Entri Populer

Rabu, 08 April 2015

Abhimanyu


by Ni'matul Khoiriyyah 
            Senang hatiku, akhirnya tugas PPL dan KKN-ku selesai dan aku bisa kembali ke tanah air bersama Air Asia yang menerbangkanku dari Hat Yai ke Surabaya. PR terbesarku saat ini ada tiga; laporan PPL-KKN di Thailand, ujian komprehensif, dan skripsi. Setelah itu, baru boleh resepsi. Ah, ternyata kuliah S1 tidak lama.
            Rindu sekali rasanya pada tanah air yang kutinggalkan selama empat bulan. Rindu ayah, rindu bunda, rindu IAIN Tulungagung dan... rindu sekali pada si dia. Dia laki-laki kelahiran 1992, hanya terpaut setahun denganku. Saat ini dia sedang menempuh studi semester 1 di pascasarjana. Hebatnya, dia yang skripsinya selesai paling awal di gelombang satu dan hasil ujiannya kumlaude, pujaan para dosen. Aku merasa beruntung memiliki hatinya, sayang belum sah di mata agama dan negara. Kapan pengesahannya?
            Namun satu hal yang kusayangkan. Selama aku menjalin asmara dengannya, dia belum berani datang ke rumah untuk berkenalan dengan ayah-bunda. Alasannya, dia takut aku dimarahi dan itu akan berakibat menjauhkanku darinya. Dia tahu ayah melarangku pacaran sebelum tuntas kuliahku. Jika dia berani mendekatiku dan ayah tahu, ayah akan marah dan menjauhkannya dariku. Tentu dia tak ingin jauh-jauh dariku. Bahkan andaikan dia belum kuliah di pascasarjana, dia tentu akan menyertaiku untuk PPL dan KKN di Thailand karena program itu hanya untuk mahasiswa semester tujuh. Tapi aku bangga padanya. Meski tidak mau jauh-jauh dariku tapi dia sanggup menjalani LDR. Dia bisa dipercaya untuk menjaga hatiku yang jauh di seberang sana.
            ***
            “Nala, sudah sampai mana skripsinya?” Tanya mas Indra.
            “Aku masih mau seminar, Mas. Laporan PPL-KKN baru kemarin kukumpulkan. Pagi tadi aku menyerahkan proposal skripsi.” Jawabku.
            “Bagus, semangat terus, ya. Kamu harus kumlaude. Aku akan datang setelah kamu ujian.”
            “Datang..., maksud Mas Indra ke rumah?”
            Dia mengangguk. Aku bahagia sekali. Tak sabar rasanya ingin segera menyelesaikan skripsiku dan memperjuangkan sejilid tulisan itu dalam sebuah sidang di hadapan dosen penguji. Bukan itu sebenarnya letak ketidaksabaranku, tapi kehadirannya untuk mempersuntingku.
            “Mau kemana sekarang?” tanya Mas Indra yang menemaniku di perpustakaan sejak sejam yang lalu. Bel tanda pengunjung harus keluar sudah berdering.
            “Ke masjid.” Jawabku singkat.
            “Kapan ya, untuk pertama kalinya aku akan mengimami shalat wanita yang kucintai?” Ia menatapku lembut. “Aku ingin wanita itu mengamini setiap doaku. Wanita itu adalah kamu, Nala.”
            “Mas, aku akan berusaha untuk bisa ujian skripsi gelombang satu. Doakan aku segera lulus, Mas. Aku pun ingin segera menjadi makmum setia untukmu.” Kukembalikan buku yang baru kupakai ke rak sesuai kategori. Segera aku dan Mas Indra keluar dari perpustakaan dan berpisah di masjid kampus karena usai Jama’ah Dhuhur aku harus menemui dosen pembimbingku dan Mas Indra masih ada kuliah.
            Penantian ini masih panjang. Menanti bulan April itu artinya masih 4 bulan lagi. Aku tak peduli seberapa lama penantian itu. Selama Mas Indra ada di sisiku, penantian ini tidak akan terasa berat karena rasa takut kehilangan itu tak pernah menghampiri. Tak seorangpun yang tahu aku menjalin ikatan dengan Mas Indra dan aku yakin suatu hari nanti ayah akan merestuiku dengannya.
***
            Empat bulan berlalu dan komunikasiku dengan Mas Indra selalu berjalan dengan baik. Dia selalu ada meskipun tak di depan mata. Memiliki hatinya membuatku tak merasa sendiri. Sayang, tiga hari sebelum aku ujian skripsi ia harus terbang ke Kuala Lumpur untuk menengok keponakannya yang baru lahir. Itu artinya intensitas komunikasiku dengannya sedikit berkurang.
            Hari ini aku akan sidang dan rencananya ia akan terbang kembali dari KLIA ke Juanda. Bismillah, semoga Allah melancarkan sidang skripsiku dan melindungi perjalanan Mas Indra. Sebelum aku memasuki ruang sidang, kuterima Line darinya.
            “Bidadariku, selamat berjuang di sana. Semoga lancar dan lulus dengan predikat kumlaud. Kamu akan menjadi seorang sarjana yang berilmu dan berakhlak. Abhimanyumu akan segera kembali. I Love You until the last of my life.”
            Dia pasti akan terbang sekarang sesuai janjinya tadi malam untuk mengirim pesan sebelum menonaktifkan ponselnya. Aku pun dengan keyakinan dan semangat memasuki ruang sidang di mana ada tiga dosen penguji yang salah satunya adalah dosen pembimbing skripsiku.
            Satu jam berlalu dan aku keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Tiga dosen pengujiku tersenyum puas dengan karya yang telah kuperjuangkan dan kupertahankan di hadapan mereka. Alhamdulillah, aku lulus.
            Aku segera pulang dan memeluk kedua orang tuaku. Rasa bahagia bercampur haru menghapus ketakutanku untuk berbicara jujur tentang keberadaan Mas Indra dalam hatiku. Aku pun dengan tenang menceritakan kisahku dengan Mas Indra yang akan datang hari ini setelah kembali dari Kuala Lumpur.
            Syukurlah, ayah dan ibu tidak tampak kecewa juga tidak marah padaku. Mereka begitu senang saat kuceritakan tentang Mas Indra yang ternyata adalah putra sulung dari sahabat ayah. Artinya penantian panjangku dengan Mas Indra tidak akan sia-sia karena orang tuaku dan orang tuanya pasti merestui.
            Segera kupersiapkan segalanya untuk menyambut kehadiran Mas Indra sore nanti. Lima jam telah berlalu sejak aku pulang kuliah. Aku baru sadar bahwa perjalanan pesawat dari KLIA ke Juanda hanya dalam waktu 2 jam. Mengapa Mas Indra belum mengirim pesan? Bukankah ia sudah mendarat dan mengaktifkan ponselnya kembali?
            Ah, mungkin ia terlalu bersemangat untuk segera pulang dan datang kemari sehingga ia tidak sempat menghubungiku. Mungkin juga ia sedang bersiap-siap menuju kemari hingga tidak sempat mengaktifkan ponselnya. Aku harus tetap tenang.
            ***
            Sudah pukul 19.00 malam. Mas Indra belum memberikan kabar apapun dan tidak membalas chat-ku. Aku gelisah. Aku tahu dia orang yang selalu tepat waktu dan tidak pernah melanggar janji. Aku pun keluar dari kamarku ke ruang tamu dan menghampiri ayah yang sedang mendengarkan berita.
            Innalillah... sebuah pesawat yang take off pukul 08.58 dari Kuala Lumpur ke Surabaya terjatuh di laut Jawa pada pukul 10.50.  Ya Tuhan, bukankah pada pukul 08.55 Mas Indra mengirim pesan via Line padaku. Benarkah pesawat itu yang membawa Mas Indra? Tidak mungkin! Mas Indra pasti menepati janjinya untuk mempersuntingku malam ini. Tidak mungkin! Mas Indra pasti dalam perjalanan menuju kemari.
            “... Abhimanyumu akan segera kembali. I Love You until the last of my life.” Kubaca kembali pesan dalam Line yang dikirimnya tadi pagi. Robb... aku baru sadar, Mas Indra menggunakan diksi “kembali” bukan “datang”. Ia juga sebelumnya tidak pernah memanggilku “Bidadari” dan tak pernah menyebut dirinya “Abhimanyu”. “...until the last of my life,” Mas Indra, apakah kau meninggalkanku? Aku menantimu, Mas.
            Air mata membanjiri pipiku hingga aku terisak. Ayah dan ibu pun bersedih melihatku. Setelah kebahagiaan atas kelulusanku, inikah hadiahku? Aku merasa Tuhan tidak adil padaku dengan mengambil Mas Indra di saat impiannya hampir terwujud.
            “Ting tung....” Suara bel berbunyi.
Aku masih terisak dan tidak mau melepas tangan ayah dan ibu yang kugenggam sejak tadi. Aku yakin di luar sana ada polisi yang akan mengabarkan berita buruk itu. Iya. Seperti dalam beberapa film yang pernah kusaksikan. Ketika kecelakaan menimpa seseorang maka polisi akan datang ke rumah kerabat atau orang terdekat dari korban itu untuk mengabarkannya. Tidak! Aku tidak mau mendengar kabar buruk itu lagi setelah reporter dengan jelas mengatakannya dalam berita.
“Ting tung....” Bel itu semakin bandel dan memaksa untuk dibukakan pintu.
“Ting tung....” Kulepaskan genggaman ayah dan ibu lalu aku beranjak mendekati pintu seraya berteriak. “Pergi.....!” Kupukul pintu itu berkali-kali hingga tanganku panas dan aku tersungkur tak berdaya sambil terus menangis. Ibu memelukku dan ayah membuka pintu.
“Assalamu ‘alaikum, Nala, kamu mengusirku?”
Suara itu... suara itu aku mengenalnya. Kuangkat kepalaku perlahan dan ternyata Mas Indra. Subhanallah, aku seperti bermimpi. Aku hampir saja memeluknya kalau saja tidak kuingat agama masih melarangku.
Ayah Mas Indra berpelukan dengan ayahku dan ibu Mas Indra memelukku setelah mengusap air mataku. Ayah mempersilahkan mereka masuk. Aku masih di pelukan ibu Mas Indra. Isakanku belum berhenti dan Mas Indra tampak sangat bingung melihat keadaanku yang mungkin tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ayah pun menceritakan semuanya. Kebahagiaanku saat dosen penguji menyatakan lulus, penantianku sejak siang hingga malam, sampai tangisku saat mendengar berita jatuhnya pesawat dari Kuala Lumpur di laut Jawa yang kusangka membawa Mas Indra.
            Aku pun tiba-tiba tersenyum saat ayah mengakhiri ceritanya. Kutatap dalam-dalam ibu Mas Indra. “Tante... Mas Indra nakal.” Ucapku yang disusul gelak tawa semuanya.
            “Nala, apa kamu tahu Allah sangat menyayangi kita?” Ujar Mas Indra menatapku lembut. “Abhimanyumu hampir saja terbang bersama pesawaat naas itu, Nala. Tapi kemudian ia sadar bahwa sajadah darimu tertinggal di kamar keponakannya. Ia pun turun dari pesawat yang sudah siap take off dan mencari taxi hanya untuk mengambil sajadah dari wanita pujaannya itu. Orang lain mungkin menganggap ini konyol dan gila. Apa kamu tahu Abhimanyumu harus rela kehilangan barang-barangnya yang sudah masuk bagasi dan kabin pesawat hanya demi sajadah darimu? Nala, aku sempat berpikir untuk merelakan sajadah itu tertinggal di rumah sepupuku, tapi kemudian aku sadar bahwa sajadah itu sangat berharga karena cintamu. Aku harus rela ketinggalan pesawat dan memesan tiket mendadak untuk penerbangan berikutnya dengan konsekuensi terlambat dan membuatmu khawatir seperti ini. Tapi aku akan sangat menyesal bila aku tidak mengambil sajadah yang tertinggal itu karena aku tidak akan bisa menghentikan tangismu jika aku benar-benar terjatuh dan tenggelam bersama pesawaat itu.”
            Gelak tawa yang sebelumnya mengiringi celotehku pun berubah menjadi tetesan air mata haru. Namun Mas Indra dengan tenangnya tersenyum padaku. “Apa benar aku nakal, Nala?”
            Aku justru mengangguk. “Kamu nakal, Mas, tidak mengabariku.”
            “Karena cinta harus menunggu, Nala. Abhimanyu akan selalu memperjuangkan kebenaran hingga akhir hidupnya. Aku pun akan memperjuangkan cintaku. Jangankan dirimu, sajadahmu saja kupertahankan, Nala. I Love You until the last of my life.” Jawab Mas Indra.
            “Dan sekarang Om menunggu lamaranmu untuk Putri Nala yang baru menangis ini, Ksatria Abhimanyu.” Sahut Ayah.
            Subhanallah walhamdulillah... Sungguh indah skenario cinta-Mu, Robb. Engkau tautkan hatiku dan hatinya dengan begitu indah. Restuilah kami, kuatkanlah cinta kami, until the last of my life. Aku mencintaimu, Abhimanyu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar