Entri Populer

Rabu, 05 November 2014

Perjalanan
Perjalanan kurang lebih 3 jam dari Kamulan ke Nguluh, Siki, Dongko dalam rangka menghadiri walimatul Ursi Ukhtuna Miftakhul Khumaidah bersama Romo Kyai Ma'sum dan beberapa santri PP Sirojut Tholibin Plosokandang Tulungagung menghadirkan banyak kata dalam benakku yang ingin segera kutuliskan. Aku menganalogikan perjalanan itu sebagai perjalanan hidup. Mulai dari Kamulan sampai Karangan, jalan itu mulus. Ibaratnya, itu adalah saat-saat kita bahagia. Kemudian, mulai Suruh sampai Dongko, jalanan menanjak akan tetapi aspal masih sehat wal afiat. Ibaratnya, itu adalah ujian kecil dalam kehidupan yang meskipun tidak terlalu beresiko akan tetapi tetap memerlukan kewaspadaan. Sedangkan klimaksnya, dari Pasar Dongko menuju ke tempat walimah, begitu banyak tanjakan dan tikungan tajam sedangkan kondisi aspal La yamutu wa La yahya. Butuh kelihaian dari seorang pengemudi untuk melalui jalan ini. Ibaratnya ini adalah cobaan terberat dalam hidup yang apabila sedikit saja kita terlena, maka hilanglah keimanan. Butuh kelihaian hati dan pikiran untuk menghadapi cobaan yang berat. Kita harus senantiasa husnudhon pada Irodah-Nya seberat apapun cobaan itu bagi kita. Anak sekolah tidak akn naik kelas tanpa melalui ujian. Begitu juga, kualitas iman kita tidak akan naik tanpa kita lulus menghadapi ujian-Nya. Nah, saat memasuki desa Siki dan sampai di tempat walimah, perasaan takut, tegang dan lelah saat perjalanan terhapuskan oleh kebahagiaan saat menyaksikan sang mempelai bersanding di singgasana cinta. Ibaratnya, apabila kita berhasil menghadapi ujian dari-Nya dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa, Fa Insyaallah, surgalah balasannya.
Ya, itulah perjalanan hidup yang tidak mungkin hanya lurus saja. Tak mungkin dalam hidup ini kita hanya bahagia. Mengapa? Ini dunia, bukan surga. Juga tak mungkin dalam hidup ini kita hanya menderita. Mengapa? Ini dunia, bukan neraka. Kebahagiaan dan kesedihan akan datang silih berganti. Ini keadilan Sang Pencipta. Dari pengamen sampai presiden, semua pasti pernah tersenyum dan pernah menangis. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba-Nya menyikapi. Saat bahagia kita bersyukur, saat bersedih kita bersabar. Tetaplah husnudhon pada-Nya.
#Ushikum wa nafsi...

Alhamdulillah, kata demi kata yang sejak tadi tersirat kini dapat tersurat. Syukron Ukhty Miftakhul Khumaidah, perjalananku ke rumah anti menghadirkan inspirasi untuk tulisan ini.
Baarakallah lakuma wa baaraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fi Khoir


Kamulan, 23 Okt 2014

1 komentar: