Entri Populer

Selasa, 22 Desember 2015

Cinta Pertamaku

Cinta Pertamaku

Oleh: Ni’matul Khoiriyyah

Ya Wadud ... Tuhanku Yang Maha Cinta, sungguh indah ciptaan-Mu yang satu ini
Jelita anggun tiada tara, selembut sutera dari surga
Kasihnya tulus, cintanya suci, tuturnya bak oase Sahara
26 Juli ‘93 ia pertaruhkan nyawa demi tangis pertamaku
Tapi di mana aku saat itu?
Rahimnya laksana surga hingga ku enggan meninggalkannya
Waktu berlalu, tanggal pun menjadi 27
Dengan jerit tangis kutinggalkan rahimnya
Oh ... maafkan aku, Bunda
yang terlalu takut dengan dunia ini hingga ingin lebih lama di rahimmu
Tiada kutahu cintamu begitu besar nan indah
Lembut belaimu, hangat pelukmu, indah kasihmu, elok tuturmu
Kaulah cinta pertama yang ajariku mengenal Rabb-ku
Kau madrasah pertama yang mendidikku berakhlak mulia
Kau insan mulia, aku insan biasa
Engkau melati, aku hanyalah rumput teki
Engkau intan, aku batu kali
Engkau mutiara, aku hanyalah pasir muara
Bunda ... jika mereka mengagumiku, sungguh itu pantulan keindahanmu
Jika mereka memuliakanku, itu pantulan kemuliaanmu
Jika mereka mencintaiku, itu anugerah-Nya atas doa-doamu
Siapalah aku tanpamu, Bunda
Bunda ... aku mencintaimu dengan cinta yang tak kan mampu imbangi cintamu
Aku menyayangimu dengan kasih yang tak kan sebesar kasihmu
Aku mendoakanmu dengan doa yang tak semustajab doamu
Ya Wadud ... Tuhanku Yang Maha Cinta
Terima kasih atas anugerah terindah-Mu
Ia ibuku, ummi, mama, bunda, cinta pertama  yang kucintai sepenuh hati
Ya Mujiib ... perkenankanlah pintaku ini
Jauhkan bunda dari murka-Mu, jadikan ia penghuni surga-Mu
                                                                        Selamat Hari Ibu
dari

                                     Ananda yang mencintaimu

Selasa, 08 Desember 2015

Problematika Pra Nikah



            Memilih pasangan, jangan terlalu terikat pada adat. Pilihlah seseorang yang mampu menguatkanmu, menguatkan imanmu, pilihlah yang mampu memperbesar cintamu pada Allah. Ingatkah Anda bahwa Rasul junjungan kita SAW. Telah memberikan empat kriteria dalam memilih pasangan hidup?
1.      Kecantikan/ketampanan
2.      Harta
3.      Nasab
4.      Agama
            Di antara empat kriteria tersebut, Rasul memerintah kita untuk memilih yang ke empat, AGAMA. Pilihlah yang beragama maka kau akan selamat. Mengapa bukan kecantikan/ketampanan, harta/nasab?
            Ibaratnya, agama itu angka 1 di depan. Sedangkan kecantikan/ketampanan, harta, dan nasab itu hanya angka 0 sebagai tambahan di belakang angka 1 tersebut.
Jika kau pilih agama, kau dapat 1
Dia cantik/tampan, tambah 0 =10
Dia berharta, tambah 0 lagi=100
Dia bernasab baik, tambah 0 lagi=1000
Perhatikan, bukankah tanpa angka 1 di depan, nol-nol itu tiada berharga?
Renungkan itu kawan…!
Sejauh ini adat yang masih sering kita jumpai dan masih dipegang erat oleh mungkin segolongan orang di antaranya:
1.      Madhep’e omah
2.      Berbatasan dengan kali/sungai
3.      Neton kelahiran
4.      Jarak rumah
5.      Anak ke sekian dengan anak ke sekian
6.      Melangkahi kakak
Oke, kita ambil sederhana saja dari neton kelahiran. Pertanyaan saya, “Apakah jika neton calon mempelai putra dengan calon mempelai putri itu cocok, ada jaminan pasti bahagia?”
“Apakah jika neton keduanya tidak cocok pasti sengsara atau ada bencana?”
Jawabannya, “Tidak.”
Ada yang menyanggah, “Tapi banyak terjadi kan yang seperti itu?”
“IYA, tapi itu BUKAN KARENA NETON, bukan karena MADHEP’E omah, bukan karena ANAK KE SEKIAN DENGAN KE SEKIAN. Kita punya Tuhan kan? Lalu apa jawabannya?”
ALLAH PUNYA KEHENDAK.
Sadarlah, saudaraku… tak seorang pun di dunia ini yang tak mendapatkan cobaan/ ujian/tantangan. Ujian adalah sarana melihat kualitas keimanan. Lalu mengapa harus disangkut-pautkan dengan adat?
Sekarang, “Apakah orang yang netonnya cocok dijamin bahagia? Apakah orang yang netonnya cocok keluarganya tidak akan ada yang meninggal? Apakah orang yang netonnya tidak cocok dipastikan tidak bahagia?”
Jawab kalau berani!
Saudaraku, tak ada rumah tangga yang dari A sampai Z adhem-ayem ae. Tak ada rumah tangga yang tak diuji kualitasnya oleh Sing Nggawe Urip. Tinggal bagaimana bahtera itu dikendalikan oleh nahkoda dan pendampingnya. Tinggal bagaimana suami-istri menyikapi semua itu dengan bijak.
“Kalau memang cintamu karena ALLAH, lihatlah Rasulullah.”
Pernahkah Rasulullah itung-itung neton sak durunge nikah?
Pernahkan Rasulullah ndelok-ndelok adhep’e omah, itung-itung anak nomer piro karo piro?
Rasul menikah dengan pertimbangan AGAMA saja.
Saudaraku… yakinlah hanya pada Allah! Lihatlah Rasul… fadhfar bidzatiddin taribat yadaka, “pilihlah yang beragama maka kau akan selamat.” So… yakinlah pada Allah, hati-hati, janganlah kepercayaanmu pada adat membuat imanmu rusak. Jangan sampai membuatmu musyrik.
Jangan merusak keimananmu
Jangan terpaku pada adat
Jangan halangi pria sholeh dan wanita sholehah untuk menikah
Jangan… jangan… jangan halangi mereka.
Wahai saudaraku para remaja… perjuangkan cinta sucimu. Birrul walidain memang harus, tapi jangan sampai alasan birrul walidain menggoyahkan imanmu. Ayo… saatnya berdakwah, ubah pola pikir orang tua yang mungkin masih terpaku dengan adat.
Menikah itu yang penting direstui. Pertimbangkan agama, cari ridho lalu menikahlah!
Sederhana bukan? Tak perlu lah bermewah-mewahan dalam pesta pernikahan walaupun anak pertama. Yang penting akadnya sah, suasananya khidmat.
Perjuangkan cintamu, kawan… jika jembatan A rusak, cari jalan lain. Allah maha pengasih. Dia mau merubah takdirmu jika kamu mau berjuang dan berusaha serta tawakkal. Insyaallah ada jalan.
Sakinahkan rumah tanggamu dengan:
1.      Istiqomah berjamaah dengan pasangan
2.      Istiqomah qiyamullail dan Dhuha
3.      Suami baca Al-Qur’an, istri tiduran di pangkuannya
4.      Pelukan dan ucapan terima kasih
5.      Terbuka dan hargailah pasangan
Jangan marah, bila terpaksa marah, marahlah dengan cinta 

Jumat, 04 Desember 2015

Sajadah Cinta





Suara merdu hatinya memanggil
Di atas sajadah cinta
Ditemani butir-butir tasbih
Dihias senandung doa
Diiringi melodi kerinduan
Dia... ikhwan sederhana yang cintanya luar biasa
Dia... tak pernah jenuh membawaku dalam doa
Ia genggam erat hatiku seolah tak ingin melepasnya
Ia bawa serta namaku seolah tak ingin lupakannya
Kepada Sang Maha Cinta ia titipkan sebuah nama
Pemenuh separuh nafas dalam mahabbah rindu
Di atas sajadah cinta ia menabung kerinduan
Harap pinta pada Al Waduud
Bersatu dalam ridho dan cinta-Nya

Tembok Besar Cinta




            Skripsi, satu kata dengan tujuh huruf yang terlihat sederhana. Hanya satu kata namun dengan itulah mahasiswa bisa meraih gelar sarjana. Aku baru menyadari bahwa dalam rentang waktu sekitar empat tahun, skripsilah jihad akbar itu. Untuk bisa mengikuti ujian skripsi, mahasiswa harus menuntaskan SKS-nya yang terdiri dari mata kuliah yang harus ditempuh selama enam semester melalui perkuliahan dalam kelas, dan satu semester lagi untuk PPL dan KKN. Tidak cukup sampai di situ karena mahasiswa masih harus mengikuti ujian komprehensif yang seringkali dianggap momok karena mencakup seluruh mata kuliah yang telah ditempuh.
            Skripsiku kuawali dengan perjuangan berat menepis cinta yang baru saja kandas.
Di tengah luka hati, kutuntaskan laporan PPL dan KKN kemudian kuberanikan diri untuk segera menyusun skripsi. Di jurusan Pendidikan Bahasa Arab, mahasiswa yang berhati sehat pun jarang yang nekad masuk gelombang satu, namun tidak denganku. Aku justru terjun ke medan juang meski hati telah berlumuran darah sebelum bertempur. Keyakinan terbesarku adalah skripsi ini yang akan menjadi pelipur laraku.
            Dua kali cintaku kandas selama kuliah. Cinta pertama meninggalkanku karena ia ingin menikah di saat aku masih semester dua dengan kepolosanku. Ketidaksiapanku membuatnya melepasku dan ia menikah dengan wanita yang lebih siap dariku. Cinta kedua meninggalkanku di saat semestinya ia memperjuangkanku karena ketiadaan restu dari ayahnya. Ah, tidak. Apa yang perlu kusesali selain waktu yang terbuang karena mencintai pria yang tidak mau memperjuangkanku dan bukan karena tidak mampu. Dua kali kandas bahteraku dan kini kubatasi hatiku dengan tembok besar cinta. Aku harus skripsi terlebih dahulu.
            “Arju an takuni faizah ula,”[1] Harap dosenku.
            Aku tahu, dosenku yang satu ini sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri. Tidak boleh jika aku mengecewakan harapan besarnya. Aku harus maju ke gelombang satu dan menghapuskan kalimat buruk bahwa anak PBA tidak pernah berani skripsi gelombang satu. Semoga skripsi ini menjadi tembok besar yang akan melindungiku dari kekejaman masa lalu. Aku akan maju untuk mewujudkan impian dosenku, orang tuaku, dan menyambut cinta sejatiku. Cinta yang akan datang setelah tuntas kuliahku.
            Puji syukurku pada Ilahi, karena-Nya skripsiku telah usai meski dengan berbagai rintangan yang tidak jarang membuatku menangis. Entah karena lelah, entah karena jenuh, entah karena sulit menemui dosen, namun kini aku telah menjilidnya untuk kudaftarkan sidang. Tuhan kembali mengujiku hari ini. Di hari pendaftaran sidang, dosenku tidak bisa dihubungi dan aku bingung. Jika aku tidak bisa mendaftarkan skripsiku hari ini maka aku tidak bisa ikut gelombang satu. Syukurlah beliau hadir setelah beberapa jam kunanti dan aku bisa mendaftar. Seminggu kemudian, kulihat skripsiku masih di meja dosenku dan belum didaftarkan ke fakultas. Ternyata ada keteledoran dari pihak yang dititipi oleh dosenku saat dosenku bertugas ke luar kota. Aku sudah down saat itu karena dosenku menyarankanku untuk masuk gelombang dua saja sebab skripsiku terlambat dibawa ke fakultas dan pihak fakultas sudah menolak.
            “Ustadz, apa tidak bisa diusahakan lagi? Saya mohon, Ustadz....” pintaku.
            Alhamdulillah, dua hari kemudian kulihat dalam situs web Fakultas Tarbiyah namaku terdaftar di fakultas sebagai peserta sidang gelombang 1 dari jurusan PBA. Namun tak cukup sampai di sini ujian hidupku. Di hari H, dosen pengujiku dua kali merubah waktu sidang. Jadwal yang diagendakan pukul 16.00-17.00 mendadak diajukan pada pukul 13.00 sedangkan saat itu posisiku jauh dari kampus dan dosen mengabariku pada pukul 12.55. Saat aku bersiap-siap menuju ke kampus, dosen mengatakan padaku bahwa ujian ditunda 2 hari lagi, namun aku masih harus konfirmasi dengan sekretaris penguji. Oh ternyata, penundaan itu masih tanpa persetujuan sekretaris? Parahnya, sekretaris pengujiku tak dapat kuhubungi dan baru  bisa menerima teleponku pada pukul 16.15. Jika ditunda dua hari lagi beliau tidak bisa memberi kepastian dan kemungkinan esok hari beliau bisa.
            Esoknya aku stand by di kampus sejak lagi. Namun parahnya, hari itu hanya ada penguji utama. Ketua dan sekretaris penguji sama-sama tidak ada. Lagi-lagi aku tidak bisa sidang. Pikiranku mulai berantakan. Aku marah, kecewa dan merasa sangat sakit hati. Apakah karena aku the first and the only one lalu dosen penguji bisa semaunya merubah jadwalku tanpa kepastian? Seperti inikah perlakuan dosen pada satu-satunya mahasiswi PBA yang sudah nekad masuk gelombang 1? Salah apakah diriku yang sudah berusaha memperbaiki imej PBA? Ilahi... rengkuhlah aku.
            Saat di masjid aku hendak mengambil air wudlu, kuterima SMS dari temanku bahwa sekretaris pengujiku sudah hadir. Segera aku menemui beliau dan meminta kepastian kapan sidangku. Beliau minta maaf dan mengatakan bahwa esok hari tidak dapat mengujiku karena bertugas keluar kota. Dengan kemuliaan hati beliau yang juga sebagai pembimbing skripsiku, akhirnya aku mendapat nilai sidang dari beliau hari itu juga. Sedangkan besok aku tetap harus sidang dengan penguji utama dan ketua penguji, tanpa sekretaris. Alhamdulillah... nilaiku kumlaud. Aku juga mendapatkan rangkaian doa indah dari lisan pengujiku yang kuamini sepenuh hati.
            Saat aku turun dari ruang sidang, aku mendapat kejutan. Ternyata sekretaris pengujiku tidak jadi ke luar kota. Beliau ada, namun sengaja membiarkanku berjuang sendiri menghadapi bantaian penguji. Lalu, kejutannya adalah seorang pria yang berdiri di belakang sekretaris pengujiku. Ia perlahan menampakkan dirinya dan berdiri di antara aku dan dosenku.
Dia bukan pria asing bagiku. Ia adalah ustadz yang dulu mengajarku saat aku masih duduk di bangku Aliyah. Ia ustadz yang sangat kuidolakan karena kemuliaan akhlak dan pesonanya. Dengan senyum indahnya ia ucapkan selamat padaku yang masih membawa map penilaian sidang yang akan kuserahkan pada sekretaris penguji. Tanpa kuduga pertanyaan terindah ia lontarkan padaku setelah ucapan selamat itu. “Nina, bersediakah kamu jika aku menjadi imammu?”
            “Subhanallah...,” aku merasa sangat terkesima. Aku menundukkan kepala sejenak kemudian menatap sekretaris pengujiku. Beliau memberi isyarat dengan senyum dan anggukan. Aku pun tersenyum dan kutatap ustadz seraya mengangguk.
            Terdengar suara tepuk tangan yang begitu meriah. Saat aku menoleh ke belakang ternyata banyak dosen juga mahasiswa yang menyaksikan adeganku dengan ustadz yang kucinta. Kemudian, dari belakang sekretaris pengujiku datanglah orang tuaku, orang tuanya dan seorang penghulu. Iya. Hari ini juga, sekarang juga, di depan kantor jurusan PBA akan dilangsungkan akad nikahku. Subhanallah, walhamdulillah...
Ilahi... sungguh agung dan indah anugerah cinta-Mu. Tembok besar cinta yang kudirikan, telah melindungiku dari masa lalu yang menghantui. Kini... telah Engkau datangkan jodohku. Inilah detik-detik menjelang pernikahan yang begitu indah setelah banyak rintangan kulalui. Terima kasih, Ilahi, untuk kekokohan tembok besar cintaku.


[1] Saya berharap kamu akan menjadi lulusan terbaik