Blog Ni'matul Khoiriyyah/Nina Kayla. Cinta adalah kekuatan yang mampu menggerakkan jiwa. Dengannya yang jauh menjadi dekat. Dengannya yang berat terasa ringan. Dengannya jari-jemarimu bisa menari dengan riangnya di atas keyboard. Iya, Cinta. Bukan sembarang cinta, tapi cinta yang berasaskan keimanan, berusaha meraih ketakwaan, dan bercita-cita tuk dinaungi keridhoan Sang Maha Cinta.
Entri Populer
-
Bila Cinta Tak Senada Dengan Irodah-Nya Pada pembahasan sebelumnya saya nyatakan bahwa cinta harus memiliki. Namun apa...
-
Mohon maaf sebelumnya, jangan terlalu memelototi judul ini dan jangan terlalu kemana-mana pikiran Anda berkelana ..., Oke?!...
-
Ketika Tasbihku Bertahmid* Buah karya Ni'matul Khoiriyyah (Nina Kayla) Ya Robb… aku telah jatuh cinta pada salah seorang hamba-Mu. Ham...
-
Artikel Karakter Siswa Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand Dilihat dari Posisi Duduk by Ni'matul Khoiriyyah IAIN T...
-
(AIS) Awal mula aku tidak menyangka pria yang tinggal serumah denganku ini akan menjadikanku sebagai isterinya. Perawak...
-
Ana Hunaka Phattana Islam Wittaya School Lammai Yala Thailand, sebuah sekolah Islam yang berdiri kokoh di Lammai, desa yang berbatasan la...
-
Tarbiyah dalam Goresan Luka Selamat datang bulan Juli, bersamaan dengan akan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Masih terasa nyata inda...
-
Cintaku pada Ar-Rahman Aku tidak tahu kapan pertama kali jatuh cinta pada surat yang namanya merupakan salah satu Asma Allah al Husna ....
-
اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ 3 اَلَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعَاصِيْ ...
-
Judul: Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu Genre: Novel Penulis: Ni'matul Khoiriyyah Editor: Ni'matul Khoiriyyah Pen...
Kamis, 04 Oktober 2018
Profil Penulis Mas Ustadz The Series
*Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu*
Novel bersampul hijau sejuk dengan siluet sepasang kekasih halal ini ditulis oleh Ni'matul Khoiriyyah, putri KH. Muhammad Hasan dan Hj. Siti Sopiyah. Penulis berdomisili di Kamulan, Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, lahir pada tanggal 27 Juli 1993, bertepatan dengan 7 Shafar 1414. Ni'mah menempuh pendidikan dasar di MIWB Hidayatut Thullab Kamulan (2005), pendidikan menengah di SMPN 1 Durenan (2008), MAN Kunir Wonodadi (MAN 3 Blitar) 2011, kemudian melanjutkan studi di IAIN Tulungagung dengan prodi Pendidikan Bahasa Arab (S1, 2015 dan S2, 2017).
Penulis merupakan dosen baru di IAIN Kediri. Selain itu, penerjemah abstrak skripsi dan tesis ini juga melayani bimbel siswa SD/MI, dan privat Bahasa Arab di *An-Ni'mah Arabic Private Course.*
Kakak dari Muhammad Yusuf Saifulloh ini merupakan anggota grup kepenulisan Ode Literasi, binaan Suhardiyanto, dan Aku Bisa Menulis, yang didirikan oleh M Husnaini. Novel Mas Ustadz The Series ini merupakan buku solo ketiganya setelah Ketika Tasbihku Bertahmid (2014), dan Diary Ramadhan Ni'mah (2015).
Beberapa judul karyanya yang masuk dalam buku antologi; Senandung Cinta Karena Allah (Pelangi Inspirasi), Isabella 2013 (a Letter for My Prince), Ketika Cintaku Bertakbir (Cinta Bersemi di Pelaminan), Imam Sholeh Pilihan Ayah (Catatan Cinta untuk Ayah), Modus (Masa Lalu yang Membekas di Hati), Izinkan Aku Merengkuh Hatimu (Pantaskah Aku Mencintaimu), Tembok Besar Cinta (Dalam Tahajud Cintaku), Bidadari Surga (So, Please!), Senja Cinta Isabella (Yang Menanti Senja), Cinta itu ... (Ketika Hati Berpuisi), Diary Cinta sang Bidadari (Kitab Cinta), Imam Impianku (Kupinang Dia dengan Bismillah), Ramadhan Karim (Cahaya Ramadhan), Membaca Membuka Cakrawala, Menulis Menggerakkan Dunia (Geliat Literasi IAIN Tulungagung), Dear Imanku (Letter for Love), Jemari yang Menghanyutkan (Medsosku Sayang, Medsosku Malang), Mendidik Buah Hati dengan Cinta (Mendidik Anak di Era Digital), IJOW (Goresan Cinta untuk Bunda), Cinta Pertamaku (Goresan Cinta untuk Bunda), Surat Untuk Jodohku Tercinta (Ungkapan Hati), dan Ya Habibal Qalbi (Ikhtiar Cinta).
Berawal dari tugas menulis diary dan melanjutkan cerita bersambung saat belajar Bahasa Indonesia di SMP, Ni'mah mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Ia mulai unjuk diri saat mondok di Al Kamal dengan beberapa karyanya yang terpampang di Mading pesantren. Berbagai even pun diikutinya hingga lahirlah lebih dari 20 buku antologi dan 3 buku solo dalam 5 tahun terakhir.
Dunia cinta dengan nuansa religius seolah tidak pernah lepas dari tema tulisannya. Baginya, menulis berarti menebarkan cinta dan kebaikan. Menulis dapat mengurangi beban pikiran dan perasaan. Menulis dapat menambah teman dan memperluas persaudaraan, serta mempererat jalinan dan kedekatan jiwa dengan pembaca. Dan kebahagiaan seorang penulis adalah ketika ada pembaca yang terinspirasi oleh tulisannya, lalu bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Misalkan, setelah membaca Mas Ustadz The Series, sang suami menjadi lebih penyayang dan setia kepada istri, keduanya semakin sadar akan kewajiban masing-masing, paham apa yang harus dilakukan untuk saling membahagiakan, saling dukung, saling mengerti, dsb.
Karena sebagaimana mengajar, menulis juga bisa menjadi ladang pahala dan amal jariyah, yaitu apabila pembaca mengamalkan apa yang disampaikan penulis dalam karyanya. Semoga karya sederhana ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi penulis dan para pembaca, sehingga kebahagiaan hakiki dunia akhirat mampu kita raih bersama.
Aamiin.
Senin, 06 November 2017
Dhomir Na
Senin, 13 Maret 2017
Saat Kau Tak Ada
Ada yang Hilang Saat Kau Tak Ada
oleh: Ni'matul Khoiriyyah
Setiap guru pasti memiliki murid kesayangan. Meskipun demikian, seorang guru tetaplah harus bersikap adil terhadap siswanya. Sama halnya seperti seorang ibu dengan beberapa anak, pasti ada satu dari anak-anaknya yang paling dekat di hati. Tentu aspek kepribadian yang dijadikan pertimbangan.
Guru mana yang tidak bahagia memiliki siswa yang santun, cerdas dan cekatan. Bukankah siswa semacam ini yang menjadi tumpuan harapan di masa depan. Bukan menafikan kemampuan siswa yang dalam porsi rata-rata, akan tetapi siswa yang santun dan cerdas tentu melukiskan kesan mendalam di hati gurunya.
Sebut saja namanya Putra. Tiga pertemuan dalam seminggu aku mengajarnya. Ia seorang ketua kelas yang cerdas, rajin, dan berakhlak mulia. Senyum ramah dan manisnya selalu menyambutku saat menuju ke kelasnya. Setiap tugas yang kuberikan, ia selesaikan dengan baik, tepat waktu dan tanpa tawaran.
Senin pekan lalu ternyata adalah hari terakhir aku mengajarnya. Pulang sekolah, orang tuanya menjemput dan membawanya kembali ke Kalimantan. Anak itu kembali ke tanah kelahirannya dan melanjutkan studi di sana.
Sayang, aku baru mengetahuinya kemarin saat aku mengabsen dan ia tidak ada di kelas. Saat kutanya teman sekelasnya dan mereka mengatakan bahwa Putra _boyong_ aku tidak percaya. Kupikir mereka hanya asal menjawab. Baru kupercaya setelah kukonfirmasi pada wali kelasnya. Iya, Putra telah pergi meninggalkan sekolah ini.
Hari ini saat aku masuk di kelas itu kurasakan ada yng hilang. Aku tidak melihat senyum manis Putra yang ramah. Anak yang biasa duduk di depanku kini bukan Putra lagi, tapi yang lain. Ah, di mana Putra-ku?
Hanya sebuah buku tugas miliknya yang kini kusimpan. Iya, terakhir, dia mengumpulkan buku tugasnya padaku dan saat akan kukembalikan, dia sudah kembali ke Kalimantan.
"Sayang sekali, Nak. Memang beruntung Ustadzah mendapatkan buku catatanmu, tapi itu artinya, kamu tidak membawa sesuatu apapun dari Ustadzah. Karena bukumu yang Ustadzah bawa adalah buku catatanmu sejak semester satu, sejak saat pertama kita bertemu. Doaku untukmu, Sayang, semoga kamu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, menjadi pribadi yang saleh dan diberkahi-Nya di manapun kamu berada."
وجعلني مباركا أينما كنتُ
Trenggalek, 15 Januari 2017
14.33
Selasa, 07 Maret 2017
Tentangmu yang Masih Menjadi Dhomir
Tentangmu yang Masih Menjadi Dhomir
Oleh: Ni'matul Khoiriyyah
Pertanyaan "kapan nikah" terkadang cukup mengusik ketenangan hati. Apalagi di bulan-bulan pengantin seperti ini, pertanyaan itu sederas hujan yang jatuh dari langit. Seringkali hanya senyum yang kugunakan untuk merespon. Kadang juga kujawab dengan jawaban yang tak pasti. Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin aku memastikan sesuatu yang menjadi rahasia Tuhan.
Telah banyak nama yang hadir mengisi hari-hari, namun satu persatu pun pergi. Bukan tak baik, namun tak jodoh, dan memang akan ada yang terbaik suatu hari nanti, itulah keyakinanku.
Bagi mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab sepertiku, analogi sering kugunakan. Aku menganalogikan sepasang kekasih seperti jumlah ismiyah yang tersusun dari mubtada' dan khabar. Suami sebagai mubtada'nya, dan istri sebagai khabarnya. Keduanya bisa berupa isim dhahir, bisa juga salah satunya berupa isim dhamir. Untuk konteks yng satu ini, aku menganggapnya sebuah dhamir, karena aku belum tahu siapa dia, dari mana, dan apapun tentangnya aku belum tahu.
Rahasia Allah pasti indah, itu keyakinanku. Saat aku belum dipersatukan dengannya, itu berari ada masa penempaan yang harus kujalani seorang diri, pun dengan dirinya. Barulah saat penempaan itu usai, ia akan Allah hadirkan untukku. Kami bersatu, bersama, saling dukung dan saling menguatkan dalam iman dan ihsan sehingga Allah ridhoi langkah kami meniti jalan ke surganya.
Perlukah risau dalam penantian? Tidak. Untuk apa merisaukan seseorang yang sudah ada? Iya. Dia ada, namun masih Allah sembunyikan dari pandanganku, karena Allah sangatlah baik dalam menjaganya. Hanya bait-bait kerinduan yang tersampaikan melalui doa suci di penghujung sembahyang.
Untukmu yang masih menjadi dhamir
Aku yakin kau adalah isim ma'rifat
Kau mufrad dan berada dalam posisi rafa'
Kau mulia, kau berbudi, kau berilmu
Wahai dhamirku ...
Di sini kumenanti tuk jadi khabarmu
Bilakah kita kan menjadi jumlah ismiyah yang tak lekang oleh waktu?
Tetaplah menjadi isim ma'rifat yang akan membimbingku
Dariku, calon khabarmu.
Trenggalek, 15 Januari 2017
09.13
