Entri Populer

Kamis, 19 Februari 2015

Marah dan Masa Lalu

Marah dan Masa Lalu
Cinta itu terkadang menggemaskan. Iya. Menggemaskan adalah kata yang kuucap untuk mewakili ungkapan sebenarnya (marah), karena aku sedang tidak ingin marah. Mengapa? Marah itu menunjukkan lemahnya jiwa kita dalam menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya marah itu wajar.
Ada sebuah hadits yang berbunyi "Laa Taghdlob", janganlah kau marah. Rasulullah telah melarang kita untuk marah. Dalam sebuah perenungan, aku mendapat sebuah kalimat. "Jika terpaksa kamu harus marah, marahlah dengan anggun." 
Marah identik dengan ekspresi yang meledak-ledak, tatapan mata yang menakutkan, bahkan seringkali diiringi dengan tutur kata kasar dan gerakan tubuh yang bisa jadi bersifat merusak seperti melempar barang, merobek-robek kertas, dan sebagainya. Marah dengan anggun? Iya. Marah dengan anggun. Ketika kita marah, seringkali emosi kita tak terkendali. Nah, agar bisa marah dengan anggun, kendalikan emosi kita meski tak mudah. Kendalikan lisan agar tak berkata-kata kasar atau buruk. Kendalikan tangan agar tak merusak dan melempar. Kendalikan kaki agar tak menendang. Terakhir, wajah. Kendalikan tatapan mata, gerakan bibir dan berusahalah untuk tersenyum.
Mohon maaf, tidak bermaksud menggurui, akan tetapi lebih bersifat "Ushikum wa nafsi" meskipun aku menggunakan shighot kata perintah.
Cinta itu sulit didefinisikan. Kadang ia menjelma sebagai kebahagiaan, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjelma menjadi kegalauan. Ketika ia sedang menjelma menjadi kegalauan, tugas kita adalah menata hati. Renungi sebesar apa sih manfaat keberadaan cinta itu bagi jiwa kita? Apakah cinta itu membangun jiwa? Pertahankan selagi cinta itu bersifat positif dan DIRESTUI. Bagiku, cinta harus memiliki, dan apabila cinta itu tak bisa dimiliki maka tugas kita adalah berhenti mencintai sebagai kekasih, akan tetapi tetap mencintai sebagai saudara.
Berdamai dengan masa lalu itu suatu kebaikan yang luar biasa, menurutku. Apa maksudnya? Mohon maaf, aku lebih suka mengistilahkan "masa lalu" daripada "mantan". Kebanyakan dari kita ketika sudah putus cinta dengan masa lalunya, dan keputusan itu menyisakan luka, ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Ia memblokir jaringan sosmed meski terkadang mengintip dengan akun lain. Ketika bertemu di jalan tidak mau menyapa bahkan menghindar sebelum berpapasan. Na'udzubillah, janganlah kita seperti itu.
Tetaplah berdamai dengan masa lalu akan tetapi jagalah etika yang sewajarnya. Tak perlu bermusuhan dan marah-marahan. Toh sebenarnya masa lalu itu guru kita, pengalaman kita. Experience is the best teacher, a laisa kadzalik? Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita belum sedewasa sekarang. Bisa jadi, tanpa masa lalu... mungkin kita tidak sehati-hati sekarang. So... kendalikan emosi ketika terpaksa harus marah. Belajar untuk berdamai dengan masa lalu, dan belajar marah dengan anggun.

Prasangka

Prasangka timbul sebagai akibat dari ketidakjelasan suatu hal. Misalnya, kita mengirim SMS kepada teman namun ia tak segera atau bahkan tidak membalasnya sama sekali. Tentu hal ini akan mengundang prasangka dalam hati kita. Mulai dari prasangka baik seperti kita menyadari ada kemungkinan teman kita sedang dalam kesibukan sehingga tidak sempat membalas, atau mungkin tidak ada pulsa atau kehabisan baterai. Bisa jadi kita berprasangka buruk seperti kita menyangka bahwa teman kita tidak senang menerima SMS kita sehingga malas membalasnya.

Rabu, 04 Februari 2015

Poetry

Wahai Akhi
 Ni’matul Khoiriyyah

Wahai akhi yang akan menjadi imamku
Sudahkah kau siapkan dirimu untuk membimbingku
Bukan kekerasan yang kumau tapi kelembutan
Bukan kemurkaan yang kuinginkan tapi senyum cintamu saat aku bersalah

Wahai akhi, sungguh aku dibesarkan dengan cinta kasih
Maka pimpinlah aku dengan cintamu
Wahai akhi, sungguh aku dididik dengan kelembutan
Maka telatenlah kepadaku

Akhi, saat akadmu terucap kelak
Aku bukan lagi aku yang di bawah kuasa waliku
Sepenuhnya aku menjadi hakmu
Kemanapun kau, ku akan mengikutimu
Apapun yang membuatmu ridho, itulah ridho Tuhanku
Maka pintaku, jangan persulit aku meraih ridho-Nya
Sebagaimana orang tuaku yang tak mempersulitku meraih ridho-Nya

Wahai akhi, pabila kelak kita disatukan
Pintaku padamu jagalah hatimu
Agar tak mendatangkan harap-harap semu di hati kaumku
Cukuplah aku penenang hatimu
Karena aku pun ingin cukup engkau pendamai qalbuku

Wahai akhi, istri shalihah ada dalam bimbinganmu
Dan suami shalih ada dalam dukunganku
Bismillah dengan izin-Nya

Semoga jalan ke surga kita tempuh bersama

My Short Story_Modus

Modus

            Sungguh unik kisah cinta di dunia ini. Bahkan bila ditelusuri hampir semua apa yang terjadi dilatarbelakangi oleh cinta. Mulai dari kesuksesan seorang pria yang kemudian memiliki karir yang naik daun, jika ditanya resepnya ternyata itu buah dari keharmonisan cinta dengan sang pasangan. Kemudian pecandu narkoba, jika ditelusuri lebih mendalam ternyata penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan cinta kasih dari orang-orang terdekatnya. Oh... cinta, alangkah istimewanya satu kata dalam lima huruf itu.
            Aku akan menceritakan sebuah kenangan. Tentang dia, seorang pria yang kehadirannya kuanggap sebagai Furqon. Dalam kisah ini aku berperan sebagai Ana yang mencintai Azam. Tentu Azam itu datang di akhir karena Ana belum tahu siapa Azam sebenarnya. Kisah ini bermula ketika aku jatuh hati pada kakak kelasku yang sebenarnya aku tidak begitu dekat dengannya. Aku hanya tahu dia pria yang baik, aktif dan care.
            Siapa sangka, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ia menyatakan perasaannya padaku dan ingin membuat sebuah komitmen hingga waktu mempersatukanku dengannya. Ketahuilah, aku tidak mau orang tuaku tahu aku menjalin asmara dengan seorang pria sebelum bisa kupastikan bahwa pria itu benar-benar akan melamarku. Backstreet kujalani.
            Di tengah perjalanan, datanglah orang tua Furqon pada orang tuaku. Tak lain, maksud kedatangannya adalah untuk melamarku. Serius? Aku masih menjadi mahasiswi semester 5 saat itu. Lamaran itu disampaikan oleh ayah padaku. Aku langsung menjawab tidak. Alasan pertama, aku masih fokus kuliah dan belum ingin menikah, alasan kedua, aku merasa tidak yakin dengannya, alasan ketiga tidak kukatakan pada ayah karena alasannya adalah pria yang dekat denganku di kampus itu kuanggap sebagai Azam. Namun, ayah belum berkenan menyampaikan jawabanku pada keluarga Furqon. Mungkin bagi ayah jawabanku terlalu terburu-buru.
            Observasi dan research adalah dua hal yang tidak terlewatkan oleh mahasiswa. Dua hal ini pun kulakukan secara diam-diam kepada si dia, Furqon. Seperti yang disarankan oleh dosenku, aku harus mendeskripsikan data tentang dia. Data kualitatif tentunya. Aku mengamati perilakunya tanpa ia ketahui. Kebetulan ada acara wisata religi dan kebetulan ia dan keluarga besarnya ikut serta dalam acara yang juga kuikuti. Oke, ini kesempatan bagiku untuk menggali data tentangnya.
            “Bagaimana datanya, Mey?” tanya dosenku saat aku menjumpainya di kampus.
            “Saya semakin yakin untuk menolaknya, Pak. Dia beberapa kali tidak ikut berziarah ke makam dengan alasan mengantuk. Dia juga punya keponakan yang masih balita, tapi ketika kakak dan iparnya repot, dia tidak mau membantu menjaga keponakannya sendiri. Dia terkesan belum cukup dewasa untuk melangkah lebih jauh dengan saya. Hal-hal yang simpel saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan saya nanti?”
            “Baik. Lalu, apa kelebihannya?”
            “Dia tampan, tidak cerewet, sementara itu yang saya tahu.”
            “Masih mau observasi lebih lanjut?”
            Aku menggeleng pelan. “Cukup, Bapak. Saya sudah yakin untuk menolaknya.”
            “Kalau begitu, saya yang akan memaparkan data tentang si Azam.” Pak Aris tersenyum. “Kita studi komperatif hari ini. Mana yang bobotnya lebih berat, itu yang kamu pilih. Azam itu rajin, serius, pekerja keras meski mungkin tidak setampan Furqon. Dia juga penyayang anak kecil, hormat pada yang lebih tua dan pastinya dia serius menyayangi kamu.”
            Pilihan kembali kujatuhkan pada Azam. Namun hubungan itu hanya berlangsung seumur jagung karena begitu banyak data yang kuterima melalui sahabatku. Data tentang dirinya yang ternyata hanyalah seorang pahlawan bertopeng. Ia bertopeng keindahan untuk menutup kepribadian yang sesungguhnya. Dia telah mengkhianati kepercayaanku dengan mendekati adik kelasku sendiri di saat dia masih menjalin asmara denganku. Ah, pantaskah dia kuanggap Azam?
            Aku paling benci didustai dan dia telah mendustaiku. Pernah dia dalam tiga hari tidak merespon SMS dan panggilanku. Dia mengatakan tidak ada baterai. Namun dia bisa up load foto di facebook yang kuyakini dia menggunakan kamera HP-nya. Setelah beberapa minggu, adik kelasku mengatakan, “Bohong kalo dia nggak ada baterai, Kak. Waktu itu dia duduk dengan Ina dalam bus, makanya nggak respon SMS dan telepon Kak Mey.” Ujar Nabila. “Kak, mereka sok mesra banget waktu itu. Aku dan teman-teman nggak negur karena kak Irwan bilang udah putus dari kak Mey. Maaf, Kak, kami nggak tau.”
            Data kedua kuterima dari Anisa. “Kak, dia pernah nolak barengin Kak Mey ketika ada lomba tingkat Kabupaten itu kan? Dia nggak sibuk pagi itu, Kak. Dia jalan sama Ina dan sorenya dia datang ke tempat lomba juga sama Ina. Kak Mey saat itu sedang mendampingi peserta, jadi nggak tau dia datang dengan siapa.”
            Berani sekali dia mempermainkan hatiku. Dia yang sudah kuanggap sebagai Azam ternyata hanya seorang hidung belang. Ini tidak akan terlupakan dari memoriku. Kenangan tentang pahitnya mencintai pria yang salah. Aku akan lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan.
***
            “Aku dipermainkan, Mey.” Kata Fahri, sahabatku. “Aku udah melamar Ning Hida, lamaranku diterima kemudian pihaknya meminta aku mempercepat pernikahan. Aku sendiri masih kuliah dan aku nggak ingin kuliahku terganggu. Nantilah, setelah menjadi sarjana, aku akan menikahinya. Dan kamu tahu, Mey, tanpa memberitahukan apapun sebelumnya, tiba-tiba pagi ini ada orang yang mengantarkan undangan pernikahannya dengan Irwan, Mey.”
            “Apa?” aku shock mendengarnya. “Bagaimana bisa Ning itu nerima lamaranmu, lalu secara diam-diam dan sepihak mutusin kamu, dan kemudian secara tiba-tiba dia mau nikah dengan Irwan? Hei... Irwan itu aku putusin karena dia deketin Ina, Fahri. Bagaimana  bisa Irwan mau nikah dengan Ning Hida? Permainan apa ini? Bagaimana dengan Ina?”
            Tanpa kuduga sebelumnya, Fauzan atau Furqon muncul. “Fahri, dua minggu yang lalu keluarga Ning Hida melamarku dan mendesakku untuk segera menikahinya. Dan ternyata sebelum lamaran itu kujawab, dia sudah memiliki calon suami. Jadi, kamu tidak pernah memutuskan Ning Hida, Fahri?”
            Fahri, aku tahu hatimu pasti perih dengan perlakuan Ning Hida padamu. Tidak diputuskan tapi ditinggalkan. Ah, sepertinya kamu hanya berperan sebagai cadangan bagi Ning Hida ketika tidak ada Irwan. Furqon, kamu pun hampir menjadi permainan Ning Hida. Aku sendiri? Menjadi korban Modus (Modal Dusta) Irwan. Sungguh masa lalu yang tak terlupakan.
            Aku sudah semester tujuh saat ini. Sudah cukup waktu bagiku untuk move on. Ya. Aku move on dari Irwan. Fahri move on dari Ning Hida, dan Furqon... Bagaimana dengannya? Sudahkan dia move on dariku?
            Tanpa diketahui Pak Aris, aku masih melakukan penelitian untuk memperoleh data-data lebih lanjut tentang Fauzan. Akupun menemui Pak Aris setelah dataku lengkap dan mempresentasikannya. Hasil akhirnya ACC. Fauzan itulah Azam yang sebenarnya.

            Hari ini aku merevisi jawabanku pada ayah atas lamaran Furqon. Aku menerimanya. Sementara Fahri masih menikmati masa kesendiriannya dan ia pun lebih berhati-hati tentunya agar tidak kembali menjadi korban modus. Sedangkan Irwan, kudengar dia bercerai dengan Ning Hida, entah dengan alasan apa. Padahal pernikahan mereka baru berjalan seumur jagung. Ah, terserah apa yang terjadi dengan mereka. Lebih baik aku menyanyi, “Ku tak peduli....”

Kamis, 01 Januari 2015

So Sweet


الحوار بين الزوجين

ذات يوم جلس الزوج وزوجته امام البيت
الزوجة : هل تحبني يا زوجي ؟
الزوج : طبعا أحبك كيفما كنتِ
الزوجة : قل إلى العالَم لو كنت تحبني
الزوج : (يقرب الزوج الى زوجته وقال فى أذنها) إنى أحبك
الزوجة : لماذا لم تقل الى العالم كله ؟
 الزوج : لأنك أنت العا لم كله لي

Sabtu, 27 Desember 2014

DIARY CINTA SANG BIDADARI
Karya Ni’matul Khoiriyyah

Suamiku, saat pertama kumelihatmu
Sayup kerinduan kian mendera
Aku selalu rindu dan rindu akan pertemuan berikutnya

Saat kau datang meminang
Butiran mutiara mengalir dari kelopak mataku
Bahagia menyapa, luka lama telah sirna
Suamiku, saat akad terucap dari lisanmu
Sungguh surga dunia kurasa karena hadirmu
Kau bawa aku arungi samudra tuk raih ridho Ilahi
Dengan bahtera cinta yang kau nahkodai
Jika badai menerpa, semakin erat kau genggam hatiku
Bila panas dingin menyapa, kau naungi aku dengan kasihmu
Suamiku, tahukah kamu betapa dalam rasa cintaku
Tahukah kamu betapa ingin kumenjadi bidadarimu
Hadirmu sungguh tak kusangka
Cintamu sungguh tak kuduga
Memeluk mesra hati kecilku
Suamiku, inilah diari cintaku
Terukir indah namamu di dalamnya
Memenuhi setiap lembar demi lembar
Waktu demi waktu
Kaulah, penghubung antara aku dengan Tuhanku
Trenggalek, 21-12-2014

Minggu, 21 Desember 2014

Jangan takut, sayang....

Jangan takut, sayang....
Kalau kita tak pernah jatuh, kita tak pernah bangkit...
Senyumlah, sayang...

Senyummu adalah kekuatan yang tak semua orang memiliki kala ia terluka 
Bersyukurlah, sayang...
karena rasa syukur itu akan menjelma menjadi kebahagiaan yang tiada tara 
Hujan itu, sayang....
Hujan itu bukan di sana, tapi di sini.... di hati ini...
Menarilah, sayang...
Menarilah di bawah hujan, sesungguhnya ia hanya mengikuti titah Ilahi Robbi 
Sakit itu, sayang...
Sakitnya memang di sini, namun ada cinta yang lebih besar kan mengobati...
Bahagia itu, sayang...
hanya milik yang bersyukur... hanya milik yang husnudhon...
Bahagia itu, sayang... milik yang ikhlas....
Bismillah.... belajar menjadi wanita yang hatinya sekuat baja, setegar karang yang tak bergeming dihempas badai...
Karena sandaran terkuatnya tak lain adalah Sang Maha Cinta 
Hammasah, sayang...