(Part 1)
Bagi seorang Nina, move on merupakan hal yang tidak bisa
seinstan mie sedap yang cukup dalam hitungan menit. Perjalanan hari demi hari
di kampus mengukirkan sejuta warna di kanvas yang bermerk “hati”. Warna pink
dua kali menghampiri. Iya. Pink adalah warna cinta. Goresan warna pertama dari
seorang dosen ketika aku masih duduk di semester dua. Goresan warna kedua dari
seorang mahasiswa ketika aku duduk di awal semester 6 dan luntur di semester
itu pula.
Untuk mencintai dan dicintai ternyata tidak sesulit untuk
memiliki dan dimiliki secara sah di mata agama dan negara. Kepercayaan
merupakan awal tumbuhnya cinta karena kita tidak mungkin bisa mencintai orang
yang tidak bisa kita percaya. Kepercayaan apa? Kepercayaan untuk bisa
melengkapi satu sama lain, kepercayaan untuk saling menjaga kehormatan satu
sama lain, kepercayaan untuk berusaha saling membahagiakan satu sama lain, dan
kepercayaan untuk tidak saling mempermasalahkan kekurangan satu sama lain. Ini
lho sebenarnya indah dan mulianya cinta.
“Namun adakala insan tak berdaya saat dusta mampir
bertahta...” petikan sebuah lagu ini menandakan bahwa dustalah yang melumpuhkan
kekuatan cinta yang pada dasarnya merupakan kepercayaan antara sepasang insan
ciptaan Ar-Rahman. Dua orang insan yang saling mencintai tentu memiliki
keinginan mulia untuk dipersatukan oleh Sang Maha Cinta. Namun tentu Sang Maha
Cinta memberikan proses yang diibaratkan menaiki tangga untuk bisa sampai ke
puncak yang dituju. Pada mulanya, ketika masih berada di awal-awal tangga,
kekuatan masih besar, semangat masih membara, dan keinginan untuk sampai ke
puncak masih menggebu. Semakin ke atas akan semakin terasa lelah atau bahkan
ingin menyerah jika tidak memiliki tekad yang kuat. Padahal, ketika mereka
menaiki tangga itu bersama-sama setinggi apapun dan sebanyak apapun anak tangga
itu, mereka akan merasa sangat bahagia ketika sampai di puncak dan tetap
bersama.
Di puncak itulah pintu gerbang cinta suci yang bernama
pernikahan. Sayangnya, banyak yang gagal ketika berproses. Tidak berjalan
bersama saat menaiki tangga, tidak memiliki semangat yang sama saat menaiki
tangga, tidak saling percaya bahwa mereka sanggup menaiki tangga hingga puncak
dan ketika sampai di tengah-tengah ada yang memilih turun dan pergi. (Ups....
kok seperti kisah Nina saja yang itu) Ketika Nina bersemangat menaiki tangga
meskipun lelah, partner Nina menyerah di tengah-tengah dan memilih turun untuk
jalan-jalan dengan yang lain.
Hakikatnya, hal itu tidak berbeda dengan tingkatan ujian
yang diberikan oleh Sang Khaliq kepada hamba-Nya. “Laa Yukallifullaahu
nafsan illaa wus’ahaa”, seseorang tidak diuji melebihi batas kemampuannya
sehingga anak SD tidak akan diberi tugas membuat makalah dan anak SMP tidak
akan diminta PPL dan KKN, pun anak SMA tidak akan diminta menyusun skripsi dan seseorang
tidak akan diminta mengerjakan tesis kecuali mahasiswa tingkat S2.
Mengapa harus menyerah ketika diuji? Bukankah Sang
Penguji sudah lebih tahu siapa yang diujinya? Hai... tugas manusia bukan untuk
berhasil tapi untuk berproses sebaik dan semaksimal yang ia mampu. Adapun
kesuksesan itu bonus dari Sang Penguji ketika yang diuji patut untuk
mendapatkannya. Bukankah begitu? Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal coba
lagi atau pilih alternatif jalan lain yang lebih baik.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...” petikan lagu ini (mohon maaf) sekali-kali jangan
diamalkan karena hanya akan membuat hidup jadi terpuruk dalam lautan luka masa
lalu. “Aku tanpamu butiran debu...”
lirik yang ini lebih parah lagi. Sebegitu lemahkah kita tanpa si dia
yang belum halal dan mungkin tidak akan pernah halal bagi kita. Hai... dunia
lebih luas dari daun kelor. Mengapa harus terpuruk tanpa si dia? Bukankah lebih
indah kalau “Aku tanpamu akan lebih baik”.
Jatuh dan terluka lalu merasakan sakit itu wajar. Tapi
tidak wajar kalau terus-menerus mengingat perihnya luka itu sehingga menjadikan
pribadi kita semakin terpuruk tak berdaya. Lebih buruk lagi kalau setelah putus
cinta kemudian bermusuhan dengan sang mantan sampai tujuh turunan. Hai...
jangan seperti itu. Boleh putus, tapi tetaplah berdamai dengan masa lalu.
Oke, masuk ke poin skripsi. Satu kata yang terdiri dari 7
huruf dengan 2 huruf vokal ini merupakan tugas akhir mahasiswa strata 1 yang
kabarnya merupakan momok. Namun, siapa sangka, tugas akhir inilah yang justru
membangkitkan Nina dari luka cinta yang kandas dihantam badai.
Menurut penuturan salah seorang kakak kelasku, cinta itu
tidak bisa dihapuskan tapi bisa dialihkan perhatiannya. Berangkat dari sini,
aku segera mengalihkan perhatianku yang semula tertuju untuk dia kemudian terfokus
pada penulisan karya ilmiah yang merupakan tugas akhirku di kampus IAIN
Tulungagung. Benar saja, move on dari dia (mahasiswa penggores warna pink kedua)
lebih cepat jika dibandingkan dengan move on dari beliau (dosen penggores warna
pink pertama). Singkat kata, tugas akhir ini menyita hampir seluruh perhatianku
hingga tidak sempat lagi untuk merasakan perihnya luka kandasnya cinta.
Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran dosen
pembimbing skripsiku. Curahan perhatian, pengorbanan, kasih sayang dan
bimbingannya telah membantuku bangkit dari luka. Hari demi hari kukerjakan
skripsiku (meski tidak bisa setiap hari). Jarak jauh tak menjadi penghalang
bagiku untuk mendapat bimbingannya. Terkadang, aku di kampus saat beliau di
luar kota. Pun sebaliknya, saat beliau di kampus aku tidak datang.
Aku jarang -bahkan hampir tidak pernah- membuat
perjanjian untuk menemui beliau. Seringkali beliau tidak merespon ketika
kukirim pesan singkat. Terkadang juga beliau tak sempat menerima teleponku.
Walhasil, aku hanya mengandalkan feeling jika ingin menemui beliau. Seringkali
perasaan bahwa beliau ada di kampus itu memang benar dan aku bisa menemui
beliau, meski sesekali feeling itu meleset ketika aku menunggu berjam-jam dan
ternyata beliau tidak ada.
Sejenak mungkin aku merasa kecewa ketika menunggu lama
kemudian tidak berjumpa, namun kembali kusadari bahwa beliau pernah mengirim
pesan padaku untuk datang menemui beliau di kampus pada jam sekian namun aku
tidak merespon dan tidak datang. Beliau pun tidak marah, justru memberiku
semangat yang luar biasa dengan butiran nasihatnya yang selalu merasuk ke dalam
jiwa. Beliau juga tidak jarang meluangkan waktunya untukku, tak hanya
meluangkan... bahkan mengorbankan. Ketulusan beliau yang merupakan praktik
nyata dari formula “Head, Heart and Hand” seringkali menyadarkanku betapa
berartinya cinta dan perjuangan seorang guru bagi anak didiknya. Tidak aneh
jika aku menganggap dospem skripsiku seperti ayahku sendiri. Iya. Ayah yang
tanpa ikatan darah.
Beliau juga salah satu inspirasiku saat berada di
Thailand Selatan untuk PPL dan KKN. Sentuhan cinta pun selalu berusaha
kuberikan pada peserta didik di Phattana Islam Wittaya School, serewel apapun
mereka. Semua orang memiliki potensi kebaikan dalam dirinya namun ia pun
berinteraksi dengan lingkungannya yang juga memberikan pengaruh bagi
perkembangan dirinya. Seperti aliran Konvergensi yang beranggapan bahwa setiap
manusia memiliki pembawaan namun juga mendapat pengaruh lingkungan dalam
perkembangannya, aku pun ingin memberikan warna pada kanvas pelajar di sekolah
itu.
To be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar