Modus
Sungguh unik
kisah cinta di dunia ini. Bahkan bila ditelusuri hampir semua apa yang terjadi dilatarbelakangi oleh cinta. Mulai dari
kesuksesan seorang pria yang kemudian memiliki karir yang naik daun, jika
ditanya resepnya ternyata itu buah dari keharmonisan cinta dengan sang
pasangan. Kemudian pecandu narkoba, jika ditelusuri lebih mendalam ternyata
penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan cinta kasih dari orang-orang
terdekatnya. Oh... cinta, alangkah istimewanya satu kata dalam lima huruf itu.
Aku akan
menceritakan sebuah kenangan. Tentang dia, seorang pria yang kehadirannya
kuanggap sebagai Furqon. Dalam kisah ini aku berperan sebagai Ana yang
mencintai Azam. Tentu Azam itu datang di akhir karena Ana belum tahu siapa Azam sebenarnya.
Kisah ini bermula ketika aku jatuh hati pada kakak kelasku yang sebenarnya aku
tidak begitu dekat dengannya. Aku hanya tahu dia pria yang baik, aktif dan care.
Siapa
sangka, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ia menyatakan
perasaannya padaku dan ingin membuat sebuah komitmen hingga waktu
mempersatukanku dengannya. Ketahuilah, aku tidak mau orang tuaku tahu aku
menjalin asmara dengan seorang pria sebelum bisa kupastikan bahwa pria itu
benar-benar akan melamarku. Backstreet kujalani.
Di
tengah perjalanan, datanglah orang tua Furqon pada orang tuaku. Tak lain,
maksud kedatangannya adalah untuk melamarku. Serius? Aku masih menjadi
mahasiswi semester 5 saat itu. Lamaran itu disampaikan oleh ayah padaku. Aku
langsung menjawab tidak. Alasan pertama, aku masih fokus kuliah dan belum ingin
menikah, alasan kedua, aku merasa tidak yakin dengannya, alasan ketiga tidak
kukatakan pada ayah karena alasannya adalah pria yang dekat denganku di kampus
itu kuanggap sebagai Azam. Namun, ayah belum berkenan menyampaikan jawabanku
pada keluarga Furqon. Mungkin bagi ayah jawabanku terlalu terburu-buru.
Observasi
dan research adalah dua hal yang tidak terlewatkan oleh mahasiswa. Dua hal ini
pun kulakukan secara diam-diam kepada si dia, Furqon. Seperti yang disarankan
oleh dosenku, aku harus mendeskripsikan data tentang dia. Data kualitatif
tentunya. Aku mengamati perilakunya tanpa ia ketahui. Kebetulan ada acara
wisata religi dan kebetulan ia dan keluarga besarnya ikut serta dalam acara
yang juga kuikuti. Oke, ini kesempatan bagiku untuk menggali data tentangnya.
“Bagaimana
datanya, Mey?” tanya dosenku saat aku menjumpainya di kampus.
“Saya
semakin yakin untuk menolaknya, Pak. Dia beberapa kali tidak ikut berziarah ke
makam dengan alasan mengantuk. Dia juga punya keponakan yang masih balita, tapi
ketika kakak dan iparnya repot, dia tidak mau membantu menjaga keponakannya
sendiri. Dia terkesan belum cukup dewasa untuk melangkah lebih jauh dengan
saya. Hal-hal yang simpel saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan saya
nanti?”
“Baik.
Lalu, apa kelebihannya?”
“Dia
tampan, tidak cerewet, sementara itu yang saya tahu.”
“Masih
mau observasi lebih lanjut?”
Aku
menggeleng pelan. “Cukup, Bapak. Saya sudah yakin untuk menolaknya.”
“Kalau
begitu, saya yang akan memaparkan data tentang si Azam.” Pak Aris tersenyum.
“Kita studi komperatif hari ini. Mana yang bobotnya lebih berat, itu yang kamu
pilih. Azam itu rajin, serius, pekerja keras meski mungkin tidak setampan
Furqon. Dia juga penyayang anak kecil, hormat pada yang lebih tua dan pastinya
dia serius menyayangi kamu.”
Pilihan
kembali kujatuhkan pada Azam. Namun hubungan itu hanya berlangsung seumur
jagung karena begitu banyak data yang kuterima melalui sahabatku. Data tentang
dirinya yang ternyata hanyalah seorang pahlawan bertopeng. Ia bertopeng
keindahan untuk menutup kepribadian yang sesungguhnya. Dia telah mengkhianati
kepercayaanku dengan mendekati adik kelasku sendiri di saat dia masih menjalin
asmara denganku. Ah, pantaskah dia kuanggap Azam?
Aku
paling benci didustai dan dia telah mendustaiku. Pernah dia dalam tiga hari
tidak merespon SMS dan panggilanku. Dia mengatakan tidak ada baterai. Namun dia
bisa up load foto di facebook yang kuyakini dia menggunakan kamera HP-nya.
Setelah beberapa minggu, adik kelasku mengatakan, “Bohong kalo dia nggak ada
baterai, Kak. Waktu itu dia duduk dengan Ina dalam bus, makanya nggak respon
SMS dan telepon Kak Mey.” Ujar Nabila. “Kak, mereka sok mesra banget waktu itu.
Aku dan teman-teman nggak negur karena kak Irwan bilang udah putus dari kak Mey.
Maaf, Kak, kami nggak tau.”
Data
kedua kuterima dari Anisa. “Kak, dia pernah nolak barengin Kak Mey ketika ada
lomba tingkat Kabupaten itu kan? Dia nggak sibuk pagi itu, Kak. Dia jalan sama
Ina dan sorenya dia datang ke tempat lomba juga sama Ina. Kak Mey saat itu
sedang mendampingi peserta, jadi nggak tau dia datang dengan siapa.”
Berani
sekali dia mempermainkan hatiku. Dia yang sudah kuanggap sebagai Azam ternyata
hanya seorang hidung belang. Ini tidak akan terlupakan dari memoriku. Kenangan
tentang pahitnya mencintai pria yang salah. Aku akan lebih berhati-hati dalam
menentukan pilihan.
***
“Aku
dipermainkan, Mey.” Kata Fahri, sahabatku. “Aku udah melamar Ning Hida,
lamaranku diterima kemudian pihaknya meminta aku mempercepat pernikahan. Aku
sendiri masih kuliah dan aku nggak ingin kuliahku terganggu. Nantilah, setelah
menjadi sarjana, aku akan menikahinya. Dan kamu tahu, Mey, tanpa memberitahukan
apapun sebelumnya, tiba-tiba pagi ini ada orang yang mengantarkan undangan
pernikahannya dengan Irwan, Mey.”
“Apa?”
aku shock mendengarnya. “Bagaimana bisa Ning itu nerima lamaranmu, lalu secara
diam-diam dan sepihak mutusin kamu, dan kemudian secara tiba-tiba dia mau nikah
dengan Irwan? Hei... Irwan itu aku putusin karena dia deketin Ina, Fahri.
Bagaimana bisa Irwan mau nikah dengan
Ning Hida? Permainan apa ini? Bagaimana dengan Ina?”
Tanpa
kuduga sebelumnya, Fauzan atau Furqon muncul. “Fahri, dua minggu yang lalu
keluarga Ning Hida melamarku dan mendesakku untuk segera menikahinya. Dan
ternyata sebelum lamaran itu kujawab, dia sudah memiliki calon suami. Jadi,
kamu tidak pernah memutuskan Ning Hida, Fahri?”
Fahri,
aku tahu hatimu pasti perih dengan perlakuan Ning Hida padamu. Tidak diputuskan
tapi ditinggalkan. Ah, sepertinya kamu hanya berperan sebagai cadangan bagi
Ning Hida ketika tidak ada Irwan. Furqon, kamu pun hampir menjadi permainan
Ning Hida. Aku sendiri? Menjadi korban Modus (Modal Dusta) Irwan. Sungguh masa
lalu yang tak terlupakan.
Aku
sudah semester tujuh saat ini. Sudah cukup waktu bagiku untuk move on. Ya. Aku
move on dari Irwan. Fahri move on dari Ning Hida, dan Furqon... Bagaimana
dengannya? Sudahkan dia move on dariku?
Tanpa
diketahui Pak Aris, aku masih melakukan penelitian untuk memperoleh data-data
lebih lanjut tentang Fauzan. Akupun menemui Pak Aris setelah dataku lengkap dan
mempresentasikannya. Hasil akhirnya ACC. Fauzan itulah Azam yang sebenarnya.
Hari ini
aku merevisi jawabanku pada ayah atas lamaran Furqon. Aku menerimanya. Sementara
Fahri masih menikmati masa kesendiriannya dan ia pun lebih berhati-hati
tentunya agar tidak kembali menjadi korban modus. Sedangkan Irwan, kudengar dia
bercerai dengan Ning Hida, entah dengan alasan apa. Padahal pernikahan mereka
baru berjalan seumur jagung. Ah, terserah apa yang terjadi dengan mereka. Lebih
baik aku menyanyi, “Ku tak peduli....”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar