. Faktornya dari kedua belah pihak itu sendiri. Mereka tak mampu
mempertahankan apa yang membuat mereka dulu jatuh cinta.
Memang itulah manusia. Biasanya
bersemangat empat lima saat berjuang meraih mimpi. Namun ketika impian itu
telah diraih, semangat itu perlahan meredup lama-kelamaan padam sehingga
hilanglah apa yang telah diraihnya itu. Barulah muncul penyesalan tingkat tinggi,
galau kuadrat wa akhowatuha.
Bukankah semestinya kita
mempertahankan apa yang kita miliki? Bukankah kita mendapatkannya tidak secara cuma-cuma
tapi dengan perjuangan? Lalu kenapa begitu mudah membiarkannya lepas hanya
karena sikap kita yang berubah?
Dalam cinta perlu ada Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum(saling
memahami), Tasyawur (saling berdiskusi), Ta’awun (salih bantu) dan Ta’afuw (saling memaafkan). Lima hal
ini tidak boleh ditinggalkan utamanya bagi yang berumahtangga.
Ta’aruf, sudah semestinya pasangan itu
saling mengenal satu sama lain. Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak
peduli. Tak peduli maka tak cinta. Tak cinta maka tak setia. Tak setia maka
rusaklah rumah tangga.
Tafahum, bila pasangan sudah saling
mengenal maka lahirlah saling memahami. “Inilah aku dengan kelebihan
dan kekuranganku. Inilah kamu dengan kelebihan dan kekuranganmu. Kita telah
dipersatukan dalam pernikahan, kekuranganku akan kau lengkapi dengan
kelebihanmu, kekuranganmu akan kulengkapi dengan kelebihanku. Aku tak sempurna
dan kau tak sempurna tapi kita diciptakan berpasangan untuk saling
menyempurnakan.” So sweet kan
kalo bisa begitu?
Tasyawur, penting sekali hal ini dalam
menjaga kehangatan suatu hubungan. Dengan mengajak pasangan kita bermusyawarah,
dia akan merasa dipercaya, dihargai dan dicintai. So... jangan tergesa-gesa
mengambil langkah sebelum mendiskusikan dengan pasangan. Tapi ingat, jaga ego
masing-masing dalam berdiskusi. Pakai logika dan perasaan, jangan terlalu pakai
otot, bahaya.
Ta’awun, harus. Pasangan yang baik akan
saling membantu ketika sibuk. Tak harus menunggu sibuk bahkan. Terkadang
ditemani saja sudah senang. Eits... ini untuk yang sudah menikah. Yang belum
buat teori aja, tunggu saat praktek tiba, hehe...
Yang kelima, ta’afuw. Sadari, kalian adalah dua
orang yang berbeda yang awalnya tak saling kenal. Lihat saja, saya dengan adik
saya saja sudah banyak berbeda apalagi dengan orang lain yang tak ada jalur
nasab dengan saya. So, harus dimaklumi bahwa pasangan kita tidak sama dengan
kita. Jika dia bersalah, maafkan. Jangan terburu-buru marah. Memaafkan itu
mulia. Tak ada kata hina bagi pemaaf. Ingat, cinta selalu punya alasan untuk
memaafkan.
Yang tak kalah penting adalah
shalat berjamaah. Istri menggelarkan
sajadah untuk suami. Suami mengimami dan mengecup kening istrinya usai berdoa.
Indah deh. Walaupun berantem, tapi kalo waktunya jamaah tetap jamaah. Ok?
Bila perlu dan tidak keberatan,
sebelum tidur bergantian membacakan Ar-Rahman. Insyaallah tambah lengket dan
tambah besar porsi cintanya. Sakinah mawaddah wa rahmah mudah diraih asalkan
cinta itu disandarkan pada ketaqwaan pada Pencipta cinta.
Oke... tulisan ini bisa jadi
teori bagi yang belum nikah dan bisa langung dipraktekkan bagi yang sudah
berpasangan halal di mata agama dan negara. Semoga bermanfaat...
Salam cinta
Dik Nina
18 januari 2014