Entri Populer

Jumat, 27 Februari 2015

Ana Hunaka (Part 3)

by Ni'matul Khoiriyyah
Terburu-buru untuk marah, itu kesan yang kurasakan setelah semua terjadi. Suatu hari mudir dan keluarganya mengajakku dan kak Ayu berkunjung ke Ma’had Tarbiyatul Wathon di Melayu Bangkok, Yala. Ada acara tasyakuran di sana dan usai kenduri, aku dan kak Ayu bermaksud istirahat sejenak di rumah yang ditempati oleh Desy dan Qilma. Kami sudah berpamitan pada babo Ding (mudir) dan babo Hasan bahwa kami hanya istirahat sejenak. Saat itu babo Hasan dengan senyum ramahnya memintaku dan kak Ayu untuk menginap di ma’hadnya saja karena beberapa hari lagi kami akan kembali ke Indonesia. Babo Ding mengiyakan. Aku tak tahu itu nada bercanda atau serius, yang jelas aku sudah menjelaskan bahwa aku dan kak Ayu hanya istirahat sebentar untuk Shalat Dhuhur dan sejenak berlatih karena aku dan MC ditugaskan sebagai MC dalam acara perpisahan nanti.
            Sayang sungguh sayang ternyata aku dan kak Ayu ditinggalkan di Tarbiyatul Wathon oleh keluarga babo Ding dan aku baru mengetahuinya ketika kak Ayu menelepon kak Asma yang mengatakan bahwa mereka dalam perjalanan pulang. Aku cukup kecewa bahkan aku marah meski tanpa ekspresi. Kekecewaan dan kemarahan itu karena putra mudirku tidak berkenan menjemputku dan kak Ayu untuk kembali ke Al Khairiyah dengan alasan malas dan mengantuk. Faktor lain yang membuatku marah, hari itu aku sudah kehilangan jam mengajar di kelas 9 dan esok hari pun aku mempunyai jadwal di kelas yang sama. Parahnya, aku sudah pasti kehilangan jam untuk observasi di kelas 9 sebagai pengumpulan data penelitian untuk skripsiku.
            Aku gelisah. Tidak ada yang menjemput dan juga tidak mungkin aku minta diantar sementara keluarga babo Hasan sedang sibuk dengan acara jamuannya. Pun apabila acara itu telah selesai tentu beliau sudah lelah. Qilma dan Desy berupaya mencarikan solusi dan mereka teringat bahwa babo Sya’roni, adik babo Hasan berjanji mengajak mereka keluar sore nanti. Barangkali sambil jalan-jalan, babo Sya’roni berkenan mengantarku dan kak Ayu pulang.
            Aku merasa cukup lega saat itu dan tidak perlu khawatir akan kehilangan jam observasi. Beberapa saat kemudian kak Asma menelepon dan ia seolah marah padaku karena aku yang membawa kunci kamar kami. Merasa dimarahi, aku pun marah karena dia meninggalkanku pulang bersama keluarga babo Ding. Aku juga tahu betapa galaunya ustadzah yang satu ini karena semua seragam mengajar dan kitab-kitabnya ada di kamar. ID card guru pun ada di kamar sehingga tanpa itu dia tidak bisa check in. Jadilah aku dan kak Asma saling menyalahkan.
            Sore tiba. Qilma dan Desy mengajakku dan kak Ayu ke kediaman babo Sya’roni. Saat aku dan kak Ayu sampai di teras, beliau menyapa dengan pertanyaan lucu. Bagaimana bisa babo Ding mengajak kami kemari lalu lupa membawa kami pulang. Setelah bertegur sapa, babo mengeluarkan mobilnya dari garasi. Mama masuk kemudian kami mengikutinya.
            Yala diguyur hujan sore itu. Cuaca cukup mendukung untuk menghangatkan suasana dalam mobil. Keharmonisan pun tercipta sepanjang perjalanan indah itu. Dalam perjalanan, babo menawarkanku dan kak Ayu untuk menginap di Tarbiyatul Wathon dan besok kami akan diantar pulang ke Lammai. Aku berusaha menolak sehalus mungkin dengan alasan ada jam mengajar besok di sekolah. Kak Ayu pun demikian. Alasan lain, kunci kamar kak Asma ada di tanganku. Namun sepertinya alasanku dan kak Ayu tidak cukup kuat untuk menolak tawaran babo Sya’roni. Kenyamanan dan kehangatan keluarga itu membuatku dan kak Ayu akhirnya bersedia menerima tawaran Babo untuk menginap di Melayu Bangkok.
Kami saling berbagi cerita hingga akhirnya Babo Sya’roni memarkir mobilnya di depan Kedai Arab. Kedai ini menyajikan aneka makanan timur tengah dan di sinilah kami dinner. Aku merasa babo dan mama begitu memanjakanku dan teman-teman bahkan beliau memperlalkukan kami seperti anak sendiri. Kami diberi kebebasan memilih menu apapun. Bahkan kami boleh saling mencicipi hidangan yang ada di meja makan walaupun itu pesanan babo dan mama.
Sekali lagi babo menguatkan tawarannya untuk menginap karena beliau tahu “iya” yang kuucapkan tadi masih bernada ragu. Untuk menghapuskan keraguan itu babo menelepon babo Ding di Lammai untuk memintakan izin bagi kami yang akan menginap di Tarbiyatul Wathon, sekaligus memintakan maaf pada kak Asma karena kuncinya dibawa Ni’mah.
Babo adalah sosok kyai yang bersahaja, berwibawa namun lihai menghangatkan suasana. Meski malu-malu namun kami menyesuaikan diri dan akrab dengan keluarga mudir ini. Ba’da maghrib, kami beranjak dari kedai Arab. Kukira ini adalah perjalanan pulang namun ternyata babo membawa kami ke Bandar Yala. Turun dari mobil, kak Ayu berbisik padaku bukankah ini tempat yang pernah kami datangi kemarin lusa bersama kak Asma dan Achan?
Hm... ternyata agenda dinner belum usai. Babo dan mama mengajak kami mencari menu penutup. Satu persatu kami ditanyai mau es krim atau bubur (istilah untuk kolak di Thailand Selatan). Mama mau bubur, sedangkan aku, kak Ayu, Qilma dan Desy malu-malu menjawab dengan jujur. Kami hanya mengatakan “ikut saja”.
Babo tetap meminta kami untuk memilih tanpa malu-malu. “Malam ini malam Desy, malam ini malam Qilma, malam ini malam Ayu, malam ini malam Ni’mah.” Akhirnya tetap dengan malu-malu kami mengatakan memilih es krim. Babo dan mama tersenyum ramah penuh kasih sayang. Kami pun diajak masuk ke sebuah kedai es krim.
Lagi-lagi kami diberikan kebebasan untuk memilih menu. Sambil menunggu pesanan datang, kami berbagi cerita layaknya keluarga. Bahkan babo sempat berbicara padaku dengan bahasa Arab tentang perjuangan Fathoni Darussalam yang dijajah oleh bangsa Siam. Dari sini aku tahu bahwa sebenarnya aliran-aliran Islam di Thailand Selatan memang banyak. Ada Wahabi, ada Syiah, dan ada banyak lainnya akan tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan soal ibadah. Mereka bersatu sebagai sesama Muslim untuk berjuang agar terbebas dari diskriminasi pemerintah dan penjajahan bangsa Siam. Satu aliran tidak merasa lebih baik dari aliran lain, juga tidak mencela aliran lain. Yang mereka pegang erat adalah mereka sama-sama kaum muslimin.
Pesanan tiba. Kami pun menikmati es krim pesanan masing-masing. Seperti yang kami lakukan di kedai Arab sebelumnya, kami saling mencicipi es krim pesanan yang lain. Aku mencicipi es krim mama, babo mencicipi es krimku, mama mencicipi es krim kak Ayu, dan seterusnya.
Aku terharu. Mungkin aku tidak pernah merasakan disambang oleh dosen selama 4 bulan PPL dan KKN. Akan tetapi aku merasa selalu bersama keluargaku bahkan di setiap bagian dari kegiatanku. Aku juga yakin ini adalah buah dari doa-doa orang tuaku, guru-guru dan dosenku juga teman-temanku karena doa mampu merengkuh apa yang tak terjangkau oleh fisik.
Tibalah waktu pulang dan ini saatnya beristirahat. Aku masih berpikir pukul berapa besok aku dan kak Ayu akan diantar pulang ke Lammai sedangkan aku punya jadwal mengajar pada jam pertama dan jadwal observasi pada jam kedua. Ini adalah hari Minggu terakhirku karena hari Rabu aku akan kembali ke Indonesia.
Pagi tiba. Belum ada kepastian apakah babo Hasan atau babo Sya’roni yang akan mengantar pulang, juga belum ada kepastian pukul berapa kami diantar pulang. Babo Sya’roni kemudian menghubungi kami dan beliaulah yang akan mengantar pulang. Aku dan kak Ayu bersiap-siap. Aku sudah sangat bersemangat pagi itu, berharap tidak kehilangan jam mengajar dan observasi juga berpamitan dengan murid kelas 9/2 Phattana Islam Wittaya School. Walakin, mama (istri babo Hasan) meminta kami breakfast terlebih dahulu di kediamannya sebelum kami kembali ke Lammai. Sadar bahwa pagi itu mungkin terakhir kali aku di Tarbiyatul Wathan, aku dan kak Ayu tak punya alasan untuk menolak. Kami pun ke kediaman babo Hasan terlebih dahulu meski babo Sya’roni telah menunggu untuk mengantar kami pulang.
Usai makan, aku dan kak Ayu berpamitan dengan babo Hasan dan mama. “Sampai jumpa di hari Rabu,” itu kata babo Hasan. Aku dan kak Ayu bergegas menuju mobil babo Sya’roni. Kami juga mengajak Desy saat itu.
Dalam perjalanan aku melihat keharmonisan babo Sya’roni dengan putranya yang diantar ke sekolah. Turun dari mobil, putranya tidak hanya mencium tangan akan tetapi juga bercipika-cipiki dengan ayahnya. Subhanallah, luar biasa.
Baik, inilah saatnya kami pulang. Dalam perjalanan, aku baru tahu kalau ini sebuah pengorbanan. Ternyata, babo Sya’roni juga ada jadwal mengajar pada jam pertama dan sebenarnya babo Hasanlah yang tidak ada jadwal mengajar pagi. babo rela mengantarku dan kak Ayu pulang meski harus kehilangan jam mengajarnya.
Tiba di Lammai, aku dan kak Ayu berpamitan dan berterima kasih pada babo Sya’roni. Setelah mobil babo keluar dari area Al Khairiyah, aku bergegas ke kamar dan langsung bersiap-siap mengajar. Saat itu pukul 08.35 sedangkan jam pertama berakhir pada pukul 08.45. kupercepat langkahku ke kelas walaupun terlambat akan tetapi sisa waktu ini sangatlah berharga karena ini hari terakhirku mengajar kelas 9.
Rasanya aku menyesal karena terburu-buru marah saat ditinggal pulang babo Ding. Aku tidak pernah tahu kalau aku akan mendapatkan pelajaran seberharga dan seindah ini. Subhanallah... andai aku lebih bisa mengendalikan emosiku, kini kusadari bahwa marahku tak berarti. Terima kasih untuk keluarga besar di Yala yang telah mengajariku cinta dan pengorbanan yang sesungguhnya.

Catatan Nostalgia 27 Peb 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar