Entri Populer

Sabtu, 27 Desember 2014

DIARY CINTA SANG BIDADARI
Karya Ni’matul Khoiriyyah

Suamiku, saat pertama kumelihatmu
Sayup kerinduan kian mendera
Aku selalu rindu dan rindu akan pertemuan berikutnya

Saat kau datang meminang
Butiran mutiara mengalir dari kelopak mataku
Bahagia menyapa, luka lama telah sirna
Suamiku, saat akad terucap dari lisanmu
Sungguh surga dunia kurasa karena hadirmu
Kau bawa aku arungi samudra tuk raih ridho Ilahi
Dengan bahtera cinta yang kau nahkodai
Jika badai menerpa, semakin erat kau genggam hatiku
Bila panas dingin menyapa, kau naungi aku dengan kasihmu
Suamiku, tahukah kamu betapa dalam rasa cintaku
Tahukah kamu betapa ingin kumenjadi bidadarimu
Hadirmu sungguh tak kusangka
Cintamu sungguh tak kuduga
Memeluk mesra hati kecilku
Suamiku, inilah diari cintaku
Terukir indah namamu di dalamnya
Memenuhi setiap lembar demi lembar
Waktu demi waktu
Kaulah, penghubung antara aku dengan Tuhanku
Trenggalek, 21-12-2014

Minggu, 21 Desember 2014

Jangan takut, sayang....

Jangan takut, sayang....
Kalau kita tak pernah jatuh, kita tak pernah bangkit...
Senyumlah, sayang...

Senyummu adalah kekuatan yang tak semua orang memiliki kala ia terluka 
Bersyukurlah, sayang...
karena rasa syukur itu akan menjelma menjadi kebahagiaan yang tiada tara 
Hujan itu, sayang....
Hujan itu bukan di sana, tapi di sini.... di hati ini...
Menarilah, sayang...
Menarilah di bawah hujan, sesungguhnya ia hanya mengikuti titah Ilahi Robbi 
Sakit itu, sayang...
Sakitnya memang di sini, namun ada cinta yang lebih besar kan mengobati...
Bahagia itu, sayang...
hanya milik yang bersyukur... hanya milik yang husnudhon...
Bahagia itu, sayang... milik yang ikhlas....
Bismillah.... belajar menjadi wanita yang hatinya sekuat baja, setegar karang yang tak bergeming dihempas badai...
Karena sandaran terkuatnya tak lain adalah Sang Maha Cinta 
Hammasah, sayang...



Rabu, 17 Desember 2014

Ketika Tasbihku Bertahmid-Ni'matul Khoiriyyah

Ketika Tasbihku Bertahmid* Buah karya Ni'matul Khoiriyyah (Nina Kayla)

Ya Robb… aku telah jatuh cinta pada salah seorang hamba-Mu. Hamba-Mu yang taat, hamba-Mu
yang beriman, hamba-Mu yang shalih. Tapi… saat ini aku masih ingin fokus belajar, aku ingin lebih banyak berbenah diri, memperbaiki akhlak, mempertebal iman dan taqwaku sebelum menjadi makmum setia untuk imam yang Kau pilihkan untukku. Aku takut kehadiranku akan mengganggu perjuangannya untuk menegakkan kalimatillah. Aku benarbenar belum siap lahir batin untuk menjadi seorang istri. Tapi… aku takut dia meninggalkanku, Ya Robb… aku terlanjur menyayanginya bukan hanya sebagai ustadz. aku ingin mendampingi hidupnya tapi tidak sekarang. Aku ingin
berbakti padanya tapi tidak sekarang. Aku ingin selalu menjadi makmum di tiap shalatnya tapi tidak sekarang. Nanti, Ustadz… nanti, Akhi… kumohon kau mengerti

Curahan hati seorang mahasiswi yang jatuh cinta pada dosennya ini bisa dibaca dalam Kumpulan Cerpen "Ketika Tasbihku Bertahmid", karya Ni'matul Khoiriyyah, mahasiswi semester 7 IAIN Tulungagung.
Buku ini dijual online dengan cara order ketik: KETIKA TASBIHKU BERTAHMID-JUMLAH PESANAN-NAMA ANDA-ALAMAT
kirim ke 083831498380

Marah dan Masa Lalu

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.

Trenggalek, 6 Oktober 2014

Senyum Itu Kekuatan

Senyum Itu Kekuatan
Statement ini mungkin sepele bagi Anda karena menganggap senyum itu biasa saja. Iya, mungkin. Akan tetapi melihat sikon terlebih dahulu. Senyum saat berpapasan dengan saudara, teman, tetangga, it's OK. Senyum di saat diri merasa terhibur , it's OK. Tersenyum di saat bahagia, itu biasa. Akan tetapi tersenyum tulus di saat hati terluka, itu yang luar biasa.
Senyum itu sederhana. Kita tinggal menarik bibir kearah kanan dan kiri secara bersamaan dengan ukuran yang proporsional diiringi tatapan mata yang teduh. Indah, bukan? Bahkan senyum yang sederhana ini merupakan salah satu bukti keadilan Tuhan. Bukankah semua orang ketika tersenyum tulus akan terlihat lebih rupawan? Saya memberi tanda kutip pada kata "tulus". Sebab apa? Sebab ada senyum yang tak tulus. Ada senyum sandiwara, ada senyum menghina, ada senyum sinis, dan senyum-senyum buruk lainnya. Saya tidak perlu mendeskripsikan senyum yang tidak diiringi ketulusan hati, tentunya.
Baik, kembali ke atas. Mengapa senyum itu kekuatan? Karena, ketika kita merasa tersakiti, merasa terdholimi, merasa marah, hal yang sulit kita lakukan adalah tersenyum dengan tulus. Hanya orang kuat yang bisa mengerjakan hal yang sulit. Dalam hal ini, bukan fisiknya yang kuat, tapi mentalnya, hatinya, jiwanya yang setegar karang. Sehingga ketika masalah datang, ketika ada hal yang menguji kesabarannya, ia tetap mampu tersenyum dengan tulusnya.
Bagaimana kita bisa tersenyum di saat hati tersakiti? Ingatlah siapa diri kita. Kita hanya seorang hamba yang lemah, tercipta karena kasih sayang Allah SWT. Siapa yang menyakiti hati kita? Pun sama dengan kita. Ia juga seorang manusia lemah yang tercipta karena kasih sayang Allah. Nah, sudah menjadi sunnatullah sebagaimana dalam sebuah film ada skenario berupa takdir Allah, ada tokoh protagonis (semoga itu kita), ada tokoh antagonis (yang menyakiti kita). Coba kita perhatikan, dari semua film yang sudah kita saksikan, dari semua novel yang pernah kita baca, bukankah kebaikan yang selalu menang? Maka, Saudaraku... yakinlah apabila kita berada di pihak yang benar, bagaimanapun orang lain menyakiti kita, tersenyumlah setulus hati. Sesungguhnya cepat atau lambat, kitalah yang akan menang dengan izin-Nya.
Tersenyumlah walau hati terluka. Tak usahlah menanam kebencian, tak usahlah mengungkapkan kemarahan yang meledak-ledak. Tak usahlah menyimpan dendam apalagi sampai tujuh turunan. Tersenyumlah, karena senyum itu milik pemenang. Jiwanya yang menang. Jiwanya yang berjaya.
Dunia ini akan hambar bila semua tokohnya protagonis, karena dunia ini bukan surga. Maka di dunia ini yang harus selalu kita sadari, ada tokoh protagonis dan antagonis. Tersenyumlah wahai para tokoh protagonis, karena sesungguhnya skenario itu ditulis oleh Yang Maha Segalanya, dan Dia telah menetapkan, kebaikan yang akan menang. Tersenyumlah... senyum itu kekuatan.
Hadanallah wa iyyakum


Dari seorang penulis yang mencari kekuatan di balik tulisannya

Minggu, 14 Desember 2014

Nina's Short Story_ Pahlawan Bertopeng

Pahlawan Bertopeng
            Cinta selalu asyik untuk dijadikan topik dari masa ke masa. Siapa yang tidak tertarik untuk membahasnya. Mahasiswa yang jenuh mengikuti perkuliahan dalam kelas saja bisa langsung bersemangat ketika sang dosen menyelingi perkuliahan dengan membicarakan lima huruf cantik itu, cinta. Apalagi kalau sang dosen dengan terbuka berkenan menceritakan kisahnya dengan sang pendamping hidup. Dijamin, tak ada mahasiswa yang boring. Memang, topik yang satu ini adalah obat mujarab bagi kejenuhan mahasiswa dalam perkuliahan. Tidak heran jika hampir seratus persen dunia hiburan di Indonesia diisi dengan film-film bertajuk cinta.
            IAIN Tulungagung, sebuah kampus yang berdiri gagah di kabupaten Tulungagung Jawa Timur menjadi satu-satunya opsiku untuk melanjutkan studi setelah lulus dari Aliyah. Berbeda dengan teman-temanku yang memiliki beberapa opsi perguruan tinggi, aku langsung yakin dalam menetapkan satu-satunya pilihanku. Entahlah, aku sendiri tidak tahu sebabnya. Akan tetapi semakin aku lama berada di kampus ini, aku mulai sadar bahwa di kampus ini aku tidak hanya kuliah tapi juga belajar tentang cinta.
            “Syukron ya, Ukhti,”[1] kata Ustadz Faza, dosenku Bahasa Arab.
            Kalimat simpel inilah pengundang cinta pertamaku. Aku jatuh cinta pada seorang dosen saat aku di pertengahan semester satu. Intensitas komunikasi yang cukup sering di dalam maupun di luar perkuliahan akhirnya membuat kami merasa saling membutuhkan dan saling memberi. Asyiknya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan seperti ketika aku membunuh seekor nyamuk yang hinggap di tangan kiriku karena ustadz Faza merasakan hal yang sama.
            Suatu hantaman keras terasa di hatiku suatu hari. Malam itu usai mengerjakan tugas kuliah di kamar temanku, ustadz Faza mengirim SMS yang isinya mengajakku menikah dalam waktu dekat. Wow, super sekali! Aku bahagia dengan keseriusan cintanya, akan tetapi baru satu tahun KTP atas nama Nina Raihana Salsabila berada di dompetku. Usiaku baru saja memasuki delapan belas tahun. Akankah aku menikah satu-dua bulan lagi? Kurasa tidak. Sedangkan ustadz Faza tak bisa menungguku lebih lama lagi.
            Dengan berat hati, kukatakan tidak. Aku belum siap menikah. Meski tanpa kata namun jauh di lubuk hatiku, aku berharap sang dosen berkenan menanti setidaknya sampai skripsiku selesai, bila perlu sampai wisuda sekaligus.
            “Maaf, Nina, izinkanlah sambil menanti kamu siap, saya akan membuka hati untuk yang lain.” Ujar ustadz Faza dengan nada berat.
            Apa maksudnya? Menantiku sambil membuka hati untuk yang lain? Bagaimana jika aku siap di saat yang lain berhasil memasuki hatinya? Aku digantung atau dijemur? Oh, tidak!
            Sebagai wanita yang mencintainya tentu aku berusaha mempersiapkan diri agar segera siap menikah dengannya. Akan tetapi, di tengah perjalanan dimana aku sedang belajar untuk menjadi sosok calon istri yang baik baginya, kudengar berita yang menjebolkan tanggul air mataku bagai jebolnya tanggul Lapindo di porong. Banjir besar melanda pipiku saat undangan pernikahan ustadz Faza sudah sampai di tangan sahabatku yang berdomisili di pesantren Al Yamani, dekat kampus.
               Oh, aku sampai tidak tahu di mana sakitku. Ada yang terasa perih namun aku yakin dokter spesialis apapun tidak mampu mendeteksi dan mendiagnosa di bagian mana yang sakit dari diriku. Bagaimana bisa dia akan menikah tanpa mengabarkan padaku sedangkan dia masih menggantungkan cintaku? Inikah jawaban dari keinginannya menantiku sambil membuka hati untuk yang lain? Ustadz Faza... kau tak akan pernah tahu rasa sakit yang kurasakan. Hanya satu kata untukmu, MENTEGA. Ups… salah, TEGA.
            Seiring berlalunya waktu, cinta kedua menyapaku di saat aku duduk di semester lima. Dia Irham, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab, sekelas denganku. Kubukakan pintu hatiku saat ia mengetuknya karena aku melihat sosoknya yang penuh tanggung jawab dan tekun dalam beraktivitas. Kesungguhannya membuatku jatuh cinta.
            Sewajarnya, sepoi angin hadir terlebih dahulu sebagai muqoddimah kemudian rintik hujan yang semakin deras. Namun belum apa-apa, badai langsung menerjang di saat jalinan asmara itu baru setengah umur jagung. Badai itu adalah sebuah sabda dari ayah Irham yang melarangnya menjalin asmara denganku karena hitungan penanggalan adat Jawa di balik tanggal lahirku tidak cocok untuk disatukan dengannya.
            Sekuat hati aku berusaha menegarkannya. Aku selalu memotivasi Irham untuk berani memberikan penerangan pada pemikiran orang tuanya yang masih mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak ilmiah dan tidak berperasaan itu. Cintaku dan dia masih kokoh kala itu meskipun terpaksa backstreet. Akan tetapi, kian hari aku semakin merasa dia telah berubah. Dia tak seramah Irham pada saat mengetuk pintu hatiku. Dia mulai keras, dia mulai kasar dan cepat marah serta lama untuk diredakan emosinya. Ada apa denganmu, Irham? Aku hanya bertanya dalam hatiku sendiri karena ia tak bisa diajak bicara dari hati ke hati. Ya. Aku masih mempertahankannya.
            Pengumuman dari kampus tentang PPL-KKN Terpadu di Thailand telah terdengar oleh seluruh mahasiswa. Aku mendaftarkan diri sebagai peserta. Setelah mengikuti seleksi akupun diterima dan beberapa minggu kemudian aku akan diterbangkan ke negeri ber-icon gajah putih itu. Sayang, Irham tidak berkenan mendaftarkan diri.
            Pada hari terakhir aku kuliah di semester enam, aku berpamitan pada semuanya terutama Irham yang statusnya masih kekasihku. Pesan untuk saling menjaga diri saat LDR tentu tidak tertinggal. Hanya satu kunci, SETIA.
            Dua minggu di negeri asing aku mulai berpikir jernih. Jika ayah Irham masih berpegang teguh pada apa yang dipercayainya dan Irham tak mampu meluluhkan hati ayahnya, untuk apa kupertahankan hubungan ini? Tidakkah aku membuang-buang waktu saja jika pada akhirnya tak direstui? Tidakkah akan terasa sangat menyakitkan ketika cinta ini semakin dalam namun tak ada jalan untuk bersatu? Dengan penuh pertimbangan setelah melalui kontemplasi, aku memutuskan jalinan asmara antara aku dan dia.
            “Keren juga ya, putus cinta di luar negeri,” ucapku menghibur diri yang sebenarnya galau karena aku putus dengannya di masa-masa adaptasiku dengan dunia baru di Thailand. Tapi, empat bulan masa PPL-KKN ini. Setidaknya sudah cukup untuk memudarkan rasa.
            “Tolong, seandainya kamu udah dapat penggantiku, katakanlah agar aku nggak nanam harapan lagi di kamu. Begitu juga sebaliknya, ketika aku udah dapat pengganti kamu, aku akan kabari kamu.” Pesanku yang diiyakan olehnya.
            Dua minggu setelah pulang dari Thailand, aku belum juga bertemu dengan Irham meski sekedar untuk tegur sapa sebagai teman sekelas yang lama tak bertemu, bukan lagi sebagai kekasih. Padahal, satu persatu teman sekelas telah menemuiku untuk melepas rindu dan menyambung silaturahim.
            Datanglah Lina, adik kelasku dari jurusan yang sama dengan serta-merta memberitahuku bahwa Irham kini telah menjalin hubungan dengan seseorang. Satu-persatu ia menceritakan apa saja tentang Irham dan kekasih barunya. Namun yang membuat aku dan Lina begitu terkejut adalah tanggal yang disebutkan Lina.
            “Di tanggal ini, Kak,” kata Lina sambil membuka kalender di HP-nya. “Mereka keluar berdua ke sana. Beberapa hari sebelumnya saat ada acara study tour mereka duduk sebangku dalam bus. Jadi benar, Kak, di tanggal itu Kak Nina belum mutusin kak Irham?”
