Entri Populer

Minggu, 14 Desember 2014

Nina's Short Story_ Pahlawan Bertopeng

Pahlawan Bertopeng
            Cinta selalu asyik untuk dijadikan topik dari masa ke masa. Siapa yang tidak tertarik untuk membahasnya. Mahasiswa yang jenuh mengikuti perkuliahan dalam kelas saja bisa langsung bersemangat ketika sang dosen menyelingi perkuliahan dengan membicarakan lima huruf cantik itu, cinta. Apalagi kalau sang dosen dengan terbuka berkenan menceritakan kisahnya dengan sang pendamping hidup. Dijamin, tak ada mahasiswa yang boring. Memang, topik yang satu ini adalah obat mujarab bagi kejenuhan mahasiswa dalam perkuliahan. Tidak heran jika hampir seratus persen dunia hiburan di Indonesia diisi dengan film-film bertajuk cinta.
            IAIN Tulungagung, sebuah kampus yang berdiri gagah di kabupaten Tulungagung Jawa Timur menjadi satu-satunya opsiku untuk melanjutkan studi setelah lulus dari Aliyah. Berbeda dengan teman-temanku yang memiliki beberapa opsi perguruan tinggi, aku langsung yakin dalam menetapkan satu-satunya pilihanku. Entahlah, aku sendiri tidak tahu sebabnya. Akan tetapi semakin aku lama berada di kampus ini, aku mulai sadar bahwa di kampus ini aku tidak hanya kuliah tapi juga belajar tentang cinta.
            “Syukron ya, Ukhti,”[1] kata Ustadz Faza, dosenku Bahasa Arab.
            Kalimat simpel inilah pengundang cinta pertamaku. Aku jatuh cinta pada seorang dosen saat aku di pertengahan semester satu. Intensitas komunikasi yang cukup sering di dalam maupun di luar perkuliahan akhirnya membuat kami merasa saling membutuhkan dan saling memberi. Asyiknya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan seperti ketika aku membunuh seekor nyamuk yang hinggap di tangan kiriku karena ustadz Faza merasakan hal yang sama.
            Suatu hantaman keras terasa di hatiku suatu hari. Malam itu usai mengerjakan tugas kuliah di kamar temanku, ustadz Faza mengirim SMS yang isinya mengajakku menikah dalam waktu dekat. Wow, super sekali! Aku bahagia dengan keseriusan cintanya, akan tetapi baru satu tahun KTP atas nama Nina Raihana Salsabila berada di dompetku. Usiaku baru saja memasuki delapan belas tahun. Akankah aku menikah satu-dua bulan lagi? Kurasa tidak. Sedangkan ustadz Faza tak bisa menungguku lebih lama lagi.
            Dengan berat hati, kukatakan tidak. Aku belum siap menikah. Meski tanpa kata namun jauh di lubuk hatiku, aku berharap sang dosen berkenan menanti setidaknya sampai skripsiku selesai, bila perlu sampai wisuda sekaligus.
            “Maaf, Nina, izinkanlah sambil menanti kamu siap, saya akan membuka hati untuk yang lain.” Ujar ustadz Faza dengan nada berat.
            Apa maksudnya? Menantiku sambil membuka hati untuk yang lain? Bagaimana jika aku siap di saat yang lain berhasil memasuki hatinya? Aku digantung atau dijemur? Oh, tidak!
            Sebagai wanita yang mencintainya tentu aku berusaha mempersiapkan diri agar segera siap menikah dengannya. Akan tetapi, di tengah perjalanan dimana aku sedang belajar untuk menjadi sosok calon istri yang baik baginya, kudengar berita yang menjebolkan tanggul air mataku bagai jebolnya tanggul Lapindo di porong. Banjir besar melanda pipiku saat undangan pernikahan ustadz Faza sudah sampai di tangan sahabatku yang berdomisili di pesantren Al Yamani, dekat kampus.
               Oh, aku sampai tidak tahu di mana sakitku. Ada yang terasa perih namun aku yakin dokter spesialis apapun tidak mampu mendeteksi dan mendiagnosa di bagian mana yang sakit dari diriku. Bagaimana bisa dia akan menikah tanpa mengabarkan padaku sedangkan dia masih menggantungkan cintaku? Inikah jawaban dari keinginannya menantiku sambil membuka hati untuk yang lain? Ustadz Faza... kau tak akan pernah tahu rasa sakit yang kurasakan. Hanya satu kata untukmu, MENTEGA. Ups… salah, TEGA.
            Seiring berlalunya waktu, cinta kedua menyapaku di saat aku duduk di semester lima. Dia Irham, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab, sekelas denganku. Kubukakan pintu hatiku saat ia mengetuknya karena aku melihat sosoknya yang penuh tanggung jawab dan tekun dalam beraktivitas. Kesungguhannya membuatku jatuh cinta.
            Sewajarnya, sepoi angin hadir terlebih dahulu sebagai muqoddimah kemudian rintik hujan yang semakin deras. Namun belum apa-apa, badai langsung menerjang di saat jalinan asmara itu baru setengah umur jagung. Badai itu adalah sebuah sabda dari ayah Irham yang melarangnya menjalin asmara denganku karena hitungan penanggalan adat Jawa di balik tanggal lahirku tidak cocok untuk disatukan dengannya.
            Sekuat hati aku berusaha menegarkannya. Aku selalu memotivasi Irham untuk berani memberikan penerangan pada pemikiran orang tuanya yang masih mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak ilmiah dan tidak berperasaan itu. Cintaku dan dia masih kokoh kala itu meskipun terpaksa backstreet. Akan tetapi, kian hari aku semakin merasa dia telah berubah. Dia tak seramah Irham pada saat mengetuk pintu hatiku. Dia mulai keras, dia mulai kasar dan cepat marah serta lama untuk diredakan emosinya. Ada apa denganmu, Irham? Aku hanya bertanya dalam hatiku sendiri karena ia tak bisa diajak bicara dari hati ke hati. Ya. Aku masih mempertahankannya.
            Pengumuman dari kampus tentang PPL-KKN Terpadu di Thailand telah terdengar oleh seluruh mahasiswa. Aku mendaftarkan diri sebagai peserta. Setelah mengikuti seleksi akupun diterima dan beberapa minggu kemudian aku akan diterbangkan ke negeri ber-icon gajah putih itu. Sayang, Irham tidak berkenan mendaftarkan diri.
            Pada hari terakhir aku kuliah di semester enam, aku berpamitan pada semuanya terutama Irham yang statusnya masih kekasihku. Pesan untuk saling menjaga diri saat LDR tentu tidak tertinggal. Hanya satu kunci, SETIA.
            Dua minggu di negeri asing aku mulai berpikir jernih. Jika ayah Irham masih berpegang teguh pada apa yang dipercayainya dan Irham tak mampu meluluhkan hati ayahnya, untuk apa kupertahankan hubungan ini? Tidakkah aku membuang-buang waktu saja jika pada akhirnya tak direstui? Tidakkah akan terasa sangat menyakitkan ketika cinta ini semakin dalam namun tak ada jalan untuk bersatu? Dengan penuh pertimbangan setelah melalui kontemplasi, aku memutuskan jalinan asmara antara aku dan dia.
            “Keren juga ya, putus cinta di luar negeri,” ucapku menghibur diri yang sebenarnya galau karena aku putus dengannya di masa-masa adaptasiku dengan dunia baru di Thailand. Tapi, empat bulan masa PPL-KKN ini. Setidaknya sudah cukup untuk memudarkan rasa.
            “Tolong, seandainya kamu udah dapat penggantiku, katakanlah agar aku nggak nanam harapan lagi di kamu. Begitu juga sebaliknya, ketika aku udah dapat pengganti kamu, aku akan kabari kamu.” Pesanku yang diiyakan olehnya.
            Dua minggu setelah pulang dari Thailand, aku belum juga bertemu dengan Irham meski sekedar untuk tegur sapa sebagai teman sekelas yang lama tak bertemu, bukan lagi sebagai kekasih. Padahal, satu persatu teman sekelas telah menemuiku untuk melepas rindu dan menyambung silaturahim.
            Datanglah Lina, adik kelasku dari jurusan yang sama dengan serta-merta memberitahuku bahwa Irham kini telah menjalin hubungan dengan seseorang. Satu-persatu ia menceritakan apa saja tentang Irham dan kekasih barunya. Namun yang membuat aku dan Lina begitu terkejut adalah tanggal yang disebutkan Lina.
            “Di tanggal ini, Kak,” kata Lina sambil membuka kalender di HP-nya. “Mereka keluar berdua ke sana. Beberapa hari sebelumnya saat ada acara study tour mereka duduk sebangku dalam bus. Jadi benar, Kak, di tanggal itu Kak Nina belum mutusin kak Irham?”
            Aku geram bukan main. Rasanya mungkin seperti derita buah timun yang dikupas kemudian diiris-iris, dan berlumuran dengan sambal kacang pedas untuk dijadikan campuran rujak lontong. Sakitnya tuh di sini! Bisa-bisanya orang yang kucinta mengkhianati kesetiaanku. Bisa-bisanya dia sudah dekat dengan yang lain di saat aku menjaga hatiku untuknya, aku belum memutuskannya kala itu.
            “Siapa wanita yang kamu ceritakan dari tadi, Dik?” tanyaku menahan geram.
            “Dia... dia... ,” ucap Lina agak takut mengatakannya. “Dia Zida, Kak.”
            Pemirsa, tahukah siapa Zida itu? Dia tetangga kamarku di pesantren. Aku tahu selama ini dia seperti seorang detektif yang mengamati gerak-gerikku. Oh, ternyata pengamatannya itu sebagai ancang-ancang[2] untuk menggantikanku di hati Irham.
Sekarang aku tahu kenapa Irham tidak memperjuangkanku di hadapan ayahnya kalau hanya tanggal lahir yang jadi masalah. Padahal jika ia mau, air mata ibunya yang menangisiku karena ditolak oleh ayahnya, itu bisa ia gunakan sebagai senjata untuk meluluhkan hati seorang ayah. Sekarang aku tahu mengapa sikap Irham keras dan banyak perubahan yang tidak kusukai. Zida jawabannya. Tahukah, aku sayang pada semua teman di pesantrenku termasuk Zida, tapi bukan untuk ditikam seperti ini. Bagai luka tersayat pisau kemudian disiram air jeruk nipis. Mantap, sakitnya tuh di sini!
            Tapi, di sisi lain aku bahagia. Bahagia terlepas dari seorang laki-laki yang kurasa tak pantas lagi kucintai. Aku bahagia mengetahui peringai aslinya sebelum hubunganku dengannya lebih jauh. Aku bahagia karena setelah putus dengannya, aku memiliki banyak sahabat yang ketulusan kasih sayangnya sebening embun. Ya. Satu persatu teman-teman bertanya-tanya karena banyak di antara mereka yang belum tahu kalau aku telah memutuskannya. Mereka hanya merasa, Irham seperti melupakan mereka. Irham tak seakrab yang dulu saat berjumpa teman sekelas maupun yang lain. Ia terkesan angkuh dan tak bersahabat dengan mereka. Perubahan itu mereka rasakan setelah Irham jauh dariku.
            Oh, ternyata ia seperti kartun favorit Sinchan, Pahlawan Bertopeng. Topeng itu ia kenakan saat bersamaku dan kini telah terlepas, terlihatlah aslinya. Sering pula kudengar berita pelanggaran peraturan pesantren yang diterjang oleh Zida. Masyaallah...
            Aku bersyukur terlepas dari pahlawan bertopeng itu. Namun di sisi lain ada yang kusayangkan. Jika Irham pernah bisa menjadi cowok yang baik saat bersamaku, mengapa sikap itu tak bisa ia lakukan saat bersama Zida? Mengapa Zida yang dulunya taat pada aturan pesantren, kini jadi seorang pelanggar? Hei, ada apa dengan pasangan baru ini?
            Ingin sekali aku menegur mereka namun rasanya aku tak berhak. Aku sudah pernah menegur mereka melalui lisan orang-orang terdekat mereka namun nihil, tak ada hasil. Satu saja senjataku, doa semoga mereka sadar akan jalan yang mereka tempuh.
            Move on, Nina. Kamu bukan satu-satunya orang yang paling menderita di muka bumi ini. Untuk apa menangis, untuk apa bersedih? Bukankah orang yang membuatmu menangis adalah orang yang tidak pantas kamu tangisi?
            Terima kasih, Tuhanku, telah membuatku jatuh. Karena hanya dengan jatuh aku memiliki kesempatan untuk bangkit. Terima kasih, Tuhanku, telah mengajarkanku tentang kewaspadaan dan perlunya sikap selektif dalam memilih seseorang yang pantas untuk dicintai. Terima kasih, Tuhanku, telah membukakan tabir yang sesungguhnya untuk pahlawan bertopeng yang pernah mencuri hatiku. Sungguh aku akan sangat menyesal jika tabir itu tidak Engkau singkap sekarang. Aku akan sangat menderita jika tabir itu terungkap setelah aku menikah dengan pahlawan bertopeng itu.
            Kampus ini penuh pelajaran, mulai dari mata kuliah sampai mata cinta. Ya. Harga diri itu ada pada akhlak, bukan pada ketampanan, kegagahan, kehebatan. Hanya laki-laki berakhlak mulia yang pantas dicintai. Dan aku akan terus belajar memperbaiki kualitas diriku, agar Tuhan pun mengelokkan jodohku. Pertemukan kami di waktu yang tepat, Ya Robb... Aamiin
            Good bye, Pahlawan Bertopeng!

Trenggalek, 7 Nopember 2014
00.44 WIB



[1] Terima kasih, Ukhti
[2] persiapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar