Entri Populer

Jumat, 27 Februari 2015

Ana Hunaka (Part 2)


Lammai yang damai, pernah kedatangan tamu tak diundang berupa sebuah bom yang bersembunyi dalam sepeda motor sekitar beberapa ratus meter dari ma’had Al-Khairiyah pada tahun 2013. Kejadian itu menggemparkan penduduk dan tentunya mahasiswa Indonesia yang PPL di sana. Aku pun merasakan kekhawatiran saat mendegar cerita itu. Alhamdulillah saat aku bertugas sejak bulan Mei sampai dengan September 2014 situasi aman terkendali. Memang ada beberapa kasus pengeboman di Betong dan Patani akan tetapi semua itu tidak sampai mencelakai kami mahasiswa indonesia yang bertugas di sana.
4 bulan di Lammai Yala mengukirkan kenangan yang tak terlupakan. Pahit-manis kehidupan bersama para santri dengan aneka karakter dan kebiasaan mewarnai hari-hariku. Sebagai mahasiswi yang PPL di Phattana Islam Wittaya School, tentu interaksiku dengan mereka tidak cukup hanya di sekolah sejak pagi hingga sore. Di asrama pun kekeluargaan semakin terasa.
Aku dan partnerku, kak Ayu dari UNMUH Jember bekerjasama dengan ustadzah yang biasa kusapa kak Asma untuk membimbing para santri di asrama. Tugas inilah yang membuatku bernostalgia dengan kenanganku di PP Al Kamal Kunir saat bertanggung jawab sebagai pengurus bagian pendidikan. Tugasku kurang lebih sama di antaranya membangunkan para santri di waktu subuh. Namun aku merasa canggung ketika ustadzah mengajariku menggunakan rotan untuk menggedor pintu kamar santri. “Ah, memegang rotan saja rasanya aku tak pantas. Di Al Kamal saja aku lebih suka mengetuk pintu kamar santri dengan tanganku, kenapa di negeri orang aku harus menggunakan rotan?” Pikirku.
Tiga bulan pertama aku masih manual menggunakan tanganku untuk mengetuk pintu mereka namun pada satu bulan terakhir aku mencoba menggenggam rotan di tanganku sambil berbisik dalam hati, “Aku pantas nggak, kalo pegang ini?”
Setengah terpaksa aku melakukannya. Akan tetapi waktu serasa mengejar sehingga bagiku mereka harus lebih cepat bangun. Jika menggunakan ketukan tanganku di pintu mereka aku membutuhkan waktu satu hingga dua menit perkamarnya, dengan rotan bisa lebih cepat membangunkan mereka.
Musholla Al Khairiyah di asrama babo Ding adalah tempat berkumpulnya para santri untuk kegiatan sholat berjamaah, kajian kitab kuning, membaca Al-Qur’an dan tempat mereka menerima mau’idhoh dan motivasi dari para murobbi. Musholla yang berada di lantai dua ini merupakan bangunan dari kayu. Sedangkan di bawah musholla ada gudang yang bersebelahan dengan kamar yang kutempati bersama kak Asma dan kak Ayu.
Suatu hari, kurang dari sepuluh hari jelang kepulanganku ke tanah air aku merasa kehilangan mood. Hari itu aku tidak mendampingi santri berjamaah di musholla. Entahlah, perasaanku sangat tidak nyaman dan aku tidak ingin ke musholla. Aku pun marah pada diriku sendiri atas ketidaknyamanan perasaan itu. Kenapa aku tidak mau berjamaah dengan para santri di atas dan memilih sholat munfaridah di kamar. Kenapa aku merasa enggan mendampingi mereka sedangkan waktuku di negeri itu tidak lama lagi.
Aku pun sholat munfaridah di kamar dan para santri berjamaah di musholla. Malam ini aku tidak ada jadwal untuk mengisi acara santri ba’da maghrib dan putri mudirlah yang memberikan mau’idhoh dan motivasi. Aku tetap di kamar sambil on line dari notebook-ku. Di saat aku sedang serius dengan layar notebook, aku dikejutkan dengan suara hantaman keras disusul dengan teriakan para santri. Aku terkejut, ketakutan dan kebingungan. Pikiranku sudah kemana-mana saat itu. Adakah serangan dari luar karena negeri itu sedang dilanda kudeta. Atau...
Aku mondar-mandir berjalan ke timur dan ke barat dengan perasaan yang sangat gelisah. Teriakan santri di atas semakin histeris. Aku baru sadar kalau aku harus keluar dari kamar setelah kak Ayu berujar, “Ayo, Dek... Keluar.”
Aku dan kak Ayu berhambur keluar lewat pintu belakang dan apa yang terjadi? Allahu Akbar... Musholla telah runtuh. Beberapa santri terperosok dan jatuh ke lantai satu. Ada yang pigsan, ada yang luka hingga berdarah, ada yang lebam. Shock aku melihatnya. Segera pertolongan diberikan pada santri yang pingsan dan terluka. Beberapa orang masuk ke gudang yang kotor dan berdebu untuk menyelamatkan para santri yang jatuh ke sana kemudian dibawa ke kediaman mudir untuk diobati.
Salah satu santri berceletuk ringan, “Mujur akak tak naik. Kalo akak naik, kak tak boleh kelik indo.” (Untungnya Kakak tidak naik ke musholla. Kalau Kakak naik, Kakak tidak bisa pulang ke Indonesia)
Ya Allah, aku merinding seketika mendengar celetuk gadis kecil berusia belasan tahun itu. Inikah jawaban-Nya? Inikah mengapa aku enggan mendampingi mereka malam ini? Inikah cara Yang Maha Kuasa menyelamatkanku?
Wallahu a’lam... namun penuturan demi penuturan dari santri membuktikan betapa besar kuasa Sang Khaliq. Aku tak cukup bernyali untuk mengintip ke gudang, namun para santri mengatakan ada besi tajam di gudang itu dan ada sebuah sepeda motor. Kuasa-Nya yang membuat para santri yang jatuh tidak terkena besi tajam itu, pun tidak terkena motor.
Fakta lain adalah, runtuhnya musholla ke gudang bukan ke kamarku. Aku tidak bisa membayangkan jika musholla itu runtuh ke kamarku yang juga ada di bawahnya, mungkin saat ini aku tak berada di sini. Allahu Akbar...


                                                                                                        by Ni'matul Khoiriyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar