Entri Populer

Sabtu, 10 Oktober 2015

Ketika Hati Merindu



Kerinduan
by Ni'matul Khoiriyyah
                Rindu merupakan perasaan ingin mengulang atau ingin merasakan kembali suatu peristiwa yang pernah berlalu bersama orang tertentu dalam suasana tertentu . Tentunya yang dirindukan adalah sesuatu yang indah dan berkesan. Hal ini biasanya diawali dengan rasa sayang karena tidak mungkin merindu tanpa menyayangi. Seorang ibu rindu pada anaknya karena sayang, seorang istri merindukan suaminya karena sayang, seorang murid merindukan gurunya karena sayang, dan sebagainya.
                Ada juga yang merasa tidak menyayangi tapi merasa rindu. Ini bisa terjadi karena intensitas pertemuan yang mula-mula sering kemudian semakin jarang bahkan bisa jadi tidak pernah bertemu lagi. Misalnya, pada usia-usia remaja seringkali terjadi pertengkaran dengan teman. Ada yang hobi menggoda, ada yang hobi mengganggu, ada yang jail, ada yang usil, sehingga yang diganggu merasa kesal dan benci. Namun ketika si pengganggu tidak lagi mengganggu, dia justru merasa rindu. Kok aku nggak diganggu lagi ya? Kok sekarang begini ya? Nah, lho ..., kalau tidak menyayangi kenapa merindu? Karena ada hal yang berkesan meskipun tidak sayang. Sehingga ketika hal itu tiba-tiba menghilang, yang datang adalah kerinduan.
                Kerinduan kadang begitu menyiksa apabila obatnya sulit ditemukan. Bagi alumni, obat rindu adalah reuni, bagi sebuah perpisahan obat rindu adalah pertemuan atau setidaknya komunikasi jarak jauh. Apa yang terjadi jika semua obat rindu itu tidak bisa dikonsumsi? Bukankah batin akan tersiksa? Bukankah air mata enggan bermuara? Bukankah senyum terasa nestapa? Bukankah tawa terasa hampa?
                Ada 2 hal yang bisa menjadi penawar rindu ketika resep utama di atas tidak bisa ditebus; doa dan tulisan.
1.       Doa
Doa merupakan salah satu cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Doa mampu menjangkau apa yang tak terjangkau oleh tempat dan waktu. Ketika kita merindukan seseorang namun tak mampu mengobati kerinduan dengan berkomunikasi langsung dengannya, maka merengkuhnya dalam doa Insya Allah akan menenangkan gejolak rindu yang menggebu. Satu saja syarat yang harus kita penuhi dalam berdoa, “Jangan meragukan kuasa Sang Mujibu al-Da’awaat”. Artinya, dalam berdoa kita harus yakin bahwa doa kita akan terkabul. Kita harus yakin bahwa seindah dan sesempurna apapun rencana maupun impian kita, Sang Khaliq-lah yang Maha tahu dan Maha kuasa untuk menentukan dan memberikan yang terbaik untuk kita. Maka bisikkan pada-Nya, “Robb, aku merindukannya, aku merindukan suasana itu, maka ijinkanlah hamba-Mu ini bersua kembali dengannya, merasakan kembali keindahan itu dengan kuasa dan iradah-Mu. Engkaulah Yang Maha Tahu mana yang terbaik untukku yang dha’if ini. Titip mereka, Ya Robb, Engkaulah Yang mampu menjaga mereka dengan baik dalam naungan-Mu.”
2.       Tulisan
Seseorang bisa mendadak menjadi pujangga ketika hatinya sedang bahagia atau sedang galau dan merindu. Artinya apa? Dalam suasana hati tertentu, seseorang memilki begitu banyak rangkaian kata dan kalimat indah yang apabila dituangkan dalam tulisan, beban hatinya akan berkurang. Begitu banyak inspirasi yang bertebaran ketika kita sedang berbahagia, kata-kata cinta, kalimat-kalimat manis meluncur begitu saja dalam benak kita. Demikian pula sebaliknya ketika sedang galau ataupu merasa rindu, kalimat-kalimat puitis kadang meluncur begitu saja. Sayang, kan, kalau semua itu tiba-tiba hilang dalam sekejap? Mengapa tidak menulisnya walaupun hanya dalam diary? Setidaknya, bila kita sedang berbahagia, itu akan mengabadikan kebahagiaan kita dan mengingatkan kita suatu hari nanti. Kita akan tersenyum ketika membacanya. “Oh, aku pernah melewati masa-masa indah itu.” Dan apabila kita sedang gundah, setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban agar tidak menggunung di hati.

Tidak menutup kemungkinan, penulis catatan ringan ini sedang merasakan kerinduan. Iya, Nina memang sedang merindu. Ketika raga terpisah oleh luasnya samudera, ketika jarak menjadi dinding untuk bersua, ketika waktu menjadi penghalang sementara untuk bertemu, ketika kesempatan itu belum menjadi jembatan, maka doa dan tulisan yang menjadi pelipur lara.
Berawal dari jumpa
Tumbuh menjadi kasih sayang
Terjaga karena setia
Teruji oleh suka duka
Bersemi dengan cinta
Merindu tuk bersua
Denganmu, keluargaku di Patani Thailand



Kamis, 08 Oktober 2015

Kuliah Perdana Program Pascasarjana IAIN Tulungagung Prodi PBA



KULIAH PERDANA
           
Apa yang terlintas dalam hati ketika mendengar “kuliah perdana”? Tentu semua yang baru; teman baru, dosen baru, kelas baru, dan suasana baru. Adaptasi sangat diperlukan dalam hal ini, apalagi kalau habitat kita berbeda dengan sebelumnya.
            Kuliah perdanaku dimulai pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 di lokal 6 Gedung Pascasarjana IAIN Tulungagung, sebuah gedung meliuk-liuk di miniatur padang Sahara -karena panasnya- yang membentang dari barat Ma’had Al-Jamiah sampai sungai kecil yang apabila menyeberanginya beberapa detik saja kita akan sampai di kampus STKIP. Aku masih ingat sekitar 4 tahun yang lalu tepatnya 20 September 2011 aku pun memulai kuliah perdanaku di Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di lokal T31 (yang saat ini menjadi lokal untuk Fakultas Ushuluddin).
Salah satu hal yang sama yaitu dosen yang pertama kali masuk dan mengajar di kelasku pada hari kuliah perdana adalah Bapak Dr. Ngainun Naim, M.HI. Jika empat tahun yang lalu beliau mengampu mata kuliah Metodologi Studi Islam, kali ini beliau mengampu mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. Satu kalimat yang kucetak tebal dari beliau kemarin adalah ‘setiap kesempatan itu istimewa, berdosa kalau kita tidak mensyukuri kesempatan itu’. Sayangnya kadang kesempatan itu lebih terlihat istimewa di mata orang lain, sedangkan yang mendapatkannya merasa biasa saja, seperti ucapan orang, “Kamu beruntung bisa lanjut kuliah,” sedangkan yang mendapat ucapan itu, “Ah, biasa saja.” Hal ini tidak berbeda dengan ungkapan ‘Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang sehat yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit’.
            Panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat kami dalam mengikuti perkuliahan meski posisi kelas kami seolah dekat dengan matahari. Maklum, kelas kami berada di lokal paling barat, sedangkan posisi matahari pada pukul 14.00 sampai terbenam jelas tidak di timur. Jendela a yang sebagian tidak bisa dibuka, ditambah dengan AC yang hanya bersuara tanpa mengeluarkan angin, semakin menghangatkan kelasku. Pepohonan pun hampir tidak ada, seperti yang kutulis di awal ‘miniatur padang Sahara’ berbeda sekali dengan perkuliahan S-1 dulu dengan lokal yang rindang dan sejuk alami. Wah, terasa sekali perjuangannya. Bukankah jika kita menaiki tangga, semakin ke atas semakin berat? Tapi aku yakin, ‘al-ajru bi qodri al-ta’abi’. Bismillah saja, lalu jalani.
            Perkuliahan jam ketiga diampu oleh Ibu Dr. Salamah Nurhidayati, M.Ag dengan mata kuliah Studi Hadits. Satu hal yang sepertinya sangat beliau sesali adalah kosongnya perkuliahan jam pertama kami yang berdurasi antara pukul 14.00 sampai dengan 15.30 WIB. Andaikan beliau tahu perkuliahan jam pertama kami kosong, tentu beliau mau mengajar pada jam itu karena beliau sebenarnya lebih suka mengajar di waktu pagi sampai sore saja. Sayangnya, kami tidak tahu kalau pada akhirnya Bapak Dr. H. Kojin, MA tidak bisa hadir karena awalnya beliau menelepon dan menyampaikan bahwa beliau akan hadir namun terlambat, karena beliau masih dalam perjalanan dari Kediri pada saat beliau menelepon. Setelah kami tunggu sampai pukul 15.30 ternyata beliau belum sampai. Bapak Dr. Susanto, M.Pd juga berharap ada jam kosong untuk diisi agar bisa pulang lebih awal. Maghrib kemarin beliau sudah mencari kami dan bertanya siapa dosen yang akan mengajar di kelas kami ba’da Maghrib, bila kosong beliau siap mengisi.
            Satu hal yang aku takjub, ketepatan waktu kehadiran dosen pengampu mata kuliah sungguh luar biasa. On time banget. Bila dulu saat kuliah S-1 jadual kuliah pukul 08.40 dosen hadir pukul 09.00, kali ini jadual perkuliahan pukul 16.00 dosen hadir pukul 16.05, perkuliahan pukul 18.30 dosen hadir pukul 18.29, dan perkuliahan pukul 20.00 dosen hadir pukul 20.01. Didikan kedisiplinan langsung terasa di hari pertama.
            Kesanku yang lain, ternyata kuliah malam itu tidak menjenuhkan. Sebelumnya aku paling anti dengan kuliah malam apalagi sampai pukul 21.30. Tapi ketika tidak ada pilihan lain akhirnya aku bisa merasakan serunya kuliah malam. Semoga awal yang baik ini akan menjadi proses yang baik dengan happy ending dan barokah.
            Semangat ... Cintai ... dan Maksimalkan ...
            Semoga semangat kita tak pernah padam
            Semoga cinta kita tak pernah sirna
            Semoga kekuatan kita senantiasa pada titik maksimal
Bi barokatil Faatihah ...

Sabtu, 03 Oktober 2015

Menunggu Dosen


                Apa persamaan menunggu dosen dengan menunggu jodoh? Sama-sama menguji kesabaran. Suatu ketika kita (mahasiswa) pasti pernah menunggu dosen untuk kepentingan tertentu. Mungkin untuk konsultasi, mungkin untuk meminta tanda tangan. Nah, kemungkinan yang kedua ini barangkali membutuhkan kesabaran ekstra, hingga Kajur TMT IAIN TA pernah mengatakan bahwa bagi seorang dosen membahagiakan mahasiswa itu sangat mudah. Cukup dengan segera memberinya tanda tangan setelah diminta itu saja, si mahasiswa sudah bahagia. Apalagi kalau yang ditandatangani adalah formulir pengajuan judul, lembar revisi, lembar persetujuan, lembar pengesahan skripsi, dan sebagainya. Pernyataan Bapak Kajur TMT ini pun sudah ditashih oleh Bapak Kajur PBA (serius amat?).
                Mengapa? Untuk menunggu kehadiran sang dosen, mahasiswa harus merelakan beberapa kesempatannya untuk beraktivitas. Kadang ia harus duduk manis di gazebo yang mejanya terlalu maju atau kursinya terlalu mundur, kadang ia harus duduk di atas motor yang belum ada 5 menit saja sudah mendengar teriakan peluit dari Pak Satpam (diusir alusan), kadang juga ia harus lesehan (ngelesot) di depan kantor, sementara dosen yang dihubungi belum merespon untuk memberi kepastian harus ditunggu sampai jam berapa. Ditelepon tidak diangkat, SMS tidak dibalas. Ngenes itu sudah menunggu dari pagi sampai sore ternyata dosen yang ditunggu tidak ada di kampus maupun di kediamannya. Padahal ada perlu apa? Namung  tanda tangan thog ae wes.
                Eits ... Stop bahas yang asin dan asam, sekarang bahas yang manis yach ...! Di sisi lain ada hikmahnya menunggu dosen meskipun lama, menjenuhkan, dan bahkan terkadang mengecewakan. Apa dong? Ada banyak pelajaran dalam menunggu, di antaranya:
1.       Sabar
Seseorang tidak bisa dikatakan sebagai penyabar kalau kesabarannya tidak diuji. Nah, salah satu cara menguji kesabaran adalah menunggu. Bagaimana sikap mahasiswa saat menunggu dosennya? Mengeluh? Menggerutu? Marah-marah? Cemberut? Atau tetap tenang? Nah, coba lihat teman Anda yang sedang menunggu dosennya, galau atau ceriakah dia.
2.       Husnudhon
Telepon dosen tidak diangkat? SMS tidak dibalas? Apa yang Anda pikirkan? (Ah, kayak mas Efbi aja pertanyaannya) kondisi seperti ini membuat sebagian mahasiswa berpikir negatif, “Oh, Pak Dosen, kenapa nggak mau sih terima telepon?” dan sebagian lagi berpikir positif, “Ah, mungkin beliau sedang sangat sibuk, atau mungkin sedang tidak pegang HP.”
3.       Teman baru
Saat menunggu dosen di kampus, tentu kita tidak pernah sendiri. Pasti ada beberapa mahasiswa yang tengah seliweran, ada yang sedang mengerjakan tugas di gazebo, atau bahkan ada yang sedang merasakan hal yang sama dengan kita (menunggu dosen juga). Nah, sambil nunggu nggak ada salahnya kan nimbrung, kenalan, basa-basi, sekedar tanya-tanya A sampai Z, lumayan bisa mengurangi kejenuhan.
4.       Inspirasi tak terduga
Tentu selama menunggu kehadiran dosen, pikiran kita tidak pernah diam. Kadang dalam situasi ini muncullah inspirasi tak terduga yang bertebaran. Mungkin berupa kata, kalimat, atau ungkapan-ungkapan lainnya. Wah, lumayan, yang kayak gini bisa jadi puisi, cerpen, artikel, atau apalah-apalah. So, siapkan media untuk mencatat ide-ide yang bertebaran itu. Sayang lho, kalau nggak dicatat kadang menghilang tanpa jejak. Kalau bisa dimanfaatkan kenapa tidak?
5.       Indah pada waktunya
Saat-saat yang paling membahagiakan setelah penantian panjang adalah saat kehadiran dosen yang Anda tunggu. Tentu berbeda rasanya apabila sekali Anda datang langsung bertemu dosen, sama halnya dengan perasaan Anda saat sarapan pagi jika dibandingkan dengan berbuka puasa.

Bagaimana? Sudah tahu hikmahnya menunggu dosen? Bagi yang mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar J
Kamulan, 14-01-2015
               


Rabu, 20 Mei 2015

SKRIPSI YANG PENUH CINTA


(Part 2)
Jumat dini hari, 12 September 2014 dengan dijemput oleh 7 orang dosen, 20 mahasiswa IAIN Tulungagung termasuk aku yang usai menjalankan PPL-KKN Terpadu di Thailand Selatan telah sampai di tanah air tercinta. Kami berangkat tengah malam pada 19 Mei 2014, dan pulang dini hari sehingga tak banyak mahasiswa yang menyaksikan kepergian dan kedatangan kami. Istimewa sekali rasanya. Teman-teman PPL dari kampus lain seperti STAIN Kediri, STAIN Jember (yang sekarang IAIN Jember), UNMUH Jember, dan STAIN Samarinda tidak ada yang sampai dijemput oleh dosen sebanyak dosen IAIN Tulungagung.
Beberapa hari sebelum pulang, perasaan dalam hati berkecamuk. Rasanya bahagia karena kerinduan pada keluarga di tanah air akan segera terobati, namun di sisi lain tumpukan tugas menunggu untuk segera dituntaskan.
Sebagai peserta PPL KKN Thailand gelombang pertama dari IAIN Tulungagung, kami sempat dihujani keraguan khususnya mengenai penelitian untuk menyusun skripsi. Aku bahkan baru melakukan penelitian di akhir-akhir masa PPL-ku. Keraguan itu karena perbedaan versi jawaban dari dosen di mana sebagian mewajibkan dan sebagian mensunnahkan bahkan ada yang memubahkan saja. Yang jelas tidak ada yang memakruhkan dan mengharamkan.
Sekitar pertengahan Ramadhan, usai shalat Tarawih aku menyempatkan diri On Line dari notebook-ku yang terhubung dengan Wifi tetangga ma’had. Saat kubuka akun facebook kuterima pesan pribadi dari dosen pembimbing PPL-KKN yang intinya menanyakan skripsi. Aku cukup kaget saat itu. Sudah tanggal berapa ini? Dalam hitungan hari, sekolah akan libur sampai seminggu setelah hari raya. Setelah itu ada ujian tengah semester selama seminggu, lalu seminggu untuk Sukan Warna[1], dan kuhitung hari efektif hanya 2 minggu sebelum aku kembali ke Indonesia. Belum lagi kalau pihak Badan Alumni Internasional Thailand Selatan akan mengadakan agenda untuk kami. Satu lagi, aku ditunjuk sebagai MC berbahasa Arab dalam acara pelepasan nanti yang aku tidak tahu bagaimana latihannya dengan 2 pasanganku (Satu berbahasa Inggris, satu berbahasa Indonesia) sedangkan ma’had mereka jauh dri ma’hadku.
Malam itu kata “SKRIPSI” cukup menggalaukanku. Setelah kutanya-tanya, sebagian besar teman PPL-ku tidak melakukan penelitian di sini, namun DPL-ku menyarankan dengan penuh harap. Baiklah, “Selagi masih bisa, Ni’mah tidak boleh mengecewakan”, bisik hatiku. Aku pun sejenak merenung, memikirkan apa yang selama ini kurasakan selama tiga bulan di negeri itu, bagaimana gurunya, bagaimana siswanya, bagaimana lingkungannya, hingga kutemukan sebuah judul yang mula-mula kuajukan pada DPL-ku. Beliau menyarankanku untuk mengajukan judul itu ke jurusan PBA.
            Aku berusaha mencari tahu alamat email Kajurku namun karena waktu kian menjepit, aku langsung saja mengajukan judulku berikut rumusan masalahnya pada Sekjur PBA yang nantinya beliau sampaikan pada Kajur. Alhamdulillah, sehari setelah kukirim via email, beliau mengirim jawaban padaku dengan memberikan pilihan redaksi rumusan masalah berdasarkan rumusan masalah yang kususun sebelumnya.
            Setelah chatting via email beberapa kali dan disetujui, akupun meminta ditentukan dosen pembimbing. Aku yang masih semester 6 saat itu belum tahu bahwa syarat mendapatkan dosen pembimbing skripsi (secara resmi) adalah menyelesaikan proposal skripsi, dan dengan PD-nya aku merequest Dospem bermodal judul dan rumusan masalah.
Saat itu memang Dospem skripsi belum ditentukan secara resmi oleh pihak fakultas, namun dengan intensif apabila ada waktu luang, Sekjurku selalu membimbing dan memberikan arahan apa yang harus kulakukan di saat kondisi lapangan kurang kondusif untuk penelitian mengingat banyaknya aktivitas di akhir Ramadhan dan awal bulan Syawal serta UTS dan Sukan Warna yang tentunya menyita kegiatan pembelajaran dalam kelas (selama akhir Juli hingga awal September).
Beberapa waktu sebelumnya sempat kudengar dari Kepala Bidang Pelajaran Agama di sekolah bahwa mahasiswa yang ingin penelitian di sini harus menunjukkan surat izin penelitian dari kampusnya. Segera aku pun meminta tolong pada Sekjur PBA untuk mengirimkan surat izin penelitian untukku. Lagi-lagi aku dengan PD-nya merequest sesuatu yang sebenarnya bukan tugas beliau. Bukankah menurut prosedur yang ada surat izin penelitian baru diberikan setelah seminar proposal? J Aku tak peduli. Melawan prosedur yang telah ditetapkan adalah satu-satunya pilihan karena aku tidak mungkin seminar proposal jarak jauh, bahkan proposal pun aku belum menyusunnya. Bagaimana bisa aku menyusun proposal tanpa ada buku sedangkan buku-buku referensi di Thailand tentu berbahasa Thai. Ah, lupakan sejenak proposal itu. Yang kupikirkan adalah aku harus penelitian dan pulang dengan membawa data-data untuk kususun menjadi karya ilmiah yang suatu hari nanti akan kuperjuangkan dalam sidang skripsi.
Masih dalam suasana serba dikejar deadline, aku dikejutkan dengan pengumuman yang diunggah dalam web FTIK tentang skripsi gelombang 1 semester ganjil. Tidak kusangka, semester 7 sudah dibuka skripsi gelombang 1 sedangkan aku di penghujung semester 6 saat itu. Wah... sudah lama aku memiliki impian untuk bisa skripsi gelombang 1 karena jarang sekali ada anak PBA yang berani untuk skripsi gelombang 1, paling banter gelombang 2 dan umumnya gelombang 3. Tapi, pengumuman hari itu membuatku sedikit down (nggak down banget sih). Bagaimana bisa aku menyelesaikan skripsi dalam waktu sesingkat itu sedangkan saat ini aku baru memiliki judul dan rumusan masalah. Satu-satunya yang bisa kulakukan dalam rangka penelitian adalah wawancara, sedangkan observasi belum memungkinkan. Untuk melihat dokumen-dokumen sekolah pun, rasanya aku belum berkesempatan untuk itu. Belum lagi jika yang kuajak bicara kurang memahami apa maksudku karena perbedaan bahasa.
Lakukan yang bisa kamu lakukan, Nduk.” Iya, bisikan itu modal kerjaku. Sip... aku harus segera bertindak. Ada saatnya aku boleh menggunakan perasaan secara dominan. Ada kalanya logikaku harus lebih dominan dibanding perasaan. Kalau terus mengandalkan perasaan aku hanya akan galau, bingung dan tidak dapat bertindak.



[1]Kegiatan tahunan seperti PORSENI

Rabu, 08 April 2015

Abhimanyu


by Ni'matul Khoiriyyah 
            Senang hatiku, akhirnya tugas PPL dan KKN-ku selesai dan aku bisa kembali ke tanah air bersama Air Asia yang menerbangkanku dari Hat Yai ke Surabaya. PR terbesarku saat ini ada tiga; laporan PPL-KKN di Thailand, ujian komprehensif, dan skripsi. Setelah itu, baru boleh resepsi. Ah, ternyata kuliah S1 tidak lama.
            Rindu sekali rasanya pada tanah air yang kutinggalkan selama empat bulan. Rindu ayah, rindu bunda, rindu IAIN Tulungagung dan... rindu sekali pada si dia. Dia laki-laki kelahiran 1992, hanya terpaut setahun denganku. Saat ini dia sedang menempuh studi semester 1 di pascasarjana. Hebatnya, dia yang skripsinya selesai paling awal di gelombang satu dan hasil ujiannya kumlaude, pujaan para dosen. Aku merasa beruntung memiliki hatinya, sayang belum sah di mata agama dan negara. Kapan pengesahannya?
            Namun satu hal yang kusayangkan. Selama aku menjalin asmara dengannya, dia belum berani datang ke rumah untuk berkenalan dengan ayah-bunda. Alasannya, dia takut aku dimarahi dan itu akan berakibat menjauhkanku darinya. Dia tahu ayah melarangku pacaran sebelum tuntas kuliahku. Jika dia berani mendekatiku dan ayah tahu, ayah akan marah dan menjauhkannya dariku. Tentu dia tak ingin jauh-jauh dariku. Bahkan andaikan dia belum kuliah di pascasarjana, dia tentu akan menyertaiku untuk PPL dan KKN di Thailand karena program itu hanya untuk mahasiswa semester tujuh. Tapi aku bangga padanya. Meski tidak mau jauh-jauh dariku tapi dia sanggup menjalani LDR. Dia bisa dipercaya untuk menjaga hatiku yang jauh di seberang sana.
            ***
            “Nala, sudah sampai mana skripsinya?” Tanya mas Indra.
            “Aku masih mau seminar, Mas. Laporan PPL-KKN baru kemarin kukumpulkan. Pagi tadi aku menyerahkan proposal skripsi.” Jawabku.
            “Bagus, semangat terus, ya. Kamu harus kumlaude. Aku akan datang setelah kamu ujian.”
            “Datang..., maksud Mas Indra ke rumah?”
            Dia mengangguk. Aku bahagia sekali. Tak sabar rasanya ingin segera menyelesaikan skripsiku dan memperjuangkan sejilid tulisan itu dalam sebuah sidang di hadapan dosen penguji. Bukan itu sebenarnya letak ketidaksabaranku, tapi kehadirannya untuk mempersuntingku.
            “Mau kemana sekarang?” tanya Mas Indra yang menemaniku di perpustakaan sejak sejam yang lalu. Bel tanda pengunjung harus keluar sudah berdering.
            “Ke masjid.” Jawabku singkat.
            “Kapan ya, untuk pertama kalinya aku akan mengimami shalat wanita yang kucintai?” Ia menatapku lembut. “Aku ingin wanita itu mengamini setiap doaku. Wanita itu adalah kamu, Nala.”
            “Mas, aku akan berusaha untuk bisa ujian skripsi gelombang satu. Doakan aku segera lulus, Mas. Aku pun ingin segera menjadi makmum setia untukmu.” Kukembalikan buku yang baru kupakai ke rak sesuai kategori. Segera aku dan Mas Indra keluar dari perpustakaan dan berpisah di masjid kampus karena usai Jama’ah Dhuhur aku harus menemui dosen pembimbingku dan Mas Indra masih ada kuliah.
            Penantian ini masih panjang. Menanti bulan April itu artinya masih 4 bulan lagi. Aku tak peduli seberapa lama penantian itu. Selama Mas Indra ada di sisiku, penantian ini tidak akan terasa berat karena rasa takut kehilangan itu tak pernah menghampiri. Tak seorangpun yang tahu aku menjalin ikatan dengan Mas Indra dan aku yakin suatu hari nanti ayah akan merestuiku dengannya.
***
            Empat bulan berlalu dan komunikasiku dengan Mas Indra selalu berjalan dengan baik. Dia selalu ada meskipun tak di depan mata. Memiliki hatinya membuatku tak merasa sendiri. Sayang, tiga hari sebelum aku ujian skripsi ia harus terbang ke Kuala Lumpur untuk menengok keponakannya yang baru lahir. Itu artinya intensitas komunikasiku dengannya sedikit berkurang.
            Hari ini aku akan sidang dan rencananya ia akan terbang kembali dari KLIA ke Juanda. Bismillah, semoga Allah melancarkan sidang skripsiku dan melindungi perjalanan Mas Indra. Sebelum aku memasuki ruang sidang, kuterima Line darinya.
            “Bidadariku, selamat berjuang di sana. Semoga lancar dan lulus dengan predikat kumlaud. Kamu akan menjadi seorang sarjana yang berilmu dan berakhlak. Abhimanyumu akan segera kembali. I Love You until the last of my life.”
            Dia pasti akan terbang sekarang sesuai janjinya tadi malam untuk mengirim pesan sebelum menonaktifkan ponselnya. Aku pun dengan keyakinan dan semangat memasuki ruang sidang di mana ada tiga dosen penguji yang salah satunya adalah dosen pembimbing skripsiku.
            Satu jam berlalu dan aku keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Tiga dosen pengujiku tersenyum puas dengan karya yang telah kuperjuangkan dan kupertahankan di hadapan mereka. Alhamdulillah, aku lulus.
            Aku segera pulang dan memeluk kedua orang tuaku. Rasa bahagia bercampur haru menghapus ketakutanku untuk berbicara jujur tentang keberadaan Mas Indra dalam hatiku. Aku pun dengan tenang menceritakan kisahku dengan Mas Indra yang akan datang hari ini setelah kembali dari Kuala Lumpur.
            Syukurlah, ayah dan ibu tidak tampak kecewa juga tidak marah padaku. Mereka begitu senang saat kuceritakan tentang Mas Indra yang ternyata adalah putra sulung dari sahabat ayah. Artinya penantian panjangku dengan Mas Indra tidak akan sia-sia karena orang tuaku dan orang tuanya pasti merestui.
            Segera kupersiapkan segalanya untuk menyambut kehadiran Mas Indra sore nanti. Lima jam telah berlalu sejak aku pulang kuliah. Aku baru sadar bahwa perjalanan pesawat dari KLIA ke Juanda hanya dalam waktu 2 jam. Mengapa Mas Indra belum mengirim pesan? Bukankah ia sudah mendarat dan mengaktifkan ponselnya kembali?
            Ah, mungkin ia terlalu bersemangat untuk segera pulang dan datang kemari sehingga ia tidak sempat menghubungiku. Mungkin juga ia sedang bersiap-siap menuju kemari hingga tidak sempat mengaktifkan ponselnya. Aku harus tetap tenang.
            ***
            Sudah pukul 19.00 malam. Mas Indra belum memberikan kabar apapun dan tidak membalas chat-ku. Aku gelisah. Aku tahu dia orang yang selalu tepat waktu dan tidak pernah melanggar janji. Aku pun keluar dari kamarku ke ruang tamu dan menghampiri ayah yang sedang mendengarkan berita.
            Innalillah... sebuah pesawat yang take off pukul 08.58 dari Kuala Lumpur ke Surabaya terjatuh di laut Jawa pada pukul 10.50.  Ya Tuhan, bukankah pada pukul 08.55 Mas Indra mengirim pesan via Line padaku. Benarkah pesawat itu yang membawa Mas Indra? Tidak mungkin! Mas Indra pasti menepati janjinya untuk mempersuntingku malam ini. Tidak mungkin! Mas Indra pasti dalam perjalanan menuju kemari.
            “... Abhimanyumu akan segera kembali. I Love You until the last of my life.” Kubaca kembali pesan dalam Line yang dikirimnya tadi pagi. Robb... aku baru sadar, Mas Indra menggunakan diksi “kembali” bukan “datang”. Ia juga sebelumnya tidak pernah memanggilku “Bidadari” dan tak pernah menyebut dirinya “Abhimanyu”. “...until the last of my life,” Mas Indra, apakah kau meninggalkanku? Aku menantimu, Mas.
            Air mata membanjiri pipiku hingga aku terisak. Ayah dan ibu pun bersedih melihatku. Setelah kebahagiaan atas kelulusanku, inikah hadiahku? Aku merasa Tuhan tidak adil padaku dengan mengambil Mas Indra di saat impiannya hampir terwujud.
            “Ting tung....” Suara bel berbunyi.
Aku masih terisak dan tidak mau melepas tangan ayah dan ibu yang kugenggam sejak tadi. Aku yakin di luar sana ada polisi yang akan mengabarkan berita buruk itu. Iya. Seperti dalam beberapa film yang pernah kusaksikan. Ketika kecelakaan menimpa seseorang maka polisi akan datang ke rumah kerabat atau orang terdekat dari korban itu untuk mengabarkannya. Tidak! Aku tidak mau mendengar kabar buruk itu lagi setelah reporter dengan jelas mengatakannya dalam berita.
“Ting tung....” Bel itu semakin bandel dan memaksa untuk dibukakan pintu.
“Ting tung....” Kulepaskan genggaman ayah dan ibu lalu aku beranjak mendekati pintu seraya berteriak. “Pergi.....!” Kupukul pintu itu berkali-kali hingga tanganku panas dan aku tersungkur tak berdaya sambil terus menangis. Ibu memelukku dan ayah membuka pintu.
“Assalamu ‘alaikum, Nala, kamu mengusirku?”
Suara itu... suara itu aku mengenalnya. Kuangkat kepalaku perlahan dan ternyata Mas Indra. Subhanallah, aku seperti bermimpi. Aku hampir saja memeluknya kalau saja tidak kuingat agama masih melarangku.
Ayah Mas Indra berpelukan dengan ayahku dan ibu Mas Indra memelukku setelah mengusap air mataku. Ayah mempersilahkan mereka masuk. Aku masih di pelukan ibu Mas Indra. Isakanku belum berhenti dan Mas Indra tampak sangat bingung melihat keadaanku yang mungkin tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ayah pun menceritakan semuanya. Kebahagiaanku saat dosen penguji menyatakan lulus, penantianku sejak siang hingga malam, sampai tangisku saat mendengar berita jatuhnya pesawat dari Kuala Lumpur di laut Jawa yang kusangka membawa Mas Indra.
            Aku pun tiba-tiba tersenyum saat ayah mengakhiri ceritanya. Kutatap dalam-dalam ibu Mas Indra. “Tante... Mas Indra nakal.” Ucapku yang disusul gelak tawa semuanya.
            “Nala, apa kamu tahu Allah sangat menyayangi kita?” Ujar Mas Indra menatapku lembut. “Abhimanyumu hampir saja terbang bersama pesawaat naas itu, Nala. Tapi kemudian ia sadar bahwa sajadah darimu tertinggal di kamar keponakannya. Ia pun turun dari pesawat yang sudah siap take off dan mencari taxi hanya untuk mengambil sajadah dari wanita pujaannya itu. Orang lain mungkin menganggap ini konyol dan gila. Apa kamu tahu Abhimanyumu harus rela kehilangan barang-barangnya yang sudah masuk bagasi dan kabin pesawat hanya demi sajadah darimu? Nala, aku sempat berpikir untuk merelakan sajadah itu tertinggal di rumah sepupuku, tapi kemudian aku sadar bahwa sajadah itu sangat berharga karena cintamu. Aku harus rela ketinggalan pesawat dan memesan tiket mendadak untuk penerbangan berikutnya dengan konsekuensi terlambat dan membuatmu khawatir seperti ini. Tapi aku akan sangat menyesal bila aku tidak mengambil sajadah yang tertinggal itu karena aku tidak akan bisa menghentikan tangismu jika aku benar-benar terjatuh dan tenggelam bersama pesawaat itu.”
            Gelak tawa yang sebelumnya mengiringi celotehku pun berubah menjadi tetesan air mata haru. Namun Mas Indra dengan tenangnya tersenyum padaku. “Apa benar aku nakal, Nala?”
            Aku justru mengangguk. “Kamu nakal, Mas, tidak mengabariku.”
            “Karena cinta harus menunggu, Nala. Abhimanyu akan selalu memperjuangkan kebenaran hingga akhir hidupnya. Aku pun akan memperjuangkan cintaku. Jangankan dirimu, sajadahmu saja kupertahankan, Nala. I Love You until the last of my life.” Jawab Mas Indra.
            “Dan sekarang Om menunggu lamaranmu untuk Putri Nala yang baru menangis ini, Ksatria Abhimanyu.” Sahut Ayah.
            Subhanallah walhamdulillah... Sungguh indah skenario cinta-Mu, Robb. Engkau tautkan hatiku dan hatinya dengan begitu indah. Restuilah kami, kuatkanlah cinta kami, until the last of my life. Aku mencintaimu, Abhimanyu.



Jumat, 03 April 2015

SKRIPSI YANG PENUH CINTA

                                        
(Part 1)
Bagi seorang Nina, move on merupakan hal yang tidak bisa seinstan mie sedap yang cukup dalam hitungan menit. Perjalanan hari demi hari di kampus mengukirkan sejuta warna di kanvas yang bermerk “hati”. Warna pink dua kali menghampiri. Iya. Pink adalah warna cinta. Goresan warna pertama dari seorang dosen ketika aku masih duduk di semester dua. Goresan warna kedua dari seorang mahasiswa ketika aku duduk di awal semester 6 dan luntur di semester itu pula.
Untuk mencintai dan dicintai ternyata tidak sesulit untuk memiliki dan dimiliki secara sah di mata agama dan negara. Kepercayaan merupakan awal tumbuhnya cinta karena kita tidak mungkin bisa mencintai orang yang tidak bisa kita percaya. Kepercayaan apa? Kepercayaan untuk bisa melengkapi satu sama lain, kepercayaan untuk saling menjaga kehormatan satu sama lain, kepercayaan untuk berusaha saling membahagiakan satu sama lain, dan kepercayaan untuk tidak saling mempermasalahkan kekurangan satu sama lain. Ini lho sebenarnya indah dan mulianya cinta.
“Namun adakala insan tak berdaya saat dusta mampir bertahta...” petikan sebuah lagu ini menandakan bahwa dustalah yang melumpuhkan kekuatan cinta yang pada dasarnya merupakan kepercayaan antara sepasang insan ciptaan Ar-Rahman. Dua orang insan yang saling mencintai tentu memiliki keinginan mulia untuk dipersatukan oleh Sang Maha Cinta. Namun tentu Sang Maha Cinta memberikan proses yang diibaratkan menaiki tangga untuk bisa sampai ke puncak yang dituju. Pada mulanya, ketika masih berada di awal-awal tangga, kekuatan masih besar, semangat masih membara, dan keinginan untuk sampai ke puncak masih menggebu. Semakin ke atas akan semakin terasa lelah atau bahkan ingin menyerah jika tidak memiliki tekad yang kuat. Padahal, ketika mereka menaiki tangga itu bersama-sama setinggi apapun dan sebanyak apapun anak tangga itu, mereka akan merasa sangat bahagia ketika sampai di puncak dan tetap bersama.
Di puncak itulah pintu gerbang cinta suci yang bernama pernikahan. Sayangnya, banyak yang gagal ketika berproses. Tidak berjalan bersama saat menaiki tangga, tidak memiliki semangat yang sama saat menaiki tangga, tidak saling percaya bahwa mereka sanggup menaiki tangga hingga puncak dan ketika sampai di tengah-tengah ada yang memilih turun dan pergi. (Ups.... kok seperti kisah Nina saja yang itu) Ketika Nina bersemangat menaiki tangga meskipun lelah, partner Nina menyerah di tengah-tengah dan memilih turun untuk jalan-jalan dengan yang lain.
Hakikatnya, hal itu tidak berbeda dengan tingkatan ujian yang diberikan oleh Sang Khaliq kepada hamba-Nya. “Laa Yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa”, seseorang tidak diuji melebihi batas kemampuannya sehingga anak SD tidak akan diberi tugas membuat makalah dan anak SMP tidak akan diminta PPL dan KKN, pun anak SMA tidak akan diminta menyusun skripsi dan seseorang tidak akan diminta mengerjakan tesis kecuali mahasiswa tingkat S2.
Mengapa harus menyerah ketika diuji? Bukankah Sang Penguji sudah lebih tahu siapa yang diujinya? Hai... tugas manusia bukan untuk berhasil tapi untuk berproses sebaik dan semaksimal yang ia mampu. Adapun kesuksesan itu bonus dari Sang Penguji ketika yang diuji patut untuk mendapatkannya. Bukankah begitu? Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal coba lagi atau pilih alternatif jalan lain yang lebih baik.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...” petikan lagu ini (mohon maaf) sekali-kali jangan diamalkan karena hanya akan membuat hidup jadi terpuruk dalam lautan luka masa lalu. “Aku tanpamu butiran debu...”  lirik yang ini lebih parah lagi. Sebegitu lemahkah kita tanpa si dia yang belum halal dan mungkin tidak akan pernah halal bagi kita. Hai... dunia lebih luas dari daun kelor. Mengapa harus terpuruk tanpa si dia? Bukankah lebih indah kalau “Aku tanpamu akan lebih baik”.
Jatuh dan terluka lalu merasakan sakit itu wajar. Tapi tidak wajar kalau terus-menerus mengingat perihnya luka itu sehingga menjadikan pribadi kita semakin terpuruk tak berdaya. Lebih buruk lagi kalau setelah putus cinta kemudian bermusuhan dengan sang mantan sampai tujuh turunan. Hai... jangan seperti itu. Boleh putus, tapi tetaplah berdamai dengan masa lalu.
Oke, masuk ke poin skripsi. Satu kata yang terdiri dari 7 huruf dengan 2 huruf vokal ini merupakan tugas akhir mahasiswa strata 1 yang kabarnya merupakan momok. Namun, siapa sangka, tugas akhir inilah yang justru membangkitkan Nina dari luka cinta yang kandas dihantam badai.
Menurut penuturan salah seorang kakak kelasku, cinta itu tidak bisa dihapuskan tapi bisa dialihkan perhatiannya. Berangkat dari sini, aku segera mengalihkan perhatianku yang semula tertuju untuk dia kemudian terfokus pada penulisan karya ilmiah yang merupakan tugas akhirku di kampus IAIN Tulungagung. Benar saja, move on dari dia (mahasiswa penggores warna pink kedua) lebih cepat jika dibandingkan dengan move on dari beliau (dosen penggores warna pink pertama). Singkat kata, tugas akhir ini menyita hampir seluruh perhatianku hingga tidak sempat lagi untuk merasakan perihnya luka kandasnya cinta.
Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing skripsiku. Curahan perhatian, pengorbanan, kasih sayang dan bimbingannya telah membantuku bangkit dari luka. Hari demi hari kukerjakan skripsiku (meski tidak bisa setiap hari). Jarak jauh tak menjadi penghalang bagiku untuk mendapat bimbingannya. Terkadang, aku di kampus saat beliau di luar kota. Pun sebaliknya, saat beliau di kampus aku tidak datang.
Aku jarang -bahkan hampir tidak pernah- membuat perjanjian untuk menemui beliau. Seringkali beliau tidak merespon ketika kukirim pesan singkat. Terkadang juga beliau tak sempat menerima teleponku. Walhasil, aku hanya mengandalkan feeling jika ingin menemui beliau. Seringkali perasaan bahwa beliau ada di kampus itu memang benar dan aku bisa menemui beliau, meski sesekali feeling itu meleset ketika aku menunggu berjam-jam dan ternyata beliau tidak ada.
Sejenak mungkin aku merasa kecewa ketika menunggu lama kemudian tidak berjumpa, namun kembali kusadari bahwa beliau pernah mengirim pesan padaku untuk datang menemui beliau di kampus pada jam sekian namun aku tidak merespon dan tidak datang. Beliau pun tidak marah, justru memberiku semangat yang luar biasa dengan butiran nasihatnya yang selalu merasuk ke dalam jiwa. Beliau juga tidak jarang meluangkan waktunya untukku, tak hanya meluangkan... bahkan mengorbankan. Ketulusan beliau yang merupakan praktik nyata dari formula “Head, Heart and Hand” seringkali menyadarkanku betapa berartinya cinta dan perjuangan seorang guru bagi anak didiknya. Tidak aneh jika aku menganggap dospem skripsiku seperti ayahku sendiri. Iya. Ayah yang tanpa ikatan darah.
Beliau juga salah satu inspirasiku saat berada di Thailand Selatan untuk PPL dan KKN. Sentuhan cinta pun selalu berusaha kuberikan pada peserta didik di Phattana Islam Wittaya School, serewel apapun mereka. Semua orang memiliki potensi kebaikan dalam dirinya namun ia pun berinteraksi dengan lingkungannya yang juga memberikan pengaruh bagi perkembangan dirinya. Seperti aliran Konvergensi yang beranggapan bahwa setiap manusia memiliki pembawaan namun juga mendapat pengaruh lingkungan dalam perkembangannya, aku pun ingin memberikan warna pada kanvas pelajar di sekolah itu.
To be continued....