Entri Populer

Selasa, 04 November 2014

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.
Trenggalek, 6 Oktober 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar