Entri Populer

Jumat, 27 Februari 2015

Ana Hunaka (Part 2)


Lammai yang damai, pernah kedatangan tamu tak diundang berupa sebuah bom yang bersembunyi dalam sepeda motor sekitar beberapa ratus meter dari ma’had Al-Khairiyah pada tahun 2013. Kejadian itu menggemparkan penduduk dan tentunya mahasiswa Indonesia yang PPL di sana. Aku pun merasakan kekhawatiran saat mendegar cerita itu. Alhamdulillah saat aku bertugas sejak bulan Mei sampai dengan September 2014 situasi aman terkendali. Memang ada beberapa kasus pengeboman di Betong dan Patani akan tetapi semua itu tidak sampai mencelakai kami mahasiswa indonesia yang bertugas di sana.
4 bulan di Lammai Yala mengukirkan kenangan yang tak terlupakan. Pahit-manis kehidupan bersama para santri dengan aneka karakter dan kebiasaan mewarnai hari-hariku. Sebagai mahasiswi yang PPL di Phattana Islam Wittaya School, tentu interaksiku dengan mereka tidak cukup hanya di sekolah sejak pagi hingga sore. Di asrama pun kekeluargaan semakin terasa.
Aku dan partnerku, kak Ayu dari UNMUH Jember bekerjasama dengan ustadzah yang biasa kusapa kak Asma untuk membimbing para santri di asrama. Tugas inilah yang membuatku bernostalgia dengan kenanganku di PP Al Kamal Kunir saat bertanggung jawab sebagai pengurus bagian pendidikan. Tugasku kurang lebih sama di antaranya membangunkan para santri di waktu subuh. Namun aku merasa canggung ketika ustadzah mengajariku menggunakan rotan untuk menggedor pintu kamar santri. “Ah, memegang rotan saja rasanya aku tak pantas. Di Al Kamal saja aku lebih suka mengetuk pintu kamar santri dengan tanganku, kenapa di negeri orang aku harus menggunakan rotan?” Pikirku.
Tiga bulan pertama aku masih manual menggunakan tanganku untuk mengetuk pintu mereka namun pada satu bulan terakhir aku mencoba menggenggam rotan di tanganku sambil berbisik dalam hati, “Aku pantas nggak, kalo pegang ini?”
Setengah terpaksa aku melakukannya. Akan tetapi waktu serasa mengejar sehingga bagiku mereka harus lebih cepat bangun. Jika menggunakan ketukan tanganku di pintu mereka aku membutuhkan waktu satu hingga dua menit perkamarnya, dengan rotan bisa lebih cepat membangunkan mereka.
Musholla Al Khairiyah di asrama babo Ding adalah tempat berkumpulnya para santri untuk kegiatan sholat berjamaah, kajian kitab kuning, membaca Al-Qur’an dan tempat mereka menerima mau’idhoh dan motivasi dari para murobbi. Musholla yang berada di lantai dua ini merupakan bangunan dari kayu. Sedangkan di bawah musholla ada gudang yang bersebelahan dengan kamar yang kutempati bersama kak Asma dan kak Ayu.
Suatu hari, kurang dari sepuluh hari jelang kepulanganku ke tanah air aku merasa kehilangan mood. Hari itu aku tidak mendampingi santri berjamaah di musholla. Entahlah, perasaanku sangat tidak nyaman dan aku tidak ingin ke musholla. Aku pun marah pada diriku sendiri atas ketidaknyamanan perasaan itu. Kenapa aku tidak mau berjamaah dengan para santri di atas dan memilih sholat munfaridah di kamar. Kenapa aku merasa enggan mendampingi mereka sedangkan waktuku di negeri itu tidak lama lagi.
Aku pun sholat munfaridah di kamar dan para santri berjamaah di musholla. Malam ini aku tidak ada jadwal untuk mengisi acara santri ba’da maghrib dan putri mudirlah yang memberikan mau’idhoh dan motivasi. Aku tetap di kamar sambil on line dari notebook-ku. Di saat aku sedang serius dengan layar notebook, aku dikejutkan dengan suara hantaman keras disusul dengan teriakan para santri. Aku terkejut, ketakutan dan kebingungan. Pikiranku sudah kemana-mana saat itu. Adakah serangan dari luar karena negeri itu sedang dilanda kudeta. Atau...
Aku mondar-mandir berjalan ke timur dan ke barat dengan perasaan yang sangat gelisah. Teriakan santri di atas semakin histeris. Aku baru sadar kalau aku harus keluar dari kamar setelah kak Ayu berujar, “Ayo, Dek... Keluar.”
Aku dan kak Ayu berhambur keluar lewat pintu belakang dan apa yang terjadi? Allahu Akbar... Musholla telah runtuh. Beberapa santri terperosok dan jatuh ke lantai satu. Ada yang pigsan, ada yang luka hingga berdarah, ada yang lebam. Shock aku melihatnya. Segera pertolongan diberikan pada santri yang pingsan dan terluka. Beberapa orang masuk ke gudang yang kotor dan berdebu untuk menyelamatkan para santri yang jatuh ke sana kemudian dibawa ke kediaman mudir untuk diobati.
Salah satu santri berceletuk ringan, “Mujur akak tak naik. Kalo akak naik, kak tak boleh kelik indo.” (Untungnya Kakak tidak naik ke musholla. Kalau Kakak naik, Kakak tidak bisa pulang ke Indonesia)
Ya Allah, aku merinding seketika mendengar celetuk gadis kecil berusia belasan tahun itu. Inikah jawaban-Nya? Inikah mengapa aku enggan mendampingi mereka malam ini? Inikah cara Yang Maha Kuasa menyelamatkanku?
Wallahu a’lam... namun penuturan demi penuturan dari santri membuktikan betapa besar kuasa Sang Khaliq. Aku tak cukup bernyali untuk mengintip ke gudang, namun para santri mengatakan ada besi tajam di gudang itu dan ada sebuah sepeda motor. Kuasa-Nya yang membuat para santri yang jatuh tidak terkena besi tajam itu, pun tidak terkena motor.
Fakta lain adalah, runtuhnya musholla ke gudang bukan ke kamarku. Aku tidak bisa membayangkan jika musholla itu runtuh ke kamarku yang juga ada di bawahnya, mungkin saat ini aku tak berada di sini. Allahu Akbar...


                                                                                                        by Ni'matul Khoiriyyah

Jumat, 20 Februari 2015

Catatan Hari Ini

Ahsin Dhonnaka Tafroh

By Ni’matul Khoiriyyah
Aku mencoba-coba membuat mahfudhot barangkali rangkaian kata itu benar adanya. Jika diterjemahkan arti mahfudhot di atas adalah, “Perbaikilah prasangkamu, maka kamu akan bahagia”. Mahfudhot ini sengaja kubuat berdasarkan pengalaman dari hari ke hari, peristiwa demi peristiwa yang kemudian membuatku menarik sebuah kesimpulan bahwa terkadang hidup kita ini lebih banyak prasangkanya daripada faktanya.
Mengapa demikian? Sebab indera kita tidak bisa menangkap apa yang sifatnya jauh. Ketika saya berada di kampus misalnya, kampus itu sendiri memiliki banyak tempat yang tidak mungkin terjangkau oleh indera saya dalam waktu yang sama. Ketika saya berada di depan kantor jurusan, saya tidak tahu bagaimana suasana di rektorat. Ketika saya berada di perpustakaan, saya tidak tahu bagaimana suasana di UPB, dan sebagainya. Tentu saja hal ini menjadi pengecualian dari adanya pemberitahuan dari pihak lain, entah berupa pesan singkat, pesan suara atau mungkin CCTV.
Sedikit memberikan ulasan, suatu hari ada seorang dosen yang membimbing skripsi satu mahasiswa. Kesibukan sang dosen membuat si mahasiswa tidak membuat jadwal rutin untuk meminta bimbingan sang dosen. Suatu hari ketika sang dosen memiliki waktu luang, dosen itu mengirim pesan singkat pada mahasiswanya untuk hadir di ruang lab computer pada pukul 10.00 WIB. Mahasiswa itu tidak menjawab pesan singkat dosennya dan sang dosen baru saja mendapat balasan SMS keesokan harinya.
Di sisi lain, mahasiswa yang terlambat merespon dosennya itu sangat merasa bersalah karena banyak hal; pertama, tidak langsung membalas SMS dosen, kedua, sikapnya yang tidak membalas SMS dosen di hari yang sama menunjukkan bahwa ia tidak respek pada dosen yang telah meluangkan waktunya, ketiga, membalas SMS dosen di hari berikutnya tidak semestinya dilakukan karena sepantasnya ia menelepon atau menghadap langsung pada sang dosen, keempat, bisa jadi setelah kejadian kemarin sang dosen akan lebih sulit meluangkan waktu untuk mahasiswa tersebut. Kelima, bisa jadi sang dosen marah dan kecewa.
Setelah membalas SMS sang dosen, mahasiswa itu menanti balasan namun tak kunjung ada. Ia semakin merasa bersalah dan merasa malu sekaligus ragu untuk memasuki ruang dosennya. Tiga langkah ke depan, lima langkah ke belakang. Hanya itu gerakan kakinya berulang-ulang. Namun kemudian ia memantapkan diri memasuki ruang dosen pembimbing skripsinya.
Apa yang terjadi? Belum sampai lisan mahasiswa itu mengucap salam, sang dosen telah menyambutnya dengan senyuman ramah yang membuat mahasiswa itu semakin malu. Ia pun kemudian mengucap salam dan sang dosen menjawab salamnya kemudian mempersilakan duduk. Sang dosen memang tidak berbasa-basi di awal karena langsung menanyakan perkembangan skripsi mahasiswanya yang saat itu telah menyelesaikan bab dua. Mahasiswa itu penasaran, kenapa sang dosen tidak membicarakan tentang kemarin. Bukankah sang dosen telah lama menunggunya di ruang itu sedangkan si mahasiswa tak kunjung datang juga tak memberikan kabar.
Karena terus dihantui perasaan bersalah, usai bimbingan ia langsung berbicara. “Ustadz, afwan, kemarin ana tidak membalas SMS Antum karena HP ana, ana letakkan di meja akhi.”
Sang dosen kembali tersenyum. “La ba’sa. Saya tahu kalau anti tidak membalas itu berarti anti sedang sibuk. La ba’sa.”
Subhanallah... Lihatlah raut ketenangan sang dosen. Ini merupakan buah dari prasangka baiknya. Sedikit saja sang dosen berprasangka buruk pada mahasiswanya, ia tidak akan seramah itu. Namun faktanya senyum ramah tak pernah lebur dari wajah mulianya. Senyum itulah yang justru mendidik mahasiswanya untuk lebih berusaha menghargai waktu kesempatan yang diberikan sang dosen untuk membimbingnya. Senyum itu pula yang mendidik mahasiswanya bahwa prasangka yang baik itu menenangkan dan memperbaiki suasana. Senyum itulah yang mendidik kepribadian mahasiswanya agar menjadi pribadi yang tulus mencintai dan dicintai karena keanggunan budinya.
Sebagai manusia biasa, tidak dapat saya pungkiri bahwa prasangka sering menyapa. Prasangka hadir ketika kita tidak mengetahui fakta. Ada kalanya prasangka itu baik, ada kalanya prasangka itu buruk. Alangkah baiknya jika prasangka baik selalu menghiasi hari-hari setiap manusia. Tidak akan ada kejahatan jika hati manusia dipenuhi insting-insting positif. Kita mungkin tidak bisa merubah keadaan yang buruk namun kita bisa merubah cara pandang kita terhadap keadaan itu.
Ada kisah lain dari seorang Kyai dan sopirnya. Suatu ketika sang Kyai mendapat undangan ceramah, katakanlah di kota A pada pukul 08.00 WIB. Jarak antara kediaman kyai dan lokasi ceramah bila ditempuh dengan mobil membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sang kyai dan sopirnya berangkat tepat pada pukul 05.00 dengan prediksi akan sampai di lokasi tepat pukul 08.00 atau paling lambat 08.15 karena di pagi hari kondisi lalu lintas masih cukup sepi. Akan tetapi di tengah perjalanan si sopir sakit perut sehingga berkali-kali ia harus berhenti di SPBU untuk mencari toilet dalam rangka memenuhi hajatnya. Bahkan hingga pukul 08.00 pun sang kyai dan sopirnya baru menempuh dua pertiga perjalanan untuk bisa sampai di lokasi. Panitia mulai risau dan menelepon sang kyai untuk memastikan apakah jadi hadir atau tidak karena waktunya sudah tiba. Sang kyai pun marah pada sopirnya karena kondisinya yang sakit perut membuat mereka terlambat.
Setelah si sopir menuntaskan hajatnya, perjalanan berlanjut namun wajah sang Kyai masih menampakkan kekecewaan dan kemarahannya. Si sopir pun diselimuti perasaan bersalah meski sebenarnya tidak bisa disalahkan. Siapa juga yang meminta sakit perut pada jam tugas. Beberapa kilometer perjalanan, sang kyai dan sopirnya melihat di tepi jalan sebuah sedan yang ringsek karena bertabrakan dengan truk gandeng, kejadian itu tepat satu jam yang lalu. Seluruh penumpang dalam sedan meninggal dunia sedangkan sopir truk yang dinyatakan mengantuk itu diamankan oleh kepolisian setempat.
Sang kyai langsung memeluk sopirnya dengan mata berkaca-kaca dan meminta maaf. Keterlambatan satu jam karena si sopir sakit perut itu tenyata membawa berkah. Apabila si sopir tidak sakit perut, bisa jadi yang menjadi korban kecelakaan adalah sedan yang membawa sang kyai itu.
Subhanallah, inilah hikmahnya. Terkadang kita tergesa-gesa untuk marah dan berprasangka buruk atas suatu peristiwa. Padahal hikmah selalu ada di balik peristiwa itu. Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman dan ia harus mencari dan menemukannya.
Ahsin dhonnaka tafroh, masihkah kita ragu? Inilah saatnya memperbaiki prasangka kita dan mencari hikmah di balik peristiwa demi peristiwa yang kita hadapi. Semoga catatan ini menginspirasi Anda. Bismillah, kita bisa.
Kamulan, 21-02-2015



Kamis, 19 Februari 2015

Marah dan Masa Lalu

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.

Prasangka

Prasangka timbul sebagai akibat dari ketidakjelasan suatu hal. Misalnya, kita mengirim SMS kepada teman namun ia tak segera atau bahkan tidak membalasnya sama sekali. Tentu hal ini akan mengundang prasangka dalam hati kita. Mulai dari prasangka baik seperti kita menyadari ada kemungkinan teman kita sedang dalam kesibukan sehingga tidak sempat membalas, atau mungkin tidak ada pulsa atau kehabisan baterai. Bisa jadi kita berprasangka buruk seperti kita menyangka bahwa teman kita tidak senang menerima SMS kita sehingga malas membalasnya.

Rabu, 04 Februari 2015

Poetry

Wahai Akhi
 Ni’matul Khoiriyyah

Wahai akhi yang akan menjadi imamku
Sudahkah kau siapkan dirimu untuk membimbingku
Bukan kekerasan yang kumau tapi kelembutan
Bukan kemurkaan yang kuinginkan tapi senyum cintamu saat aku bersalah

Wahai akhi, sungguh aku dibesarkan dengan cinta kasih
Maka pimpinlah aku dengan cintamu
Wahai akhi, sungguh aku dididik dengan kelembutan
Maka telatenlah kepadaku

Akhi, saat akadmu terucap kelak
Aku bukan lagi aku yang di bawah kuasa waliku
Sepenuhnya aku menjadi hakmu
Kemanapun kau, ku akan mengikutimu
Apapun yang membuatmu ridho, itulah ridho Tuhanku
Maka pintaku, jangan persulit aku meraih ridho-Nya
Sebagaimana orang tuaku yang tak mempersulitku meraih ridho-Nya

Wahai akhi, pabila kelak kita disatukan
Pintaku padamu jagalah hatimu
Agar tak mendatangkan harap-harap semu di hati kaumku
Cukuplah aku penenang hatimu
Karena aku pun ingin cukup engkau pendamai qalbuku

Wahai akhi, istri shalihah ada dalam bimbinganmu
Dan suami shalih ada dalam dukunganku
Bismillah dengan izin-Nya

