Senyum Itu Kekuatan
Statement ini mungkin sepele bagi Anda karena menganggap
senyum itu biasa saja. Iya, mungkin. Akan tetapi melihat sikon terlebih dahulu.
Senyum saat berpapasan dengan saudara, teman, tetangga, it's OK. Senyum di saat
diri merasa terhibur , it's OK. Tersenyum di saat bahagia, itu biasa. Akan
tetapi tersenyum tulus di saat hati terluka, itu yang luar biasa.
Senyum itu sederhana. Kita tinggal menarik bibir kearah kanan dan kiri secara bersamaan dengan ukuran yang proporsional diiringi tatapan mata yang teduh. Indah, bukan? Bahkan senyum yang sederhana ini merupakan salah satu bukti keadilan Tuhan. Bukankah semua orang ketika tersenyum tulus akan terlihat lebih rupawan? Saya memberi tanda kutip pada kata "tulus". Sebab apa? Sebab ada senyum yang tak tulus. Ada senyum sandiwara, ada senyum menghina, ada senyum sinis, dan senyum-senyum buruk lainnya. Saya tidak perlu mendeskripsikan senyum yang tidak diiringi ketulusan hati, tentunya.
Senyum itu sederhana. Kita tinggal menarik bibir kearah kanan dan kiri secara bersamaan dengan ukuran yang proporsional diiringi tatapan mata yang teduh. Indah, bukan? Bahkan senyum yang sederhana ini merupakan salah satu bukti keadilan Tuhan. Bukankah semua orang ketika tersenyum tulus akan terlihat lebih rupawan? Saya memberi tanda kutip pada kata "tulus". Sebab apa? Sebab ada senyum yang tak tulus. Ada senyum sandiwara, ada senyum menghina, ada senyum sinis, dan senyum-senyum buruk lainnya. Saya tidak perlu mendeskripsikan senyum yang tidak diiringi ketulusan hati, tentunya.
Baik, kembali ke atas.
Mengapa senyum itu kekuatan? Karena, ketika kita merasa tersakiti, merasa
terdholimi, merasa marah, hal yang sulit kita lakukan adalah tersenyum dengan
tulus. Hanya orang kuat yang bisa mengerjakan hal yang sulit. Dalam hal ini,
bukan fisiknya yang kuat, tapi mentalnya, hatinya, jiwanya yang setegar karang.
Sehingga ketika masalah datang, ketika ada hal yang menguji kesabarannya, ia
tetap mampu tersenyum dengan tulusnya.
Bagaimana kita bisa tersenyum di saat hati tersakiti? Ingatlah siapa diri kita. Kita hanya seorang hamba yang lemah, tercipta karena kasih sayang Allah SWT. Siapa yang menyakiti hati kita? Pun sama dengan kita. Ia juga seorang manusia lemah yang tercipta karena kasih sayang Allah. Nah, sudah menjadi sunnatullah sebagaimana dalam sebuah film ada skenario berupa takdir Allah, ada tokoh protagonis (semoga itu kita), ada tokoh antagonis (yang menyakiti kita). Coba kita perhatikan, dari semua film yang sudah kita saksikan, dari semua novel yang pernah kita baca, bukankah kebaikan yang selalu menang? Maka, Saudaraku... yakinlah apabila kita berada di pihak yang benar, bagaimanapun orang lain menyakiti kita, tersenyumlah setulus hati. Sesungguhnya cepat atau lambat, kitalah yang akan menang dengan izin-Nya.
Tersenyumlah walau hati terluka. Tak usahlah menanam kebencian, tak usahlah mengungkapkan kemarahan yang meledak-ledak. Tak usahlah menyimpan dendam apalagi sampai tujuh turunan. Tersenyumlah, karena senyum itu milik pemenang. Jiwanya yang menang. Jiwanya yang berjaya.
Dunia ini akan hambar bila semua tokohnya protagonis, karena dunia ini bukan surga. Maka di dunia ini yang harus selalu kita sadari, ada tokoh protagonis dan antagonis. Tersenyumlah wahai para tokoh protagonis, karena sesungguhnya skenario itu ditulis oleh Yang Maha Segalanya, dan Dia telah menetapkan, kebaikan yang akan menang. Tersenyumlah... senyum itu kekuatan.
Bagaimana kita bisa tersenyum di saat hati tersakiti? Ingatlah siapa diri kita. Kita hanya seorang hamba yang lemah, tercipta karena kasih sayang Allah SWT. Siapa yang menyakiti hati kita? Pun sama dengan kita. Ia juga seorang manusia lemah yang tercipta karena kasih sayang Allah. Nah, sudah menjadi sunnatullah sebagaimana dalam sebuah film ada skenario berupa takdir Allah, ada tokoh protagonis (semoga itu kita), ada tokoh antagonis (yang menyakiti kita). Coba kita perhatikan, dari semua film yang sudah kita saksikan, dari semua novel yang pernah kita baca, bukankah kebaikan yang selalu menang? Maka, Saudaraku... yakinlah apabila kita berada di pihak yang benar, bagaimanapun orang lain menyakiti kita, tersenyumlah setulus hati. Sesungguhnya cepat atau lambat, kitalah yang akan menang dengan izin-Nya.
Tersenyumlah walau hati terluka. Tak usahlah menanam kebencian, tak usahlah mengungkapkan kemarahan yang meledak-ledak. Tak usahlah menyimpan dendam apalagi sampai tujuh turunan. Tersenyumlah, karena senyum itu milik pemenang. Jiwanya yang menang. Jiwanya yang berjaya.
Dunia ini akan hambar bila semua tokohnya protagonis, karena dunia ini bukan surga. Maka di dunia ini yang harus selalu kita sadari, ada tokoh protagonis dan antagonis. Tersenyumlah wahai para tokoh protagonis, karena sesungguhnya skenario itu ditulis oleh Yang Maha Segalanya, dan Dia telah menetapkan, kebaikan yang akan menang. Tersenyumlah... senyum itu kekuatan.
Hadanallah
wa iyyakum
Dari
seorang penulis yang mencari kekuatan di balik tulisannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar