Lammai yang damai, pernah
kedatangan tamu tak diundang berupa sebuah bom yang bersembunyi dalam sepeda
motor sekitar beberapa ratus meter dari ma’had Al-Khairiyah pada tahun 2013.
Kejadian itu menggemparkan penduduk dan tentunya mahasiswa Indonesia yang PPL
di sana. Aku pun merasakan kekhawatiran saat mendegar cerita itu. Alhamdulillah
saat aku bertugas sejak bulan Mei sampai dengan September 2014 situasi aman
terkendali. Memang ada beberapa kasus pengeboman di Betong dan Patani akan
tetapi semua itu tidak sampai mencelakai kami mahasiswa indonesia yang bertugas
di sana.
4 bulan di Lammai Yala
mengukirkan kenangan yang tak terlupakan. Pahit-manis kehidupan bersama para
santri dengan aneka karakter dan kebiasaan mewarnai hari-hariku. Sebagai
mahasiswi yang PPL di Phattana Islam Wittaya School, tentu interaksiku dengan
mereka tidak cukup hanya di sekolah sejak pagi hingga sore. Di asrama pun
kekeluargaan semakin terasa.
Aku dan partnerku, kak Ayu dari
UNMUH Jember bekerjasama dengan ustadzah yang biasa kusapa kak Asma untuk
membimbing para santri di asrama. Tugas inilah yang membuatku bernostalgia
dengan kenanganku di PP Al Kamal Kunir saat bertanggung jawab sebagai pengurus
bagian pendidikan. Tugasku kurang lebih sama di antaranya membangunkan para
santri di waktu subuh. Namun aku merasa canggung ketika ustadzah mengajariku
menggunakan rotan untuk menggedor pintu kamar santri. “Ah, memegang rotan
saja rasanya aku tak pantas. Di Al Kamal saja aku lebih suka mengetuk pintu
kamar santri dengan tanganku, kenapa di negeri orang aku harus menggunakan
rotan?” Pikirku.
Tiga bulan pertama aku masih
manual menggunakan tanganku untuk mengetuk pintu mereka namun pada satu bulan
terakhir aku mencoba menggenggam rotan di tanganku sambil berbisik dalam hati,
“Aku pantas nggak, kalo pegang ini?”
Setengah terpaksa aku
melakukannya. Akan tetapi waktu serasa mengejar sehingga bagiku mereka harus
lebih cepat bangun. Jika menggunakan ketukan tanganku di pintu mereka aku
membutuhkan waktu satu hingga dua menit perkamarnya, dengan rotan bisa lebih
cepat membangunkan mereka.
Musholla Al Khairiyah di asrama
babo Ding adalah tempat berkumpulnya para santri untuk kegiatan sholat
berjamaah, kajian kitab kuning, membaca Al-Qur’an dan tempat mereka menerima
mau’idhoh dan motivasi dari para murobbi. Musholla yang berada di lantai dua
ini merupakan bangunan dari kayu. Sedangkan di bawah musholla ada gudang yang
bersebelahan dengan kamar yang kutempati bersama kak Asma dan kak Ayu.
Suatu hari, kurang dari sepuluh
hari jelang kepulanganku ke tanah air aku merasa kehilangan mood. Hari itu aku
tidak mendampingi santri berjamaah di musholla. Entahlah, perasaanku sangat
tidak nyaman dan aku tidak ingin ke musholla. Aku pun marah pada diriku sendiri
atas ketidaknyamanan perasaan itu. Kenapa aku tidak mau berjamaah dengan para
santri di atas dan memilih sholat munfaridah di kamar. Kenapa aku merasa enggan
mendampingi mereka sedangkan waktuku di negeri itu tidak lama lagi.
Aku pun sholat munfaridah di
kamar dan para santri berjamaah di musholla. Malam ini aku tidak ada jadwal
untuk mengisi acara santri ba’da maghrib dan putri mudirlah yang memberikan
mau’idhoh dan motivasi. Aku tetap di kamar sambil on line dari notebook-ku. Di
saat aku sedang serius dengan layar notebook, aku dikejutkan dengan suara
hantaman keras disusul dengan teriakan para santri. Aku terkejut, ketakutan dan
kebingungan. Pikiranku sudah kemana-mana saat itu. Adakah serangan dari luar
karena negeri itu sedang dilanda kudeta. Atau...
Aku mondar-mandir berjalan ke
timur dan ke barat dengan perasaan yang sangat gelisah. Teriakan santri di atas
semakin histeris. Aku baru sadar kalau aku harus keluar dari kamar setelah kak
Ayu berujar, “Ayo, Dek... Keluar.”
Aku dan kak Ayu berhambur keluar
lewat pintu belakang dan apa yang terjadi? Allahu Akbar... Musholla telah
runtuh. Beberapa santri terperosok dan jatuh ke lantai satu. Ada yang pigsan,
ada yang luka hingga berdarah, ada yang lebam. Shock aku melihatnya. Segera
pertolongan diberikan pada santri yang pingsan dan terluka. Beberapa orang
masuk ke gudang yang kotor dan berdebu untuk menyelamatkan para santri yang
jatuh ke sana kemudian dibawa ke kediaman mudir untuk diobati.
Salah satu santri berceletuk
ringan, “Mujur akak tak naik. Kalo akak naik, kak tak boleh kelik indo.”
(Untungnya Kakak tidak naik ke musholla. Kalau Kakak naik, Kakak tidak bisa
pulang ke Indonesia)
Ya Allah, aku merinding seketika
mendengar celetuk gadis kecil berusia belasan tahun itu. Inikah jawaban-Nya?
Inikah mengapa aku enggan mendampingi mereka malam ini? Inikah cara Yang Maha
Kuasa menyelamatkanku?
Wallahu a’lam... namun penuturan
demi penuturan dari santri membuktikan betapa besar kuasa Sang Khaliq. Aku tak
cukup bernyali untuk mengintip ke gudang, namun para santri mengatakan ada besi
tajam di gudang itu dan ada sebuah sepeda motor. Kuasa-Nya yang membuat para
santri yang jatuh tidak terkena besi tajam itu, pun tidak terkena motor.
Fakta lain adalah, runtuhnya
musholla ke gudang bukan ke kamarku. Aku tidak bisa membayangkan jika musholla
itu runtuh ke kamarku yang juga ada di bawahnya, mungkin saat ini aku tak
berada di sini. Allahu Akbar...
by Ni'matul Khoiriyyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar