Entri Populer

Rabu, 20 Mei 2015

SKRIPSI YANG PENUH CINTA


(Part 2)
Jumat dini hari, 12 September 2014 dengan dijemput oleh 7 orang dosen, 20 mahasiswa IAIN Tulungagung termasuk aku yang usai menjalankan PPL-KKN Terpadu di Thailand Selatan telah sampai di tanah air tercinta. Kami berangkat tengah malam pada 19 Mei 2014, dan pulang dini hari sehingga tak banyak mahasiswa yang menyaksikan kepergian dan kedatangan kami. Istimewa sekali rasanya. Teman-teman PPL dari kampus lain seperti STAIN Kediri, STAIN Jember (yang sekarang IAIN Jember), UNMUH Jember, dan STAIN Samarinda tidak ada yang sampai dijemput oleh dosen sebanyak dosen IAIN Tulungagung.
Beberapa hari sebelum pulang, perasaan dalam hati berkecamuk. Rasanya bahagia karena kerinduan pada keluarga di tanah air akan segera terobati, namun di sisi lain tumpukan tugas menunggu untuk segera dituntaskan.
Sebagai peserta PPL KKN Thailand gelombang pertama dari IAIN Tulungagung, kami sempat dihujani keraguan khususnya mengenai penelitian untuk menyusun skripsi. Aku bahkan baru melakukan penelitian di akhir-akhir masa PPL-ku. Keraguan itu karena perbedaan versi jawaban dari dosen di mana sebagian mewajibkan dan sebagian mensunnahkan bahkan ada yang memubahkan saja. Yang jelas tidak ada yang memakruhkan dan mengharamkan.
Sekitar pertengahan Ramadhan, usai shalat Tarawih aku menyempatkan diri On Line dari notebook-ku yang terhubung dengan Wifi tetangga ma’had. Saat kubuka akun facebook kuterima pesan pribadi dari dosen pembimbing PPL-KKN yang intinya menanyakan skripsi. Aku cukup kaget saat itu. Sudah tanggal berapa ini? Dalam hitungan hari, sekolah akan libur sampai seminggu setelah hari raya. Setelah itu ada ujian tengah semester selama seminggu, lalu seminggu untuk Sukan Warna[1], dan kuhitung hari efektif hanya 2 minggu sebelum aku kembali ke Indonesia. Belum lagi kalau pihak Badan Alumni Internasional Thailand Selatan akan mengadakan agenda untuk kami. Satu lagi, aku ditunjuk sebagai MC berbahasa Arab dalam acara pelepasan nanti yang aku tidak tahu bagaimana latihannya dengan 2 pasanganku (Satu berbahasa Inggris, satu berbahasa Indonesia) sedangkan ma’had mereka jauh dri ma’hadku.
Malam itu kata “SKRIPSI” cukup menggalaukanku. Setelah kutanya-tanya, sebagian besar teman PPL-ku tidak melakukan penelitian di sini, namun DPL-ku menyarankan dengan penuh harap. Baiklah, “Selagi masih bisa, Ni’mah tidak boleh mengecewakan”, bisik hatiku. Aku pun sejenak merenung, memikirkan apa yang selama ini kurasakan selama tiga bulan di negeri itu, bagaimana gurunya, bagaimana siswanya, bagaimana lingkungannya, hingga kutemukan sebuah judul yang mula-mula kuajukan pada DPL-ku. Beliau menyarankanku untuk mengajukan judul itu ke jurusan PBA.
            Aku berusaha mencari tahu alamat email Kajurku namun karena waktu kian menjepit, aku langsung saja mengajukan judulku berikut rumusan masalahnya pada Sekjur PBA yang nantinya beliau sampaikan pada Kajur. Alhamdulillah, sehari setelah kukirim via email, beliau mengirim jawaban padaku dengan memberikan pilihan redaksi rumusan masalah berdasarkan rumusan masalah yang kususun sebelumnya.
            Setelah chatting via email beberapa kali dan disetujui, akupun meminta ditentukan dosen pembimbing. Aku yang masih semester 6 saat itu belum tahu bahwa syarat mendapatkan dosen pembimbing skripsi (secara resmi) adalah menyelesaikan proposal skripsi, dan dengan PD-nya aku merequest Dospem bermodal judul dan rumusan masalah.
Saat itu memang Dospem skripsi belum ditentukan secara resmi oleh pihak fakultas, namun dengan intensif apabila ada waktu luang, Sekjurku selalu membimbing dan memberikan arahan apa yang harus kulakukan di saat kondisi lapangan kurang kondusif untuk penelitian mengingat banyaknya aktivitas di akhir Ramadhan dan awal bulan Syawal serta UTS dan Sukan Warna yang tentunya menyita kegiatan pembelajaran dalam kelas (selama akhir Juli hingga awal September).
Beberapa waktu sebelumnya sempat kudengar dari Kepala Bidang Pelajaran Agama di sekolah bahwa mahasiswa yang ingin penelitian di sini harus menunjukkan surat izin penelitian dari kampusnya. Segera aku pun meminta tolong pada Sekjur PBA untuk mengirimkan surat izin penelitian untukku. Lagi-lagi aku dengan PD-nya merequest sesuatu yang sebenarnya bukan tugas beliau. Bukankah menurut prosedur yang ada surat izin penelitian baru diberikan setelah seminar proposal? J Aku tak peduli. Melawan prosedur yang telah ditetapkan adalah satu-satunya pilihan karena aku tidak mungkin seminar proposal jarak jauh, bahkan proposal pun aku belum menyusunnya. Bagaimana bisa aku menyusun proposal tanpa ada buku sedangkan buku-buku referensi di Thailand tentu berbahasa Thai. Ah, lupakan sejenak proposal itu. Yang kupikirkan adalah aku harus penelitian dan pulang dengan membawa data-data untuk kususun menjadi karya ilmiah yang suatu hari nanti akan kuperjuangkan dalam sidang skripsi.
Masih dalam suasana serba dikejar deadline, aku dikejutkan dengan pengumuman yang diunggah dalam web FTIK tentang skripsi gelombang 1 semester ganjil. Tidak kusangka, semester 7 sudah dibuka skripsi gelombang 1 sedangkan aku di penghujung semester 6 saat itu. Wah... sudah lama aku memiliki impian untuk bisa skripsi gelombang 1 karena jarang sekali ada anak PBA yang berani untuk skripsi gelombang 1, paling banter gelombang 2 dan umumnya gelombang 3. Tapi, pengumuman hari itu membuatku sedikit down (nggak down banget sih). Bagaimana bisa aku menyelesaikan skripsi dalam waktu sesingkat itu sedangkan saat ini aku baru memiliki judul dan rumusan masalah. Satu-satunya yang bisa kulakukan dalam rangka penelitian adalah wawancara, sedangkan observasi belum memungkinkan. Untuk melihat dokumen-dokumen sekolah pun, rasanya aku belum berkesempatan untuk itu. Belum lagi jika yang kuajak bicara kurang memahami apa maksudku karena perbedaan bahasa.
Lakukan yang bisa kamu lakukan, Nduk.” Iya, bisikan itu modal kerjaku. Sip... aku harus segera bertindak. Ada saatnya aku boleh menggunakan perasaan secara dominan. Ada kalanya logikaku harus lebih dominan dibanding perasaan. Kalau terus mengandalkan perasaan aku hanya akan galau, bingung dan tidak dapat bertindak.



[1]Kegiatan tahunan seperti PORSENI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar