Entri Populer

Selasa, 03 Maret 2015

Memory Idul Fitri di Gajah Putih


            Nina, nama yang terdengar di telingaku ketika orang-orang memanggilku. Sejak lulus dari SMP, aku mulai tinggal jauh dari orang tua karena berdomisili di pesantren hingga aku lulus dari Madrasah Aliyah. Kemudian kulanjutkan studiku ke PTAIN dan aku tinggal di asrama selama satu tahun atau dua semester. Mulai semester tiga aku kembali berdomisili di pesantren yang berbeda dengan yang kutempati saat masih aliyah.
            Tinggal di pesantren membuatku kehilangan momen-momen indah yang biasanya kujalani bersama sang pahlawan hidupku, abi dan bunda. Momen seperti ulang tahun, baik itu ulang tahunku ataupun ulang tahun pahlawanku sudah sering kujalani tanpa kebersamaan karena aku di pesantren dan mereka di rumah.
            Ya. Mesksipun sudah bertahun-tahun aku berada di pesantren akan tetapi belum pernah aku tak berjumpa dengan orang tuaku lebih dari dua minggu kecuali saat abi dan bunda menunaikan ibadah haji. Saat aku masih duduk di bangku Aliyah, jarak Trenggalek-Blitar tak menghalangi langkah abi dan bunda untuk menengok putri tercintanya dua minggu sekali, selama tiga tahun. Saat kuliah, aku memang tak lagi disambang. Akan tetapi aku yang pulang dua minggu sekali dari pesantren karena jarak Trenggalek-Tulungagung bisa ditempuh dalam tiga puluh menit. Selain itu, aturan pesantren yang berbicara. Untuk pelajar Aliyah, hanya boleh pulang sebulan sekali akan tetapi boleh disambang dua minggu sekali. Sedangkan untuk mahasiswi, boleh pulang dua minggu sekali dan tidak ada aturan khusus untuk penyambangan.
            Semester enam ini aku mengikuti program baru dari kampus IAIN Tulungagung yaitu PPL dan KKN terpadu di luar negeri, tepatnya di negara Thailand bagian selatan. Banyak sekali ujian yang kuhadapi sebelum aku berangkat menjalankan tugasku di negeri seberang. Mulai dari sulitnya melobi dosen terkait tugas akhir perkuliahan karena aku berangkat di pertengahan semester enam, jadwal pembekalan yang berbenturan dengan jadwal mengaji di pondok pesantren, banyaknya tugas yang harus kukerjakan dengan deadline yang singkat, dan yang paling ekstrim adalah ucapan seseorang yang kucintai dan mencintaiku di hari terakhir aku kuliah. Dia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa dilanjutkan karena ketiadaan restu dari pihak orang tuanya.
            “Dik, jangan nangis ya!” Pintanya.
            Hati siapa yang tak lara, wanita mana yang air matanya tak berlinang ketika di hari-hari terakhirnya berada di Indonesia dia harus mendengar kabar yang menyakitkan tentang hubungannya padahal ia sangat berharap cinta itu bisa sampai ke pelaminan? Itu yang kurasakan dan kualami di detik-detik jelang kepergianku ke Thailand. Aku terluka di tengah kesibukanku. Aku terjatuh di tengah padatnya aktivitasku. Bahkan laptopku pun ikut rewel seolah mengerti bahwa pemiliknya sedang galau. Aku benar-benar stress saat itu. Di saat hatiku tengah terluka, engsel laptopku patah dan teknisi yang bisa menservis sedang keluar kota. Ditambah, baterai laptopku yang daya hidupnya bergantung pada carger.
            Alhamdulillah, waktu demi waktu berlalu dan satu persatu tugas kuliahku selesai dengan penuh perjuangan. Berjuang di tengah luka yang tersiram air jeruk nipis. Laptopku pun demikian. Mas teknisi bisa mengerti keadaanku sehingga ia mendahulukan servis laptopku daripada yang lain. Ia pun rela kesana-kemari demi mencarikan baterai yang cocok dengan laptopku. Kini tinggal hatiku yang harus kutata. Perlahan tapi pasti, aku mulai berdamai dengan mas Ari, si dia yang melukaiku. Bahkan pagi sebelum aku berangkat pada malamnya, kusempatkan diri untuk ke kampus berpamitan dengan ayah (sapaanku pada salah satu dosen yang sudah kuanggap ayah sendiri) dan teman-teman sekelas yang tentunya ada dia yang kupamiti secara VIP. Aku pun pada akhirnya berangkat dengan tenang untuk menjalankan tugasku ke negeri gajah putih.
            Aku di antar oleh abi, bunda dan adik sampai ke kampus IAIN Tulungagung. Tengah malam aku dilepas oleh wakil rektor dan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat). Usai pelepasan, kupeluk erat bunda, abi kemudian adik yang sangat kusayang. “Kita akan berpisah agak lama,” batinku.
            Salah satu dosen memberikan komando untuk segera naik bus kampus yang akan membawaku dan 19 temanku ke Juanda airport. Kutatap lembut mata dua pahlawanku lalu kuucapkan salam. Sambil berjalan menuju bus, kulambaikan tangan pada mereka.
***
            29 Juni 2014, Ramadhan karim telah tiba. Kuikuti aktivitas pertama di bulan suci ini yaitu shalat tarawih. Kesan pertama, aku langsung teringat tanah suci meski aku belum pernah ke sana. Mengapa? Shalat tarawih di sini dua puluh rakaat dengan bacaan surat seperti di masjidil haram, surat panjang dan bacaan yang tartil. Dua puluh rakaat plus witir berlangsung mulai pukul 20.00 sampai pukul 22.00.
            Inilah pertama kalinya aku shalat tarawih di malam pertama Ramadhan tanpa abi dan bunda. Sahur pertamaku pun demikian. Meski bertahun-tahun aku nyantri, akan tetapi pesantren selalu memberi kesempatan tarawih, sahur dan buka puasa pertama dengan keluarga di rumah. Terasa sangat berbeda tahun ini. Aku baru sadar, aku berada di negeri orang.
            17 Juli 2014, sejak pagi aku dan kawan-kawan didampingi oleh badan alumni Internasional Thailand selatan mengurus perpanjangan visa di Kota Bharu, Malaysia. Banyak sekali rintangan yang menyapa sejak kami masuk ke Malaysia. Kudeta yang terjadi di negeri beribu kota Bangkok ini benar-benar merubah segalanya. Tapi dari sini kami belajar mengasah kesabaran yang berbuah manis pada akhirnya.
            Malam, kami telah kembali ke Thailand dan bermalam di rumah ustadz Hafiz. Usai buka bersama kami bersantai sejenak. Saat itu Ustadz Kafa-yang sejak pagi mendampingi kami-membelahkan beberapa buah durian untuk kami para mahasiswa Indonesia. Setiap kali durian itu habis, beliau bertanya, “Mau lagi?”
            Ah, hatiku langsung sampai ke Kamulan[1] walaupun ragaku di Thailand. Aku langsung teringat abi. Biasanya aku selalu bermanja pada abi saat dibukakan durian. Ucapan “Mau lagi?”  yang diucapkan oleh ustadz Kafa, nadanya sama persis dengan nada tanya abi. Abi, aku rindu.
            Berhari-hari dan berminggu-minggu aku menahan rindu yang kian menggunung. Kabar pulang lebih awal 10 hari yaitu 10 September yang seharusnya 20 September cukup mengguncangkan hatiku. Aku bahagia karena akan segera berjumpa dengan orang-orang tercinta. Tapi di balik itu aku juga bingung karena dosenku telah menanyakan skripsi yang datanya harus dari sekolah tempatku PPL. Bagaimana ini? Saat ini sekolah libur dan baru masuk bulan agustus nanti. Itupun terpotong untuk UTS, sukkan warna[2], dan libur seminggu. Jika kuhitung, hari aktifnya hanya seminggu. Belum lagi kalau badan alumni mengadakan acara untuk mahasiswa. September pun kuhitung aktif seminggu. Total dua minggu. Skripsi macam apa ini?
            27 Juli 2014, kegalauan itu kutepis perlahan-lahan. Aku ingin memikirkan yang bisa kupikirkan, mengerjakan yang bisa kukerjakan. Tugasku hanya berusaha, berencana sebaik mungkin. Hasil itu di luar kuasaku.
 Ah, tak terasa hari ini adalah hari lahirku yang ke dua puluh satu. Oh, sepinya. Tak ada kue tart, tak ada kado, tak ada senyuman abi dan bunda di depan mataku. Aku sendirian di Ramadhan hari ke dua puluh sembilan.
Pukul 08.00 saat kuaktifkan Samsung Galaxi Star pemberian abi, aku mendapatkan kejutan istimewa dalam WhatsApp-ku. Ada video kiriman dari abi yang isinya ucapan selamat ulang tahun juga pesan singkat berisi doa dari keluarga untukku. Allah... andai bisa kukecup tangan mereka. Ternyata tidak cukup sampai di sini, satu persatu teman-teman PPL dan KKN di Thailand juga mengirim pesan ucapan dan doa untukku. Sungguh bahagianya diriku.
Petang jelang berbuka puasa, terdengar klakson mobil. Kubuka jendela kamarku. Terlihat sebuah mobil putih terparkir di depan. Itu kan mobil ustadz Kafa, pikirku. Aku keluar. Saat aku berdiri di depan mobil beliau, kaca mobil turun dan seorang wanita yang tak lain adalah istri ustadz Kafa memberikan sebuah kue tart dengan lilin angka 21 di atasnya.
            “Happy Birthday, Nina” ucap ustadz Kafa bersamaan dengan sang istri.
            Aku terharu, sungguh terharu. Tak pernah kuduga hal ini sebelumnya. Kupeluk istri ustadz lalu kuterima tart berwarna pink berpadu coklat itu. tiba-tiba ada sepasang tangan yang menyekap mataku dari belakang. Dia menuntunku ke sebuah ruangan yang telah dihiasi kertas warna-warni, bunga dan balon. Indah, indah nian dengan semerbak harumnya bunga alami yang bermekaran.  Telah tertata rapi di meja beberapa piring kecil dan sebuah kue besar dengan lilin di tengahnya. Lampu dipadamkan sesaat untuk membaca doa buka puasa bersama-sama kemudian aku memajatkan doa untuk ulang tahunku yang ke 21.
            Aku rindu padamu, Bunda… wanita yang dua puluh satu tahun yang lalu memperjuangkanku untuk terlahir ke dunia ini. Bunda, aku bahagia karena di sini aku memiliki keluarga yang sangat baik padaku. Bunda, Abi… aku selalu memiliki kalian di manapun aku berada.
            29 Juli 2014, kali ini air mata tiada mampu terbendung lagi. lantunan takbir Idul Fitri yang menggema memenuhi relung hati. Ya Allah… benarkah Idul fitri ini tak ada tangan bunda abi untuk kukecup? Di mana pelukan hangat dan lembut dari dua pahlawan hidupku itu Ya Robb? Aku rindu…

إYala, Thailand,  Ni’matul Khoiriyyah
           



[1] Salah satu desa di Kabupaten Trenggalek, sekitar 1 km dari perbatasan Tulungagung-Trenggalek Jawa Timur
[2] Acara tahunan di sekolah-sekolah Thailand semacam PORSENI 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar