Entri Populer

Selasa, 28 Juni 2016

Cintaku pada Ar-Rahman

Aku tidak tahu kapan pertama kali jatuh cinta pada surat yang namanya merupakan salah satu Asma Allah al Husna. Kesan lembut, penuh kasih sayang dan cinta kurasakan begitu kuat dari surat ini, hingga aku pun berharap surat ini yang kelak menjadi mahar imamku dalam akad nikah nanti, jika itu tidak memberatkannya. Aku cukup sadar siapa diriku, mungkin tidak layak seorang hamba yang banyak dosa ini minta dipersunting dengan surat Ar-Rahman. Tidak, aku tidak akan memaksa jika itu memberatkannya.
Senandung surat ini luar biasa. Allah merangkai ayat demi ayatnya dengan begitu indah. Aku selalu terkesima dengannya. Surat inilah pelipur laraku kala hati ini hancur karena impian indah yang tak menjadi nyata. Setiap wanita tentu ingin menikah, bukan? Aku pun demikian. Namun, kegagalan demi kegagalan kadang menggoncangkan iman. Kadang aku marah pada-Nya, kecewa pada-Nya, namun tak lama kemudian aku sadar, aku hanyalah hamba sedangkan Dia Tuhanku. Aku hanya bisa merancang proposal kehidupan yang kuanggap baik bagiku dan keluargaku, namun Dia yang berhak menerima, menolak, mempercepat, menangguhkan, mencoret atau merevisi. Iya. Kadang aku tak sadar akan peran-Nya sebagai Sang Pengatur hidup Yang Maha segala. Bukankah tak ada yang lebih baik dari skenario-Nya? Dia pasti berikan yang terbaik, kita haram meragukan itu.
Mencintai lalu kehilangan, menyakitkan bukan? Pasti! Dia sudah menegur berkali-kali, jangan mencintai yang belum halal. Namun hati ini seringkali tak berdaya. Perasaan itu tumbuh bersemi tanpa kusengaja. Aku tidak pernah belajar jatuh cinta pada seseorang. Aku tidak pernah belajar menyayangi seseorang. Aku pun sebenarnya sudah bertekad untuk tidak mencintai selain imamku kelak, namun dalam perjalanan untuk bertemu dengan sang imam, hati ini terpaut pada sosok-sosok yang kukira akan menjadi imamku, aku jatuh cinta lalu akhirnya kehilangan.
Kehilangan? Mengapa Allah pisahkan? Mungkin, ada kemaksiatan yang terselip dalam prosesnya sehingga Allah tidak ridho, dan Allah berikan sinyal ketidakridhoan-Nya itu pada orang tuaku, atau mungkin orang tuanya. Kemaksiatan? Iya. Setiap rayuan, ungkapan kata cinta, sayang, rindu, semua itu belum waktunya disampaikan pada yang kita cintai. Keberadaan media sosial semakin menyulitkan saja. Ah, betapa sulitnya memendam perasaan itu untuk tidak diungkapkan. Dulu, mungkin buku diary menjadi sahabat paling setia untuk mengungkapkan rasa. Namun sekarang, media sosial penggantinya. Kalau diary disimpan rapi, dikunci, digembok, disembunyikan, hanya kita dan Allah yang tahu, sekarang melalui media sosial, dengan mudah si dia bisa tahu, bahkan semua orang. Astaghfirullah ...
Perjalanan menemukan belahan jiwa sejati memang penuh misteri, unik, dan penuh tantangan. Jangankan yang tidak berjodoh, yang berjodoh saja masih harus menghadapi hujan, badai, hingga tsunami yang memporak-porandakan hati. Ada saja ujiannya. Ada yang berbenturan dengan adat, berbenturan dengan restu, berbenturan dengan visi-misi kehidupan, tidak sekufu’, dan masih banyak yang lainnya. Allah tidak pernah kehabisan cara untuk menguji kekuatan iman hamba-Nya. Yang paling utama dalam perjodohan adalah restu, ridho, karena keberkahan berawal dari kebaikan, Insya Allah.
Ana Urid, wa Anta Turid, wallahu yaf’alu ma yurid (Aku menginginkan, dan kau pun menginginkan, dan Allah melakukan yang Dia kehendaki). Kita harus sadar, di atas Ana wa Anta, ada Allah Yang Maha Segala. Kuasa Allah di atas segalanya. Tugas kita adalah berproses, berusaha, Allah yang menilai, yang memberikan hasilnya, reward atau punishment adalah hak-Nya.
Ar-Rahman ... mengajarkanku ketenangan meski tengah terkapar dalam luka. Ar-Rahman memberiku Syifa’, bagai tetesan air yang menyejukkan setangkai mawar di padang pasir. Ar-Rahman memberiku kekuatan untuk terbang meski dengan sayap yang luka. Mendengarnya dan membacanya berkali-kali tidak membuat jemu, justru semakin menguatkan. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
الذين ءامنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله، ألا بذكر الله تطمئن القلوب
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar’Ra’d : 28)
وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين
dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman … (QS. Al-Isra : 82)
يمعشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السموت والأرض فانفذوا، لا تنفذون إلا بسلطن

Hai para jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (Ar-Rahman : 33)

Bila hati terluka, bila hati tersakiti, bila impian hancur, bila harapan tak sesuai dengan kenyataan, bila orang yang kita sayangi justru menggoreskan luka, menangislah seperlunya. Biarkan luka itu mengalir bersama derasnya air mata. Ia suci dan melegakan. Tak perlu kita menahannya. Biarkan air suci itu membasuh segala luka. Kala ia telah berhenti, tersenyumlah, ucapkan syukur pada-Nya yang memberi kesempatan untuk merasakan pahit getirnya perjuangan cinta meski akhirnya kandas di tengah samudera. Ambil air wudhu, bersujud dan bermunajad pada-Nya. Mungkin ada dosa yang belum kita taubati. Mungkin ada hikmah yang belum kita ambil. Mungkin ada sesuatu yang masih kita lalaikan. Minta ampun pada-Nya. Peluk dan baca syifa’ dari-Nya. Dia dekat, Dia merengkuh kita, Dia mendengar dan menyaksikan tangis hati yang luka ini. Minta! Minta obat pada-Nya!
Berbaik sangka pada-Nya juga merupakan obat terbaik. Allah maha Rahman dan Rahim ... Kasih sayang-Nya tiada tertandingi oleh apapun. Hanya untuk menghilangkan luka kita, sangat mudah bagi Allah. Yakinlah selalu pada-Nya, Dia punya alur terbaik untuk kita. Kita boleh bersedih, kita boleh sakit hati, tapi cukup sementara. Tinggalkan sakitnya, ambil hikmahnya.
Mohon maaf, yang menulis tidaklah lebih baik dari yang membaca
Yang menulis tidaklah lebih berpengalaman dari yang membaca, hanya saja yang menulis sedang mengalaminya. Mohon doa yang terbaik dari para pembaca. Barakallah li wa lakum. Bismillah, yuk, hijrah bersama Ni’mah. Move on, Lillah.


Trenggalek, 29 Juni 2016 

Jumat, 01 April 2016

Istighfar Rajab



اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ 3 اَلَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ، وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ مَاكَرِهَ اللهُ قَوْلاً وَفِعْلاً وَسَمْعًا وَبَصَرًا وَّحَاصِرًا، اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ لِمَا قَدَّمْتُ وَمَااَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَفْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ اَنْتَ اْلمُقَدِّمُ وَاَنْتَ اْلمُؤَخِّرُ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ تُبْتُ اِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ، اَسْتَغْفِرُكَ بِمَا اَرَدْتُ بِه وَجْهَكَ اْلكَرِيْمَ فَخَالَطْتُهُ بِمَا لَيْسَ لَكَ بِه رِضًى، وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَا وَعَدْتُكَ بِه نَفْسِيْ ثُمَّ اَخْلَفْتُكَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَا دَعَالِيْ اِلَيْهِ اْلهَوَى مِنْ قَبْلِ اْلرُّخَصِ مِمَّا اشْتَبَهَ عَلَيَّ وَهُوَ عِنْدَكَ مَحْظُوْرٌ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ النِّعَمِ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ فَصَرَفْتُهَا وَتَقَوَّيْتُ بِهَا عَلَى اْلمَعَاصِيْ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ لاَيَغْفِرُهَا غَيْرُكَ وَلاَيَطَّلِعُ عَلَيْهَا اَحَدٌ سِوَاكَ وَلاَ يَسَعُهَا اِلاَّ رَحْمَتُكَ وَحِلْمُكَ وَلاَيُنْجِيْ مِنْهَا اِلاَّ عَفْوُكَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ يَمِيْنِ حَلَفْتُ بِهَا فَحَنَثْتُ فِيْهَا وَاَنَا عِنْدَكَ مَأْخُوْذٌ بِهَا، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ عَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ عَمِلْتُهَا فِى بَيَاضِ النَّهَارِ وَسَوَادِ الَّيْلِ فِى امَلاَءٍ وَّخَلاَءٍ وَسِرٍّ وَعَلاَنِيَةٍ  وَ اَنْتَ اِلَيَّ نَاظِرٌ اِذَا ارْتَكَبْتُهَا مَآاَتَيْتُه مِنَ اْلعِصْيَانِ بِهِ عَمَدًا اَوْ خَطَأً اَوْ نِسِيَانًا يَاحَلِيْمُ يَاكَرِيْمُ، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ فَرِيْضَةٍ وَجَبَتْ عَلَيَّ فِى آنَآءِ اللَّيْلِ وَاَطْرَافِ النَّهَارِ فَتَرَكْتُهَا عَمَدًا اَوْ خَطَأً اَوْنِسِيَانًا اَوْ تَهَاوُنًا وَاَنَا مَسْئُوْلٌ بِهَا وَمِنْ كُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِ سَيَّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيّيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرَكْتُهَا غَفْلَةً اَوْسَهْوًا اَوْ جَهْلاً اَوْ تَهَاوُنًا قَلَّتْ اَوْكَثُرَتْ وَاَنَا عَائِدٌ بِهَا، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَا لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ سُبْحَانَكَ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ لَكَ اْلمُلْكُ وَلَكَ اْلحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ وَاَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ، وَلاَحَوْلَ وَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

Selasa, 15 Maret 2016

Burung dengan Sebelah Sayap (repost)



Burung dengan Sebelah Sayap

  Aku teringat sebuah kalimat yang mengatakan bahwa kita adalah burung dengan sebelah sayap, di mana sebelah sayapnya lagi adalah sang belahan jiwa yang Allah tetapkan di Lauhil Mahfudh. Aku seang merasakan itu. Bagaimana aku terbang dengan sebelah sayap saja? Lalu di mana sebelah sayapku? Aha... aku tahu jawabannya. Dia sedang mencari sebelah sayapnya pula. Mencariku akan tetapi mungkin dia belum tahu bahwa aku adalah sayap yang dicarinya.
            Selama sepasang sayap belum bersatu, pasti banyak dugaan, banyak terkaan. Aku menyangka dia adalah sebelah sayapku, ternyata bukan. Dia menyangka aku adalah sebelah sayapnya, ternyata bukan. Sayap itu harus senada walau tak sama, seperti sepasang sepatu. Apabila sama, sama-sama kiri, susah berjalan. Sama-sama kanan pun demikian. Dia tak sama tapi seirama. Satu kanan, satu kiri dan saling melengkapi. Tidak indah dipandang bila orang hanya mengenakan sebelah sepatu.
            Itulah jodoh. Kita boleh meminta, kita boleh memesan yang A, B, C sampai Z. Akan tetapi yakinlah, Allah berikan yang terbaik untuk kita, sesuai porsi yang kita butuhkan, sesuai kadar kemampuan kita untuk saling menyempurnakan dengannya. Tak usah risau, tak usah galau meski satu persatu kawan telah menemukan jodohnya. Allah Maha Tahu kapan kita siap dipertemukan dengan sebelah sayap kita.
            Bila ingin yang sesetia Khadijah, jadilah yang semulia Baginda Nabi Muhammad. Bila ingin yang setulus Fatimah, jadilah yang sehebat Ali. Bila ingin yang selembut Anna Althafunnisa, jadilah yang sebaik Khairul Azam. Mudah sekali rumusnya. Akan tetapi jangan sesekali menginginkan seperti Romeo Juliet. Itu bukan cinta yang suci. Cinta mereka terkontaminasi oleh nafsu, tak peduli ridho orang tua, tak peduli dosa dan pada akhirnya mereka bunuh diri. na'udzubillah...
            Boleh saja menjadi diri sendiri, tak mau dibandingkan dengan Anna, fatimah, Azam, Ali, akan tetapi jangan lupa tugas kita untuk berbenah diri dari hari ke hari. jatah usia kita semakin hari semakin berkurang. Bukan berarti membandingkan diri dengan para orang mulia itu, akan tetapi belajar dari kemuliaan mereka. Bukankah setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah madrasah? Kita perlu uswah dari mereka karena akhlak tidak cukup dipelajari dengan teori.
            Ramadhan akan segera tiba. Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk berbenah diri lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah bukakan hati yang tertutup, Allah bangunkan hati yang mati, Allah terangi hati yang gelap, Allah naungi hati yang senantiasa mengharapkan ridho-Nya. Ya Allah Ya Wadud... sesungguhnya kami adalah makhluk yang senantiasa haus akan cinta-Mu. Limpahkanlah cinta suci kepada kami... Cinta-Mu yang agung... dan cinta-Mu yang Engkau titipkan pada sebelah sayap kami. Pertemukanlah kami untuk saling menyempurnakan iman dan taqwa kami. Jadikan kami hamba-hambaMu yang shaleh. Aamiin.

Minggu, 10 Januari 2016

The Power of Love



Cinta adalah saat kau tak menghiraukan lelahmu, namun bukan mengabaikan kesehatanmu
Cinta adalah saat kau peduli, namun bukan berarti ikut campur
Cinta adalah saat kau ingin dia bahagia, bukan berarti membiarkannya tersesat
Cinta adalah saat ia bersalah dan kau marah, tapi tidak kasar padanya
Cinta tidak pernah habis untuk didefinisikan, dan setiap pecinta memiliki definisi masing-masing. Note ringan  ini akan sedikit menjabarkan kekuatan cinta seperti yang diajarkan oleh Ayah Iskandar, dosen pembimbingku.
Dzata yaum, aku mengambil mata kuliah Kitabah Bahts Ilmi di semester IV. Dalam perkuliahan, dosen mengajarkan cara menyusun skripsi, berbahasa Arab tentunya. Namun, dosen pengampu mata kuliah ini mungkin sangat sibuk hingga sangat jarang masuk dan sekali masuk beliau meminta anak-anak mengumpulkan proposal pada tanggal sekian di ruang sekian. Deadline yang beliau berikan itu cukup mengerikan. Bukan karena waktunya, tapi karena kami yang masih terbata-bata tentang skripsi.
Setiap tiba hari perkuliahan beliau, kelas kami seperti bukan kelas. Ada yang sibuk sendiri dengan senam jarinya, ada yang membuka majlis curhat, ada yang menggunakan kesempatan untuk sowan ke perpustakaan, ada juga yang langsung nyelonong meninggalkan kelas. Di situ kadang aku merasa sedih. Bagaimana tidak? Deadline semakin dekat, tapi judul proposal pun belum terlintas dalam benak. Apalagi mewujudkannya sebagai sebuah proposal yang berbahasa Arab. Isinya apa, urutannya bagaimana, referensinya di mana, dan cara menulisnya seperti apa, semua itu masih misterius. Ah, proposal skripsi, kamu ini makanan yang terbuat dari apa?
Next, kegalauanku membuatku kepo. Aku yang merupakan salah satu penghuni PBA B mencoba mendekati anak kelas A. “Mbak, bahtsul ilmi kelas sampean diajari apa? Sudah sampe mana? Yang ngajar siapa? Cara ngajarnya gimana? Tugasnya apa aja? Enak nggak?”
Syukurlah, kudapatkan jawaban yang indah-indah. Teman-teman kelas A diajari menyusun proposal skripsi berbahasa Arab, mereka sudah sampai metode penilitian, tapi ada juga yang masih menuntaskan latar belakang. Ustadz Iskandar yang mengajar. Setiap tatap muka, Ustadz memberikan contoh, kemudian menunjukkan cara-caranya, lalu memberi tugas untuk dibahas di pertemuan berikutnya. Tugasnya bertahap, mulai dari judul, latar belakang, metode, ila akhirihi. Yang pasti, tujuannya di akhir perkuliahan nanti semua mahasiswa sudah mempunyai sebuah proposal untuk diseminarkan. Enak atau nggaknya, jangan ditanya lagi, sudah pasti mantab dan mumtaz!
Akhirnya, kuputuskan untuk minta ijin pada Ayah Iskandar agar aku bisa mengikuti perkuliahan beliau di kelas A. Alhamdulillah, dengan senang hati beliau mempersilakanku. Aku pun mendapat perlakuan yang sama seperti anak A. Aku melihat ketelatenan beliau membimbing kami satu persatu. Bila ada yang malu-malu, beliau yang mendekati, hingga tidak ada kesalahan yang tersembunyi. Setiap ada kesalahan, langsung beliau luruskan dan di situ aku merasa bahagia. J
Dalam suatu liqo’ di kelas A, beliau menginspirasi kami dengan cintanya. Mengerjakan tugas kuliah seperti menyusun makalah, proposal, hingga skripsi, itu bukan sesuatu yang ringan. Tapi ada satu hal yang bisa meringankan itu semua, yaitu cinta. Gunakan kekuatan cinta dalam menyelesaikan semua tugasmu. Kekuatan cinta itu terkumpul dalam formula 3H (Head, Heart and Hand), beliau menyebutkannya dengan Ro’sun, Qolbun, dan Yadun.
Formula pertama, Head, Ro’sun atau kepala. Ketika kita mencintai sesuatu maka kita akan memikirkannya dengan kesungguhan, dengan keseriusan. Kita akan merencanakan sesuatu sedemikian rapinya demi terwujudnya keindahan cinta yang diharapkan. Maka dalam menyusun proposal, buatlah target. Hari ini berapa paragraf, atau hari ini berapa halaman. Minggu ini setor judul, minggu depannya latar belakang, dan seterusnya. Skripsi pun demikian, kita mem-planning sedemikian rupa agar selesai tepat waktu dengan hasil maksimal. Sama dengan ketika kita mencintai seseorang, fokus pikiran kita adalah dia, dan untuk dia.
Formula kedua, Heart, Qolbun atau hati. Saat kita mencintai seseorang, tentu kita selalu melakukan banyak hal dengan sepenuh hati untuknya. Apa yang dia inginkan, kita lakukan sepenuh hati, dengan keikhlasan. Ketika ketulusan itu sudah merasuk ke dalam jiwa, maka tidak ada kata “mengeluh”, “menggerutu”, atau bahkan “kecewa”. Begitu juga ketika kita menyusun proposal, kerjakan sepenuh hati, kerjakan dengan ikhlas. Sadari bahwa ini merupakan tugas mulia, maka kita akan melakukan yang terbaik tanpa takut kecewa.
Formula ketiga, Hand, Yadun atau tangan. Jika kita mencintai seseorang, kita akan memaksimalkan semua kemampuan kita untuk membahagiakannya. Begitu juga dalam menyusun proposal, kerahkan seluruh kemampuanmu, maksimalkan. Bila rasa malas menghampiri, segera tangkis dan jangan biarkan. Tambah porsi membaca, tambah porsi menulis dan kurangi bermain. Maksimalkan potensi untuk cerahkan prestasi.
Lakukan dengan cinta dan jika kamu marah, marahlah dengan cinta. Bagaimana cara marah dengan cinta? Ketika malas menghampiri, kamu menepisnya. Ketika melihat sesuatu yang salah, kau meluruskannya. ketika melihat sesuatu yang tak baik, kau menegurnya. Dengan kelembutan, dengan cinta.
Bagaimana? Bismillah, ayo hijrah!

Kamulan, 11 Januari 2016
Dari bilik cinta




Kamis, 07 Januari 2016

Zuhud yuk!

The First Again
Kamis, 7 Januari 2016 untuk kedua kalinya aku mengawali hari kuliah pertama dengan presentasi setelah libur agak panjang. Sedangkan untuk yang pertama di awal semester tahun lalu juga di hari yang sama pada 15 Oktober. Bedanya, untuk tahun lalu aku presentasi Mata Kuliah Bahasa Arab dengan tema “Iftirodlu Thalabi al-Ilmi” sedangkan kemarin Sejarah Pemikiran Islam dengan tema “Maqamat dan Ahwal Tasawuf”.
Awalnya aku menduga akan datang terlambat namun karena masih hari pertama kuliah pasca libur 2 minggu ternyata terlambatku sama dengan tidak terlambat, dalam arti aku termasuk “assabiqunal awwalun”. Ya, saat aku masuk ke dalam kelas hanya ada Bu NH,dan Pak S. Wah, “Super sekali,” batinku. Aku yang sudah terlambat 8 menit ternyata tidak terlambat. 2 menit kemudian dosen inspiratif kami, Dr. Ngainun Naim, M.HI hadir. Lebih supernya lagi, setelah menyapa kami beliau langsung mempersilahkan saya dan Bu NH presentasi. Kata beliau, biar lebih cepat. Satu audiens, satu pertanyaan, selesai. Hehe ...
Presentasi pun kami mulai meski hanya Pak S audiensnya. Kupersilakan Bu NH untuk menyajikan makalahnya terlebih dahulu yang bertema Al-Ghazali. Beberapa saat kemudian disusul dengan kedatangan Mas AA, dan satu persatu temanku berdatangan saat aku menyajikan Makalah Tasawufku. Berikut ini kutipan temaku yang kuawali dengan membahas kebutuhan spiritual manusia yang berupa tasawuf:
Hamka dalam buku Tasauf-nya menyatakan bahwa hidup kerohanian atau tasawuf sudah lama umurnya dan ada pada setiap bangsa. Kadang-kadang tasawuf menjadi tempat pulang dari orang yang telah payah berjalan. Kadang-kadang tasawuf menjadi tempat lari  dari orang yang telah terdesak. Tetapi tasawuf pun menjadi penguat pribadi bagi orang yang lemah. Dan tasawuf pun menjadi tempat berpijak yang teguh bagi orang yang telah kehilangan tempat tegak. (Hamka, cet. Xx, 2005)
 Dalam pengantar buku Tasawuf dan Krisis oleh Amin Syukur dan Abdul Muhayya disebutkan bahwa kebangkitan tasawuf di masa belakangan ini telah menimbulkan banyak pertanyaan khususnya di kalangan pengkaji sosiologi agama dan modernisasi. Mengapa dalam situasi di mana kemajuan ilmu dan teknologi yang kian marak, justru semakin banyak orang tertarik pada tasawuf, seperti munculnya gerakan mujahadah di berbagai tempat? Kesimpulan singkat yang diberikan oleh Naisbitt dan Aburdene adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat di era modern sekarang ini tidak memberikan makna tentang kehidupan. (Amin Syukur dan Abdul Muhaya, 2001)
Dua kutipan ini bisa dengan tegas disimpulkan bahwa tasawuf merupakan kebutuhan rohani manusia, baik bagi mereka yang payah, mereka yang terdesak, maupun sebagai penguat jiwa. Walaupun telah meraih kehebatan duniawi, jiwa manusia merasa gersang karena kebahagiaan abadi bukanlah kebahagiaan duniawi yang penuh dengan persaingan. Maka bisa dipahami bahwa tasawuf merupakan kebutuhan rohani/spiritual setiap orang. Sedangkan ulama tasawuf sendiri mendasarkan konsep tasawufnya pada hadis ini:
اعْبُدِ اللهَ كأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاه فَإنَّهُ يَرَاكَ (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)
Artinya: Sembahlah Allah. Seolah-olah engkau melihat-Nya; maka apanila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka Ia pasti melihatmu.(H.R. Bukhari-Muslim, yang bersumber dari Abi Hurairah.
