Cinta Harus Memiliki*
Tak
ada gading yang tak retak. Ungkapan ini menandakan bahwa tiada manusia yang
sempurna. Namun kadangkala kita selalu menuntut kesempurnaan. Memang sempurna
itu indah namun tiada lagi manusia sempurna setelah Rasulullah SAW.
Saat
kita mencintai kadang kita ingin dicintai apa adanya. Akan
tetapi kita tak sadar bahwa kita masih menuntut ini-itu dari orang yang
mencintai kita. Apakah layak kita mengharap dicintai apa adanya sementara cinta
kita masih bersyarat? Logiskah itu?
Cinta adalah pengindah segalanya. Cinta selalu
melihat sisi keindahan dan dapat menerima kekurangan. Cinta selalu mampu
memaafkan. Lihatlah orang yang sedang dilanda cinta pasti hanya tahu yang
indah-indah saja dari orang yang dicintainya. Pabila ada sisi kekurangan dalam
diri yang dicinta, sang pecinta selalu memaklumi dan memaafkan.
Mata
cinta selalu memuliakan. Love is respect. Cinta itu menghormati.
Seseorang yang sederhana akan terkesan istimewa bagi yang mencintainya.
Kehadirannya selalu diharapkan. Bila ia pergi selalu dirindukan. Sang pecinta pasti respek kepada
yang dicinta. Bila respek itu tak ada maka itu bukan cinta.
Kita
adalah pemuda-pemudi Islam di zaman yang sudah tua. Sejauh yang saya tahu tak
ada kaum muda yang tak memiliki ketertarikan kepada lawan jenis karena memang
Allah menciptakan manusia dengan bermacam-macam karakter Lita’aarafuu agar mereka saling
kenal-mengenal dan Allah juga menjadikan mereka berpasang-pasang Azwaajan
Litaskunuu ilaiha. Untuk itu
sebagai muslim yang baik apabila rasa cinta menyapa hendaklah perasaan yang
fitrah itu dijaga. Love is respect, jika cinta dia maka hormati dia.
Jangan sentuh dirinya, jangan ajak dia berduaan, jangan ajari dia berpikiran
kotor. Bila telah siap, khithbahlah lalu ikuti sunnah Rasul yang agung,
menikahlah.
Ingatlah,
sebelum akad terucap semua keindahannya belum halal kita miliki. Sebelum akad
terucap semua ekspresi cinta belum halal dicurahkan. Sebelum akad terucap semua
kata-kata manis kita adalah racun bagi keimanan. Hendaklah kita menjaga ucapan,
perbuatan dan hati agar cinta tetap suci. Memang cinta adalah fitrah Ilahiyah,
namun bila cinta itu tak terkontrol ia akan berbalik menjadi nafsu syaithoniyah
yang menjerumuskan kita ke dalam lembah kehinaan.
Kita harus sadar bahwa cinta
adalah senjata ampuh syetan untuk melumpuhkan keimanan dan ketaqwaan. Lihat
kisah cinta putra-putri manusia pertama di dunia yang berakhir tragis dengan
terbunuhnya Habil oleh saudaranya sendiri, Qabil demi Iklima. Lihat kisah di
zaman Nabiyullah Yusuf as. Seorang permaisuri raja, Zulaikha, hampir saja
merelakan kehormatannya demi cintanya pada Nabi Yusuf as. Lihat kisah cinta
yang paling masyhur di dunia, Romeo and Juliet. Apa alasan mereka bunuh diri?
Demi cinta. Apakah Islam mengajarkan membunuh ataupun bunuh diri ketika kita
tak mampu memiliki orang yang kita cintai? Na’udzubillah. Cinta Romeo and Juliet bukan
cinta yang fitrah lagi. Cinta mereka telah terkontaminasi oleh nafsu
syaithoniyah. Lalu pantaskah kisah yang seperti itu dikagumi dan
diagung-agungkan?
Zaman ini sudah semakin tua.
Ibarat hari, zaman kita sudah senja. Sebentar lagi malam gelap. Kita harus
membentengi diri dan berbekal cahaya agar tidak tersesat. Cahaya keimanan pada
Ilahi harus kita raih demi terjaganya kesuciaan cinta. Jangan mencintai orang
yang tak punya iman kecuali kita siap menginsyafkan. Inilah saatnya kita Ishlahun
nafsi, berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang
berakhlaqul karimah. Seburuk-buruknya peringai seseorang, ia tetap menginginkan
orang yang baik untuk menjadi pasangan hidupnya.
Lalu bagaimana cinta yang baik
itu? Cinta yang baik adalah cinta yang disandarkan pada ridho Sang pencipta
cinta itu sendiri, Allah. Bagaimana menyandarkan cinta kepada Allah? Maaf, saya
tidak sedang membicarakan cinta sebagai ukhuwah dan cinta kepada tokoh. Ini
adalah cinta antara dua insan berlainan jenis, satu dari kaum Adam, satu dari
kaum Hawa. Dalam hal ini saya nyatakan dengan tegas, “Cinta harus memiliki dengan
cara yang baik, bila cara terbaikmu tak mampu memiliki dia yang kaucinta maka
berhentilah mencintainya.” Bila ada pernyataan “Cinta tak harus memiliki” maka itu cinta yang
harus dihentikan. Itu hanya cinta yang menguruskan tubuh Anda karena tak doyan
makan, atau sebaliknya itu cinta yang membuat Anda obesitas karena selera makan
meningkat sangat tinggi sebagai ekspresi stress akibat terluka.
“Cinta harus
memiliki” adalah motivasi positif untuk terus bersemangat
memperjuangkan calon pasangan Anda agar dapat bersatu dengan Anda dalam rumah
tangga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Mengapa? Karena setiap mendengar
ungkapan “Cinta tak harus memiliki”
logika saya langsung mengatakan “Itu cinta yang gagal” atau “itu cinta yang lemah”,
kata-kata itu biasanya diucapkan oleh mereka yang patah hati karena putus
cinta. Putus cinta itu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah sudah putus
tapi masih cinta. Hehe... semestinya kita berusaha memiliki cinta itu dengan
cara yang baik. Kita berusaha memperjuangkan, meraih dan memiliki cinta itu
dengan cara yang benar menurut agama dan negara. Bila cara terbaik sudah
digunakan, bila perjuangan cinta sudah maksimal, usaha, doa, dan tawakkal sudah
dilakukan namun kita tak mampu memiliki, so... inilah saatnya kita berhenti
mencintai si dia.
“Tuhan terlalu
kejam karena tidak mengizinkanku memiliki si dia”,
katanya. TIDAK. Allah begitu baik dan cinta pada kita. Ingat, cinta tak selalu
dicurahkan dengan hal-hal yang manis di mata kita. Bukankah ada seorang ibu
yang begitu mencintai anaknya, ia tidak enggan memberikan jamu yang sangat
pahit demi kesehatan anaknya? Bukankah ibu yang menyayangi kita harus
menyapih kita di usia dua tahun? Apakah itu kejam? TIDAK. Ketika saya
amandel dan orang yang mencintai saya melarang saya untuk minum es,
mengkonsumsi makanan yang terlalu berminyak dan pedas, lalu itu berarti dia
kejam? TIDAk. Justru saya katakan dia kejam ketika membiarkan semua makanan
terlarang itu saya konsumsi. Sekali lagi, cinta tak selalu dicurahkan dengan
hal yang manis di mata kita. ‘asaa an takrahuu syai’an wa yaj’alallahu fiihi khairan katsiira,
‘asaa an takrohuu syai’an wahua khairun lakum.
Ingat, kegagalan dalam
memperjuangkan cinta itu bisa jadi teguran Allah bagi kita untuk memperjuangkan
cinta yang lain. Berhentilah mencintai saat tak mampu memiliki karena dia bukan
hakmu lagi. Ada nasikh ada mansukh, ketika ada ayat nasikh,
jangan gunakan ayat yang mansukh, ketika Anda gagal maka percayalah ada
kesempatan untuk berhasil di waktu yang lain. Jangan sia-siakan waktu untuk
meratapi pintu hati yang telah terkunci untuk Anda dan telah hilang kuncinya.
Cinta harus memiliki dengan cara
yang diridhoi oleh-Nya. Jangan ragu untuk berhenti mencintai dia yang tak mampu
Anda miliki dengan perjuangan dan cara terbaik Anda. Yang Maha Cinta akan
memberikan cinta lain untuk Anda jika Anda selalu sibuk dengan ishlahun
nafsi. Pabila cinta itu telah Anda miliki, jagalah amanah itu. Jaga cinta
itu agar tetap pada fitrahnya. Jangan sampai cinta yang kita miliki menjadi
sarana nafsu syaithoniyah untuk membinasakan kita.
Cinta suci tidak menggalaukan
Galaunya
cinta suci karena takut melakukan dosa
Cinta suci selalu mengutamakan
iman
Cinta suci selalu mengharap
ridho Ilahi
* Ni’matul Khoiriyyah_PBA V B_IAINTA
(Kamulan, 17 Januari 2014)
Love is amazing
BalasHapus