Entri Populer

Kamis, 03 Desember 2015

Hikmah di Balik Keterlambatan



Rabu, 2 Desember 2015, hari itu aku bermaksud mengunjungi perpustakaan kampus untuk menemukan referensi sebagai bahan penyusunan makalahku. Aku ingin berangkat lebih awal agar bisa lebih lama di sana dan memperoleh lebih banyak rujukan. Ternyata kesibukan di pagi hari begitu banyak sehingga aku baru bisa keluar dari rumah pada pukul 08.13.
Aku baru selesai mengenakan flat shoes-ku ketika sebuah bus favoritku berinisial HJ melintas. Bus ber-AC dengan tarif standar dan kru yang cukup ramah merupakan pilihan pertamaku saat ingin terbang ke kampus, baru kalau sudah tertinggal aku ikut bus lain. Rasa sesal cukup meliputiku saat itu. Aku belum menyeberangi jalan raya dan si HJ sudah melintas. Itu artinya aku sudah terlambat sekian detik. Aku pun berandai-andai, andaikan sekian detik yang lalu aku sudah di seberang sana.
Ah, biarlah. Aku pun menyeberang. Tepat saat aku sampai di seberang jalan, sebuah bus kecil berinisial RJ nampak dari selatan. “Bus kecil?” batinku. Bus itu yang akhirnya membawaku. Aku sedikit bertanya-tanya sebenarnya. Biasanya kalau aku sudah tertinggal HJ, aku harus menunggu 10 sekitar 10 menit untuk mendapatkan bus berikutnya (meskipun bukan HJ juga). Tapi, kenapa baru saja HJ melintas, RJ sudah datang? Ada jadwal yang salah kah atau memang keberuntunganku saja yang baru menyeberang langsung bisa duduk.
Seperti biasa kuawali perjalananku dengan lantunan syahadat, asmaul husna, ayat kursi, al Baqarah 284-284-286 kemudian shalawat fatih dalam hati sambil menikmati perjalanan. Tak beberapa lama usai melintasi GOR Lembu Peteng, kulihat si orange HJ rusak di bagian sudut kanan belakangnya, kaca depannya pun pecah. Para penumpang terlihat berdiri di sekitar bus dengan ekspresinya masing-masing. Ada yang terlihat shock, panik, ada yang ekspresinya datar saja. Oh, ternyata baru saja HJ mengalami kecelakaan. Entah bagaimana kronologisnya yang jelas bus itu rusak sekarang. Syukurlah tidak ada korban jiwa, namun tentu menyisakan trauma pada beberapa orang.
Hatiku bergetar. “Ya Allah, aku selalu Kau buat terkesima dengan skenario indah-Mu,” bisik hatiku. Tuhanku Yang Maha Kuasa selalu punya banyak cara untuk menyelamatkanku. Dia tahu aku tidak suka keterlambatan tapi aku dibuat-Nya terlambat untuk bisa selamat. Alhamdulillah, terima kasih telah membuatku terlambat hari ini, Ya Rahman.
Di tengah renunganku Sopir RJ langsung menatapku dan berkata, “Sampean maeng sujune ora melu kui. Wong kacek’e ndak adoh karo iki. Aku arep ngendeki sampean maeng kui nyalip aku. Rodok ugal-ugalan pancene.” (yang nggak paham bahasa Jawa bisa tanya terjemahnya J)
Aku langsung teringat cerita tentang seorang Kyai, sebut saja Kyai A. Suatu hari beliau hendak menghadiri undangan ceramah di suatu tempat. Sayang sungguh sayang, di tengah perjalanan, si sopir yang mengemudikan mobil Kyai A tiba-tiba sakit perut. Sopir pun mencari SPBU terdekat untuk memenuhi hajatnya. Yang namanya sakit perut tentu butuh waktu lama di toilet. Tidak terasa, si sopir sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Kyai A mulai risau dan kesal karena berkali-kali panitia menelepon dan bertanya kenapa belum sampai juga di tempat ceramah padahal jama’ah sudah banyak yang hadir. Kesabaran Kyai A sudah mencapai limit karena terlambat 2 jam. Beliau mengungkapkan kekesalannya pada si sopir yang sebenarnya tidak bersalah karena tidak pernah memesan untuk sakit perut pada jam kerjanya itu.
Hajat si sopir telah tuntas dan ia siap mengemudi untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat ceramah. Sekian kilometer perjalanan berlalu, terlihat sebuah sedan ringsek karena  bertabrakan dengan truk container. Tiga orang penumpang sedan meninggal seketika dan terlihat orang-orang masih berusaha mengeluarkan mereka dari sedan itu.
Seketika, Kyai A meneteskan air mata dan memeluk si sopir. Kalau diperhitungkan, sangat besar kemungkinan sedan Kyai A menjadi korban amukan container yang sopirnya mengantuk itu andaikan sopir Kyai A tidak berhenti lama di SPBU untuk buang hajat.    
Sungguh, indah nian skenario-Nya. Hanya saja kita sebagai manusia seringkali tergesa berburuk sangka, padahal Dia telah menyiapkan segalanya begitu rapi dan indah. Dia punya banyak cara untuk menyelamatkan hamba-Nya, di antaranya dengan keterlambatan kita dari jadwal yang kita rencanakan. Namun, ini bukan berarti kita bisa menyengaja keterlambatan dengan sak karepe dewe, tidak. Selagi bisa, kita tetap harus berusaha untuk on time, andaikan ternyata terlambat, itu sudah di luar kuasa kita.

Hadanallah wa iyyakum, wallahu a’lam

Jumat, 23 Oktober 2015

Aku Imammu, Sayang



(AIS)

            Awal mula aku tidak menyangka pria yang tinggal serumah denganku ini akan menjadikanku sebagai isterinya. Perawakannya sederhana namun romantis. Yang bagiku luar biasa darinya adalah kesabarannya yang bukan hanya tingkat dewa, tapi sudah tingkat sidrotul muntaha.
            Aku tipe wanita yang tak peduli dianggap ketinggalan zaman. Aku nyaman dengan diriku sendiri yang anti pacaran. Tidak ada kata pacaran dalam catatan harianku. Kalau jatuh cinta mungkin aku hanya memendam rasa dan tidak dengan menjadikan rasa cintaku sebagai pintu pacaran.
            Hampir dua tahun yang lalu aku masih menyandang status sebagai mahasiswi IAIN Tulungagung semester tujuh. Saat itu mungkin aku dan Fara, sahabatku yang berstatus wanita single di kelas. Teman-temanku hampir 80 % berpacaran 15 % menikah sedangkan 5 %-nya aku dan Fara yang belum menikah, tidak pula berpacaran. Meski demikian aku dan Fara merasa nyaman, tidak merasa resah dengan status single yang kami sandang hingga wisuda.
            Beberapa minggu pasca wisuda, datanglah Mas Husain melamarku. Ia temanku sejurusan pada waktu kuliah namun beda kelas. Dia di kelas A dan aku di kelas B. Anehnya, aku yang saat itu tidak mencintainya sama sekali langsung saja yakin menerima lamarannya. Ah, mungkin itu pertanda kalau dia jodohku. Bagiku, entah diawali dengan cinta atau tidak, kalau jodoh pasti klik.
            Usai menggelar acara pernikahan, aku dan Mas Husain mulai berbagi cerita. Ternyata ia sudah lama memperhatikanku. Ia sudah sejak lama mencintaiku namun rasa cinta itu mendewasakannya hingga ia berusaha untuk mandiri sedini mungkin sebelum tiba waktunya mempersuntingku. Sungguh, aku mulai kagum padanya. Ia begitu rapi mengelola rasa cintanya hingga siap lahir dan batinnya untuk memilikiku tanpa pernah mengungkapkan cinta sebelumnya.
            Untuk pertama kalinya ia bisikkan pada telinga kananku, “Aku mencintaimu, Dik,” ucapnya malam itu.
            Hatiku berdebar, jantungku berdegup kencang. Ada getar-getar tak wajar saat kudengar bisikan itu. Aku bahkan baru menyadari kalau ia telah menjadi suamiku. Aku bukan lagi wanita single, tapi aku adalah Nina Salsabila, istri yang sah dari Husain Ahmad Zaki.
            Meski hatiku berdebar mendengar bisik cintanya, aku belumlah jatuh cinta padanya. Aku juga tak menjawab ucapannya. Aku hanya membiarkannya menatapku dalam-dalam dengan nasihat panjangnya yang merupakan didikan pertama yang kuterima darinya sebagai suamiku.
            “Dik, hari ini lafaz kabul telah kuucapkan. Kamu adalah tanggung jawabku. Kita satu visi sekarang. Aku ingin kita bekerjasama, aku ingin memudahkan jalanmu ke surga, dan aku ingin kamu memudahkan jalanku ke surga. Taatlah padaku selagi aku benar, dan tegurlah aku bila aku salah melangkah. Kamu bersedia menjalankan misi ini denganku?” tanya Mas Husain.
            Aku hanya mengangguk tanpa tersenyum dan dia mengecup keningku dengan begitu mesra. Ah, entah terbuat dari apa hati pria ini. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan sikapku yang kurang respek padanya.
            “Kamu akan melepas riasan?” tanyanya.
            Aku mengangguk.
            “Apa aku perlu keluar?” ia tersenyum.
            “Maaf, Mas, aku belum terbiasa,” kataku.
            “Baiklah, aku akan keluar selagi kamu berganti pakaian. Panggil aku kalau sudah selesai.”
            Ah, apa-apaan aku ini? Dia suamiku, kenapa aku harus bersikap seperti ini? Bahkan rasanya aku masih belum rela melepas jilbab ini dan membiarkannya melihat mahkotaku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku memang belum mencintainya. Aku hanya yakin menikah dengannya, itu saja.
            Hari demi hari berlalu dan aku mulai terbiasa dengannya. Aku tak lagi canggung melepas jilbabku di hadapannya. Aku mulai nyaman merias diriku tanpa harus memintanya keluar kamar terlebih dahulu. Sayang, aku tetap belum jatuh cinta.
            Ah, aku ini bagaimana? Aku selalu dingin walau ia romantis. Senyumku terlalu mahal untuk kuberikan padanya. Hingga suatu hari saat aku pulang dari sekolah terlalu sore dan ia memintaku segera berwudhu dan berjamaah dengannya, aku justru marah-marah.
 “Mas, kamu nggak ngerti aku capek baru pulang? Aku mau rebahan sejenak. Tolong, mengertilah!”
            “Dik, ini sudah hampir jam lima,” ujarnya lembut.
            “Iya, aku tahu!” bentakku. “Udah, kamu sholat aja duluan, nggak usah nunggu aku! Aku capek, Mas. Nanti juga aku sholat.”
            Ia terduduk lesu mendengar teriakanku, sedangkan aku mengabaikannya dan langsung merebahkan badan di kamar beberapa menit. Suami yang tidak pengertian! Bisanya hanya mengatur, menyuruh dan menasihati.
            Aku tertidur dan ia membangunkanku saat jelang maghrib. “Dik, kamu sudah sholat Ashar kan?” tanyanya lembut.
            Aku terkejut dan segera melihat jam di dinding, lima menit lagi maghrib. Aku segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Ya Robb, ternyata aku datang bulan. Aku sudah kehilangan waktu Asharku. Aku telah berbuat dosa.
            Aku kembali ke kamar untuk mengambil handuk, tapi Mas Husain terus menatapku seolah menahan amarahnya. “Kamu belum shalat Ashar, Dik? Dan sekarang kamu mau mandi sedangkan tiga menit lagi sudah maghrib?” tanyanya lembut.
            Aku segera meraih tangannya dan kugenggam. “Maafkan aku, Mas, ternyata aku udzur, dan aku ... aku kehilangan sholat Ashar. Boleh aku mandi sekarang? Aku akan mengqodho sholatku bila aku sudah suci nanti, Mas.”
            Mata suamiku berkaca-kaca. Namun ia terlihat menegarkan hati untuk menghadapiku. “Dik Nina, apa kamu tidak pernah merasa betapa besar rasa cintaku padamu?” tanyanya sambil menatapku dalam-dalam.
            “Maafkan aku, Mas.”
            “Dik, kamu tahu kenapa aku selalu mengingatkanmu tentang sholat saat kamu di luar? Kamu tahu kenapa aku selalu mengajakmu berjamaah saat di rumah? Itu karena cintaku padamu, Dik. Andaikan Allah berkenan memasukkanku ke surga, satu-satunya wanita yang ingin kugandeng bersamaku adalah kamu. Andaikan kehidupan dunia ini telah berakhir, satu-satunya wanita yang ingin kulihat di akhirat nanti adalah kamu. Dan jika ternyata aku tak pantas menjadi penghuni surga-Nya, maka kamulah yang kuharap menarik lenganku ke surga. Dik Nina, aku imammu, Sayang. Aku suamimu. Aku bertanggung jawab atas dirimu. Aku menggenggammu, maka peliharalah sholat sebagai peganganmu, Istriku. Aku takut Allah mengazabku karena gagal membimbingmu ke jalan-Nya. Dan aku lebih takut bila Allah murka padamu karena lalai pada perintah-Nya,” tuturnya.
            Aku menundukkan kepala. Tak berani aku menatap mata Mas Husain yang penuh kasih. Terbuat dari apa hati pria ini? Menakjubkan! Mengapa sudah sejauh itu pikirannya yang bahkan hal itu tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Jadi karena ini? Pantas saja, saat aku tidak di rumah ia selalu mengirim pesan dan menanyakan “sudah sholat?”, padahal aku selalu iri dengan guru-guru lain yang menerima pesan dari suaminya berupa pertanyaan “sudah makan?”
            “Mas, boleh aku memelukmu?” tanyaku.
            Ia mendekapku erat dan untuk pertama kali aku menangis di pelukannya. Ia membelai rambutku dengan lembutnya seperti seorang ibu saat menenangkan putrinya yang menangis.
            “Mas, aku minta maaf. Aku berjanji akan selalu patuh padamu,” ujarku.
            Ia mengusap air mataku dan tersenyum. Untuk yang pertama kali juga aku tersenyum padanya sejak ia menjadi suamiku. Ia mengecup dahiku lalu berkata, “Aku ke masjid dulu, ya, kamu mandi. Oh ya, persediaan pembalutmu masih cukup, Sayang? Kalau tidak, nanti sepulang dari masjid akan kubelikan.”
            Aku tersenyum lagi. Sungguh selama ini aku telah mendustakan nikmat-Nya. Betapa beruntungnya aku memiliki Mas Husain yang begitu sayang padaku. Aku baru sadar, suamiku mumtaz jiddan.
            “Mas, mendekatlah padaku, aku ingin membisikkan sesuatu,” pintaku.
            Ia mendekat dan kubisikkan padanya, “Uhibbuka Ya Zauji al mahbub.”
            Ia tersenyum dan rona bahagianya begitu terlihat. Bagaimana tidak, hampir setahun kehidupan rumah tanggaku berjalan dengannya dan baru kali ini aku menyatakan cintaku. Aku baru jatuh cinta padanya setelah sekian lama aku bersamanya.
            “Sayangnya istriku belum mandi, jadi nanti saja kupeluknya. Aku berangkat dulu, Sayang. Assalamu ‘alaikum ....”
            “Wa’alaikumus Salam ..., jangan lupa belikan pembalut ya, Mas.”
            “Baik, tapi aku mau hadiahnya seminggu lagi.” J

           

Jumat, 16 Oktober 2015

Cinta Perawan




          Mohon maaf sebelumnya, jangan terlalu memelototi judul ini dan jangan terlalu kemana-mana pikiran Anda berkelana ..., Oke?!
Mengetik terasa melelahkan apalagi berlembar-lembar, lama, dan naskah yang diketik merupakan percampuran dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Bisa dipastikan, sebentar-sebentar harus menekan Alt+Shift lalu merapikan paragraf. Untuk itu, perlu menciptakan suasana yang kondusif ketika mengetik. Bagi saya, mengetik cukup nikmat apabila diiringi MP3, baik itu murattal maupun musik. Setidaknya hal ini bisa sedikit mengurangi kejenuhan.
            Adapun koleksi MP3 yang sering menemaniku mengetik di antaranya “Abatahu-Langitan”, “Ya Ummi-Ahmed Bukhatir”, “Cinta Terbaik-Cassandra”, “Citra Cinta, Senandung Rindu-Rhoma Irama”, “Tanah Airku”, “Jangan Jatuh Karena Cinta tapi Bangun Cinta-Setia Furqon Kholid,” “In Aankhon Mein Thum-OST Jodha Akbar”, “Robbi Kholaq Toha, Ya Robbi bil Mustofa-Ar-Ridwan”, “Hijrah Cinta-Rossa”, “Serpihan Cinta-UJE”, “Tereliye”, “Mars IAIN TA” dan “لغتي العربية”. Ada satu kesan yang kurasakan hingga membuatku merinding ketika kudengarkan lagu “Jangan Jatuh Cinta tapi Bangun Cinta” yang dipopulerkan oleh Setia Furqon Kholid, motivator termuda se-Asia Tenggara.
            Segera aku berhenti mengetik naskah yang dipesan dosenku lalu kutulis catatan ini. Lirik yang membuatku merinding adalah, “Aku ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan saat ijab kabul telah tertunaikan.” Kenapa merinding? Yang ditekankan dalam lirik itu adalah RASA CINTA yang masih menjadi cinta perawan. Artinya apa? Menurut pemahamanku, si penyanyi ingin memberikan PERASAAN CINTANYA hanya kepada pasangan halalnya setelah ijab-kabul.
 Perasaan, tentunya ini bukan hal yang mudah. Berbeda dengan ekspresi, kata, dan semua hal yang bersifat fisik. Anda mungkin bisa membayangkan, bagaimana memperawankan perasaan cinta agar hanya pasangan halal saja yang memilikinya setelah ijab Kabul. Mungkin kita bisa menjaga ekspresi, menjaga kata, menjaga fisik hingga semua itu termiliki oleh yang halal tanpa dimiliki yang lain sebelumnya. Namun jika harus memberikan perasaan cinta yang masih baru, bisakah?  Bukankah sebelum sampai ke akad nikah kita pernah merasakan virus pink pada seseorang, kemudian karena suatu sebab rasa cinta itu beralih pada yang lain, kemudian yang lain lagi, baru kemudian rasa cinta itu sampai pada seseorang yang menikah dengan kita. Masih perawankah rasa cinta yang sampai pada pasangan itu? Bukankah sebelumnya kita pernah merasakan cinta pada yang lain? Artinya, pasangan kita (mungkin) bukan cinta pertama dan terakhir, ia hanya menempati posisi yang terakhir saja. Mungkin hanya seribu satu yang menjadikan pasangannya cinta pertama dan terakhir sekaligus cinta satu-satunya.
Sungguh, aku merinding ketika mendengar Aku ingin rasa cinta ini masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan saat ijab kabul telah tertunaikan.” Seolah lirik ini menampar hatiku. Sudah berapa orang yang aku cintai namun (pada akhirnya) ternyata bukan untukku. Masya Allah ..., riak-riak sesal pun muncul dan begitu banyak tanda tanya, mengapa aku mencintai mereka yang bahkan tidak pernah mengucap Qabul di hadapan waliku? Bukankah seharusnya rasa cinta itu hanya kupersembahkan pada yang mengucap “Qobiltu”? Aku mungkin bisa menjaga ragaku hanya untuk Sang Imam, tapi sayang, aku pernah memiliki rasa cinta pada yang lain dan itu artinya, lirik lagu di atas benar-benar menampar hatiku.
Baik, yang lalu biarlah berlalu dan kita mulai lembaran baru. Ada sebuah meme yang bertuliskan “Jangan menikah hanya karena jatuh cinta, namun menikahlah karena kamu yakin ridho dan surga Allah lebih dekat jika kamu bersamanya.” Lalu, apakah tidak boleh menikah karena cinta? Boleh, boleh sekali justru itu sangat bagus, karena apa? Ada ahli ruhaniyah yang mengatakan bahwa pada saat sepasang zauj-zaujah sedang bercinta akan tetapi si zauj membayangkan mar’ah lain maka ia dianggap berzina. Na’udzu billah! Dengan demikian cinta itu perlu, tapi lebih pertimbangkan lagi “Fadhfar bidzatiddin”, agar pernikahan bernilai ibadah karena Allah menciptakan manusia “Liya’buduun” hanya untuk beribadah kepada-Nya. Bukankah sangat indah bila sesuatu yang kita sukai dihitung sebagai ibadah?
Lalu bagaimana dengan rasa cinta yang masih perawan? Ketika akad nikah telah tertunaikan maka satu saja yang berhak atas cinta kita, lahir maupun batin, yaitu pasangan kita. Kita mungkin tidak bisa menjadikannya yang pertama dan terakhir, tapi dialah yang terakhir, maka tugas kita adalah memperawankan kembali rasa cinta kita agar dia menjadi satu-satunya, La ghoir. Bismillah, ayo ndandani ati ...!

Sabtu, 10 Oktober 2015

Ketika Hati Merindu



Kerinduan
by Ni'matul Khoiriyyah
                Rindu merupakan perasaan ingin mengulang atau ingin merasakan kembali suatu peristiwa yang pernah berlalu bersama orang tertentu dalam suasana tertentu . Tentunya yang dirindukan adalah sesuatu yang indah dan berkesan. Hal ini biasanya diawali dengan rasa sayang karena tidak mungkin merindu tanpa menyayangi. Seorang ibu rindu pada anaknya karena sayang, seorang istri merindukan suaminya karena sayang, seorang murid merindukan gurunya karena sayang, dan sebagainya.
                Ada juga yang merasa tidak menyayangi tapi merasa rindu. Ini bisa terjadi karena intensitas pertemuan yang mula-mula sering kemudian semakin jarang bahkan bisa jadi tidak pernah bertemu lagi. Misalnya, pada usia-usia remaja seringkali terjadi pertengkaran dengan teman. Ada yang hobi menggoda, ada yang hobi mengganggu, ada yang jail, ada yang usil, sehingga yang diganggu merasa kesal dan benci. Namun ketika si pengganggu tidak lagi mengganggu, dia justru merasa rindu. Kok aku nggak diganggu lagi ya? Kok sekarang begini ya? Nah, lho ..., kalau tidak menyayangi kenapa merindu? Karena ada hal yang berkesan meskipun tidak sayang. Sehingga ketika hal itu tiba-tiba menghilang, yang datang adalah kerinduan.
                Kerinduan kadang begitu menyiksa apabila obatnya sulit ditemukan. Bagi alumni, obat rindu adalah reuni, bagi sebuah perpisahan obat rindu adalah pertemuan atau setidaknya komunikasi jarak jauh. Apa yang terjadi jika semua obat rindu itu tidak bisa dikonsumsi? Bukankah batin akan tersiksa? Bukankah air mata enggan bermuara? Bukankah senyum terasa nestapa? Bukankah tawa terasa hampa?
                Ada 2 hal yang bisa menjadi penawar rindu ketika resep utama di atas tidak bisa ditebus; doa dan tulisan.
1.       Doa
Doa merupakan salah satu cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Doa mampu menjangkau apa yang tak terjangkau oleh tempat dan waktu. Ketika kita merindukan seseorang namun tak mampu mengobati kerinduan dengan berkomunikasi langsung dengannya, maka merengkuhnya dalam doa Insya Allah akan menenangkan gejolak rindu yang menggebu. Satu saja syarat yang harus kita penuhi dalam berdoa, “Jangan meragukan kuasa Sang Mujibu al-Da’awaat”. Artinya, dalam berdoa kita harus yakin bahwa doa kita akan terkabul. Kita harus yakin bahwa seindah dan sesempurna apapun rencana maupun impian kita, Sang Khaliq-lah yang Maha tahu dan Maha kuasa untuk menentukan dan memberikan yang terbaik untuk kita. Maka bisikkan pada-Nya, “Robb, aku merindukannya, aku merindukan suasana itu, maka ijinkanlah hamba-Mu ini bersua kembali dengannya, merasakan kembali keindahan itu dengan kuasa dan iradah-Mu. Engkaulah Yang Maha Tahu mana yang terbaik untukku yang dha’if ini. Titip mereka, Ya Robb, Engkaulah Yang mampu menjaga mereka dengan baik dalam naungan-Mu.”
2.       Tulisan
Seseorang bisa mendadak menjadi pujangga ketika hatinya sedang bahagia atau sedang galau dan merindu. Artinya apa? Dalam suasana hati tertentu, seseorang memilki begitu banyak rangkaian kata dan kalimat indah yang apabila dituangkan dalam tulisan, beban hatinya akan berkurang. Begitu banyak inspirasi yang bertebaran ketika kita sedang berbahagia, kata-kata cinta, kalimat-kalimat manis meluncur begitu saja dalam benak kita. Demikian pula sebaliknya ketika sedang galau ataupu merasa rindu, kalimat-kalimat puitis kadang meluncur begitu saja. Sayang, kan, kalau semua itu tiba-tiba hilang dalam sekejap? Mengapa tidak menulisnya walaupun hanya dalam diary? Setidaknya, bila kita sedang berbahagia, itu akan mengabadikan kebahagiaan kita dan mengingatkan kita suatu hari nanti. Kita akan tersenyum ketika membacanya. “Oh, aku pernah melewati masa-masa indah itu.” Dan apabila kita sedang gundah, setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban agar tidak menggunung di hati.

Tidak menutup kemungkinan, penulis catatan ringan ini sedang merasakan kerinduan. Iya, Nina memang sedang merindu. Ketika raga terpisah oleh luasnya samudera, ketika jarak menjadi dinding untuk bersua, ketika waktu menjadi penghalang sementara untuk bertemu, ketika kesempatan itu belum menjadi jembatan, maka doa dan tulisan yang menjadi pelipur lara.
Berawal dari jumpa
Tumbuh menjadi kasih sayang
Terjaga karena setia
Teruji oleh suka duka
Bersemi dengan cinta
Merindu tuk bersua
Denganmu, keluargaku di Patani Thailand