(Part 2)
Jumat dini hari, 12
September 2014 dengan dijemput oleh 7 orang dosen, 20 mahasiswa IAIN Tulungagung
termasuk aku yang usai menjalankan PPL-KKN Terpadu di Thailand Selatan telah
sampai di tanah air tercinta. Kami berangkat tengah malam pada 19 Mei 2014, dan
pulang dini hari sehingga tak banyak mahasiswa yang menyaksikan kepergian dan
kedatangan kami. Istimewa sekali rasanya. Teman-teman PPL dari kampus lain
seperti STAIN Kediri, STAIN Jember (yang sekarang IAIN Jember), UNMUH Jember,
dan STAIN Samarinda tidak ada yang sampai dijemput oleh dosen sebanyak dosen
IAIN Tulungagung.
Beberapa hari sebelum
pulang, perasaan dalam hati berkecamuk. Rasanya bahagia karena kerinduan pada
keluarga di tanah air akan segera terobati, namun di sisi lain tumpukan tugas
menunggu untuk segera dituntaskan.
Sebagai peserta PPL
KKN Thailand gelombang pertama dari IAIN Tulungagung, kami sempat dihujani
keraguan khususnya mengenai penelitian untuk menyusun skripsi. Aku bahkan baru
melakukan penelitian di akhir-akhir masa PPL-ku. Keraguan itu karena perbedaan
versi jawaban dari dosen di mana sebagian mewajibkan dan sebagian mensunnahkan
bahkan ada yang memubahkan saja. Yang jelas tidak ada yang memakruhkan dan
mengharamkan.
Sekitar pertengahan
Ramadhan, usai shalat Tarawih aku menyempatkan diri On Line dari notebook-ku
yang terhubung dengan Wifi tetangga ma’had. Saat kubuka akun facebook kuterima
pesan pribadi dari dosen pembimbing PPL-KKN yang intinya menanyakan skripsi.
Aku cukup kaget saat itu. Sudah tanggal berapa ini? Dalam hitungan hari,
sekolah akan libur sampai seminggu setelah hari raya. Setelah itu ada ujian
tengah semester selama seminggu, lalu seminggu untuk Sukan Warna[1],
dan kuhitung hari efektif hanya 2 minggu sebelum aku kembali ke Indonesia.
Belum lagi kalau pihak Badan Alumni Internasional Thailand Selatan akan
mengadakan agenda untuk kami. Satu lagi, aku ditunjuk sebagai MC berbahasa Arab
dalam acara pelepasan nanti yang aku tidak tahu bagaimana latihannya dengan 2
pasanganku (Satu berbahasa Inggris, satu berbahasa Indonesia) sedangkan ma’had
mereka jauh dri ma’hadku.
Malam itu kata
“SKRIPSI” cukup menggalaukanku. Setelah kutanya-tanya, sebagian besar teman
PPL-ku tidak melakukan penelitian di sini, namun DPL-ku menyarankan dengan
penuh harap. Baiklah, “Selagi masih bisa, Ni’mah tidak boleh mengecewakan”,
bisik hatiku. Aku pun sejenak merenung, memikirkan apa yang selama ini
kurasakan selama tiga bulan di negeri itu, bagaimana gurunya, bagaimana
siswanya, bagaimana lingkungannya, hingga kutemukan sebuah judul yang mula-mula
kuajukan pada DPL-ku. Beliau menyarankanku untuk mengajukan judul itu ke jurusan
PBA.
Aku
berusaha mencari tahu alamat email Kajurku namun karena waktu kian menjepit,
aku langsung saja mengajukan judulku berikut rumusan masalahnya pada Sekjur PBA
yang nantinya beliau sampaikan pada Kajur. Alhamdulillah, sehari setelah
kukirim via email, beliau mengirim jawaban padaku dengan memberikan pilihan
redaksi rumusan masalah berdasarkan rumusan masalah yang kususun sebelumnya.
Setelah
chatting via email beberapa kali dan disetujui, akupun meminta ditentukan dosen
pembimbing. Aku yang masih semester 6 saat itu belum tahu bahwa syarat
mendapatkan dosen pembimbing skripsi (secara resmi) adalah menyelesaikan
proposal skripsi, dan dengan PD-nya aku merequest Dospem bermodal judul dan
rumusan masalah.
Saat itu memang Dospem
skripsi belum ditentukan secara resmi oleh pihak fakultas, namun dengan
intensif apabila ada waktu luang, Sekjurku selalu membimbing dan memberikan
arahan apa yang harus kulakukan di saat kondisi lapangan kurang kondusif untuk
penelitian mengingat banyaknya aktivitas di akhir Ramadhan dan awal bulan
Syawal serta UTS dan Sukan Warna yang tentunya menyita kegiatan pembelajaran
dalam kelas (selama akhir Juli hingga awal September).
Beberapa waktu
sebelumnya sempat kudengar dari Kepala Bidang Pelajaran Agama di sekolah bahwa
mahasiswa yang ingin penelitian di sini harus menunjukkan surat izin penelitian
dari kampusnya. Segera aku pun meminta tolong pada Sekjur PBA untuk mengirimkan
surat izin penelitian untukku. Lagi-lagi aku dengan PD-nya merequest sesuatu
yang sebenarnya bukan tugas beliau. Bukankah menurut prosedur yang ada surat
izin penelitian baru diberikan setelah seminar proposal? J Aku tak peduli. Melawan prosedur yang telah ditetapkan
adalah satu-satunya pilihan karena aku tidak mungkin seminar proposal jarak
jauh, bahkan proposal pun aku belum menyusunnya. Bagaimana bisa aku menyusun
proposal tanpa ada buku sedangkan buku-buku referensi di Thailand tentu
berbahasa Thai. Ah, lupakan sejenak proposal itu. Yang kupikirkan adalah aku
harus penelitian dan pulang dengan membawa data-data untuk kususun menjadi
karya ilmiah yang suatu hari nanti akan kuperjuangkan dalam sidang skripsi.
Masih dalam suasana
serba dikejar deadline, aku dikejutkan dengan pengumuman yang diunggah dalam
web FTIK tentang skripsi gelombang 1 semester ganjil. Tidak kusangka, semester
7 sudah dibuka skripsi gelombang 1 sedangkan aku di penghujung semester 6 saat
itu. Wah... sudah lama aku memiliki impian untuk bisa skripsi gelombang 1
karena jarang sekali ada anak PBA yang berani untuk skripsi gelombang 1, paling
banter gelombang 2 dan umumnya gelombang 3. Tapi, pengumuman hari itu membuatku
sedikit down (nggak down banget sih). Bagaimana bisa aku menyelesaikan skripsi
dalam waktu sesingkat itu sedangkan saat ini aku baru memiliki judul dan
rumusan masalah. Satu-satunya yang bisa kulakukan dalam rangka penelitian
adalah wawancara, sedangkan observasi belum memungkinkan. Untuk melihat
dokumen-dokumen sekolah pun, rasanya aku belum berkesempatan untuk itu. Belum
lagi jika yang kuajak bicara kurang memahami apa maksudku karena perbedaan
bahasa.
“Lakukan yang bisa
kamu lakukan, Nduk.” Iya, bisikan itu modal kerjaku. Sip... aku harus
segera bertindak. Ada saatnya aku boleh menggunakan perasaan secara dominan.
Ada kalanya logikaku harus lebih dominan dibanding perasaan. Kalau terus mengandalkan
perasaan aku hanya akan galau, bingung dan tidak dapat bertindak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar