Entri Populer

Sabtu, 02 Juli 2016

Pilar-Pilar Bahagia (Part 1)

by Ni'matul Khoiriyyah

Setiap orang tentu ingin hidup bahagia. Senyum yang anggun, hati yang tenang, lingkungan yang damai, sahabat yang pengertian, keluarga yang laksana surga, sungguh manusia tidak pernah kehabisan keinginan. Terpenuhi satu, muncul keinginan yang lain. Terpenuhi, bahagia. Gagal, kadang menderita.
Manusia diciptakan untuk beribadah (Li ya’budun), dan semua insan pasti mengharapkan Sa’adah fid daroin (bahagia dunia akhirat). Lalu, terbangun dari apakah kebahagiaan itu?
Pondasi kebahagiaan  sebenarnya cukup satu, namun bila dijabarkan bisa jadi berlembar-lembar. Baiklah, penulis akan mencoba menguraikannya dalam catatan ini sejauh yang penulis ketahui. Harapan penulis, pembaca yang lebih berpengalaman akan berkenan menambahkannya bila ada kekurangan.
Apa itu pondasi kebahagiaan? BERIMAN. Beriman? Bagaimana bisa dan mengapa beriman menjadi pondasi kebahagiaan?
Orang yang beriman dapat dideteksi dari sikap dan perilakunya dalam menjalankan kehidupan. Dalam al-Qur’an sering kita dapati lafal “Amanu” sepaket dengan “’Amilus sholihat”, beriman itu sepaket dengan beramal saleh. Apa saja amal saleh itu? Diantaranya; bersyukur saat dikaruniai nikmat, dan bersabar saat mendapat musibah, husnudhon, bersungguh-sungguh dalam berusaha, dan bertawakkal.
Nah, amal-amal saleh tersebut merupakan pilar-pilar kebahagiaan, dan pilar yang paling kokoh (menurut penulis) adalah bersyukur. Ketika dalam hati muncul rasa syukur akan karunia-Nya yang luar biasa maka seiring dengan itu kebahagiaan akan hadir. Bagaimana menumbuhkan rasa syukur itu? Seseorang tidak bisa bersyukur tanpa ia bertafakkur. Dalam al-Qur’an Allah menyebutkan “liqoumin yatafakkarun”, “ulil albab”. Bagaimana kita bisa bersyukur tanpa berpikir, tanpa merenung, tanpa berangan-angan? Saat kita kekurangan, misalnya. Andai kita mau merenung betapa di luar sana masih banyak orang yang lebih susah dari kita. Mau makan saja harus mengorbankan rasa malu karena mengais sampah. Mau tidur saja harus mencari emperan toko yang sudah tutup. Jangankan “kurang piknik”, makan yang merupakan kebutuhan primer saja masih sulit terpenuhi. Ya Allah ...
Coba sesekali, entah mau berkunjung atau sekedar merenung, silakan. Rumah sakit yang bangunannya begitu megah, bersih, rapi, indah, ternyata begitu banyak derita di dalamnya. Ada yang mau bernafas saja harus dengan alat bantu. Ada yang organ tubuhnya harus menanti donatur. Ada yang harus kehilangan anggota tubuhnya demi menyelamatkan anggota tubuh yang lain. Ya Rahman ... betapa mahalnya nikmat sehat yang Engkau karuniakan pada kami. Alat indera yang lengkap, organ dalam yang sehat, kami mampu bernafas dengan lancar tanpa kami sadari, darah kami mengalir dengan tanpa hambatan, kami mampu membersihkan badan kami, kami mampu memperelok tubuh kami, kami mampu bersujud pada-Mu, namun mengapa masih merasa kekurangan? Astaghfirullah ... Subhanaka Inni kuntu minadh dholimin.
Coba, sesekali bayangkan tangis kerinduan anak-anak di panti asuhan yang tiada mampu merasakan pelukan dan dekapan hangat dari orang tuanya, bahkan ada yang sama sekali tak sempat mengenal orang tuanya. Ya Allah ... kami memiliki ayah dan ibu yang luar biasa. Engkau amanahkan kami pada mereka, jika sesekali mereka lalai dalam menjaga kami sebagai titipan-Mu, ampunilah Ya Robb ... jangan sakiti mereka, kami sayang mereka, rahmatilah mereka, Ya Rahman. Terima kasih Ya Robb, untuk kesempatan indah yang Kau berikan pada kami untuk berbakti pada mereka, memuliakan mereka, menghormati mereka, meski kami belum mampu membahagiakan mereka. Jadikan kami anak sholeh yang doanya menjadi teman mereka di alam keabadian nanti Ya Robb.

Masih enggankah kita untuk bersyukur? Masih banyak yang perlu kita tafakkuri. Bersyukurlah maka kebahagiaan akan datang J Jangan menanti kebahagiaan lalu bersyukur, tapi bersyukurlah maka kita akan bahagia.

bersambung ...

Kamis, 30 Juni 2016

Tarbiyah dalam Goresan Luka

Selamat datang bulan Juli, bersamaan dengan akan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Masih terasa nyata indahnya impian yang terukir di awal Juni namun berakhir dengan kepedihan di akhir-akhir bulan. Wajar manusia tak pernah berhenti memiliki keinginan, harapan, impian, idealita, selama ia hidup. Ini sangat manusiawi. Apalagi bersamaan dengan bulan Mubarok, tentu harapan akan terwujudnya impian itu lebih besar. Ya Allah, ampunilah bila anganku terlalu tinggi, bila impianku terlalu besar, bila harapanku terlalu khayal.
Rizki, jodoh dan ajal adalah rahasia-Nya. Rizki diupayakan dengan bekerja, jodoh diupayakan dengan menemukan dan memperbaiki pribadi, sedangkan ajal dipersiapkan dengan amal sholih. Satu dari tiga rahasia Ilahi yang paling sering dipertanyakan adalah jodoh, belahan jiwa, penyejuk mata, penenang hati, pelipur lara, pemadam kegalauan. Tentu setiap orang mendambakan belahan jiwa yang berakhlak mulia. Akupun demikian. Hati siapa yang tak terpaut bila melihat seorang ikhwan berjiwa besar, santun, lembut, sabar, penyayang dan beriman?
Masih tampak begitu nyata sosok mulia itu saat pertama kali mengetuk pintu hatiku yang sekian lama terkunci. Iya. Bukan karena belum lama, tapi karena kesanku padanya sangat mendalam. Subhanallah, entah angin apa yang membawanya ke pintu hatiku. Allah begitu rapi menyusun skenario-Nya, tak pernah kuduga sebelumnya. Hati ini pun kemudian menerka-nerka. Diakah yang akan menjadi imamku? Diakah yang akan menjadi sandaranku kala beban terasa menggunung? Diakah yang akan membuatku tersenyum kala hatiku menangis? Diakah yang akan membuatku merajuk manja padanya? Diakah yang akan tertidur di pangkuanku kala ia merasa lelah? Pertanyaan-pertanyaan indah ini beriring dengan harapanku pada Sang Maha Cinta untuk mempersatukanku dengannya.
Sederhana saja, yang kuinginkan hanyalah sakinahnya hati. Yang lain biarlah menjadi bonus dari-Nya. Namun ... harapan dan impian indah itu akhirnya pupus kala cinta kami tak direstui. Allahu Akbar! Apakah gerangan penyebabnya? Isyarat apakah yang Allah berikan sehingga restu itu tak kudapatkan?
Biar sejenak kubiarkan air mata membuatku tak dapat tidur, tak merasakan manisnya teh hijau, tak merasakan lezatnya santapan berbuka, tak tersenyum dengan tulus, lupa jadwal kerja dan tugas kuliah.
 Luka lama pun kemudian kembali membasah. Aku tiba-tiba teringat luka lamaku. Kisah pertamaku berakhir karena ketidaksiapan pihak kekasihku untuk menantiku merampungkan kuliah strata satu. Kisah kedua berakhir karena ketiadaan restu dari orang tua kekasihku yang masih kental dengan klenik hitungan adat. Dan kisahku kali ini berakhir di hadapan ayahku. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Wallahu a’lam, aku tak ingin berburuk sangka pada siapapun. Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Mungkin aku yang belum pantas untuknya. Mungkin aku yang bersalah di balik semua kisah ini. Biarlah Allah melalui waktu yang akan menyembuhkan luka hati. Aku selalu yakin pada Rahman dan Rahim-Nya. Trauma? Tidak. Trauma berarti tidak siap menjalankan titah-Nya. Kecewa? Sejenak. Bagaimanapun, setiap orang tentu ingin impian indahnya menjadi kenyataan. Menangis? Iya. Sekedar untuk membasuh luka. Air mata itu suci dan menyembuhkan, jangan halangi bila ingin mengalir, tak perlu dibendung, karena senyum optimis akan hadir setelah terhentinya air mata.
Untukmu yang pernah singgah di hatiku
Terima kasih, untuk kisah singkat yang baru usai
Mungkin Allah hadirkanmu dalam hidupku bukan sebagai imam, namun sebagai teman sejenak tuk belajar bersama
Aku tidak marah padamu, dan kuharap kau pun tak marah padaku
Aku tidak kecewa padamu, dan kuharap kau pun tak kecewa padaku
Kita tak pernah merencanakan pertemuan, apalagi jatuh cinta
Semua telah direncanakan-Nya
Segala pahit, getir dan luka yang kita rasa
Tak lain adalah bagian dari tarbiyah-Nya
Aku percaya kau sosok yang tangguh
Tak kan berburuk sangka pada-Nya atau pada siapa pun
Aku yakin kau berhati mulia
Tak kan membenci siapapun dengan ketentuan-Nya yang tlah terjadi
Biar ... luka ini yang akan menjadi kekuatan
Dengan Ikhtiar, doa dan tawakkal, melangkahlah
Aku pun kan melangkah menuju yang diridhoi-Nya
Barakallah fik

01 Juli 2016




Selasa, 28 Juni 2016

Cintaku pada Ar-Rahman

Aku tidak tahu kapan pertama kali jatuh cinta pada surat yang namanya merupakan salah satu Asma Allah al Husna. Kesan lembut, penuh kasih sayang dan cinta kurasakan begitu kuat dari surat ini, hingga aku pun berharap surat ini yang kelak menjadi mahar imamku dalam akad nikah nanti, jika itu tidak memberatkannya. Aku cukup sadar siapa diriku, mungkin tidak layak seorang hamba yang banyak dosa ini minta dipersunting dengan surat Ar-Rahman. Tidak, aku tidak akan memaksa jika itu memberatkannya.
Senandung surat ini luar biasa. Allah merangkai ayat demi ayatnya dengan begitu indah. Aku selalu terkesima dengannya. Surat inilah pelipur laraku kala hati ini hancur karena impian indah yang tak menjadi nyata. Setiap wanita tentu ingin menikah, bukan? Aku pun demikian. Namun, kegagalan demi kegagalan kadang menggoncangkan iman. Kadang aku marah pada-Nya, kecewa pada-Nya, namun tak lama kemudian aku sadar, aku hanyalah hamba sedangkan Dia Tuhanku. Aku hanya bisa merancang proposal kehidupan yang kuanggap baik bagiku dan keluargaku, namun Dia yang berhak menerima, menolak, mempercepat, menangguhkan, mencoret atau merevisi. Iya. Kadang aku tak sadar akan peran-Nya sebagai Sang Pengatur hidup Yang Maha segala. Bukankah tak ada yang lebih baik dari skenario-Nya? Dia pasti berikan yang terbaik, kita haram meragukan itu.
Mencintai lalu kehilangan, menyakitkan bukan? Pasti! Dia sudah menegur berkali-kali, jangan mencintai yang belum halal. Namun hati ini seringkali tak berdaya. Perasaan itu tumbuh bersemi tanpa kusengaja. Aku tidak pernah belajar jatuh cinta pada seseorang. Aku tidak pernah belajar menyayangi seseorang. Aku pun sebenarnya sudah bertekad untuk tidak mencintai selain imamku kelak, namun dalam perjalanan untuk bertemu dengan sang imam, hati ini terpaut pada sosok-sosok yang kukira akan menjadi imamku, aku jatuh cinta lalu akhirnya kehilangan.
Kehilangan? Mengapa Allah pisahkan? Mungkin, ada kemaksiatan yang terselip dalam prosesnya sehingga Allah tidak ridho, dan Allah berikan sinyal ketidakridhoan-Nya itu pada orang tuaku, atau mungkin orang tuanya. Kemaksiatan? Iya. Setiap rayuan, ungkapan kata cinta, sayang, rindu, semua itu belum waktunya disampaikan pada yang kita cintai. Keberadaan media sosial semakin menyulitkan saja. Ah, betapa sulitnya memendam perasaan itu untuk tidak diungkapkan. Dulu, mungkin buku diary menjadi sahabat paling setia untuk mengungkapkan rasa. Namun sekarang, media sosial penggantinya. Kalau diary disimpan rapi, dikunci, digembok, disembunyikan, hanya kita dan Allah yang tahu, sekarang melalui media sosial, dengan mudah si dia bisa tahu, bahkan semua orang. Astaghfirullah ...
Perjalanan menemukan belahan jiwa sejati memang penuh misteri, unik, dan penuh tantangan. Jangankan yang tidak berjodoh, yang berjodoh saja masih harus menghadapi hujan, badai, hingga tsunami yang memporak-porandakan hati. Ada saja ujiannya. Ada yang berbenturan dengan adat, berbenturan dengan restu, berbenturan dengan visi-misi kehidupan, tidak sekufu’, dan masih banyak yang lainnya. Allah tidak pernah kehabisan cara untuk menguji kekuatan iman hamba-Nya. Yang paling utama dalam perjodohan adalah restu, ridho, karena keberkahan berawal dari kebaikan, Insya Allah.
Ana Urid, wa Anta Turid, wallahu yaf’alu ma yurid (Aku menginginkan, dan kau pun menginginkan, dan Allah melakukan yang Dia kehendaki). Kita harus sadar, di atas Ana wa Anta, ada Allah Yang Maha Segala. Kuasa Allah di atas segalanya. Tugas kita adalah berproses, berusaha, Allah yang menilai, yang memberikan hasilnya, reward atau punishment adalah hak-Nya.
Ar-Rahman ... mengajarkanku ketenangan meski tengah terkapar dalam luka. Ar-Rahman memberiku Syifa’, bagai tetesan air yang menyejukkan setangkai mawar di padang pasir. Ar-Rahman memberiku kekuatan untuk terbang meski dengan sayap yang luka. Mendengarnya dan membacanya berkali-kali tidak membuat jemu, justru semakin menguatkan. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
الذين ءامنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله، ألا بذكر الله تطمئن القلوب
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar’Ra’d : 28)
وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين
dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman … (QS. Al-Isra : 82)
يمعشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السموت والأرض فانفذوا، لا تنفذون إلا بسلطن

Hai para jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (Ar-Rahman : 33)

Bila hati terluka, bila hati tersakiti, bila impian hancur, bila harapan tak sesuai dengan kenyataan, bila orang yang kita sayangi justru menggoreskan luka, menangislah seperlunya. Biarkan luka itu mengalir bersama derasnya air mata. Ia suci dan melegakan. Tak perlu kita menahannya. Biarkan air suci itu membasuh segala luka. Kala ia telah berhenti, tersenyumlah, ucapkan syukur pada-Nya yang memberi kesempatan untuk merasakan pahit getirnya perjuangan cinta meski akhirnya kandas di tengah samudera. Ambil air wudhu, bersujud dan bermunajad pada-Nya. Mungkin ada dosa yang belum kita taubati. Mungkin ada hikmah yang belum kita ambil. Mungkin ada sesuatu yang masih kita lalaikan. Minta ampun pada-Nya. Peluk dan baca syifa’ dari-Nya. Dia dekat, Dia merengkuh kita, Dia mendengar dan menyaksikan tangis hati yang luka ini. Minta! Minta obat pada-Nya!
Berbaik sangka pada-Nya juga merupakan obat terbaik. Allah maha Rahman dan Rahim ... Kasih sayang-Nya tiada tertandingi oleh apapun. Hanya untuk menghilangkan luka kita, sangat mudah bagi Allah. Yakinlah selalu pada-Nya, Dia punya alur terbaik untuk kita. Kita boleh bersedih, kita boleh sakit hati, tapi cukup sementara. Tinggalkan sakitnya, ambil hikmahnya.
Mohon maaf, yang menulis tidaklah lebih baik dari yang membaca
Yang menulis tidaklah lebih berpengalaman dari yang membaca, hanya saja yang menulis sedang mengalaminya. Mohon doa yang terbaik dari para pembaca. Barakallah li wa lakum. Bismillah, yuk, hijrah bersama Ni’mah. Move on, Lillah.


Trenggalek, 29 Juni 2016 

Jumat, 01 April 2016

Istighfar Rajab



اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ 3 اَلَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ، وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ مَاكَرِهَ اللهُ قَوْلاً وَفِعْلاً وَسَمْعًا وَبَصَرًا وَّحَاصِرًا، اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ لِمَا قَدَّمْتُ وَمَااَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَفْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ اَنْتَ اْلمُقَدِّمُ وَاَنْتَ اْلمُؤَخِّرُ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ تُبْتُ اِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ، اَسْتَغْفِرُكَ بِمَا اَرَدْتُ بِه وَجْهَكَ اْلكَرِيْمَ فَخَالَطْتُهُ بِمَا لَيْسَ لَكَ بِه رِضًى، وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَا وَعَدْتُكَ بِه نَفْسِيْ ثُمَّ اَخْلَفْتُكَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَا دَعَالِيْ اِلَيْهِ اْلهَوَى مِنْ قَبْلِ اْلرُّخَصِ مِمَّا اشْتَبَهَ عَلَيَّ وَهُوَ عِنْدَكَ مَحْظُوْرٌ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ النِّعَمِ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ فَصَرَفْتُهَا وَتَقَوَّيْتُ بِهَا عَلَى اْلمَعَاصِيْ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ لاَيَغْفِرُهَا غَيْرُكَ وَلاَيَطَّلِعُ عَلَيْهَا اَحَدٌ سِوَاكَ وَلاَ يَسَعُهَا اِلاَّ رَحْمَتُكَ وَحِلْمُكَ وَلاَيُنْجِيْ مِنْهَا اِلاَّ عَفْوُكَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ يَمِيْنِ حَلَفْتُ بِهَا فَحَنَثْتُ فِيْهَا وَاَنَا عِنْدَكَ مَأْخُوْذٌ بِهَا، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ عَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ عَمِلْتُهَا فِى بَيَاضِ النَّهَارِ وَسَوَادِ الَّيْلِ فِى امَلاَءٍ وَّخَلاَءٍ وَسِرٍّ وَعَلاَنِيَةٍ  وَ اَنْتَ اِلَيَّ نَاظِرٌ اِذَا ارْتَكَبْتُهَا مَآاَتَيْتُه مِنَ اْلعِصْيَانِ بِهِ عَمَدًا اَوْ خَطَأً اَوْ نِسِيَانًا يَاحَلِيْمُ يَاكَرِيْمُ، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ فَرِيْضَةٍ وَجَبَتْ عَلَيَّ فِى آنَآءِ اللَّيْلِ وَاَطْرَافِ النَّهَارِ فَتَرَكْتُهَا عَمَدًا اَوْ خَطَأً اَوْنِسِيَانًا اَوْ تَهَاوُنًا وَاَنَا مَسْئُوْلٌ بِهَا وَمِنْ كُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِ سَيَّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيّيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرَكْتُهَا غَفْلَةً اَوْسَهْوًا اَوْ جَهْلاً اَوْ تَهَاوُنًا قَلَّتْ اَوْكَثُرَتْ وَاَنَا عَائِدٌ بِهَا، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ سُبْحَانَكَ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ لَكَ اْلمُلْكُ وَلَكَ اْلحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ وَاَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ، وَلاَحَوْلَ وَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

Selasa, 15 Maret 2016

Burung dengan Sebelah Sayap (repost)



Burung dengan Sebelah Sayap

  Aku teringat sebuah kalimat yang mengatakan bahwa kita adalah burung dengan sebelah sayap, di mana sebelah sayapnya lagi adalah sang belahan jiwa yang Allah tetapkan di Lauhil Mahfudh. Aku seang merasakan itu. Bagaimana aku terbang dengan sebelah sayap saja? Lalu di mana sebelah sayapku? Aha... aku tahu jawabannya. Dia sedang mencari sebelah sayapnya pula. Mencariku akan tetapi mungkin dia belum tahu bahwa aku adalah sayap yang dicarinya.
            Selama sepasang sayap belum bersatu, pasti banyak dugaan, banyak terkaan. Aku menyangka dia adalah sebelah sayapku, ternyata bukan. Dia menyangka aku adalah sebelah sayapnya, ternyata bukan. Sayap itu harus senada walau tak sama, seperti sepasang sepatu. Apabila sama, sama-sama kiri, susah berjalan. Sama-sama kanan pun demikian. Dia tak sama tapi seirama. Satu kanan, satu kiri dan saling melengkapi. Tidak indah dipandang bila orang hanya mengenakan sebelah sepatu.
            Itulah jodoh. Kita boleh meminta, kita boleh memesan yang A, B, C sampai Z. Akan tetapi yakinlah, Allah berikan yang terbaik untuk kita, sesuai porsi yang kita butuhkan, sesuai kadar kemampuan kita untuk saling menyempurnakan dengannya. Tak usah risau, tak usah galau meski satu persatu kawan telah menemukan jodohnya. Allah Maha Tahu kapan kita siap dipertemukan dengan sebelah sayap kita.
            Bila ingin yang sesetia Khadijah, jadilah yang semulia Baginda Nabi Muhammad. Bila ingin yang setulus Fatimah, jadilah yang sehebat Ali. Bila ingin yang selembut Anna Althafunnisa, jadilah yang sebaik Khairul Azam. Mudah sekali rumusnya. Akan tetapi jangan sesekali menginginkan seperti Romeo Juliet. Itu bukan cinta yang suci. Cinta mereka terkontaminasi oleh nafsu, tak peduli ridho orang tua, tak peduli dosa dan pada akhirnya mereka bunuh diri. na'udzubillah...
            Boleh saja menjadi diri sendiri, tak mau dibandingkan dengan Anna, fatimah, Azam, Ali, akan tetapi jangan lupa tugas kita untuk berbenah diri dari hari ke hari. jatah usia kita semakin hari semakin berkurang. Bukan berarti membandingkan diri dengan para orang mulia itu, akan tetapi belajar dari kemuliaan mereka. Bukankah setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah madrasah? Kita perlu uswah dari mereka karena akhlak tidak cukup dipelajari dengan teori.
            Ramadhan akan segera tiba. Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk berbenah diri lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah bukakan hati yang tertutup, Allah bangunkan hati yang mati, Allah terangi hati yang gelap, Allah naungi hati yang senantiasa mengharapkan ridho-Nya. Ya Allah Ya Wadud... sesungguhnya kami adalah makhluk yang senantiasa haus akan cinta-Mu. Limpahkanlah cinta suci kepada kami... Cinta-Mu yang agung... dan cinta-Mu yang Engkau titipkan pada sebelah sayap kami. Pertemukanlah kami untuk saling menyempurnakan iman dan taqwa kami. Jadikan kami hamba-hambaMu yang shaleh. Aamiin.

Minggu, 10 Januari 2016

The Power of Love



Cinta adalah saat kau tak menghiraukan lelahmu, namun bukan mengabaikan kesehatanmu
Cinta adalah saat kau peduli, namun bukan berarti ikut campur
Cinta adalah saat kau ingin dia bahagia, bukan berarti membiarkannya tersesat
Cinta adalah saat ia bersalah dan kau marah, tapi tidak kasar padanya
Cinta tidak pernah habis untuk didefinisikan, dan setiap pecinta memiliki definisi masing-masing. Note ringan  ini akan sedikit menjabarkan kekuatan cinta seperti yang diajarkan oleh Ayah Iskandar, dosen pembimbingku.
Dzata yaum, aku mengambil mata kuliah Kitabah Bahts Ilmi di semester IV. Dalam perkuliahan, dosen mengajarkan cara menyusun skripsi, berbahasa Arab tentunya. Namun, dosen pengampu mata kuliah ini mungkin sangat sibuk hingga sangat jarang masuk dan sekali masuk beliau meminta anak-anak mengumpulkan proposal pada tanggal sekian di ruang sekian. Deadline yang beliau berikan itu cukup mengerikan. Bukan karena waktunya, tapi karena kami yang masih terbata-bata tentang skripsi.
Setiap tiba hari perkuliahan beliau, kelas kami seperti bukan kelas. Ada yang sibuk sendiri dengan senam jarinya, ada yang membuka majlis curhat, ada yang menggunakan kesempatan untuk sowan ke perpustakaan, ada juga yang langsung nyelonong meninggalkan kelas. Di situ kadang aku merasa sedih. Bagaimana tidak? Deadline semakin dekat, tapi judul proposal pun belum terlintas dalam benak. Apalagi mewujudkannya sebagai sebuah proposal yang berbahasa Arab. Isinya apa, urutannya bagaimana, referensinya di mana, dan cara menulisnya seperti apa, semua itu masih misterius. Ah, proposal skripsi, kamu ini makanan yang terbuat dari apa?
Next, kegalauanku membuatku kepo. Aku yang merupakan salah satu penghuni PBA B mencoba mendekati anak kelas A. “Mbak, bahtsul ilmi kelas sampean diajari apa? Sudah sampe mana? Yang ngajar siapa? Cara ngajarnya gimana? Tugasnya apa aja? Enak nggak?”
Syukurlah, kudapatkan jawaban yang indah-indah. Teman-teman kelas A diajari menyusun proposal skripsi berbahasa Arab, mereka sudah sampai metode penilitian, tapi ada juga yang masih menuntaskan latar belakang. Ustadz Iskandar yang mengajar. Setiap tatap muka, Ustadz memberikan contoh, kemudian menunjukkan cara-caranya, lalu memberi tugas untuk dibahas di pertemuan berikutnya. Tugasnya bertahap, mulai dari judul, latar belakang, metode, ila akhirihi. Yang pasti, tujuannya di akhir perkuliahan nanti semua mahasiswa sudah mempunyai sebuah proposal untuk diseminarkan. Enak atau nggaknya, jangan ditanya lagi, sudah pasti mantab dan mumtaz!
Akhirnya, kuputuskan untuk minta ijin pada Ayah Iskandar agar aku bisa mengikuti perkuliahan beliau di kelas A. Alhamdulillah, dengan senang hati beliau mempersilakanku. Aku pun mendapat perlakuan yang sama seperti anak A. Aku melihat ketelatenan beliau membimbing kami satu persatu. Bila ada yang malu-malu, beliau yang mendekati, hingga tidak ada kesalahan yang tersembunyi. Setiap ada kesalahan, langsung beliau luruskan dan di situ aku merasa bahagia. J
Dalam suatu liqo’ di kelas A, beliau menginspirasi kami dengan cintanya. Mengerjakan tugas kuliah seperti menyusun makalah, proposal, hingga skripsi, itu bukan sesuatu yang ringan. Tapi ada satu hal yang bisa meringankan itu semua, yaitu cinta. Gunakan kekuatan cinta dalam menyelesaikan semua tugasmu. Kekuatan cinta itu terkumpul dalam formula 3H (Head, Heart and Hand), beliau menyebutkannya dengan Ro’sun, Qolbun, dan Yadun.
Formula pertama, Head, Ro’sun atau kepala. Ketika kita mencintai sesuatu maka kita akan memikirkannya dengan kesungguhan, dengan keseriusan. Kita akan merencanakan sesuatu sedemikian rapinya demi terwujudnya keindahan cinta yang diharapkan. Maka dalam menyusun proposal, buatlah target. Hari ini berapa paragraf, atau hari ini berapa halaman. Minggu ini setor judul, minggu depannya latar belakang, dan seterusnya. Skripsi pun demikian, kita mem-planning sedemikian rupa agar selesai tepat waktu dengan hasil maksimal. Sama dengan ketika kita mencintai seseorang, fokus pikiran kita adalah dia, dan untuk dia.
Formula kedua, Heart, Qolbun atau hati. Saat kita mencintai seseorang, tentu kita selalu melakukan banyak hal dengan sepenuh hati untuknya. Apa yang dia inginkan, kita lakukan sepenuh hati, dengan keikhlasan. Ketika ketulusan itu sudah merasuk ke dalam jiwa, maka tidak ada kata “mengeluh”, “menggerutu”, atau bahkan “kecewa”. Begitu juga ketika kita menyusun proposal, kerjakan sepenuh hati, kerjakan dengan ikhlas. Sadari bahwa ini merupakan tugas mulia, maka kita akan melakukan yang terbaik tanpa takut kecewa.
Formula ketiga, Hand, Yadun atau tangan. Jika kita mencintai seseorang, kita akan memaksimalkan semua kemampuan kita untuk membahagiakannya. Begitu juga dalam menyusun proposal, kerahkan seluruh kemampuanmu, maksimalkan. Bila rasa malas menghampiri, segera tangkis dan jangan biarkan. Tambah porsi membaca, tambah porsi menulis dan kurangi bermain. Maksimalkan potensi untuk cerahkan prestasi.
Lakukan dengan cinta dan jika kamu marah, marahlah dengan cinta. Bagaimana cara marah dengan cinta? Ketika malas menghampiri, kamu menepisnya. Ketika melihat sesuatu yang salah, kau meluruskannya. ketika melihat sesuatu yang tak baik, kau menegurnya. Dengan kelembutan, dengan cinta.
Bagaimana? Bismillah, ayo hijrah!

Kamulan, 11 Januari 2016
Dari bilik cinta