Entri Populer

Kamis, 04 Oktober 2018

Profil Penulis Mas Ustadz The Series

*Profil Penulis Novel*
*Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu*

Novel bersampul hijau sejuk dengan siluet sepasang kekasih halal ini ditulis oleh Ni'matul Khoiriyyah, putri KH. Muhammad Hasan dan Hj. Siti Sopiyah. Penulis berdomisili di Kamulan, Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, lahir pada tanggal 27 Juli 1993, bertepatan dengan 7 Shafar 1414. Ni'mah menempuh pendidikan dasar di MIWB Hidayatut Thullab Kamulan (2005), pendidikan menengah di SMPN 1 Durenan (2008), MAN Kunir Wonodadi (MAN 3 Blitar) 2011, kemudian melanjutkan studi di IAIN Tulungagung dengan prodi Pendidikan Bahasa Arab (S1, 2015 dan  S2, 2017).

Penulis merupakan dosen baru di IAIN Kediri. Selain itu, penerjemah abstrak skripsi dan tesis ini juga melayani bimbel siswa SD/MI, dan privat Bahasa Arab di *An-Ni'mah Arabic Private Course.*

Kakak dari Muhammad Yusuf Saifulloh ini merupakan anggota grup kepenulisan Ode Literasi, binaan Suhardiyanto, dan Aku Bisa Menulis, yang didirikan oleh M Husnaini. Novel Mas Ustadz The Series ini merupakan buku solo ketiganya setelah Ketika Tasbihku Bertahmid (2014), dan Diary Ramadhan Ni'mah (2015).

Beberapa judul karyanya yang masuk dalam buku antologi; Senandung Cinta Karena Allah (Pelangi Inspirasi), Isabella 2013 (a Letter for My Prince), Ketika Cintaku Bertakbir (Cinta Bersemi di Pelaminan), Imam Sholeh Pilihan Ayah (Catatan Cinta untuk Ayah), Modus (Masa Lalu yang Membekas di Hati), Izinkan Aku Merengkuh Hatimu (Pantaskah Aku Mencintaimu), Tembok Besar Cinta (Dalam Tahajud Cintaku), Bidadari Surga (So, Please!), Senja Cinta Isabella (Yang Menanti Senja), Cinta itu ... (Ketika Hati Berpuisi), Diary Cinta sang Bidadari (Kitab Cinta), Imam Impianku (Kupinang Dia dengan Bismillah), Ramadhan Karim (Cahaya Ramadhan), Membaca Membuka Cakrawala, Menulis Menggerakkan Dunia (Geliat Literasi IAIN Tulungagung), Dear Imanku (Letter for Love), Jemari yang Menghanyutkan (Medsosku Sayang, Medsosku Malang), Mendidik Buah Hati dengan Cinta (Mendidik Anak di Era Digital), IJOW (Goresan Cinta untuk Bunda), Cinta Pertamaku (Goresan Cinta untuk Bunda), Surat Untuk Jodohku Tercinta (Ungkapan Hati), dan Ya Habibal Qalbi (Ikhtiar Cinta).

Berawal dari tugas menulis diary dan melanjutkan cerita bersambung saat belajar Bahasa Indonesia di SMP, Ni'mah mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Ia mulai unjuk diri saat mondok di Al Kamal dengan beberapa karyanya yang terpampang di Mading pesantren. Berbagai even pun diikutinya hingga lahirlah lebih dari 20 buku antologi dan 3 buku solo dalam 5 tahun terakhir.

Dunia cinta dengan nuansa religius seolah tidak pernah lepas dari tema tulisannya. Baginya, menulis berarti menebarkan cinta dan kebaikan. Menulis dapat mengurangi beban pikiran dan perasaan. Menulis dapat menambah teman dan memperluas persaudaraan, serta mempererat jalinan dan kedekatan jiwa dengan pembaca. Dan kebahagiaan seorang penulis adalah ketika ada pembaca yang terinspirasi oleh tulisannya, lalu bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Misalkan, setelah membaca Mas Ustadz The Series, sang suami menjadi lebih penyayang dan setia kepada istri, keduanya semakin sadar akan kewajiban masing-masing, paham apa yang harus dilakukan untuk saling  membahagiakan, saling dukung, saling mengerti, dsb.

Karena sebagaimana mengajar, menulis juga bisa menjadi ladang pahala dan amal jariyah, yaitu apabila pembaca mengamalkan apa yang disampaikan penulis dalam karyanya. Semoga karya sederhana ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi penulis dan para pembaca, sehingga kebahagiaan hakiki dunia akhirat mampu kita raih bersama.
Aamiin.


Senin, 06 November 2017

Dhomir Na



Dhomir Na
oleh: Ni'matul Khoiriyyah

Cuaca malam yang sejuk beriringan gerimis membuatku ingin menyetrika. Setelah tiga potong kemeja Mas Ustadz kusetrika, kulihat dia tengah asyik mengetik soal UTS.  Sementara antrean baju yang hendak disetrika masih cukup menggunung. Ah, rasanya tidak afdhol kalau aku tidak mengganggu pria yang terlihat khusyuk di depan layar itu.
"Mas Ustadz," sapaku.
"Iya, Dik. Apa?" tanyanya pelan.
"Apa sih istimewanya dhomir Na?" kuletakkan sejenak setrika lalu kusemprotkan pelicin di pakaian.
"Oh, lagi belajar Nahwu ya, Dik?"
Aku menggeleng. "Mas Ustadz kan lihat aku lagi nyetrika."
"Ya, siapa tahu istriku ini tangannya menyetrika, hatinya lagi buka Ibnu 'Aqil, hehe," candanya.
"Wah, ide bagus itu Mas. Tapi, jawab dulu pertanyaanku, Mas Ustadz."
"Iya, iya, Dik. Sini, Sayang!" ucapnya dari meja belajar. Terlihat ia menutup laptopnya entah karena sudah selesai atau karena kuganggu.
"Tapi aku belum selesai nyetrika, Mas," ujarku.
"Udah, matikan dulu, nanti Mas yang lanjutin, Dik."
Mas Ustadz tersenyum, indah sekali. Ah, dia ini mengapa begitu romantis. Dia sama sekali tidak membedakan mana pekerjaan suami, mana pekerjaan istri. Tidak ada pekerjaan yang berjenis kelamin. Kecuali jika itu memang pekerjaan berat yang hanya mampu diselesaikan oleh tenaga laki-laki.
 "Dik, dipanggil kok malah melamun!" panggilnya menyadarkanku. "Apa yang kamu pikirkan?"
"Mas Ustadz kok nanyanya kayak facebook, hehe. Aku nggak ngelamun, Mas. Hanya sedang bersyukur dalam hati karena memilikimu."
Aku pun mendekatinya setelah kutinggalkan meja setrika. Saat kuambil sebuah kursi, dia menghentikanku dan memintaku cukup duduk di pangkuannya.
"Kamu bertanya tentang dhomir Na, Dik?"
Aku mengangguk pelan.
"Dik, isim saat marfu' memiliki tanda i'rab sendiri. Saat manshub, juga saat majrur. Ia memiliki perubahan tanda i'rab. Ada yang dhammah, ada yang fathah, ada yang kasrah. Ibarat manusia, ia berubah pendirian saat situasi berubah. Saat di atas, ada yang tenang, tawadhu', ada juga yang terjebak dalam kesombongan. Saat naik jabatan, ada yang amanah, ada yang pura-pura lupa janji, ada yang sengaja melupakan. Lucu kan Dik, lupa kok sengaja. Dan saat berada di titik terendah, ada yang tetap tabah, ada yang membesarkan gundah resah dan mengeluh kesana-kemari. Jadi, Dik, ada orang yang dalam keadaan apa pun hatinya tetap mulia. Orang-orang seperti itulah yang seperti dhomir Na. Tidak berubah dalam i'rab apa pun. Saat marfu' seperti lafal نِلْنَا , manshub seperti إِنَّنَا , dan majrur seperti إِلَيْنَا ."
Mas Ustadz menulis ketiga lafal itu dan menunjukkan padaku. "Lihat, Dik, dhomir نَا tetap istikamah dalam segala situasi. Ia tidak berubah karena apa pun. Kita juga harus mencontohnya, kamu mengerti, Dik?"
 "Aku mengerti, Mas. Makasih ya, penjelasan Mas Ustadz sudah mencerahkan pikiranku," ucapku tersenyum padanya.
"Mas juga mau bilang makasih, Dik."
"Kenapa, Mas?"
"Senyummu mencerahkan hatiku, hehe."
Kucubit lengannya pelan. "Mas Ustadz ingin seperti dhomir Na, kan?"
"Iya, Dik, kenapa?"
"Semoga Mas nggak lupa apa yang tadi Mas janjikan. Aku mengantuk, Mas. Tolong lanjutkan setrikanya, ya, hehe." Aku pun melarikan diri dari pangkuannya.
"Istriku pintar, langsung masuk materi dhomirnya. Besok UTS ya, Dik!"

Senin, 13 Maret 2017

Saat Kau Tak Ada

Ada yang Hilang Saat Kau Tak Ada
oleh: Ni'matul Khoiriyyah

Setiap guru pasti memiliki murid kesayangan. Meskipun demikian, seorang guru tetaplah harus bersikap adil terhadap siswanya. Sama halnya seperti seorang ibu dengan beberapa anak, pasti ada satu dari anak-anaknya yang paling dekat di hati. Tentu aspek kepribadian yang dijadikan pertimbangan.

Guru mana yang tidak bahagia memiliki siswa yang santun, cerdas dan cekatan. Bukankah siswa semacam ini yang menjadi tumpuan harapan di masa depan.  Bukan menafikan kemampuan siswa yang dalam porsi rata-rata, akan tetapi siswa yang santun dan cerdas tentu melukiskan kesan mendalam di hati gurunya.
Sebut saja namanya Putra. Tiga pertemuan dalam seminggu aku mengajarnya. Ia seorang ketua kelas yang cerdas, rajin, dan berakhlak mulia. Senyum ramah dan manisnya selalu menyambutku saat menuju ke kelasnya. Setiap tugas yang kuberikan, ia selesaikan dengan baik, tepat waktu dan tanpa tawaran.

Senin pekan lalu ternyata adalah hari terakhir aku mengajarnya. Pulang sekolah, orang tuanya menjemput dan membawanya kembali ke Kalimantan. Anak itu kembali ke tanah kelahirannya dan melanjutkan studi di sana.

Sayang, aku baru mengetahuinya kemarin saat aku mengabsen dan ia tidak ada di kelas. Saat kutanya teman sekelasnya dan mereka mengatakan bahwa Putra _boyong_ aku tidak percaya. Kupikir mereka hanya asal menjawab. Baru kupercaya setelah kukonfirmasi pada wali kelasnya. Iya, Putra telah pergi meninggalkan sekolah ini.

Hari ini saat aku masuk di kelas itu kurasakan ada yng hilang. Aku tidak melihat senyum manis Putra yang ramah. Anak yang biasa duduk di depanku kini bukan Putra lagi, tapi yang lain. Ah, di mana Putra-ku?

Hanya sebuah buku tugas miliknya yang kini kusimpan. Iya, terakhir, dia mengumpulkan buku tugasnya padaku dan saat akan kukembalikan, dia sudah kembali ke Kalimantan.

"Sayang sekali, Nak. Memang beruntung Ustadzah mendapatkan buku catatanmu, tapi itu artinya, kamu tidak membawa sesuatu apapun dari Ustadzah. Karena bukumu yang Ustadzah bawa adalah buku catatanmu sejak semester satu, sejak saat pertama kita bertemu. Doaku untukmu, Sayang, semoga kamu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, menjadi pribadi yang saleh dan diberkahi-Nya di manapun kamu berada."

وجعلني مباركا أينما كنتُ

Trenggalek, 15 Januari 2017
14.33


Selasa, 07 Maret 2017

Tentangmu yang Masih Menjadi Dhomir

Tentangmu yang Masih Menjadi Dhomir

Oleh: Ni'matul Khoiriyyah

Pertanyaan "kapan nikah" terkadang cukup mengusik ketenangan hati. Apalagi di bulan-bulan pengantin seperti ini, pertanyaan itu sederas hujan yang jatuh dari langit. Seringkali hanya senyum yang kugunakan untuk merespon. Kadang juga kujawab dengan jawaban yang tak pasti. Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin aku memastikan sesuatu yang menjadi rahasia Tuhan.

Telah banyak nama yang hadir mengisi hari-hari, namun satu persatu pun pergi. Bukan tak baik, namun tak jodoh, dan memang akan ada yang terbaik suatu hari nanti, itulah keyakinanku.

Bagi mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab sepertiku, analogi sering kugunakan. Aku menganalogikan sepasang kekasih seperti jumlah ismiyah yang tersusun dari mubtada' dan khabar. Suami sebagai mubtada'nya, dan istri sebagai khabarnya. Keduanya bisa berupa isim dhahir, bisa juga salah satunya berupa isim dhamir. Untuk konteks yng satu ini, aku menganggapnya sebuah dhamir, karena aku belum tahu siapa dia, dari mana, dan apapun tentangnya aku belum tahu.

Rahasia Allah pasti indah, itu keyakinanku. Saat aku belum dipersatukan dengannya, itu berari ada masa penempaan yang harus kujalani seorang diri, pun dengan dirinya. Barulah saat penempaan itu usai, ia akan Allah hadirkan untukku. Kami bersatu, bersama, saling dukung dan saling menguatkan dalam iman dan ihsan sehingga Allah ridhoi langkah kami meniti jalan ke surganya.

Perlukah risau dalam penantian? Tidak. Untuk apa merisaukan seseorang yang sudah ada? Iya. Dia ada, namun masih Allah sembunyikan dari pandanganku, karena Allah sangatlah baik dalam menjaganya. Hanya bait-bait kerinduan yang tersampaikan melalui doa suci di penghujung sembahyang.

Untukmu yang masih menjadi dhamir
Aku yakin kau adalah isim ma'rifat
Kau mufrad dan berada dalam posisi rafa'
Kau mulia, kau berbudi, kau berilmu
Wahai dhamirku ...
Di sini kumenanti tuk jadi khabarmu
Bilakah kita kan menjadi jumlah ismiyah yang tak lekang oleh waktu?
Tetaplah menjadi isim ma'rifat yang akan membimbingku
Dariku, calon khabarmu.

Trenggalek, 15 Januari 2017
09.13


Senin, 21 November 2016

Tiga Langkah Menuju Akad Nikah


Penulis  : Ni’matul Khoiriyyah, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Program Pascasarjana Magister, IAIN Tulungagung


Tiga Langkah Menuju Akad Nikah

Mungkin agak janggal ketika tulisan dengan tema pernikahan ini ditulis oleh seseorang yang belum menikah. Never mind, dunia ini luas, ilmu Allah bertebaran di mana-mana. Ilmu Allah ada yang tertulis, ada yang tersebar dalam wujud fenomena alam/kauniyah. Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah madrasah. Kita sebagai ‘abd-Nya yang harus aktif mengakses ilmu-ilmu Allah untuk bekal hidup kita fiddaroini.
Well, apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar/membaca kata “nikah”? Ada yang langsung membayangkan sebuah akad yang khidmat, resepsi yang meriah, kado yang melimpah, atau bahkan partner hidup yang setia walau kadang tak seiya sekata. Atau ada yang memiliki gambaran buruk (na’udzubillah) perceraian, pengkhianatan, penipuan, misalnya.
Setiap orang punya gambaran masing-masing tentang pernikahan, namun apakah sebenarnya tujuan utama pernikahan itu? “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum : 21)
Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Ternyata tujuan utama pernikahan adalah ketentraman, ketenangan hati. Sejenak kita mengingat sejarah, bukankah Abuna Adam a.s. di surga-Nya yang begitu indah dan sempurna masih merasa kesepian padahal semua yang dibutuhkan dan diinginkan tersedia? Ternyata ada yang kurang, apa itu? Sakinahnya hati, karena beliau membutuhkan seorang pendamping lalu Allah hadirkan Ummuna Hawa’. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasang, untuk saling mengisi, saling menguatkan, saling menentramkan, saling melengkapi dan saling berkasih-sayang satu sama lain.
 Ketika kita sudah mengetahui tujuan utama pernikahan, langkah apa yang harus kita jalani untuk menuju akad nikah yang berkah? Langkah pertama, mempersiapkan adalah jawaban terbaik. Bagaimana mempersiapkan diri agar menjadi partner hidup yang setia dan mulia akhlaknya, mampu melipur kala pasangan tengah gulana, mampu menghadirkan senyum kala pasangan tengah terluka, mampu menghadirkan tawa saat rasa lelah menyapa, mampu menghibur kala pasangan tengah berduka, mampu menjadi motivator terhebat untuk mengajak taqarrub pada Pencipta. Subhanallah, andai semua tujuan dan tugas-tugas mulia ini disadari oleh setiap pasangan tentu kebahagiaan abadi senantiasa didapatkan. Meskipun hidup tidak penuh dengan kebahagiaan, namun duka pun tak ada yang abadi. Hidup adalah rangkaian dari nikmat dan ujian, bahagia dan duka, tangis dan tawa, luka dan karunia.
Langkah kedua, coba kita cermati petikan lirik lagu ini.
Bukan harta bukan rupa, bukan pula kehebatan
 iman dan taqwamu sayang, mencintaimu aku tenang
Ada lagi
Bukan karena cantik wajahmu aku sayang kamu
 bukan karena harta ayahmu aku cinta kamu
 bukan karena senyum manjamu aku sayang kamu
bukan karena kedudukanmu aku cinta kamu
luhur akhlakmu, kejujuranmu serta ilmumu
itulah yang membuatku tergila-gila padamu
dan satu lagi
soal miskin atau kaya bagiku tiada problema
yang penting dia setia, beriman serta bertakwa
Ternyata hal mendasar yang paling kita butuhkan dari seorang partner hidup adalah keimanan dan ketaqwaan. Keluhuran akhlak, ilmu, dan kesetiaan adalah penjabaran detail dari sifat orang yang berimtaq. Singkat kata, orang yang takut kepada Allah, pasti takut menyakiti orang lain, apalagi pasangannya. Maka ketika kita menikah dengan pria sholeh, jika dia mencintai kita, dia akan memuliakan kita. Sebaliknya, jika dia tidak mencintai kita, dia tidak akan mendholimi kita karena begitu takutnya ia kepada Allah, dan sadar akan tanggungjawabnya setelah akad nikah. Dan ..., ketika imtaq adalah hal mendasar yang kita butuhkan dari pasangan, maka kita pun harus menjadikan diri kita juga sebagai orang yang berimtaq. Sebagaimana kita mendambakannya menjadi imam yang berimtaq, ia pun mendambakan sosok makmum yang berimtaq.
Langkah ketiga, tanamkan keyakinan untuk berkomitmen. Bagaimana menanamkan keyakinan? Tentu kita harus mempunyai kriteria sebagai pertimbangan. Pasangan yang bagaimana yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan bersama di usia dunia yang sudah tua ini? Pasangan yang bagaimana yang sekiranya sevisi dengan kita untuk melahirkan generasi penegak panji-panji keislaman? Pasangan yang bagaimana yang sekiranya mau berusaha bersama kita untuk mendidik putra-putri yang akan menarik tangan kita ke surga? Tetapkan kriteria dan nomor satukan agama, “fadhfar bi dzatiddin”. Setelah melewati tahapan kriteria, setorkan proposal pada-Nya. Hanya Dia yang tahu siapa jodoh kita. Minta petunjuk-Nya, istikharah, ajukan proposal sekaligus minta pertimbangan adakah bagian yang perlu direvisi atau mungkin harus dirombak. Sekiranya sinyal ACC sudah ada, yakini untuk berkomitmen bahwa kita akan sama-sama setia, menghadapi apapun bersama-sama dalam naungan cinta-Nya. Dahulukan komitmen di atas rasa, karena yang cinta belum tentu mampu berkomitmen, namun yang mampu berkomitmen dengan penuh keyakinan, Allah akan tumbuhkan cinta itu secara natural.
Baik, karena tulisan ini ditulis oleh orang yang belum menikah, mohon yang sudah menikah atau yang lebih berpengalaman memberikan masukan di kolom komentar, apabila ada yang masih salah mohon diluruskan, apabila ada yang benar silakan diambil hikmahnya, semoga bermanfaat dan barakah.
Hadanallah wa iyyakum
Semangat pagi J
Semoga yang belum menikah didekatkan dengan jodohnya dan dimudahkan jalan persatuannya. Yang sudah menikah diberikan sakinah mawaddah wa rahmah dan mampu menjadi uswah hasanah bagi yang belum.
Aamiin.
Kamulan, 15 Mei 2016
06.25


Kamis, 08 September 2016

Kuliah Perdana PBA 3 B IAIN Tulungagung



Perkuliahan kami diawali pada 8 September 2016, satu bulan lebih cepat daripada tahun sebelumnya yaitu 8 Oktober 2015. Tentu banyak hal baru yang unik, seru, da nada juga yang sedikit mengesalkan. Bagi seorang Nina, keseruan ini terasa ketika tiba-tiba local yang di tahun lalu dikatakan sebagai local 3 dan hari ini menjadi sebuah kantor kecil di mana sebagian kelengkapan administrasi ada di ruang itu. Lho, kelasku di mana?
Lebih seru lagi ketika ternyata local 3 di hari yang sama juga diklaim sebagai local PAI 1C. wah, apa-apaan ini? Pertama, lokalnya hilang, kedua, lokalnya kres, dan ketiga, kenapa aku ketua kelasnya?
Hari pertama kami berlangsung nomaden. 3 mata kuliah kami lalui di 3 ruang yang berbeda. Psikolinguistik di lantai 3, entah local berapa itu. Kemudian Teknologi pembelajaran bahasa Arab di local 6 yang mengingatkanku pada masa lalu, dan Manajemen Pembelajaran di local E7 lantai 3.
Wa qila, yang benar local untuk PBA 3 B adalah local 6, bersebelahan dengan PBA 3 A yang di local 7. Wa lakin, sikon yang cukup menggoda seperti padamnya penerangan di lantai dua saat maghrib membuat kami harus berhijrah ke tempat yang lebih tinggi.
Sedikit ulasan mengenai Psikolinguistik, bahwa manusia memiliki tahapan-tahapan dalam pemerolehan bahasa, begitu juga dalam mempelajari bahasa. Dari sisi teori, memang berbeda antara pemerolehan bahasa dengan belajaran bahasa. Dalam pemerolehan tidak ada kesengajaan, sebaliknya dalam belajar bahasa, memang individu sengaja ingin bisa dan menguasai suatu bahasa tertentu.
Dalam sebuah selingan, dosen kami Dr. Jazeri sekilas membahas tentang jodoh. Bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Setiap orang punya jodoh. Tapi mengapa ada yang cepat dipertemukan, ada yang tidak?
Dalam Islam ada istilah mukafa’ah, sekufu’ atau selevel. Tentu bukan dari segi lahiriah, tapi kualitas jiwa masing-masing. Ibaratnya, yang laki-laki di lantai 4, yang perempuan di lantai 2. Mereka sama-sama sudah ada, tapi belum bisa bertemu, karena mereka di lantai yang berbeda. Satu-satunya jalan adalah si laki-laki menunggu sang perempuan naik ke lantai 4. Nah, berapa lama naiknya, ini yang wallahu a’lam. Atau sebaliknya, yang perempuan sudah di lantai 4, laki-lakinya masih di lantai 2. Maka yang laki-laki harus menyusul dulu ke lantai 4 baru bisa bertemu. So … apa yang membuat kita masih di lantai bawah? Bisa jadi ada dosa-dosa yang mungkin belum ditobati. Maka tugas kita adalah memperbaiki kualitas diri, kualitas jiwa, agar segera berada di level yang sama dengan jodoh kita.
Next … dalam perkuliahan Teknologi Pembelajaran Bahasa Arab bersama Dr. Lukluk, dosen yang tetap terlihat fresh, cantik, ceria dan penuh semangat meski sudah mengajar dari pagi sampai senja tanpa duduk dan belum break kecuali shalat, ada satu rahasia yang beliau bagikan. Apa itu? Cintailah mengajar dan jadikan itu hobi, maka segala beban akan lepas. Wow, super sekali ya J
And the Last, dalam perkuliahan Manajemen Pembelajaran Bahasa Arab bersama Dr. Agus, beliau menjelaskan bahwa cakupan pendidikan lebih luas daripada pembelajaran. Karena focus pembelajaran adalah pendidik, peserta didik, kurikulum, materi, sedangkan cakupan manajemen pendidikan bisa meliputi keuangan, sarpras, sehingga focus mata kuliah ini adalah pada pembelajaran khususnya bahasa Arab.
But, hunaka something yang membuat hatiku bergetar, saat beliau menanyakan kapan tanggal pernikahanku karena beliau pernah mendengar kabar bahwa aku akan menikah dalam waktu dekat ini. Oh, I am so sorry, rencana indah itu belum terealisasi karena ketiadaan restu dari pihak wali calon mempelai wanita karena maybe ada isyarat istikharah yang kurang khoir. Never mind, Allah sudah merencanakan yang lebih baik, ikuti saja scenario-Nya sambil perbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan.

Ok, selamat berjuang menuju MASTER Pendidikan Bahasa Arab. Barakallah  

Sabtu, 16 Juli 2016

Setetes Embun Cinta



Setetes Embun Cinta
By Ni’matul Khoiriyyah

Qothrunnada namanya, ketua kelasku, PBA 2 C, Si Manis pecinta warna ungu dan pink yang selalu gelisah bila ada yang mendahuluinya mengumpulkan tugas ke dosen. Ia terlihat manja namun cekatan. Setiap tiba jam pergantian mata kuliah ia segera berlari ke kantor untuk menjemput dosen yang akan mengajar. Mungkin dulu pernah nyantri di pesantren salaf, pikirku. Takdhimnya pada dosen layak diacungi jempol. Seperti namanya, Qothrunnada memang laksana tetesan embun yang selalu jernih dan menyejukkan.
Tanpa sadar, aku telah memperhatikannya diam-diam. Ia sangat menghargai waktu. Kalau tidak percaya, coba saja buat janji untuk bertemu dengannya. Jangan lupa pasang CCTV. Bisa kupastikan, Nada akan hadir sekitar dua puluh menit sebelum waktu yang kaujanjikan dengannya. Kalau berjanji akan bertemu dengannya jam delapan, jangan coba-coba berangkat dari rumah jam delapan, jangan! Kamu akan malu sendiri, karena jauh sebelum jam delapan dia sudah tiba.
Tak hanya itu, dia juga lihai dalam merampungkan tugasnya. Wanita bergolongan darah A biasanya memang sangat rapi dalam mengatur jadualnya. Kapan ia akan bekerja, kapan ia akan bersantai. Bahkan sempat aku mengintip jadwal harian yang terselip dalam buku agendanya. Mungkin tidak sengaja terbawa ke kampus. Dari pukul 03.00 dini hari sampai pukul 23.00 semua jadualnya tercatat rapi.
Semakin lama aku semakin mengaguminya hingga akhirnya aku melakukan istikharah dan aku merasa yakin, inilah bidadari yang selama ini kucari. Sudah ada di dekatku selama ini. Satu kelas dalam perkuliahanku strata satu.  Wanita seperti Nada lah yang kuharapkan menjadi ibu dari anak-anak sholehku kelak, Insyaallah.
“Ketua kelas, tolong catatkan untuk saya nama teman-teman yang datang terlambat di perkuliahan saya hari ini,” pesan Pak Rahman sebelum meninggalkan kelas. “Kalau sudah, langsung bawa ke ruangan saya.”
“Baik, Ustad,” jawab Nada singkat.
Semua keluar setelah Pak Rahman meninggalkan lokal perkuliahan. Hanya ada Nada yang masih merekap nama-nama mahasiswa yang terlambat, dan aku yang ingin sejenak berbicara dengannya. Aku sudah yakin dengan pilihanku, dan aku yakin ini saatnya aku mengatakan yang sejujurnya.
“Nada,” sapaku. “Boleh aku minta waktu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan.”
“Nanti ya, setelah kuserahkan kertas ini ke Ustad Rahman,” ujarnya sambil menunjukkan rekapan yang dipesan dosen.
“Sebentar saja, Nada. Nggak sampai lima menit kok.”
“Maaf, Faruq, tadi ustad pesan ‘kalau sudah, langsung bawa ke ruangan saya’, iya kan?”
“Baiklah. Maaf. Aku tunggu di gazebo, ya. Temui aku setelah dari kantor.”
***
“Lama, ya? Maaf, tadi ada yang ustad bicarakan soal teman-teman,” ujar Nada setelah kembali dari kantor. Ia duduk di depanku, berbatasan dengan meja bundar. Sepoi angin menghembus jilbab lebarnya yang sedikit berkibar.
“Kamu mau bicara apa, Faruq?” tanyanya kemudian.
Haruskah aku berbasa-basi atau langsung? Gadis ini membuatku sedikit gugup.
“Faruq, ada apa?”
“Emm ... begini, Nada, maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, apakah saat ini kamu dalam pinangan ikhwan?” tanyaku memberanikan diri meski hatiku berdebar kencang dan darahku mengalir deras.
Nada tersenyum dan menggeleng pelan. “Kamu ada calon untukku?” pertanyaan Nada seperti menampar jiwaku. Bagaimana aku mengatakan kalau aku calonnya.
“Nada, bolehkah aku mengkhitbahmu? Aku siap menemui orang tuamu,” tanyaku dengan penuh harap.
Gadis itu merapikan ranselnya, tersenyum, berdiri lalu berkata, “Faruq, belajar dulu aja,” jawabnya lalu pergi.
Aku cukup tercengang dengan jawaban tegasnya. Hati wanita tidak mudah ditebak. Belajar dulu? Dia menolakku secara halus, atau menerimaku? Aku harus menanti atau beranjak? Dia mengikatku atau tidak sama sekali?
Ponselku berdering. “Ruq, datang ke MAN sekarang ya! Ditunggu Waka kurikulum,” SMS dari Huda.
Alhamdulillah, aku mendapat jam tambahan mengajar Bahasa Arab di MAN dan menjadi pembimbing ekstrakurikuler Masrohiyah.[1] Lalu  bagaimana dengan tafsiranku atas jawaban Nada? Ah, baiklah. Kalau memang dia mengatakan ‘belajar dulu’, mungkin seharusnya aku dan dia merampungkan kuliah dulu. Cinta adalah perjuangan, bukan? Jika ini memang belum saatnya kutemui orang tua Nada, biar kuperjuangkan cintaku dalam diam terlebih dahulu. Aku sudah yakin memilihnya, tugasku adalah menghalalkan perasaan ini bila tiba saatnya. Nada milik Allah, dan dititipkan pada orang tuanya. Kalau aku menginginkan Nada, aku harus minta izin pada Allah dan meyakinkan orang tua Nada bahwa aku mampu bertanggungjawab sepenuhnya atas puteri mereka. Bismillah, ridhoilah cintaku padanya.
Hari demi hari berlalu. Semakin besar keyakinanku. Ia gadis yang mulia dan berilmu. Ia pandai menjaga kemuliaan dirinya. Ia masih sendiri hingga sekarang. Iya. Tak terasa kami sudah di penghujung semester delapan. Sudah lulus dalam sidang skripsi dan tinggal menanti wisuda. Mungkin ini saatnya aku bicara lagi dengannya.
“Nada, sekarang kita tinggal menanti wisuda. Sudah bolehkah aku mengkhitbahmu?” tanyaku padanya setelah mengumpulkan revisi skripsi gelombang satu di ruang administrasi.
“Kalau kamu memang serius dan niatmu sudah benar, silakan temui orang tuaku, Mas Faruq,” jawabnya lalu beranjak ke parkiran.
Mas? Dia menyapaku ‘mas’? subhanallah, semoga dan semoga niat baikku diterima dengan baik oleh keluarganya. Baiklah, Nada, aku akan datang menemui orang tuamu.
***
Suasana asri masih kurasakan saat memasuki lingkungan sekitar rumah Nada. Di sinilah gadis manis sholihah itu bercengkerama dengan ayah ibu yang menghebatkannya. Sungguh luar biasa orang tuanya. Dalam tanggung jawab dan penjagaan merekalah aku bisa bertemu dengan Nada yang cantiknya lahir batin.
Kuketuk pintu beriring ucapan salam. Keluarlah seorang ibu yang kupastikan ia adalah ibu Nada. Kukecup tangannya dan aku dipersilakan masuk. Kuawali dengan perkenalan singkat dan sejenak basa-basi sambil menanti ayah Nada keluar. Namun rupanya ayah Nada belum berkenan menemuiku, hingga akhirnya kuutarakan niatku untuk meminang Nada di hadapan ibunya.
Aku pun segera pulang setelah menyampaikan tujuanku dan menitipkan salam takdhim untuk ayah Nada. Hatiku sudah cukup lega meski belum kuperoleh jawaban pasti. Aku tak memiliki cukup waktu untuk meladeni rasa penasaranku karena harus mempersiapkan anak-anak kelas XI yang akan menampilkan masrohiyah di acara purnawiyata kelas XII.
Esoknya bakda subuh, kuterima SMS dari Nada. “Mas Faruq, temui aku di belakang rektorat jam 9.”
Syukurlah hari ini aku ke MAN setelah Dhuhur, jadi aku bisa menemui Nada terlebih dahulu. Sengaja aku datang setengah sembilan, karena aku yakin sepuluh menit lagi Nada pasti sudah sampai.
“Kamu sudah lama, Mas?” sapanya saat melihatku. “Maaf kalau aku terlambat.”
“Tidak, Nada. Kita janjian jam sembilan kan? Kamu tidak terlambat sama sekali. Sengaja aku datang lebih awal. Katakan, apa jawaban orang tuamu.”
Dengan ekspresi wajah yang sedikit kuatir ia ceritakan semuanya. Malam sebelum Faruq datang, ibu Nada bermimpi buruk. Dalam bayangannya, Faruq adalah awan hitam yang begitu gelap dan tebal. Mimpi itu membuat orang tua Nada kuatir bahwa itu adalah pertanda buruk. Mereka tidak bisa menerima pinanganku.
“Jadi, ayah dan ibumu belum bisa menerimaku?”
Nada mengangguk. “Maafkan aku, Mas.”
Sejenak kuhela nafas. “Nada, aku minta maaf kalau harus mengatakan ini. Mimpi buruk itu belum tentu dari Allah. Bisa jadi itu bawaan dari pikiran negatif. Mungkin dari awal ibumu tidak senang denganku hingga akhirnya perasaan itu terbawa ke dalam mimpi dan berwujud mimpi buruk. Itu belum tentu isyarat dari Allah, Nada. Alasan penolakan itu tidak syar’i. Insyaallah, aku akan melamarmu dua minggu lagi.”
***
Waktu yang kujanjikan telah tiba. Aku datang untuk kedua kalinya ke rumah Nada. Masih seperti kali pertama. Ayahnya tetap tidak berkenan menemuiku dan aku hanya bisa menyampaikan pinanganku lewat ibunya.
Esoknya, Nada menemuiku dan menyampaikan jawaban dari orang tuanya. Sebuah masjid yang berdiri kokoh di samping rumah Nada menjadi alasan. Mereka menganggapku tergabung dalam aliran A, sedangkan mereka B. Tidak mungkin aku bisa menjadi imam di masjid mereka bila kami berbeda aliran karena dalam beberapa hal tata cara shalatnya berbeda. Itu anggapan mereka. Padahal, sebenarnya sama. Aku juga B seperti mereka dengan tata cara shalat yang sama.
“Nada, aku semakin tidak mengerti saja dengan maksud orang tuamu. Tuhan kita sama kan? Nabi kita sama kan? Rukun Islam dan Iman kita sama kan? Lalu apa yang salah, Nada? Apakah Rasulullah dulu dari aliran A? Apakah Khadijah dari aliran B? Fatimah? Ali? Nada, kita masih seiman. Aku tidak bisa menerima alasan itu. Insyaallah, Dua minggu lagi aku akan meminangmu untuk yang ketiga.”
***
Begitu cepatnya waktu berlalu. Ini saatnya aku meminang Nada untuk yang ketiga kalinya. Semoga aku berhasil. Bantu aku, Ya Robb! Aku yakin dia yang terbaik untukku.
Tidak kusangka, kali ini aku tetap hanya berhadapan dengan ibu Nada. Lagi-lagi kusampaikan maksud kedatanganku dengan tanpa keraguan sedikitpun.  Seperlunya saja, aku segera pulang setelah tujuanku tersampaikan.
Dua hari kemudian Nada menemuiku, masih di tempat yang sama, belakang rektorat. Namun kali ini kulihat raut wajahnya begitu muram. Ia ceritakan padaku kemarahan ayahnya. Belum lama, sahabat sekaligus tetangga Nada dinikahi oleh seorang pria dari Jawa Barat. Hanya tiga hari menjalani kehidupan sebagai pengantin baru, sang suami langsung meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Karena aku pun orang Jawa Barat, aku dilarang menikahi Nada karena mereka kuatir hal yang sama akan terjadi pada Nada.
“Subhanallah, Nada, boleh aku bertanya padamu?”
Gadis itu hanya terdiam dan tertunduk lesu seolah kehilangan harapan terbesarnya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya sampai seperti ini. Sungguh andaikan halal, aku ingin memeluknya dan mengatakan kepadanya bahwa aku tak pernah pergi darinya.
“Nada, tolong kamu jawab pertanyaanku. Apa kamu yakin padaku?” tanyaku pelan.
Ia mengangguk pelan.
“Alhamdulillah,” ucapku bangga padanya. “Nada, aku sudah yakin dengan pilihanku, dan pilihanku hanya satu yaitu kamu. Tiga kali aku meminangmu, tiga kali aku tidak ditemui oleh ayahmu, dan tiga kali mereka menolakku. Tapi aku tetap yakin, Nada. Kamulah wanita terbaik yang Allah karuniakan padaku, yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Nada, jika alasan penolakan orangtuamu itu syar’i, aku pasti mundur. Tapi aku melihat, penolakan mereka tidak syar’i, bukan lillah, tapi karena ego mereka masing-masing. Mereka tidak melihat keseriusan dan ketulusan kita. Hati mereka belum terbuka untuk melihat kesungguhan kita.”
Aku terdiam sejenak. Kulihat butiran air jernih terjatuh dari sudut mata Nada.
“Nada, kamu serius denganku? Jawablah, kamu mau hubungan kita berakhir atau dilanjutkan?” tanyaku sekali lagi.
Ia menyeka air matanya lalu menjawab, “Dilanjutkan, Mas.” Sejenak ia menatapku lalu menunduk kembali.
“Baiklah Nada, kalau kamu memang mau hubungan kita dilanjut, ayo kita berjuang bersama-sama. Kalau ucapanku dan ucapanmu belum bisa mengetuk hati mereka, biar Allah yang menyampaikan niat baik kita pada orang tuamu. Nada, selama empat puluh hari ke depan, kita istiqomahkan qiyamullail, dhuha, dan puasa sunnah. Semoga dengan jalan ini Allah bukakan hati mereka. Kamu bersedia?”
“Aku bersedia, Mas.”
***
Aku berpisah dengan Nada sejak itu, tanpa komunikasi sama sekali. Namun di hari ke dua puluh tujuh, tiba-tiba Nada datang menemuiku di serambi masjid kampus. Raut wajahnya tampak bahagia. Aku berharap ia mebawa sepoi angin surga.
“Mas, kamu diminta menemui ayah,” ucapnya.
“Ayah, Nada?” tanyaku tidak percaya.
“Iya, Mas. Bisa kan? Besok sore, ya. Tapi tidak di rumah yang Tulungagung. Besok kami di Kediri. Dan pesan Ayah, aku tidak boleh memberitahu alamat kami. Mas yang harus cari tahu sendiri. Ayah tunggu jam 4 sore.”
Ada apa gerangan ayah Nada mengundangku di Kediri. Semoga ini pertanda baik, Ya Robb. Namun aku tetap siap andaikan kali ini ayah Nada akan memarahiku habis-habisan karena tiga kali melamar putrinya.
“Wan, kamu tahu rumah Nada yang di Kediri?” tanyaku pada Iwan saat akan mengambil air wudhu untuk shalat Dhuhur.
“Kalau tidak salah, sekecamatan dengan rumah Fadil. Kamu tahu rumah Fadil kan? Datanglah ke sana dan minta dia mengantarkanmu. Insyaallah dia tahu rumah Nada,” kata Iwan. “Kamu mau melamarnya lagi? Kuakui, kamu luar biasa, Faruq. Aku salut dengan kegigihan dan keyakinanmu. Berkali-kali ditolak dan kamu sama sekali tidak beranjak sedikitpun dari Nada. Perjuangan cintamu patut diteladani.” Iwan menyuguhkan kedua jempolnya padaku.
“Aku memang sudah tiga kali. Tapi entah kali ini. Ayahnya yang mengundangku.”
“Semoga berhasil, Ruq.”
***
Tanpa kuduga ban motorku bocor. Ini sudah Dhuhur. Kalau harus menunggu selesai menambal, sudah pasti aku terlambat. Ayah Nada pasti kecewa. Motor siapa yang harus kupinjam saat ini?
“Kamu belum berangkat, Ruq?” sapa Iwan yang kebetulan lewat depan kontrakanku.
“Ban depanku bocor, Wan.”
“Kamu bawa aja motorku. Biar aku yang urus motormu. Aku sedang menganggur. Cepat berangkatlah ke rumah Fadil.”
Iwan memang sahabat terbaikku. Pasti Allah yang menggerakkannya untuk datang tepat di saat aku membutuhkan. Setelah kuucap terima kasih dan kutinggali beberapa lembar rupiah, aku meluncur ke Kediri dengan motor Iwan. Pukul dua siang aku telah sampai di rumah Fadil. Kuceritakan singkat kisah perjuanganku dengan Nada sebelum aku minta bantuannya untuk menunjukkan alamatnya.
“Kamu sudah makan, Ruq?” tanya Fadil. “Kita makan dulu, ya. Istriku baru aja masak sayur asem. Setelah ini baru aku antar kamu ke sana. Hei, mau melamar harus punya power. Kalau perlu, kamu mandi dulu juga boleh. Harus membuat kesan yang meyakinkan calon mertua, hehe.”
Kuikuti semua saran Fadil yang sudah lebih senior dariku. Dia sudah setahun berumah tangga, sedangkan aku masih berjuang untuk membangun rumah tangga. Pukul tiga sore mendadak hujan  turun dengan derasnya. Aku sungkan dengan Fadil. Tidak mungkin aku mengajaknya menerjang hujan sederas ini. Namun Fadil tidak mau hanya memberikan alamat Nada. Dia ingin menemaniku menemui ayah Nada.
Baiklah, dengan bismillah kami menerjang hujan. Kami sempat panik ketika melalui jalan yang tergenang air motor kami mogok hingga tiga kali. Ujian cinta dari-Nya sungguh luar biasa. Tapi syukurlah, kami tiba di rumah Nada pada pukul empat kurang lima menit.
Setelah sejenak merapikan diri kami pun mengucap salam dan mengetuk pintu. Kali ini Nada yang membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Ibu Nada menyajikan teh hangat, kemudian Ayah Nada keluar menemui kami di ruang tamu.
“Mana yang namanya Faruq?” tanya ayah Nada.
“Saya, Pak,” jawabku.
“Kamu serius dengan anak saya?”
“Saya serius dengan puteri Bapak. Dan saya siap bertanggung jawab lahir batin kepadanya.”
“Baiklah, kamu saya terima,” ujar ayah Nada sambil menepuk sebelah bahuku beriring senyum ramahnya.
“Alhamdulillah ...,” ucapku dan Fadil bersamaan.
“Saya ingin membicarakan tanggal akad nikah kalian, tapi tidak hanya denganmu, Faruq. Ajaklah orang tuamu silaturrahim ke sini.”
“Terima kasih, Pak. Saya akan sampaikan kabar bahagia ini untuk orang tua saya di Ciamis.”
Alhamdulillah, perjuangan dan kesabaran yang kujalani bersama Nada berbuah manis pada akhirnya. Aku diijinkan untuk mempersunting seorang bidadari yang kecantikannya berpendar dari hati.
Thomas Alva Edison hampir menyerah ketika ia sudah mendekati keberhasilan namun akhirnya ia terus berjuang dan berhasil. Aku pun sudah diambang kegagalan andaikan di penolakan yang ketiga Nada mengatakan ‘berhenti’. Alhamdulillah, terima kasih untuk pintu hati yang Engkau bukakan bagi kami, Ya Robb. Sujud syukur pada-Mu, kupanjatkan selalu. Jadikanlah aku dan bidadariku, hamba yang taat pada-Mu.
Terima kasih, Robb ... untuk setetes embun cinta-Mu J


Kamulan, 17 Juli 2016




[1] Drama berbahasa Arab