Entri Populer

Jumat, 03 April 2015

SKRIPSI YANG PENUH CINTA

                                        
(Part 1)
Bagi seorang Nina, move on merupakan hal yang tidak bisa seinstan mie sedap yang cukup dalam hitungan menit. Perjalanan hari demi hari di kampus mengukirkan sejuta warna di kanvas yang bermerk “hati”. Warna pink dua kali menghampiri. Iya. Pink adalah warna cinta. Goresan warna pertama dari seorang dosen ketika aku masih duduk di semester dua. Goresan warna kedua dari seorang mahasiswa ketika aku duduk di awal semester 6 dan luntur di semester itu pula.
Untuk mencintai dan dicintai ternyata tidak sesulit untuk memiliki dan dimiliki secara sah di mata agama dan negara. Kepercayaan merupakan awal tumbuhnya cinta karena kita tidak mungkin bisa mencintai orang yang tidak bisa kita percaya. Kepercayaan apa? Kepercayaan untuk bisa melengkapi satu sama lain, kepercayaan untuk saling menjaga kehormatan satu sama lain, kepercayaan untuk berusaha saling membahagiakan satu sama lain, dan kepercayaan untuk tidak saling mempermasalahkan kekurangan satu sama lain. Ini lho sebenarnya indah dan mulianya cinta.
“Namun adakala insan tak berdaya saat dusta mampir bertahta...” petikan sebuah lagu ini menandakan bahwa dustalah yang melumpuhkan kekuatan cinta yang pada dasarnya merupakan kepercayaan antara sepasang insan ciptaan Ar-Rahman. Dua orang insan yang saling mencintai tentu memiliki keinginan mulia untuk dipersatukan oleh Sang Maha Cinta. Namun tentu Sang Maha Cinta memberikan proses yang diibaratkan menaiki tangga untuk bisa sampai ke puncak yang dituju. Pada mulanya, ketika masih berada di awal-awal tangga, kekuatan masih besar, semangat masih membara, dan keinginan untuk sampai ke puncak masih menggebu. Semakin ke atas akan semakin terasa lelah atau bahkan ingin menyerah jika tidak memiliki tekad yang kuat. Padahal, ketika mereka menaiki tangga itu bersama-sama setinggi apapun dan sebanyak apapun anak tangga itu, mereka akan merasa sangat bahagia ketika sampai di puncak dan tetap bersama.
Di puncak itulah pintu gerbang cinta suci yang bernama pernikahan. Sayangnya, banyak yang gagal ketika berproses. Tidak berjalan bersama saat menaiki tangga, tidak memiliki semangat yang sama saat menaiki tangga, tidak saling percaya bahwa mereka sanggup menaiki tangga hingga puncak dan ketika sampai di tengah-tengah ada yang memilih turun dan pergi. (Ups.... kok seperti kisah Nina saja yang itu) Ketika Nina bersemangat menaiki tangga meskipun lelah, partner Nina menyerah di tengah-tengah dan memilih turun untuk jalan-jalan dengan yang lain.
Hakikatnya, hal itu tidak berbeda dengan tingkatan ujian yang diberikan oleh Sang Khaliq kepada hamba-Nya. “Laa Yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa”, seseorang tidak diuji melebihi batas kemampuannya sehingga anak SD tidak akan diberi tugas membuat makalah dan anak SMP tidak akan diminta PPL dan KKN, pun anak SMA tidak akan diminta menyusun skripsi dan seseorang tidak akan diminta mengerjakan tesis kecuali mahasiswa tingkat S2.
Mengapa harus menyerah ketika diuji? Bukankah Sang Penguji sudah lebih tahu siapa yang diujinya? Hai... tugas manusia bukan untuk berhasil tapi untuk berproses sebaik dan semaksimal yang ia mampu. Adapun kesuksesan itu bonus dari Sang Penguji ketika yang diuji patut untuk mendapatkannya. Bukankah begitu? Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal coba lagi atau pilih alternatif jalan lain yang lebih baik.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...” petikan lagu ini (mohon maaf) sekali-kali jangan diamalkan karena hanya akan membuat hidup jadi terpuruk dalam lautan luka masa lalu. “Aku tanpamu butiran debu...”  lirik yang ini lebih parah lagi. Sebegitu lemahkah kita tanpa si dia yang belum halal dan mungkin tidak akan pernah halal bagi kita. Hai... dunia lebih luas dari daun kelor. Mengapa harus terpuruk tanpa si dia? Bukankah lebih indah kalau “Aku tanpamu akan lebih baik”.
Jatuh dan terluka lalu merasakan sakit itu wajar. Tapi tidak wajar kalau terus-menerus mengingat perihnya luka itu sehingga menjadikan pribadi kita semakin terpuruk tak berdaya. Lebih buruk lagi kalau setelah putus cinta kemudian bermusuhan dengan sang mantan sampai tujuh turunan. Hai... jangan seperti itu. Boleh putus, tapi tetaplah berdamai dengan masa lalu.
Oke, masuk ke poin skripsi. Satu kata yang terdiri dari 7 huruf dengan 2 huruf vokal ini merupakan tugas akhir mahasiswa strata 1 yang kabarnya merupakan momok. Namun, siapa sangka, tugas akhir inilah yang justru membangkitkan Nina dari luka cinta yang kandas dihantam badai.
Menurut penuturan salah seorang kakak kelasku, cinta itu tidak bisa dihapuskan tapi bisa dialihkan perhatiannya. Berangkat dari sini, aku segera mengalihkan perhatianku yang semula tertuju untuk dia kemudian terfokus pada penulisan karya ilmiah yang merupakan tugas akhirku di kampus IAIN Tulungagung. Benar saja, move on dari dia (mahasiswa penggores warna pink kedua) lebih cepat jika dibandingkan dengan move on dari beliau (dosen penggores warna pink pertama). Singkat kata, tugas akhir ini menyita hampir seluruh perhatianku hingga tidak sempat lagi untuk merasakan perihnya luka kandasnya cinta.
Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing skripsiku. Curahan perhatian, pengorbanan, kasih sayang dan bimbingannya telah membantuku bangkit dari luka. Hari demi hari kukerjakan skripsiku (meski tidak bisa setiap hari). Jarak jauh tak menjadi penghalang bagiku untuk mendapat bimbingannya. Terkadang, aku di kampus saat beliau di luar kota. Pun sebaliknya, saat beliau di kampus aku tidak datang.
Aku jarang -bahkan hampir tidak pernah- membuat perjanjian untuk menemui beliau. Seringkali beliau tidak merespon ketika kukirim pesan singkat. Terkadang juga beliau tak sempat menerima teleponku. Walhasil, aku hanya mengandalkan feeling jika ingin menemui beliau. Seringkali perasaan bahwa beliau ada di kampus itu memang benar dan aku bisa menemui beliau, meski sesekali feeling itu meleset ketika aku menunggu berjam-jam dan ternyata beliau tidak ada.
Sejenak mungkin aku merasa kecewa ketika menunggu lama kemudian tidak berjumpa, namun kembali kusadari bahwa beliau pernah mengirim pesan padaku untuk datang menemui beliau di kampus pada jam sekian namun aku tidak merespon dan tidak datang. Beliau pun tidak marah, justru memberiku semangat yang luar biasa dengan butiran nasihatnya yang selalu merasuk ke dalam jiwa. Beliau juga tidak jarang meluangkan waktunya untukku, tak hanya meluangkan... bahkan mengorbankan. Ketulusan beliau yang merupakan praktik nyata dari formula “Head, Heart and Hand” seringkali menyadarkanku betapa berartinya cinta dan perjuangan seorang guru bagi anak didiknya. Tidak aneh jika aku menganggap dospem skripsiku seperti ayahku sendiri. Iya. Ayah yang tanpa ikatan darah.
Beliau juga salah satu inspirasiku saat berada di Thailand Selatan untuk PPL dan KKN. Sentuhan cinta pun selalu berusaha kuberikan pada peserta didik di Phattana Islam Wittaya School, serewel apapun mereka. Semua orang memiliki potensi kebaikan dalam dirinya namun ia pun berinteraksi dengan lingkungannya yang juga memberikan pengaruh bagi perkembangan dirinya. Seperti aliran Konvergensi yang beranggapan bahwa setiap manusia memiliki pembawaan namun juga mendapat pengaruh lingkungan dalam perkembangannya, aku pun ingin memberikan warna pada kanvas pelajar di sekolah itu.
To be continued....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar