Tentangmu yang Masih Menjadi Dhomir
Oleh: Ni'matul Khoiriyyah
Pertanyaan "kapan nikah" terkadang cukup mengusik ketenangan hati. Apalagi di bulan-bulan pengantin seperti ini, pertanyaan itu sederas hujan yang jatuh dari langit. Seringkali hanya senyum yang kugunakan untuk merespon. Kadang juga kujawab dengan jawaban yang tak pasti. Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin aku memastikan sesuatu yang menjadi rahasia Tuhan.
Telah banyak nama yang hadir mengisi hari-hari, namun satu persatu pun pergi. Bukan tak baik, namun tak jodoh, dan memang akan ada yang terbaik suatu hari nanti, itulah keyakinanku.
Bagi mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab sepertiku, analogi sering kugunakan. Aku menganalogikan sepasang kekasih seperti jumlah ismiyah yang tersusun dari mubtada' dan khabar. Suami sebagai mubtada'nya, dan istri sebagai khabarnya. Keduanya bisa berupa isim dhahir, bisa juga salah satunya berupa isim dhamir. Untuk konteks yng satu ini, aku menganggapnya sebuah dhamir, karena aku belum tahu siapa dia, dari mana, dan apapun tentangnya aku belum tahu.
Rahasia Allah pasti indah, itu keyakinanku. Saat aku belum dipersatukan dengannya, itu berari ada masa penempaan yang harus kujalani seorang diri, pun dengan dirinya. Barulah saat penempaan itu usai, ia akan Allah hadirkan untukku. Kami bersatu, bersama, saling dukung dan saling menguatkan dalam iman dan ihsan sehingga Allah ridhoi langkah kami meniti jalan ke surganya.
Perlukah risau dalam penantian? Tidak. Untuk apa merisaukan seseorang yang sudah ada? Iya. Dia ada, namun masih Allah sembunyikan dari pandanganku, karena Allah sangatlah baik dalam menjaganya. Hanya bait-bait kerinduan yang tersampaikan melalui doa suci di penghujung sembahyang.
Untukmu yang masih menjadi dhamir
Aku yakin kau adalah isim ma'rifat
Kau mufrad dan berada dalam posisi rafa'
Kau mulia, kau berbudi, kau berilmu
Wahai dhamirku ...
Di sini kumenanti tuk jadi khabarmu
Bilakah kita kan menjadi jumlah ismiyah yang tak lekang oleh waktu?
Tetaplah menjadi isim ma'rifat yang akan membimbingku
Dariku, calon khabarmu.
Trenggalek, 15 Januari 2017
09.13
Blog Ni'matul Khoiriyyah/Nina Kayla. Cinta adalah kekuatan yang mampu menggerakkan jiwa. Dengannya yang jauh menjadi dekat. Dengannya yang berat terasa ringan. Dengannya jari-jemarimu bisa menari dengan riangnya di atas keyboard. Iya, Cinta. Bukan sembarang cinta, tapi cinta yang berasaskan keimanan, berusaha meraih ketakwaan, dan bercita-cita tuk dinaungi keridhoan Sang Maha Cinta.
Entri Populer
-
Bila Cinta Tak Senada Dengan Irodah-Nya Pada pembahasan sebelumnya saya nyatakan bahwa cinta harus memiliki. Namun apa...
-
Mohon maaf sebelumnya, jangan terlalu memelototi judul ini dan jangan terlalu kemana-mana pikiran Anda berkelana ..., Oke?!...
-
Ketika Tasbihku Bertahmid* Buah karya Ni'matul Khoiriyyah (Nina Kayla) Ya Robb… aku telah jatuh cinta pada salah seorang hamba-Mu. Ham...
-
Artikel Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand Dilihat dari Posisi Duduk by Ni'matul Khoiriyyah IAIN T...
-
(AIS) Awal mula aku tidak menyangka pria yang tinggal serumah denganku ini akan menjadikanku sebagai isterinya. Perawak...
-
Ana Hunaka Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand, sebuah sekolah Islam yang berdiri kokoh di Lammai, desa yang berbatasan la...
-
Tarbiyah dalam Goresan Luka Selamat datang bulan Juli, bersamaan dengan akan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Masih terasa nyata inda...
-
Cintaku pada Ar-Rahman Aku tidak tahu kapan pertama kali jatuh cinta pada surat yang namanya merupakan salah satu Asma Allah al Husna ....
-
اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ 3 اَلَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعَاصِيْ ...
-
Judul: Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu Genre: Novel Penulis: Ni'matul Khoiriyyah Editor: Ni'matul Khoiriyyah Pen...
Selasa, 07 Maret 2017
Tentangmu yang Masih Menjadi Dhomir
Senin, 21 November 2016
Tiga Langkah Menuju Akad Nikah
Penulis : Ni’matul
Khoiriyyah, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Program Pascasarjana Magister,
IAIN Tulungagung
Tiga Langkah Menuju Akad Nikah
Mungkin agak janggal ketika tulisan dengan tema pernikahan ini ditulis oleh
seseorang yang belum menikah. Never mind, dunia ini luas, ilmu Allah
bertebaran di mana-mana. Ilmu Allah ada yang tertulis, ada yang tersebar dalam
wujud fenomena alam/kauniyah. Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah
madrasah. Kita sebagai ‘abd-Nya yang harus aktif mengakses ilmu-ilmu
Allah untuk bekal hidup kita fiddaroini.
Well, apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar/membaca kata “nikah”?
Ada yang langsung membayangkan sebuah akad yang khidmat, resepsi yang meriah,
kado yang melimpah, atau bahkan partner hidup yang setia walau kadang tak seiya
sekata. Atau ada yang memiliki gambaran buruk (na’udzubillah)
perceraian, pengkhianatan, penipuan, misalnya.
Setiap orang punya gambaran masing-masing tentang pernikahan, namun apakah
sebenarnya tujuan utama pernikahan itu? “Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum :
21)
Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Ternyata tujuan utama pernikahan adalah
ketentraman, ketenangan hati. Sejenak kita mengingat sejarah, bukankah Abuna
Adam a.s. di surga-Nya yang begitu indah dan sempurna masih merasa kesepian
padahal semua yang dibutuhkan dan diinginkan tersedia? Ternyata ada yang
kurang, apa itu? Sakinahnya hati, karena beliau membutuhkan seorang pendamping
lalu Allah hadirkan Ummuna Hawa’. Subhanallah, Maha Suci Allah yang
telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasang, untuk saling mengisi, saling
menguatkan, saling menentramkan, saling melengkapi dan saling berkasih-sayang
satu sama lain.
Ketika kita sudah mengetahui tujuan
utama pernikahan, langkah apa yang harus kita jalani untuk menuju akad nikah
yang berkah? Langkah pertama, mempersiapkan adalah jawaban terbaik. Bagaimana
mempersiapkan diri agar menjadi partner hidup yang setia dan mulia akhlaknya, mampu
melipur kala pasangan tengah gulana, mampu menghadirkan senyum kala pasangan
tengah terluka, mampu menghadirkan tawa saat rasa lelah menyapa, mampu
menghibur kala pasangan tengah berduka, mampu menjadi motivator terhebat untuk
mengajak taqarrub pada Pencipta. Subhanallah, andai semua tujuan dan
tugas-tugas mulia ini disadari oleh setiap pasangan tentu kebahagiaan abadi
senantiasa didapatkan. Meskipun hidup tidak penuh dengan kebahagiaan, namun
duka pun tak ada yang abadi. Hidup adalah rangkaian dari nikmat dan ujian,
bahagia dan duka, tangis dan tawa, luka dan karunia.
Langkah kedua, coba kita cermati petikan lirik lagu ini.
Bukan harta bukan rupa, bukan pula kehebatan
iman dan taqwamu sayang, mencintaimu
aku tenang
Ada lagi
Bukan karena cantik wajahmu aku sayang kamu
bukan karena harta ayahmu aku cinta
kamu
bukan karena senyum manjamu aku
sayang kamu
bukan karena kedudukanmu aku cinta kamu
luhur akhlakmu, kejujuranmu serta ilmumu
itulah yang membuatku tergila-gila padamu
dan satu lagi
soal miskin atau kaya bagiku tiada problema
yang penting dia setia, beriman serta bertakwa
Ternyata hal mendasar yang paling kita butuhkan dari seorang partner hidup
adalah keimanan dan ketaqwaan. Keluhuran akhlak, ilmu, dan kesetiaan adalah
penjabaran detail dari sifat orang yang berimtaq. Singkat kata, orang yang
takut kepada Allah, pasti takut menyakiti orang lain, apalagi pasangannya. Maka
ketika kita menikah dengan pria sholeh, jika dia mencintai kita, dia akan
memuliakan kita. Sebaliknya, jika dia tidak mencintai kita, dia tidak akan mendholimi
kita karena begitu takutnya ia kepada Allah, dan sadar akan tanggungjawabnya
setelah akad nikah. Dan ..., ketika imtaq adalah hal mendasar yang kita
butuhkan dari pasangan, maka kita pun harus menjadikan diri kita juga sebagai
orang yang berimtaq. Sebagaimana kita mendambakannya menjadi imam yang
berimtaq, ia pun mendambakan sosok makmum yang berimtaq.
Langkah ketiga, tanamkan keyakinan untuk berkomitmen. Bagaimana menanamkan
keyakinan? Tentu kita harus mempunyai kriteria sebagai pertimbangan. Pasangan
yang bagaimana yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan bersama di usia
dunia yang sudah tua ini? Pasangan yang bagaimana yang sekiranya sevisi dengan
kita untuk melahirkan generasi penegak panji-panji keislaman? Pasangan yang
bagaimana yang sekiranya mau berusaha bersama kita untuk mendidik putra-putri
yang akan menarik tangan kita ke surga? Tetapkan kriteria dan nomor satukan
agama, “fadhfar bi dzatiddin”. Setelah melewati tahapan kriteria,
setorkan proposal pada-Nya. Hanya Dia yang tahu siapa jodoh kita. Minta
petunjuk-Nya, istikharah, ajukan proposal sekaligus minta pertimbangan adakah
bagian yang perlu direvisi atau mungkin harus dirombak. Sekiranya sinyal ACC
sudah ada, yakini untuk berkomitmen bahwa kita akan sama-sama setia, menghadapi
apapun bersama-sama dalam naungan cinta-Nya. Dahulukan komitmen di atas rasa,
karena yang cinta belum tentu mampu berkomitmen, namun yang mampu berkomitmen
dengan penuh keyakinan, Allah akan tumbuhkan cinta itu secara natural.
Baik, karena tulisan ini ditulis oleh orang yang belum menikah, mohon yang
sudah menikah atau yang lebih berpengalaman memberikan masukan di kolom
komentar, apabila ada yang masih salah mohon diluruskan, apabila ada yang benar
silakan diambil hikmahnya, semoga bermanfaat dan barakah.
Hadanallah wa iyyakum
Semangat pagi J
Semoga yang belum menikah didekatkan dengan jodohnya dan dimudahkan jalan
persatuannya. Yang sudah menikah diberikan sakinah mawaddah wa rahmah dan mampu
menjadi uswah hasanah bagi yang belum.
Aamiin.
Kamulan, 15 Mei 2016
06.25
Kamis, 08 September 2016
Kuliah Perdana PBA 3 B IAIN Tulungagung
Perkuliahan kami diawali pada 8 September 2016,
satu bulan lebih cepat daripada tahun sebelumnya yaitu 8 Oktober 2015. Tentu banyak
hal baru yang unik, seru, da nada juga yang sedikit mengesalkan. Bagi seorang
Nina, keseruan ini terasa ketika tiba-tiba local yang di tahun lalu dikatakan
sebagai local 3 dan hari ini menjadi sebuah kantor kecil di mana sebagian
kelengkapan administrasi ada di ruang itu. Lho, kelasku di mana?
Lebih seru lagi ketika ternyata local 3 di hari
yang sama juga diklaim sebagai local PAI 1C. wah, apa-apaan ini? Pertama,
lokalnya hilang, kedua, lokalnya kres, dan ketiga, kenapa aku ketua kelasnya?
Hari pertama kami berlangsung nomaden. 3 mata
kuliah kami lalui di 3 ruang yang berbeda. Psikolinguistik di lantai 3, entah local
berapa itu. Kemudian Teknologi pembelajaran bahasa Arab di local 6 yang
mengingatkanku pada masa lalu, dan Manajemen Pembelajaran di local E7 lantai 3.
Wa qila, yang benar local untuk PBA 3 B adalah local
6, bersebelahan dengan PBA 3 A yang di local 7. Wa lakin, sikon yang cukup
menggoda seperti padamnya penerangan di lantai dua saat maghrib membuat kami
harus berhijrah ke tempat yang lebih tinggi.
Sedikit ulasan mengenai Psikolinguistik, bahwa manusia
memiliki tahapan-tahapan dalam pemerolehan bahasa, begitu juga dalam
mempelajari bahasa. Dari sisi teori, memang berbeda antara pemerolehan bahasa
dengan belajaran bahasa. Dalam pemerolehan tidak ada kesengajaan, sebaliknya
dalam belajar bahasa, memang individu sengaja ingin bisa dan menguasai suatu
bahasa tertentu.
Dalam sebuah selingan, dosen kami Dr. Jazeri
sekilas membahas tentang jodoh. Bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Setiap
orang punya jodoh. Tapi mengapa ada yang cepat dipertemukan, ada yang tidak?
Dalam Islam ada istilah mukafa’ah, sekufu’ atau
selevel. Tentu bukan dari segi lahiriah, tapi kualitas jiwa masing-masing. Ibaratnya,
yang laki-laki di lantai 4, yang perempuan di lantai 2. Mereka sama-sama sudah
ada, tapi belum bisa bertemu, karena mereka di lantai yang berbeda. Satu-satunya
jalan adalah si laki-laki menunggu sang perempuan naik ke lantai 4. Nah, berapa
lama naiknya, ini yang wallahu a’lam. Atau sebaliknya, yang perempuan sudah di
lantai 4, laki-lakinya masih di lantai 2. Maka yang laki-laki harus menyusul
dulu ke lantai 4 baru bisa bertemu. So … apa yang membuat kita masih di lantai
bawah? Bisa jadi ada dosa-dosa yang mungkin belum ditobati. Maka tugas kita
adalah memperbaiki kualitas diri, kualitas jiwa, agar segera berada di level
yang sama dengan jodoh kita.
Next … dalam perkuliahan Teknologi Pembelajaran
Bahasa Arab bersama Dr. Lukluk, dosen yang tetap terlihat fresh, cantik, ceria
dan penuh semangat meski sudah mengajar dari pagi sampai senja tanpa duduk dan
belum break kecuali shalat, ada satu rahasia yang beliau bagikan. Apa itu? Cintailah
mengajar dan jadikan itu hobi, maka segala beban akan lepas. Wow, super sekali
ya J
And the Last, dalam perkuliahan Manajemen
Pembelajaran Bahasa Arab bersama Dr. Agus, beliau menjelaskan bahwa cakupan
pendidikan lebih luas daripada pembelajaran. Karena focus pembelajaran adalah
pendidik, peserta didik, kurikulum, materi, sedangkan cakupan manajemen
pendidikan bisa meliputi keuangan, sarpras, sehingga focus mata kuliah ini
adalah pada pembelajaran khususnya bahasa Arab.
But, hunaka something yang membuat hatiku
bergetar, saat beliau menanyakan kapan tanggal pernikahanku karena beliau
pernah mendengar kabar bahwa aku akan menikah dalam waktu dekat ini. Oh, I am
so sorry, rencana indah itu belum terealisasi karena ketiadaan restu dari pihak
wali calon mempelai wanita karena maybe ada isyarat istikharah yang kurang
khoir. Never mind, Allah sudah merencanakan yang lebih baik, ikuti saja scenario-Nya
sambil perbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan.
Ok, selamat berjuang menuju MASTER Pendidikan
Bahasa Arab. Barakallah
Sabtu, 16 Juli 2016
Setetes Embun Cinta
Setetes Embun Cinta
By Ni’matul Khoiriyyah
Qothrunnada namanya, ketua kelasku, PBA 2 C, Si Manis pecinta warna ungu
dan pink yang selalu gelisah bila ada yang mendahuluinya mengumpulkan tugas ke
dosen. Ia terlihat manja namun cekatan. Setiap tiba jam pergantian mata kuliah
ia segera berlari ke kantor untuk menjemput dosen yang akan mengajar. Mungkin dulu
pernah nyantri di pesantren salaf, pikirku. Takdhimnya pada dosen layak
diacungi jempol. Seperti namanya, Qothrunnada memang laksana tetesan embun yang
selalu jernih dan menyejukkan.
Tanpa sadar, aku telah memperhatikannya diam-diam. Ia sangat menghargai
waktu. Kalau tidak percaya, coba saja buat janji untuk bertemu dengannya. Jangan
lupa pasang CCTV. Bisa kupastikan, Nada akan hadir sekitar dua puluh menit
sebelum waktu yang kaujanjikan dengannya. Kalau berjanji akan bertemu dengannya
jam delapan, jangan coba-coba berangkat dari rumah jam delapan, jangan! Kamu
akan malu sendiri, karena jauh sebelum jam delapan dia sudah tiba.
Tak hanya itu, dia juga lihai dalam merampungkan tugasnya. Wanita bergolongan
darah A biasanya memang sangat rapi dalam mengatur jadualnya. Kapan ia akan
bekerja, kapan ia akan bersantai. Bahkan sempat aku mengintip jadwal harian
yang terselip dalam buku agendanya. Mungkin tidak sengaja terbawa ke kampus. Dari
pukul 03.00 dini hari sampai pukul 23.00 semua jadualnya tercatat rapi.
Semakin lama aku semakin mengaguminya hingga akhirnya aku melakukan
istikharah dan aku merasa yakin, inilah bidadari yang selama ini kucari. Sudah ada
di dekatku selama ini. Satu kelas dalam perkuliahanku strata satu. Wanita seperti Nada lah yang kuharapkan menjadi
ibu dari anak-anak sholehku kelak, Insyaallah.
“Ketua kelas, tolong catatkan untuk saya nama teman-teman yang datang
terlambat di perkuliahan saya hari ini,” pesan Pak Rahman sebelum meninggalkan
kelas. “Kalau sudah, langsung bawa ke ruangan saya.”
“Baik, Ustad,” jawab Nada singkat.
Semua keluar setelah Pak Rahman meninggalkan lokal perkuliahan. Hanya ada
Nada yang masih merekap nama-nama mahasiswa yang terlambat, dan aku yang ingin
sejenak berbicara dengannya. Aku sudah yakin dengan pilihanku, dan aku yakin
ini saatnya aku mengatakan yang sejujurnya.
“Nada,” sapaku. “Boleh aku minta waktu sebentar? Ada yang ingin
kubicarakan.”
“Nanti ya, setelah kuserahkan kertas ini ke Ustad Rahman,” ujarnya sambil
menunjukkan rekapan yang dipesan dosen.
“Sebentar saja, Nada. Nggak sampai lima menit kok.”
“Maaf, Faruq, tadi ustad pesan ‘kalau sudah, langsung bawa ke ruangan saya’,
iya kan?”
“Baiklah. Maaf. Aku tunggu di gazebo, ya. Temui aku setelah dari kantor.”
***
“Lama, ya? Maaf, tadi ada yang ustad bicarakan soal teman-teman,” ujar Nada
setelah kembali dari kantor. Ia duduk di depanku, berbatasan dengan meja
bundar. Sepoi angin menghembus jilbab lebarnya yang sedikit berkibar.
“Kamu mau bicara apa, Faruq?” tanyanya kemudian.
Haruskah aku berbasa-basi atau langsung? Gadis ini membuatku sedikit gugup.
“Faruq, ada apa?”
“Emm ... begini, Nada, maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, apakah saat ini
kamu dalam pinangan ikhwan?” tanyaku memberanikan diri meski hatiku berdebar
kencang dan darahku mengalir deras.
Nada tersenyum dan menggeleng pelan. “Kamu ada calon untukku?” pertanyaan
Nada seperti menampar jiwaku. Bagaimana aku mengatakan kalau aku calonnya.
“Nada, bolehkah aku mengkhitbahmu? Aku siap menemui orang tuamu,” tanyaku
dengan penuh harap.
Gadis itu merapikan ranselnya, tersenyum, berdiri lalu berkata, “Faruq,
belajar dulu aja,” jawabnya lalu pergi.
Aku cukup tercengang dengan jawaban tegasnya. Hati wanita tidak mudah
ditebak. Belajar dulu? Dia menolakku secara halus, atau menerimaku? Aku harus
menanti atau beranjak? Dia mengikatku atau tidak sama sekali?
Ponselku berdering. “Ruq, datang ke MAN sekarang ya! Ditunggu Waka
kurikulum,” SMS dari Huda.
Alhamdulillah, aku mendapat jam tambahan mengajar Bahasa Arab di MAN dan
menjadi pembimbing ekstrakurikuler Masrohiyah.[1]
Lalu bagaimana dengan tafsiranku atas
jawaban Nada? Ah, baiklah. Kalau memang dia mengatakan ‘belajar dulu’, mungkin
seharusnya aku dan dia merampungkan kuliah dulu. Cinta adalah perjuangan,
bukan? Jika ini memang belum saatnya kutemui orang tua Nada, biar kuperjuangkan
cintaku dalam diam terlebih dahulu. Aku sudah yakin memilihnya, tugasku adalah
menghalalkan perasaan ini bila tiba saatnya. Nada milik Allah, dan dititipkan
pada orang tuanya. Kalau aku menginginkan Nada, aku harus minta izin pada Allah
dan meyakinkan orang tua Nada bahwa aku mampu bertanggungjawab sepenuhnya atas
puteri mereka. Bismillah, ridhoilah cintaku padanya.
Hari demi hari berlalu. Semakin besar keyakinanku. Ia gadis yang mulia dan
berilmu. Ia pandai menjaga kemuliaan dirinya. Ia masih sendiri hingga sekarang.
Iya. Tak terasa kami sudah di penghujung semester delapan. Sudah lulus dalam
sidang skripsi dan tinggal menanti wisuda. Mungkin ini saatnya aku bicara lagi
dengannya.
“Nada, sekarang kita tinggal menanti wisuda. Sudah bolehkah aku
mengkhitbahmu?” tanyaku padanya setelah mengumpulkan revisi skripsi gelombang
satu di ruang administrasi.
“Kalau kamu memang serius dan niatmu sudah benar, silakan temui orang
tuaku, Mas Faruq,” jawabnya lalu beranjak ke parkiran.
Mas? Dia menyapaku ‘mas’? subhanallah, semoga dan semoga niat baikku
diterima dengan baik oleh keluarganya. Baiklah, Nada, aku akan datang menemui
orang tuamu.
***
Suasana asri masih kurasakan saat memasuki lingkungan sekitar rumah Nada. Di
sinilah gadis manis sholihah itu bercengkerama dengan ayah ibu yang
menghebatkannya. Sungguh luar biasa orang tuanya. Dalam tanggung jawab dan
penjagaan merekalah aku bisa bertemu dengan Nada yang cantiknya lahir batin.
Kuketuk pintu beriring ucapan salam. Keluarlah seorang ibu yang kupastikan ia
adalah ibu Nada. Kukecup tangannya dan aku dipersilakan masuk. Kuawali dengan
perkenalan singkat dan sejenak basa-basi sambil menanti ayah Nada keluar. Namun
rupanya ayah Nada belum berkenan menemuiku, hingga akhirnya kuutarakan niatku
untuk meminang Nada di hadapan ibunya.
Aku pun segera pulang setelah menyampaikan tujuanku dan menitipkan salam
takdhim untuk ayah Nada. Hatiku sudah cukup lega meski belum kuperoleh jawaban
pasti. Aku tak memiliki cukup waktu untuk meladeni rasa penasaranku karena
harus mempersiapkan anak-anak kelas XI yang akan menampilkan masrohiyah di
acara purnawiyata kelas XII.
Esoknya bakda subuh, kuterima SMS dari Nada. “Mas Faruq, temui aku di
belakang rektorat jam 9.”
Syukurlah hari ini aku ke MAN setelah Dhuhur, jadi aku bisa menemui Nada
terlebih dahulu. Sengaja aku datang setengah sembilan, karena aku yakin sepuluh
menit lagi Nada pasti sudah sampai.
“Kamu sudah lama, Mas?” sapanya saat melihatku. “Maaf kalau aku terlambat.”
“Tidak, Nada. Kita janjian jam sembilan kan? Kamu tidak terlambat sama
sekali. Sengaja aku datang lebih awal. Katakan, apa jawaban orang tuamu.”
Dengan ekspresi wajah yang sedikit kuatir ia ceritakan semuanya. Malam sebelum
Faruq datang, ibu Nada bermimpi buruk. Dalam bayangannya, Faruq adalah awan
hitam yang begitu gelap dan tebal. Mimpi itu membuat orang tua Nada kuatir
bahwa itu adalah pertanda buruk. Mereka tidak bisa menerima pinanganku.
“Jadi, ayah dan ibumu belum bisa menerimaku?”
Nada mengangguk. “Maafkan aku, Mas.”
Sejenak kuhela nafas. “Nada, aku minta maaf kalau harus mengatakan ini. Mimpi
buruk itu belum tentu dari Allah. Bisa jadi itu bawaan dari pikiran negatif. Mungkin
dari awal ibumu tidak senang denganku hingga akhirnya perasaan itu terbawa ke
dalam mimpi dan berwujud mimpi buruk. Itu belum tentu isyarat dari Allah, Nada.
Alasan penolakan itu tidak syar’i. Insyaallah, aku akan melamarmu dua
minggu lagi.”
***
Waktu yang kujanjikan telah tiba. Aku datang untuk kedua kalinya ke rumah
Nada. Masih seperti kali pertama. Ayahnya tetap tidak berkenan menemuiku dan
aku hanya bisa menyampaikan pinanganku lewat ibunya.
Esoknya, Nada menemuiku dan menyampaikan jawaban dari orang tuanya. Sebuah masjid
yang berdiri kokoh di samping rumah Nada menjadi alasan. Mereka menganggapku tergabung
dalam aliran A, sedangkan mereka B. Tidak mungkin aku bisa menjadi imam di
masjid mereka bila kami berbeda aliran karena dalam beberapa hal tata cara
shalatnya berbeda. Itu anggapan mereka. Padahal, sebenarnya sama. Aku juga B
seperti mereka dengan tata cara shalat yang sama.
“Nada, aku semakin tidak mengerti saja dengan maksud orang tuamu. Tuhan kita
sama kan? Nabi kita sama kan? Rukun Islam dan Iman kita sama kan? Lalu apa yang
salah, Nada? Apakah Rasulullah dulu dari aliran A? Apakah Khadijah dari aliran
B? Fatimah? Ali? Nada, kita masih seiman. Aku tidak bisa menerima alasan itu. Insyaallah,
Dua minggu lagi aku akan meminangmu untuk yang ketiga.”
***
Begitu cepatnya waktu berlalu. Ini saatnya aku meminang Nada untuk yang
ketiga kalinya. Semoga aku berhasil. Bantu aku, Ya Robb! Aku yakin dia yang
terbaik untukku.
Tidak kusangka, kali ini aku tetap hanya berhadapan dengan ibu Nada. Lagi-lagi
kusampaikan maksud kedatanganku dengan tanpa keraguan sedikitpun. Seperlunya saja, aku segera pulang setelah
tujuanku tersampaikan.
Dua hari kemudian Nada menemuiku, masih di tempat yang sama, belakang
rektorat. Namun kali ini kulihat raut wajahnya begitu muram. Ia ceritakan padaku
kemarahan ayahnya. Belum lama, sahabat sekaligus tetangga Nada dinikahi oleh
seorang pria dari Jawa Barat. Hanya tiga hari menjalani kehidupan sebagai
pengantin baru, sang suami langsung meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Karena
aku pun orang Jawa Barat, aku dilarang menikahi Nada karena mereka kuatir hal
yang sama akan terjadi pada Nada.
“Subhanallah, Nada, boleh aku bertanya padamu?”
Gadis itu hanya terdiam dan tertunduk lesu seolah kehilangan harapan
terbesarnya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya sampai seperti ini. Sungguh andaikan
halal, aku ingin memeluknya dan mengatakan kepadanya bahwa aku tak pernah pergi
darinya.
“Nada, tolong kamu jawab pertanyaanku. Apa kamu yakin padaku?” tanyaku
pelan.
Ia mengangguk pelan.
“Alhamdulillah,” ucapku bangga padanya. “Nada, aku sudah yakin dengan
pilihanku, dan pilihanku hanya satu yaitu kamu. Tiga kali aku meminangmu, tiga
kali aku tidak ditemui oleh ayahmu, dan tiga kali mereka menolakku. Tapi aku
tetap yakin, Nada. Kamulah wanita terbaik yang Allah karuniakan padaku, yang
akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Nada, jika alasan penolakan orangtuamu itu
syar’i, aku pasti mundur. Tapi aku melihat, penolakan mereka tidak syar’i,
bukan lillah, tapi karena ego mereka masing-masing. Mereka tidak melihat
keseriusan dan ketulusan kita. Hati mereka belum terbuka untuk melihat
kesungguhan kita.”
Aku terdiam sejenak. Kulihat butiran air jernih terjatuh dari sudut mata
Nada.
“Nada, kamu serius denganku? Jawablah, kamu mau hubungan kita berakhir atau
dilanjutkan?” tanyaku sekali lagi.
Ia menyeka air matanya lalu menjawab, “Dilanjutkan, Mas.” Sejenak ia
menatapku lalu menunduk kembali.
“Baiklah Nada, kalau kamu memang mau hubungan kita dilanjut, ayo kita
berjuang bersama-sama. Kalau ucapanku dan ucapanmu belum bisa mengetuk hati
mereka, biar Allah yang menyampaikan niat baik kita pada orang tuamu. Nada,
selama empat puluh hari ke depan, kita istiqomahkan qiyamullail, dhuha, dan
puasa sunnah. Semoga dengan jalan ini Allah bukakan hati mereka. Kamu bersedia?”
“Aku bersedia, Mas.”
***
Aku berpisah dengan Nada sejak itu, tanpa komunikasi sama sekali. Namun di
hari ke dua puluh tujuh, tiba-tiba Nada datang menemuiku di serambi masjid
kampus. Raut wajahnya tampak bahagia. Aku berharap ia mebawa sepoi angin surga.
“Mas, kamu diminta menemui ayah,” ucapnya.
“Ayah, Nada?” tanyaku tidak percaya.
“Iya, Mas. Bisa kan? Besok sore, ya. Tapi tidak di rumah yang Tulungagung. Besok
kami di Kediri. Dan pesan Ayah, aku tidak boleh memberitahu alamat kami. Mas
yang harus cari tahu sendiri. Ayah tunggu jam 4 sore.”
Ada apa gerangan ayah Nada mengundangku di Kediri. Semoga ini pertanda
baik, Ya Robb. Namun aku tetap siap andaikan kali ini ayah Nada akan memarahiku
habis-habisan karena tiga kali melamar putrinya.
“Wan, kamu tahu rumah Nada yang di Kediri?” tanyaku pada Iwan saat akan
mengambil air wudhu untuk shalat Dhuhur.
“Kalau tidak salah, sekecamatan dengan rumah Fadil. Kamu tahu rumah Fadil
kan? Datanglah ke sana dan minta dia mengantarkanmu. Insyaallah dia tahu rumah
Nada,” kata Iwan. “Kamu mau melamarnya lagi? Kuakui, kamu luar biasa, Faruq. Aku
salut dengan kegigihan dan keyakinanmu. Berkali-kali ditolak dan kamu sama
sekali tidak beranjak sedikitpun dari Nada. Perjuangan cintamu patut diteladani.”
Iwan menyuguhkan kedua jempolnya padaku.
“Aku memang sudah tiga kali. Tapi entah kali ini. Ayahnya yang
mengundangku.”
“Semoga berhasil, Ruq.”
***
Tanpa kuduga ban motorku bocor. Ini sudah Dhuhur. Kalau harus menunggu
selesai menambal, sudah pasti aku terlambat. Ayah Nada pasti kecewa. Motor siapa
yang harus kupinjam saat ini?
“Kamu belum berangkat, Ruq?” sapa Iwan yang kebetulan lewat depan
kontrakanku.
“Ban depanku bocor, Wan.”
“Kamu bawa aja motorku. Biar aku yang urus motormu. Aku sedang menganggur. Cepat
berangkatlah ke rumah Fadil.”
Iwan memang sahabat terbaikku. Pasti Allah yang menggerakkannya untuk
datang tepat di saat aku membutuhkan. Setelah kuucap terima kasih dan
kutinggali beberapa lembar rupiah, aku meluncur ke Kediri dengan motor Iwan. Pukul
dua siang aku telah sampai di rumah Fadil. Kuceritakan singkat kisah
perjuanganku dengan Nada sebelum aku minta bantuannya untuk menunjukkan
alamatnya.
“Kamu sudah makan, Ruq?” tanya Fadil. “Kita makan dulu, ya. Istriku baru
aja masak sayur asem. Setelah ini baru aku antar kamu ke sana. Hei, mau melamar
harus punya power. Kalau perlu, kamu mandi dulu juga boleh. Harus membuat kesan
yang meyakinkan calon mertua, hehe.”
Kuikuti semua saran Fadil yang sudah lebih senior dariku. Dia sudah setahun
berumah tangga, sedangkan aku masih berjuang untuk membangun rumah tangga. Pukul
tiga sore mendadak hujan turun dengan
derasnya. Aku sungkan dengan Fadil. Tidak mungkin aku mengajaknya menerjang
hujan sederas ini. Namun Fadil tidak mau hanya memberikan alamat Nada. Dia ingin
menemaniku menemui ayah Nada.
Baiklah, dengan bismillah kami menerjang hujan. Kami sempat panik ketika
melalui jalan yang tergenang air motor kami mogok hingga tiga kali. Ujian cinta
dari-Nya sungguh luar biasa. Tapi syukurlah, kami tiba di rumah Nada pada pukul
empat kurang lima menit.
Setelah sejenak merapikan diri kami pun mengucap salam dan mengetuk pintu. Kali
ini Nada yang membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Ibu Nada menyajikan teh
hangat, kemudian Ayah Nada keluar menemui kami di ruang tamu.
“Mana yang namanya Faruq?” tanya ayah Nada.
“Saya, Pak,” jawabku.
“Kamu serius dengan anak saya?”
“Saya serius dengan puteri Bapak. Dan saya siap bertanggung jawab lahir
batin kepadanya.”
“Baiklah, kamu saya terima,” ujar ayah Nada sambil menepuk sebelah bahuku
beriring senyum ramahnya.
“Alhamdulillah ...,” ucapku dan Fadil bersamaan.
“Saya ingin membicarakan tanggal akad nikah kalian, tapi tidak hanya
denganmu, Faruq. Ajaklah orang tuamu silaturrahim ke sini.”
“Terima kasih, Pak. Saya akan sampaikan kabar bahagia ini untuk orang tua
saya di Ciamis.”
Alhamdulillah, perjuangan dan kesabaran yang kujalani bersama Nada berbuah
manis pada akhirnya. Aku diijinkan untuk mempersunting seorang bidadari yang
kecantikannya berpendar dari hati.
Thomas Alva Edison hampir menyerah ketika ia sudah mendekati keberhasilan
namun akhirnya ia terus berjuang dan berhasil. Aku pun sudah diambang kegagalan
andaikan di penolakan yang ketiga Nada mengatakan ‘berhenti’. Alhamdulillah, terima
kasih untuk pintu hati yang Engkau bukakan bagi kami, Ya Robb. Sujud syukur
pada-Mu, kupanjatkan selalu. Jadikanlah aku dan bidadariku, hamba yang taat
pada-Mu.
Terima kasih, Robb ... untuk setetes embun cinta-Mu J
Kamulan, 17 Juli 2016
Senin, 11 Juli 2016
Dahan Cintaku pada Ana (Part 2)
Tiada kusangka nikmat-Nya hari ini
untukku begitu besar. Segalanya tak terduga. Aku tak pernah membayangkan, gadis
yang selalu diceritakan oleh Ustad Fahri kini akan menjadi istriku. Aisya Balqis
Fahria, baru pertama kali ini aku menyebut nama lengkapnya. Si manis berjilbab
hijau pupus, anggun, santun nan berwibawa. Ya Allah, nikmat-Mu yang mana lagi
yang akan kudustakan? Engkau telah menghadiakan untukku seorang bidadari
bermata jeli yang sangat kucintai dan akan kujaga sampai mati. Ridhoilah kami
untuk bersatu, Ya Rabb.
“Fatih, sepulang dari rumah Ustad
Fahri kamu terlihat sangat bersemangat. Ada apa sebenarnya? Pasti ada yang
lebih dari sekedar judul skripsi yang diACC. Kamu tidak ingin bercerita
denganku?” tanya Zein sambil menyiapkan kecap, saos dan sambal di meja saji.
Zein adalah sahabat setiaku, teman berjuangku dalam
mendirikan warung soto sederhana ini. Dari warung inilah, kami bisa melunasi
biaya kuliah. Kami sama-sama dibesarkan di panti asuhan. Kami telah bersama
sejak kecil hingga tidak layak bagiku merahasiakan apapun darinya.
“Kamu ingat gadis yang selalu
diceritakan ustad Fahri?”
“Iya. Lalu?”
“Ternyata, gadis itu adalah putri
beliau sendiri.”
Zein langsung menghentikan langkahnya yang
hendak mengambil sendok. “Jadi, kamu di sana lama sekali itu karena …,”
“Iya, Zein. Gadis itu bernama
Balqis. Dia menghampiriku ketika sebuah dahan mangga tiba-tiba terhempas dari
pohon dan nyaris menimpaku.”
“Lalu?” tanya Zein bersemangat.
“Mas, bungkuskan soto ayam tujuh
ya!” suara seorang konsumen yang ternyata sudah datang pada jam sedini ini.
Terpaksa kuakhiri sementara ceritaku
pada Zein yang termakan penasaran. “Iya, Mbak, silakan duduk!” sahutku.
“Dengan nasi terpisah atau tanpa
nasi, Mbak?” tanya Zein.
“Tanpa nasi.”
Pukul 22.30 seperti biasa aku dan
Zein menutup warung lalu pulang ke kontrakan untuk beristirahat. Rupanya, Zein
masih penasaran dengan kelanjutan ceritaku. Usai berjamaah Isya, kami
melanjutkan obrolan yang terputus.
Kuceritakan perkenalanku dengan
Balqis dan saat-saat Ustad Fahri mengutarakan maksudnya untuk memilihku sebagai
pendamping putrinya. Sayang, Zein terlalu menikmati ceritaku hingga ia pun tertidur
sebelum aku selesai bercerita. Hh ..., seolah ceritaku menjadi dongeng
pengantar tidurnya.
Dalam hening malam yang beriring rintik hujan kusujudkan mukaku sebagai ungkapan syukurku pada-Nya. Satu juz
lagi. Mudahkan aku, Ya Rabb, ijinkan aku menikahinya untuk menjalankan sunnah
Rasul-Mu yang mulia. Aku mencintainya.
Kuambil segera mushafku dan kudekap
erat sebelum kubaca. Aku sadar, mahar yang akan kuberikan pada Balqis berupa 30
juz hafalan al-Qur’an bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya hafalannya saja,
melainkan aku pun harus bertanggung jawab atas ayat-ayat yang kulantunkan. Aku
bertanggung jawab untuk menjadi imam bagi Balqis dengan berlandasan al-Qur’an
dan sunnah. Ya Allah, tanggung jawab atas sebuah akad pernikahan begitu besar
adanya. Mampukanlah hamba-Mu ini untuk menjadi imam yang baik bagi istriku
kelak, agar kami senantiasa Engkau satukan hingga ke jannah-Mu.
“Fatih, semalam kamu cerita apa?” tanya Zein ketika kami baru sampai di kampus. “Maaf, aku tertidur.”
“Aku akan menikah. Doakan, ya!”
“Menikah? Dengan Balqis? Kamu akan jadi
menantu Ustad Fahri?”
“Insya Allah.”
Zein memelukku. “Aku
bahagia mendengarnya. Semoga lancar dan berkah.”
“Aamiin, makasih, Zein. Semoga kamu juga
segera bertemu jodohmu.”
“Lalu, siapa temanku meracik soto ayam?”
“Lalu, siapa temanku meracik soto ayam?”
“Hehe, rekrut saja karyawan baru.”
Hari ini agendaku dan Zein adalah konsultasi
bab dua ke Ustad Amin. Kami sudah membuat janji untuk bertemu di kantor beliau
pada pukul 09.30. Namun pada jam yang sudah dijanjikan ternyata kantor fakultas
Tarbiyah tutup. Kulihat ada sebuah note
kecil di pintu. Kubaca note itu.
“MAAF, SEDANG TAKZIAH KE RUMAH Dr. FAHRI
MUSTOFA DI PERUMAHAN PUSPA ASRI”
Ya
Allah, persendianku seolah patah semua. Yang kutahu, Ustad Fahri hanya tinggal
berdua dengan putrinya di perumahan itu. Sedangkan istri dan putra beliau tinggal
di kota lain. Jika tertulis takziah ke rumah Ustad Fahri di perumahan Puspa
Asri, maka itu artinya yang meninggal adalah ....
“Tidak, Ya Allah ...
Tidak!” bisikku gelisah dengan air mata yang tiba-tiba keluar.
“Fatih, tenangkan dirimu.
Itu belum tentu Balqis. Mungkin lebih baik kita ke sana,” ujar Zein yang
berusaha menenangkanku.
Seorang satpam kebetulan
lewat dan Zein menghentikannya. “Maaf, Pak, siapa keluarga Pak Fahri yang
meninggal?”
“Kalau saya tidak salah
dengar, anaknya, Mas. Kepalanya tertimpa dahan pohon saat ingin menolong anak
tetangganya yang bermain petak umpet di bawah pohon itu. Baru tadi pagi
kejadiannya. Dia kehilangan banyak darah dan meninggal dalam perjalanan ke
rumah sakit.” jawab satpam itu.
Aku terduduk di kursi
tunggu yang tersedia di depan kantor fakultas. Sungguh, tubuhku seolah tak
bertulang rasanya. Aku tak sanggup menopang tubuhku sendiri. Ini seperti
hantaman asteroid yang menghancurkan dan meluluhlantahkan hatiku. Apa maksud
dari semua ini, Ya Allah?
“Mbak Balqis itu cantik
lho, belum nikah pula. Kabarnya mau penelitian untuk skripsi di Kairo. Nggak
nyangka dia meninggal secepat ini,” ujar mahasiswi yang lewat sambil berbincang
dengan rekannya.
“Iya, kasihan sekali ustad
Fahri, pasti sangat terpukul,” kata kawan bicaranya.
Hatiku benar-benar hancur
bahkan aku tak tahu di mana puing kepingan hati ini. Bidadari itu telah pulang
pada Penciptanya di saat aku belum sempat mengucap akad untuk menghalalkannya.
Aku belum sempat mendampingi penelitiannya. Aku belum sempat mengimami
shalatnya walaupun satu kali.
“Balqis sudah pergi, Zein.
Calon istriku telah meninggal,” ucapku berturut-turut.
Zein merangkulku dan
membangkitkanku. “Aku turut berduka atas kejadian ini. Tabahkan hatimu. Allah
punya kehendak yang lebih baik di balik semua ini. Percayalah! Ayo, kita ke
rumah Ustad Fahri sekarang. Setidaknya, kalau kamu tidak berkesempatan untuk
menjadi imam shalat bagi Balqis, kamu masih berkesempatan untuk menshalatkan
jenazahnya.”
Ucapan Zein semakin
menusuk hatiku. Ya Allah, kenapa aku hanya berkesempatan untuk ini?
Menshalatkan jenazah calon istriku? Sanggupkah aku, Ya Rabb?
Zein menarik lenganku
pelan dan aku mengikutinya berjalan ke parkiran. Ia bergegas membawaku ke
Perumahan Puspa Asri, kediaman Ustad Fahri. Setibanya kami di sana, jenazah
baru usai dikafani kemudian dimasukkan ke dalam keranda. Inilah waktu untuk
menshalatkannya.
Aku tak peduli pada
dosen-dosen yang bertakziah. Yang kutemui pertama adalah Ustad Fahri. Aku
menangis di pelukan Ustad Fahri yang tidak sempat mengabariku tentang kepergian
putrinya. Baru kemarin, gadis yang terbalut kafan suci ini menyeduhkan
secangkir teh untukku. Tiada kusangka sama sekali, senyumnya kemarin adalah
senyum terakhirnya yang dapat kulihat. Sapaannya padaku adalah sapaan terakhir
yang kudengar. Tatapan teduhnya kini tak kudapati lagi.
“Imami kami untuk
menshalatkannya, Nak!” pinta Ustad Fahri yang tampak menahan kepedihan
mendalam.
“Apakah saya sanggup
berada di hadapan jenazah calon istri saya, Ustad?” tanyaku.
“Tidak ada kesempatan lain
selain saat ini, Fatih. Imamilah kami!”
Di hadapan keranda Balqis,
Ya Allah ... aku mohon pada-Mu, ijinkan dia berada di taman surga-Mu untuk
menantikanku. Aku mencintainya dan ia mencintaiku, Ya Rabb .... jika tak sempat
bersatu di dunia fana ini, satukanlah kami di surga-Mu yang abadi.
Fa ya amali wa ya
sakani
Wa ya unsi wa mulhimati
Yathibu al-‘isyu
Mahma dlaqat al-ayyamu in thibti
Dahan cinta yang mempertemukan kita kemarin
Tlah pisahkan kita hari ini
Kemarin ia jumpakanku denganmu
Hari ini ia jumpakanmu dengan Rabbuna
Balqis, Cintaku, hari ini aku menshalatkanmu meski air
mata ini terus membanjiri
Tahukah engkau, sesungguhnya aku ingin tatkala salam ini kuucap, kaulah
yang mengecup punggung tanganku
Namun hari ini, aku hanya mampu menatap kerandamu
Oh, Balqis ... Jelitaku, jadilah bidadariku
Di surga-Nya yang abadi
Ketahuilah Balqisku ...
Muhammad Fatih-mu
ingin segera mendampingimu
Dahan Cintaku pada Ana
“Seeeees ... Bruk!” sebuah dahan pohon
tiba-tiba jatuh tepat satu meter di sampingku yang sedang berkelana mencari
rumah seorang dosen di sebuah komplek perumahan. Alhamdulillah, dahan yang berdiameter kurang lebih 10 cm dengan panjang hampir 2 m itu tidak
menimpaku. Padahal aku hanya berjalan kaki dan
Rupanya, suara jatuhnya dahan pohon mangga ini mengundang
perhatian beberapa orang untuk keluar rumah demi memastikan suara apa yang
jatuh. Namun setelah mereka tahu bahwa itu hanya suara dahan pohon yang patah,
mereka kembali masuk ke rumah masing-masing. Tapi ada satu yang berbeda, seorang
gadis manis berjilbab hijau pupus menghampiriku. “Mas tidak apa-apa? Mas tidak tertimpa dahan pohon ini kan?” sapanya ramah dengan ekspresi cukup kuatir.
“Terima kasih, Mbak, saya tidak apa-apa,” jawabku tenang.
“Kalau boleh tahu, Mas mau kemana? Kok berjalan kaki?”
“Tadi motor saya dibawa teman ke warnet, dia ngeprint
tugas kuliahnya. Saya sedang mencari rumah Ustad Fahri, dosen saya.”
Gadis itu lalu tersenyum dengan manisnya. “Ustad Fahri
dosen Bahasa Arab, Mas? Mari saya antar. Itu rumah beliau yang berpagar hijau
muda,” ucapnya sambil menunjuk ke arah kanan, lima rumah dari depan rumah yang
dahan mangganya jatuh.
“Senada dengan warna jilbab Mbak,” cetusku dan ia tersipu.
“Mas beruntung, tidak sampai tertimpa dahan pohon itu.
Ukurannya cukup besar untuk membuat seseorang amnesia.”
“Hehe, dan saya beruntung karena dahan pohon itu
mempertemukan saya dengan Mbak,” kuhentikan ucapanku. “Eh ..., maaf, maksudku,
karena pohon itu Mbak keluar dan mengantar saya ke rumah dosen yang saya cari.
Hm ..., boleh tahu siapa nama Mbak?”
“Aisya Balqis Fahria, panggil saja Balqis,” jawabnya.
“Mas?”
“Muhammad Fatih, panggil saja Fatih,” ucapku. “Jadi, Mbak ini putrinya Ustad Fahri?”
Ia mengangguk pelan. Tak terasa kami sudah sampai di
depan rumah berpagar hijau. Ia membuka pagar kemudian mempersilakanku duduk di
teras sementara ia memanggil ayahnya. Begitu ayahnya mengizinkan, Balqis
mempersilakanku masuk ke ruang tamu.
“Tunggu sebentar ya, Mas, Ayah masih menulis. Mungkin
sebentar lagi selesai.”
Balqis masuk dan aku menunggu dosenku keluar. Jadi ini,
gadis yang sering Ustad Fahri ceritakan saat mengajar di kampus. Benar-benar
seperti Ana Althafun Nisa. Ia lembut, sangat santun dan ... cantik. Pasti ia
pun semahir ayahnya yang begitu lihai dan luwes saat mengajar Bahasa Arab.
Tak lama kemudian Balqis kembali dengan dua cangkir teh.
“Silakan diminum, Mas. Ayah belum keluar juga?”
Aku tersenyum sambil menggeleng perlahan. Saat itu Ustad
Fahri keluar. Aku menghampiri beliau dan mencium tangan mulianya. Balqis
kemudian masuk ke dalam. Aku pun segera menjalankan misiku untuk mengajukan
judul skripsi temanku yang sedang PPL di Pattani Thailand. Maklum, Ustad Fahri
tidak suka konsultasi online, sehingga beliau meminta Rozi, temanku, untuk
mengirim semua berkasnya padaku untuk kucetak dan kukonsultasikan pada Ustad
Fahri, dosen pembimbingnya. Sementara aku sendiri tengah menyusun bab dua dari
skripsiku di bawah bimbingan dosen lain.
“Judul yang menarik. Suruh Rozi untuk segera menyusun
proposal. Katakan, judulnya sudah saya ACC.”
“Alhamdulillah, syukron, Ustadz.”
“Isyrob ya Akh, hadza al-syayu min binti al malihah,”[1]
canda beliau. “Kamu sudah berkenalan dengannya?”
“Sudah, Ustad.”
“Dia juga sedang mulai menyusun skripsinya. Dua bulan lagi
dia akan penelitian di Kairo.”
“Subhanallah, berapa lama Ustad?”
“Mungkin sekitar dua bulan juga.”
Aku semakin dibuat terkesima oleh gadis ini. Ia
benar-benar seperti jelmaan Ana Althafun Nisa. Tapi apakah aku mampu menjadi Abdullah
Khairul Azam yang dicintainya?
“Fatih,” sapa Pak Fahri.
“Iya, Ustad,” jawabku.
“Hafalanmu sudah selesai?”
Aku terkejut bukan main. Bagaimana bisa Ustad Fahri tahu
kalau aku sedang menghafal Kalam Ilahi.
“Jawab jujur, Fahri.”
“Kurang satu juz lagi, Ustad.”
“Kamu sudah ada calon?” tanya beliau tiba-tiba.
“Maksud Ustad calon apa?”
Ustad Fahri tersenyum menepuk bahu kiriku. “Fatih,
sebelum ini saya membicarakan apa, maka dhomir yang saya ucapkan pasti
kembalinya pada yang terdekat, atau sebelumnya lagi.”
“Calon Balqis?” tanyaku sedikit gugup. “E ... calon
istri?”
“Iya, calon istri.”
Hatiku berdegup kencang.
Pertanyaan ini jauh lebih mengejutkan daripada melihat pohon yang runtuh
tiba-tiba tanpa angin dan tanpa hujan.
“Belum, Ustad,” jawabku.
“Kamu bersedia menikah
dengan Balqis dan mendampinginya penelitian di Kairo? Saya butuh seseorang yang
saya percaya untuk mendampinginya di sana. Dan saya tahu kamu mahasiswa saya
yang paling amanah. Setiap semester saya melihat perkembangan kamu dan saya
yakin, kamu lelaki yang pantas untuk putri saya. Saya ingin kamu tidak hanya
mendampinginya penelitian, tapi juga menjadi imam untuk putriku, selamanya.”
“Tapi, Ustad, apakah Mbak
Balqis bersedia menikah dengan saya? Saya ini bukan siapa-siapa, Ustad. Kalau
dibandingkan dengan Mbak Balqis, saya tidak ada apa-apanya. Saya hanya orang
biasa, besar di panti asuhan dan sekarang sedang belajar sambil berjualan soto
ayam di dekat asrama mahasiswa sepulang kuliah. Terus terang, saya malu, Ustad,
saya merasa tidak pantas mendampingi putri Ustad, mohon maaf.”
Ustad Fahri masuk sejenak
dan kembali dengan membawa sebuah buku karya Kang Abik, ‘Ketika Cintaku
Bertasbih’. “Kamu pernah membaca buku ini?” tanya beliau.
“Pernah, Ustad.”
“Apakah Furqon yang bisa
membahagiakan Ana?”
“Bukan, Ustad.”
“Lalu siapa?”
“Azam.”
“Kamulah Azam itu. Azam dalam
buku ini berjualan tempe, kemudian berjualan bakso, dan Azam di hadapanku
berjualan soto ayam. Apakah salah kalau Ana mendapat kesakinahannya dari Azam?
Dan apakah salah kalau Balqis menjadi istrimu? Fatih, kamu sudah memiliki nama
orang hebat, Muhammad Fatih, penakluk Konstantinopel, dan kamu sudah
menaklukkan hati putriku ketika aku menceritakan padanya tentangmu. Hari ini
kau datang tanpa perjanjian dan tanpa kuundang. Itu artinya jodoh putriku telah
tiba.”
Lidahku terasa tak mampu
untuk menjawab lagi. Aku tidak tahu mengapa dosenku yang satu ini bisa
menyamakanku dengan Azam. Azam yang sangat mendalam pemahaman agamanya,
sedangkan aku tidak sehebat itu. Azam yang jelas dari keluarga baik-baik meski
sederhana, sedangkan aku tak tahu diriku ini anak siapa. Lalu, Sultan Muhammad
Fatih? Jelas aku tidak ada apa-apanya dibanding Sang Penakluk itu. Allah,
kuserahkan pada-Mu segala urusanku.
“Balqis, kemarilah, Nak!”
panggil Ustad.
Gadis itu dengan aura
kemuliaannya keluar menghampiri ayahnya. Ustad Fahri tepat di antara aku dan
Balqis. Hatiku semakin tak karuan. Pikiranku seolah melayang ke Kairo sebelum
waktunya.
“Nak, lingkungan perumahan
kita ini sepi. Kamu tentu sudah mendengar semua percakapan kami berdua.
Katakan, Nak, apakah kamu bersedia menjadi istri Fatih yang sederhana ini?”
Balqis hanya terdiam,
namun ia tersenyum dengan raut yang sangat bahagia. Kemudian ia mengangguk
pelan.
“Alhamdulillah, kau lihat
sendiri, Fatih?”
“Alhamdulillah, Ya Allah.”
Kusapukan kedua telapak tanganku ke muka. “Saya tidak tahu harus mengucapkan
apa lagi. Hadza min fadhli Robbi. Syukron, Ustad, syukron Mbak Balqis. Tapi,
mahar apakah yang pantas saya berikan untuk Mbak Balqis, Ustad?”
“Sempurnakan hafalanmu,
dan itu akan menjadi mahar istimewa bagi putriku,” jawab Ustad Fahri. “Kamu
sanggup?”
“Insya Allah. Doakan saya,
Ustad.”
Langganan:
Postingan (Atom)