            Aku geram bukan main. Rasanya mungkin seperti derita buah timun yang dikupas kemudian diiris-iris, dan berlumuran dengan sambal kacang pedas untuk dijadikan campuran rujak lontong. Sakitnya tuh di sini! Bisa-bisanya orang yang kucinta mengkhianati kesetiaanku. Bisa-bisanya dia sudah dekat dengan yang lain di saat aku menjaga hatiku untuknya, aku belum memutuskannya kala itu.
            “Siapa wanita yang kamu ceritakan dari tadi, Dik?” tanyaku menahan geram.
            “Dia... dia... ,” ucap Lina agak takut mengatakannya. “Dia Zida, Kak.”
            Pemirsa, tahukah siapa Zida itu? Dia tetangga kamarku di pesantren. Aku tahu selama ini dia seperti seorang detektif yang mengamati gerak-gerikku. Oh, ternyata pengamatannya itu sebagai ancang-ancang[2] untuk menggantikanku di hati Irham.
Sekarang aku tahu kenapa Irham tidak memperjuangkanku di hadapan ayahnya kalau hanya tanggal lahir yang jadi masalah. Padahal jika ia mau, air mata ibunya yang menangisiku karena ditolak oleh ayahnya, itu bisa ia gunakan sebagai senjata untuk meluluhkan hati seorang ayah. Sekarang aku tahu mengapa sikap Irham keras dan banyak perubahan yang tidak kusukai. Zida jawabannya. Tahukah, aku sayang pada semua teman di pesantrenku termasuk Zida, tapi bukan untuk ditikam seperti ini. Bagai luka tersayat pisau kemudian disiram air jeruk nipis. Mantap, sakitnya tuh di sini!
            Tapi, di sisi lain aku bahagia. Bahagia terlepas dari seorang laki-laki yang kurasa tak pantas lagi kucintai. Aku bahagia mengetahui peringai aslinya sebelum hubunganku dengannya lebih jauh. Aku bahagia karena setelah putus dengannya, aku memiliki banyak sahabat yang ketulusan kasih sayangnya sebening embun. Ya. Satu persatu teman-teman bertanya-tanya karena banyak di antara mereka yang belum tahu kalau aku telah memutuskannya. Mereka hanya merasa, Irham seperti melupakan mereka. Irham tak seakrab yang dulu saat berjumpa teman sekelas maupun yang lain. Ia terkesan angkuh dan tak bersahabat dengan mereka. Perubahan itu mereka rasakan setelah Irham jauh dariku.
            Oh, ternyata ia seperti kartun favorit Sinchan, Pahlawan Bertopeng. Topeng itu ia kenakan saat bersamaku dan kini telah terlepas, terlihatlah aslinya. Sering pula kudengar berita pelanggaran peraturan pesantren yang diterjang oleh Zida. Masyaallah...
            Aku bersyukur terlepas dari pahlawan bertopeng itu. Namun di sisi lain ada yang kusayangkan. Jika Irham pernah bisa menjadi cowok yang baik saat bersamaku, mengapa sikap itu tak bisa ia lakukan saat bersama Zida? Mengapa Zida yang dulunya taat pada aturan pesantren, kini jadi seorang pelanggar? Hei, ada apa dengan pasangan baru ini?
            Ingin sekali aku menegur mereka namun rasanya aku tak berhak. Aku sudah pernah menegur mereka melalui lisan orang-orang terdekat mereka namun nihil, tak ada hasil. Satu saja senjataku, doa semoga mereka sadar akan jalan yang mereka tempuh.
            Move on, Nina. Kamu bukan satu-satunya orang yang paling menderita di muka bumi ini. Untuk apa menangis, untuk apa bersedih? Bukankah orang yang membuatmu menangis adalah orang yang tidak pantas kamu tangisi?
            Terima kasih, Tuhanku, telah membuatku jatuh. Karena hanya dengan jatuh aku memiliki kesempatan untuk bangkit. Terima kasih, Tuhanku, telah mengajarkanku tentang kewaspadaan dan perlunya sikap selektif dalam memilih seseorang yang pantas untuk dicintai. Terima kasih, Tuhanku, telah membukakan tabir yang sesungguhnya untuk pahlawan bertopeng yang pernah mencuri hatiku. Sungguh aku akan sangat menyesal jika tabir itu tidak Engkau singkap sekarang. Aku akan sangat menderita jika tabir itu terungkap setelah aku menikah dengan pahlawan bertopeng itu.
            Kampus ini penuh pelajaran, mulai dari mata kuliah sampai mata cinta. Ya. Harga diri itu ada pada akhlak, bukan pada ketampanan, kegagahan, kehebatan. Hanya laki-laki berakhlak mulia yang pantas dicintai. Dan aku akan terus belajar memperbaiki kualitas diriku, agar Tuhan pun mengelokkan jodohku. Pertemukan kami di waktu yang tepat, Ya Robb... Aamiin
            Good bye, Pahlawan Bertopeng!

Trenggalek, 7 Nopember 2014
00.44 WIB



[1] Terima kasih, Ukhti
[2] persiapan

Jumat, 05 Desember 2014

Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand Dilihat dari Posisi Duduk

Artikel
Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand
Dilihat dari Posisi Duduk
by Ni'matul Khoiriyyah IAIN Tulungagung


BAB I
            PENDAHULUAN
           
            Posisi menentukan prestasi. Sering kita dengar statement ini di lingkungan akademik. Lebih-lebih jika musim ujian sekolah dan tidak ada ketentuan tempat duduk, berebutlah siswa untuk memilih duduk di bangku belakang. Hal ini disebabkan oleh anggapan siswa bahwa bangku belakang adalah posisi paling aman dan nyaman untuk mencontek. Apalagi jika pengawas dalam kelas sibuk dengan handphone-nya dan enggan berkeliling.
            Rupanya, posisi duduk merupakan pilihan yang melambangkan karakter seseorang. Apabila kita mengamati dalam suatu acara misalnya, maka yang mendapat fasilitas VIP dan duduk di deretan terdepan adalah orang-orang dengan keistimewaan tetentu. Bisa jadi karena title, jabatan, dan peran sosial.
 Bila kita tarik fenomena ini ke dalam kelas, maka siswa-siswi yang duduk di deretan terdepan adalah siswa-siswi VIP karena memiliki mental yang berani dan percaya diri. Melalui artikel ini penulis akan menguraikan tentang karekter siswa-siswi di lokasi KKN-PPL Terpadu yaitu Phattana Islam Wittaya School Lammai, Yala, Thailand.













BAB II
PEMBAHASAN
A.  Tempat Duduk Siswa
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal. Tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bisa digunakan di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakan dalam kelas dengan metode belajar ceramah. Untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan.
Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah[1]:
                                        1.            Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
                                        2.            Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
                                        3.            Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
                                        4.            Persamaan dan perbedaan dalam bakat
                                        5.            Persamaan dan perbedaan dalam sikap
                                        6.            Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
                                        7.            Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
                                        8.            Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
                                        9.            Persamaan dan perbedaan dalam minat
                                    10.            Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
                                    11.            Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
                                    12.            Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
                                      13.  Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan
                                    14.            Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.

            Penempatan siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll.
            Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas sdalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan.[2]Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer bahwa penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
            Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

  1. Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Berdasarkan Tempat Duduk
            Karakter berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak kemudian disebut dengan istilah karakter.[3] Menurut Hamzah Uno dalam artikel yang ditulis oleh Ahmad Fauzi, karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.[4]
            Dengan mengenal karakteristik siswa, guru dapat memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan dalam memberikan materi baru dan lanjutan. Selain itu guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi.
            Saya telah berada di sekolah yang berada di perbatasan Pattani dan Yala ini selama hampir empat bulan. Saya yang sedang menjalankan tugas PPL mengajar di enam kelas dengan rincian empat kelas di tingkat mutawasith dan dua kelas di tingkat tsanawi.
            Dari pengamatan saya secara langsung, seluruh kelas di sekolah ini menggunakan formasi berjejer ke belakang untuk tempat duduk siswa karena hampir semua guru menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar. Tentunya ada siswa yang duduk di deretan depan, tengah dan belakang sesuai pilihan mereka masing-masing saat pertama kali masuk kelas di awal semester. Hal ini karena siswa diberi keluasan atau kebebasan untuk menentukan tempat duduknya.
            Melalui sampel enam kelas yang saya ajar, saya dapat melihat karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama umumnya merupakan siswa yang rajin mengerjakan tugas, jarang terlambat masuk ke kelas, aktif dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Siswa yang duduk di deretan kedua masih mempunyai tingkat kerajinan yang sama dan rasa malu yang besar untuk datang terlambat. Hanya saja perbedannya dengan siswa yang berada di deretan pertama adalah tingkat rasa percaya diri.
            Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin rendah. Biasanya siswa yang segera menjawab pertanyaan saya adalah siswa yang berada di deretan terdepan kemudian satu hingga dua baris di belakangnya. Sedangkan siswa yang berada di deretan tengah adalah siswa yang biasanya mengikuti arus. Apabila banyak yang mengatakan A, siswa di deretan tengah mengikuti.
            Deretan belakang dan dua baris di depannya merupakan siswa yang paling membutuhkan perhatian ekstra. Umumnya mereka sering datang terlambat, tidak segera mengerjakan tugas dan ikut mengatakan faham ketika teman-teman yang lain mengatakan faham akan tetapi sebenarnya mereka masih bingung. Mereka juga kurang memiliki rasa percaya diri. Mereka tidak segera maju ke depan ketika saya panggil untuk menulis atau membaca.
            Mereka juga senang berkumpul dengan teman-teman yang duduk sebaris. Datang terlambat bersama-sama, tidak membawa buku pun kompak. Ditambah, hasil ujian mereka ternyata memang di bawah hasil ujian siswa yang ada di depannya.
            Saya pernah mengawasi ujian tengah semester di awal bulan Agustus lalu. Kebetulan tidak ada ketentuan untuk siswa dengan nomor absen sekian duduk di bangku mana. Saat itu saya melihat siswa yang datang pertama justru memilih duduk di depan, dan mereka adalah siswa yang biasanya saat kegiatan pembelajaran seperti biasa duduk di depan. Kemudian, siswa yang lain menyusul di belakangnya. Hebatnya, yang selesai dan keluar dari ruang kelas terlebih dahulu adalah siswa yang duduk di depan yang tidak sempat menoleh untuk bertanya ataupun memberikan jawaban pada temannya.
            Ternyata, duduk di depan membutuhkan mental yang kuat dan tidak semua siswa berani. Ketika saya menanyai satu siswi kelas 7/1 yang duduk di bangku terdepan dan dekat dengan meja guru, dia mengaku lebih suka duduk di depan karena lebih cepat faham dengan materi yang disampaikan.[5] Istimewanya, ia memilih bangku depan atas kemauannya sendiri bukan karena kehabisan tempat di deretan belakang.
            Hal yang senada juga disampaikan oleh partner PPL saya yang mengajar di kelas 8. Dia mengakui perbedaan karakter siswa memang dapat dilihat dari posisi duduknya. [6]
            Dengan demikian, perlu adanya pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan secara maksimal. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
Guru dalam melakukan tugas mengajar di suatu kelas, perlu merencanakan dan menentukan pengelolaan kelas yang bagaimana yang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kemampuan belajar peserta didik serta materi pelajaran yang akan diajarkan di kelas tersebut. Menyusun strategi untuk mengantisipasi apabila hambatan dan tantangan muncul agar proses belajar mengajar tetap dapat berjalan dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Pengelolaan kelas akan menjadi sederhana untuk dilakukan apabila guru memiliki motivasi kerja yang tinggi, dan guru mengetahui bahwa gaya kepemimpinan situasional akan sangat bermanfaat bagi guru dalam melakukan tugas mengajarnya.[7]
Keberhasilan pengelolaan kelas bergantung pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi yang tinggi akan dapat mengelola kelas dengan baik dan tepat. Mengelola kelas itu sendiri bukanlah tujuan utama dari setiap guru, akan tetapi apabila guru dapat mengelola kelas dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar-nya akan berjalan baik dan peserta didiknya akan berprestasi tinggi. Mengelola kelas merupakan sarana/alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan belajar mengajar. Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik, sehingga peserta didik dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
                Tempat duduk VIP ternyata tidak hanya untuk tamu undangan dalam suatu acara penting. Tempat duduk VIP juga berlaku untuk siswa  dalam kelas seperti halnya di Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala, Thailand. Dari posisi duduk siswa dapat diperoleh gambaran karakter siswa. Siswa yang duduk di deretan pertama memiliki rasa percaya diri yang tinggi, semakin ke belakang semakin rendah dan semakin rendah.
B.     SARAN   
Perlu adanya pengelolaan kelas yang baik termasuk penataan tempat duduk siswa untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Atau jika siswa terlanjur nyaman dengan posisi duduknya, gurulah yang hendaknya lebih aktif menarik perhatian siswa.
















DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhopilah, Epa, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan, Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46

Rofiq, Aunur, 2009, Pengelolaan Kelas, Malang: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sharing dengan Ayu Sartika Wati, Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
Sharing dengan Nurul Qomariyah, siswi Phattana Islam Wittaya School kelas 7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.




                [1] Epa Muhopilah, Penataan Tempat Duduk Siswa sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/ 30 Agustus 2014 pukul 21.46

[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 174
[3] Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak Usia Dini, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h. 15
                [4] Ahmad Fauzi, Analisis Karakteristik Siswa, dalam blog Guru Indonesia, http://guru-ina.blogspot.com/2012/03/karakteristik-siswa.html diakses pada tanggal 19 September 2014 pukul 20.46
                [5] Sharing dengan Nurul Qomariyah kelas 7/1 pada tanggal 31 Agustus 2014.
                [6]Sharing dengan Ayu Sartika Wati, Mahasiswi UNMUH Jember pada tanggal 31 Agustus 2014.
                [7] Aunur Rofiq, Pengelolaan Kelas, (Malang: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan Dan Ilmu Pengetahuan Sosial, 2009), hal. 5