Semoga jalan ke surga kita tempuh bersama

My Short Story_Modus

Modus

            Sungguh unik kisah cinta di dunia ini. Bahkan bila ditelusuri hampir semua apa yang terjadi dilatarbelakangi oleh cinta. Mulai dari kesuksesan seorang pria yang kemudian memiliki karir yang naik daun, jika ditanya resepnya ternyata itu buah dari keharmonisan cinta dengan sang pasangan. Kemudian pecandu narkoba, jika ditelusuri lebih mendalam ternyata penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan cinta kasih dari orang-orang terdekatnya. Oh... cinta, alangkah istimewanya satu kata dalam lima huruf itu.
            Aku akan menceritakan sebuah kenangan. Tentang dia, seorang pria yang kehadirannya kuanggap sebagai Furqon. Dalam kisah ini aku berperan sebagai Ana yang mencintai Azam. Tentu Azam itu datang di akhir karena Ana belum tahu siapa Azam sebenarnya. Kisah ini bermula ketika aku jatuh hati pada kakak kelasku yang sebenarnya aku tidak begitu dekat dengannya. Aku hanya tahu dia pria yang baik, aktif dan care.
            Siapa sangka, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ia menyatakan perasaannya padaku dan ingin membuat sebuah komitmen hingga waktu mempersatukanku dengannya. Ketahuilah, aku tidak mau orang tuaku tahu aku menjalin asmara dengan seorang pria sebelum bisa kupastikan bahwa pria itu benar-benar akan melamarku. Backstreet kujalani.
            Di tengah perjalanan, datanglah orang tua Furqon pada orang tuaku. Tak lain, maksud kedatangannya adalah untuk melamarku. Serius? Aku masih menjadi mahasiswi semester 5 saat itu. Lamaran itu disampaikan oleh ayah padaku. Aku langsung menjawab tidak. Alasan pertama, aku masih fokus kuliah dan belum ingin menikah, alasan kedua, aku merasa tidak yakin dengannya, alasan ketiga tidak kukatakan pada ayah karena alasannya adalah pria yang dekat denganku di kampus itu kuanggap sebagai Azam. Namun, ayah belum berkenan menyampaikan jawabanku pada keluarga Furqon. Mungkin bagi ayah jawabanku terlalu terburu-buru.
            Observasi dan research adalah dua hal yang tidak terlewatkan oleh mahasiswa. Dua hal ini pun kulakukan secara diam-diam kepada si dia, Furqon. Seperti yang disarankan oleh dosenku, aku harus mendeskripsikan data tentang dia. Data kualitatif tentunya. Aku mengamati perilakunya tanpa ia ketahui. Kebetulan ada acara wisata religi dan kebetulan ia dan keluarga besarnya ikut serta dalam acara yang juga kuikuti. Oke, ini kesempatan bagiku untuk menggali data tentangnya.
            “Bagaimana datanya, Mey?” tanya dosenku saat aku menjumpainya di kampus.
            “Saya semakin yakin untuk menolaknya, Pak. Dia beberapa kali tidak ikut berziarah ke makam dengan alasan mengantuk. Dia juga punya keponakan yang masih balita, tapi ketika kakak dan iparnya repot, dia tidak mau membantu menjaga keponakannya sendiri. Dia terkesan belum cukup dewasa untuk melangkah lebih jauh dengan saya. Hal-hal yang simpel saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan saya nanti?”
            “Baik. Lalu, apa kelebihannya?”
            “Dia tampan, tidak cerewet, sementara itu yang saya tahu.”
            “Masih mau observasi lebih lanjut?”
            Aku menggeleng pelan. “Cukup, Bapak. Saya sudah yakin untuk menolaknya.”
            “Kalau begitu, saya yang akan memaparkan data tentang si Azam.” Pak Aris tersenyum. “Kita studi komperatif hari ini. Mana yang bobotnya lebih berat, itu yang kamu pilih. Azam itu rajin, serius, pekerja keras meski mungkin tidak setampan Furqon. Dia juga penyayang anak kecil, hormat pada yang lebih tua dan pastinya dia serius menyayangi kamu.”
            Pilihan kembali kujatuhkan pada Azam. Namun hubungan itu hanya berlangsung seumur jagung karena begitu banyak data yang kuterima melalui sahabatku. Data tentang dirinya yang ternyata hanyalah seorang pahlawan bertopeng. Ia bertopeng keindahan untuk menutup kepribadian yang sesungguhnya. Dia telah mengkhianati kepercayaanku dengan mendekati adik kelasku sendiri di saat dia masih menjalin asmara denganku. Ah, pantaskah dia kuanggap Azam?
            Aku paling benci didustai dan dia telah mendustaiku. Pernah dia dalam tiga hari tidak merespon SMS dan panggilanku. Dia mengatakan tidak ada baterai. Namun dia bisa up load foto di facebook yang kuyakini dia menggunakan kamera HP-nya. Setelah beberapa minggu, adik kelasku mengatakan, “Bohong kalo dia nggak ada baterai, Kak. Waktu itu dia duduk dengan Ina dalam bus, makanya nggak respon SMS dan telepon Kak Mey.” Ujar Nabila. “Kak, mereka sok mesra banget waktu itu. Aku dan teman-teman nggak negur karena kak Irwan bilang udah putus dari kak Mey. Maaf, Kak, kami nggak tau.”
            Data kedua kuterima dari Anisa. “Kak, dia pernah nolak barengin Kak Mey ketika ada lomba tingkat Kabupaten itu kan? Dia nggak sibuk pagi itu, Kak. Dia jalan sama Ina dan sorenya dia datang ke tempat lomba juga sama Ina. Kak Mey saat itu sedang mendampingi peserta, jadi nggak tau dia datang dengan siapa.”
            Berani sekali dia mempermainkan hatiku. Dia yang sudah kuanggap sebagai Azam ternyata hanya seorang hidung belang. Ini tidak akan terlupakan dari memoriku. Kenangan tentang pahitnya mencintai pria yang salah. Aku akan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan.
***
            “Aku dipermainkan, Mey.” Kata Fahri, sahabatku. “Aku udah melamar Ning Hida, lamaranku diterima kemudian pihaknya meminta aku mempercepat pernikahan. Aku sendiri masih kuliah dan aku nggak ingin kuliahku terganggu. Nantilah, setelah menjadi sarjana, aku akan menikahinya. Dan kamu tahu, Mey, tanpa memberitahukan apapun sebelumnya, tiba-tiba pagi ini ada orang yang mengantarkan undangan pernikahannya dengan Irwan, Mey.”
            “Apa?” aku shock mendengarnya. “Bagaimana bisa Ning itu nerima lamaranmu, lalu secara diam-diam dan sepihak mutusin kamu, dan kemudian secara tiba-tiba dia mau nikah dengan Irwan? Hei... Irwan itu aku putusin karena dia deketin Ina, Fahri. Bagaimana  bisa Irwan mau nikah dengan Ning Hida? Permainan apa ini? Bagaimana dengan Ina?”
            Tanpa kuduga sebelumnya, Fauzan atau Furqon muncul. “Fahri, dua minggu yang lalu keluarga Ning Hida melamarku dan mendesakku untuk segera menikahinya. Dan ternyata sebelum lamaran itu kujawab, dia sudah memiliki calon suami. Jadi, kamu tidak pernah memutuskan Ning Hida, Fahri?”
            Fahri, aku tahu hatimu pasti perih dengan perlakuan Ning Hida padamu. Tidak diputuskan tapi ditinggalkan. Ah, sepertinya kamu hanya berperan sebagai cadangan bagi Ning Hida ketika tidak ada Irwan. Furqon, kamu pun hampir menjadi permainan Ning Hida. Aku sendiri? Menjadi korban Modus (Modal Dusta) Irwan. Sungguh masa lalu yang tak terlupakan.
            Aku sudah semester tujuh saat ini. Sudah cukup waktu bagiku untuk move on. Ya. Aku move on dari Irwan. Fahri move on dari Ning Hida, dan Furqon... Bagaimana dengannya? Sudahkan dia move on dariku?
            Tanpa diketahui Pak Aris, aku masih melakukan penelitian untuk memperoleh data-data lebih lanjut tentang Fauzan. Akupun menemui Pak Aris setelah dataku lengkap dan mempresentasikannya. Hasil akhirnya ACC. Fauzan itulah Azam yang sebenarnya.

            Hari ini aku merevisi jawabanku pada ayah atas lamaran Furqon. Aku menerimanya. Sementara Fahri masih menikmati masa kesendiriannya dan ia pun lebih berhati-hati tentunya agar tidak kembali menjadi korban modus. Sedangkan Irwan, kudengar dia bercerai dengan Ning Hida, entah dengan alasan apa. Padahal pernikahan mereka baru berjalan seumur jagung. Ah, terserah apa yang terjadi dengan mereka. Lebih baik aku menyanyi, “Ku tak peduli....”

Kamis, 01 Januari 2015

So Sweet


الحوار بين الزوجين

ذات يوم جلس الزوج وزوجته امام البيت
الزوجة : هل تحبني يا زوجي ؟
الزوج : طبعا أحبك كيفما كنتِ
الزوجة : قل إلى العالَم لو كنت تحبني
الزوج : (يقرب الزوج الى زوجته وقال فى أذنها) إنى أحبك
الزوجة : لماذا لم تقل الى العالم كله ؟
 الزوج : لأنك أنت العا لم كله لي