Entri Populer

Rabu, 04 Februari 2015

My Short Story_Modus

Modus

            Sungguh unik kisah cinta di dunia ini. Bahkan bila ditelusuri hampir semua apa yang terjadi dilatarbelakangi oleh cinta. Mulai dari kesuksesan seorang pria yang kemudian memiliki karir yang naik daun, jika ditanya resepnya ternyata itu buah dari keharmonisan cinta dengan sang pasangan. Kemudian pecandu narkoba, jika ditelusuri lebih mendalam ternyata penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan cinta kasih dari orang-orang terdekatnya. Oh... cinta, alangkah istimewanya satu kata dalam lima huruf itu.
            Aku akan menceritakan sebuah kenangan. Tentang dia, seorang pria yang kehadirannya kuanggap sebagai Furqon. Dalam kisah ini aku berperan sebagai Ana yang mencintai Azam. Tentu Azam itu datang di akhir karena Ana belum tahu siapa Azam sebenarnya. Kisah ini bermula ketika aku jatuh hati pada kakak kelasku yang sebenarnya aku tidak begitu dekat dengannya. Aku hanya tahu dia pria yang baik, aktif dan care.
            Siapa sangka, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ia menyatakan perasaannya padaku dan ingin membuat sebuah komitmen hingga waktu mempersatukanku dengannya. Ketahuilah, aku tidak mau orang tuaku tahu aku menjalin asmara dengan seorang pria sebelum bisa kupastikan bahwa pria itu benar-benar akan melamarku. Backstreet kujalani.
            Di tengah perjalanan, datanglah orang tua Furqon pada orang tuaku. Tak lain, maksud kedatangannya adalah untuk melamarku. Serius? Aku masih menjadi mahasiswi semester 5 saat itu. Lamaran itu disampaikan oleh ayah padaku. Aku langsung menjawab tidak. Alasan pertama, aku masih fokus kuliah dan belum ingin menikah, alasan kedua, aku merasa tidak yakin dengannya, alasan ketiga tidak kukatakan pada ayah karena alasannya adalah pria yang dekat denganku di kampus itu kuanggap sebagai Azam. Namun, ayah belum berkenan menyampaikan jawabanku pada keluarga Furqon. Mungkin bagi ayah jawabanku terlalu terburu-buru.
            Observasi dan research adalah dua hal yang tidak terlewatkan oleh mahasiswa. Dua hal ini pun kulakukan secara diam-diam kepada si dia, Furqon. Seperti yang disarankan oleh dosenku, aku harus mendeskripsikan data tentang dia. Data kualitatif tentunya. Aku mengamati perilakunya tanpa ia ketahui. Kebetulan ada acara wisata religi dan kebetulan ia dan keluarga besarnya ikut serta dalam acara yang juga kuikuti. Oke, ini kesempatan bagiku untuk menggali data tentangnya.
            “Bagaimana datanya, Mey?” tanya dosenku saat aku menjumpainya di kampus.
            “Saya semakin yakin untuk menolaknya, Pak. Dia beberapa kali tidak ikut berziarah ke makam dengan alasan mengantuk. Dia juga punya keponakan yang masih balita, tapi ketika kakak dan iparnya repot, dia tidak mau membantu menjaga keponakannya sendiri. Dia terkesan belum cukup dewasa untuk melangkah lebih jauh dengan saya. Hal-hal yang simpel saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan saya nanti?”
            “Baik. Lalu, apa kelebihannya?”
            “Dia tampan, tidak cerewet, sementara itu yang saya tahu.”
            “Masih mau observasi lebih lanjut?”
            Aku menggeleng pelan. “Cukup, Bapak. Saya sudah yakin untuk menolaknya.”
            “Kalau begitu, saya yang akan memaparkan data tentang si Azam.” Pak Aris tersenyum. “Kita studi komperatif hari ini. Mana yang bobotnya lebih berat, itu yang kamu pilih. Azam itu rajin, serius, pekerja keras meski mungkin tidak setampan Furqon. Dia juga penyayang anak kecil, hormat pada yang lebih tua dan pastinya dia serius menyayangi kamu.”
            Pilihan kembali kujatuhkan pada Azam. Namun hubungan itu hanya berlangsung seumur jagung karena begitu banyak data yang kuterima melalui sahabatku. Data tentang dirinya yang ternyata hanyalah seorang pahlawan bertopeng. Ia bertopeng keindahan untuk menutup kepribadian yang sesungguhnya. Dia telah mengkhianati kepercayaanku dengan mendekati adik kelasku sendiri di saat dia masih menjalin asmara denganku. Ah, pantaskah dia kuanggap Azam?
            Aku paling benci didustai dan dia telah mendustaiku. Pernah dia dalam tiga hari tidak merespon SMS dan panggilanku. Dia mengatakan tidak ada baterai. Namun dia bisa up load foto di facebook yang kuyakini dia menggunakan kamera HP-nya. Setelah beberapa minggu, adik kelasku mengatakan, “Bohong kalo dia nggak ada baterai, Kak. Waktu itu dia duduk dengan Ina dalam bus, makanya nggak respon SMS dan telepon Kak Mey.” Ujar Nabila. “Kak, mereka sok mesra banget waktu itu. Aku dan teman-teman nggak negur karena kak Irwan bilang udah putus dari kak Mey. Maaf, Kak, kami nggak tau.”
            Data kedua kuterima dari Anisa. “Kak, dia pernah nolak barengin Kak Mey ketika ada lomba tingkat Kabupaten itu kan? Dia nggak sibuk pagi itu, Kak. Dia jalan sama Ina dan sorenya dia datang ke tempat lomba juga sama Ina. Kak Mey saat itu sedang mendampingi peserta, jadi nggak tau dia datang dengan siapa.”
            Berani sekali dia mempermainkan hatiku. Dia yang sudah kuanggap sebagai Azam ternyata hanya seorang hidung belang. Ini tidak akan terlupakan dari memoriku. Kenangan tentang pahitnya mencintai pria yang salah. Aku akan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan.
***
            “Aku dipermainkan, Mey.” Kata Fahri, sahabatku. “Aku udah melamar Ning Hida, lamaranku diterima kemudian pihaknya meminta aku mempercepat pernikahan. Aku sendiri masih kuliah dan aku nggak ingin kuliahku terganggu. Nantilah, setelah menjadi sarjana, aku akan menikahinya. Dan kamu tahu, Mey, tanpa memberitahukan apapun sebelumnya, tiba-tiba pagi ini ada orang yang mengantarkan undangan pernikahannya dengan Irwan, Mey.”
            “Apa?” aku shock mendengarnya. “Bagaimana bisa Ning itu nerima lamaranmu, lalu secara diam-diam dan sepihak mutusin kamu, dan kemudian secara tiba-tiba dia mau nikah dengan Irwan? Hei... Irwan itu aku putusin karena dia deketin Ina, Fahri. Bagaimana  bisa Irwan mau nikah dengan Ning Hida? Permainan apa ini? Bagaimana dengan Ina?”
            Tanpa kuduga sebelumnya, Fauzan atau Furqon muncul. “Fahri, dua minggu yang lalu keluarga Ning Hida melamarku dan mendesakku untuk segera menikahinya. Dan ternyata sebelum lamaran itu kujawab, dia sudah memiliki calon suami. Jadi, kamu tidak pernah memutuskan Ning Hida, Fahri?”
            Fahri, aku tahu hatimu pasti perih dengan perlakuan Ning Hida padamu. Tidak diputuskan tapi ditinggalkan. Ah, sepertinya kamu hanya berperan sebagai cadangan bagi Ning Hida ketika tidak ada Irwan. Furqon, kamu pun hampir menjadi permainan Ning Hida. Aku sendiri? Menjadi korban Modus (Modal Dusta) Irwan. Sungguh masa lalu yang tak terlupakan.
            Aku sudah semester tujuh saat ini. Sudah cukup waktu bagiku untuk move on. Ya. Aku move on dari Irwan. Fahri move on dari Ning Hida, dan Furqon... Bagaimana dengannya? Sudahkan dia move on dariku?
            Tanpa diketahui Pak Aris, aku masih melakukan penelitian untuk memperoleh data-data lebih lanjut tentang Fauzan. Akupun menemui Pak Aris setelah dataku lengkap dan mempresentasikannya. Hasil akhirnya ACC. Fauzan itulah Azam yang sebenarnya.

            Hari ini aku merevisi jawabanku pada ayah atas lamaran Furqon. Aku menerimanya. Sementara Fahri masih menikmati masa kesendiriannya dan ia pun lebih berhati-hati tentunya agar tidak kembali menjadi korban modus. Sedangkan Irwan, kudengar dia bercerai dengan Ning Hida, entah dengan alasan apa. Padahal pernikahan mereka baru berjalan seumur jagung. Ah, terserah apa yang terjadi dengan mereka. Lebih baik aku menyanyi, “Ku tak peduli....”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar