Nina, nama yang terdengar di telingaku ketika
orang-orang memanggilku. Sejak lulus dari SMP, aku mulai tinggal jauh dari
orang tua karena berdomisili di pesantren hingga aku lulus dari Madrasah
Aliyah. Kemudian kulanjutkan studiku ke PTAIN dan aku tinggal di asrama selama
satu tahun atau dua semester. Mulai semester tiga aku kembali berdomisili di
pesantren yang berbeda dengan yang kutempati saat masih aliyah.
Tinggal di pesantren
membuatku kehilangan momen-momen indah yang biasanya kujalani bersama sang
pahlawan hidupku, abi dan bunda. Momen seperti ulang tahun, baik itu ulang
tahunku ataupun ulang tahun pahlawanku sudah sering kujalani tanpa kebersamaan
karena aku di pesantren dan mereka di rumah.
Ya. Mesksipun sudah
bertahun-tahun aku berada di pesantren akan tetapi belum pernah aku tak
berjumpa dengan orang tuaku lebih dari dua minggu kecuali saat abi dan bunda
menunaikan ibadah haji. Saat aku masih duduk di bangku Aliyah, jarak
Trenggalek-Blitar tak menghalangi langkah abi dan bunda untuk menengok putri
tercintanya dua minggu sekali, selama tiga tahun. Saat kuliah, aku memang tak
lagi disambang. Akan tetapi aku yang pulang dua minggu sekali dari pesantren
karena jarak Trenggalek-Tulungagung bisa ditempuh dalam tiga puluh menit. Selain
itu, aturan pesantren yang berbicara. Untuk pelajar Aliyah, hanya boleh pulang
sebulan sekali akan tetapi boleh disambang dua minggu sekali. Sedangkan untuk
mahasiswi, boleh pulang dua minggu sekali dan tidak ada aturan khusus untuk
penyambangan.
Semester enam ini aku mengikuti program baru dari
kampus IAIN Tulungagung yaitu PPL dan KKN terpadu di luar negeri, tepatnya di negara Thailand bagian selatan. Banyak sekali ujian
yang kuhadapi sebelum aku berangkat menjalankan tugasku di negeri seberang.
Mulai dari sulitnya melobi dosen terkait tugas akhir perkuliahan karena aku
berangkat di pertengahan semester enam, jadwal pembekalan yang berbenturan
dengan jadwal mengaji di pondok pesantren, banyaknya tugas yang harus
kukerjakan dengan deadline yang singkat, dan yang paling ekstrim adalah ucapan
seseorang yang kucintai dan mencintaiku di hari terakhir aku kuliah. Dia
mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa dilanjutkan karena ketiadaan restu
dari pihak orang tuanya.
“Dik,
jangan nangis ya!” Pintanya.
Hati
siapa yang tak lara, wanita mana yang air matanya tak berlinang ketika di
hari-hari terakhirnya berada di Indonesia dia harus mendengar kabar yang
menyakitkan tentang hubungannya padahal ia sangat berharap cinta itu bisa
sampai ke pelaminan? Itu yang kurasakan dan kualami di detik-detik jelang
kepergianku ke Thailand. Aku terluka di tengah kesibukanku. Aku terjatuh di
tengah padatnya aktivitasku. Bahkan laptopku pun ikut rewel seolah mengerti
bahwa pemiliknya sedang galau. Aku benar-benar stress saat itu. Di saat hatiku
tengah terluka, engsel laptopku patah dan teknisi yang bisa menservis sedang
keluar kota. Ditambah, baterai laptopku yang daya hidupnya bergantung pada
carger.
Alhamdulillah, waktu demi waktu berlalu dan satu persatu tugas kuliahku selesai dengan penuh perjuangan.
Berjuang di tengah luka yang tersiram air jeruk nipis. Laptopku pun demikian.
Mas teknisi bisa mengerti keadaanku sehingga ia mendahulukan servis laptopku
daripada yang lain. Ia pun rela kesana-kemari demi mencarikan baterai yang cocok
dengan laptopku. Kini tinggal hatiku yang harus kutata. Perlahan tapi pasti,
aku mulai berdamai dengan mas Ari, si dia yang melukaiku. Bahkan pagi sebelum
aku berangkat pada malamnya, kusempatkan diri untuk ke kampus berpamitan dengan
ayah (sapaanku pada salah satu dosen yang sudah kuanggap ayah sendiri) dan
teman-teman sekelas yang tentunya ada dia yang kupamiti secara VIP. Aku pun
pada akhirnya berangkat dengan tenang untuk menjalankan tugasku ke negeri gajah
putih.
Aku
di antar oleh abi, bunda dan adik sampai ke kampus IAIN Tulungagung. Tengah
malam aku dilepas oleh wakil rektor dan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat). Usai pelepasan, kupeluk erat bunda, abi kemudian adik yang
sangat kusayang. “Kita akan berpisah agak lama,” batinku.
Salah
satu dosen memberikan komando untuk segera naik bus kampus yang akan membawaku
dan 19 temanku ke Juanda airport. Kutatap lembut mata dua pahlawanku lalu
kuucapkan salam. Sambil berjalan menuju bus, kulambaikan tangan pada mereka.
***
29
Juni 2014, Ramadhan karim telah tiba. Kuikuti aktivitas pertama di bulan suci
ini yaitu shalat tarawih. Kesan pertama, aku langsung teringat tanah suci meski
aku belum pernah ke sana. Mengapa? Shalat tarawih di sini dua puluh rakaat
dengan bacaan surat seperti di masjidil haram, surat panjang dan bacaan yang
tartil. Dua puluh rakaat plus witir berlangsung mulai pukul 20.00 sampai pukul
22.00.
Inilah
pertama kalinya aku shalat tarawih di malam pertama Ramadhan tanpa abi dan
bunda. Sahur pertamaku pun demikian. Meski bertahun-tahun aku nyantri, akan
tetapi pesantren selalu memberi kesempatan tarawih, sahur dan buka puasa
pertama dengan keluarga di rumah. Terasa sangat berbeda tahun ini. Aku baru
sadar, aku berada di negeri orang.
17
Juli 2014, sejak pagi aku dan kawan-kawan didampingi oleh badan alumni
Internasional Thailand selatan mengurus perpanjangan visa di Kota Bharu,
Malaysia. Banyak sekali rintangan yang menyapa sejak kami masuk ke Malaysia.
Kudeta yang terjadi di negeri beribu kota Bangkok ini benar-benar merubah
segalanya. Tapi dari sini kami belajar mengasah kesabaran yang berbuah manis
pada akhirnya.
Malam,
kami telah kembali ke Thailand dan bermalam di rumah ustadz Hafiz. Usai buka
bersama kami bersantai sejenak. Saat itu Ustadz Kafa-yang sejak pagi
mendampingi kami-membelahkan beberapa buah durian untuk kami para mahasiswa
Indonesia. Setiap kali durian itu habis, beliau bertanya, “Mau lagi?”
Ah,
hatiku langsung sampai ke Kamulan[1]
walaupun ragaku di Thailand. Aku langsung teringat abi. Biasanya aku selalu
bermanja pada abi saat dibukakan durian.
Ucapan “Mau lagi?” yang diucapkan oleh
ustadz Kafa, nadanya sama persis dengan nada tanya abi. Abi, aku rindu.
Berhari-hari
dan berminggu-minggu aku menahan rindu yang kian menggunung. Kabar pulang lebih
awal 10 hari yaitu 10 September yang seharusnya 20 September cukup
mengguncangkan hatiku. Aku bahagia karena akan segera berjumpa dengan
orang-orang tercinta. Tapi di balik itu aku juga bingung karena dosenku telah
menanyakan skripsi yang datanya harus dari sekolah tempatku PPL. Bagaimana ini?
Saat ini sekolah libur dan baru masuk bulan agustus nanti. Itupun terpotong
untuk UTS, sukkan warna[2],
dan libur seminggu. Jika kuhitung, hari aktifnya hanya seminggu. Belum lagi
kalau badan alumni mengadakan acara untuk mahasiswa. September pun kuhitung
aktif seminggu. Total dua minggu. Skripsi macam apa ini?
27
Juli 2014, kegalauan itu kutepis perlahan-lahan. Aku ingin memikirkan yang bisa
kupikirkan, mengerjakan yang bisa kukerjakan. Tugasku hanya berusaha, berencana
sebaik mungkin. Hasil itu di luar kuasaku.
Ah, tak terasa hari ini adalah hari lahirku
yang ke dua puluh satu. Oh, sepinya. Tak ada kue tart, tak ada kado, tak ada
senyuman abi dan bunda di depan mataku. Aku sendirian di Ramadhan hari ke dua
puluh sembilan.
Pukul 08.00 saat kuaktifkan Samsung Galaxi Star pemberian
abi, aku mendapatkan kejutan istimewa dalam WhatsApp-ku. Ada video kiriman dari
abi yang isinya ucapan selamat ulang tahun juga pesan singkat berisi doa dari
keluarga untukku. Allah... andai bisa kukecup tangan mereka. Ternyata tidak
cukup sampai di sini, satu persatu teman-teman PPL dan KKN di Thailand juga
mengirim pesan ucapan dan doa untukku. Sungguh bahagianya diriku.
Petang jelang
berbuka puasa, terdengar klakson mobil. Kubuka jendela kamarku. Terlihat sebuah
mobil putih terparkir di depan. Itu kan mobil ustadz Kafa, pikirku. Aku keluar.
Saat aku berdiri di depan mobil beliau, kaca mobil turun dan seorang wanita
yang tak lain adalah istri ustadz Kafa memberikan sebuah kue tart dengan lilin
angka 21 di atasnya.
“Happy
Birthday, Nina” ucap ustadz Kafa bersamaan dengan sang istri.
Aku
terharu, sungguh terharu. Tak pernah kuduga hal ini sebelumnya. Kupeluk istri
ustadz lalu kuterima tart berwarna pink berpadu coklat itu. tiba-tiba ada
sepasang tangan yang menyekap mataku dari belakang. Dia menuntunku ke sebuah
ruangan yang telah dihiasi kertas warna-warni, bunga dan balon. Indah, indah
nian dengan semerbak harumnya bunga alami yang bermekaran. Telah tertata rapi di meja beberapa piring
kecil dan sebuah kue besar dengan lilin di tengahnya. Lampu dipadamkan sesaat
untuk membaca doa buka puasa bersama-sama kemudian aku memajatkan doa untuk
ulang tahunku yang ke 21.
Aku rindu padamu, Bunda… wanita yang dua puluh satu
tahun yang lalu memperjuangkanku untuk terlahir ke dunia ini. Bunda, aku bahagia
karena di sini aku memiliki keluarga yang sangat baik padaku. Bunda, Abi… aku
selalu memiliki kalian di manapun aku berada.
29
Juli 2014, kali ini air mata tiada mampu terbendung lagi. lantunan takbir Idul
Fitri yang menggema memenuhi relung hati. Ya Allah… benarkah Idul fitri ini tak
ada tangan bunda abi untuk kukecup? Di mana pelukan hangat dan lembut dari dua
pahlawan hidupku itu Ya Robb? Aku rindu…
إYala, Thailand, Ni’matul Khoiriyyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar