Entri Populer

Kamis, 08 Oktober 2015

Kuliah Perdana Program Pascasarjana IAIN Tulungagung Prodi PBA



KULIAH PERDANA
           
Apa yang terlintas dalam hati ketika mendengar “kuliah perdana”? Tentu semua yang baru; teman baru, dosen baru, kelas baru, dan suasana baru. Adaptasi sangat diperlukan dalam hal ini, apalagi kalau habitat kita berbeda dengan sebelumnya.
            Kuliah perdanaku dimulai pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 di lokal 6 Gedung Pascasarjana IAIN Tulungagung, sebuah gedung meliuk-liuk di miniatur padang Sahara -karena panasnya- yang membentang dari barat Ma’had Al-Jamiah sampai sungai kecil yang apabila menyeberanginya beberapa detik saja kita akan sampai di kampus STKIP. Aku masih ingat sekitar 4 tahun yang lalu tepatnya 20 September 2011 aku pun memulai kuliah perdanaku di Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di lokal T31 (yang saat ini menjadi lokal untuk Fakultas Ushuluddin).
Salah satu hal yang sama yaitu dosen yang pertama kali masuk dan mengajar di kelasku pada hari kuliah perdana adalah Bapak Dr. Ngainun Naim, M.HI. Jika empat tahun yang lalu beliau mengampu mata kuliah Metodologi Studi Islam, kali ini beliau mengampu mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. Satu kalimat yang kucetak tebal dari beliau kemarin adalah ‘setiap kesempatan itu istimewa, berdosa kalau kita tidak mensyukuri kesempatan itu’. Sayangnya kadang kesempatan itu lebih terlihat istimewa di mata orang lain, sedangkan yang mendapatkannya merasa biasa saja, seperti ucapan orang, “Kamu beruntung bisa lanjut kuliah,” sedangkan yang mendapat ucapan itu, “Ah, biasa saja.” Hal ini tidak berbeda dengan ungkapan ‘Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang sehat yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit’.
            Panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat kami dalam mengikuti perkuliahan meski posisi kelas kami seolah dekat dengan matahari. Maklum, kelas kami berada di lokal paling barat, sedangkan posisi matahari pada pukul 14.00 sampai terbenam jelas tidak di timur. Jendela a yang sebagian tidak bisa dibuka, ditambah dengan AC yang hanya bersuara tanpa mengeluarkan angin, semakin menghangatkan kelasku. Pepohonan pun hampir tidak ada, seperti yang kutulis di awal ‘miniatur padang Sahara’ berbeda sekali dengan perkuliahan S-1 dulu dengan lokal yang rindang dan sejuk alami. Wah, terasa sekali perjuangannya. Bukankah jika kita menaiki tangga, semakin ke atas semakin berat? Tapi aku yakin, ‘al-ajru bi qodri al-ta’abi’. Bismillah saja, lalu jalani.
            Perkuliahan jam ketiga diampu oleh Ibu Dr. Salamah Nurhidayati, M.Ag dengan mata kuliah Studi Hadits. Satu hal yang sepertinya sangat beliau sesali adalah kosongnya perkuliahan jam pertama kami yang berdurasi antara pukul 14.00 sampai dengan 15.30 WIB. Andaikan beliau tahu perkuliahan jam pertama kami kosong, tentu beliau mau mengajar pada jam itu karena beliau sebenarnya lebih suka mengajar di waktu pagi sampai sore saja. Sayangnya, kami tidak tahu kalau pada akhirnya Bapak Dr. H. Kojin, MA tidak bisa hadir karena awalnya beliau menelepon dan menyampaikan bahwa beliau akan hadir namun terlambat, karena beliau masih dalam perjalanan dari Kediri pada saat beliau menelepon. Setelah kami tunggu sampai pukul 15.30 ternyata beliau belum sampai. Bapak Dr. Susanto, M.Pd juga berharap ada jam kosong untuk diisi agar bisa pulang lebih awal. Maghrib kemarin beliau sudah mencari kami dan bertanya siapa dosen yang akan mengajar di kelas kami ba’da Maghrib, bila kosong beliau siap mengisi.
            Satu hal yang aku takjub, ketepatan waktu kehadiran dosen pengampu mata kuliah sungguh luar biasa. On time banget. Bila dulu saat kuliah S-1 jadual kuliah pukul 08.40 dosen hadir pukul 09.00, kali ini jadual perkuliahan pukul 16.00 dosen hadir pukul 16.05, perkuliahan pukul 18.30 dosen hadir pukul 18.29, dan perkuliahan pukul 20.00 dosen hadir pukul 20.01. Didikan kedisiplinan langsung terasa di hari pertama.
            Kesanku yang lain, ternyata kuliah malam itu tidak menjenuhkan. Sebelumnya aku paling anti dengan kuliah malam apalagi sampai pukul 21.30. Tapi ketika tidak ada pilihan lain akhirnya aku bisa merasakan serunya kuliah malam. Semoga awal yang baik ini akan menjadi proses yang baik dengan happy ending dan barokah.
            Semangat ... Cintai ... dan Maksimalkan ...
            Semoga semangat kita tak pernah padam
            Semoga cinta kita tak pernah sirna
            Semoga kekuatan kita senantiasa pada titik maksimal
Bi barokatil Faatihah ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar