Entri Populer

Jumat, 05 Desember 2014

Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand Dilihat dari Posisi Duduk

Artikel
Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand
Dilihat dari Posisi Duduk
by Ni'matul Khoiriyyah IAIN Tulungagung


BAB I
            PENDAHULUAN
           
            Posisi menentukan prestasi. Sering kita dengar statement ini di lingkungan akademik. Lebih-lebih jika musim ujian sekolah dan tidak ada ketentuan tempat duduk, berebutlah siswa untuk memilih duduk di bangku belakang. Hal ini disebabkan oleh anggapan siswa bahwa bangku belakang adalah posisi paling aman dan nyaman untuk mencontek. Apalagi jika pengawas dalam kelas sibuk dengan handphone-nya dan enggan berkeliling.
            Rupanya, posisi duduk merupakan pilihan yang melambangkan karakter seseorang. Apabila kita mengamati dalam suatu acara misalnya, maka yang mendapat fasilitas VIP dan duduk di deretan terdepan adalah orang-orang dengan keistimewaan tetentu. Bisa jadi karena title, jabatan, dan peran sosial.
 Bila kita tarik fenomena ini ke dalam kelas, maka siswa-siswi yang duduk di deretan terdepan adalah siswa-siswi VIP karena memiliki mental yang berani dan percaya diri. Melalui artikel ini penulis akan menguraikan tentang karekter siswa-siswi di lokasi KKN-PPL Terpadu yaitu Phattana Islam Wittaya School Lammai, Yala, Thailand.













BAB II
PEMBAHASAN
A.  Tempat Duduk Siswa
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal. Tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bisa digunakan di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakan dalam kelas dengan metode belajar ceramah. Untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan.
Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah[1]:
                                        1.            Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
                                        2.            Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
                                        3.            Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
                                        4.            Persamaan dan perbedaan dalam bakat
                                        5.            Persamaan dan perbedaan dalam sikap
                                        6.            Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
                                        7.            Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
                                        8.            Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
                                        9.            Persamaan dan perbedaan dalam minat
                                    10.            Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
                                    11.            Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
                                    12.            Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
                                      13.  Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan
                                    14.            Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.

            Penempatan siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll.
            Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas sdalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan.[2]Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer bahwa penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
            Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

  1. Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Berdasarkan Tempat Duduk
            Karakter berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak kemudian disebut dengan istilah karakter.[3] Menurut Hamzah Uno dalam artikel yang ditulis oleh Ahmad Fauzi, karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.[4]
            Dengan mengenal karakteristik siswa, guru dapat memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan dalam memberikan materi baru dan lanjutan. Selain itu guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi.
            Saya telah berada di sekolah yang berada di perbatasan Pattani dan Yala ini selama hampir empat bulan. Saya yang sedang menjalankan tugas PPL mengajar di enam kelas dengan rincian empat kelas di tingkat mutawasith dan dua kelas di tingkat tsanawi.
            Dari pengamatan saya secara langsung, seluruh kelas di sekolah ini menggunakan formasi berjejer ke belakang untuk tempat duduk siswa karena hampir semua guru menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar. Tentunya ada siswa yang duduk di deretan depan, tengah dan belakang sesuai pilihan mereka masing-masing saat pertama kali masuk kelas di awal semester. Hal ini karena siswa diberi keluasan atau kebebasan untuk menentukan tempat duduknya.
            Melalui sampel enam kelas yang saya ajar, saya dapat melihat karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama umumnya merupakan siswa yang rajin mengerjakan tugas, jarang terlambat masuk ke kelas, aktif dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Siswa yang duduk di deretan kedua masih mempunyai tingkat kerajinan yang sama dan rasa malu yang besar untuk datang terlambat. Hanya saja perbedannya dengan siswa yang berada di deretan pertama adalah tingkat rasa percaya diri.
            Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin rendah. Biasanya siswa yang segera menjawab pertanyaan saya adalah siswa yang berada di deretan terdepan kemudian satu hingga dua baris di belakangnya. Sedangkan siswa yang berada di deretan tengah adalah siswa yang biasanya mengikuti arus. Apabila banyak yang mengatakan A, siswa di deretan tengah mengikuti.
            Deretan belakang dan dua baris di depannya merupakan siswa yang paling membutuhkan perhatian ekstra. Umumnya mereka sering datang terlambat, tidak segera mengerjakan tugas dan ikut mengatakan faham ketika teman-teman yang lain mengatakan faham akan tetapi sebenarnya mereka masih bingung. Mereka juga kurang memiliki rasa percaya diri. Mereka tidak segera maju ke depan ketika saya panggil untuk menulis atau membaca.
            Mereka juga senang berkumpul dengan teman-teman yang duduk sebaris. Datang terlambat bersama-sama, tidak membawa buku pun kompak. Ditambah, hasil ujian mereka ternyata memang di bawah hasil ujian siswa yang ada di depannya.
            Saya pernah mengawasi ujian tengah semester di awal bulan Agustus lalu. Kebetulan tidak ada ketentuan untuk siswa dengan nomor absen sekian duduk di bangku mana. Saat itu saya melihat siswa yang datang pertama justru memilih duduk di depan, dan mereka adalah siswa yang biasanya saat kegiatan pembelajaran seperti biasa duduk di depan. Kemudian, siswa yang lain menyusul di belakangnya. Hebatnya, yang selesai dan keluar dari ruang kelas terlebih dahulu adalah siswa yang duduk di depan yang tidak sempat menoleh untuk bertanya ataupun memberikan jawaban pada temannya.
            Ternyata, duduk di depan membutuhkan mental yang kuat dan tidak semua siswa berani. Ketika saya menanyai satu siswi kelas 7/1 yang duduk di bangku terdepan dan dekat dengan meja guru, dia mengaku lebih suka duduk di depan karena lebih cepat faham dengan materi yang disampaikan.[5] Istimewanya, ia memilih bangku depan atas kemauannya sendiri bukan karena kehabisan tempat di deretan belakang.
            Hal yang senada juga disampaikan oleh partner PPL saya yang mengajar di kelas 8. Dia mengakui perbedaan karakter siswa memang dapat dilihat dari posisi duduknya. [6]
            Dengan demikian, perlu adanya pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan secara maksimal. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
Guru dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan kelas yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar peserta didik serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut. Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Pengelolaan kelas akan menjadi sederhana untuk dilakukan apabila guru memiliki motivasi kerja yang tinggi, dan guru mengetahui bahwa gaya kepemimpinan situasional akan sangat bermanfaat bagi guru dalam melakukan tugas mengajarnya.[7]
Keberhasilan pengelolaan kelas bergantung pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi yang tinggi akan dapat mengelola kelas dengan baik dan tepat. Mengelola kelas itu sendiri bukanlah tujuan utama dari setiap guru, akan tetapi apabila guru dapat mengelola kelas dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar-nya akan berjalan baik dan peserta didiknya akan berprestasi tinggi. Mengelola kelas merupakan sarana/alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan belajar mengajar. Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik, sehingga peserta didik dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
                Tempat duduk VIP ternyata tidak hanya untuk tamu undangan dalam suatu acara penting. Tempat duduk VIP juga berlaku untuk siswa  dalam kelas seperti halnya di Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala, Thailand. Dari posisi duduk siswa dapat diperoleh gambaran karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin rendah.
B.     SARAN   
Perlu adanya pengelolaan kelas yang baik termasuk penataan tempat duduk siswa untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
















DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhopilah, Epa, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan, Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46

Rofiq, Aunur, 2009, Pengelolaan Kelas, Malang: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sharing dengan Ayu Sartika Wati, Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
Sharing dengan Nurul Qomariyah, siswi Phattana Islam Wittaya School kelas 7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.




                [1] Epa Muhopilah, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46

[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 174
[3] Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h. 15
                [4] Ahmad Fauzi, Analisis Karakteristik Siswa, dalam blog Guru Indonesia, http://guru-ina.blogspot.com/2012/03/karakteristik-siswa.html diakses pada tanggal 19 September 2014 pukul 20.46
                [5] Sharing dengan Nurul Qomariyah kelas 7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
                [6]Sharing dengan Ayu Sartika Wati, Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
                [7] Aunur Rofiq, Pengelolaan Kelas, (Malang: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial, 2009), hal. 5 

Rabu, 19 November 2014

Salam Cinta

Salam Cinta Abah Tercinta

6 tahun yang lalu tepatnya saat aku masih duduk di bangku Aliyah kelas sepuluh, aku juga menjadi santri di Ponpes Terpadu Al-Kamal Blitar. Sebagai santri baru, aku cukup dekat dengan para ustadz di pesantren itu. Cukup sering aku diikutkan dalam even perlombaan tingkat pesantren. Pertama kalinya aku diikutsertakan dalam MQK (Musabaqoh Qiroatul Kutub).[1] Alhamdulillah, untuk terjun perdana aku berhasil mengibarkan bendera pesantrenku di urutan ketiga. Kemenangan inilah yang membuatku semakin dekat dengan ustadz.
            Suatu pagi secara tiba-tiba ustadz Hadziq memanggilku dan 5 santri lain. Aku tidak tahu untuk apa beliau memanggil. Saat aku sampai di depan Idarotul Ma’had[2], mbak Ani Salimah (Almh) menyapaku. Ia mengucapkan selamat karena aku terpilih untuk mengikuti lomba hari ini. “Lomba?” tanyaku. Aku masih bingung, bagaimana bisa ustadz tiba-tiba memanggilku hari ini untuk menyertakanku dalam perlombaan yang juga akan dilaksanakan hari ini. Wah, lomba apa? Di mana? Pukul berapa?
            Hari itu hari minggu dan minggu kedua. Biasanya dua minggu sekali aku disambang oleh orangtuaku. Bagaimana ini? Trenggalek-Blitar cukup jauh, bagaimana jika tak berjumpa?
            Pukul 07.00 Ustadz Hadziq mengeluarkan mobil pesantren lalu menyuruhku masuk bersama 4 santri yang lain. Aku semakin bingung. Tidak ada pemberitahuan dan pengarahan sebelumnya. Sebenarnya lomba apa ini? Aku dan teman-teman bingung.
            Dalam perjalanan, ustadz bertanya. “Ni’mah hari ini disambang?”
            “Mungkin iya, Ustadz. Kan sudah dua minggu.” Jawabku.
            “Waduh, terlanjur berangkat. Kaifa hadza?[3]”
            “Kita mau ke mana, Ustadz?”
            “Ke Depag Blitar. Ada musabaqoh. Lihat saja nanti.” Kata Ustadz. “Akalti?”[4]
            “Akaltu, Ustadz.... Khubzan faqoth.[5]”
            Sesampainya di Depag, parkiran sudah padat. Kami menuju ke masjid. Ternyata lomba Qiroatul Qur’an. Kebanyakan pesertanya seusia ustadz namun ada beberapa yang seusiaku.
            “Ni’mah nanti maju, ya!” ucap ustadz.
            “Ana, Ustadz? Nggak berani, Ustadz. Kenapa Ustadz nggak bilang dulu kalau qiroat?”
            “La ba’sa[6].” Jawab ustadz dengan nada santai. “Amin, Kholif, Munir, Titik, nanti maju!” suruh ustadz.
            Teman-teman pun menolak dengan alasan tanpa persiapan. Hingga akhirnya dari Ponpes Al-Kamal diwakili oleh ustadz sendiri, mas Amin dan mbak Kholif karena mereka sudah siap tanpa persiapan. Pukul 14.30 kami meninggalkan Depag.  
            Hujan turun deras namun ustadz tidak segera membawa kami pulang. Beliau membawa kami jalan-jalan menikmati indahnya hujan deras di kota Blitar. Pukul 16.00 kami baru sampai di pesantren. Setelah mengucapkan terima kasih, aku, Titik dan mbak Kholif kembali ke asrama putri.
            Saat masuk kamar, aku dikejutkan dengan sebuah kardus berisi satu pak Biskuat, satu pak Chocolatos, beberapa snack lain, sebungkus nasi dan lauk. Ya Allah, tadi aku disambang?
            “Dek, tadi pukul dua ayahmu ke sini. Aku beritahu kalo kamu ikut ustadz ke Blitar dari pagi. Ayahmu nunggu sampai pukul tiga lalu pulang. Padahal hujan deras. Tadi beliau titip semua ini dan salam cinta buat kamu.” Kata salah seorang kakak di kamarku sambil tangannya menunjuk kardus di depanku.
            Ya Allah... aku terharu sekali bahkan hampir menangis. Abah tidak berjumpa denganku. Abah sudah menanti lama dan pulang di tengah derasnya hujan. Pasti abah sudah meluangkan waktu di balik kesibukannya. Maafkan aku abahku tercinta.


[1] Lomba membaca kitab kuning

[2] Kantor pesantren

[3] Bagaimana ini

[4] Sudah makan?

[5] Sudah, Ustadz... roti saja.

[6] Tidak apa-apa

Minggu, 09 November 2014

Ana Hunaka
Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand, sebuah sekolah Islam yang berdiri kokoh di Lammai, desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Patani. Kurang lebih lima bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 21 Mei 2014, Sang Mudir dan putranya menjemputku di Gedung Pusat Pentadbiran Wilayah Patani setelah serah terima amanat dari perwakilan rektor  PTAI Indonesia kepada badan
alumni internasional Thailand selatan. Suasana haru mulai menyelimuti ketika para mahasiswa akan dilepas oleh dosen-dosen yang mengantar. Apalagi 20 mahasiswa dari IAIN Tulungagung termasuk aku akan ditempatkan secara terpisah di beberapa ma’had yang tersebar dalam 4 wilayah yaitu Patani, Yala, Narathiwat dan Songkhla. Para dosen berhati mulia itu akan take off kembali ke tanah air usai menitipkan kami di negeri asing ini.
Sekitar pukul 13.00 seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi besar menyapaku dan partnerku, kak Ayu Sartika Wati dari UNMUH Jember. Pria itu tak lain adalah putra sang mudir. Setelah basa-basi sejenak, dia membawa kami ke area parkir sambil menanti mudir.
Perjalananpun bermula setelah sang mudir berjumpa dengan kami di area parkir. Dalam waktu kurang lebih satu jam, kami keluar dari Patani menuju ke Yala. Sepanjang perjalanan kami berkenalan satu sama lain. Jangan menyangka aku sudah akrab dengan partnerku, karena aku baru tahu namanya setelah acara serah terima tadi. Mudir dan putranya cukup heran ketika tahu aku dan kak Ayu belum saling kenal.
Tentang mudirku, beliau bernama Mahyudin Samae, biasa disapa Babo Ding. Beliau memiliki seorang istri yang biasa kusapa Mama, dan dikaruniai 7 orang anak. Anak pertamanya adalah pria yang saat itu mengemudikan mobil, Rusdee Samae namanya. Anak kedua, ibu dari si kecil Azwan, Rusnee Samae. Anak ketiga, saat itu masih berada di Yordan, wanita anggun dan lincah yang bercadar, bernama Fadheelah Samae. Anak keempat, saat itu masih studi di India, ia bernama Fadeel Samae. Anak kelima berada di Indonesia, Arfan Samae. Anak keenam, siswi kelas 9 di Phattana Islam Wittaya Lammai, bernama Ruwaida Samae. The Last, si imut Iman yang bersekolah di Phirayanawin Patani.
Oke, tentang tugasku di sekolah. Aku mendapat amanah untuk mengajar di dua tingkat yaitu Mutawasith (setara dengan SMP) dan Tsanawi (setara dengan SMA). Di tingkat mutawasith, aku mengajar Bahasa Melayu dan di tingkat Tsanawi aku mengajar Khithobah dengan perincian 4 kelas untuk Mutawasith dan 2 kelas untuk Tsanawi dengan alokasi waktu 12 jam mengajar dalam lima hari. Hari Jum’at adalah hari libur mingguan, sedangkan hari Sabtu adalah hari cutiku.
Mengajar di tingkat Mutawasith memerlukan kesabaran ekstra. Tidak jarang aku harus seperti rentenir ketika menagih PR anak-anak. Terkadang aku pun harus seperti penjaga kantor untuk menunggu mereka datang padaku membawa sebuah buku berisi pekerjaan mereka dengan password, “Kak Ni’mah, nak himpun tugas.” Kadang juga aku seperti seseorang yang menanti kedatangan sang kekasih. Bagaimana tidak, aku sudah stand by di kelas pada pukul 13.00 sedangkan mereka baru datang pada pukul 13.30, dan tahukah Anda bahwa pukul 13.45 bel sudah bernyanyi tanda pergantian jam.
Akan tetapi, ada sisi lain yang kontras dengan hal itu. Memang dalam kelas mereka berulah, akan tetapi di luar kelas, mereka memiliki kasih sayang yang luar biasa. Senang sekali aku melihat senyum mereka. Senang sekali aku mendengar dan menjawab sapaan mereka. Senang sekali ketika mereka mengajakku bermain. Bahkan hujan air mata begitu deras ketika tanpa terasa waktu semakin berlalu dan tibalah saat perpisahan. Ya Allah, mereka anak didikku yang kucinta sepenuh hati dan kuingin melihat mereka tumbuh dewasa dengan karakter yang luar biasa.
Di negeri asing ini banyak kutemukan keluarga baru. Guru-guru di sekolah yang memiliki solidaritas tinggi, memiliki cinta kasih yang tulus hingga aku tak pernah merasakan beban yang begitu berat meski pernah aku merasa tertekan dengan tumpukan tugas yang menggunung. Masyarakat Yala yang harmonis, guyub rukun dan murah senyum membuatku semakin kerasan di negeri Gajah Putih ini. Ya. Mudah ternyata jika ingin memiliki keluarga baru di tempat asing. Cukup dengan komunikasi yang baik dan berupaya menjaga akhlak.
Ramadhan karim 1435 H kujalani di negeri itu. Subhanallah, tahukah Anda tentang mama? Mama selalu memberiku sebuah tempat di samping beliau saat shalat tarawih meskipun ada putrinya. Jadi, formasinya misalkan shof pertama ada 20 kotak, mama di kotak pertama, putri mama di kotak ketiga dan seterusnya, sedangkan kotak kedua itu khusus untukku walaupun terkadang putri mama yang lebih awal datang ke masjid. Subhanallah, kecemburuan pun tak pernah kulihat dari raut wajah putri mama. Mereka begitu baik padaku bahkan terkadang putri mama yang mempersilahkanku menempati kotak kedua itu.
Tiga dari sejumlah ma’had di wilayah Yala adalah milik 3 bersaudara, kerabat Babo Ding. Ma’had-ma’had itu adalah Asasuddin, Tarbiyatul Wathon, dan Al-Khairiyah, nama lain Phattana Islam Wittaya School. Aku dan kak Ayu cukup sering diajak ke Tarbiyatul Wathon. Di sana ada rekan kami Qilma, dari STAIN Jember yang saat ini beralih status menjadi IAIN Jember, dan Dessi dari UNMUH Jember, adik kelas kak Ayu.
To be continued



Rabu, 05 November 2014

The Power Of Deadline
Sudah berhari-hari aku ingin menulis tentang ini. Namun baru malam ini tarian jemariku di atas keyboard berkesampatan untuk menulisnya. Judul tulisanku ini mungkin sudah pasaran, dalam arti sudah banyak yang mendengar istilah itu, the power of deadline. Ada bahasa yang lebih familiar lagi yaitu the power of kepepet.
Berbicara tentang deadline, aku yakin kita pernah mengalami yang namanya dikejar deadline. Misalkan, ketika kita masih SMP atau SMA ada guru yang memberikan PR yang harus dikumpulkan tanggal sekian jam sekian. Ini yang namanya deadline. Begitupun halnya dengan mahasiswa. Deadline bagi mereka adalah tanggal yang ditentukan oleh dosen bagi mereka untuk mengumpulkan makalah dan tugas-tugas lainnya.
Oke, kembali ke judul. Kebanyakan di antara kita beranggapan bahwa inspirasi akan bermunculan saat kita sudah didekat deadline. Misalkan besok pagi deadline, malam ini lembur. Padahal ada masa tenggang satu minggu untuk mengerjakan. Nah, apakah pernyataan the power of deadline itu benar? Apakah deadline itu benar-benar memiliki power? Menurutku tidak sepenuhnya. Sebenarnya, power itu muncul ketika kita fokus. Inspirasi itu muncul ketika kita fokus. Ketika kita merasa deadline sudah dekat, kita tidak lagi memikirkan yang lain. Yang ada di hati dan pikiran kita adalah menyelesaikan apa yang ada. Inilah sebenarnya letak power. Bukan pada deadline-nya. Walaupun deadline masih jauh, apabila kita mau memfokuskan pikiran, Insyaallah selesai. Jadi, ada baiknya kita selalu merasa dekat dengan deadline agar tugas apapun itu cepat selesai.

Trenggalek, 2 Oktober 2014


Perjalanan
Perjalanan kurang lebih 3 jam dari Kamulan ke Nguluh, Siki, Dongko dalam rangka menghadiri walimatul Ursi Ukhtuna Miftakhul Khumaidah bersama Romo Kyai Ma'sum dan beberapa santri PP Sirojut Tholibin Plosokandang Tulungagung menghadirkan banyak kata dalam benakku yang ingin segera kutuliskan. Aku menganalogikan perjalanan itu sebagai perjalanan hidup. Mulai dari Kamulan sampai Karangan, jalan itu mulus. Ibaratnya, itu adalah saat-saat kita bahagia. Kemudian, mulai Suruh sampai Dongko, jalanan menanjak akan tetapi aspal masih sehat wal afiat. Ibaratnya, itu adalah ujian kecil dalam kehidupan yang meskipun tidak terlalu beresiko akan tetapi tetap memerlukan kewaspadaan. Sedangkan klimaksnya, dari Pasar Dongko menuju ke tempat walimah, begitu banyak tanjakan dan tikungan tajam sedangkan kondisi aspal La yamutu wa La yahya. Butuh kelihaian dari seorang pengemudi untuk melalui jalan ini. Ibaratnya ini adalah cobaan terberat dalam hidup yang apabila sedikit saja kita terlena, maka hilanglah keimanan. Butuh kelihaian hati dan pikiran untuk menghadapi cobaan yang berat. Kita harus senantiasa husnudhon pada Irodah-Nya seberat apapun cobaan itu bagi kita. Anak sekolah tidak akn naik kelas tanpa melalui ujian. Begitu juga, kualitas iman kita tidak akan naik tanpa kita lulus menghadapi ujian-Nya. Nah, saat memasuki desa Siki dan sampai di tempat walimah, perasaan takut, tegang dan lelah saat perjalanan terhapuskan oleh kebahagiaan saat menyaksikan sang mempelai bersanding di singgasana cinta. Ibaratnya, apabila kita berhasil menghadapi ujian dari-Nya dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa, Fa Insyaallah, surgalah balasannya.
Ya, itulah perjalanan hidup yang tidak mungkin hanya lurus saja. Tak mungkin dalam hidup ini kita hanya bahagia. Mengapa? Ini dunia, bukan surga. Juga tak mungkin dalam hidup ini kita hanya menderita. Mengapa? Ini dunia, bukan neraka. Kebahagiaan dan kesedihan akan datang silih berganti. Ini keadilan Sang Pencipta. Dari pengamen sampai presiden, semua pasti pernah tersenyum dan pernah menangis. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba-Nya menyikapi. Saat bahagia kita bersyukur, saat bersedih kita bersabar. Tetaplah husnudhon pada-Nya.
#Ushikum wa nafsi...

Alhamdulillah, kata demi kata yang sejak tadi tersirat kini dapat tersurat. Syukron Ukhty Miftakhul Khumaidah, perjalananku ke rumah anti menghadirkan inspirasi untuk tulisan ini.
Baarakallah lakuma wa baaraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fi Khoir


Kamulan, 23 Okt 2014

Selasa, 04 November 2014

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.
Trenggalek, 6 Oktober 2014