Entri Populer

Senin, 11 Juli 2016

Dahan Cintaku pada Ana (Part 2)



            Tiada kusangka nikmat-Nya hari ini untukku begitu besar. Segalanya tak terduga. Aku tak pernah membayangkan, gadis yang selalu diceritakan oleh Ustad Fahri kini akan menjadi istriku. Aisya Balqis Fahria, baru pertama kali ini aku menyebut nama lengkapnya. Si manis berjilbab hijau pupus, anggun, santun nan berwibawa. Ya Allah, nikmat-Mu yang mana lagi yang akan kudustakan? Engkau telah menghadiakan untukku seorang bidadari bermata jeli yang sangat kucintai dan akan kujaga sampai mati. Ridhoilah kami untuk bersatu, Ya Rabb.
            “Fatih, sepulang dari rumah Ustad Fahri kamu terlihat sangat bersemangat. Ada apa sebenarnya? Pasti ada yang lebih dari sekedar judul skripsi yang diACC. Kamu tidak ingin bercerita denganku?” tanya Zein sambil menyiapkan kecap, saos dan sambal di meja saji.
            Zein adalah  sahabat setiaku, teman berjuangku dalam mendirikan warung soto sederhana ini. Dari warung inilah, kami bisa melunasi biaya kuliah. Kami sama-sama dibesarkan di panti asuhan. Kami telah bersama sejak kecil hingga tidak layak bagiku merahasiakan apapun darinya.
            “Kamu ingat gadis yang selalu diceritakan ustad Fahri?”
            “Iya. Lalu?”
            “Ternyata, gadis itu adalah putri beliau sendiri.”
             Zein langsung menghentikan langkahnya yang hendak mengambil sendok. “Jadi, kamu di sana lama sekali itu karena …,”
            “Iya, Zein. Gadis itu bernama Balqis. Dia menghampiriku ketika sebuah dahan mangga tiba-tiba terhempas dari pohon dan nyaris menimpaku.”
            “Lalu?” tanya Zein bersemangat.
            “Mas, bungkuskan soto ayam tujuh ya!” suara seorang konsumen yang ternyata sudah datang pada jam sedini ini.
            Terpaksa kuakhiri sementara ceritaku pada Zein yang termakan penasaran. “Iya, Mbak, silakan duduk!” sahutku.
            “Dengan nasi terpisah atau tanpa nasi, Mbak?” tanya Zein.
            “Tanpa nasi.”
            Pukul 22.30 seperti biasa aku dan Zein menutup warung lalu pulang ke kontrakan untuk beristirahat. Rupanya, Zein masih penasaran dengan kelanjutan ceritaku. Usai berjamaah Isya, kami melanjutkan obrolan yang terputus.
            Kuceritakan perkenalanku dengan Balqis dan saat-saat Ustad Fahri mengutarakan maksudnya untuk memilihku sebagai pendamping putrinya. Sayang, Zein terlalu menikmati ceritaku hingga ia pun tertidur sebelum aku selesai bercerita. Hh ..., seolah ceritaku menjadi dongeng pengantar tidurnya.
            Dalam hening malam yang beriring rintik hujan kusujudkan mukaku sebagai ungkapan syukurku pada-Nya. Satu juz lagi. Mudahkan aku, Ya Rabb, ijinkan aku menikahinya untuk menjalankan sunnah Rasul-Mu yang mulia. Aku mencintainya.
            Kuambil segera mushafku dan kudekap erat sebelum kubaca. Aku sadar, mahar yang akan kuberikan pada Balqis berupa 30 juz hafalan al-Qur’an bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya hafalannya saja, melainkan aku pun harus bertanggung jawab atas ayat-ayat yang kulantunkan. Aku bertanggung jawab untuk menjadi imam bagi Balqis dengan berlandasan al-Qur’an dan sunnah. Ya Allah, tanggung jawab atas sebuah akad pernikahan begitu besar adanya. Mampukanlah hamba-Mu ini untuk menjadi imam yang baik bagi istriku kelak, agar kami senantiasa Engkau satukan hingga ke jannah-Mu.
            “Fatih, semalam kamu cerita apa?” tanya Zein ketika kami baru sampai di kampus. “Maaf, aku tertidur.”
            “Aku akan menikah. Doakan, ya!”
            “Menikah? Dengan Balqis? Kamu akan jadi menantu Ustad Fahri?”
            “Insya Allah.”
            Zein memelukku. “Aku bahagia mendengarnya. Semoga lancar dan berkah.”
“Aamiin, makasih, Zein. Semoga kamu juga segera bertemu jodohmu.”
“Lalu, siapa temanku meracik soto ayam?”
“Hehe, rekrut saja karyawan baru.”
Hari ini agendaku dan Zein adalah konsultasi bab dua ke Ustad Amin. Kami sudah membuat janji untuk bertemu di kantor beliau pada pukul 09.30. Namun pada jam yang sudah dijanjikan ternyata kantor fakultas Tarbiyah tutup. Kulihat ada  sebuah note kecil di pintu. Kubaca note itu.
“MAAF, SEDANG TAKZIAH KE RUMAH Dr. FAHRI MUSTOFA DI PERUMAHAN PUSPA ASRI”
            Ya Allah, persendianku seolah patah semua. Yang kutahu, Ustad Fahri hanya tinggal berdua dengan putrinya di perumahan itu. Sedangkan istri dan putra beliau tinggal di kota lain. Jika tertulis takziah ke rumah Ustad Fahri di perumahan Puspa Asri, maka itu artinya yang meninggal adalah ....
            “Tidak, Ya Allah ... Tidak!” bisikku gelisah dengan air mata yang tiba-tiba keluar.
            “Fatih, tenangkan dirimu. Itu belum tentu Balqis. Mungkin lebih baik kita ke sana,” ujar Zein yang berusaha menenangkanku.
            Seorang satpam kebetulan lewat dan Zein menghentikannya. “Maaf, Pak, siapa keluarga Pak Fahri yang meninggal?”
            “Kalau saya tidak salah dengar, anaknya, Mas. Kepalanya tertimpa dahan pohon saat ingin menolong anak tetangganya yang bermain petak umpet di bawah pohon itu. Baru tadi pagi kejadiannya. Dia kehilangan banyak darah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.” jawab satpam itu.
            Aku terduduk di kursi tunggu yang tersedia di depan kantor fakultas. Sungguh, tubuhku seolah tak bertulang rasanya. Aku tak sanggup menopang tubuhku sendiri. Ini seperti hantaman asteroid yang menghancurkan dan meluluhlantahkan hatiku. Apa maksud dari semua ini, Ya Allah?
            “Mbak Balqis itu cantik lho, belum nikah pula. Kabarnya mau penelitian untuk skripsi di Kairo. Nggak nyangka dia meninggal secepat ini,” ujar mahasiswi yang lewat sambil berbincang dengan rekannya.
            “Iya, kasihan sekali ustad Fahri, pasti sangat terpukul,” kata kawan bicaranya.
            Hatiku benar-benar hancur bahkan aku tak tahu di mana puing kepingan hati ini. Bidadari itu telah pulang pada Penciptanya di saat aku belum sempat mengucap akad untuk menghalalkannya. Aku belum sempat mendampingi penelitiannya. Aku belum sempat mengimami shalatnya walaupun satu kali.
            “Balqis sudah pergi, Zein. Calon istriku telah meninggal,” ucapku berturut-turut.
            Zein merangkulku dan membangkitkanku. “Aku turut berduka atas kejadian ini. Tabahkan hatimu. Allah punya kehendak yang lebih baik di balik semua ini. Percayalah! Ayo, kita ke rumah Ustad Fahri sekarang. Setidaknya, kalau kamu tidak berkesempatan untuk menjadi imam shalat bagi Balqis, kamu masih berkesempatan untuk menshalatkan jenazahnya.”
            Ucapan Zein semakin menusuk hatiku. Ya Allah, kenapa aku hanya berkesempatan untuk ini? Menshalatkan jenazah calon istriku? Sanggupkah aku, Ya Rabb?
            Zein menarik lenganku pelan dan aku mengikutinya berjalan ke parkiran. Ia bergegas membawaku ke Perumahan Puspa Asri, kediaman Ustad Fahri. Setibanya kami di sana, jenazah baru usai dikafani kemudian dimasukkan ke dalam keranda. Inilah waktu untuk menshalatkannya.
            Aku tak peduli pada dosen-dosen yang bertakziah. Yang kutemui pertama adalah Ustad Fahri. Aku menangis di pelukan Ustad Fahri yang tidak sempat mengabariku tentang kepergian putrinya. Baru kemarin, gadis yang terbalut kafan suci ini menyeduhkan secangkir teh untukku. Tiada kusangka sama sekali, senyumnya kemarin adalah senyum terakhirnya yang dapat kulihat. Sapaannya padaku adalah sapaan terakhir yang kudengar. Tatapan teduhnya kini tak kudapati lagi.
            “Imami kami untuk menshalatkannya, Nak!” pinta Ustad Fahri yang tampak menahan kepedihan mendalam.
            “Apakah saya sanggup berada di hadapan jenazah calon istri saya, Ustad?” tanyaku.
            “Tidak ada kesempatan lain selain saat ini, Fatih. Imamilah kami!”
            Di hadapan keranda Balqis, Ya Allah ... aku mohon pada-Mu, ijinkan dia berada di taman surga-Mu untuk menantikanku. Aku mencintainya dan ia mencintaiku, Ya Rabb .... jika tak sempat bersatu di dunia fana ini, satukanlah kami di surga-Mu yang abadi.
            Fa ya amali wa ya sakani
Wa ya unsi wa mulhimati
Yathibu al-‘isyu
Mahma dlaqat al-ayyamu in thibti
Dahan cinta yang mempertemukan kita kemarin
Tlah pisahkan kita hari ini
Kemarin ia jumpakanku denganmu
Hari ini ia jumpakanmu dengan Rabbuna
Balqis, Cintaku, hari ini aku menshalatkanmu meski air mata ini terus membanjiri
Tahukah engkau, sesungguhnya aku ingin tatkala salam ini kuucap, kaulah yang mengecup punggung tanganku
Namun hari ini, aku hanya mampu menatap kerandamu
Oh, Balqis ... Jelitaku, jadilah bidadariku
Di surga-Nya yang abadi
Ketahuilah Balqisku ...

 Muhammad Fatih-mu ingin segera mendampingimu

Dahan Cintaku pada Ana



            “Seeeees ... Bruk!” sebuah dahan pohon tiba-tiba jatuh tepat satu meter di sampingku yang sedang berkelana mencari rumah seorang dosen di sebuah komplek perumahan. Alhamdulillah, dahan yang berdiameter kurang lebih 10 cm dengan panjang hampir 2 m itu tidak menimpaku. Padahal aku hanya berjalan kaki dan
Rupanya, suara jatuhnya dahan pohon mangga ini mengundang perhatian beberapa orang untuk keluar rumah demi memastikan suara apa yang jatuh. Namun setelah mereka tahu bahwa itu hanya suara dahan pohon yang patah, mereka kembali masuk ke rumah masing-masing. Tapi ada satu yang berbeda, seorang gadis manis berjilbab hijau pupus menghampiriku. “Mas tidak apa-apa? Mas tidak tertimpa dahan pohon ini kan?” sapanya ramah dengan ekspresi cukup kuatir.
“Terima kasih, Mbak, saya tidak apa-apa,” jawabku tenang.
“Kalau boleh tahu, Mas mau kemana? Kok berjalan kaki?”
“Tadi motor saya dibawa teman ke warnet, dia ngeprint tugas kuliahnya. Saya sedang mencari rumah Ustad Fahri, dosen saya.”
Gadis itu lalu tersenyum dengan manisnya. “Ustad Fahri dosen Bahasa Arab, Mas? Mari saya antar. Itu rumah beliau yang berpagar hijau muda,” ucapnya sambil menunjuk ke arah kanan, lima rumah dari depan rumah yang dahan mangganya jatuh.
“Senada dengan warna jilbab Mbak,” cetusku dan ia tersipu.
“Mas beruntung, tidak sampai tertimpa dahan pohon itu. Ukurannya cukup besar untuk membuat seseorang amnesia.”
“Hehe, dan saya beruntung karena dahan pohon itu mempertemukan saya dengan Mbak,” kuhentikan ucapanku. “Eh ..., maaf, maksudku, karena pohon itu Mbak keluar dan mengantar saya ke rumah dosen yang saya cari. Hm ..., boleh tahu siapa nama Mbak?”
“Aisya Balqis Fahria, panggil saja Balqis,” jawabnya. “Mas?”
“Muhammad Fatih, panggil saja Fatih,” ucapku. “Jadi, Mbak ini putrinya Ustad Fahri?”
Ia mengangguk pelan. Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah berpagar hijau. Ia membuka pagar kemudian mempersilakanku duduk di teras sementara ia memanggil ayahnya. Begitu ayahnya mengizinkan, Balqis mempersilakanku masuk ke ruang tamu.
“Tunggu sebentar ya, Mas, Ayah masih menulis. Mungkin sebentar lagi selesai.”
Balqis masuk dan aku menunggu dosenku keluar. Jadi ini, gadis yang sering Ustad Fahri ceritakan saat mengajar di kampus. Benar-benar seperti Ana Althafun Nisa. Ia lembut, sangat santun dan ... cantik. Pasti ia pun semahir ayahnya yang begitu lihai dan luwes saat mengajar Bahasa Arab.
Tak lama kemudian Balqis kembali dengan dua cangkir teh. “Silakan diminum, Mas. Ayah belum keluar juga?”
Aku tersenyum sambil menggeleng perlahan. Saat itu Ustad Fahri keluar. Aku menghampiri beliau dan mencium tangan mulianya. Balqis kemudian masuk ke dalam. Aku pun segera menjalankan misiku untuk mengajukan judul skripsi temanku yang sedang PPL di Pattani Thailand. Maklum, Ustad Fahri tidak suka konsultasi online, sehingga beliau meminta Rozi, temanku, untuk mengirim semua berkasnya padaku untuk kucetak dan kukonsultasikan pada Ustad Fahri, dosen pembimbingnya. Sementara aku sendiri tengah menyusun bab dua dari skripsiku di bawah bimbingan dosen lain.
“Judul yang menarik. Suruh Rozi untuk segera menyusun proposal. Katakan, judulnya sudah saya ACC.”
“Alhamdulillah, syukron, Ustadz.”
“Isyrob ya Akh, hadza al-syayu min binti al malihah,”[1] canda beliau. “Kamu sudah berkenalan dengannya?”
“Sudah, Ustad.”
“Dia juga sedang mulai menyusun skripsinya. Dua bulan lagi dia akan penelitian di Kairo.”
“Subhanallah, berapa lama Ustad?”
“Mungkin sekitar dua bulan juga.”
Aku semakin dibuat terkesima oleh gadis ini. Ia benar-benar seperti jelmaan Ana Althafun Nisa. Tapi apakah aku mampu menjadi Abdullah Khairul Azam yang dicintainya?
“Fatih,” sapa Pak Fahri.
“Iya, Ustad,” jawabku.
“Hafalanmu sudah selesai?”
Aku terkejut bukan main. Bagaimana bisa Ustad Fahri tahu kalau aku sedang menghafal Kalam Ilahi.
“Jawab jujur, Fahri.”
“Kurang satu juz lagi, Ustad.”
“Kamu sudah ada calon?” tanya beliau tiba-tiba.
“Maksud Ustad calon apa?”
Ustad Fahri tersenyum menepuk bahu kiriku. “Fatih, sebelum ini saya membicarakan apa, maka dhomir yang saya ucapkan pasti kembalinya pada yang terdekat, atau sebelumnya lagi.”
“Calon Balqis?” tanyaku sedikit gugup. “E ... calon istri?”
“Iya, calon istri.”
            Hatiku berdegup kencang. Pertanyaan ini jauh lebih mengejutkan daripada melihat pohon yang runtuh tiba-tiba tanpa angin dan tanpa hujan.
            “Belum, Ustad,” jawabku.
            “Kamu bersedia menikah dengan Balqis dan mendampinginya penelitian di Kairo? Saya butuh seseorang yang saya percaya untuk mendampinginya di sana. Dan saya tahu kamu mahasiswa saya yang paling amanah. Setiap semester saya melihat perkembangan kamu dan saya yakin, kamu lelaki yang pantas untuk putri saya. Saya ingin kamu tidak hanya mendampinginya penelitian, tapi juga menjadi imam untuk putriku, selamanya.”
            “Tapi, Ustad, apakah Mbak Balqis bersedia menikah dengan saya? Saya ini bukan siapa-siapa, Ustad. Kalau dibandingkan dengan Mbak Balqis, saya tidak ada apa-apanya. Saya hanya orang biasa, besar di panti asuhan dan sekarang sedang belajar sambil berjualan soto ayam di dekat asrama mahasiswa sepulang kuliah. Terus terang, saya malu, Ustad, saya merasa tidak pantas mendampingi putri Ustad, mohon maaf.”
            Ustad Fahri masuk sejenak dan kembali dengan membawa sebuah buku karya Kang Abik, ‘Ketika Cintaku Bertasbih’. “Kamu pernah membaca buku ini?” tanya beliau.
            “Pernah, Ustad.”
            “Apakah Furqon yang bisa membahagiakan Ana?”
            “Bukan, Ustad.”
            “Lalu siapa?”
            “Azam.”
            “Kamulah Azam itu. Azam dalam buku ini berjualan tempe, kemudian berjualan bakso, dan Azam di hadapanku berjualan soto ayam. Apakah salah kalau Ana mendapat kesakinahannya dari Azam? Dan apakah salah kalau Balqis menjadi istrimu? Fatih, kamu sudah memiliki nama orang hebat, Muhammad Fatih, penakluk Konstantinopel, dan kamu sudah menaklukkan hati putriku ketika aku menceritakan padanya tentangmu. Hari ini kau datang tanpa perjanjian dan tanpa kuundang. Itu artinya jodoh putriku telah tiba.”
            Lidahku terasa tak mampu untuk menjawab lagi. Aku tidak tahu mengapa dosenku yang satu ini bisa menyamakanku dengan Azam. Azam yang sangat mendalam pemahaman agamanya, sedangkan aku tidak sehebat itu. Azam yang jelas dari keluarga baik-baik meski sederhana, sedangkan aku tak tahu diriku ini anak siapa. Lalu, Sultan Muhammad Fatih? Jelas aku tidak ada apa-apanya dibanding Sang Penakluk itu. Allah, kuserahkan pada-Mu segala urusanku.
            “Balqis, kemarilah, Nak!” panggil Ustad.
            Gadis itu dengan aura kemuliaannya keluar menghampiri ayahnya. Ustad Fahri tepat di antara aku dan Balqis. Hatiku semakin tak karuan. Pikiranku seolah melayang ke Kairo sebelum waktunya.
            “Nak, lingkungan perumahan kita ini sepi. Kamu tentu sudah mendengar semua percakapan kami berdua. Katakan, Nak, apakah kamu bersedia menjadi istri Fatih yang sederhana ini?”
            Balqis hanya terdiam, namun ia tersenyum dengan raut yang sangat bahagia. Kemudian ia mengangguk pelan.
            “Alhamdulillah, kau lihat sendiri, Fatih?”
            “Alhamdulillah, Ya Allah.” Kusapukan kedua telapak tanganku ke muka. “Saya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Hadza min fadhli Robbi. Syukron, Ustad, syukron Mbak Balqis. Tapi, mahar apakah yang pantas saya berikan untuk Mbak Balqis, Ustad?”
            “Sempurnakan hafalanmu, dan itu akan menjadi mahar istimewa bagi putriku,” jawab Ustad Fahri. “Kamu sanggup?”
            “Insya Allah. Doakan saya, Ustad.”



[1] Minumlah, teh ini buatan putriku yang manis

Pilar-Pilar Kebahagiaan (Part 2)

Pilar berikutnya, bersabar. Kadang seseorang begitu kecewa saat impiannya tak tercapai, rencananya berantakan, harapannya tak jadi nyata, terpisahkan dari orang yang dicintai, kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Marah? Kecewa? Trauma? Semua itu wajar, namun jangan berlarut-larut. Marahlah sesaat, kecewalah sejenak, traumalah sebentar.
Lupakah kita bahwa kita hanyalah seorang hamba? Ada Allah yang Maha Tahu, ada Allah yang Maha Berkehendak. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Allah menghendaki yang terbaik untuk kita dalam pandangan-Nya, bukan menurut kita. Boleh jadi kita mencintai sesuatu padahal itu buruk bagi kita, dan sebaliknya. Pengetahuan kita terbatas, sedangkan Allah tahu segalanya. Bersabarlah dan pelan-pelan belajar ikhlas. Hentikan kemarahan, kekecewaan, dan trauma yang mendalam. Mungkin, Allah ingin kita lebih mendekat karena ada keinginan atau harapan kita yang membuat kita terlena. Bagaimana kita bisa bersabar? Menurut penulis, seseorang bisa bersabar apabila ia berbaik sangka (husnudhon). Berprasangkalah yang baik pada-Nya.
Sebuah cerita nyata yang penulis alami sendiri, pernah suatu ketika penulis akan berangkat ke kampus dengan sebuah bus umum. Namun sayang, saat penulis baru saja keluar dari rumah dan hendak menyeberangi jalan raya, bus itu telah melintas. Otomatis penulis sudah tertinggal dan harus menanti beberapa menit lagi untuk mendapatkan bus berikutnya, sementara penulis ada janji dengan teman di kampus pada jam sekian. Sudah dipastikan penulis akan datang terlambat. Dengan perasaan kesal, marah, penulis pun akhirnya menyeberang dan menanti bus berikutnya. Namun setelah penulis berangkat dengan bus kedua, di tengah perjalanan akhirnya penulis menyesali rasa marah yang sempat singgah di hati. Rasa kecewa dan kesal itu mendadak terhapuskan dan berubah menjadi rasa syukur yang begitu besar. Mengapa? Bus pertama yang meninggalkan penulis mengalami kecelakaan. Subhanallah, ternyata Allah sengaja membuat penulis terlambat berangkat demi menyelamatkan penulis dari sebuah kecelakaan. Malu rasanya, mengapa penulis harus marah, kecewa dan kesal padahal Allah tahu yang terbaik dan memberikan yang terbaik, meski dengan sedikit membelokkan rencana kita.
Pernah juga penulis alami saat menjalankan tugas PPL dan KKN Terpadu di Yala Thailand Selatan, suatu hari ada perasaan tidak nyaman yang penulis rasakan saat jelang maghrib. Entah mengapa hari itu enggan sekali rasanya jika harus mengikuti para santri berjamaah di musholla lantai dua. Akhirnya, penulis pun shalat munfarid saja di bilik (lantai satu, di bawah musholla). Selang tiga puluh menitan setelah itu terdengar suara reruntuhan bangunan yang begitu keras, disusul teriakan histeris para santri. Penulis pun terkejut dan ketakutan, suara apa itu? Bangunan mana yang runtuh? Ada serangan dari askar kah?
Baru penulis sadari setelah keluar dari bilik, ternyata musholla lantai dua runtuh ke lantai satu sebelah selatan, sedangkan bilik penulis di lantai satu sebelah utara. Beberapa santri pingsan, beberapa terluka karena terjatuh bersamaan dengan reruntuhan lantai musholla. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Penulis lebih tercengang lagi saat salah satu santri berbicara dalam bahasa Melayu Pattani yang maksudnya, “Beruntung Kak Ni’mah tidak naik, entah bagaimana kalau Kakak naik mungkin tidak bisa pulang ke Indonesia.” Subhanallah, fa bi ayyi aalaa”i robbikumaa tukadzdzibaan.

Sungguh, malu sekali rasanya kepada Allah. Penulis telah berburuk sangka, marah, kesal, ternyata di balik semua ini Dia sedang menjalankan scenario-Nya yang meskipun berseberangan dengan keinginan penulis namun itulah yang terbaik. Bersabarlah sedikit lagi, hikmahnya akan kau temukan. Jangan tergesa berburuk sangka, jangan cepat marah J Sungguh, pengetahuan kita amat terbatas sedangkan Dia Maha tahu.

Sabtu, 02 Juli 2016

Pilar-Pilar Bahagia (Part 1)

by Ni'matul Khoiriyyah

Setiap orang tentu ingin hidup bahagia. Senyum yang anggun, hati yang tenang, lingkungan yang damai, sahabat yang pengertian, keluarga yang laksana surga, sungguh manusia tidak pernah kehabisan keinginan. Terpenuhi satu, muncul keinginan yang lain. Terpenuhi, bahagia. Gagal, kadang menderita.
Manusia diciptakan untuk beribadah (Li ya’budun), dan semua insan pasti mengharapkan Sa’adah fid daroin (bahagia dunia akhirat). Lalu, terbangun dari apakah kebahagiaan itu?
Pondasi kebahagiaan  sebenarnya cukup satu, namun bila dijabarkan bisa jadi berlembar-lembar. Baiklah, penulis akan mencoba menguraikannya dalam catatan ini sejauh yang penulis ketahui. Harapan penulis, pembaca yang lebih berpengalaman akan berkenan menambahkannya bila ada kekurangan.
Apa itu pondasi kebahagiaan? BERIMAN. Beriman? Bagaimana bisa dan mengapa beriman menjadi pondasi kebahagiaan?
Orang yang beriman dapat dideteksi dari sikap dan perilakunya dalam menjalankan kehidupan. Dalam al-Qur’an sering kita dapati lafal “Amanu” sepaket dengan “’Amilus sholihat”, beriman itu sepaket dengan beramal saleh. Apa saja amal saleh itu? Diantaranya; bersyukur saat dikaruniai nikmat, dan bersabar saat mendapat musibah, husnudhon, bersungguh-sungguh dalam berusaha, dan bertawakkal.
Nah, amal-amal saleh tersebut merupakan pilar-pilar kebahagiaan, dan pilar yang paling kokoh (menurut penulis) adalah bersyukur. Ketika dalam hati muncul rasa syukur akan karunia-Nya yang luar biasa maka seiring dengan itu kebahagiaan akan hadir. Bagaimana menumbuhkan rasa syukur itu? Seseorang tidak bisa bersyukur tanpa ia bertafakkur. Dalam al-Qur’an Allah menyebutkan “liqoumin yatafakkarun”, “ulil albab”. Bagaimana kita bisa bersyukur tanpa berpikir, tanpa merenung, tanpa berangan-angan? Saat kita kekurangan, misalnya. Andai kita mau merenung betapa di luar sana masih banyak orang yang lebih susah dari kita. Mau makan saja harus mengorbankan rasa malu karena mengais sampah. Mau tidur saja harus mencari emperan toko yang sudah tutup. Jangankan “kurang piknik”, makan yang merupakan kebutuhan primer saja masih sulit terpenuhi. Ya Allah ...
Coba sesekali, entah mau berkunjung atau sekedar merenung, silakan. Rumah sakit yang bangunannya begitu megah, bersih, rapi, indah, ternyata begitu banyak derita di dalamnya. Ada yang mau bernafas saja harus dengan alat bantu. Ada yang organ tubuhnya harus menanti donatur. Ada yang harus kehilangan anggota tubuhnya demi menyelamatkan anggota tubuh yang lain. Ya Rahman ... betapa mahalnya nikmat sehat yang Engkau karuniakan pada kami. Alat indera yang lengkap, organ dalam yang sehat, kami mampu bernafas dengan lancar tanpa kami sadari, darah kami mengalir dengan tanpa hambatan, kami mampu membersihkan badan kami, kami mampu memperelok tubuh kami, kami mampu bersujud pada-Mu, namun mengapa masih merasa kekurangan? Astaghfirullah ... Subhanaka Inni kuntu minadh dholimin.
Coba, sesekali bayangkan tangis kerinduan anak-anak di panti asuhan yang tiada mampu merasakan pelukan dan dekapan hangat dari orang tuanya, bahkan ada yang sama sekali tak sempat mengenal orang tuanya. Ya Allah ... kami memiliki ayah dan ibu yang luar biasa. Engkau amanahkan kami pada mereka, jika sesekali mereka lalai dalam menjaga kami sebagai titipan-Mu, ampunilah Ya Robb ... jangan sakiti mereka, kami sayang mereka, rahmatilah mereka, Ya Rahman. Terima kasih Ya Robb, untuk kesempatan indah yang Kau berikan pada kami untuk berbakti pada mereka, memuliakan mereka, menghormati mereka, meski kami belum mampu membahagiakan mereka. Jadikan kami anak sholeh yang doanya menjadi teman mereka di alam keabadian nanti Ya Robb.

Masih enggankah kita untuk bersyukur? Masih banyak yang perlu kita tafakkuri. Bersyukurlah maka kebahagiaan akan datang J Jangan menanti kebahagiaan lalu bersyukur, tapi bersyukurlah maka kita akan bahagia.

bersambung ...

Kamis, 30 Juni 2016

Tarbiyah dalam Goresan Luka

Selamat datang bulan Juli, bersamaan dengan akan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Masih terasa nyata indahnya impian yang terukir di awal Juni namun berakhir dengan kepedihan di akhir-akhir bulan. Wajar manusia tak pernah berhenti memiliki keinginan, harapan, impian, idealita, selama ia hidup. Ini sangat manusiawi. Apalagi bersamaan dengan bulan Mubarok, tentu harapan akan terwujudnya impian itu lebih besar. Ya Allah, ampunilah bila anganku terlalu tinggi, bila impianku terlalu besar, bila harapanku terlalu khayal.
Rizki, jodoh dan ajal adalah rahasia-Nya. Rizki diupayakan dengan bekerja, jodoh diupayakan dengan menemukan dan memperbaiki pribadi, sedangkan ajal dipersiapkan dengan amal sholih. Satu dari tiga rahasia Ilahi yang paling sering dipertanyakan adalah jodoh, belahan jiwa, penyejuk mata, penenang hati, pelipur lara, pemadam kegalauan. Tentu setiap orang mendambakan belahan jiwa yang berakhlak mulia. Akupun demikian. Hati siapa yang tak terpaut bila melihat seorang ikhwan berjiwa besar, santun, lembut, sabar, penyayang dan beriman?
Masih tampak begitu nyata sosok mulia itu saat pertama kali mengetuk pintu hatiku yang sekian lama terkunci. Iya. Bukan karena belum lama, tapi karena kesanku padanya sangat mendalam. Subhanallah, entah angin apa yang membawanya ke pintu hatiku. Allah begitu rapi menyusun skenario-Nya, tak pernah kuduga sebelumnya. Hati ini pun kemudian menerka-nerka. Diakah yang akan menjadi imamku? Diakah yang akan menjadi sandaranku kala beban terasa menggunung? Diakah yang akan membuatku tersenyum kala hatiku menangis? Diakah yang akan membuatku merajuk manja padanya? Diakah yang akan tertidur di pangkuanku kala ia merasa lelah? Pertanyaan-pertanyaan indah ini beriring dengan harapanku pada Sang Maha Cinta untuk mempersatukanku dengannya.
Sederhana saja, yang kuinginkan hanyalah sakinahnya hati. Yang lain biarlah menjadi bonus dari-Nya. Namun ... harapan dan impian indah itu akhirnya pupus kala cinta kami tak direstui. Allahu Akbar! Apakah gerangan penyebabnya? Isyarat apakah yang Allah berikan sehingga restu itu tak kudapatkan?
Biar sejenak kubiarkan air mata membuatku tak dapat tidur, tak merasakan manisnya teh hijau, tak merasakan lezatnya santapan berbuka, tak tersenyum dengan tulus, lupa jadwal kerja dan tugas kuliah.
 Luka lama pun kemudian kembali membasah. Aku tiba-tiba teringat luka lamaku. Kisah pertamaku berakhir karena ketidaksiapan pihak kekasihku untuk menantiku merampungkan kuliah strata satu. Kisah kedua berakhir karena ketiadaan restu dari orang tua kekasihku yang masih kental dengan klenik hitungan adat. Dan kisahku kali ini berakhir di hadapan ayahku. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Wallahu a’lam, aku tak ingin berburuk sangka pada siapapun. Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Mungkin aku yang belum pantas untuknya. Mungkin aku yang bersalah di balik semua kisah ini. Biarlah Allah melalui waktu yang akan menyembuhkan luka hati. Aku selalu yakin pada Rahman dan Rahim-Nya. Trauma? Tidak. Trauma berarti tidak siap menjalankan titah-Nya. Kecewa? Sejenak. Bagaimanapun, setiap orang tentu ingin impian indahnya menjadi kenyataan. Menangis? Iya. Sekedar untuk membasuh luka. Air mata itu suci dan menyembuhkan, jangan halangi bila ingin mengalir, tak perlu dibendung, karena senyum optimis akan hadir setelah terhentinya air mata.
Untukmu yang pernah singgah di hatiku
Terima kasih, untuk kisah singkat yang baru usai
Mungkin Allah hadirkanmu dalam hidupku bukan sebagai imam, namun sebagai teman sejenak tuk belajar bersama
Aku tidak marah padamu, dan kuharap kau pun tak marah padaku
Aku tidak kecewa padamu, dan kuharap kau pun tak kecewa padaku
Kita tak pernah merencanakan pertemuan, apalagi jatuh cinta
Semua telah direncanakan-Nya
Segala pahit, getir dan luka yang kita rasa
Tak lain adalah bagian dari tarbiyah-Nya
Aku percaya kau sosok yang tangguh
Tak kan berburuk sangka pada-Nya atau pada siapa pun
Aku yakin kau berhati mulia
Tak kan membenci siapapun dengan ketentuan-Nya yang tlah terjadi
Biar ... luka ini yang akan menjadi kekuatan
Dengan Ikhtiar, doa dan tawakkal, melangkahlah
Aku pun kan melangkah menuju yang diridhoi-Nya
Barakallah fik

01 Juli 2016