     Pernyataan hadis ini merupakan ajaran ihsan, di mana Ihsan merupakan salah satu dari tiga kerangka pokok ajaran Islam yang terdiri dari Iman, Islam, dan Ihsan. Sebagaimana yang dikutip oleh Tamrin dari Qushairi, Ihsan harus meliputi semua tingkah laku muslim, baik tingkah laku lahir maupun kondisi batin, dalam ibadah maupun muamalah, sebab ihsan adalah jiwa atau ruh dari Iman dan Islam. Iman sebagai pondasi yang ada pada jiwa seseorang dari hasil perpaduan antara ilmu dan keyakinan, penjelmaannya berupa perbuatan lahir yang disebut Islam. (Dahlan Tamrin, 2010)
     Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedudukan tasawuf adalah sebagai satu dari tiga kerangka pokok ajaran Islam. Meskipun Tasawuf sebagai sebuah keilmuan termasuk ilmu baru, akan tetapi ruh ajaran tasawuf sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Sama halnya dengan Fiqih, Ulumul Hadis, dan sebagainya.
     Presentasi kulanjutkan dengan pembahasan Maqamat Tasawuf. Maqamat merupakan bentuk jamak dari maqam yang dapat diartikan dengan station, tahapan atau tingkatan, yakni tingkatan spiritual yang telah dicapai oleh seorang sufi. (Asmaran, 2002) Ia merupakan proses melatih diri dalam hidup kerohanian, memerangi hawa nafsu, dan melepaskan kegiatan dunia untuk semata-mata berbakti kepada Allah. (Taufiq, 2001) Ini juga senada dengan pendapat al-Qushairi seperti yang dikutip oleh Dahlan Tamrin dalam bukunya Tasawuf Irfani. (Dahlan Tamrin, 2010) Karena maqamat merupakan tahapan sehingga ibarat tangga, seseorang tidak bisa mencapai ke puncak sebelum ia menaiki anak tangga satu demi satu. Ini juga berarti bahwa setiap maqam yang diraih merupakan hasil perjuangan dan kesungguhan yang terus-menerus dari seorang sufi.
     Adapun maqamat tasawuf di antaranya:
1.     Taubat
2.    Zuhud
3.    Wara’
4.    Sabar
5.    Syukur
6.    Tawakkal
7.    Ridla
8.    Ma’rifah
9.    Mahabbah
10.  Ittihad
Meski para ulama sufi banyak berbeda dalam merumuskan maqamat Tasawuf akan tetapi maqamat di atas merupakan maqam-maqam yang kebanyakan dirumuskan oleh para sufi.
Menurutku, bagian paling menarik dari rumusan maqamat ini adalah zuhud, di mana konsep zuhud bukanlah berpaling dari dunia dalam arti materi (tarku al-dunya), tapi berpaling dari keinginan dan orientasi kekinian. Dengan konsep ini, tidak ada larangan bagi seseorang untuk kaya, asalkan hatinya tidak terpaut pada kekayaannya itu. Dengan kata lain, menunda keinginan masa kini untuk kebahagiaan abadi di masa depan. Dengan konsep zuhud ini, seorang sufi tetap berpakaian yang rapi, boleh tidur dengan alas yang nyaman, tinggal di tempat yang nyaman, asalkan hatinya berorientasi pada ukhrawi.
Yang dicari manusia dalam kehidupan ini adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tapi bagaimana kedua macam kebahagiaan itu dapat dicapai tanpa harus mematikan yang satu untuk mendapatkan yang lain, akan tetapi dapat dicapai secara selaras dan secara bersama. Dalam menghadapi kenyataan ini, manusia terbagi menjadi tiga: (1) sebagian manusia mengorbankan kehidupan duniawinya, mengejar kehidupan ukhrawi, (2) sebagian yang lain hanya mengejar kehidupan duniawi dengan mengorbankan kebutuhan ukhrawinya, dan (3) kelompok yang mampu mendapatkan kedua-duanya. (Ali Maksum, 2003)
Tentu saja dalam hal ini manusia harus mengupayakan untuk menjadi kelompok yang ketiga, yang mampu mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga zuhud yang dijalaninya tetap mengutamakan kebahagiaan akhirat namun tidak mengesampingkan kebahagiaan dunia. Harta boleh melimpah akan tetapi kecenderungan hati adalah ke jannah.
(to be continued)


Selasa, 22 Desember 2015

Cinta Pertamaku

Cinta Pertamaku

Oleh: Ni’matul Khoiriyyah

Ya Wadud ... Tuhanku Yang Maha Cinta, sungguh indah ciptaan-Mu yang satu ini
Jelita anggun tiada tara, selembut sutera dari surga
Kasihnya tulus, cintanya suci, tuturnya bak oase Sahara
26 Juli ‘93 ia pertaruhkan nyawa demi tangis pertamaku
Tapi di mana aku saat itu?
Rahimnya laksana surga hingga ku enggan meninggalkannya
Waktu berlalu, tanggal pun menjadi 27
Dengan jerit tangis kutinggalkan rahimnya
Oh ... maafkan aku, Bunda
yang terlalu takut dengan dunia ini hingga ingin lebih lama di rahimmu
Tiada kutahu cintamu begitu besar nan indah
Lembut belaimu, hangat pelukmu, indah kasihmu, elok tuturmu
Kaulah cinta pertama yang ajariku mengenal Rabb-ku
Kau madrasah pertama yang mendidikku berakhlak mulia
Kau insan mulia, aku insan biasa
Engkau melati, aku hanyalah rumput teki
Engkau intan, aku batu kali
Engkau mutiara, aku hanyalah pasir muara
Bunda ... jika mereka mengagumiku, sungguh itu pantulan keindahanmu
Jika mereka memuliakanku, itu pantulan kemuliaanmu
Jika mereka mencintaiku, itu anugerah-Nya atas doa-doamu
Siapalah aku tanpamu, Bunda
Bunda ... aku mencintaimu dengan cinta yang tak kan mampu imbangi cintamu
Aku menyayangimu dengan kasih yang tak kan sebesar kasihmu
Aku mendoakanmu dengan doa yang tak semustajab doamu
Ya Wadud ... Tuhanku Yang Maha Cinta
Terima kasih atas anugerah terindah-Mu
Ia ibuku, ummi, mama, bunda, cinta pertama  yang kucintai sepenuh hati
Ya Mujiib ... perkenankanlah pintaku ini
Jauhkan bunda dari murka-Mu, jadikan ia penghuni surga-Mu
                                                                        Selamat Hari Ibu
dari

                                     Ananda yang mencintaimu