by Ni'matul Khoiriyyah
Senang
hatiku,
akhirnya tugas PPL dan KKN-ku selesai dan aku bisa
kembali ke tanah air bersama Air Asia yang menerbangkanku dari Hat Yai ke
Surabaya. PR terbesarku saat ini ada tiga; laporan PPL-KKN di Thailand, ujian
komprehensif, dan skripsi. Setelah itu, baru boleh resepsi. Ah, ternyata kuliah
S1 tidak lama.
Rindu sekali rasanya pada tanah air
yang kutinggalkan selama empat bulan. Rindu ayah, rindu bunda, rindu IAIN
Tulungagung dan... rindu sekali pada si dia. Dia laki-laki kelahiran 1992, hanya
terpaut setahun denganku. Saat ini dia sedang menempuh studi semester 1 di
pascasarjana. Hebatnya, dia yang skripsinya selesai paling awal di gelombang
satu dan hasil ujiannya kumlaude, pujaan para dosen. Aku merasa beruntung
memiliki hatinya, sayang belum sah di mata agama dan negara. Kapan
pengesahannya?
Namun satu hal yang kusayangkan.
Selama aku menjalin asmara dengannya, dia belum berani datang ke rumah untuk
berkenalan dengan ayah-bunda. Alasannya, dia takut aku dimarahi dan itu akan
berakibat menjauhkanku darinya. Dia tahu ayah melarangku pacaran sebelum tuntas
kuliahku. Jika dia berani mendekatiku dan ayah tahu, ayah akan marah dan
menjauhkannya dariku. Tentu dia tak ingin jauh-jauh dariku. Bahkan andaikan dia
belum kuliah di pascasarjana, dia tentu akan menyertaiku untuk PPL dan KKN di
Thailand karena program itu hanya untuk mahasiswa semester tujuh. Tapi aku
bangga padanya. Meski tidak mau jauh-jauh dariku tapi dia sanggup menjalani
LDR. Dia bisa dipercaya untuk menjaga hatiku yang jauh di seberang sana.
***
“Nala, sudah sampai
mana skripsinya?” Tanya mas Indra.
“Aku
masih mau seminar, Mas. Laporan PPL-KKN baru kemarin kukumpulkan. Pagi tadi aku
menyerahkan proposal skripsi.” Jawabku.
“Bagus, semangat terus,
ya. Kamu harus kumlaude. Aku akan datang setelah kamu ujian.”
“Datang..., maksud Mas Indra ke rumah?”
Dia
mengangguk. Aku bahagia sekali. Tak sabar rasanya ingin segera menyelesaikan
skripsiku dan memperjuangkan sejilid tulisan itu dalam sebuah sidang di hadapan
dosen penguji. Bukan itu
sebenarnya letak ketidaksabaranku, tapi kehadirannya untuk mempersuntingku.
“Mau kemana sekarang?” tanya Mas
Indra yang menemaniku di perpustakaan sejak sejam yang lalu. Bel tanda
pengunjung harus keluar sudah berdering.
“Ke masjid.” Jawabku singkat.
“Kapan ya, untuk pertama kalinya aku
akan mengimami shalat wanita yang kucintai?” Ia menatapku lembut. “Aku ingin
wanita itu mengamini setiap doaku. Wanita itu adalah kamu, Nala.”
“Mas, aku akan berusaha untuk bisa
ujian skripsi gelombang satu. Doakan aku segera lulus, Mas. Aku pun ingin
segera menjadi makmum setia untukmu.” Kukembalikan buku yang baru kupakai ke
rak sesuai kategori. Segera aku dan Mas Indra keluar dari perpustakaan dan
berpisah di masjid kampus karena usai Jama’ah Dhuhur aku harus menemui dosen
pembimbingku dan Mas Indra masih ada kuliah.
Penantian ini masih panjang. Menanti
bulan April itu artinya masih 4 bulan lagi. Aku tak peduli seberapa lama
penantian itu. Selama Mas Indra ada di sisiku, penantian ini tidak akan terasa
berat karena rasa takut kehilangan itu tak pernah menghampiri. Tak seorangpun
yang tahu aku menjalin ikatan dengan Mas Indra dan aku yakin suatu hari nanti
ayah akan merestuiku dengannya.
***
Empat bulan berlalu dan komunikasiku
dengan Mas Indra selalu berjalan dengan baik. Dia selalu ada meskipun tak di
depan mata. Memiliki hatinya membuatku tak merasa sendiri. Sayang, tiga hari
sebelum aku ujian skripsi ia harus terbang ke Kuala Lumpur untuk menengok
keponakannya yang baru lahir. Itu artinya intensitas komunikasiku dengannya
sedikit berkurang.
Hari ini aku akan sidang dan
rencananya ia akan terbang kembali dari KLIA ke Juanda. Bismillah, semoga Allah
melancarkan sidang skripsiku dan melindungi perjalanan Mas Indra. Sebelum aku
memasuki ruang sidang, kuterima Line darinya.
“Bidadariku, selamat berjuang di
sana. Semoga lancar dan lulus dengan predikat kumlaud. Kamu akan menjadi
seorang sarjana yang berilmu dan berakhlak. Abhimanyumu akan segera kembali. I
Love You until the last of my life.”
Dia pasti akan terbang sekarang
sesuai janjinya tadi malam untuk mengirim pesan sebelum menonaktifkan
ponselnya. Aku pun dengan keyakinan dan semangat memasuki ruang sidang di mana
ada tiga dosen penguji yang salah satunya adalah dosen pembimbing skripsiku.
Satu jam berlalu dan aku keluar dari
ruang sidang dengan perasaan lega. Tiga dosen pengujiku tersenyum puas dengan
karya yang telah kuperjuangkan dan kupertahankan di hadapan mereka.
Alhamdulillah, aku lulus.
Aku segera pulang dan memeluk kedua
orang tuaku. Rasa bahagia bercampur haru menghapus ketakutanku untuk berbicara
jujur tentang keberadaan Mas Indra dalam hatiku. Aku pun dengan tenang
menceritakan kisahku dengan Mas Indra yang akan datang hari ini setelah kembali
dari Kuala Lumpur.
Syukurlah, ayah dan ibu tidak tampak
kecewa juga tidak marah padaku. Mereka begitu senang saat kuceritakan tentang
Mas Indra yang ternyata adalah putra sulung dari sahabat ayah. Artinya
penantian panjangku dengan Mas Indra tidak akan sia-sia karena orang tuaku dan
orang tuanya pasti merestui.
Segera kupersiapkan segalanya untuk
menyambut kehadiran Mas Indra sore nanti. Lima jam telah berlalu sejak aku
pulang kuliah. Aku baru sadar bahwa perjalanan pesawat dari KLIA ke Juanda
hanya dalam waktu 2 jam. Mengapa Mas Indra belum mengirim pesan? Bukankah ia
sudah mendarat dan mengaktifkan ponselnya kembali?
Ah, mungkin ia terlalu bersemangat
untuk segera pulang dan datang kemari sehingga ia tidak sempat menghubungiku.
Mungkin juga ia sedang bersiap-siap menuju kemari hingga tidak sempat
mengaktifkan ponselnya. Aku harus tetap tenang.
***
Sudah pukul 19.00 malam. Mas Indra
belum memberikan kabar apapun dan tidak membalas chat-ku. Aku gelisah.
Aku tahu dia orang yang selalu tepat waktu dan tidak pernah melanggar janji.
Aku pun keluar dari kamarku ke ruang tamu dan menghampiri ayah yang sedang
mendengarkan berita.
Innalillah... sebuah pesawat yang
take off pukul 08.58 dari Kuala Lumpur ke Surabaya terjatuh di laut Jawa pada
pukul 10.50. Ya Tuhan, bukankah pada pukul
08.55 Mas Indra mengirim pesan via Line padaku. Benarkah pesawat itu yang
membawa Mas Indra? Tidak mungkin! Mas Indra pasti menepati janjinya untuk
mempersuntingku malam ini. Tidak mungkin! Mas Indra pasti dalam perjalanan
menuju kemari.
“... Abhimanyumu akan segera
kembali. I Love You until the last of my life.” Kubaca kembali pesan dalam
Line yang dikirimnya tadi pagi. Robb... aku baru sadar, Mas Indra menggunakan
diksi “kembali” bukan “datang”. Ia juga sebelumnya tidak pernah memanggilku
“Bidadari” dan tak pernah menyebut dirinya “Abhimanyu”. “...until the last
of my life,” Mas Indra, apakah kau meninggalkanku? Aku menantimu, Mas.
Air mata membanjiri pipiku hingga
aku terisak. Ayah dan ibu pun bersedih melihatku. Setelah kebahagiaan atas
kelulusanku, inikah hadiahku? Aku merasa Tuhan tidak adil padaku dengan
mengambil Mas Indra di saat impiannya hampir terwujud.
“Ting tung....” Suara bel berbunyi.
Aku masih terisak dan tidak mau melepas tangan ayah dan ibu yang kugenggam
sejak tadi. Aku yakin di luar sana ada polisi yang akan mengabarkan berita
buruk itu. Iya. Seperti dalam beberapa film yang pernah kusaksikan. Ketika
kecelakaan menimpa seseorang maka polisi akan datang ke rumah kerabat atau
orang terdekat dari korban itu untuk mengabarkannya. Tidak! Aku tidak mau
mendengar kabar buruk itu lagi setelah reporter dengan jelas mengatakannya
dalam berita.
“Ting tung....” Bel itu semakin bandel dan memaksa untuk dibukakan pintu.
“Ting tung....” Kulepaskan genggaman ayah dan ibu lalu aku beranjak
mendekati pintu seraya berteriak. “Pergi.....!” Kupukul pintu itu berkali-kali
hingga tanganku panas dan aku tersungkur tak berdaya sambil terus menangis. Ibu
memelukku dan ayah membuka pintu.
“Assalamu ‘alaikum, Nala, kamu mengusirku?”
Suara itu... suara itu aku mengenalnya. Kuangkat kepalaku perlahan dan
ternyata Mas Indra. Subhanallah, aku seperti bermimpi. Aku hampir saja
memeluknya kalau saja tidak kuingat agama masih melarangku.
Ayah Mas Indra berpelukan dengan ayahku dan ibu Mas Indra memelukku setelah
mengusap air mataku. Ayah mempersilahkan mereka masuk. Aku masih di pelukan ibu
Mas Indra. Isakanku belum berhenti dan Mas Indra tampak sangat bingung melihat
keadaanku yang mungkin tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ayah pun menceritakan semuanya. Kebahagiaanku saat dosen penguji menyatakan
lulus, penantianku sejak siang hingga malam, sampai tangisku saat mendengar
berita jatuhnya pesawat dari Kuala Lumpur di laut Jawa yang kusangka membawa
Mas Indra.
Aku pun tiba-tiba tersenyum saat
ayah mengakhiri ceritanya. Kutatap dalam-dalam ibu Mas Indra. “Tante... Mas
Indra nakal.” Ucapku yang disusul gelak tawa semuanya.
“Nala, apa kamu tahu Allah sangat
menyayangi kita?” Ujar Mas Indra menatapku lembut. “Abhimanyumu hampir saja
terbang bersama pesawaat naas itu, Nala. Tapi kemudian ia sadar bahwa sajadah darimu
tertinggal di kamar keponakannya. Ia pun turun dari pesawat yang sudah siap
take off dan mencari taxi hanya untuk mengambil sajadah dari wanita pujaannya
itu. Orang lain mungkin menganggap ini konyol dan gila. Apa kamu tahu
Abhimanyumu harus rela kehilangan barang-barangnya yang sudah masuk bagasi dan
kabin pesawat hanya demi sajadah darimu? Nala, aku sempat berpikir untuk
merelakan sajadah itu tertinggal di rumah sepupuku, tapi kemudian aku sadar
bahwa sajadah itu sangat berharga karena cintamu. Aku harus rela ketinggalan
pesawat dan memesan tiket mendadak untuk penerbangan berikutnya dengan
konsekuensi terlambat dan membuatmu khawatir seperti ini. Tapi aku akan sangat
menyesal bila aku tidak mengambil sajadah yang tertinggal itu karena aku tidak
akan bisa menghentikan tangismu jika aku benar-benar terjatuh dan tenggelam
bersama pesawaat itu.”
Gelak tawa yang sebelumnya mengiringi
celotehku pun berubah menjadi tetesan air mata haru. Namun Mas Indra dengan
tenangnya tersenyum padaku. “Apa benar aku nakal, Nala?”
Aku justru mengangguk. “Kamu nakal,
Mas, tidak mengabariku.”
“Karena cinta harus menunggu, Nala. Abhimanyu
akan selalu memperjuangkan kebenaran hingga akhir hidupnya. Aku pun akan
memperjuangkan cintaku. Jangankan dirimu, sajadahmu saja kupertahankan, Nala. I
Love You until the last of my life.” Jawab Mas Indra.
“Dan sekarang Om menunggu lamaranmu
untuk Putri Nala yang baru menangis ini, Ksatria Abhimanyu.” Sahut Ayah.
Subhanallah
walhamdulillah... Sungguh indah skenario cinta-Mu, Robb. Engkau tautkan hatiku
dan hatinya dengan begitu indah. Restuilah kami, kuatkanlah cinta kami, until
the last of my life. Aku mencintaimu, Abhimanyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar