Pahlawan Bertopeng
Cinta selalu asyik untuk dijadikan
topik dari masa ke masa. Siapa yang tidak tertarik untuk membahasnya. Mahasiswa
yang jenuh mengikuti perkuliahan dalam kelas
saja bisa langsung bersemangat ketika sang dosen menyelingi perkuliahan dengan
membicarakan lima huruf cantik itu, cinta. Apalagi kalau sang dosen dengan
terbuka berkenan menceritakan kisahnya dengan sang pendamping hidup. Dijamin,
tak ada mahasiswa yang boring. Memang, topik yang satu ini adalah obat mujarab
bagi kejenuhan mahasiswa dalam perkuliahan. Tidak heran jika hampir seratus persen dunia hiburan di Indonesia
diisi dengan film-film bertajuk cinta.
IAIN Tulungagung, sebuah
kampus yang berdiri gagah di kabupaten Tulungagung Jawa Timur menjadi
satu-satunya opsiku untuk melanjutkan studi setelah lulus dari Aliyah. Berbeda
dengan teman-temanku yang memiliki beberapa opsi perguruan tinggi, aku langsung
yakin dalam menetapkan satu-satunya pilihanku. Entahlah, aku sendiri tidak tahu
sebabnya. Akan tetapi semakin aku lama berada di kampus ini, aku mulai sadar
bahwa di kampus ini aku tidak hanya kuliah tapi juga belajar tentang cinta.
“Syukron ya, Ukhti,”[1]
kata Ustadz Faza, dosenku Bahasa Arab.
Kalimat simpel inilah
pengundang cinta pertamaku. Aku jatuh cinta pada seorang dosen saat aku di
pertengahan semester satu. Intensitas komunikasi yang cukup sering di dalam
maupun di luar perkuliahan akhirnya membuat kami merasa saling membutuhkan dan
saling memberi. Asyiknya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan seperti ketika
aku membunuh seekor nyamuk yang hinggap di tangan kiriku karena ustadz Faza
merasakan hal yang sama.
Suatu hantaman keras
terasa di hatiku suatu hari. Malam itu usai mengerjakan tugas kuliah di kamar
temanku, ustadz Faza mengirim SMS yang isinya mengajakku menikah dalam waktu
dekat. Wow, super sekali! Aku bahagia dengan keseriusan cintanya, akan tetapi
baru satu tahun KTP atas nama Nina Raihana Salsabila berada di dompetku. Usiaku
baru saja memasuki delapan belas tahun. Akankah aku menikah satu-dua bulan
lagi? Kurasa tidak. Sedangkan ustadz Faza tak bisa menungguku lebih lama lagi.
Dengan berat hati,
kukatakan tidak. Aku belum siap menikah. Meski tanpa kata namun jauh di lubuk
hatiku, aku berharap sang dosen berkenan menanti setidaknya sampai skripsiku
selesai, bila perlu sampai wisuda sekaligus.
“Maaf, Nina, izinkanlah
sambil menanti kamu siap, saya akan membuka hati untuk yang lain.” Ujar ustadz
Faza dengan nada berat.
Apa maksudnya? Menantiku
sambil membuka hati untuk yang lain? Bagaimana jika aku siap di saat yang lain
berhasil memasuki hatinya? Aku digantung
atau dijemur? Oh, tidak!
Sebagai wanita yang
mencintainya tentu aku berusaha mempersiapkan diri agar segera siap menikah
dengannya. Akan tetapi, di tengah perjalanan dimana aku sedang belajar untuk
menjadi sosok calon istri yang baik baginya, kudengar berita yang menjebolkan
tanggul air mataku bagai jebolnya tanggul Lapindo di porong. Banjir besar melanda pipiku saat undangan pernikahan ustadz Faza sudah sampai di tangan
sahabatku yang berdomisili di pesantren Al Yamani, dekat kampus.
Oh, aku sampai tidak tahu di mana sakitku. Ada
yang terasa perih namun aku yakin dokter spesialis apapun tidak mampu
mendeteksi dan mendiagnosa di bagian mana yang sakit dari diriku. Bagaimana
bisa dia akan menikah tanpa mengabarkan padaku sedangkan dia masih
menggantungkan cintaku? Inikah jawaban dari keinginannya menantiku sambil
membuka hati untuk yang lain? Ustadz Faza... kau tak akan pernah tahu rasa
sakit yang kurasakan. Hanya satu kata untukmu, MENTEGA.
Ups… salah, TEGA.
Seiring berlalunya waktu,
cinta kedua menyapaku di saat aku duduk di semester lima. Dia Irham, mahasiswa
jurusan Pendidikan Bahasa Arab, sekelas denganku. Kubukakan pintu hatiku saat
ia mengetuknya karena aku melihat sosoknya yang penuh tanggung jawab dan tekun
dalam beraktivitas. Kesungguhannya membuatku jatuh cinta.
Sewajarnya, sepoi angin
hadir terlebih dahulu sebagai muqoddimah kemudian rintik hujan yang semakin
deras. Namun belum apa-apa, badai langsung menerjang di saat jalinan asmara itu
baru setengah umur jagung. Badai itu adalah sebuah sabda dari ayah Irham yang
melarangnya menjalin asmara denganku karena hitungan penanggalan adat Jawa di
balik tanggal lahirku tidak cocok untuk disatukan dengannya.
Sekuat hati aku berusaha
menegarkannya. Aku selalu memotivasi Irham untuk berani memberikan penerangan
pada pemikiran orang tuanya yang masih mempercayai hal-hal yang sebenarnya
tidak ilmiah dan tidak berperasaan itu. Cintaku dan dia masih kokoh kala itu meskipun
terpaksa backstreet. Akan tetapi, kian hari aku semakin merasa dia telah
berubah. Dia tak seramah Irham pada saat mengetuk pintu hatiku. Dia mulai
keras, dia mulai kasar dan cepat marah serta lama untuk diredakan emosinya. Ada
apa denganmu, Irham? Aku hanya bertanya dalam hatiku sendiri karena ia tak bisa
diajak bicara dari hati ke hati. Ya. Aku masih mempertahankannya.
Pengumuman dari kampus
tentang PPL-KKN Terpadu di Thailand telah terdengar oleh seluruh mahasiswa. Aku
mendaftarkan diri sebagai peserta. Setelah mengikuti seleksi akupun diterima
dan beberapa minggu kemudian aku akan diterbangkan ke negeri ber-icon gajah
putih itu. Sayang, Irham tidak berkenan mendaftarkan diri.
Pada hari terakhir aku
kuliah di semester enam, aku berpamitan pada semuanya terutama Irham yang
statusnya masih kekasihku. Pesan untuk saling menjaga diri saat LDR tentu tidak
tertinggal. Hanya satu kunci, SETIA.
Dua minggu di negeri asing
aku mulai berpikir jernih. Jika ayah Irham masih berpegang teguh pada apa yang
dipercayainya dan Irham tak mampu meluluhkan hati ayahnya, untuk apa
kupertahankan hubungan ini? Tidakkah aku membuang-buang waktu saja jika pada
akhirnya tak direstui? Tidakkah akan terasa sangat menyakitkan ketika cinta ini
semakin dalam namun tak ada jalan untuk bersatu? Dengan penuh pertimbangan
setelah melalui kontemplasi, aku memutuskan jalinan asmara antara aku dan dia.
“Keren juga ya, putus
cinta di luar negeri,” ucapku menghibur diri yang sebenarnya galau karena aku
putus dengannya di masa-masa adaptasiku dengan dunia baru di Thailand. Tapi,
empat bulan masa PPL-KKN ini. Setidaknya sudah cukup untuk memudarkan rasa.
“Tolong, seandainya kamu
udah dapat penggantiku, katakanlah agar aku nggak nanam harapan lagi di kamu.
Begitu juga sebaliknya, ketika aku udah dapat pengganti kamu, aku akan kabari
kamu.” Pesanku yang diiyakan olehnya.
Dua minggu setelah pulang
dari Thailand, aku belum juga bertemu dengan Irham meski sekedar untuk tegur
sapa sebagai teman sekelas yang lama tak bertemu, bukan lagi sebagai kekasih.
Padahal, satu persatu teman sekelas telah menemuiku untuk melepas rindu dan
menyambung silaturahim.
Datanglah Lina, adik
kelasku dari jurusan yang sama dengan serta-merta memberitahuku bahwa Irham
kini telah menjalin hubungan dengan seseorang. Satu-persatu ia menceritakan apa
saja tentang Irham dan kekasih barunya. Namun yang membuat aku dan Lina begitu
terkejut adalah tanggal yang disebutkan Lina.
“Di tanggal ini, Kak,”
kata Lina sambil membuka kalender di HP-nya. “Mereka keluar berdua ke sana. Beberapa
hari sebelumnya saat ada acara study tour mereka duduk sebangku dalam bus. Jadi
benar, Kak, di tanggal itu Kak Nina belum mutusin kak Irham?”
Aku geram bukan main.
Rasanya mungkin seperti derita buah timun yang dikupas
kemudian diiris-iris, dan berlumuran
dengan sambal kacang pedas untuk dijadikan campuran rujak lontong. Sakitnya tuh di
sini! Bisa-bisanya orang yang kucinta mengkhianati kesetiaanku. Bisa-bisanya
dia sudah dekat dengan yang lain di saat aku menjaga hatiku untuknya, aku belum
memutuskannya kala itu.
“Siapa wanita yang kamu
ceritakan dari tadi, Dik?” tanyaku menahan geram.
“Dia... dia... ,” ucap
Lina agak takut mengatakannya. “Dia Zida, Kak.”
Pemirsa, tahukah siapa
Zida itu? Dia tetangga kamarku di pesantren. Aku tahu selama ini dia seperti
seorang detektif yang mengamati gerak-gerikku. Oh, ternyata pengamatannya itu
sebagai ancang-ancang[2]
untuk menggantikanku di hati Irham.
Sekarang aku tahu kenapa Irham tidak memperjuangkanku di
hadapan ayahnya kalau hanya tanggal lahir yang jadi masalah. Padahal jika ia
mau, air mata ibunya yang menangisiku karena ditolak oleh ayahnya, itu bisa ia
gunakan sebagai senjata untuk meluluhkan hati seorang ayah. Sekarang aku tahu
mengapa sikap Irham keras dan banyak perubahan yang tidak kusukai. Zida
jawabannya. Tahukah, aku sayang pada semua teman di pesantrenku termasuk Zida,
tapi bukan untuk ditikam seperti ini. Bagai luka tersayat pisau kemudian disiram air jeruk nipis. Mantap, sakitnya tuh di sini!
Tapi, di sisi lain aku bahagia.
Bahagia terlepas dari seorang laki-laki yang kurasa tak pantas lagi kucintai.
Aku bahagia mengetahui peringai aslinya sebelum hubunganku dengannya lebih
jauh. Aku bahagia karena setelah putus dengannya, aku memiliki banyak sahabat
yang ketulusan kasih sayangnya sebening embun. Ya. Satu persatu teman-teman
bertanya-tanya karena banyak di antara mereka yang belum tahu kalau aku telah
memutuskannya. Mereka hanya merasa, Irham seperti melupakan mereka. Irham tak
seakrab yang dulu saat berjumpa teman sekelas maupun yang lain. Ia terkesan
angkuh dan tak bersahabat dengan mereka. Perubahan itu mereka rasakan setelah
Irham jauh dariku.
Oh, ternyata ia seperti kartun favorit Sinchan, Pahlawan Bertopeng. Topeng itu ia kenakan saat
bersamaku dan kini telah terlepas, terlihatlah aslinya. Sering pula kudengar
berita pelanggaran peraturan pesantren yang diterjang oleh Zida. Masyaallah...
Aku bersyukur terlepas
dari pahlawan bertopeng itu. Namun di sisi lain ada yang kusayangkan. Jika
Irham pernah bisa menjadi cowok yang baik saat bersamaku, mengapa sikap itu tak
bisa ia lakukan saat bersama Zida? Mengapa Zida yang dulunya taat pada aturan
pesantren, kini jadi seorang pelanggar? Hei, ada apa dengan pasangan baru ini?
Ingin sekali aku menegur
mereka namun rasanya aku tak berhak. Aku sudah pernah menegur mereka melalui
lisan orang-orang terdekat mereka namun nihil, tak ada hasil. Satu saja
senjataku, doa semoga mereka sadar akan jalan yang mereka tempuh.
Move on, Nina. Kamu bukan
satu-satunya orang yang paling menderita di muka bumi ini. Untuk apa menangis,
untuk apa bersedih? Bukankah orang yang membuatmu menangis adalah orang yang
tidak pantas kamu tangisi?
Terima kasih, Tuhanku,
telah membuatku jatuh. Karena hanya dengan jatuh aku memiliki kesempatan untuk
bangkit. Terima kasih, Tuhanku, telah mengajarkanku tentang kewaspadaan dan
perlunya sikap selektif dalam memilih seseorang yang pantas untuk dicintai. Terima
kasih, Tuhanku, telah membukakan tabir yang sesungguhnya untuk pahlawan
bertopeng yang pernah mencuri hatiku. Sungguh aku akan sangat menyesal jika
tabir itu tidak Engkau singkap sekarang. Aku akan sangat menderita jika tabir
itu terungkap setelah aku menikah dengan pahlawan bertopeng itu.
Kampus ini penuh pelajaran,
mulai dari mata kuliah sampai mata cinta. Ya. Harga diri itu ada pada akhlak,
bukan pada ketampanan, kegagahan, kehebatan. Hanya laki-laki berakhlak mulia
yang pantas dicintai. Dan aku akan terus belajar memperbaiki kualitas diriku,
agar Tuhan pun mengelokkan jodohku. Pertemukan kami di waktu yang tepat, Ya
Robb... Aamiin
Good
bye, Pahlawan Bertopeng!
Trenggalek, 7 Nopember 2014
00.44 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar