Marah
dan Masa Lalu
Cinta
itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk
mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah.
Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski
sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun."
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun."
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata
yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan
tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek
kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika
kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan
anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak
berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar.
Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata,
gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih
bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata
perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai
kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan.
Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati.
Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah
cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan
DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki
maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap
mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa,
menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa
lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus
cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa
berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang
mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan
menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika
yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa
lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa
kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang.
Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So...
kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan
masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.
Trenggalek, 6
Oktober 2014
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar